The Vague Heart

Disclaimer of Masashi Kishimoto

Story By Rina Apple

Warning : Cerita abal-abal, penuh typo

ΩΩΩ

Summary :

Haruno Sakura, cantik, kaya, cerdas, dan memiliki segalanya, suatu malam menghabiskan waktu di sebuah bar dan pagi harinya ia terbangun di kamar sebuah apartement. Kesal dan marah terhadap orangtuanya yang menjodohkannya dengn pria asing, sakura memutuskan untuk menyembunyikan identitasnya dan menjadi orang lain untuk menenangkan diri. Bagaimana kehidupan Sakura ketika mengetahui bahwa lelaki pemilik apartemen tempat ia bangun adalah seorang duda yang dingin, arogan, dan tidak lagi tertarik terhadap wanita?

PART IX : PROBLEM

SASUKE POV

Aku masih enggan untuk membuka mataku. Kepalaku masih terasa berat dan sedikit pusing. Ini pasti gara-gara tadi malam aku meminum bourbon dalam jumlah yang lumayan, akibatnya aku sampai hangover seperti ini. aku makin mengertakan pelukanku pada gulingku. Guling ini terasa sedikit aneh. Ada bagian yang menonjol tepat di wajahku dan ini terasa lembut, hangat dan nyaman. Bahkan aku dapat mencium aroma strawberry pada guling ini. tunggu dulu! Aroma strawberry? Aku tidak ingat aku memiliki aroma seperti ini. apa sekarang aku tidak berada di kamarku? Oh, mungkin saja aku sekarang berada di kamar Sai atau Neji. Tadi malam aku benar-benar kacau dan aku tidak memiliki kesadaran untuk mengingatnya, aku makin menekan tubuhku pada guling ini, ini benar-benar terasa nyaman.

"eenghhhh,,,,,,,"

Aku langsung membuka mataku ketika mendengar suara erangan seorang perempuan. Sial, apa yang telah terjadi tadi malam? Apa aku melakukan one night stand dengan seorang jalang? Pikiranku langsung buyar ketika menatap apa yang berada di depan mataku sekarang. Demi Tuhan! Ini dada seorang perempuan!

Aku baru menyadari jika ada sepasang tangan yang memeluk kepalaku dari atas, dengan cepat aku mendongakkan wajahku dan secara kebetulan kepala wanita ini juga sedang memandang ke bawah. Netra zamrud itu menatapku dengan pandangan yang sayu, sepertinya wanita ini belum sepenuhnya sadar akan posisinya, aku seperti mengenal mata ini. bukankah dia,,,,?

"Aaaaaa,,,,,,,,,,!"

Sial. Ternyata benar. Ini Sakura. Beberapa detik setelah kami saling tatap, Sakura langsung berteriak dan mendorong tubuhku menjauh. Aku benar-benar tidak mengerti akan apa yang telah terjadi. Bagaimana Sakura bisa berada satu ranjang denganku?

"apa yang kau lakukan padaku!?"

Aku mengerutkan keningku mendengar pertanyaan Sakura yang lebih seperti teriakan. Aku tidak tahu harus menjawab apa karena aku memang tidak mengerti dengan semua ini.

"seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Apa yang kau lakukan di ranjangku?" tanyaku setenang mungkin.

Aku makin mengerutkan keningku ketika melihat Sakura dengan panik meraba seluruh tubuhnya, sepertinya ia tengah memeriksa keadaan dirinya. Setelah itu, Sakura langsung menatapku tajam.

"kau tidak melakukan sesuatu yang aneh padaku, kan?"

Aku mendengus. Bukannya menjawab pertanyaaanku, dia malah menuduhku macam-macam. "aku tidak melakukan apa-apa"

Sakura masih menatapku penuh selidik. "benar tidak melakukan apa-apa kan?"

Aku tidak mengacuhkan pertanyaan Sakura dan langsung beranjak dari ranjangku. Ketika aku menatap ke arah kalender aku meyadari sesuatu. Sial! Hari ini aku ada acara penting dan aku melupakannya! Kulirik jam dinding, masih pukul delapan pagi, ini benar-benar kacau, aku masih memiliki waktu satu jam untuk tidak terlambat menghadiri acara itu.

"hei! Kau belum menjawab pertanyaanku!" Sakura kembali berteriak, dan kini ia tengah berdiri di depanku seakan sedang menghadangku.

Aku tidak memiliki waktu untuk berdebat. Waktu semakin berjalan, dan aku sama sekali belum bersiap-siap. Dan sekarang Sakura menghadangku untuk mendapakan jawaban dari pertanyannnya yang sama sekali tidak penting itu.

"minggir" ucapku dingin

"tidak akan" balas Sakura sambil menatapku tajam.

Aku sedang tidak memiliki waktu banyak, dan aku tidak mau membuang waktu ku dengan perdebatan ini. "aku tidak melakukan apa-apa padamu"

"tapi kenapa aku bisa terbangun dalam posisi seperti itu? Padahal tadi malam aku sudah meletakkan bantal sebagai pembatas"

Aku menggeram kesal karena Sakura makin memperpanjang perdebatan ini. aku tidak tahu apapun tentang apa yang terjadi tadi malam. Aku sudah berulang kali mengatakannya, tapi, Sakura masih saja menanyakannya?

"Sakura, cepat minggir atau aku akan,,,,"

"akan apa? Aku tidak takut!"

Sial. Disaat seperti ini, aku malah memperhatikan mulut sialan sexy Sakura membantahku. Ingin aku bungkam mulut itu hingga Sakura tidak bisa berkata apa-apa lagi untuk membantahku. Tidak, aku tidak bisa melakukan itu lagi. Aku sudah dua kali menciumnya, dan aku tidak akan melakukan itu lagi. Waktu itu adalah sebuah kesalahan, dan aku tidak ingin melakukan kesalahan itu lagi.

Tapi, mungkin sedikit mempermainkannya boleh juga, biar dia tahu dengan siapa ia sedang berhadapan. Aku menyeringai dan berjalan mendekati Sakura, aku sengaja berjalan dengan perlahan dengan tatapan yang tak lepas dari bibirnya. Sakura Nampak takut dan dengan refleks ia mundur ke belakang. Ketika tubuhnya menyandar di pintu kamar mandi, aku makin menyeringai.

"a,,, apa yang kau lakukan?" suara Sakura terdengar gugup.

"menurutmu?" lihat? Sekarang dia benar-benar panik dan itu membuatku makin ingin melanjutkan aksi ku. Ku tekan tubuh Sakura ke pintu, ia benar-benar gugup hingga badannya ikut bergetar, bahkan sekarang Sakura sudah menutup matanya.

Sial. Dia benar-benar sexy dengan jarak sedekat ini. kudekatkan wajahku ke samping lehernya dan kuhembuskan nafasku disana. Aku sengaja berlama-lama di lehernya untuk memberikan efek jika aku memang menggodanya.

"sa,,,sasuke,,,"

Sial. Apa Sakura baru saja mendesah? Oke, ini sudah lebih dari cukup untuk sekedar meggodanya. Aku harus segera mengakhiri ini sebelum aku tidak bisa lagi mengontrol diriku. Kudekatkankan mulutku di telingannya, dan dengan perlahan aku berbisik. "cepat minggir,,, atau kau ingin aku membaringkanmu disini dan menyutubuhimu dengan keras?"

Sakura Nampak langsung tersadar dan melebarkan matanya. Dengan tanpa berkata apapun, ia mendorongku dan berjalan keluar kamarku. Beberapa saat kemudian aku mendengar suara pintu terbanting. Aku meliriknya sekilas dan berpikir, apa mungkin aku sudah melakukan kesalahan lagi? Ah, sudahlah, dari awal bertemu dengannya memang sebuah kesalahan.

Aku pun bergegas masuk ke kamar mandi ketika tanpa sengaja mataku melihat jam dinding. Sial! Waktunya sebentar lagi!

ΩΩΩ

"papa,,,,,!"

Ketika aku sampai, aku langsung disambut dengan teriakan Sarada. Hari ini ulang tahunnya Kaa-san, dan aku sudah berjanji kepada putri kecilku agar hari ini aku datang ke kuil tanpa terlambat. Kuturunkan badanku dan ku peluk Sarada yang kini tengah menghambur kepadaku. Ku cium puncak kepalanya yang tercium wangi. Hari ini Sarada terlihat sangat manis dengan yukata nya yang berwarna biru laut dan dandanan sederhana nya.

"hem, hari ini putri papa sangat cantik" pujiku tulus.

"benarkah?" Tanya Sarada dengan mata yang berbinar. "bibi Konan yang mendandaniku"

"tentu saja. Kau yang tercantik" aku mengedipkan sebelah mataku. Putriku tampak tersipu malu, rona merah menjalar di pipi chubbynya. Sial, melihatnya seperti ini membuatku membayangkan betapa cantiknya putriku nanti ketika ia sudah dewasa, dan bajingan mana yang beruntung mendapatkannya.

"papa melamun?" ucap Sarada membelai pipiku.

Aku menatapnya dengan penuh kasih, "tidak sayang. Ayo ke dalam, semuanya pasti sudah menunggu, kan?"

Sarada mengangguk antusias, ia pun melepaskan pelukanku dan meraih tanganku. Aku hanya tersenyum tipis melihat tingkah lucunya ini. mungkin aku harus sering membiarkan Sarada untuk tinggal di rumah, ia tampak lebih ceria daripada waktu tinggal di apartemen.

Aku menghela nafasku ketika memasuki kuil ini. sejujurnya aku tidak menyukai kegiatan seperti ini, namun inilah resiko jika kau lahir di keluarga yang menjunjung tradisi seperti ini. meski hanya perayaan ulang tahun kaa-san, namun tetap saja kami melakukan pemujaan di kuil, hanya untuk mengisi tradisi, namun tetap saja aku tidak menyukainya. Apalagi ketika pendeta tua itu nulai membacakan do'anya, itu bisa membuatku tertidur.

Ternyata, semua anggota keluargaku sudah hadir disini. aku melihat Kaa-san yang duduk disamping Tou-san, Itachi dan Konan juga sudah ada disana, bahkan kakek Madara sudah duduk dengan baru saja aku menyebut kakekku gagah? Aku tidak mau mengakuinya, namun inilah kenyataannya. Kakek Madara masih terlihat bugar dan memiliki kharisma tersendiri meski ia sudah lanjut usia. Ketika aku duduk di samping Itachi, aku melihat kakek Madara melirikku. Serius, aku tidak menyukai tatapannya, ini mengingatkanku pada kejadian enam tahun yang lalu. Kejadian yang merubah seluruh hidupku.

"kenapa terlambat? Kakek Madara terlihat ingin mengulitimu hidup-hidup" Itachi berbisik disampingku. Aku mengacuhkannya dan malah melihat Kakek Madara. Benar, ketika pandangan kami bertemu aku merasa dia ingin mengintimidasiku.

"sebenarnya apa masalah kakek Tua itu?" cibirku berbisik pada Itachi.

Itachi kembali medekatkan tubuhnya dan berkata, "dia memang memiliki masalah dengan cucu kesayangannya"

Aku mendecih mendengarnya. yang benar saja, sejak kapan kakek itu menganggapku sebagai cucu kesayangannya? Dia bahkan lebih dingin dari Tou-san ketika bersikap padaku, seenaknya saja mengatur hidupku, menyebabkan semua kejadian sial ini berawal.

Tiba-tiba saja aku mendengar kakek Madara mendehem. Suasana yang semula tenang kini menjadi tegang. Itachi bahkan sudah terpaku di tempatnya dan sama sekali tidak menoleh ke arahku lagi, meski aku sudah berusaha memberinya kode dengan menyentuh kakinya. Sepertinya kakek Madara melihat perbuatanku, ia kembali mendehem dengan suara yang lebih keras. Dan kali ini bukan hanya Itachi yang diam, karena aku juga ikut diam saat merasakan intimidasinya.

ΩΩΩ

Salah satu alasanku tidak tinggal di rumah keluarga ini,- meskipun kenyataannya Sarada lebih senang tinggal disini-, adalah karena keluarga ini masih penuh dengan tradisi. Maksudku bagaimana perasaanmu yang hampir seluruh hidupnya menjalani tradisi? Seperti ini, perayaan ulang tahun harusnya diadakan sebuah pesta, bukannya melakukan pemujaan di kuil. Aku tidak membayangkan akan menghabiskan waktu dengan cara seperti ini, kadang aku berpikir bagaimana Kaa-san dan Tou-san bisa menjalani selama ini, bahkan Itachi dan Konan bisa bertahan disini, padahal sebelum menikah dengan Itachi, Konan adalah seorang Model terkenal. Namun aku juga tidak bisa mengingkari, jika rumah ini penuh kehangatan, tidak seperti apartemenku yang terkesan dingin.

"papa melamun?"

Aku mengerjapkan mataku ketika merasakan sentuhan di lenganku. Kulirik Sarada yang tengah memandangku penuh Tanya,

"tidak sayang, Papa tidak melamun" jawabku tersenyum. "ayo, lanjutkan makanmu"

Sarada mengangguk dan kembali melanjutkan makannya. Aku sedikit bergidik ketika menyadari tatapan tajam dari kakek Madara. Salah satu lagi peraturan di rumah ini. selama kami makan bersama di meja makan, kami dilarang ribut atau menganggu ketenangan dalam perjamuan makan. Untuk peraturan yang satu ini aku sedikit setuju, karena aku juga tidak menyukai keributan.

"ada yang ingin aku bicarakan" semua yang ada di meja makan menghentikan kegiatannya ketika mendengar suara kakek Madara. Ini aneh, tetua keluarga secara sengaja melanggar tradisi dengan berbicara ketika perjamuan makan ketika berlangsung –meskipun semua orang sudah menghabiskan makanannya-, jujur saja ini aneh, firasatku mengatakan ada hal yang tidak beres. "ini mengenai dirimu, Sasuke"

Tanpa sadar aku menelan ludahku. Sial, kurasa ini benar-benar bukanlah suatu hal yang baik mengingat kakek Madara tidak pernah melakukan sesuatu hal yang baik padaku. Aku merasakan atmosfer kehangatan yang ada di keluarga ini tiba-tiba menjadi sunyi. Sama sepertiku, semua orang yang ada di meja makan menatap penuh tanda Tanya pada kakek sialan itu, dan dengan santainya kakek Tua itu menyeringai.

"aku ingin kau segera menikah, Sasuke" kalian lihat? Dugaanku tepat sekali, kan? Kakek Tua itu pasti mengatakan hal yang buruk. Dan apa tadi katanya? Ia ingin aku segera menikah? Jangan harap! Aku tidak akan menikah dengan siapapun.

"aku tidak akan menikah lagi" jawabku datar tanpa memandangnya.

"berhenti egois dan bersikap kekanakkan. Pikirkanlah perasaan Sarada yang merindukan sosok seorang ibu, apa kau tidak melihatnya selama ini? jadi berhentilah bertingkah seolah-olah kau adalah remaja yang sedang patah hati yang tidak bisa melanjutkan hidupnya"

Aku menggertakkan gigi mendengar perkataan kakek sialan itu. Apa haknya berbicara seperti itu? Dia tidak tahu apa-apa tentangku! Aku bisa membesarkan Sarada dengan baik tanpa adanya seorang Ibu.

"tou-san, aku mohon, tolong jangan memaksa Sasuke-kun" ucap Kaa-san lirih.

" kau terlalu memanjakannya, Mikoto!" seru Kakek Madara. "apa kau tidak melihat cucumu yang sangat merindukan kasih sayang seorang ibu? "

Kaa-san diam. Tidak ada yang bisa membantah perkataan Kakek Madara. Bahkan Tou-san hanya diam mendengarnya. aku tau, semua yang ada disini sebenarnya memang menginginkanku untuk menikah lagi. Namun aku tidak bisa. benar-benar tidak bisa.

"aku bukan lagi anak kecil,berhenti mengtur hidupku" ucapku dingin. Aku masih tidak mau menatap kakek sialan itu, karena jika aku melihat wajahnya-yang sialnya sangat mirip denganku-aku akan lepas kendali dan ulang tahun kaa-san yang seharusnya penuh kebahagiaan akan menjadi suram.

"oh, jadi kau bukan anak kecil lagi?" suara kakek sialan itu makin meninggi. " jika kau merasa sudah dewasa, maka bersikaplah sebagai seseorang yang dewasa!"

Aku mendecih. Pembicaraan sialan ini membuatku emosi. Aku sudah mengatakan berulang kali jika aku tidak akan menikah lagi. Sarada dan aku baik-baik saja tanpa ada seorang perempuan baru dalam hidup kami. Aku yakin.

"aku tidak menerima bantahan, Sasuke. Jika dalam waktu satu bulan kau tidak bisa membawa seorang menantu baru di keluarga ini, maka dengan terpaksa aku akan menjodohkanmu" ucap Kakek Madara tenang.

"kau tidak bisa memaksaku" jawabku dingin. Aku bahkan melupakan sopan santunku dengan tidak menggunakan panggilan kakek, aku sudah muak dengan semua ini. enam tahun yang lalu, dia memaksaku untuk menikahi Karin, dan sekarang lagi-lagi ia memaksaku untuk menikah?

"aku bisa. kau tau itu" aku bisa melihat seringaian kakek Tua itu semakin lebar. Meski aku tidak ingin mengakuinya, namun ia benar. Dia bisa memaksaku, dengan ancaman keluarga ini. Aku tidak bisa meninggalkan keluarga ini, mungkin jika tidak ada Sarada aku tidak akan seberat ini menentangnya, namun sekarang ada Sarada yang harus kupikirkan. Aku tidak mungkin membebaninya lagi dengan kemungkinan berpisah dengan keluarga ini setelah aku yang membuatnya terpisah dengan ibunya.

"Madara jii-san, jangan memarahi Papa. Papa tidak perlu lagi mencarikan mama baru untuk Sarada, karena Sarada sudah mempunyai mama baru" ucapan Sarada yang polos membuatku membeku, tidak, bukan hanya aku, semua yang ada di meja makan membeku mendengar ucapan Sarada.

"ehm, apa maksudmu sayang?" Konan yang berada di dekat Sarada berusaha mencairkan suasana, dengan lembut ia mengelus puncak kepala Sarada, "Sara-chan sekarang bukan waktunya bercanda, mengerti?"

Putri ku tampak mengerucutkan bibir mungilnya. "aku tidak bercanda Bibi, Sarada benar-benar memiliki mama baru! Bibi Sakura bilang, Sarada boleh menjadikan Bibi Sakura sebagai mama Sarada"

Aku terperangah mendengar penuturan Sarada. Lagi-lagi Sakura! Apa yang sudah dikatakannya pada putriku? Sialan! Ini buruk. Aku bahkan merasakan semua mata yang ada di ruangan ini menatap penuh Tanya padaku!

"siapa itu Bibi Sakura?" Tanya Kaa-san tersenyum lembut setelah beberapa saat lalu ia berhasil menguasai dirinya.

"Papa bilang, Bibi Sakura adalah pengasuhnya Sarada. Tapi, bibi Sakura sangat baik nek, dia sangat perhatian dan sayang dengan Sarada, Sarada juga sayang dengan bibi Sakura" lagi-lagi ucapan polos Sarada makin membuatku gerah.

"jadi, Sasuke? Apa penjelasanmu mengenai ini?" aku langsung menatap sengit kakek Madara. Ini semua gara-gara kau kakek sialan!

"Sakura hanyalah pengasuhnya Sarada, tidak lebih" jawabku setenang mungkin.

"pengasuh yang menjadi mama Sarada? Hm, menarik sekali" aku bersumpah, aku melihat kakek Sialan itu tersenyum mengejek padaku! Sialan!

"jangan berlebihan. Dia hanya pengasuh biasa"

"aku ingin bertemu dengan pengasuh itu" tou-san yang sedari tadi diam, kini ikut angkat bicara. Ini buruk, aku tidak bisa membantah Tou-san. dia adalah ayah yang hebat, aku sangat menghormatinya sebagai seorang anak dan sesame lelaki. Tou-san memiliki aura yang berbeda dengan kakek Madara, jika dengan kakek Madara aku bisa sedikit membantah, tapi tidak dengan Tou-san ku.

"dia sudah pergi" untungnya kali ini aku berkata jujur. Sakura telah pergi dari apartemenku dengan kemauannya sendiri, meskipun aku juga turut andil dalam hal itu.

"apa maksudnya dengan pergi?" aku menoleh mendengar Itachi.

Aku menaikkan alisku." Dia sudah tidak bekerja padaku, dia pergi entah kemana dan aku tidak mengetahuinya. Lagipula, bisa kalian hentikan ini semua? Sakura hanyalah seorang pengasuh, dan dia sekarang sudah tidak ada dalam kehidupan Sarada lagi, jadi berhenti bertanya tentang dirinya"

Kurasa penjelasanku cukup menghentikan keingintahuan mereka yang berlebihan. Kakek Madara bahkan menghela nafasnya. Dengan perlahan ia bangkit dari duduknya mulai berjalan keluar dari ruangan ini. namun, beberapa langkah kemudian dia berhenti dan menatapku. " aku masih menunggu calon darimu selama sebulan kedepan, Sasuke"

Apa-apa'an? Dia masih saja memaksaku? Damn! Kenapa kakek tua itu tidak pikun saja seperti kakek-kakek yang lainnya? Oh ayolah, umurnya bahkan sudah sangat cukup untuk menjadikannya kakek-kakek yang tidak bisa berbuata apa-apa. Bukannya memaksa cucunya sendiri untuk menikah.

"Sasuke, Kaa-san pikir, mungkin keinginan kakekmu ada benarnya" lirih Kaa-san. aku mendengus, hal ini sudah berulang kali di bahas dan aku tidak pernah merubah keputusanku.

"Kaa-san tahu jawabanku" jawabku datar.

"pikirkanlah Sarada,,,, kaa-san mohon,,," ucap Kaa-san sendu.

Aku membuang pandanganku ketika bertemu dengan mata kaa-san yang terlihat sedih. Aku tidak bisa melihat Kaa-san seperti ini, seperti ada ribuan jarum yang menusukku. Sama seperti enam tahun lalu, saat aku melakukan kesalahan itu. Dulu, aku menebusnya dengan cara yang salah, dan sekarang setidaknya aku ingin menebusnya dengan tidak akan jatuh hati terhadap wanita manapun. Namun, caraku tidak pernah diterima oleh siapapun.

"jangan egois Sasuke, anakmu membutuhkan seorang ibu" kali ini Itachi yang membuka suara. Aku memjamkan mataku. Apa selama ini aku sudah bersikap egois? Apa aku salah bila aku tidak ingin membuka hatiku untuk siapa pun?

"nenek dan paman, jangan memarahi papa lagi. Sarada sudah punya bibi Sakura, jadi Papa tidak perlu mencari mama baru lagi untuk Sarada" ucapan polos putriku membuatku tersadar. Sakura. Tidak. Dia berbahaya. Aku menyadarinya, tubuhku terkadang bereaksi tidak sesuai keinginanku ketika berdekatan dengannya. jika aku harus benar-benar mencarikan Sarada seorang ibu, maka Sakura tidak termasuk diantaranya.

"sayang, Bibi Sakura sudah pergi, dan dia tidak akan kembali bersama kita lagi" ujarku pelan sambil mengusap puncak kepalanya dengan penuh sayang.

"tapi Bibi Sakura sudah janji, pa,,,," mata polos Sarada menatapku penuh kepolosan. Sial! Apa yang sebebnarnya telah dikatakan Sakura terhadap Putriku? Ini buruk. Aku harus menghentikan semua ini sebelum terlambat. Aku tidak ingin Sarada terlalu berharap, dan berakhir akan kekecewaannya. Selama ini aku telah membuatnya kecewa tiap ia menanyakan tentang seorang ibu, dan kali ini aku tidak akan membuatnya menelan kekecewaan lagi karena terlalu berharap dengan hal ini.

"Sarada, dengarkan papa. jika Bibi Sakura menyayangimu dia tidak akan meninggalanmu, dia bahkan tidak mengatakan salam perpisahan padamu. Jadi, Papa mohon, berhentilah menganggap bibi Sakura sebagai ibu Sarada" sial. Aku memejamkan mataku ketika melihat tatapan polos Sarada berubah menjadi sedih dan berkaca-kaca. Bagus Sasuke, baru pertama kali anakmu menganggap orang lain sebagai ibunya, dan kini kau menghancurkannya.

Kurengkuh Sarada dalam pelukanku, ku cium puncak kepalanya untuk menenangkannya yang kini tengah terisak di dadaku. Aku tau, ini sangat berat untuknya, bahkan umurnya belum genap lima tahun dan putriku sudah menanggun beban seberat ini. ketika anak seusianya bebas bermanja manja dengan ibu mereka, namun putriku hanya diam dan mengurung dirinya di kamar memandangi potert ibunya yang telah tiada.

"tapi Sarada ingin mempunyai seorang ibu, pa,,,," ucapnya Sarada parau, sepertinya ia sedang menahan isakannya.

Lagi-lagi aku memejamkan mataku. Ini terasa begitu sakit, seseorang yang seharusnya kujaga dan kupastikan kebahagiaannya kini malah menangis karena diriku. aku telah membuat putriku bersedih dan itu karena keegoisanku. Itachi, kakek Madara, Kaa-san dan semuanya benar,kurasa ini saatnya untukku memberikan Sarada seorang ibu. Kurasa perjodohan yang direncanakan kakek Madara bukanlah hal yang buruk asalkan dia bisa menyayangi putriku.

Kurenggangkan pelukanku dan ku tatap mata Sarada yang masih berlinang airmata, kuusap air mata yang ada di sudut matanya. Sarada hanya diam melihatu malakukan itu semua, mungkin ia sedang bingung karena tidak biasanya aku melakukan hal ini. "sarada, dengarkan papa. Papa akan memberikan Sarada seorang ibu"

"ha?"

Ya Tuhan, respon Sarada yang tampak tidak percaya dengan perkataanku bukan lah respon yang kuharapan. Bahkan aku juga melihat Itachi, Konan, Kaa-san, Dan Tou-san menatapku tidak percaya.

"ehm, maksud papa, kurasa papa akan menerima perjodohan yang di berikan kakek Madara, jadi Sarada bisa memiliki seorang ibu nantinya" ujarku sedikit gugup karena semua orang yang berada di ruangan ini menatapku dengan sangat intens. Aku tau mereka sangat terkejut karena tiba-tiba aku mengatakan hal seperti ini, namun reaksi mereka sangat berlebihan.

"bukan Bibi Sakura?"

"bukan" kurasa aku benar-benar harus menghapus sosok sakura dalam pikiran putriku. Alasanku ingin menikah lagi karena Sarada menginginkan seorang ibu, jadi aku hanya akan menikahi seseorang yang bisa menjadi ibu Sarada, tidak lebih dari itu. Aku tetap tidak ingin membuka hatiku untuk siapapun, bahkan ketika aku menikah nanti. dan Sakura,,,, ya, aku meragukan diriku ketika berhadapan dengan Sakura. Aku tidak yakin semua akan berjalan sesuai keinginanku jika orang yang akan menjadi ibu untuk Sarada adalah Sakura. Dia berbahaya, dan aku tidak akan membiarkan ia masuk dalam kehidupan kami lagi.

Hening. Aura di ruang makan ini terasa begitu hening ketika aku selesai mengutarakan keinginanku untuk memberikan Sarada seorang ibu. Ini aneh, bukankah mereka semua menginginkan hal ini? dan ketika aku akan melakukannya kenapa mereka terlihat tidak begitu menyukainya? Bahkan Kaa-san yang biasanya selalu memaksaku untuk menikah kini malah bungkam.

ΩΩΩ

Hari ini aku sengaja mengosongkan jadwalku karena aku ingin menghabiskan waktuku seharian ini untuk berkumpul bersama keluargaku karena Kaa-san sedang berulang tahun, namun pembicaraan mengenai ibu Sarada tadi pagi sepertinya membuat suasana menjadi sedikit muram. Aku memutukan siang ini untuk pergi ke apartemen Sai, ingin meminta penjelasan atas apa yang telah terjadi tadi malam.

Aku sudah menghubungi Neji, dan dia berkata jika tadi malam ia mengantar Naruto pulang dan menitipkanku pada Sai karena keadaanku yang mabuk berat. Aku penasaran bagaimana bisa aku berakhir satu ranjang dengan Sakura, sedangkan aku tidak ingat jika sebelumnya aku bertemu dengan Sakura di Bar itu.

Aku lumayan sering ke apartemen Sai, karena diantara kami berempat Sai adalah orang yang paling bebas melakukan hal yang ia sukai. Naruto sudah berkeluarga, Neji memiliki keluarga yang penuh dengan aturan seperti keluargaku, sedangkan Sai hanya memiliki seorang kakek yang tinggal jauh dari sini. Kakek Sai bukan tipe kakek overprotective, hingga Sai bebas tinggal sendiri tanpa kawatir dengan kelancaran bisnis keluarganya yang sekarang masih di pegang oleh kakeknya.

Kulangkahkan kakiku ke dalam apartemen, aku masih mengingat passwordnya hingga aku tidak kesulitan untuk memasukinya. Apartemen Sai rapi seperti biasanya, namun aku menaikkan alisku ketika menyadari ada keanehan disini. ada sepasang highheels yang tidak mungkin milik Sai, aku juga menemukan gaun dan beberapa potong pakaian terlempar secara sembarangan di lantai dan di sofa. Samar-samar aku juga mendengar suara desahan seorang wanita. Damn! Sepertinya aku tau apa yang telah terjadi disini.

Ketika aku masuk ke ruang tengah, aku melihatnya. Aku tidak terlalu terkejut mendapati Sai dalam posisi seperti itu dengan seorang perempuan mengingat apa ada di ruang depan tadi, namun tetap saja pemandangan ini menggangguku. Sai sedang duduk di sofa dengan seorang perempuan di pengkuannya dalam keadaan setengah telanjang, karena ia sudah memakai boxernya dan wanita itu memakai celana pendek juga. Aku tidak dapat melihat wajah perempuan itu karena posisinya yang membelakangiku, namun aku tahu ia memiliki rambut berwarna pirang panjang.

Sepertinya Sai menyadari kehadiranku, ia terlihat tidak terlalu terkejut dan hanya tersenyum kaku ketika beradu pandang denganku.

"sebentar sayang, ada temanku dibelakangmu" ucap Sai menghentikan cumbuan perempuan itu yang tengah mencium bibirnya.

Perempuan itu sepertinya terkejut dan makin mengeratkan pelukannya pada Sai. Bahkan ia menenggelamkan wajahnnya di perpotongan bahu Sai. Ia seperti malu dengan kehadiranku, sangat bertolak belakang dengan baru saja apa yang ia dan Sai lakukan.

Sai terekeh pelan ketika perempuan itu makin menekan tubuhnya. "tenanglah sayang, temanku tidak akan melihatmu lebih dari ini"

Aku mendecih. Ini hampir sama dengan drama yang biasa Naruto lakukan dengan istrinya dan ini membuaktu sedikit muak. "aku akan kembali sepuluh menit lagi" ucapku sambil melangkahkan kaki ku keluar ruangan.

Sialan Sai! Makiku dalam hati ketika mendengar Sai tertawa geli. Kupastikan sekarang ia tengah melanjutkan cumbuannya dengan perempuan tadi. Aku bertanya Tanya wanita mana yang kini tengah menjadi mainan Sai. Ia sudah sering seperti ini dan aku belum menemukan tanda-tanda ia akan berhenti dengan petualangannya. Aku menghela nafasku, jika sepuluh menit nanti Sai belum selesai dengan kegiatannya maka aku tidak akan peduli meski mereka tengah melakukan make out atau apapun itu.

ΩΩΩ

Oke,, ada yang masih nungguin fanfic abal-abal ini?

Hehe… maaf kalau updatenya masih aja lama.

Moga makin suka dan masuh di runggu reviewnya,,,,

Rina Apple