A/N: This chapter contains Gruvia, yay! Dan sedikit perkembangan perasaan Natsu terhadap Lucy. Maaf kalo NaLu-nya kurang. Arc selanjutnya bakal banyak NaLu, hu'um ;p
I dont own Fairy Tail!
Previous Chapter:
Sedikit lagi..
"Lu-chan, boleh aku mas—" mata coklat Levy melebar ketika membuka pintu kamar Lucy. Loke yang ada di belakangnya juga hampir terkena serangan jantung—"NATSU! SEJAK KAPAN KAU ADA DI SITU?!"
Dan Natsu langsung melompat dari tempat tidur.
Haahh, ia menghela napas. Not a chance...
.
At Happy ...
"Mou, Natsu saja tidak ada di kamarnya. Wendyyy~! Charlee~! Di mana kau?" teriak makhluk berwarna biru yang ngos-ngosan sehabis terbang ngebut dari kamar Lucy. Ia mendapati Wendy sedang berada di ruang tamu bersama seorang gadis yang berwajah keibuan.
"Ah, Wendy, itu siapa?" bisik Happy. Wendy hanya menatap Happy kaget, mengira-ngira mengapa Happy tiba-tiba muncul.
"Jadi kau Happy ya?" tiba-tiba ia ditanya oleh gadis yang menjadi librarian itu. "Aku Mirajane, teman sekelas Natsu dan Lucy, sekaligus penjaga perpustakaan Fairy Tail."
"Oooh. Apa yang kalian bicarakan?" jawabnya penasaran, duduk di samping Mira, mengabaikan wajah Wendy yang mengira mengapa Mira tidak kaget melihat Happy (yang notabene exceed).
Mirajane tersenyum manis, "Natsu dan Lucy tentu saja!" dan pada malam itu, pendukung program 'NaLu harus bersatu!' bertambah satu... ekor.
.
"A-a-apa yang kalian lakukan?!" Loke berseru kaget, wajahnya sama merahnya dengan Levy. Lalu ia menoleh pada Natsu, "Apa yang kau lakukan di sini, bocah pink?"
"Aku?" Natsu menunjuk dirinya sendiri. Loke menahan keinginan untuk menendang anak itu keluar jendela. "Tentu saja! Siapa lagi? Kau tamu tak diundang!"
Levy lalu berdehem, dan menarik Loke keluar. "Loke-sensei, mari kita beri mereka privasi." Lalu ia menutup pintu kamar Lucy cepat-cepat. "Loke-sensei, aku mengingatkanmu agar tidak ikut campur dalam kisah cinta Lucy."
"Hei! Jude-sama menerorku jika ada orang asing tiba-tiba di kamar Lucy! Terlebih lagi, laki-laki!" protes Loke. "Dan aku punya Aries!"
"Tentuuuu kau punya Aries," Levy memutar bola matanya. "Kau kan playboy." Ia menggumam.
"Aku dengar itu, nona!"
.
Natsu dan Lucy terdiam setelah kejadian their-almost-kiss yang di'ganggu' oleh kedatangan Levy dan Loke. Lucy tidak menyalahkan mereka sih, tapi, ini adalah yang kedua kalinya ia dan Natsu mau.. ehem. Natsu. Sahabat masa kecilnya. Yang bodoh. Idiot. Energetik. Tidak peka. Mempunyai sisi lembut. Lucu. Menggemaskan, tamp—
"GAH! LAGI-LAGI AKU BERPIKIR BEGITU!"
"Ada apa Luce?"
Lucy menoleh dengan wajah memerah, ia merasa jantung seakan mau copot, hanya dengan mendengar suara Natsu. "LUCE! KENAPA KAU MEMANGGILKU LUCE?!"
"He?" Natsu sweatdrop. "Kenapa? Kau sahabatku. Kau aneh."
"AKU TIDAK ANEH!"
"Lalu kenapa kau teriak-teriak begitu?"
"KARENA! KAU HAMPIR MAU MENC-C-CI—ya, POKOKNYA ITU! DAN KAU TERLIHAT SANGAT TENANG!"
Natsu kembali sweatdrop, "apa hubungannya dengan memanggilmu 'Luce'?" dan Lucy meratapi betapa tidak pekanya seorang Natsu. A dense guy can be really troublesome. Tapi saat Lucy pikir-pikir lagi, iya juga ya. Apa hubungannya?
Ngik.
"Lu-chan, kau sudah selesai? Apa aku boleh masuk?" suara Levy terdengar dari luar dengan nada menggoda. Wajah Lucy semakin memerah. "SIALAN KAU LEVY! KAMI TIDAK MELAKUKAN APA-APA!"
Gelak tawa dari luar semakin keras ketika pintu kamar Lucy keluar. "Tentuuuu kau tidak melakukan apa-apa."
"Levy!"
"Natsu Dragneel. Aku tanya lagi. Apa yang kau lakukan di sini?" tatapan tajam Loke yang mengintimidasi tertuju pada Natsu. Natsu terhenyak, lalu ia memutar-mutar jari telunjuknya seolah mencari jawaban yang tepat. "Engh.. aku.. lapar."
"..." Sebuah buku ditimpuk ke atas kepala Natsu.
"Dasar bodoh! Bukankah aku sudah bilang kalau mau numpang makan lewat pintu? Jangan gara-gara jendelaku tidak dikunci kau seenaknya masuk! Lagipula orang akan salah paham mengiramu maling! Lalu aku—bla bla bla.."
Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. Natsu hanya memperhatikan gerak bibir Lucy dengan wajah bosan, menghiraukan ceramah dadakannya. Bibirnya yang pink terbuka dan membentuk abjad yang ia hendak ucapkan. Lama-kelamaan semuanya terlihat seperti bergerak lambat. Natsu belum bisa memperkirakan betapa lembabnya bibir ranum itu. Kalau saja ia bisa merasakannya, sekali saja.
Kenapa.. ia memerhatikan bibir Lucy.. LAGI?
"GAH! LAGI-LAGI AKU BERPIKIR BEGITU!"
Lucy tiba-tiba merasakan déja vu. "Sudah, ayo kita makan, pinkie head. Ah, dan kucing hitam, Levy ingin meng'adopsi'mu."
"Aku siap." Pantherlily tiba-tiba datang sambil membawa barbel. Dan sebuah lagu asing terlantun dari I-Pod jadul milik Lucy. Lagu yang pas untuk orang yang sedang berlatih angkat beban. Lucy langsung merinding geli,
Tegangan cinta tak dapat dihindar lagi!
Kala kucoba menyapamu!
ASTUT—
"MATIKAN LAGU NISTA ITU!"
.
Esok paginya di sekolah. Lucy berjalan santai dengan sikap boyish-nya ke arah kelas. Seperti biasa, kerumunan siswa langsung memberi jalan untuk Lucy, sedangkan dia sendiri cuek. Kadang fangirls dan fanboys-nya berteriak norak seperti 'Lucy-sama!', 'Lucy, aku mencintaimu!', dan sebagainya. Seperti sekarang.
"Lucy-sama! Pacari aku!" pinta seorang fanboy dengan mata bersinar. Lucy menjawab ketus, "Nggak."
Awalnya yang lain mengira fanboy itu akan sakit hati, tetapi justru ia berteriak norak, "AH! PENOLAKANMU MEMBUATKU SEMANGAT!"
"Fans macam apa itu?" gumam Lucy sweatdrop.
"Lucy! Kau tetap cantik!"
"Lucy-chan, keluarkan jurus karatemu!"
"Lulu-chi, aku ingin berfoto denganmu!"
"Lucy, punyamu besar juga!"
"SIAPA YANG NGOMONG ITU TADI?!" wajah Lucy memerah sambil melindungi area terlarangnya. Sekejap semuanya diam, lalu tiba-tiba sebuah kerumunan memisahkan diri dari seorang pemuda yang sudah berkeringat dingin.
"Kau, ya?" Lucy membunyikan buku-buku jarinya, lalu sebelum melayangkan tinjunya, tiba-tiba ia ditarik seseorang lalu berakhir di gendongannya, ala pengantin. Refleks, Lucy meronta-ronta, "lepaskan aku, dasar mesum! Lepas! LEPAS!"
Orang-orang di sekitar situ berbisik-bisik, sepertinya gosip baru akan tersebar.
"Memulai pertarungan di pagi hari," pemuda ia menampakkan gigi-giginya dalam seringai, "Erza harus menghukummu."
"N-Natsu." Lucy terhenyak, mencengkram kemeja putih Natsu.
Sekarang giliran Natsu yang terhenyak. Suara itu. Ia menyukai sisi lembut Lucy seperti itu. Bagaikan gadis yang rapuh, tak berdaya, dan hanya membutuhkannya. Suaranya lembut dan serak saat memanggil namanya. Suara yang keluar dari bibir lembutnya. Pink, dan lembut.
Pink.
Lembut.
Refleks, wajah Natsu sedikit memerah dan ia melonggarkan pegangannya pada Lucy, sehingga gadis itu melompat ke tanah. Itu dia. Sekarang Natsu benar-benar bingung. Drama belum berlangsung, dan ia sudah berpikir yang aneh-aneh—bibir Lucy, demi Mavis! Dari semua hal, kenapa Lucy? Dan bibirnya?
"O-Oh iya, Lucy.. aku ada urusan!"
Buru-buru Natsu berlari ke kelasnya, meninggalkan Lucy yang penuh dengan tanda tanya. Ia membanting pintu kelas lalu melompat ke kursinya. Ia 'membanting' wajahnya ke atas meja, lalu aura depresi menguar darinya. Gray, yang berada di seberang kelas, sweatdrop. Ia menghampiri frienemy-nya dan memukul meja dengan keras.
"Hoo, apa yang kulihat? Ash brain galau!"
Jawaban Natsu yang selanjutnya bukan jawaban yang Gray harapkan. "Ya, benar." Refleks seorang Gray duduk di sebelah Natsu, yang seharusnya bangku Lucy.
"Siapa kau dan kau apakan Natsu yang asli?"
"Aku Natsu," desisnya, lalu ia menghela napas. "Hei, Gray. Apa kau pernah memerhatikan bibir Juvia?"
"Tentu saja, kalau aku bertatap muka dengannya, bagaimana tidak?" jawab Gray.
"Maksudku, secara detail? Seperti.. warna? Kelembabannya?"
Itu membutuhkan waktu 10 detik bagi Gray untuk menjawabnya. Wajahnya seketika memerah. Aku pernah. Tapi yang keluar dari mulutnya justru sebaliknya."U-untuk apa.. aku memerhatikan bibir orang lain.. lalu, J-Juvia? Kau bercanda? Si stalker aneh itu? Hmph! Memerhatikannya saja aku nggak kepikiran!"
Natsu menyipitkan matanya dengan curiga, lalu menghela napas. "Apa itu termasuk normal?"
"Tidak usah khawatir." Hibur Gray. "Sejak kapan kau normal?"
"Ha-ha. Itu yang dikatakan seseorang yang suka melepas bajunya tanpa sadar," cibir Natsu, lalu 'membanting' wajahnya ke atas meja lagi. Gray langsung berdiri dari duduk dan mengcengkeram kerah baju Natsu.
"Oi! Kau bukan Natsu yang kukenal! Berhentilah menjadi seorang lovesick dan jadilah pria!" kata-kata Gray membuat Elfman bersin di kelasnya. Syaraf kemarahan muncul di dahi Natsu.
"Lovesick? Aku tidak menyukai siapa-siapa!"
"Lalu kenapa kau memerhatikan bibir Lu—argh!" wajah Gray kena tinjuan telak dari Natsu. Natsu. Dragneel. Blushing. Hal terlangka yang pernah dilihat seorang Gray.
"A-aku tak pernah bilang kalau aku membicarakan tentang Lucy!" jawabnya cepat-cepat.
Gray menyeringai, "oho, Natsu ternyata sama tsundere-nya dengan Lucy, eh?" ia memasukkan tangan kirinya ke dalam saku celana. "Camkan baik-baik, flame-head." ia lalu menepuk bahu Natsu dengan tangan kanan.
"Sejak masuk ke sini, kau selalu menjahili Lucy sehingga membuatnya blushing. Sekarang kau terlihat lebih dekat dengannya. Sekarang, kau memerhatikan bibirnya, demi Ur-sensei! Disebut apa itu semua?"
Natsu hanya menatap Gray dengan tatapan blank. "Nggak tahu."
"Itu namanya cin—argh! Begini, jawab pertanyaanku! Apa kau tahu apa itu blushing?"
"...Euh, yah."
"Bagaimana dengan sebuah kiss?"
Pipi Natsu sedikit memerah, "tentu saja."
"Apa yang membedakan ciuman di pipi dan bibir?"
Natsu terdiam sejenak. "Entahlah. Kurasa ada sesuatu yang berbeda, tapi aku tak tahu."
Gray sudah merasakan harapannya mulai hilang. "Apa kau bahkan tahu apa itu cinta? Kau tahu cara membedakannya?" dan Gray sweatdrop melihat Natsu berpikir keras. Natsu, ditambah dengan berpikir, sama dengan aneh. Betul, tidak cocok.
"Aku tidak mengerti."
"Bagaimana dengan french kiss? Apa kau tahu lingerie? Apa kau suka menghirup aroma badan Lucy? Apa kau suka merasa pipimu memanas?"
Natsu hampir saja pingsan mendengar semua penuturan itu. Dan Gray menyimpulkan bahwa Natsu yang berhasil menyembunyikan ketidak pekaannya terhadap cinta melalui kejahilannya terhadap Lucy, perlu mengikuti bimbingan khusus. Sebut saja program cinta Mr. Gray Of The Day.(?)
"Natsu, kau jatuh cinta dengan Lucy!" desis Gray tidak sabar.
Dan seketika dunia seperti berhenti di mata Natsu.
Pintu kelas terbanting—ciri khas seorang Lucy ketika memasuki ruangan. Kita bisa lihat retakan yang tercipta setiap hari di sekitar pintu.
"Apa-apaan kau Natsu?! Menggendongku lalu berlari pergi?!" teriaknya, membuat satu kelas diam. Wajah Lucy seketika panas, menyadari ia berteriak. Gray menatap Natsu dengan aneh. Ia bisa membayangkan adegan itu seperti orang kawin lari.
"A-ada masalah?" Natsu berusaha cuek dan tidak menatap bibir Lucy. Tapi blush di pipinya mengatakan hal lain.
"Tentu saja. Kau bermasalah." Jawabnya ketus.
"Benar.." jawab Natsu menghela napas, membuat satu kelas sweatdrop melihat kepasrahan sang flame brain. Lucy duduk di samping Natsu, dan ia merasakan Natsu sedikit terlonjak. "Ada apa dengannya?" tanya Lucy pada Levy di belakangnya yang menjadi saksi percakapan Natsu dan Gray.
Levy tersenyum misterius dibalik buku tebalnya dan menangkap glare Natsu, "Ooh, tidak ada, Lu-chan. Tidak ada."
Setidaknya sore ini sesuatu akan terjadi.
.
"Lucy..." Natsu menjebak Lucy di antara kedua tangannya. Lucy tak dapat mundur lagi, karena di belakangnya sebuah tembok menanti. Natsu membelai wajah Lucy yang memerah, sedangkan sang empunya wajah melingkarkan tangannya di tubuh sang pembelai.
"Lucy, aku yakin tak ada yang menghalangi kita lagi." Ia berbisik. "Jadi tolong, jangan bunuh yang lain."
"Aku hanya ingin melindungimu." Balas Lucy pelan, lalu tersenyum lembut. "Karena.. aku.. men-c-c-.."
"Hm?"
"Karena.. aku.. men-c-c-CUCI BAJUMU!"
"Cut!" teriak Levy putus asa dari bangku sutradaranya. "Apa hubungannya mencuci baju dengan dialog Natsu?!"
"A-aku nggak mau mengucapkannya Levy! Terlebih ke si pinky ini!" seru Lucy blak-blakan. Ia tidak menyadari bahwa sebuah panah melesat ke dada kiri Natsu. Lalu dengan dramatis, ia terduduk sambil mencengkram seragamnya.
"Tentu saja, Lucy ingin mengucapkannya ke Summer." Bisiknya.
Gray sweatdropped.
Kriiing!
"Ah, hapeku." Lucy mengangkat teleponnya dan terdengar suara wanita.
"Lucy! Aku dan ayahmu akan pulang minggu ini! Oh, tak lupa dengan Grandineey dan Igneel," sahut Layla dari telepon. Lucy menghela napas.
"Baguslah. Virgo juga akan pulang kan?"
" ya Lucy, siapa yang menemanimu di rumah?"
Tadinya Lucy akan menjawab Natsu, tapi... gengsi. "Loke dan Aries sudah pulang dari liburan mereka, jadi.."
"Bagaimana dengan Natsu?"
"Aku merawat Lucy dengan baik, Nyonya Layla!" Natsu berteriak dengan cengiran. Lucy memerah, sedangkan Layla terdiam sejenak.
"Kau dengar itu, Grandine!" terdengar ibunya bersorak dengan ibu Natsu. Yang lain sweatdropped, betapa kompaknya dua orang ibu jika merencanakan sesuatu. Mata Mirajane berkilat-kilat lalu merebut hape Lucy dari tangannya, "Nyonya Layla Heartfillia, aku Mirajane."
"Oh, Mira? Ada apa?" Layla menghentikan fangirling-nya dengan Grandine.
"Mungkin sekitar dua minggu lagi kelas kami akan mengadakan drama! Jadi, tolong datang, ne?"
Ohh, kau akan membayar ini semua Mira! Geram Lucy.
"Baiklah! Pastikan Lucy dan Natsu mendapat peran terbaik!" lalu setelah itu, telepon ditutup. Dengan wajah tak berdosa, Mira mengembalikan hape Lucy. Lucy hanya bisa menahan diri untuk tidak mengobok-obok(?) wajah cantik Mirajane.
Itu sangat tidak jantan!
"Baiklah! Sekian untuk latihan drama kali ini!" seru Levy sambil menghela napas. "Gajeel, ayo pulang." Lalu Gajeel mengangguk sambil merangkul Levy. Ia dan Levy sudah hidup satu apartemen sejak dua bulan yang lalu. Kini, ditambah dengan Pantherlily, walaupun Gajeel tak akan mengakuinya, ia merasa kucing hitam itu adalah sahabatnya. Akhirnya ada yang menyamai kegemarannya dalam berolahraga dan datang ke gym sambil mendengarkan lagu.
Hah! Tapi ia tak akan berterima kasih pada flame-breath!
"Luce, apa aku boleh menginap lagi?"
"Ah, terserahlah!" dan Natsu menganggap itu sebagai persetujuan.
Jellal dan Erza keluar tidak berdampingan, tapi tidak ada yang tahu apa yang mereka lakukan di perjalanan pulang nanti. Ah, senangnya. Tidak ada yang men-stalk mereka sebagaimana Natsu-Lucy.
Mirajane dan Laxus sendiri tengah beradu mulut, walaupun Laxus tidak terlalu peduli. Semakin mereka menjauh, percakapan mereka mulai menghilang, bagai ditelan bumi.
Tinggallah Gray. Sendiri.
Biasanya Juvia selalu berada di belakangnya untuk mengikutinya hingga ke rumah Gray dan Lyon, dan Ur-sensei. Walaupun terkadang Lyon menggoda Juvia. Gray tak bisa tak marah. Tapi selama ini ia selalu menutupinya.
Juvia kini berada di pikirannya. Di mana gadis itu? Mengapa Gray merasa sesuatu hilang dari dirinya jika Juvia tidak men-stalk-nya?
Dunia ini lucu, haha. Ha.
"Juvia?" Gray mulai berjalan keluar dari lapangan indoor tersebut. Ia mendapati Juvia dan payungnya di bawah hujan yang tiba-tiba turun. Mata birunya yang gelap memancarkan kesedihan, bukan keloyalan dan keceriaan seperti biasa.
"Juvia," panggil Gray pelan.
"Gray tidak perlu memaksakan diri melihat Juvia."
Gray membeku di tempat. Juvia memanggilnya tanpa sufiks –sama?
"Juvia mengerti Gray tidak ingin mendekatinya lagi. Jadi, maafkan Juvia."
"Tunggu, Juvia! Apa maksudmu?!" entah mengapa Gray merasakan hatinya sakit. Kenapa? Apa yang telah ia lakukan?
Juvia menolehkan wajahnya yang sudah dialiri air mata. "Gray tidak pernah berpikir untuk memerhatikan Juvia, apalagi bibir Juvia! Juvia mendengarnya tadi pagi, saat Gray-sama—bukan, Gray, berbicara pada Natsu-san! Juvia hanya penghalang bagi Gray, kan?"
Gray tak tahu mengapa ia mendekati Juvia dan melempar payung pink yang menghalangi tubuh Juvia dari tetesan hujan. Ia menghapus air mata Juvia yang masih mengalir, walaupun ia tahu itu sia-sia, karena parasnya justru basah akibat air hujan.
Setidaknya ia harus bisa menghapus kesedihannya.
"Tadi pagi, aku hanya mengelak. Aku egois." Ujar Gray, menghela napas. "Faktanya, aku memerhatikanmu. Rambutmu yang selalu berganti model itu. Kini versi apa? Juvia versi 4, kah?" ia tertawa kecil, mengamati rambutnya yang panjang bergelombang. "Tawamu. Caramu men-stalk. Reaksimu..ketika digoda Lyon."
"Bibirmu juga." Gray mengelus bibir Juvia.
"Gray-sama—!"
"Agak tipis, yang pasti tak bisa digambarkan dengan kata-kata." Lalu Gray mengecupnya sekali, sementara mata Juvia melebar kaget, tak lupa dengan blush di pipi. Gray menjauhkan wajahnya. "Kau mau memaafkanku, Juvia?"
Juvia tersenyum kecil, lalu mengangguk pelan. Tak bisa berkata-kata.
"Bagus. Jadi, bagaimana kalau aku mengantarmu pulang?" tawar Gray.
Juvia tersenyum. Masih tersenyum. Lalu pingsan.
"...atau, menggendongmu pulang?"
.
After 2 weeks.
"Hari yang ditunggu-tunggu! DRAMA! Hell yeah!
.. tetapi bagi Lucy itu adalah hell no!
"Aku harap kalian bisa bekerja sama sebaik mungkin. Dan tidak mengecewakanku setelah dua minggu latihan! Atau bisa dibilang lebih 3 hari!" seru Levy, kini mengenakan seragam ala librarian. "Lu -chan! Tingkatkan sikap feminin dan manis ala tuan putri, oke?!"
Lucy mendengus.
Natsu, sebagai dragon slayer, mengenakan kemeja satu lengan berwarna hitam dan sedikit warna emas. Tak lupa syalnya. Sayangnya, karena panjangnya hingga selutut, jadi ia mengenakan ikat pinggang coklat. Celananya berwarna putih yang ujungnya bertali hitam. Lengan kanannya mengenakan wristband dan di bahunya terdapat tato 'buatan' lambang Fairy Tail berwarna merah.
Lucy berpakaian mewah. Gaun pink dengan aksen dan renda merah. Rambutnya dikonde dengan rapi dan kalung mutiara 'tergantung' di lehernya. Di tangan kanannya lambang Fairy Tail pink. Ya, dia putri raja. Tapi putri yang satu ini, yandere. Butuh hampir satu jam untuk meredakan pemberontakan Lucy karena ingin merobek gaun itu. "AKU BENCI GAUN! AKU BENCI GAUN! GAAAAAH!"
Gajeel, sebagai supir pribadi Raja (yang ditertawakan Natsu dan Gray), mengenakan seragam biru tua dan sepatu hitam. Menurut Jellal, ia malah terlihat seperti satpam.
Jellal itu peramal. Ia mengenakan kemeja dan jeans yang ditutupi jubah biru tua dan menamai dirinya Mystogan bin Siegrain. Hm. Lumayan. (Erza: "Aku baru tahu seorang peramal mengenakan jeans.")
Erza adalah chef di kerajaan. Kerajaan di cerita Levy bernama Fairy Law. Erza selalu mengenakan celemek putih yang menutupi blus putih berendanya dan rok birunya. Ia juga mengenakan topi khas chef. Di lengan kirinya, terdapat tato buatan simbol Fairy Tail berwarna biru tua. Ia terlihat elegan.
Mirajane dan Laxus tidak memusingkan penampilan mereka, karena sebagai narator, mereka berada di belakang layar. Gray dan Juvia belum 'meresmikan' perasaan mereka—yah, Juvia sih hampir setiap hari, sedangkan yang masih bermasalah adalah Gray. Sebagai Raja dan Ratu, penampilan mereka lumayan mewah.
Hampir satu sekolah datang untuk menyaksikan drama itu. Tiket menjelma menjadi uang. Lapangan basket indoor lumayan penuh. Dan bagi Lucy, kedatangan orang tuanya dan orang tua Natsu sangat mengkhawatirkan.
Dan bagi Natsu, Lucy dalam pakaian putri raja sangat cantik dan menggairah—"
"MIRA!" seru Natsu dengan wajah memerah.
"Mira! Hentikan narasi bodohmu! Drama akan dimulai 2 menit lagi!" seru Lucy.
Begitulah suasana di sana yang ternyata adalah narasi Mira.
"Baiklah, drama kelas 11-C akan dimulai!" suara Makarov menggema dari atas panggung. Para penonton antusias. Lucy mengintip dari belakang layar, dan yang ingin membuatnya pingsan, Sabertooth! Lamia Scale! Blue Pegasus! Ada di situ!
Dan, apa ia tidak salah lihat bahwa ada Lisanna dan Elfman?
Sting, Rogue, Yukino duduk di depan. Minerva tampak bertingkah like a boss. Lyon tampak mencari-cari Juvia. Tobi masih menyembunyikan identitasnya dengan topeng singa. Sherry mengobrol dengan trio playboy, Eve, Hibiki, Ren. Walaupun Hibiki sudah pindah ke Fairy Tail, menemui teman lama tidak salah kan?
"Aku tidak yakin bisa melakukan ini," bisik Lucy, mengingat kehadiran Lisanna. Sejak kecil, ia dan Lisanna memang bersahabat, tapi saat mereka mulai memasuki SD, Lisanna mulai menjauh dan mendekati Natsu. Persahabatan mereka renggang. Ia yakin kalau Natsu pasti sangat senang melihat adik Mira itu. Tentu saja. Mereka sudah bersama sejak SD dan SMP! Sedangkan Lucy dan Natsu baru bertemu sejak kelas 1 SMA!
Kenapa.. dada Lucy terasa panas?
Natsu yang tidak tahu masalah yang dipikirkan Lucy, hanya menunjukkan grin-nya, "Tidak usah terlalu serius. Poin pentingnya adalah membuat penonton terhibur."
Lucy menatap Natsu, Natsu menatap Lucy. Lucy tersenyum, Natsu masih menunjukkan grin-nya. Saat keinginan untuk mencium Lucy timbul lagi, Natsu memalingkan wajahnya seraya berkata, "Lucy.. sebaiknya saat drama kau memakai masker."
"...apa?"
"FAIRY TAIL HIGH MEMPERSEMBAHKAN, 'THE PRINCESS AND THE DRAGON!'" suara Makarov menggema di lapangan indoor tersebut sekaligus memotong pembicaraan Natsu-Lucy.
"Lucy-san, ini adegan pertama!" bisik Juvia. Lucy mengangguk gugup. Ia keluar dari tirai yang menutupi backstage, lalu membungkuk seraya mengangkat roknya. Anggun, katanya. Sebenarnya Lucy membenci perilaku putri raja. Sangat tidak bebas!
Alunan musik klasik terdengar, ala dongeng. "Lucy Heartfillia. Putri raja yang memiliki kelainan untuk membunuh orang lain yang mengambil apa yang ia miliki." Terdengar suara Laxus. "Sayangnya tak ada satupun orang yang tahu penyakit yandere-nya."
Lucy lalu berakting pundung di pojokan. Ia menatap ke sekeliling dengan mata menyeramkan ala yandere, lalu tersenyum bengis. Di sekelilingnya banyak pisau, gunting dan benda tajam. Alunan musik berubah menjadi horror. "Seandainya Natsu di sini." Wajahnya melembut. Lucy bisa melihat wajah Lisanna kaget.
"Lucy telah jatuh cinta kepada seorang pembantai naga api kebanggaan Fairy Law, Natsu Dragneel. Ia selalu memperhatikan pemuda itu dari mana saja, bahkan men-stalk. Terkadang ia suka merencanakan pembunuhan terhadap gadis-gadis yang mendekati Natsu." Terdengar suara Mirajane.
"Natsu sebenarnya juga diam-diam mencintai Lucy. Tapi hari ini ada yang berencana untuk membunuh Lucy melalui kue yang ternyata dari fans Natsu!" Laxus berkata.
Tiba-tiba, pintu kamar Lucy terbuka. Erza masuk dengan wajahnya yang kalem dan berwibawa. Ia membawa senampan makanan—terlebih lagi kue stroberi.
"S-s-salam se-sej-jaht-tera, L-Lucy-hime!"
Jellal mengusap wajahnya, kalau bisa dengan setrikaan biar greget. Ia lupa memberi tahu Erza itu demam panggung. Seharusnya Erza menjadi narator saja, huh. Ia mendengar Levy protes, "Kenapa jadi salam sejahtera?!"
"Aah, Erza-chan!" Lucy berusaha menjadi feminin seperti kata Levy, jadi ia melompat girang ke arah Erza dengan tangan di udara. Semuanya sweatdropped. Lagipula Erza itu chef. Kenapa sufiksnya –chan? "Maksudku, Erza-san!"
"L-L-Lucy-hime!" Erza tiba-tiba memakan kue stroberinya sebelum ditabrak Lucy. Levy menarik rambutnya. Kenapa adegannya menjadi begini?! Kue itu seharusnya diberikan kepada Lucy! Lalu bla, bla, bla, adegan kedua!
'Erza! Kenapa kuenya dimakan?' pikir Lucy panik.
"K-K-Kuenya e-enaaak, yaa.. h-hahaha."
'ITU KUE BERACUNNN!' teriak semua pemeran dalam hati dari belakang panggung. Lucy berbisik ke arah Erza, "Psssh! Erza! Bukannya itu beracun?"
"Ah, maafkan aku Lucy. Aku lupa." Erza balas berbisik, lalu tiba-tiba mencengkram lehernya sendiri. "AAARGGHH!"
Penonton banyak yang mulai merekam dengan handycam, contohnya Layla dan Grandine. Ada juga yang serius memperhatikan. Ada yang mulai ketakutan, ada juga yang terlalu terbawa suasana sambil mencengkram leher sendiri. Elfman justru berkata, "memakan kue beracun itu jantan!"
"ERZA-SAAAN!" seru Lucy dramatis. Karena tak ada ide akibat alur cerita yang melenceng, ia mengambil pisau terdekat. "D-daripada Erza-san menderita menuju jalan kematian, aku akan membantu Erza-san!" lalu ia pura-pura menusuk Erza. Penonton yang lebay pun menjerit. Ada juga yang tertawa maniak yang dicurigai psikopat. Ada juga menangis sambil sedot-sedot ingus.
Dari belakang panggung, Levy yang tanggap mengambil es sirup yang di minum Natsu (untungnya, berwarna merah) lalu menyiramnya ke arah Erza. Efek cipratan darah. Sayangnya ia lupa kalau ada es batu yang juga melayang. Lucy mendapat ide.
"A-ah! Pisauku terbelah menjadi kotak-kotak seperti es batu! Tubuh Erza-san memang kuat!" jeritnya sambil memungut es batu satu-satu.
Para penonton sweatdropped.
Mirajane dan Levy berpandangan. "Levy-chan, bagaimana ini? Alur ceritanya melenceng!" mereka mengabaikan Natsu yang protes karena sirupnya di ambil.
"Hubungkan sebisa mungkin dengan yang orisinil, Mira-chan!"
Mira mendapatkan ide lalu mendekatkan mic ke mulutnya, "Sekarang, justru Erza Scarlet, sang chef yang terbunuh." Erza berakting tergeletak. "Akhirnya, Raja Gray Fullbuster dan Ratu Juvia Locksar memanggil anak mereka."
Setelah latar drama di ganti (sekaligus menyeret Erza yang malang ke belakang panggung), kini adegan berlatarkan singgasana raja dan ratu. Tampak Lucy membungkuk hormat—terlalu bungkuk malah karena ia nyaris mencium lutut sendiri. Aaah~ putri yang bersemangat.
"Ehem. Jadi, nak," Gray memulai seperti kakek-kakek, "Kenapa ada mayat Erza di kamarmu?" didukung anggukan Juvia.
"Mungkin karena terjatuh dan tak bisa bangun lagi, ayah." Jawab Lucy sopan. "Mungkin juga akhirnya tertusuk pisau."
"Lalu mengapa kue stroberi yang ia bawa hilang?" tanya Juvia dengan tatapan mengintimidasi. Mata Juvia tiba-tiba bertemu mata Lyon. Lyon mengedipkan sebelah matanya, membuat Gray menggeram.
Lucy yang menyadari itu langsung menjawab. "Ia memakannya, bunda."
"Mengapa?"
"Lapar."
"Kenapa lapar?"
"Belum makan."
"Kenapa belum makan?"
"Gak ada makanan kali." Sikap tomboi Lucy mulai keluar. Lalu ia menutup mulutnya. "M-maksud saya, mungkin tidak ada makanan, ibunda."
"Kenapa tidak ada makanan?"
'Kerajaan ente bokek!' betapa inginnya Lucy berteriak begitu, tapi tak bisa.
"Gray-sama, kenapa anak kita tidak ingin menjawabnya?" Juvia beralih ke Gray yang sweatdrop. Seingatnya, dialog Juvia bukan seperti ini. Ini terlalu kepo. Tretetet-jegerr-tadaa mendingan munculin Dora sekalian untuk ke rumah nenek.
"Karena kau terlalu banyak bertanya, s-s-say.."
'Ini dia! Adegan Gray-sama berkata sayang pada Juvia!' mata Juvia berbentuk hati. Kini Lyon yang menggeram.
"S-say-sayur! Ya! Erza tadi makan sayur!"
Levy membanting kepalanya ke atas meja. Gagalkah ia menjadi seorang sutradara?
Haahh, ia menghela napas. Drama ini sepertinya akan berlangsung lama.
.
Tbc
.
A/N: Gomen apdet lama. Internet error. Lalu, apa.. Gray-nya terlalu OOC dengan Juvia? :|
Review Corner Chap 6: anaracchi: ngakak yak? Ohoo. Makasih. Jangan lupa liat apdetannya lagi yo! #senyumgaktaumalu. RakaDragneel: gomen belum tentu bisa fast apdet. Tapi karena bulan ini banyak libur.. YAHOO, semoga bisa! XD yap. Masih panjang. Kikyu RKY: Haha.. arigatou XD. Dragonia Dragneel: Ngga papa. Makasih^^ apdet ngga nentu ya:'). ArQuella: aw aw aw makasih #LOL. Azalya dragneel: dramanya dipotong dulu hehehe/?. Makasih aza-chan selalu review. Aku terharuu. Fi-chan nalupi: Euh.. NaLunya mungkin next chap :v soalnya ngikutin alur sih. Gomenn:( nanti aku tambah NaLunya^^ RyuuKazekawa: Summer itu Natsu? Hmm. Yak! Tebakan anda salah! #dilempar. Silahkan ambil ketopraknya dari ATM terdekat XD. .3: gomen:( aku ngikutin alur. Aku bakal tambahin kok^^'a. 7th ChocoLava: arigatou.. ini lanjutannya. Himiki-chan: arigatou.. ini next chapnya^^'a. namikaze immah-chan sapphire: arigatou ucapannya XD. NaLu dong endingnya :). Stay tune ya, arigatou :).
Thanks for all readers. Baik yang mereview, fav, numpang baca, atau cuma klik lalu balik lagi. #Ooooprihatin. Tumpahkan keluh kesah kalian di kotak review~*dance
NEXT CHAP! LANJUTAN DRAMA DAN BIMBINGAN CINTA MR. GRAY OF THE DAY! XD
See ya!
