The Vague Heart
Disclaimer of Masashi Kishimoto
Story By Rina Apple
Warning : Cerita abal-abal, penuh typo
ΩΩΩ
Summary :
Haruno Sakura, cantik, kaya, cerdas, dan memiliki segalanya, suatu malam menghabiskan waktu di sebuah bar dan pagi harinya ia terbangun di kamar sebuah apartement. Kesal dan marah terhadap orangtuanya yang menjodohkannya dengn pria asing, sakura memutuskan untuk menyembunyikan identitasnya dan menjadi orang lain untuk menenangkan diri. Bagaimana kehidupan Sakura ketika mengetahui bahwa lelaki pemilik apartemen tempat ia bangun adalah seorang duda yang dingin, arogan, dan tidak lagi tertarik terhadap wanita?
PART VIII : MISS
SAKURA POV
Aku mengerjapkan mataku ketika sinar mentari pagi menyilaukan mataku dari balik kaca jendela. Dengan tergesa aku langsung bangun dan melangkahkan kaki ku menuju dapur. Lagi-lagi aku kesiangan, pasti saat ini Sasuke sudah berada di meja makan dan menatapku dengan pandangan yang tajam, dan Sarada pasti juga telah siap sarapan. Aku tidak terlalu memperhatikan lingkungan sekitar, yang ada di pikiranku saat ini hanyalah bagaimana caraku agar cepat sampai ke dapur.
Ketika aku telah sampai dapur, aku baru menyadari sesuatu. Aku sudah pulang ke rumahku. Tidak ada pandangan tajam Sasuke atau permintaan Sarada untuk memasakkan sesuatu. Aku merasa lemas dan langsung mendudukkan tubuh ku di kursi. Aku baru beberapa hari meninggalkan mereka, namun aku sudah sangat merindukannya. Bahkan, aku masih sering merasa berada di apartemen itu.
"Sakura? Pagi-pagi seperti ini sudah di dapur?" aku mengangkat kepalaku ketika mendengar suara kaa-san.
"emm,,, aku ingin sarapan" aku menjawab sekenanya. Aku tidak mungkin mengatakan pada kaa-san jika selama menghilang aku bekerja sebagai pembantu, dan kini aku merindukan pekerjaan itu.
"sejak pulang, kau selalu sarapan di dapur, padahal dulu selalu minta diantar oleh pelayan. Kaa-san jadi penasaran, selama menghilang apa yang telah terjadi padamu?" kaa-san menggodaku. Sial. Mengingat apa yang telah terjadi, mau tidak mau mengingatkanku pada Sasuke.
"tidak ada yang terjadi kaa-san, aku hanya berlibur bersama Ino di pulau pribadinya " aku menyesap teh yang di seduh kaa-san. Aku harus mengalihkan pembicaraan ini. mengingat Sasuke lagi-lagi mengingatkanku pada apa yang telah dikatakannya padaku.
"bukankah Ino sedang berada di Kirigakure? Kaa-san melihatnya di majalah" aku lupa jika Ino adalah seorang model ternama. Pasti berita tentang dirinya tersebar di berbagai majalah. Aku tidak memperkirakan jika kaa-san akan menanyakan hal ini.
"aku berlibur sendirian disana, kaa-san. Sudahlah, tidak usah membahas liburanku. Oh iya, dimana Saso-nii daan Tou-san?" aku mengalihkan pembicaraanku. Jika kaa-san terus menanyakan hal ini, bisa-bisa kaa-san akan makin curiga.
"kami disini" aku menoleh kebelakang ketika mendengar suara Sasori-nii. Melihatnya, aku langsung bangkit dari dudukku dan memeluknya. Jangan salah sangka, ini hanya pelukan sesama saudara. Sejak kecil aku selalu di manja oleh Saso-nii, dan kebiasaan memeluknya tetap kulakukan hingga sekarang.
"wow, tunggu dulu pinky! Kau tidak boleh melakukan ini lagi mulai sekarang" Saso-nii merenggangkan pelukanku. Aku menatapnya cemberut.
"kenapa tidak boleh?"
"karena sebentar lagi kau akan bertunangan dengan seorang laki-laki. Jadi, jangan sering memeluk kakakmu ini, karena laki-laki itulah yang harus kau peluk"
Aku tetap memasang wajah cemberutku. Tou-san dan kaa-san hanya terkekeh geli, sedangkan Saso-nii tersenyum mengejek ke arahku. aku membenci ini, pembicaraan soal perjodohan sangat membuatku muak.
"aku tidak ingin bertunangan dengan siapapun" ketika aku selesai berucap, suasana hening dan canggung tiba-tiba saja tercipta. Sial, aku merasa gugup.
"sakura,,,,," itu suara kaa-san. Aku tau, kaa-san berusaha melindungiku dari kemarahan tou-san. Namun, aku benar-benar tidak bisa melakukan perjodohan ini.
"kali ini saja, jangan membantah Sakura" aku langsung menundukkan kepalaku ketika mendengar nada penuh ancaman dari tidak pernah merasa gugup seperti ini ketika berhadapan dengan tou-san. sejak kecil aku selalu menjadi tuan putri bagi mereka, semua yang kuinginkan selalu mereka penuhi. Namun kali ini, tos-san, kaa-san , bahkan Saso-nii tidak ada yang mau mendengarku.
"aku tidak akan setuju dengan perjodohan ini tou-san. apapun yang terjadi"
"SAKURA!"
Aku tetap mempertahankan keinginanku meski sekarang tou-san sangat marah padaku. Kaa-san langsung memegang tangan tou-san, sedangkan Saso-nii memandangku dengan tatapan seolah-olah mengisyaratkan jika aku harus menutup mulutku.
"kau sudah dewasa , Sakura! Bersikaplah seperti orang dewasa dan terima perjodohan ini!" rasanya sakit. Baru kali ini tou-san membentakku.
"kenapa tou-san tidak mau mengerti! Aku tidak mau menikah dengan orang yang tidak kucintai!" aku balas berteriak. Air mataku sudah menggenang di ujung mata. Aku tidak akan menerima perjodohan seperti ini.
Kaa-san terus mengusap lengan tou-san, berusaha menemnagkan tou-san yang emosinya kini sedang naik. "anata,,,, kumohon tenanglah. Bicaralah pelan-pelan pada Sakura-chan"
"sakura, dengarkan dulu penjelasan kami" aku memalingkan wajahku. Semua yang ada di ruangan ini mendukung perjodohan ini. bahkan, Saso-nii yang selalu memanjakanku kini ikut memaksaku. mengetahui tidak ada yang mendukungku membuatku sangat merasa kesal. Tidak ada satupun yang mengerti keinginanku. "kami tidak sembarangan memilih seorang laki-laki untuk dijodohkan denganmu.. dia seorang laki-laki yang tampan, sukses dan bertanggungjawab. Aku sudah mengenalnya, dan menurutku dia pasti akan cocok denganmu"
Aku mendengus mendengar penjelasan Sasori-nii. "tapi aku tidak mengenalnya. Aku tidak tau apakah dia akan cocok denganku atau tidak. "
"mengenai hal itu, kami sudah memikirkannya. Kami akan memberikan waktu padamu untuk mengenalnya. Selama itu, kau harus menentukan apakah dia cocok denganmu atau tidak"
"jika tidak cocok?"
"sebaiknya kau coba dulu, Sakura. Kupastikan dia akan cocok denganmu" aku heran, kenapa Sasori-nii sangat yakin jika setelah mengenal laki-laki ini aku akan menerima perjodohan? Ini membuatku penasaran. "bagaimana?"
Aku menatap Sasori-nii. Dia sangat terlihat yakin. Mungkin aku harus mencobanya, aku penasaran apa yang membuat Sasori-nii begitu yakin. "baiklah. Aku akan mencoba mengenalnya, dan jika ternyata aku tidak cocok dengannya, maka kalian harus membatalkan perjodohan ini"
"kau tidak akan membatalkannya. Aku jamin"
aku menatap Sasori-nii yang sangat bersemangat dengan perjodohan ini. aku ragu, apakah aku bisa tertarik dengan orang lain setelah apa yang terjadi padaku sebelum ini. Bayangan Sasuke tiba-tiba saja terlintas di pikiranku. Aku membencinya. Dia adalah seseorang yang brengsek yang menghina seorang wanita. Rasa sakit itu kembali muncul ketika aku mengingatnya. Dan sialnya, aku selalu mengingat si brengsek itu.
ΩΩΩ
Kau tau, pekerjaan yang paling menyebalkan adalah menunggu. Dan disinilah aku, duduk di salah satu sudut cafe ditemani dengan es krim strawberry yang sudah tinggal setengah gelas. Aku kembali mengaduk gelasku dengan kesal karena orang yang ku tunggu tak kujung datang. Ini benar-benar menyebalkan. Aku yang tidak tertarik dengan perjodohan ini, namun aku yang harus menunggu seseorang yang entah siapa di cafe ini. Sasori-nii bilang lelaki itu bernama Sabaku Gaara, aku hanya perlu datang ke cafe ini dan orang yang bernama Sabaku Gaara akan langsung mengenaliku, karena dia telah melihat fotoku.
"haruno Sakura?"
Aku mendongakkan kepalaku ketika mendengar seseorang menyapaku. Seorang lelaki tampan, tinggi, putih dan memiliki rambut berwarna merah seperti Saso-nii, oh, dan ada juga tato di keningnya. Aku tidak mengenalnya, apakah dia,,,,,
"aku Sabaku Gaara" oh, aku mengerti. Jadi ini lelaki yang akan dijodohkan denganku. benar kata Sasori-nii, lelaki ini tampan dan berkharisma. Sekali melihat saja, aku sudah menyimpulkan jika lelaki ini pasti banyak disukai oleh wanita.
"oh iya, silahkan duduk" aku meringis. Sedikit merasa canggung karena ini baru pertama kali aku bertemu dengan seseorang yang mungkin akan menjadi masa depanku nanti.
"maaf, aku terlambat" aku ikut tersenyum ketika Sabaku Gaara melemparkan senyuman permintaan maafnya padaku.
"tidak apa-apa. Aku bisa memakluminya Sabaku-san"
"kau bisa memanggilku Gaara, Haruno-san". Kesan pertamaku tentang lelaki di depanku ini adalah meski wajahnya terkesan dingin, namun Sabaku Gaara sepertinya orang yang ramah dan santai. Ini bagus, karena aku tidak menyukai seseorang yang dingin dari fisik sampai sifatnya, seperti orang itu. Oh sial. Aku harus berhenti memikirkan ini. aku tidak boleh menyebutkan namanya meski hanya di pikiranku saja.
"dan panggil aku Sakura saja. Kurasa kita akan lebih mudah mengenal jika kita besikap lebih santai seperti ini, Gaara" aku menyunggingkan senyumku. Setidaknya aku harus memberikan kesan yang baik.
"kau benar. Kakakmu sudah menceritakan banyak hal tentangmu padaku"
"dia tidak menceritakan hal yang memalukan, kan?" aku sangsi Sasori-nii akan menceritakan tentang kelebihanku. Dia adalah tipe seorang kakak yang penyayang namun juga jahil.
"dia menceritakan tentang adiknya yang manja, namun juga cantik dan penyayang" aku sedikit tersanjung.
" itu berlebihan" aku meringis. Di puji oleh orang yang baru ku kenal apalagi seseorang ini akan menjadi tunanganku, membuatku tidak nyaman.
"kurasa tidak. Kau cantik, seperti yang dikatakan oleh kakakmu" sial. Aku merona ketika mendengar pujiannya. Maksudku, hanya merona biasa, jika seorang wanita di puji cantik, pasti ia akan merona, kan?
"emm, sebaiknya kita memesan makanan dulu" aku mengalihkan pembicaraan ini. nampaknya Gaara paham dengan maksudku dengan mengangguk dan memanggil seorang pelayan.
ΩΩΩ
"sakuraaaa,,,,,,,,!"
aku berjengit kaget ketika mendengar teriakan itu. Tidak ada yang berani berteriak di rumahku kecualisi sinting sahabatku. Aku tidak perlu repot-repot menyambutnya, karena dia sudah terbiasa dan menganggap rumahku seperti rumahnya sendiri.
"sakuraaaa!"Ino merengut kesal.
Aku memutar bola mataku melihat kelakuannya yang sama sekali tidak berubah. Benar-benar kekanakkan.
"hentikan itu pig! Kau mengganggu istirahatku!"
"hei! Aku baru saja pulang, dan kau menyambutku seperti ini!" ino bercakak pinggang di depanku. Aku kembali menghela nafasku.
"oke Ino sayang, selamat datang " aku memasang senyum terpaksa. Ini menyebalkan. Kami sudah bersahabat sepanjang hidup kami, dan ritual seperti ini selalu kami lakukan.
"ck! Kau menyebalkan sekali! Aku sudah datang jauh-jauh dari Kiri tapi kau malah menyambutku dengan tidak semangat seperti ini!" ino mengomel sambil mengambil sesuatu dari dalam tasnya. "lihat ini! koleksi sepatu edisi terbatas dari Kirigakure!"
Aku hanya melirik sekilas sepatu yang di sodorkan Ino. Saat ini aku tidak tertarik dengan hal semacam ini. ada banyak hal yang mengganggu pikiranku. Meski aku sudah berada di rumah, namun entah kenapa hatiku selalu saja gelisah. Aku selalu saja memikirkan bagaimana keadaan Sarada ketika kutinggal. Aku bahkan tidak mengucapkan salam perpisahan dengannya. dia pasti sangat kecewa padaku, padahal aku yang sudah menawarkan diri untuk menjadi ibunya, namun gara-gara kekesalanku pada si bodoh Sasuke aku jadi melupakan janjiku pada Sarada.
"Aawwww,,,,,,!" aku langsung engusap pipiku ketika aku merasakan ada tangan yang menarik pipiku. Aku menatap berang pada Ino yang kini malah terkekeh geli.
"itu hukumanmu karena mengacuhkanku!" aku masih saja memasang wajah cemberutku, sial. Pipiku benar-benar terasa sakit. " lagipula, apa sih yang sudah kau lamunkan?"
Aku membuang pandanganku ke arah lain."tidak ada"
"ayolah Sakura, kau tidak bisa membohongiku!" aku sedikit memundurkan wajahku ketika Ino memandangiku dengan tatapan penuh selidik. "hei! Apa ini ada hubungannnya dengan kau yang beberapa waktu lalu menghilang namun kau mengatakan pada Bibi Mebuki jika kau sedang berlibur di pulau pribadiku?"
Aku langsung memandang Ino dengan tatapan siaga satu. Bagaimana Ino bisa mengetahui tentang hal ini? "darimana kau tahu?"
"Bibi Mebuki menanyakannya padaku" jawab Ino dengan tenang. Malihatku yang terlihat cemas, Ino sepertinya langsung mengerti. "tenang saja, aku mengatakan pada Bibi Mebuki jika kau memang sedang berlibur disana"
Aku langsung menghela nafasku."terimakasih Ino, kau memang sahabatku yang,,,,"
"sebagai gantinya kau harus menceritakan semuanya padaku!"
Aku menelan ludahku. Sial. Kurasa kali ini aku memang harus menceritakan semuanya pada Ino.
ΩΩΩ
"jadi kau sekarang akan menerima perjodohan ini?"
Suara musik yang kencang mengiri kami berdua menghabiskan malam kami di sebuah Bar. Aku telah menceritakan semuanya kepada Ino, termasuk tentang Sasuke dan perjodohan ini.
"entah. Aku belum terlalu memikirkannya" aku kembali meneguk wineku. Aku dan Ino berada di lantai dua yang lebih private, hanya ada beberapa tamu berada disini. beberapa pasangan ada juga yang berbuat mesum di pojok ruangan.
"masa depanmu taruhannya loh" gumam Ino sebelum ikut meneguk wine nya. "tapi, kurasa kau tidak bisa sepenuhnya menyalahkan laki-laki yang bernama Sasuke itu"
Aku mengerutkan keningku ketika mendengar Ino mengubah arah pembicaraan. "maksudmu?"
"emmm,,,, dia tidak akan mengatakan kau jalang , jika kau tidak mengaku dirimu adalah seorang jalang, kalian juga bertemu di Bar dan dirimu dalam keadaan mabuk"
"kau membelanya?" ucapku sedikit kesal. Jelas-jelas Sasuke salah, karena mengatakan hal itu, dan kini sahabat terbaikku membelanya?
"hanya berpikir realistis saja"jawab Ino santai. Sial. Terkadang aku juga berpikir seperti Ino. Sasuke tidak akan mengatakan hal itu jika aku tidak mengaku sebagai seorang jalang. Namun tetap saja, mengingatnya mengatakan hal itu padaku, membuat hatiku terasa nyeri. Begitu sakit.
"ah Sakura, aku jadi berpikir, jangan-jangan kau begitu marah karena Sasuke yang mengatakannya? Em,, maksudku begini, jika saja orang lain yang mengatakannya, apa kau akan semarah itu juga?"
Haa? Pertanyaan Ino membuatku terdiam. Aku tak bisa menjawabnya. Aku tidak tahu, apa aku juga akan semarah ini jika bukan Sasuke yang mengatakannya. Pada saat pertama kali aku beretmu dengan Sasuke dan ia mengira jika aku adalah seorang jalang, memang marah, namun seiring berjalannya waktu, dengan banyaknya waktu terlewat, ketika ia mengatakan lagi jika aku seorang jalang, kuakui perasaan marah ku berbeda. Aku tidak hanya marah, namun juga terluka.
"sakura?" aku mendongakkan kepalaku ketika Ino menggoyang bahuku." Kau melamun lagi!"
Aku kembali meneguk wineku. Karena aku terburu-buru meminumnya, wine ku sedikit tersisa di ujung bibirku. dengan kasar, ku usap ujung bibirku dengan tanganku. Ketika tanganku memyentuh bibirku, aku merasa berdebar. Tangan dan bibir Sasuke pernah berada disini. dan entah mengapa aku ingin merasakannya lagi.
Aku menggelengkan kepalaku. Aku tidak boleh seperti ini. oke Sakura, kau membencinya. Kau membenci Sasuke. Mantra itu terus ku ucap dalam pikiranku. Aku tidak boleh memikirkannya.
"jangan minum terlalu banyak Ino, aku malas mengurusimu jika kau nanti mabuk" gumamku melihat Ino terus meneguk winenya. Ino bukanlah seorang peminum yang handal, ia model terkenal namun ia sangat lemah dengan alkohol, dan ketika ia sudah mabuk, aku tidak bisa membayangkannya.
"aku ingin mabuk" ino mendesah . "aku berpikir , mungkin aku akan berhenti jadi model"
Ini konyol. Sejak kami kecil, Ino sudah bercita cita ingin menjadi seorang model yang professional. Semua usaha dilakukannya. Kursus modeling, ikut berbagai kegiatan modeling dan sebagainya. Dan ketika karir nya tengah berada dipuncak, ia bilang akan berhenti?
"jangan bercanda Ino. Ini impianmu"
"aku serius. Aku sudah memikirkannya sejak lama. Aku butuh sesuatu yang mengisi hidupku"ucap Ino pelan. Matanya sayu dan tampaknya ia mulai mabuk.
"kau mabuk. Sebaiknya kita pulang sekarang" ketika aku akan beranjak dari kursiku, Ino menahan lenganku.
"tunggu dulu Sakura. Aku ingin bersenang-senang malam ini"
"dan aku tidak mau mengurusimu yang mabuk, Ino!" seruku tak mau kalah. Percayalah, Ino akan menjadi orang yang sangat menyebalkan ketika ia mabuk.
"ck! Kau sama sekali tidak seru!" Ino mulai beranjak dari tempat duduknya. Lihatlah, saat ini untuk berjalan dengan tegap saja ia sudah susah, apalagi nanti ketika ia tetap melanjutkan minum?
"kau mau kemana?" tanyaku heran.
"ke toilet sebentar" jawab Ino mulai melangkah ke arah kamar kecil.
Melihat Ino berjalan dengan sempoyongan seperti itu membuatku ingin menemaninya ke kamar kecil. ia pasti akan mendapat masalah jika dibiarkan sendirian dalam keadaan seperti itu. Namun, ketika aku akan melangkahkan kakiku , aku mengurungkannya. Beberapa detik yang lalu aku seperti melihat bayangan Naruto berada di pojok ruangan. Jujur saja, aku sedikit merasa berdebar. Naruto adalah sahabat nya Sasuke, dan melihat keberadaan Naruto disini, berarti ada kemungkinan Sasuke juga berada disini.
Ini gawat. Untuk saat ini aku belum siap untuk bertemu dengan Sasuke. Aku tidak tau harus berbuat atau bersikap apa ketika aku bertemu dengannya nanti. Aku harus cepat pergi dari sini sebelum hal yang terburuk akan terjadi. Sial, lagipula dimana sih Ino? Kenapa ke toiletnya lama sekali?
Dengan gugup, aku kembali duduk dikursi ku. Lewat ekor mataku, aku melihat ke arah pojok ruangan tempat aku melihat Naruto tadi. Sial, itu benar-benar Naruto, ia tampak mabuk dengan segelas minuman di tangannya, lalu di sebelahnya ada seorang laki-laki yang tampaknya belum mabuk dan mengamati gerak-gerik Naruto, di depan Naruto ada seorang lagi, aku tidak dapat melihat wajahnya karena dia membelakangiku, namun melihat gaya rambutnya yang langka itu, aku dapat menebaknya. Itu Sasuke.
"ck! Bangun Baka! Apa yang akan aku katakan pada Hinata jika kau pulang dalam keadaan seperti ini!" samar-samar aku mendengar laki-laki disamping Naruto berteriak dan mengguncangkan bahunya.
Naruto tampaknya benar-benar mabuk. Ia tidak dapat menanggapi perkataan lelaki di depannya dan malah tersenyum mengejek. Laki-laki itu tampak kesal dan langsung memapah Naruto, lalu ia menepuk bahu seseorang yang tengah berdiri tidak jauh dariku.
"aku akan membawa si bodoh ini pulang, Sasuke kuserahkan padamu!" lelaki itupun berlalu sambil membawa Naruto yang tengah meracau tidak jelas.
Aku melihat lelaki itu membawa Naruto hingga hilang dibalik tangga. Aku pun mengalihkan pandanganku kembali ke arah bar. Demi tuhan! Ini sudah cukup lama dan Ino belum kembali dari kamar kecil! aku mulai kawatir dengan keadaan Ino, harusnya aku tadi langsung menyusulnya ke kamar kecil. aku pun merogoh handphone ku dan segera ku hubungi Ino. Aku juga melihat kesekeliling ruangan, mungkin saja Ino tengah dalam perjalanan, ketika aku sedang menelusuri ruangan, mataku tidak sengaja menangkap sosok Ino yang sedang,,,,, oh, shit!
Aku melihat Ino yang tengah berdansa liar dengan seorang lelaki! Dan sepertinya aku pernah melihat laki-laki itu, bukannya itu laki-laki yang tadi berada di dekatku? Bukankah temannya tadi mengatakan pada laki-laki itu bahwa ia menyerahkan Sasuke padanya? Lalu kenapa ia malah sedang berdansa dengan Ino?
Aku pun langsung memalingkan wajahku dan memandang ke arah Sasuke yang tengah duduk di sofa. Ia tampak mabuk dan mulai hilang kesadarannya, itu terlihat dari tangannya yang mau menggapai gelas yang berada di meja, namun ia tak sanggup untuk sekedar berdiri. Jika keadaannya saja seperti itu, aku yakin Sasuke tidak akan bisa pulang dengan selamat. Sepertinya aku harus memberitahu temannya jika keadaan Sasuke sudah benar-benar mabuk.
Namun, ketika pandanganku kualihkan ke arah Ino dan lelaki tadi berdansa, sekarang aku sudah tidak mendapati mereka lagi! Kemana perginya mereka? Dengan panik, aku edarkan pandanganku ke seluruh ruangan, namun aku tidak menemukan mereka. Rasa kawatir dan cemas langsung melandaku, apalagi Ino juga menghilang. Meski Ino adalah model papan atas, namun sama sepertiku, ia termasuk orang yang awam mengenai hubungan antara laki-laki dan perempuan. Sial, aku benar-benar mengkhawatirkannya.
"maaf, apakah kau tadi melihat temanku ?" tanyaku pada bartender yang tadi melayani kami berdua.
"disini banyak orang Nona, aku tidak tahu temanmu yang mana" jawabnya sambil mengerutkan keningnya.
"dia berambut pirang panjang, tadi dia minum bersamaku, lalu beberapa saat yang lalu , aku melihatnya sedang berdansa dengan seorang lelaki tinggi, berkulit putih dan memiliki rambut hitam yang pendek" seru ku masih dilanda dengan kepanikan.
Bartender itu tampak sedang berpikir, lalu beberapa saat kemudian ia berkata, "sepertinya aku tau. Dia tadi pergi bersama Sai"
"sai? Sang bartender?" tanyaku heran. Aku hanya mengenal satu Sai di dunia ini, dan ia adalah seorang bartender yang biasanya melayaniku.
"kau mengenalnya?" bartender itu balik bertanya padaku.
Aku menatapnya dan menggeleng lesu.
"tenang saja, Nona. Sai dalah orang yang baik, temanmu pasti akan baik-baik saja. Aku jamin"ucap Bartender itu sabil tersenyum meyakinkan padaku.
Aku sedikit bernafas lega mendengarnya. setidaknya ada seseorang yang mengenal Sai dan mengatakan jika ia adalah orang yang santai akupun bangkit dari dudukku, sepertinya ini sudah cukup malam dan aku ingin segera merebahkan tubuhku diatas kasurku yang nyaman. Namun baru beberapa langkah aku berjalan aku menghentikan langkahku. Aku merasa ada yang salah disini, seperti ada sesuatu yang mengganjal. Aku terdiam dan memikirkannya. Sesuatu itu apa? Ketika aku sudah menemukannya aku langsung membalikkan tubuhku dan menuju ke tempaku semula.
Sial. Aku melupakan Sasuke. Jika Sai saja pergi dengan Ino, lalu bagaimana dengan Sasuke? Tidak akan ada yang mengurusnya, dan sekarang entah bagaimana nasibnya. Aku pun sampai di tempat Sasuke dengan nafas yang terengah. Di tempatnya, Sasuke masih dalam posisi yang sama seperti tadi. Ia masih saja duduk di sofa, dan di tangannya kini ada segelas minuman. Aku pun mendekatinya, namun ketika aku akan menyentuh bahunya, aku menghentikannya. Melihat wajahnya, mengingatkanku pada kata-katanya yang begitu menyakitkan. Apakah ia benar-benar menganggapku seorang jalang? Apakah ia tak pernah memandangku sebagai seorang wanita yang biasa? Sial. Dadaku terasa sakit mengingat semuanya.
Huh! Kenapa aku harus menolongnya? Dia sudah berkata kasar padaku, jadi buat apa aku peduli lagi dengannya? sebaiknya aku biarkan saja dia membusuk disini, biar dia tahu bagaimana rasanya tidak di acuhkan oleh orang lain!
Dengan kesal, aku pun melangkahkan kaki ku dengan cepat. Aku tidak mau berubah pikiran. Aku tidak akan menolong dan bersimpati padanya kali ini. aku pun sampai di parkiran dengan waktu yang singkat. Namun, ketika aku akan membuka mobilku lagi-lagi aku teringat Sasuke. Bagaimana jika Sasuke benar-benar membusuk disana? Tidak. Biarkan saja tuan angkuh itu membusuk disana. Tapi jika Sasuke membusuk diasana, bagaimana dengan Sarada? Ia sudah tidak memiliki seorang ibu, dan sekarang ayahnya disini sedang mabuk dan aku sama sekali tidak menolongnya?
Tidak, aku tidak akan menolongnya. Tapi,,,,, tidak! Tidak! Aku harus tetap pada pendirianku. Tapi bagaimana nanti jika,,,,, arggghhhhhh! Aku mengacak rambutku berusaha mengusir perdebatan dengan diriku sendiri.
Sesaat kemudian aku mengurungkan niatku untuk membuka mobil dan menuju ke tempat Sasuke tadi. Namun, lagi-lagi kakiku berhenti. Untuk apa aku menolongnya? Waktu aku akan pergi dari apartemennya saja ia sama sekali tak mencegahku! Namun, jika aku tak menolongnya, apa aku sanggup bertemu dengan Sarada setelah ini?
Sial. Pikirkan saja Sarada! Persetan dengan semua ucapan Sasuke waktu itu. Yang terpenting sekarang, aku harus segera membawa Sasuke pulang ke apartemennya dan memastikan jika Sarada tidak akan bersedih karena ayahnya tidak jadi membusuk disini. akupun menghentakkan kakiku dengan kasar menuju ke lantai atas tempat dimana Sasuke tadi terkapar. Dan ketika aku sampai disana, aku tidak percaya dengan pemandangan yang ada di depanku sekarang.
Sasuke masih dalam posisi duduknya di sofa, namun yang membedakan, ia tak lagi sendiri sekarang. Ada tiga wanita seksi yang duduk bersamanya. Bahkan, salah satu dari mereka berlutut di depan Sasuke dan dengan sengaja menggodanya. Shiiittt! Melihat pemandangan itu, tanpa sadar aku langsung melangkahkan kakiku menuju mereka dan menghentakkan wanita yang tengah berlutut di depan Sasuke.
"minggir jalang!" seru ku kasar. Mereka tampak terkejut melihatku, lalu salah satu dari mereka berdiri dan mendekatiku. Melihat itu, aku langsung memasang wajah angkuhku dan menaikkan daguku. Cih! Mereka pikir mereka berhadapan dengan siapa?
"kau siapa?" sial. Jalang sialan ini ternyata menantangku. Ia bertanya dengan pandangan meremehkan terhadapku.
"aku istrinya, jalang sialan! Segera menjauh darinya, atau aku akan membuat perhitungan dengan kalian!" ancamku sungguh-sungguh. Melihatku yang benar-benar marah membuat nyali mereka ciut. Dengan enggan mereka meninggalkan Sasuke, dan ketika melewatiku mereka melirikku dengan tidak suka. ku balas lirikan mereka dengan tatapan yang meremehkan.
Setelah mereka pergi, aku langsung mendekati Sasuke dan duduk di dekatnya. Bau alkohol tercium jelas dari deru nafasnya, bahkan mata Sasuke sudah terpejam. Melihat keadaannya seperti ini membuatku ragu, apakah aku bisa membawanya pulang atau tidak.
"bangun sialan! Kau harus pulang! Apa yang akan dikatakan Sarada jika melihatmu seperti ini?" teriakku sambil mengguncangkan bahunya dengan kasar.
Sasuke menggeliat, tampaknya ia ingin mengucapkan sesuatu, namun yang terdengar hanya kekehannya saja. Ini benar-benar bencana, mana mungkin aku bisa membawanya? Akhirnya, dengan sekuat tenaga, aku berhasil mengangkat tubuhnya dan menyandarkan bahunya di bahuku. Ketika akan kuseret, aku merasa kesulitan. Badan Sasuke berat, dan itu membuat pundak dan punggunggku terasa nyeri.
Ketika sampai di parkiran, lagi-lagi aku merasa kesulitan. Aku harus membuka pintu mobil, lalu memasukkan Sasuke ke dalam mobil. sial, ku rasa aku harus segera melakukan perawatan setelah ini. padahal hanya memapah Sasuke, namun ini terasa sangat melelahkan. Kulajukan mobilku menuju apartemen Sasuke, aku tidak tahu harus kemana lagi selain ke tempatnya.
Ketika menuju ke apartemennya, aku merasa sedikit terbantu dengan petugas keamanan yang mau membantuku memapah Sasuke. Aku cukup lama tinggal disini, jadi mereka sudah hafal denganku. mereka tau, jika aku ada hubungan dengan Sasuke dan Sarada, jadi mereka sama sekali tidak curiga dan malah membantuku sampai ke dalam ruang apartemen Sasuke.
Aku merebahkan diriku di sofa ketika selesai membawa Sasuke ke dalam kamarnya. ini sudah pukul satu dini hari, dan aku tidak mungkin pulang pada jam ini. ingin menginap di apartemen Ino, namun, keberadaannya sekarang saja aku tidak tahu. Akhirnya kau memutuskan untuk bermalam disini. aku sudah terlalu lelah untuk melakukan sesuatu yang lain. Sudah setengah jam berlalu, namun aku belum bisa memejamkan mataku. Aku tidak terbiasa tidur di sofa, dan aku tidak merasa nyaman. Kamarku dulu dan kamarnya Sarada terkunci, dan aku tidak tahu dimana letak kuncinya. Kamar yang tersisa hanyalah kamar Sasuke, namun aku tidak mungkin tidur disana.
Kucoba sekali lagi memejamkan mataku. Sial! Aku benar-benar tidak bisa tidur disini. dengan langkah yang lebar, aku menuju ke kamar Sasuke dan mendapati sasuke tengah tertidur pulas. Dengan hati-hati, aku berbaring di sebelahnya. Sebelumnya, aku juga telah memasang bantal sebagai pembatas. Lelaki yang mabuk dan sedang tertidur pulas, tidak akan macam-macam dengan seorang wanita, kan?
Aku sedikit takut, namun sekali lagi aku meyakinkan diriku sendiri jika tidak akan terjadi apa-apa, dan esok ketika aku bangun, aku akan segera pergi dari sini, sebelum Sasuke bangun. Dengan perlahan aku pun memejamkan mataku dan mulai tidur.
ΩΩΩ
Makin gak nyambung dan abal-abal kan? Heheehe,,,,
Jangan lupa tinggalin jejak lewat review ya! See you…
