The Vague Heart

Disclaimer of Masashi Kishimoto

Story By Rina Apple

Warning : Cerita abal-abal, penuh typo

ΩΩΩ

Summary :

Haruno Sakura, cantik, kaya, cerdas, dan memiliki segalanya, suatu malam menghabiskan waktu di sebuah bar dan pagi harinya ia terbangun di kamar sebuah apartement. Kesal dan marah terhadap orangtuanya yang menjodohkannya dengn pria asing, sakura memutuskan untuk menyembunyikan identitasnya dan menjadi orang lain untuk menenangkan diri. Bagaimana kehidupan Sakura ketika mengetahui bahwa lelaki pemilik apartemen tempat ia bangun adalah seorang duda yang dingin, arogan, dan tidak lagi tertarik terhadap wanita?

PART VII : GOOD BYE SAKURA

SASUKE POV

Aku meneguk sisa wineku yang tersisa setengah gelas. Aku tidak tahu berapa gelas tepatnya aku menghabiskan wine di bar musik yang kencang dan pemandangan erotis yang biasanya sangat menggangguku kini tak kupedulikan. aku butuh menenangkan diri. Kejadian tadi benar-benar diluar kebiasaanku, itu bukan diriku. Sekali lagi aku merutuki kebodohanku dengan mencium Sakura hanya karena alasan yang sangat konyol. Bahkan, rasanya aku tidak sanggup lagi bertatap muka dengannya jika mengingat kejadian itu lagi. Benar-benar memalukan.

"pulanglah Sasuke, mabuk bukanlah solusi jika kau memiliki masalah" aku mengangkat kepalaku dan mendapati Sai tengah menatapku sambil mengelap gelas-gelasnya.

Aku tak menghiraukannya dan menuangkan kembali mine ke dalam gelasku dan langsung menegaknya. Aku mengernyit ketika minuman berakohol itu membasahi tenggorokanku.

"aku hanya butuh sedikit pelampiasan" jawabku singkat

"ini bukan dirimu" ucap Sai kembali menatapku. Aku menurunkan gelas yang dari tadi kumainkan dan menghela nafas. Sai benar. Ini memang bukan diriku. Entah kenapa, akhir-akhir ini aku kehilangan kontrol terhadap diriku. Aku lebih menunjukkan emosi dan egoku, sama seperti dulu. Namun, aku tidak bisa seperti ini, ada Sarada yang kini tengah membutuhkanku. Aku tidak bisa memberikannya sosok seorang ibu, setidaknya aku ingin menjdi sosok seorang ayah yang baik dan selalu ada disisinya ketika ia membutuhkan seseorang.

Setelah aku membayar minumanku, aku bergegas menuju ke parkiran dan memacu mobilku. Selama perjalanan, aku selalu memikirkan Sarada. Putri kecilku kini mungkin tengah kesepian, selain tidak ada sosok ibu, seharusnya aku sebagai ayahnya ada di dekatnya, seperti menemaninya tidur malam ini, bukannya menghabiskan malamku di bar hanya karena aku ingin menenangkan diri.

Ketika aku tiba, apartemen tampak sepi. Kulirik jam dinding, pukul 23.47, pantas saja sepi, Sarada dan sakura pasti sudah terlelap. Aku melangkahkan kakiku menuju kamar Sarada, untuk malam ini aku ingin menemaninya tidur, sesuatu yang sudah lama tidak aku lakukan untuknya. Ketika aku membuka pintu, aku tersentak dengan pemandangan yanga ada dihadapanku. Sarada tidur dalam dekapan Sakura. Entah kenapa, melihat itu, hatiku terasa diremas. Seharusnya Sarada mendapatkan hal ini sejak ia lahir. Harusnya ia menerima pelukan seorang ibu tiap malamnya jika wanita itu tidak meninggal ketika melahirkan Sarada. Dan wanita itu mungkin tidak akan meninggal jika saja aku tidak,,,,,,,,,

Ah sudahlah. Aku sedang tidak ingin mengingat masa lalu. Kupandangi sekali lagi wajah damai putriku, ia terlihat seperti malaikat jika tertidur dengan tenang seperti itu. Pandanganku merambat kearah Sakura yang juga tampak seperti bidadari ketika ia terlelap. Tunggu! Apakah aku baru saja berfikir Sakura seperti bidadari? Aku memejamkan mataku dan menggelengkan kepalaku kuat-kuat. Tidak. Ini tidak boleh terjadi, aku tidak boleh tertarik terhadap Sakura.

Dengan perlahan aku menutup pintu dan berjalan gontai menuju ke kamarku. Mulai saat ini, aku harus kembali kediriku yang semula. Uchiha Sasuke yang dingin dan tak tersentuh.

ΩΩΩ

Ini sudah seminggu sejak kejadian Sarada berkelahi dengan Boruto dan aku yang dengan bodohnya mencium Sakura hanya karena tidak tahan melihat sisa es krim menempel dibibirnya. Selama itu aku kembali memasang wajah datarku dan sama sekali tidak mengungkit masalah ciuman itu. Sejujurnya, beberapa kali aku melihat sakura tampak ingin mengutarakan sesuatu padaku, entah kenapa aku mendapat firasat ia akan menanyakan tentang ciuman itu, dan tiap kali ia akan membicarakan hal itu, aku selalu mengcuhkannya dan menglihkan pembicaraan.

Aku ingin semuanya seperti sedia kala sebelum kejadian itu terjadi. Lagipula, bukankah Sakura sudah biasa melakukan hal itu? Ia adalah seorang jalang di sebuah Bar ternama, tentu saja ia sudah sering melakukan pekerjaan seperti itu, seharusnya ia tidak perlu risau akan hal sekecil , pasti begitu. Sakura tidak mungkin memiliki masalah yang berarti tentang hal itu.

"ehm, Sasuke-san, ada yang ingin kubicarakan denganmu" aku mendongakkan wajahku dan menatap mata semurni zamrud itu tampak gelisah.

"ada apa" jawabku tanpa mengalihkan pandanganku.

Sakura makin gugup, itu terlihat dari duduknya yang tidak tenang, dan jemarinya yang tengah meremas ujung bajunya."ano…. Sasuke-san, aku ingin bertanya sesuatu padamu. Mungkin ini pertanyaan yang sedikit tidak sopan, namun aku sangat penasaran dengan ha ini, jadi,,,,"

"langsung saja Sakura" aku memotong perkataan Sakura yang berbelit-belit dan ini menggangguku. "aku tidak suka berbasa-basi"

Sakura menghela nafasnya. Kegugupannya agak berkurang, setelah beberapa saat ia terdiam akhirnya ia berkata, "aku ingin bertanya, kenapa waktu itu Sasuke-san menciumku?"

Aku sudah menduga hal ini. cepat atau lambat Sakura pasti akan menanyakan hal ini. aku sendiri bingung harus memberikan jawaban apa padanya. Aku tidak ingin memberikan kesan seolah-olah aku tertarik padanya, karena itu memang tidak boleh terjadi. Aku tidak ingin memulai suatu hubungan dengan seorang perempuan, cukup masa itu saja aku memiliki hubungan dengan seorang perempuan. Namun, aku sedikit merasa bersalah jika mengatakan hal itu bukanlah suatu masalah yang besar dan tidak perlu diperdebatkan. Aku tidak ingin mengira aku sedang menghinanya.

"Sasuke-san?"

Aku mendongakkan wajahku ketika mendengar suara Sakura mendayu ditelingaku. Ketika aku menatapnya, Sakura langsung memalingkan wajahnya dan makin menggenggam erat ujung bajunya. Wajahnya tampak merona, Sepertinya pandanganku memberikan efek padanya. Dan ketika mengetahui itu, ada rasa yang menggelitik di dadaku.

"itu sebuah kesalahan Sakura. Kau lupakan saja soal itu"

Mendengar jawabanku, sesaat Sakura tampak tertegun. Sepertinya ia tengah memikirkan hal yang serius. Melihat itu, aku sedikit was-was jika saja Sakura tersinggung. Beberapa saat kemudian Sakura menatapku dan ia berkata, "kesalahan, ya,,," sialan. Respon Sakura yang tampak kecewa membuatku merasa ada yang mengatakan jika hal ini akan berjalan tidak sesuai dengan yang kuharapkan.

"tapi itu sangat aneh. Kenapa tiba-tiba saja seperti itu? Aku,,, aku tidak pernah mengalami ini sebelumnya, jadi aku ingin tahu kenapa Sasuke-san bisa,,,,," tunggu! Apa yang baru saja Sakura katakan? Tidak pernah mengalami sebelumnya? jangan bercanda! Seorang jalang bar ternama tidak mungkin tidak pernah melakukan ciuman! Aku sedikit geli mendengarnya.

"jangan bercanda Sakura"

"hah?" Sakura mendongakkan wajahnya, matanya yang lentik menatapku penuh tanda Tanya.

"dengar. Aku tidak mengerti hal apa yang sebenarnya kita perdebatkan disini. itu hanya sebuah ciuman biasa, jangan bersikap berlebihan seolah-olah kau adalah seorang perawan yang ketakutan karena ciuman pertamanya telah dilepaskan dengan orang yang tidak seorang jalang, bukankah hal itu sudah biasa bagimu?"

sialan. Aku tidak menyangka akan benar-benar mengatakan hal ini. Binar mata Sakura yang semula penuh tanda Tanya kini berubah dengan kilatan kemarahan. Apa aku telah melakukan kesalahan? Apa kata-kataku terlalu kasar? Kurasa iya, mungkin saja tidak. Kata-kataku memang kasar, namun Kurasa kata-kataku tidak terlalu kasar jika ditujukan untuk seorang jalang seperti sakura. Sebagai seorang jalang, pasti ia sudah sering menerima kata-kata seperti itu.

Aku menaikkan alisku ketika melihat kedua tangan Sakura yang terkepal dikedua sisi tubuhnya. Ia seperti menahan amarahnya, bahkan aku melihat mata Sakura yang memerah menahan tangis. Kutahan tanganku yang ingin membelai Sakura untuk menenangkannya. Aku harus bisa menahan semua ini.

"aku,,,, aku bukanlah seorang jalang! Brengsek!"

Haaa? Apa-apa'an ini?

"aku adalah seorang wanita yang berasal dari keluarga terhormat! Aku dibesarkan dengan dengan norma-norma penuh kesopanan! Kata-katamu,,, sangat menghinaku!"

Aku menutup kedua mataku rapat-rapat. Harus tenang. Aku harus tenang menghadapi ini.

"kau sendiri yang bilang padaku, jika kau adalah seorang jalang"

Kini Sakura yang terdiam. Aku memang berkata kasar, namun aku tidak akan menganggapnya seorang jalang jika ia tidak mengatakan bahwa ia seorang jalang. Seorang jalang yang tengah terlilit hutang dan membutuhkan pekerjaan hingga aku mengijinkannya bekerja disini.

"aku memang mengatakannya. Tapi,,,, meskipun seandainya aku memang seorang jalang, kata-katamu tetap menyakitkan! Tidak bisakah kau sedikit menghargai perasaan seseorang?" sakura berdiri dari duduknya dan mengusap air matanya yang telah meleleh dengan punggung tangannya. Wajahnya benar-benar terlihat terluka. Aku merasa menjadi orang yang benar-benar brengsek sekarang, karena telah membuat seorang wanita lagi-lagi menangis.

Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Melihat wanita ini terluka, aku ingin mendekapnya dan mengatakan jika aku benar-benar menyesal dan aku minta maaf untuk semua kata-kata yang telah keluar dari mulutku. Namun nyatanya, aku tetap diam disini. aku ingin, namun aku tidak bisa. aku tidak bisa memeluknya, aku tidak bisa menenangkannya dan aku tidak bisa berdekatan dengannya. aku sadar, Sakura mulai memiliki pengaruh terhadapku, dan sebelum semua itu makin merasukiku, aku harus menjauh dan membuang semua rasa sialan ini.

"aku ingin pergi dari sini"

Aku langsung menatap iris zamrud itu ketika mendengar Sakura bersuara. Tidak. Meski aku ingin menjauh, namun bukan ini yang kuinginkan. Aku masih membutuhkan sakura disini, aku juga tidak tahu bagaimana harus menghadapi sarada jika ketika ia pulang nanti, ia tidak menemukan Sakura disini. mereka berdua sangat dekat, Sarada begitu menyayangi dan menghormati Sakura. Aku yakin, jika Sarada mengetahui ini ia pasti akan merasaa sedih. membayangkan sarada bersedih, membuatku nyeri.

"kau yakin?"

Aku ingin berkata lebih dari sekedar pertanyaan seperti ini, seperti kata-kata jangan pergi atau aku sangat menyesal, namun sayangnya aku tidak , bayangan Sarada yang bersedih karena Sakura pergi, berkelebat di pikiranku.

Sakura memejamkan matanya dan ketika terbuka ia mengangguk mantap. "aku ingin pulang. Aku ingin berada ditempat dimana aku bisa dihargai, bukan dihina dan direndahkan seperti ini"

Sialan. Aku tidak menghina dan merendahkanmu! Aku ingin sekali meneriakkan kata-kata itu, namun lagi-lagi aku tidak boleh terbawa emosi. Aku harus tenang menghadapi ini. lagipula, Bagaimana sakura bisa berfikir seperti itu?

Sakura mulai berjalan kearah pintu keluar. Dengan langkah yang berat, aku mengikutinya dari belakang. Ketika ia sudah sampai di luar pintu, Sakura membalikkan tubuhnya mengahadapku. " aku,,, aku ingin berterimakasih atas semua yang telah kau berikan selama ini. pekerjaan, tempat tinggal, dan semuanya, aku,,,, aku sebenarnya,,,,,,"

Aku melihatnya. Sakura tidak ingin pergi dari sini. Ia gugup. ia juga menundukkan kepalanya.

"sakura,,,,,"

Sakura mengangkat kepalanya dan tersenyum masam.

"selamat tinggal Sasuke,,,"

Dan pintu pun tertutup dengan diiringi langkah Sakura yang terdengar makin menjauh.

ΩΩΩ

Apakau pernah mendengar ungkapan, kau akan merasakan kehadiran seseorang jika kau telah kehilangannya? Itu ungkapan yang berlebihan, namun aku merasa, sekarang aku tengah dalam keadaan seperti itu. Setelah Sakura pergi, aku baru menyadari jika keadaanku memang berubah sejak kedatangan Sakura. Hidupku yang semula datar dan teratur menjadi sedikit berwarna karena kedatangan Sakura. Dan sejak Sakura pergi, tidak ada lagi yang memasak untukku atau mencucikan pakaianku. Sarada juga sepertinya merasakan hal yang sama denganku. Putri ku menjadi lebih pendiam dan sering melamun. Karena, aku kawatir dengannya, aku sengaja menitipkan Sarada pada orangtuaku. Aku tau, Sarada pasti tidak membutuhkan waktu lama untuk memahami semua ini.

"Yo! Sasuke!"

Aku tersadar dari lamunanku ketika mendengar suara Naruto menyapaku. Cengiran lebarnya tetap terpasang meski kini ia sudah duduk di depanku.

"pelankan suaramu, bodoh!" Neji datang tidak lama kemudian dan langsung menimpali sapaan Naruto.

Naruto langsung memasang wajah kesal. "hei! Jangan memanggilku seperti itu!"

"apakah aku datang terlambat?" sai muncul dengan seyum palsunya seperti biasa.

Aku menghela nafasku. Ini adalah pertemuan rutin kami setelah kami lulus universitas. kami berempat pernah tergabung dalam sebuah band universitas dan hubungan itu masih terjalin sampai saat ini. meski memiliki kesibukan masing-masing, namun kami masih menyempatkan waktu untuk bertemu. Hanya untuk mengenang masa-masa bodoh itu, ataupun hanya sekedar berbincang.

"kalian semua terlihat baik" Neji mengawali perbincangan kami. Dari kami berempat, Neji lah yang paling dewasa dan bertanggung jawab. Sejak duduk di bangku universitas ia sudah terjun dalam bisnis keluarganya, bahkan sekarang ia sudah menjabat sebagai CEO .

"beberapa bulan lagi aku akan mengadakan pameran. Kalian harus datang" Sai masih memasang senyum memuakkannya itu. Ketika Sai bekerja sebagai seorang bartender, kami berempat sangat terkejut. Sai adalah seorang pelukis yang berbakat dan sudah memiliki nama jual yang cukup mumpuni, jadi sangat aneh jika tiba-tiba saja ia menjadi bartender.

"tentu saja aku akan datang!" ck! Apa aku harus menjelaskan juga tentang si bodoh ini? dari mereka bertiga, Naruto lah yang paling dekat denganku. Kami sudah bersahabat sejak kecil, bahkan kaa-san bilang, ketika hamil, kaa-san dan ibunya Naruto sering bertemu untuk berbincang bersama dengan harapan anak mereka nanti juga bisa bersahabat baik seperti mereka. Dan harapan itu kini terwujud karena si bodoh ini terus menempel padaku.

"akan kuusahakan" aku mengangkat cangkir kopiku dan menyesapnya pelan. Rasa pahit dari kopi langsung menjalar ke tenggorokanku. Rasa pahit ini sedikit menenangkanku.

"apakah kau akan datang bersama dengan Sarada-chan dan Sakura-chan?" aku milirik Naruto yang kini tengah menyesap minumannya. Mendengar nama Sakura, sedikit mengagangguku.

"tunggu dulu! Siapa itu Sakura?" oh sial. Kenapa sekarang Sai menjadi orang yang ingin tahu tentangku? Aku mengacuhkan perkataan Sai dan kembali menyesap kopiku.

"kau tidak tahu? Sakura-chan itu kan calon ibu barunya Sarada-chan. Iya kan, Teme?" si bodoh ini! bagaimana bisa ia mengatakan hal ini! dan lebih sialnya lagi, kini pandangan Sai dan Neji seperti mengulitiku hidup-hidup. Mereka pasti terkejut dengan semua ini. jangankan mereka, aku pun sama terkejutnya dengan lelucon yang dikatakan oleh si bodoh Naruto.

"jadi, akhirnya ada yang mau dengan Sasuke?" Sai berkomentar dengan memasang senyumannya. Sial, aku merasa benar-benar membenci senyuman Sai sekarang.

"ck! Jangan percaya dengan si bodoh ini!" ujarku kesal dengan semua pandangan menuntut mereka. Itu benar-benar menggangguku.

"jadi,, siapa itu sakura? Naruto memang bodoh, tapi dia bukanlah seorang pembohong, Sasuke" aku menatap Neji dengan pandangan yang kesal.

"sakura hanyalah pengasuhnya Sarada" ucapku akhirnya mengaku.

"hanya seorang pengasuh?" neji menaikkan alisnya sambil melirikku.

Aku merasa makin gerah. Perbincangan ini membuatku tidak nyaman. Aku bukanlah seseorang yang mudah membuka cerita hidupku dengan orang lain. Apalagi jika mereka tahu, bahwa aku telah melukai seorang wanita dengan mengatakan jika wanita itu adalah seorang jalang. Ini benar-benar buruk, aku harus mengalihkan pembicaraan. Kulirik Naruto yang tengah menyesap minumannya, tiba-tiba saja terlintas ide di pikiranku untuk mengalihakan pembicaraan ini.

"daripada kalian mengurusi pengasuh Sarada, kenapa kalian tidak menanyakan tentang kehamilan Hinata yang kedua pada Naruto?"

Naruto langsung tergagap ketika mendengar pertanyaaanku. Ku yakin, sekarang ia pasti sedang gugup.

"apa maksudnya ini! kenapa kau tidak memberitahuku jika Hinata sudah mengandung lagi?" aku menahan tawaku ketika melihat Neji berkata penuh dengan amarah. Jelas saja Neji begitu marah, karena siapa pun akan marah jika seorang kakak tidak diberitahu tentang kehamilan adiknya. Apalagi Neji adalah jenis kakak yang overprotective.

"aku juga baru mengetahuinya! Jangan menyalahkanku!" Naruto balas berteriak.

Aku mengalihkan pandanganku keluar kaca. Ck! Rasanya membosankan jika mendengar mereka berdua berdebat. Hanya saling berteriak dan beragumen tentang sesuatu yang sama sekali tidak penting. Lamunanku terhenti ketika tidak lagi terdengar perdebatan antara Naruto dan Neji, melainkan suara Sai yang tengah menyapa seseorang, dan ketika mendengar namanya aku merasakan firasat buruk.

"Gaara! Kemana saja kau!" sekarang Naruto yang tengah berteriak dan langsung merangkul Gaara. Gaara tampak jengah ketika Naruto memeluknya begitu erat.

"kau bisa meremukkanku, Baka!"

"hei! Inikah sambutanmu setelah lama menghilang? Kau bahkan tidak memberikanku kabar!" Aku yang semula diam, ikut jengah ketika melihat tingkah Naruto yang kekanakkan.

"maaf, maaf,,, aku kembali ke Suna dan membangun kembali bisnis yang sempat mati. Semua waktuku tersisa untuk pekerjaan. Setelah kurasa perusahaan bisa kutinggal sebentar, aku ingin berlibur di Konoha. Aku pergi ke cafe ini untuk mengenang masa-masa di Konoha, dan ternyata kalian juga sedang berada disini. "

"setelah lama tidak bertemu, sekarang kau jadi banyak bicara, he?" Neji menaikkan alisnya melihat perubahan Gaara yang kuakui memang benar. Gaara adalah salah satu dari kami. Kami berlima membentuk band di universitas, dan menjadi sahabat, namun sekitar lima tahun yang lalu, Gaara tiba-tiba saja menghilang. Dia adalah seseorang yang tenang dan diam, hampir sama sepertiku. Namun, baru beberapa menit yang lalu ia bergabung dengan kami, sudah beberapa kali ia tersenyum, suatu hal yang tidak mungkin terjadi, ketika ia masih berada di universitas.

Gaara mengangkat bahunya acuh. " hanya ingin mencoba suasana yang baru"

"imej itu tidak cocok denganmu!" Naruto langsung menyahut.

"sepertinya kalian semua terlihat baik-baik saja" ucap Gaara mengambil tempat duduk disamping Naruto. Ia pun mengedarkan pandangannya dari Naruto yang berada disampingnya, Neji dan Sai yang berada di depannya, dan terakhir aku yang menempati kursi paling ujung. Ketika Gaara menatapku, aku merasakan aura yang tidak bersahabat, ia menarik sudut bibirnya membentuk sebuah seringaian. " bukankah begitu, Sasuke?"

Semua menjadi diam ketika Gaara menyelesaikan kalimat terakhirnya. Ini bukan rahasia lagi, kami berdua memiliki masalah yang belum terselesaikan. Aku mengerti mengapa Gaara bersikap seperti ini padaku. Ia berhak, dan aku pun pantas menerimanya.

"hn. Seperti yang kau lihat" aku menjawab seperlunya.

"aku melihat kau sedikit kacau" Gaara masih memasang seringaiannya. " aku akan terkejut jika kau terlihat baik-baik saja, setelah apa yang kau lakukan pada Karin" seringaian Gaara hilang dan berganti dengan pandangan yang tajam.

Atmosfir disekitar kami makin dingin. Aku yang sudah menduga akan terjadi hal seperti ini hanya mendengus dan membuang wajahku ke arah luar kaca. Aku sedang tidak ingin mengingat hal itu. Semua salahku, dan semua orang juga mengetahuinya, tanpa Gaara mengatakannya aku tidak akan lupa tentang semua dosaku.

"ehmm,,, sebaiknya kita segera memesan makanan,,,,"

"jangan mengalihkan perhatian Naruto. Kalian semua tahu apa yang telah dilakukan Si Brengsek ini pada Karin, dan kalian masih saja bisa berteman dengannya?" aku masih membuang wajahku keluar kaca. Aku tidak ingin ikut dalam perdebatan ini.

"itu semua bukan salahnya, Teme!" Naruto berteriak. Aku memejamkan berharap Naruto tidak lepas kendali dan menyebabkan perdebatan ini makin besar atau setidaknya Gaara segera berlalu dari sini.

"lagi-lagi kau membelanya he, Naruto? Bahkan ketika kau mengetahui si brengsek inilah yang menyebabkan Karin meninggal!" aku mendengar Gaara balas berteriak pada Naruto.

"hentikan Gaara, kau sudah keterlaluan" suara berat Neji menengahi perdebatan itu. Aku membuka mataku dan melirik ke arah neji yang tetap memasang wajah tenang nya. Naruto mulai mengatur nafasnya menjadi tenang, Gaara juga seperti tersadar akan posisinya.

"kalian selalu membelanya, bahkan ketika Sasuke melakukan kesalahan sebesar itu , kalian tetap mendukungnya" Gaara berucap dengan nada datar. Emosi yang beberapa menit lalu sempat berkobar kini telah hilang. Namun, aku masih merasakan kebencian Gaara dari setiap kata yang diucapkannya.

"karena itulah yang dapat kami lakukan sebagai seorang sahabat" Sai akhirnya ikut dalam pembicaraan ini. "kau juga sahabat kami Gaara, kami juga ingin mendukungmu, namun kau lah yang meninggalkan kami"

Gaara bangkit dari duduknya. "aku pergi"

"lanjutkanlah hidupmu Gaara, dan berhenti menyalahkan Sasuke" aku yakin Gaara pasti mendengar perkataan Neji, namun ia tetap berjalan tanpa menoleh lagi ke arah kami. Ketika Gaara telah pergi, aku menghembuskan nafasku. Entah kenapa ini terasa sedikit melegakan.

Aku menoleh ke arah ketiga sahabatku, dan nampaknya mereka juga merasa lega sama sepertiku. Mereka berusaha terlihat baik-baik saja, meski kenyataannya persahabatan kami tidak sama seperti dulu. Dan semua ini, aku lah penyebabnya. Andai saja aku tidak egois, mungkin saja semuanya akan baik-baik saja. Jika saja aku dulu mau sedikit membuka hatiku untuk Karin, mungkin saat ini, kami berlima tetap menjadi sahabat dan Sarada juga memiliki sosok seorang ibu.

Aku menoleh ketika merasakan tangan yang menyentuh pundakku. Lagi-lagi Naruto. Selama ini ia selalu membelaku, meski ia tahu semuanya salahku. Aku juga menoleh ke arah Neji dan Sai. Mereka bertiga tersenyum. Aku ikut tersenyum. Mereka benar, seorang sahabat pasti akan saling mendukukg, dan gara-gara mendukungku kami semua kehilangan Gaara.

Akhirnya kami menghabiskan sore itu dengan obrolan tentang masa lalu dan diisi dengan perdebatan antara Naruto dan neji kembali.

ΩΩΩ

Ketika aku kembali ke apartemen, aku merasakan sesuatu yang hampa. Sarada masih berada di rumah kedua orangtuaku, Sakura juga sudah pergi. Kurebahkan badanku di kasur dan mencoba untuk memejamkan mataku. Bayangan-bayangan tentang masa laluku , entah kenapa malam ini menggangguku,mungkin karena pertemuanku dengan Gaara tadi, hingga membuatku mengingatnya kembali.

Karin.

Dia ibunya Sarada, tidak lebih dari itu. Dari dulu aku hanya menganggapnya seperti itu. Perusak masa depanku, dan mengganggu ketenangan hidupku. Namun, aku tak pernah membayangkan jika ia akan meninggalkanku dan Sarada sendirian. Apakah ini semua hukuman untukku karena sudah membencinya?

Hingga sekarang aku tak pernah bisa membuka hatiku untuk seorang wanita. Bahkan sebenarnya aku tak pernah membuka hatiku untuk Karin. aku selalu membencinya, dan sialnya Karin tak pernah lelah untuk menyukaiku meski aku tak pernah sedikitpun membalasnya, dan di detik-detik terakhirnya ia masih menyunggingkan senyumannya untukku. Untuk seseorang yang telah membuat hidupnya seperti di neraka.

Aku ingin mengatakan maaf padanya, namun detik terakhir itu sudah berlalu dan sampai ia tiada aku belum mengatakan maaf padanya. Aku membenci diriku sendiri. Membenci diriku yang tetap egois sampai detik terakhir,dan yang tak pernah membuka hatiku untuknya. Gaara benar. Aku adalah seseorang yang brengsek. Akulah yang menyebabkan Karin meninggal dan aku juga yang menyebabkan Sarada tidak memiliki seorang ibu.

hal ini membuatku benar-benar tidak bisa tidur. Aku bangun dari tidurku dan mengambil handphone yang ada di meja samping ranjang tidur, aku ingin mendengar suara Sarada meski hanya sebentar, ingin memastikan bahwa ia baik-baik saja.

"papa,,,,,"

Oh Tuhan, mendengar suara Sarada langsung membuat hatiku lega. aku yang dari tadi gelisah, langsung merasakan ada angin segar yang menerpaku.

"kau belum tidur?"

"aku baru saja akan tidur. Aku, merindukan papa,,,," sial. Anakku sedang merindukanku dan aku tidak berada disisinya.

"besok papa akan kesana. Sekarang Sarada cepat tidur, ini sudah melewati jam tidurmu"

"baiklah. Selamat tidur papa"

"selamat tidur sayang"

Aku mematikan sambungan telephone sambil tersenyum. Membayangkan senyum Sarada ketika aku mengunjunginya besok membuatku kali ini bisa memejamkan mataku.

ΩΩΩ

Entah kenapa ceritanya makin absurd kayak gini.

Maap kalau updatenya kelamaan.

Buat yang protes tentang emaknya Sarada saya terima. Kenapa Karin yang jadi ibu biologisnya Sarada disini, karena jalan ceritanya dari awal saya maunya emang bukan Sakura, dan kebetulan hanya Karin lah satu-satunya cewek yang pernah deket sama Sasuke, makanya saya pake tokoh Karin.

Tapi cerita ini absolutely SasuSaku, karena saya juga pecinta forever mereka,,,

Eh, mampir juga ya di cerita baruku "the Secret Of Nerd", cast nya masih SasuSaku,

Buat yang udah baca dan review, makasih banyak ya,,,,,

Rina Apple

.