The Vague Heart
Disclaimer of Masashi Kishimoto
Story By Rina Apple
Warning : Cerita abal-abal, penuh typo
ΩΩΩ
Summary :
Haruno Sakura, cantik, kaya, cerdas, dan memiliki segalanya, suatu malam menghabiskan waktu di sebuah bar dan pagi harinya ia terbangun di kamar sebuah apartement. Kesal dan marah terhadap orangtuanya yang menjodohkannya dengn pria asing, sakura memutuskan untuk menyembunyikan identitasnya dan menjadi orang lain untuk menenangkan diri. Bagaimana kehidupan Sakura ketika mengetahui bahwa lelaki pemilik apartemen tempat ia bangun adalah seorang duda yang dingin, arogan, dan tidak lagi tertarik terhadap wanita?
PART VI: SARADA FEEL
SAKURA POV
Aku duduk dengan gelisah. Berkali-kali aku memandang Sarada yang tengah menunduk dan bocah pirang disamping Sarada yang tengah membuang pandangannya keluar. Pandanganku beralih ke depan, dan mendapati seorang wanita ramah, yang kutau adalah guru Sarada, tengah tersenyum ketika menyadari kegelisahanku.
"tenang saja Nyonya, aku sudah menghubungi Uchiha-san, dan aku yakin sebentar lagi dia akan datang"
Aku ternganga mendengarnya. Nyonya? Apakah guru Sarada mengira aku adalah ibu nya Sarada? Tanpa sadar, aku merona mendengarnya, membayangkan jika aku adalah ibu Sarada dan Sasuke sebagai ayahnya. Tunggu! Kenapa pikiranku jadi terarah ke Sasuke? Padahal sejak kejadian malam itu, aku sudah berusaha untuk menghindari Sasuke dan bertekad untuk menghilangkannya dari pikiranku. Tapi, sial, lelaki bodoh arogan itu, selalu memenuhi pikiranku.
"emm,,, tapi, aku ini hanya pengasuhnya Sarada" ucapku pelan,
"oh, maaf, aku kira anda ibunya Sarada, karena selama ini Sarada tidak pernah terlihat dengan seorang wanita dewasa kecuali nenek dan bibinya"
Aku tersenyum maklum. "aku mengerti"
"BORUTO!"
Aku hampir saja terlonjak kaget ketika mendengar suara pintu tiba-tiba terbuka dan menampilkan Naruto yang langsung saja menyerukan nama anaknya. Naruto langsung berjalan ke arah Boruto dan duduk disampingnya.
"ck. Bisakah kau tidak berteriak Dobe?"
Tiba-tiba saja aku merasa gugup ketika melihat sasuke datang dan segera mengambil tempat duduk disamping Sarada. Sarada, yang semula menunduk kini mengangkat wajahnya dan menatap ayahnya dengan pandangan yang sendu.
"apa yang sebenarnya terjadi Kurenai-Sensei?" Tanya Naruto ketika ia sudah bisa menguasai dirinya.
"aku tidak tahu apa masalahnya, tapi ketika mereka sedang beristirahat mereka berkelahi dan saling melemparkan barang-barang kearah satu sama lain" ucap Kurenai . " aku sudah menanyakan penyebab mereka berkelahi, namun mereka berdua tidak ada yang mau memberitahukannya"
Sasuke tampak menghela nafasnya." Aku minta maaf soal ini. aku akan menasehati Sarada agar ia tidak akan melakukan hal ini lagi"
Kurenai tersenyum. "aku tau Uchiha-san. Aku harap ini yang terakhir kalinya"
"kau dengar itu, Boru-chan? Jangan ulangi hal ini lagi! Apalagi berkelahi dengan seorang perempuan" Seru Naruto yang Nampak kecewa .
Boruto tampak kesal ketika Naruto menasehatinya, pandangannya yang semula acuh, kini menjadi tajam.
"ck! Tou-chan selalu saja memarahiku! Aku tidak akan berkelahi jika si kacamata ini tidak memulai duluan!" Seru Boruto sambil menunjuk ke arah Sarada.
Sarada yang semula diam kini balik memandang tajam Boruto. " kau yang memulai duluan Kuning!"
"hei! Aku hanya berkata jika aku pasti akan menang darimu, karena meski kau memiliki nilai tertinggi, namun aku memiliki kaa-chan dan Tou-chan yang hebat! Sedangkan kau hanya memiliki ayah, tapi kau tidak punya ibu!"
Tiba-tiba saja aku merasa atmosfir diruangan ini menjadi begitu sunyi. Naruto ternganga sampai tidak mengatupkan mulutnya untuk beberapa saat, Kurenai menelan ludahnya dengan gugup, sasuke masih saja diam, dan Sarada tampak menahan amarahnya. Aku mengerti, mengapa Sarada begitu marah ketika Boruto berkata seperti itu. Pembahasan seorang Ibu, sangat sensitive bagi sarada. Rasanya,aku ingin memeluk Sarada dan mengatakan padanya ,tidak apa-apa jika ia tidak memiliki seorang Ibu, karena, ada aku disini. aku akan menjadi ibunya jika ia menginginkannya.
Sarada menahan geramannya, tangannya yang semula terbuka kini terkepal dan tiba-tiba saja ia bangkit dari duduknya, dan langsung melayangkan tinjunya ke pipi Boruto. Boruto yang tidak menyangka hal itu, tidak bisa menghindar dan langsung memegang pipinya yang merah.
"apa yang kau lakukan?" maki Boruto tidak terima
"aku membencimu! Benar-benar membencimu!"Sarada menyambar tasnya dan berlalu dari ruangan itu, tanpa memperdulikan tatapan semua yang ada dalam ruangan .
Sasuke segera bangkit dari duduknya dan mengejar Sarada keluar. Sebelum keluar, ia menatap Naruto, " Dobe, urus disini"
Aku juga ikut bangkit dari dudukku dan segera menyusul mereka. Aku tidak tau, mengapa aku begitu peduli dengan semua ini, namun aku benar-benar tidak bisa mengacuhkannya. Hatiku terus merasa gelisah memikirkan perasaan Sarada sekarang.
"Sarada tunggu!" Sasuke berteriak ketika Sarada tak kunjung menghentikan larinya, setelah sasuke menyamai langkah Sarada, sasuke langsung memegang tangan Sarada dan mencegahnya untuk melanjutkan larinya.
"sayang,,,," Sasuke berlutut untuk menyamakan tinggi badannya dengan Sarada, dengan lembut ia menyapukan tangannya untuk menghapus air mata Sarada yang meleleh dipipinya.
"kenapa, Pa? kenapa aku tidak punya ibu?" Sarada berteriak di depan Sasuke tanpa menghentikan tangisannya.
"Sarada dengar,,,,"
" Aku sudah menjadi anak yang baik, aku tidak pernah mengeluh, aku selalu mendapatkan nilai bagus, tapi kenapa aku tidak mempunyai seorang ibu? Kenapa Boruto yang nakal malah mempunyai ibu yang baik seperti bibi hinata? Kenapa, Pa?"
Hatiku terasa teriris ketika melihat Sarada begitu merindukan seorang ibu dihidupnya. Kenapa? Kenapa anak semanis Sarada harus memiliki beban seberat itu?
"Sarada, dengarkan Papa" Sasuke memegang pundak Sarada dan menatap mata Onyx Sarada, "Apakah selama ini Papa kurang menyayangimu?"
Sarada menggeleng. "Papa sangat menyayangiku, aku juga sangat menyayangi Papa"
Sasuke tersenyum lembut. "tidak peduli apapun yang dikatakan orang lain tentang Sarada yang tidak memiliki seorang ibu, tapi disini , Papa akan berusaha untuk menyayangi Sarada, sebagai seorang ayah dan seorang ibu. Jadi, jangan bersedih lagi karena hal itu, karena Sarada memiliki seorang ayah yang hebat seperti Papa, mengerti?"
Sarada memandang Sasuke beberapa saat, sampai akhirnya ia mengangguk dan menenggelamkan wajahnya di dada sasuke. "maafkan aku Papa, aku tidak akan mengeluh lagi tentang ibu. Aku,,,, aku sangat bahagia memiliki seorang ayah seperti Papa"
"sekarang hapus air matamu dan tersenyum"
Sarada segera menghapus air matanya dan menampilkan senyum manisnya lagi. "hari ini aku ingin Papa menemaniku kemanapun aku pergi"
"jadi, hari ini Tuan putri ingin ditemani kemana?" Sasuke berdiri dan mengulurkan tangannya untuk menggendong Sarada, dengan tawa tergelak, sarada menyambut uluran tangan Sasuke dan melingkarkan tangannya di leher Sasuke ketika ia sudah naik dalam gendongan ayahnya.
"aku ingin jalan-jalan, pergi ke Mall dan membeli semua barang yang kusuka, ah, ya aku juga ingin membeli dango dikedai yang waktu itu aku datangi bersama bibi Sakura. "
"apapun keinginanmu , tuan putri" sarada kembali tergelak ketika Sasuke menggodanya. Melihat mereka berdua tersenyum seperti itu, membuatku merasa hangat. Aku ingin. Aku ingin masuk ke dalam lingkaran mereka, dan merasakan kehangatan bersama ingin menjadi bagian dari kehidupan mereka. Aku ingin,,,,,
"kenapa kau hanya berdiri seperti orang bodoh disitu?"
Aku langsung menekuk wajahku ketika mendengar nada ketus Sasuke. Lihat? Baru beberapa detik yang lalu, aku begitu kagum akan Sasuke yang begitu sabar menghadapi Sarada, namun kekaguman itu kini telah sirna. Bagaimana mungkin seseorang bisa berubah kepribadian begitu cepat? Oh ya, aku lupa, ini adalah Uchiha Sasuke, lelaki dingin dan arogan! Mungkin sekarang ditambah berkeribadian ganda karena ia bisa berubah kepribadian dengan cepat.
"ck! Cepat kemari dan bawakan tas Sarada!"seru Sasuke dan membuatku langsung memacu langkahku menuju kearahnya dan menyambar tas yang tengah di pegang Sarada.
"Kau tidak perlu berteriak seperti itu!" aku benar-benar kesal dengan perubahan Sasuke, ia begitu hangat ketika menghadapi Sarada , namun begitu dingin dan ketus jika sudah berhadapan denganku.
Sasuke melirikku lewat ujung matanya." Dan aku tidak membayarmu untuk protes"
"heii! Kau ini benar-benar,,,,," aku menggigit bibir bawahku untuk menahan segala umpatan yang sangat ingin keluar dari mulutku. Demi Tuhan! Aku ingin sekali mengumpat sekarang!
"Bibi Sakura juga akan ikut jalan-jalan bersamaku dan Papa, kan?"ucap Sarada sembari menatapku penuh harap
Aku segera menampilkan senyum terbaikku dan mengangguk. "tentu sa,,,"
"tentu saja dia ikut. Itu sudah menjadi tugasnya." sebelum aku menyelesaikan kata-kataku, kata-kata kejam Sasuke sudah mendahului untuk menyelesaikannya. Aku menatapnya sengit, dan ia membalas dengan tatapan dinginnya. Cukup lama kami saling adu pandang, sampai aku mendengar suara sarada menyela,
"kita akan berangkat sekarang atau menunggu Papa dan bibi Sakura selesai berpandangan?"
Aku segera memalingkan wajahku untuk menyembunyikan rona wajahku yang tiba-tiba saja muncul. Sialan! Ada apa dengan diriku? Kenapa perkataan Sarada sangat membuatku gugup?
"kita berangkat sekarang"
Aku melangkahkan kakiku mengikuti langkah Sasuke yang beberapa langkah ada di depanku. Aku menatap punggung tegap itu dan entah kenapa aku merasakan debaran jantungku kian melaju. Aku segera mengusir pemikiran bodoh ini, dan mengganti dengan segala hal buruk yang ada pada diri Sasuke, seperti kata-kata tajamnya, pandangan sinisnya atau sikap arogannya. Ya, Sasuke memang penuh keburukan dan tidak ada hal yang bagus ada pada dirinya. Tapi,,,,, kenapa jantung ini terus berdetak keras? Kami-Sama,,,, apa yang sebenarnya telah terjadi padaku?
ΩΩΩ
Ternyata jalan-jalan bersama Sasuke tidak seburuk yang kubayangkan. Hari ini ia begitu sabar menghadapi Sarada yang menginginkan banyak hal darinya. Seperti memaksanya memakan dango di kedai tadi, padahal Sasuke sangat tidak menyukai makanan manis, namun demi Sarada ia mau memakannya, meski hanya sedikit. Tanpa sadar, aku tersenyum geli mengingat kejadian tadi, wajah tersiksa Sasuke sangat lucu dan menggemaskan, sampai-sampai ingin rasanya aku memegang kedua pipi cemberutnya dan menciumnya, lalu kemudian aku akan,,,,,,,, oh, oke cukup. ini benar-benar salah. Apakah aku baru saja memikirkan ingin mencium Sasuke? Yang benar saja! Aku tidak mungkin memikirkannya,,, ha,, ha,, ha,,,
"kau benar-benar terlihat mengerikan jika tertawa sendiri seperti itu" Suara baritone Sasuke menyadarkanku dari imajinasiku. Aku melihatnya berjalan menuju ke arahku dan duduk di berkata apapun ia langsung mengambil sandwich tomat yang ada di depannya. Tanpa sadar aku memperhatikan Sasuke memakan sandwichnya. Mulut sexy nya sangat indah ketika ia menggigit potongan sandwich dan mengunyahnya pelan.
Aku menelan ludahku. Tiba-tiba saja aku merasa gugup dan berdebar. Rasanya,,,, aku ingin bibir sexy itu ada di bibirku lagi, menghisapnya dan memainkannya bersama dengan lidahku, aku juga menginginkan bibir itu tidak hanya ada di bibirku, namun ada dileherku, di dadaku, dan dimanapun, aku juga ingin,,,,
"jika kau menginginkan sandwich ini, kau bisa mengambilnya, tidak perlu memandangiku seolah kau akan melahapku"
Lagi-lagi suara Sasuke memabangunkanku dari imajinasi liarku. Namun, mendengar perkataannya tadi, aku langsung memasang wajah cemberutku karena ia mengira aku menginginkan sandwichanya, bukan bibirnya,,, ouch! Ouch,,,! Dasar otak sialan! Bisakah sebentar saja aku tidak memikirkan hal mesum bersama Sasuke?
"aku masih punya es krim sendiri, dan ini lebih enak dari sandwichmu yang hanya ada potongan tomat didalamnya" seruku kesal dan memperlihatkan es krim stoberry yang kubeli bersama Sarada tadi.
"itu makanan anak kecil" Sasuke mencibir tanpa mengalihkan perhatiannya dari sandwich tomatnya.
"kau saja yang tidak bisa membedakan mana makanan enak dan tidak enak" aku masih saja tidak mau kalah dengan mempertahankan argumenku. Kulahap es krim ku dengan rakus tanpa memperdulikan sisa-sisa es krim yang ada disekitar mulutku.
"apa kau tidak pernah makan es krim sebelum ini?' bagus. Sasuke Nampak kesal akibat ulah ku yang terlihat bar-bar. Aku memang sengaja memancing kekesalannya agar ia tidak terus memasang wajah datarnya. Jujur saja, aku lebih suka Sasuke yang penuh ekspresi daripada Sasuke yang dingin.
"apa ada yang salah?" ucapku pura-pura polos.
"ck! Kau makan seperti gadis bar-bar"
"aku sudah makan dengan benar Sasuke-san, atau kau saja yang memang tidak bisa makan es krim dengan benar?" aku berkata dengan nada yang sengaja kubuat-buat untuk menggoda Sasuke, selama ini Sasuke terus saja membully ku,dan sekarang saatnya untuk pembalasan!
Sasuke balik melirikku lewat ujung ekor matanya. "jangan macam-macam denganku, Sakura. Atau kau akan benar-benar menyesal"
"hei! Aku tidak macam-macam! Aku hanya menegaskan jika tidak ada yang salah dengan caraku memakan es krim ini!" oke. Sekarang aku benar-benar kesal. Baru beberapa saat aku berada diatas angina karena berhasil menggoda Sasuke, kini Sasuke langsung membalik keadaan dengan mengintimidasiku.
"sudah jelas itu adalah cara bar-bar"
"itu cara yang benar!"
Aku masih saja kukuh dengan pendirianku. Aku sedang tidak ingin kalah sekarang, jadi tidak akan kubiarkan Sasuke berhasil mengintimidasiku !
"ada es krim disekitar mulutmu" ucap sasuke dingin tanpa mengalihkan tatapan dinginnya padaku.
Dengan reflex, kugerakkan tanganku untuk mengusap sisa-sisa es krim yang tertinggal di sekitar mulutku, ketika kurasa sudah bersih aku segera menurunkan tanganku. " sekarang sudah bersih, kan?"
"masih ada disekitar sudut bibirmu"
Kali ini lidahku yang refleks bergerak membersihkan sisa es krim di sudut bibir seperti yang dikatakan Sasuke, namun aku merasa tidak menemukan sisa es krim disudut bibirku. "kurasa tidak ada, semuanya sudah bersih kok. Jangan mengada-ada untuk mengerjaiku"
Sasuke berdiri dari duduknya dan mendekatiku. Entah kenapa, aku memiliki firasat yang buruk tentang ini. aku mendongak dan melihat mata kelamnya. Mata itu kini memandangku tajam dan dingin. Sial, apa aku sudah membuat kesalahan?
"a,,,ada apa?" aku lagi-lagi gugup dengan Sasuke di dekatku. Keberanian dan tekatku tadi sudah hilang entah kemana. Kini aku hanya menunggu apa yang akan dilakukan Sasuke tanpa bisa melawannya.
"akan kutunjukkan dimana sisa es krim itu" tanpa berkata lebih banyak lagi, Sasuke menundukkan wajahnya tepat di depan wajahku, dan tiba-tiba saja aku merasakan lidahnya sudah berada disudut bibirku. aku hanya mematung tanpa bisa bereaksi apa-apa, Sasuke terus saja menekan sudut bibirku dan menghisapnya sedikit hingga membuatku mengerang. Bibir Sasuke berpindah dari sudut bibirku menuju kebibir tengahku, dan langsung melahapnya. Sasuke kembali menciumku dan aku tidak ada daya untuk menolaknya. Lidahnya bermain diatas bibirku dan kembali lagi menghisap bibirku. aku sedikit membuka bibirku, ketika lidah Sasuke membelainya, seakan itu adalah perintah untukku.
Kami terus berciuman dengan rakus seolah tidak ada hari esok untuk kami. Sasuke begitu liar menjelajahi mulutku,dan aku pun sama liarnya untuk mengimbanginya. Berkali kali aku mengerang ketika Sasuke menarik bibir bawahku, seakan akan bibirku adalah sesuatu yang sangat diinginkannya.
Aku menghembuskan nafas panjangku ketika Sasuke melepaskan bibirku. kami berdua terengah dan menghirup oksigen sebanyak banyaknya. Ciuman tadi begitu liar, dan aku tidak pernah melakukan ciuman seliar ini dengan siapapun.
"lain kali, kau harus makan dengan benar. Janagn sampai tersisa disekitar bibirmu, karena jika aku melihatnya, maka aku akan melahapnya"
Setelah berkata seperti itu, Sasuke berlalu dan beberapa saat kemudian aku mendengar suara pintu tertutup. Ya tuhan,,,,,! Sebenarnya apa yang telah terjadi? Kenapa aku tidak bisa melawan bahkan aku menikmatinya? aku memegang dadaku yang berdetak kencang, dan naik ke bibirku yang sepertinya membengkak. Tidak mungkin. Aku tidak mungkin jatuh cinta dengan lelaki arogan seperti Sasuke, kan? Itu pasti tidak mungkin, kan?
ΩΩΩ
Aku menelungkupkan wajahku diatas meja. Ini sudah pukul 10 malam, dan Sasuke belum ada tanda-tanda pulang. Aku sengaja menunggunya pulang, karena terus terang saja aku sedikit khawatir dengannya. Apalagi, ketika ia pergi tadi, Sasuke terlihat tidak tenang setelah kejadian dia kembali menciumku. Tanpa sadar aku kembali memegang bibirku, dan merasakan ada sisa bibir Sasuke disini. aku tersenyum ketika mengingat kejadian tadi, dimana saat Sasuke mendekatkan wajahnya dan,,,,,,, oh tidaakk! Ini benar-benar salah! Apa yang baru saja kupikirkan? Kenapa fikiranku hanya dipenuhi dengan segala hal tentang Sasuke? Ini tidak benar! Aku harus menghilangkannya! Ya, aku harus segera menghapus Sasuke dari fikiranku!
"bibi Sakura?"
Aku menegakkan wajahku dan mendapati sarada tengah berdiri di depanku. "apa yang kau lakukan malam-malam begini, Sarada?"
"aku hanya tidak bisa tidur" jawab Sarada dengan wajah yang menunduk.
"ada apa? Kau bisa berbagi cerita denganku jika kau mau" aku berdiri dari dudukku dan mendekati sarada yang masih saja berdiri.
"aku ingin bercerita tentang ibuku, tapi aku bingung harus bercerita kepada siapa" sarada tampak malu-malu saat mengatakan ia ingin bercerita tentang ibunya.
"kau bisa menceritakannya padaku. Sekarang, masuklah ke kamar dan aku akan menyusul dengan membawa segelas susu hangat"
Sarada mengangguk dan pergi ke kamarnya. aku terus memandangnya sampai tubuhnya hilang dari pandanganku. Aku bergegas membuatkan sarada segelas susu hangat dan mengantarkan ke kamarnya.
Ketika aku memasuki kamar Sarada, sarada tengah duduk di pinggir tempat tidurnya sambil memegang sebuah bingkai foto. Aku meletakkan susu hangat di meja dekat tempat tidur dan duduk disamping Sarada. Aku melirik foto yang tengah di pegang Sarada. Seorang wanita muda cantik yang memiliki warna merah menyala tengah tersenyum ceria kearah kamera.
"bibi Sakura, ini adalah foto ibuku" ucap sarada memperlihatkan foto yang tengah dipegangnya kepadaku. "dia cantik, bukan?"
Aku menatap foto itu sebentar dan kembali memandang Sarada." Tentu saja dia cantik, sama sepertimu"
"apakah aku benar-benar mirip dengannya?" Sarada menjadi sangat antusias.
Melihat itu, aku mengulas senyumku." Dia sangat mirip denganmu, sayang" aku kembali memandang foto itu. Terus terang saja, wanita dalam foto itu hanya memilki kemiripan yang sedikit dengan Sarada. Semua fisik Sarada sangat mirip dengan Sasuke, dari rambut, mata, sampai tatapan matanya.
"seandainya ibuku masih disini, mungkin kami akan menjdi keluarga yang sempurna" tatapan Sarada berubah menjadi sendu. Dengan lembut aku menenggelamkan kepala Sarada di dadaku.
"jangan ada bibi Sakura yang siap menjadi ibu Sarada kapanpun" ucapku tulus.
"bibi janji?" Sarada menarik kepalanya dari dekapanku dan memandangku penuh harap
"janji" aku tersenyum lembut. " nah, sekarang cepat tidur sebelum ayahmu pulang "
Sarada tersenyum cerah dan segera naik keatas tempat tidurnya. Namun, sebelum ia merebahkan tubuhnya, Sarada menggeser tubuhnya dan memandangku." Aku ingin bibi Sakura menemaniku tidur"
"tentu saja" aku segera bergabung dengan Sarada dan menarik selimut untuk menutupi tubuh kami berdua. Kupeluk Sarada dengan lembut, aku benar-benar menyayangi sarada. Aku tidak tau alasannya, namun aku tidak dapat mengacuhkan perasaan ini. perasaan ingin menyayangi dengan tulus, meskipun Sarada pada awalnya adalah orang asing, namun perasaan ini tetap kuat. Aku memandang Sarada dan mengusap rambutnya pelan, setelah nafas sarada terlihat teratur, akupun memejamkan mataku dan tidur.
ΩΩΩ
Maaf kalau lama updatenya! Kali ini rina update dua chapter sekaligus!
Terimakasih buat udah yang review dan berpartisipasi dalam fanfic abal-abal ini.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
