A/N: HEY, IKLAN DULU: JIKA KALIAN DILANDA KEBOSANAN(?), NANTIKAN FIC #FORNALUDAYCOMPETITION YAMA^^..itupun kalo sempet ngetik.

Dan Natsu benar-benar mengontaminasi otakku T^T. Waktu Yama nonton tipi, ada acara ngebahas tentang makanan 'Kecap Tua Nasu'. Terus, Yama langsung jejeritan, "Hah?! Kecap Tua Natsu?!" ternyata 'Nasu' O/O.

Yeah, I do not own Fairy Tail.

.

"Sayur?" tanya Juvia sedikit kecewa. Mirajane menyadari dialog Gray yang melenceng, lalu ia menyikut Laxus. Laxus mendengus, lalu berbicara, "Sayur. Ya. Makanan yang Erza makan sebelumnya adalah sayur. Jadi, inti dari kejadian ini adalah seorang Erza tewas terbunuh karena memakan sayur BAYAM milik Putri Lucy. Jadi karena merasa bersalah, ia bunuh diri—"

"Tunggu, katanya tewas terbunuh! Kenapa jadi bunuh diri?!" teriak salah seorang penonton yang peka. Laxus menjawab dengan tenang, "Mohon kesabarannya. Erza terbunuh oleh dirinya sendiri. Ia tahu itu adalah kue beracun, jadi ia mengorbankan diri."

'Boleh juga alibimu,' Lucy sweatdropped. 'Tapi, apa-apaan di kerajaan makan sayur BAYAM?'

"Tunggu, katanya merasa bersalah? Kenapa jadi mengorbankan diri?!" penonton itu protes lagi.

"Ia mengorbankan diri karena merasa bersalah," jawab Laxus dengan kesabaran yang mulai menipis. Lalu di situlah Levy sadar bahwa seorang narator beradu mulut dengan penonton. Gajeel yang menyadari ini juga hendak menegur Laxus, tapi ia mendapati Levy tersenyum padanya.

Gajeel menghembuskan napas lega. Tapi menyadari bahwa Levy tersenyum sambil menggenggam sebuah pisau yang pura-pura menancap di Erza tadi.

"HEI! SHRIMP! JANGAN BUNUH DIRI SAAT DEPRESI!"

"Tapi, Gajeel—"

"BUNUH SAJA ORANG YANG MEMBUATMU DEPRESI!"

"..." Levy lalu menulis daftar orang yang membuatnya depresi. "Aa, kalau begitu, di mulai dari Natsu saja ya?" jawabnya, memilih orang yang berdosa.

"HEI! K-KENAPA AKU!" sahut Natsu dari belakang.

"Hei, kasihan Lucy," sahut Jellal dengan nada menggoda, sambil menyeringai. Levy ikut menyeringai. Natsu hanya terbingung-bingung tentang kesangkut-pautan Lucy terhadap hal ini.

"Sssh!" Mira mendesis, lalu bernarasi dengan suara malaikatnya, "Akhirnya, bisa dipastikan bahwa Putri Lucy tidak membunuh Chef Erza. Akhirnya, sebagai penghargaan terhadap kejujuran Lucy, Raja Gray membiarkan putrinya berkeliaran sepuasnya untuk sehari saja."

"Berkeliaran," gumam Lucy sambil meng-quote dengan kedua jari telunjuk dan tengahnya.

"Aku bebaskan kau untuk sehari," ujar Gray seperti seorang pengawal yang meloloskan tahanan.

"Tetapi sebaiknya Lucy-hime tidak berbuat macam-macam," tambah Juvia. Lucy membungkuk hormat, lalu ia, Gray dan Juvia masuk ke belakang panggung sementara latar belakang diganti.

Adegan selanjutnya adalah di taman kerajaan. Putri Lucy sedang melihat kebun mawar dengan wajah berseri-seri. Tapi tidak dengan Gajeel, sang supir kerajaan (Ia tengah ditertawai oleh Gray dan Natsu di belakang panggung). Dengan wajah poker-nya, ia mengawasi Lucy, bersiap kapan saja jika sang putri minta di antar ke suatu tempat.

"Saat Putri Lucy melihat-lihat bunga ditemani supir kerajaan Gajeel Redfox," terdengar seruan 'YEAAAH!' yang diduga Metallicana, "tiba-tiba atmosfer berubah." Musik klasik yang menenangkan berubah menjadi mencekam. Lampu pun menyorot kemana-mana, seperti pengumuman finalis kompetisi bernyanyi. Para penonton mengira-ngira apa yang akan terjadi. Apa akan terjadi pembunuhan lagi?

"Ia melihat sang Pembantai Naga kebanggaan Fairy Law, Natsu Dragneel muncul, yang entah mengapa selalu menghindari Putri Lucy." Lucy mulai blushing sendiri, entah kenapa. Katakan, Levy, mengapa pasangan utamanya adalah Natsu dan dirinya?!

Natsu sendiri tampak grogi, tetapi ketika mendengar teriakan semangat dari Lisanna, ia memalingkan wajahnya, tidak peduli. Lucy menangkap adegan ini lalu mengernyit heran. Sang Matchmaker berambut putih tidak melewatkan adegan ini, lalu berkata selagi menyeringai, "Putri Lucy memandang Natsu, Natsu memandang Putri Lucy." Musik berubah menjadi romantis, dan Gajeel yang menganggur (dengan wajah datar) menebarkan kelopak-kelopak bunga mawar.

"Natsu," bisik Lucy lalu tersenyum lebar. Natsu sendiri masih tersenyum grogi. "A-ah, Lucy-hime.. aku akan pergi duluan, oke?" lalu ia melangkah cepat-cepat ke arah gerbang Istana.

"Natsu!" kini Lucy berteriak. Ia sempat melihat ke arah ibunya, Layla dan Grandine yang tengah berpelukan norak dengan mata yang berbentuk hati. "Kutanya lagi, apa kau sudah mencintaiku?!"

"Ya, selama ini Lucy terus menyatakan cintanya, dan Natsu belum menjawabnya sama sekali." Kata Laxus dengan nada malas. Terdengar Grandine mengih-mengih[1] dengan kaget. Layla menepuk-nepuk punggungnya.

"Lucy-hime.. maaf, a-aku.."

"Terpaksa ia berbohong karena.. seorang putri raja dan pembantai naga sebenarnya tidak disahkan bersama.." ujar Laxus dan Mira bersamaan.

"Aku sudah menyukai sang penjaga..perpustakaan."

"L-Levy-san?" tanya Lucy dengan kaget. Natsu mengangguk lambat-lambat, lalu tanpa basa-basi, ia pergi sekejap dengan sekelebat api. Beberapa penonton norak menggumam 'wow' atau 'uwoooh' karena trik tadi. Terima kasih atas trik sulapmu, Jellal.

"Levy ya.." tiba-tiba Lucy menghadap ke Gajeel yang sedang terduduk bosan seperti pria pengangguran. "Gajeel, antar aku ke Mystogan bin Siegrain!" ujarnya mantap. Gajeel yang terkantuk-kantuk langsung menegakkan lehernya,

"K-Kau serius mau ke seorang peramal?!" lalu terdengar Metallicana berteriak ala cheerleader.

"Jangan banyak bertanya." Ancam Lucy, lalu mengulurkan sebuah pisau lipat ke arah Gajeel. Gajeel terdiam.

"... jadi kau mau naik kereta kuda, sepeda, becak, mobil, motor, atau pesawat jet?"

Semuanya sweatdropped melihat kesantaian Gajeel. Lucy terdiam.

"... ada unta?"

.

Melenceng lagi.

"HUAAAARRGGHHH!" teriak Levy sambil mencengkram rambutnya. Juvia sendiri sedang mengelus-elus pundak Levy, menenangkannya.

"Levy-chan, menurut Juvia drama tadi cukup bagus, bukankah tidak ada yang menyadari skenario orisinil kita?" hibur Juvia sambil tersenyum grogi. "L-lagipula, terkadang sesuatu yang hebat datang dari hal yang tidak kita duga." Lanjutnya.

Levy terdiam. "..sesuatu yang hebat datang dari hal yang tidak kita duga, ya." Bisiknya, lalu tersenyum kepada Juvia. "Terima kasih Juvia. Sepertinya adeganku sebentar lagi. Aku akan melakukan yang terbaik!" ujarnya semangat. Juvia tersenyum lega.

"J-Juvia mendukung Levy-chan!"

"Levy-chan~! Sebentar lagi giliranmu!" seru Mira setelah menjauhkan mik dari mulutnya. Levy mengangguk, lalu meneruskan melihat adegan Mystogan bin Siegrain dari layar yang disediakan.

Laxus menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya. "Akhirnya putri Lucy Heartfillia mengunjungi peramal Mystogan bin Siegrain, dan jangan tanya dengan kendaraan apa."

Terlihat latar di panggung telah diganti menjadi sebuah ruangan ala peramal. Jellal dengan jubah biru tua dan celana jeans (ceritanya peramal modern), tengah duduk di lantai beralaskan bantal. Kedua tangannya tengah menari-nari diatas bola kristal palsu (padahal itu cuma akuarium bulat milik Juvia). Tiba-tiba, tirai yang berada di pintu masuk tersingkap. Masuklah Lucy Heartfillia.

"Mystogan." Katanya serius.

"Maaf, namaku Siegrain." Jawab Jellal cepat-cepat. Levy menahan keinginannya untuk berteriak karena mengingat kata-kata mutiara Juvia yang semalam suntuk Juvia hafalkan.

"Tentu. Mystogan bin Siegrain."

"Tidak, hanya Siegrain."

"Oh baiklah Siegrain!" Lucy mulai emosi. Peran Jellal memang menyebalkan: menjadi peramal bolot. Tetapi ini bolot-nya keterlaluan. "Aku ingin kau membunuh penjaga perpustakaan Fairy Law!"

Jellal melirik Lucy dengan malas, "Maafkan aku, nyonya. Membunuh itu berdosa, kau tahu?"

"T-Tapi! Untuk kebenaran, membunuh itu diwajibkan!" seru Lucy membuat teori baru. Jellal tidak menjawab. "Bantulah aku, Siegrain! Aku tahu kau peramal kebanggaan Fairy Law!" Jellal tidak menjawab. "Siegrain!" masih tidak menjawab. Penonton mulai gregetan dengan muka yang nggak woles.

"Kubayar kau." Ujar Lucy akhirnya.

"Siapa yang harus kubunuh?" respon Jellal.

Para penonton sweatdropped.

"Levy McGarden, penjaga perpustakaan Fairy Law!"

"Apa tindak kriminal yang ia lakukan?" Jellal mengeluarkan selembar kertas dan mulai menulis.

"I-Ia, mencuri hati Natsu Dragneel!"

"Mm-hmm. Ceritakan kronologinya."

"Ia mencuri hati Natsu Dragneel saat aku juga mencintainya! Padahal aku yakin bahwa Levy mencintai supir pribadi Fairy Law, Gajeel Redfox! J-Jadi, demi kebenaran, aku harus membunuhnya!"

"Mm-hmm. Kapan tindakan kriminal ini terjadi?"

"S-Sekitar 30 menit yang lalu, saat Natsu mendeklarasikan cintanya untuk Levy!"

"Oke, berapa banyak korban tewas?"

"Mungkin aku yang akan tewas."

Jellal meletakkan pulpennya dan menatap Lucy. "Jadi saya sudah mencatat informasi yang saya perlukan. Sepertinya pihak yang dirugikan bukan cuma anda, tetapi saya, karena jika saya tidak membunuh, uang tak akan ada di tangan saya." Jellal berhenti sebentar. "Dokter akan berusaha menyembuhkan hati anda, tetapi anda tidak perlu melakukan rawat inap. Cukup berikan racun ini pada makanan yang akan Levy makan. Silahkan minta resepnya di apotik terdekat."

"T-tapi, dok," ujar Lucy ikutan bolot. "Di kota ini tidak ada apotik."

"Ooh, pantas saja tiap hari ada yang mati," komentar sang peramal. "Baiklah, sepertinya saya mempunyai obat cadangan. Berikan ini pada Natsu, niscaya ia akan mencintaimu." Ia menyodorkan sebuah botol berisi cairan pink bertuliskan 'Happy Family'.

"Whoa.." Lucy pura-pura kagum menatap botol ini. 'Aargh, kenapa harus warna pink?'

"Terima kasih Siegrain!" Lucy tersenyum horror sebentar, lalu ia langsung mengubah ekspresinya. "Hmm.. uangnya.."

"Aaah, tidak perlu, Yang Mulia," jawab Jellal, membuat semuanya bingung. 'Ini peramal maunya apa sih?!' Batin mereka. "Berikan saja kartu ATM-nya."

"Erm.. KTP boleh?"

"Boleh sekali, Yang Mulia!" lalu Lucy menyodorkan sebuah KTP yang sudah tidak berlaku lagi. Jika semua peramal seperti Jellal.. a-ah, tidak perlu repot-repot membayangkan.

"Terima kasih Siegrain," ucap Lucy lagi, lalu keluar dari ruangan. Jellal juga ikut keluar lalu latar diganti menjadi di sebuah perpustakaan.

"Setelah Lucy dan Mystogan bin Siegrain yang ingin dipanggil Siegrain bertransaksi, Lucy kembali ke istana untuk memberikan cairan kepada Natsu. Sekarang, mari kita lihat apa yang sedang Levy lakukan." Suara merdu Mirajane terdengar. Fans club Mirajane bersorak di antara penonton, membuat Laxus mendengus. Erza yang menyaksikan itu hanya menyeringai.

Levy masuk sambil membawa setumpuk buku yang berada di tangan kanan-kirinya, kepala, dan di atas lutut kiri. Ia berusaha menjaga keseimbangannya sementara ia memikirkan dialog Lucy dan Jellal yang sudah ia duga melenceng. MELENCENG. Bagaimana jika ia juga melenceng? Sebagai sutradara ia tidak boleh melenceng!

Jdug.

Dan ia jatuh karena banyaknya buku yang ia bawa. Ia baru saja melenceng.

'Waktunya ganti watak menjadi penjaga perpustakaan yang ceroboh!' pikirnya. Dengan sengaja ia memunguti buku-buku yang berserakan satu-satu, lalu menjatuhkannya lagi.

Levy menghela napas setelah semua buku berhasil ia susun. Saat ia ingin mengambil buku yang terakhir, tangannya mengenai sebuah tangan yang hendak mengambil buku itu juga. Pipi Levy memerah, 'I-ini adalah adegan dimana setiap wanita impikan!' dan saat ia menengok ke atas, rona wajahnya menghilang.

"Oh, cuma kau, Dragneel."

"Apa maksudnya itu?!" desis Natsu tidak terima, tanpa sadar bahwa kalimat yang Levy ucapkan tidak ada di dialog.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Levy jutek, melupakan bahwa seharusnya ia berperan sebagai penjaga perpustakaan yang ceroboh. "Putri Lucy mencarimu kau tahu."

"Haah? Untuk apa?"

"Mungkin untuk menciummu! Ia selalu curhat mengenai betapa seksinya bibirmu—"

"Whatthefuck!" potong Natsu sambil menutupi mulutnya dan pipinya yang memerah. Lucy di belakang panggung mencak-mencak dan berjanji akan mengadili Levy nanti. Grandine dan Layla hampir pingsan. Lisanna sedang tenggelam dalam dunia hayalan.

"—dan ia sangat menyukai badanmu yang kekar—"

Natsu menutupi badannya dengan syalnya.

"—dan rambutmu yang spiky—"

Kini syal Natsu berpindah ke atas kepalanya, mengerudungi rambutnya. Bisa dilihat antrian ke kamar mandi penuh karena banyaknya pemuda yang ingin mengeluarkan isi perutnya. Seorang penonton laki-laki yang tidak mengantri mulai dicurigai oleh para cewek.

Gray yang baru saja keluar dari kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya, langsung buru-buru masuk lagi.

"Hati-hati Gajeel, sepertinya setelah drama ini berlangsung, akan ada pasangan NaLe," komentar Laxus cuek. Gajeel dan Lucy tengah ditahan oleh Erza karena hampir mengamuk; karena Levy. Mirajane tampak menyeringai—mengetahui sesuatu.

"Hei, Gray." Panggil Jellal. Gray yang baru keluar (yang ketiga kalinya) dari kamar mandi, menengok. "Jika kau terlalu jijik dengan Natsu, akan ada pasangan GrayNa. Atau, GrayTsu? NaGra? NaRay? Gra—"

"UBH!" terdengar bunyi pintu kamar mandi yang dibanting. Dan yang mencurigakan, Juvia juga tiba-tiba menghilang. Gajeel pundung.

"Kau jahat, Jellal," komentar Erza, menyeringai.

"Ooh, sepertinya adegan Natsu dan Levy akan kacau," ujar Mirajane tiba-tiba. Ia menatap Lucy sambil menyatukan kedua tangannya. "Sepertinya akan ada adegan yang sedikit diubah, ne?"

"K-kenapa melihat ke aku.." tanya Lucy gugup dengan suara rendah. Mirajane hanya tersenyum. "Ah! Baik, baik! Yang penting narasikan idemu dari otak malaikat-mu tentang apa yang harus aku lakukan!"

"Akhirnya Lucy Heartfillia masuk untuk menenangkan pertengkaran Natsu dan Levy." Ujar Mirajane, menggantikan peran Laxus demi program 'NaLu Harus Bersatu!'. "Lucy tiba-tiba mendorong Levy dan memeluk Natsu."

"..." Grandine dan Layla memasang mata mereka baik-baik. Wajah Lisanna tegang. Elfman bergumam sesuatu tentang nee-chan-nya yang sangat tidak jantan. Erza, Levy, dan Juvia memasang wajah berharap dan menatap layar yang merekam adegan di panggung lekat-lekat.

Lucy berjalan pelan, mendorong Levy dengan pelan lalu memeluk Natsu yang tengah duduk di lantai dengan wajah bingung.

"Lucy memperat pelukannya.." ujar Mirajane lagi. Lucy bertaruh kakak paling tua keluarga Strauss itu sedang menahan cengirannya. Tetapi Lucy tidak berpikir panjang lagi, ia mempererat lingkaran tangannya di pinggang Natsu.

"..dan menyandarkan dagunya di atas bahu Natsu yang sedang tak bersyal."

Lalu Lucy melakukan apa yang Mira narasikan.

"Natsu membalas pelukannya."

Kedua tangan Natsu melingkar di pinggang ramping Lucy yang terbalut gaun pink yang sangat Lucy benci. "Ada apa, Lucy? Sepertinya kau menikmati adegan ini." Bisik Natsu sambil menunjukkan smirk-nya.

"Hei, hei. Aku tidak melakukan adegan ini karena aku mau, sialan." Lucy balas berbisik, berusaha menyembunyikan pipinya yang memerah. "Sial kau, Mira."

"Riiight." Balas Natsu sarkastis. "Aku tahu kau menyukainya. Dan bibirku yang seksi, eh?" 'Padahal aku yang selalu ingin menciumnya,' batin Natsu sedikit kecewa. Dan sial itu, saat hasrat itu muncul lagi di tengah drama menyebalkan ini.

"A-apa!" Lucy hampir saja menjerit.

"Lucy berbisik.." Mira memotong percakapan mereka, "kata-kata yang membuat bulu kuduk Natsu berdiri."

"Hei, dia pikir aku ini apa," gumam Lucy sweatdropped. Tetapi akhirnya ia mengatakan tiga kata itu, sih. "Natsu.." ia membesarkan suaranya. "Kau tahu bahwa aku selalu menc-cinTAImu kan?" katanya, menekan tiga huruf yang membentuk kata 'tai'.

"Mm-hmm." Balas Natsu, meniru Jellal saat menginterogasi Lucy.

"Apa kau ingin aku membunuh Levy-san?" Lucy mengubah nada suaranya. Levy pura-pura berjengit dengan mundur satu langkah.

"Tidak, Lucy.. jangan," pinta sang pembantai naga.

"Kalau begitu.. minumlah cairan ini," jawab sang blondie. "Aku akan membuatmu mencintaiku."

Natsu terdiam, karena ia tahu bahwa percakapan ini tidak ada di dalam skenario. Mirajane hendak memberikan pengarahan melalui narasinya, tetapi Natsu menjawab dengan mata onyx yang berubah serius. "Lucy-hime.. cinta tidak dapat dipaksakan, kau tahu?"

"Nats—"

"Jika kau meminumkanku cairan itu, yang kau dapat hanyalah kehampaan. Kau.. tidak akan merasakan kebahagiaan, karena cinta yang kau dapatkan bukanlah dariku, tetapi dari cairan itu."

"...kenapa Levy-san?"

"Eh?"

"Kenapa harus penjaga perpustakaan arogan itu?" desis sang putri. "Aku telah melakukan segalanya—demi kau untuk menc-cinTAIku, tetapi.. tapi.." lalu ia menunjuk dirinya sendiri. "Bukankah aku lebih baik daripada seorang pustakawan? Aku—aku adalah seorang putri, demi Mavis!"

"Diamlah Lucy!" seru sang pembantai naga, menghilangkan sufiks -hime. "Aku tidak peduli kau siapa atau derajatmu atau apapun darimu, menurutku kau hanya Lucy! Aku berbohong selama ini karena raja dan ratu tidak mengizinkan.. seorang putri bersama seorang pembantai naga.."

"...kau..." lalu Natsu mengangguk pelan.

"Bagus! Adegan ini sempurna!" jerit Mirajane dari belakang panggung. Ia pun menyenggol lengan Laxus, mengisyaratkan narasi berikutnya. Waktunya kembali ke jalan yang benar~! (baca: skenario~!)

"Tiba-tiba Raja Gray dan Ratu Juvia yang telah mendengar seluruh percakapan Natsu dan Putri Lucy, datang menerobos pintu perpustakaan." Suara Laxus yang terkantuk-kantuk menginterupsi. Benar saja, Gray yang kelelahan karena beberapa kali memuntahkan isi perutnya pun masuk, disusul Juvia.

Lucy langsung mengambil pisau lipat dari meja Levy, "I-Ibunda! Ayah! J-jika.. kalian tidak merestui cintaku dan Natsu, aku akan.."

"Lucy!" seru Natsu.

"Hei, nak," Gray terbatuk sebentar, "Siapa yang tidak merestui hubungan kalian?"

"Eh?" Natsu dan Lucy pura-pura cengo'.

"Justru kalian telah dijodohkan sedari kecil!" tambah Juvia dengan senyum manisnya. Gray dan Lyon terbatuk bersamaan. Natsu menangkap pipi Lucy sedikit memerah, dan ia tak bisa tidak mengaku bahwa ia senang.

"J-jadi.. siapa yang mengatakan gosip itu..?" tanya Natsu.

"Hm, fangirls-mu, Natsu." Jawab Levy yang sedari tadi diam. Natsu berpura-pura ingin muntah, sejujurnya, ia tak pernah menyukai fangirls. Apa masalah mereka? Men-stalk idolanya tanpa jenuh? Memuji-muji? Membenci haters idola mereka? Huh.

"Menjijikkan," gumamnya.

"JADI, AKU DAN NATSU BISA BERSAMA, KAN?" jerit Lucy lalu memeluk Natsu hingga mereka berdua jatuh ke lantai. Levy hampir saja tertawa maniak, inilah untungnya menjadi sutradara! Bisa mengatur peran pemain dengan bebas! Haaah~

Tapi.. walaupun beberapa adegan NaLu terlewat karena melencengnya alur cerita, ya, sudahlah. Levy hanya bisa berharap itu terjadi di dunia nyata.

"Kissu! Kissu! Kissu!" sorak Grandine dan Layla. Natsu dan Lucy memerah, dan Mirajane dengan semangat berteriak, "DAN SETELAH MENGETAHUI HUBUNGAN MEREKA DIRESTUI, NATSU DAN PUTRI LUCY AKHIRNYA MENGIKAT JANJI DENGAN KISSU~!" Kemudian sorak soray penonton terdengar. Natsu meneguk ludahnya.

"..bagaimana, Lucy?" tanyanya malu-malu. Lucy sendiri masih kaget. Natsu pun berbisik ke telinga Lucy, "lagipula, kita masih harus menyelesaikan kejadian di kamar, kan?"

"B-b-baka! I-i-itu kan—"

"Hmm, dan sebelumnya kau hanya menciumku di ujung bibir.. ada apa, Lucy?" Natsu menyeringai. "Apa kau menahan diri? Pengecut."

"Aku bukan pengecut!" elak Lucy berapi-api yang berada di atas Natsu.

"Hm..buktikan."

Lucy menatap Natsu dengan perasaan déja vu, selagi ia mendekatkan wajahnya ke wajah sang pemeran pembantai naga. Ia berbisik, "berikan syalmu." Tanpa basa-basi Natsu mengikuti perkataan Lucy. Lucy menarik syal itu di antara wajah mereka, lalu semuanya gelap.

Penonton pun mulai ribut. Grandine dan Layla meraung kecewa. "KENAPA HARUS MATI LAMPU SAAT ADEGAN TERPENTING DARI SEMUA ADEGAN?!"

"ANGGOTA OSIS YANG BERWENANG, LAKSANAKAN TUGAS!" suara Erza menggema di dalam lapangan indoor itu. Dua orang anggota yang berada di kerumunan penonton, mengecek keadaan listrik. Penonton masih ribut. Levy, Gray dan Juvia sudah menghilang ke backstage.

Sementara yang lain ribut, Natsu merasakan sesuatu yang lembut menempel di bibirnya, yang ia yakini kain syalnya. Tetapi, yang ia rasakan bukan hanya sekedar lembut—tetapi basah dan bergerak-gerak. Ia merasakan napas Lucy menerpa wajahnya, lalu ia menyimpulkan bahwa yang menempel di atas syalnya adalah bibir Lucy.

Natsu menutup matanya dan membalas ciuman Lucy. Ia tak bisa memikirkan apa-apa lagi selain menurunkan syalnya dan mengekspos bibir Lucy secara langsung. Lucy mengeluarkan suara kaget. Dan sebelum keduanya menempelkan bibir mereka lagi, cahaya terang datang dari langit-langit ruangan.

Lucy refleks melompat dari Natsu dan menatap Natsu dengan tatapan kosong. Natsu menghela napas, berdiri lalu mengulurkan tangannya kepada Lucy yang masih terduduk. "Kenapa diam saja? Ayo kita ke belakang panggung." Ujarnya sambil tersenyum. Wajah Lucy berubah menjadi semerah rambut Erza.

"Aku bisa bangun sendiri, bodoh!" ia menepis tangan tan Natsu dan berdiri cepat-cepat, namun terpeleset bukanlah salah satu tujuannya. Refleks Natsu menahan salah satu lengannya di pinggang Lucy, sedangkan tangan lain yang bebas memegang dagu Lucy. Natsu mendekatkan wajahnya ke telinga Lucy, "bisa sendiri apanya?"

"Itu—"

"Kau berhutang tiga padaku, nona." Bisik sang empunya rambut jabrik, "Yang pertama di kamar, yang kedua di kamar, yang ketiga di panggung. Serius, kenapa kau selalu melakukan sesuatu secara tanggung-tanggung?"

"U-URUSAII! Itu bukan salahku!" teriak Lucy lalu berlari ke belakang panggung, di susul Natsu yang tertawa jahil.

Penonton yang melihat hal tersebut mengira-ngira, 'apa mereka sudah melakukannya saat mati lampu?' sedangkan Grandine dan Layla berjalan keluar dari lapangan indoor dengan lemas.

"Ne, Layla?" tegur Grandine.

"Hm?"

"Apa menurutmu liburan kita kurang?"

.

"Gomen, minna-saan~! Sekarang listrik sudah kembali normal dan oh! Tentu saja ini sudah menjadi akhir dari drama kami! Terima kasih telah rela membeli tiket dan menonton drama kami! Intinya, Natsu dan Lucy akhirnya bersatu~!" ujar Mirajane dalam narasi terakhirnya. Penonton berdesak-desakan keluar dari ruangan indoor tersebut. Sang matchmaker pun mendesah.

"Ooh! Aku jadi ingin coklat panas!" mata birunya menangkap couple-couple impiannya yang sudah mengganti baju tengah mengobrol bersama. Gray bersama Juvia, Jellal bersama Erza, sedangkan Natsu dan Lucy bukan mengobrol, tetapi perang. Levy sendiri tengah membujuk Gajeel.

"Ayolah Gajeel! Sudah kukatakan aku tidak menyukai Natsu! Bukankah ia sudah memiliki Lucy?!" seru sang penggemar buku. Gajeel tetap tidak mau menghadap ke Levy, "Tetap saja. Deskripsimu tentang si Otak Api—"'

"Ara, ara, Gajeel~" Mirajane nimbrung. "Levy tidak mendeskripsikan Natsu, tetapi kau! Ingat baik-baik yang Levy katakan! Bibir yang seksi, badan yang kekar, dan rambut yang spiky!"

"..." wajah Gajeel dan Levy memerah. "Sudah kubilang kan," gumam Levy malu, lalu memukuli lengan Gajeel dengan dompetnya. Gajeel tidak berkata apa-apa, melainkan menarik Levy keluar. Mirajane tersenyum. Ia menoleh ke sampingnya dan mendapati Laxus sudah kabur duluan

"Karena sudah sore, bagaimana kalau kita pulang?" tawar Erza. Mereka lalu keluar dari Fairy Tail High dan menuju ke rumah masing-masing.

Sementara itu, Mirajane menggumam sendiri.

"Drama, belum ada hasil ya," ia menyeringai, "Rencana B! Mr. Gray of The Day!"

.

Tbc

.

A/N: J-jangan bunuh Yama (/.\) Terima kasih untuk semua yang sudah mereview :') Bermakna untukku :') TERIMA KASIH *hug*

NEXT CHAPTER:

MR. GRAY OF THE DAY! Bagaimana jika Natsu mengetahui siapa Summer sesungguhnya? Bagaimana hubungan Natsu dan Lisanna? Lucy cemburu? Bagaimana jika Natsu sudah mengetahui perasaannya terhadap Lucy? Bagaimana tanggapan Grandine-Igneel dan Layla-Jude?

Ah, well. See ya next chap~