a/n: Aloha! Enjoy! I don't own FT
WARNING! MOMENT NALU T+! XD /pervertsekaliauthorini.
.
Sting tersenyum pada Yukino yang sedang tertidur di pundaknya. Apa yang Lucy katakan memang benar, ia juga pindah ke Amerika. Mungkin ini yang dinamakan takdir? Ia menyukai Lucy, benar, tetapi ia mencintai Yukino. Kenapa ia baru menyadari hal ini sekarang? Saat ia memacari Lucy saat SMP, ia dibutakan uang. Sial.
Ia jadi teringat sesuatu. Ia pernah memata-matai Lucy dengan penampilan mencurigakan—jaket ber-hoodie dan kacamata hitam—ah, rasanya seperti teroris. Tentunya, itu permintaan ayahnya. Ia memata-matai Lucy sejak gadis itu keluar dari gerbang sekolah bersama seorang pemuda berambut pink, menuju ke supermarket membeli bahan-bahan untuk.. ramen. Saat itulah Sting sadar—mungkinkah itu Summer? Karena tawa Lucy saat bersamanya sangat berbeda.
Jadilah ia meminta maaf keesokan harinya karena beberapa bulan setelah Lucy dan Sting berpisah, perusahaan ayahnya sempat hampir bangkrut, mungkin karena kualat? Hahaha.
Yang penting ia mempunyai Yukino sekarang, seseorang yang selalu melihatnya dari kejauhan sementara ia mengejar-ngejar Lucy.
Anehnya, ia merasa Lucy yang sekarang tampak menyimpan sikap aslinya... dulu ia tidak setomboi itu rasanya.. justru, Lucy itu feminin...
Tapi, saat ia bertanya pada Layla—tentu saja sekalian meminta maaf tentang perilakunya dulu—Layla hanya menjawab,
"Saat kecil, Lucy itu tomboi. Tetapi aku mengajarkannya untuk menjadi wanita. Feminin dan anggun. Mungkin sekarang ia sudah bosan? Jadinya ia kembali ke sifat awalnya. Saat aku kecil, aku juga sangat tomboi, tetapi sekarang, sebagai seorang wanita aku harus feminin kan?"
Saat melihat drama sekolah Lucy, ia turut senang bahwa Summer-dalam-dunia-nyata-menurut-prediksi-Sting benar-benar menjaga Lucy, seperti 'ancaman'nya setelah meminta maaf pada Lucy.
"Hei pinkie, jaga Lucy baik-baik atau aku akan melemparmu ke jurang."
Sting terkekeh sendiri.
"Ada apa, Sting-kun?" suara Yukino mengagetkannya.
"Sssh..tidak ada apa-apa." Ia membelai rambut putih Yukino sambil tersenyum. "Tidur saja lagi."
.
Levy tersenyum sendiri malam itu, setelah ia dan Mirajane menentukan hukuman apa yang pas untuk Natsu. Padahal hukuman baru adalah hukuman lama yang sedikit diubah. Levy tertawa devil. Mehehehe. Sebentar lagi Lucy yang dulu ia kenal akan kembali!
Lucy yang feminin yang menguasai karate dan yang tidak menyembunyikan perasaannya. Walaupun feminin yang ia dare-kan ke Lucy agak lebay..
Maaf, maksudnya lebay. Levy sweatdropped sendiri. Itu bukan feminin namanya.. tetapi sok imut. Dasar Lucy. Alasannya berubah menjadi tomboi memang untuk kebaikannya sendiri tapi.. apa itu tidak menyiksa dirinya? Menjadi tsundere dan semacamnya? Menyembunyikan perasaan—menahan perasaan? Apa ia mau jadi orang yang tidak berperasaan?
Levy ingin mengungkit hal ini kepada sahabatnya itu, tapi ... Lucy sudah berjanji pada dirinya sendiri. Yah, Levy memang peduli padanya tapi...jika itu adalah keputusan hidup Lucy, biarkanlah. Pokoknya, ia akan selalu ada di sampingnya.
.
Gray menghela napas sambil memasang earphone di telinganya. Ia menyetel lagu favoritnya dan menaikkan volumenya. Hari ini benar-benar melelahkan.
1) Ia berhasil membuat Natsu menyadari perasaannya. Ia tahu, Natsu itu nggak peka, tapi ia bukanlah seseorang yang bodoh dalam dunia romance. Ia hanya tak pernah menampakkannya.
2) Ia mengajak Juvia kencan. Mengajak Juvia kencan. Juvia kencan. Kencan. KENCAN! Jangan tanya perasaannya pada Juvia. Gray sendiri masih bingung. Tetapi ia tahu alasannya mengapa ia tidak suka Lyon mendekati Juvia. Sial. Ia hanya belum menerimanya.
Bertepatan dengan nada terakhir dari lagu yang ia putar, Gray masuk ke dunia mimpi.
.
Disuruh menjadi feminin, ya..
Lucy menghela napas. Ia sudah lupa ajaran ibunya tentang menjadi anggun sebagai wanita. Ia hanya ingin kebebasan. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, dengan memendam perasaannya dan berlagak cuek.
Sejak kejadian Sting.. ia belajar tidak akan menangis. Tidak akan membuka perasaannya begitu saja. Jadi saat ia kehilangan seseorang lagi—Summer aka Natsu—ia akan baik-baik saja.. kan?
Because this is the new her, yet the old her.
"Lucy,"
"Kau di sini lagi? Kenapa kau sangat menyukai rumahku?" Lucy sweatdropped pada Natsu yang selalu tidur di sampingnya sekarang. Dan Lucy sudah capek mendorong pemuda itu hingga terjatuh. Biarkan sajalah.. lagipula..jika ia boleh jujur.. ia bisa tidur lebih nyenyak..jika ada Natsu... dan perasaan itu jika Natsu memeluk pinggangnya dari belakang—
Lucy blushing parah.
Natsu menyeringai. "Aku tidak suka rumahmu. Aku akan ada dimanapun kau berada. Karena mau tidak mau, kau adalah milikku."
"Bodoh, hentikan itu." Lucy memukul lengan Natsu. "Kau selalu saja—ugh! Aku benci perasaan ini!"
"Kau benci mencintaiku?" tanya Natsu polos.
"B-b-b-bukan!" Lucy tambah memerah. "Maksudnya.. jantungku..selalu berdetak kencang setiap kau mengatakan sesuatu yang...seperti itu."
Natsu terdiam sebentar, kemudian tertawa kecil. Ia memeluk Lucy dari belakang, membuat Lucy mematung.
"Karena aku mencin—"
"H-h-hentikan itu." bisik Lucy lemah. "Aku tidak sanggup lagi!" kini Natsu tertawa keras tanpa melepaskan pelukannya.
"Dasar Luce." Bisiknya. "Itu yang aku sukai darimu sejak dulu."
"Kau menyukaiku dari dulu?" Lucy menoleh sedikit ke belakang, membuat bibir Natsu bersentuhan dengan lehernya. Lucy mematung kembali, dan Natsu kembali tertawa kecil.
"Hmm. Sejak bertemu denganmu." Natsu mengangguk dengan sengaja agar bibirnya menyentuh leher Lucy lagi. Lucy merinding lagi, kini leher dan telinganya juga memerah.
"S-s-s-sial..." Lucy hampir mendesah saat Natsu mulai menciumi lehernya. Kemudian ia membalikkan badannya. "Dragneel, aku punya tiga hutang kepadamu, kan?" Ia menyeringai. Natsu ikut menyeringai, "Kau telat membayarnya, jadi sanksi 100 kali."
"Apa? Tungg—hmmphh.."
Dan malam itu, Lucy membayar hutangnya lengkap dengan sanksi yang diberikan Natsu, tanpa diganggu siapapun. Kecuali mereka melupakan seekor kucing-biru-hasil-tumpahan-eksperimen-Grandine yang tengah merekam kegiatan mereka dengan kamera hape Lucy.
"They llllllike each other." Bisiknya, sebelum mengirim video itu ke Mirajane.
.
"Mira-nee, bolehkah aku ikut besok? Aku akan meluruskan permasalahanku bersama Natsu besok," ujar Lisanna di samping onee-chan-nya yang sedang berkonsentrasi memasang masker di depan wastafel. Ekspresi Mirajane awalnya kaget sambil menatap bayangan Lisanna di cermin, lalu tersenyum lembut.
"Baguslah. Lakukan baik-baik, ne? Kau tidak mau sahabatmu membencimu kan?" jawab Mirajane.
"T-tapi, aku masih tidak menganggapnya sahab—"
"Dengar, Lisanna." Intonasi Mira berubah serius. "Dengan memaksakan kehendak Natsu, berarti kau menghalangi kebahagiaannya." Kini Mira menghadap Lisanna. "Artinya kau tidak mencintainya. Karena jika kau mencintainya, kau ikut bahagia apa yang membuatnya bahagia."
"Mira-nee..." Lisanna memalingkan wajahnya. "Kenapa.. harus Lucy?"
Jika Mirajane tidak mengerti keadaan, ia pasti langsung masuk ke mode fangirl-nya. Ia tidak mengabaikan pertanyaan putus asa adiknya. "Yang penting, besok aku ingin melihatmu meluruskan segalanya dengan Natsu, ne?" dengan itu, sang she-demon keluar dari kamar mandi.
Mirajane baru saja menutup pintu kamarnya ketika sebuah notifikasi muncul di hapenya. Ia membaca pengirimnya. Lucy-chan.. tetapi ada tulisan 'NB. Dari Happy. Salam NaLu, aye!'
Mira menyeringai sendiri. "Sankyuu, Happy! Aku akan memberimu ikan!" balasnya sambil mengetik pesannya. Ia men-download video yang terkirim, kemudian menontonnya dengan antusias. Pipinya langsung memerah dan pikirannya langsung blank. Oh yeah! Fangirl mode: ON!
"KYAAAAAA!"
.
"MIRAJANE PINGSAN?!" seru Laxus terbangun dari tidurnya. Lisanna dari seberang telepon mengangguk.
"Hu'um! Tolong, Laxus-senpai, aku akan membawanya ke rumah sakit terdekat! Elf-niichan menetap di apartemen Evergreen-san lagi!"
"Hm. Aku akan segera ke sana."
.
Tanpa basa basi Laxus langsung masuk ke kamar Mirajane yang terbuka, menampilkan seorang Mirajane yang pingsan dengan senyum lebar di mulutnya. Jangan lupa hati yang beterbangan.
"Sudah, dia tidak apa-apa." Laxus sweatdropped. Lisanna hanya memerhatikan Laxus yang menggendong Mira ke tempat tidurnya. "Fangirl-nya kambuh lagi."
"Oooh, haha," Lisanna ikut sweatdropped. "Maaf sudah menganggumu malam-malam, Laxus-senpai."
"Tidak masalah," Laxus mengacak rambutnya sendiri. Lisanna memungut hape kakaknya yang tergeletak di lantai, lalu memberikannya pada Laxus.
"Terima kasih Laxus-senpai, aku akan tidur duluan." Lisanna membungkuk, lalu keluar dari kamar kakaknya tanpa menahan tangisnya lagi.
Setelah ia menelpon Laxus, ia melihat semuanya. Ia melihat video itu.
Dan itu membuatnya mengira.
Kenapa harus Lucy?
.
Laxus mengecek penyebab pingsan gadis yang sedang pingsan—ya iyalah—di sampingnya. Ia mendapati sebuah video yang membuatnya menahan muntah.
Cewek itu aneh, ya. Kenapa orang yang sedang berciuman diliatin, fangirling lalu pingsan? Sebenarnya apa spesialnya?
Tetapi lain lagi ceritanya jika itu adalah video Mirajane dan Lax—
BUG.
"Apa.. yang kupikirkan?" desisnya sang blonde sambil membanting kepalanya ke lantai. Puas dengan aksi masokisnya, Laxus memerhatikan wajah cantik Mirajane yang terbalut masker. Laxus terkekeh kecil. Dia itu sudah cantik—untuk apa melakukan perawatan lagi?
"Mungkin besok aku akan dibunuh. Jadi, maaf, Mira." Dengan itu, Laxus menciumnya.
.
Dan keesokan paginya, Mirajane mengira-ngira mengapa tadi malam bibirnya terasa lebih hangat dari biasanya.
.
Tbc
.
A/N: GOMENNN ;-; ini hanyalah filler, karena:
1) Ada yang harus Yama bikin clear. Di chap 2, ada kalimat 'sepasang kacamata hitam memerhatikan mereka'(?) kurang lebih begitulah. Masih inget? XD Nah, Yama lupa jelasin itu siapa-" Huu. Dasar(?) Terus, chap ini ngelurusin tentang kenapa Lucy itu tomboi(?) karna dari sikapnya dia tuh nggak tomboi nggak feminin juga(?) *digebuk
2) Paket internet Yama malem ini bakal berakhir dan belum diisi-_- *bokek* jadi kalo nerusin chap tentang hukuman, ga sempet. Jadi Yama kasih filler aja XD daripada ga update *dor
Yosh, terima kasih telah mereview. Selamat HUT Indonesia!:*
