A/N: Aloha! XD I dont own FT. Di sini Elfman jadi yang paling tua XP

.

"Ne, ne, Grandine," ujar Layla sambil menyeruput jusnya di sebuah kafe. Hari Sabtu memang 'jadwal' Layla dan Grandineey untuk pergi 'kencan'. Sedangkan Jude dan Igneel bermain golf bersama seperti biasa.

Grandine mengangkat satu alis ke arah Layla, menunjukkan ekspresi 'apa?' sambil meminum jusnya pula.

"Kemarin, aku—seperti biasa—pergi telat pulang telat, sama seperti Jude dan berbeda denganmu yang selalu rajin pergi pagi—"

"Hey," Grandine sweatdropped, "jika jabatan Igneel setinggi Jude, pasti aku juga akan bermalas-malasan sepertimu."

"Hehe. Maaf saja suamiku lebih tinggi darimu," Layla menjulurkan lidahnya. Mereka tertawa kecil. Pantas saja kedua ibu awet muda ini sering dikira anak kuliahan oleh pegawai baru. "Oh iya, kembali ke cerita. Lalu tadi malam aku mendengar suara aneh dari kamar Lucy-ku!"

"Aaah, benarkah?!" Grandine pura-pura terkejut. Layla memutar bola matanya sambil menyeruput jusnya lagi. "Tiap malam juga aku mendengar suara aneh dari kamar Natsu."

"Aaah, aku takuuut~" Layla pura-pura takut. "Anehnya, dari kamar Lucy, selalu terdengar suara pintu balkon yang dibuka dan ditutup!"

"Kamar Natsu juga begitu!"

"Lalu terdengar suara kucing!"

"Kamar Natsu juga begitu!"

"Lalu terdengar perbincangan!"

"Kamar Wendy juga begitu!"

"Lalu terdengar suara kecupan dan saat aku intip, Natsu-mu ada di dalam berciuman dengan Lucy-ku!"

"Kamar Natsu juga beg—" Grandine memuncratkan jusnya, "APA?!"

.

Natsu dan Lucy bersin bersamaan di dalam kamar Lucy.

"Baru saja jam 6, sudah ada yang bicarain?!" gerutu sang blonde. Ia menoleh ke wajah ngantuk Natsu. "Oi, pemalas, bangun."

Natsu hanya menyeringai. "Begitukah kau memanggilku, honey?"

"U-urusai!" Lucy yang berwajah merah langsung berlari ke dalam kamar mandi. Terdengar suara Natsu yang terbahak-bahak di luar.

"Baiklah, Nona Lucy 'tsundere' Heartfillia. Aku akan kembali ke rumahku karena di sini aku tidak punya pakaian," seru sang pemuda dari luar.

"T-Tunggu!" tanpa mengetahui apa yang ia lakukan, Lucy sudah terlanjur memanggil kekasihnya itu.

"Eh? Apa?" terdengar jawabannya.

Lucy terdiam untuk beberapa saat karena gugup. "U-um.. um.. n-nanti.. kita pergi ke tempat janjian Levy dan Mirajane.. harus bareng! Bukannya aku mau bareng seperti sepasang k-k-kekasih tapi.. ngga usah ditanya kenapa!" serunya dengan wajah merah. Di luar, Natsu terdiam, tetapi kemudian terbahak lagi.

"Hahahahah! K-kau aneh sekali, Luce!" Natsu nyengir sendiri. "Tentu saja kita akan pergi bersama. Ah ya! Jangan lupa dare feminin-mu! Jaa!"

Bunyi pintu kamar yang di tutup.

Kemudian Lucy Heartfillia mandi dengan suasana yang tenang, indah, dan nyaman—

"NATSU DRAGNEEL! APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI? !"

Diiringi suara Loke.

"M-Maafkan aku!"

Aries.

"Apa Lucy-sama meminta aku dihukum?"

Virgo.

Dan keributan lainnya.

Dan di akhiri dengan pintu kamar Lucy yang di buka.

"Hahh.. Hahh.. Hah.. sialan kau.. Loke-sen-sei!" Natsu menekan kata sensei sambil menutup pintu dengan keras. "Seharusnya aku lewat balkon!"

Lucy menggumpal tangannya dengan kesal lalu membuka pintu kamar mandi dengan wajah marah. Mm-hmm. Erza kedua akan keluar. Terbukti dengan aura ungu di sekeliling tubuhnya.

"Berisik," desisnya. Ia menatap Natsu tajam. Natsu tidak bergerak. Ia hanya menatap Lucy dengan mata yang terbuka lebar-lebar.

Terus menatap...

Terus...

Terus..

Cairan merah keluar dari hidungnya.

Ketika Lucy mendapati handuknya masih tergantung di dekat bath tub, barulah ia mengerti.

Dan pagi itu, Natsu pingsan karena pukulan telak di kepala dengan sikat WC.

.

Tampaknya semua geng 11-C sudah berkumpul di tempat yang disetujui: di depan pusat perbelanjaan bernama Magic Council.

"Lucy dan Natsu terlambat 10 menit," Erza mengumumkan saat melihat kedua manusia itu datang.

"Ahahah, gomen ne~!" seru Lucy dengan suara feminin yang fake. Levy menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Natsu yang tengah di seret oleh sahabatnya itu.

"Apa yang terjadi?" tanya Jellal sweatdropped.

"Ah, tidak ada," Lucy tersenyum polos. Natsu mengelus-elus kepalanya yang masih sakit. Sial. Tadi pagi ia tidak mandi dan ia masih mengenakan pakaian yang ia gunakan tidur kemarin; T-shirt hitam dan celana putih. Tampaknya, saat ia pingsan, Lucy menyemprotkan banyak parfum milik Jude sehingga ia tercium seperti bapak-bapak.

Terbukti dengan Gray, Gajeel dan Jellal yang menutup hidung sambil menahan tawa.

Natsu menatap Lucy dengan tajam sedangkan Lucy hanya menjulurkan lidah.

"Tunggu, dimana Mirajane?" tanya Levy.

"Tadi aku melihatnya pergi sebentar bersama adiknya itu, ke toko itu," jawab Gajeel sambil menunjuk sebuah toko baju.

"A-adik?" kata Natsu kaget. Kenapa dia ada di sini?

"Lisanna?" tanya Lucy girang.

"Yah.. sepertinya itu namanya," Jellal menggaruk kepala belakangnya.

Natsu menghembuskan napas dengan berat.

"Mou, Natsu! Jangan begitu dengan Lisanna-chan! Sudah lama kita tidak bertemu dengannya," tegur Lucy sambil memukul pelan lengan Natsu. Natsu menatap Lucy dengan tidak percaya. Jika saja Lucy mengetahui apa yang telah Lisanna lakukan, dia juga pasti akan bersikap dingin kan?!

"Lucy," kata Natsu pelan. "Lisanna, dia—"

"Gomeeeen aku lamaaa~!"

Suara itu.

Lisanna berlari kecil ke arah geng 11-C sambil mengenakan sebuah tank top yang terkesan frilly dan feminin, dilengkapi dengan celana jeans pendek. Di belakangnya, Mirajane dengan dress selutut berwarna merah yang terkesan dewasa.

"Lho, Li-chan ganti baju?" ujar Levy sambil tersenyum kepada adik she-demon.

"Mm!" jawabnya. "Kurasa baju tadi kurang casual."

Siapa juga yang mau jalan-jalan menggunakan gaun pesta dan high heels? Pikir Gajeel, mengingat apa yang Lisanna kenakan sebelumnya yang ia curigai milik Mirajane.

"Juvia rasa Lisanna-chan cantik memakai baju apa saja," puji Juvia sambil memegang kedua tangan Lisanna. Lisanna memerah sambil mencuri pandang ke arah Natsu yang terdiam.

"T-Terima kasih," jawabnya malu-malu, kemudian menatap Lucy dengan cemburu. Mirajane menghela napas lalu mengubah topik pembicaraan.

Lucy sendiri tidak peka dengan aura yang Lisanna keluarkan khusus untuk dirinya. "Pssst, Levy. Aku tidak ingin bertingkah sok feminin di depan teman masa kecilku. Tolong cabut dare-nya ya?" Lucy menyatukan kedua telapak tangannya sambil nyengir. Levy memutar bola matanya.

"Haik haik." Jawabnya tersenyum. "Minna! Dare Lu-chan di cabut untuk hari ini, oke?!" serunya. Natsu mendengus. Sudah ia duga, Lucy takkan menjadi feminin walau diancam hukuman. Iya, feminin, tapi terpaksa.

Ia hanya harus mencari cara untuk mengeluarkan sikap feminin Lucy dari dalam hatinya...

Yang lain hanya mengedikkan bahu. Lisanna menghela napas, lalu berjalan ke arah Lucy sambil tersenyum. Ia berdiri di tengah-tengah Lucy dan Natsu seakan ingin memisahkan mereka.

"Lucy," ujarnya. "Sudah lama tidak bertemu." Ia menawarkan jabat tangan.

"Lisanna," Lucy tersenyum senang. Ia pun menjabat tangan Lisanna dan Lisanna membalas dengan mencengkram tangan Lucy erat-erat. Lucy menarik tangannya sambil mendesis kesakitan.

"O-oi!" tetapi Lisanna mengabaikannya.

Lisanna berbalik ke arah Natsu dan memeluknya erat-erat. Natsu tidak merespons. "Natsu-senpai. Aku merindukanmu."

Yang lain hanya terdiam melihat scene itu. Lucy memang merasakan dadanya perih, tetapi biarlah ia menganggap itu pelukan persahabatan. Jadi, ia hanya memalingkan wajahnya dan menatap ke langit.

"Natsu?" panggilnya. "Kenapa diam saja ke Lisanna?" kemudian Natsu menatap Lucy dengan tatapan tidak percaya. Gadis ini...!

"Oke, sekarang adalah hari penghakiman Natsu!" Mirajane menginterupsi sambil melirik Natsu yang tidak biasanya diam. Lisanna melepaskan pelukannya dengan kecewa tetapi langsung memasang senyum. Lucy langsung fokus kepada adik Elfman itu.

"Kami sudah menentukan hukuman barunya," tambah Levy. Ia menarik dua buah borgol dan membukanya dengan kunci sambil tersenyum polos. "Kamu," ia menunjuk Gray.

"A-aku?" Gray tergagap.

"Iya, kamuu," Mirajane tersenyum polos. "Pakai borgol ini di tangan kanan."

"Kenapaaa..?" tanya Gray sok polos.

"Karena Natsu akan memakai borgol ini di tangan kiri," jawab Erza sambil menyeringai bersamaan dengan Mirajane dan Levy.

'Wanita memang menyeramkan..' pikir para lelaki, sweatdropped.

"K-kenapa aku?"

"Kau menolak, Gray?" tanya Lucy sambil memiringkan kepalanya dengan polos.

"Lucy!" rengek Natsu dan teriak Gray. "Mira! Borgol aku dengan Lucy!" pinta Natsu.

Lucy mengibas-ngibaskan tangannya sambil menyeringai, "Ini balasan karena sudah menjadi seorang pervert tadi pagi."

"Uhh.. bukankah kau yang keluar sendiri," Natsu sweatdropped.

Geng 11-C yang mendengarnya langsung terdiam. Tadi pagi? Pervert? Keluar sendiri?

"Apa yang kalian pikirkan?!" jerit Lucy.

Natsu menghela napas. Ia berniat memasukkan tangannya ke dalam saku celananya, tetapi merasakan sesuatu yang keras dan dingin melingkari pergelangannya.

"He?!" Natsu dan Gray syok. "Oi! Lepaskan ini!" Gray menatap Mirajane yang sedang berjongkok dan meraba-raba tanah. "Apa yang kau lakukan?"

"Oh tidak," Mirajane menutup mulutnya dengan ekspresi kaget. "Kuncinya hilang."

"..." semuanya terdiam. Kemudian semuanya membentuk lingkaran kecuali Gray dan Natsu.

"Temukan kuncinya dan ganti Gray-sama menjadi Jellal!" usul Juvia bersemangat.

"Sebaiknya Gajeel," usul Lucy.

"Tidak, Natsu dan Gray sudah cocok," kata Levy. "Supaya persahabatan mereka lebih erat."

"Hmm? Bagaimana kalau Natsu dan Erza?" tawar Mirajane.

"Temukan saja dulu kuncinya baru membahas ini," Jellal sweat dropped.

"Baiklah. Apapun yang terjadi, jangan biarkan mereka ke toilet bersama-sama," Erza memperingatkan.

Levy mengangguk. "Jika mereka memang harus ke toilet, setelah mereka keluar tanyakan jika bokong mereka sakit—"

"KAMI TIDAK GAY!" teriak kedua korban yang terborgol. Lisanna tiba-tiba menarik lengan Natsu sambil tersenyum senang.

"Sepertinya aku menemukan kuncinya!"

"Bagus, Lis!" seru Lucy. Lisanna memutar bola matanya, kemudian ia menarik lengan Natsu dan Gray ke suatu tempat. "Haik, haik.. aku akan pergi ke tempat hilangnya kunci, oke?"

Mereka bertiga pun menghilang.

Lucy menatap ketiga orang yang baru saja pergi dengan khawatir. Kenapa.. perasaanku tidak enak?

"Apa masuk akal jika kuncinya jatuh sejauh itu padahal Mirajane menghilangkannya di sini?" dengus Gajeel. Semuanya terkejut. "Maaf saja Mira. Tetapi aku tidak menyukai adikmu."

"Gajeel!" tegur Levy.

Mirajane menatap kedua kakinya sambil berkata, "tadi.. dia mengambil kuncinya dariku dan memberitahuku agar pura-pura menghilangkan kuncinya. Kupikir itu adalah rencananya untuk mendukung Natsu dan Lucy bersama.. jadi kuturuti.. karena tadi malam dia ingin meminta maaf pada Natsu..." Mirajane mengangkat kepalanya dan mata birunya menemui mata teman-temannya yang kebingungan.

"Meminta maaf karena apa, Mira?" tanya Erza.

"Tunggu, tunggu, mendukungku dengan Natsu?" Lucy berkacak pinggang. "Apa maksudnya itu?"

Levy dan Mirajane menatap Lucy dengan mata lebar. Aku...kelepasan... batin Mirajane panik.

"Jadi?" Lucy bertanya dengan kesal. "Pantas saja aku merasa aneh. Apa kalian bermain matchmaker di belakangku?"

"Lucy.. kami—" Levy memotong, tapi ia dipotong oleh Lucy.

"Jelaskan, Levy. Apa yang akan kalian rencanakan? Aku sudah cukup curiga saat kita membuat drama."

"Etto.." Levy memainkan ujung roknya. "Aku.. ingin Natsu membuatmu menjadi feminin lagi.. seperti saat SMP..agar.. dia bisa lebih dekat denganmu.."

"Membuatku..menjadi feminin?"

"Sejak SMP?" ulang Mirajane heran. "Aku sudah mengenal Lucy sejak kami TK, dan dari cerita-cerita Lisanna, dia memang tomboi dari awal."

"Tetapi saat SMP, dia feminin!" seru Levy ikut bingung.

"Apa yang terjadi?" Erza heran.

"Levy, bukankah aku tidak ingin menjadi seperti dulu lagi?" Lucy menatap Levy dengan tajam. "Apa yang kukatakan saat kita masuk SMA?"

"Kau sudah banyak berbohong, Lu-chan!" sanggah Levy. "Kau selalu memendam perasaanmu dan berhenti menangis! Bukankah itu salah!"

"Aku tidak ingin menjadi lemah," Lucy memalingkan wajahnya. "Aku berusaha menjadi kuat.. agar saat aku kehilangan seseorang lagi, aku tetap kuat.." mata coklatnya memandang arah Natsu, Gray dan Lisanna pergi. "Dan aku sangat takut akan kehilangan Natsu kali ini..." Lucy mengepalkan tangannya. "Aku takut dia akan diambil oleh Lisanna! Aku tahu, itu egois!"

Mirajane menatap Lucy dengan sedih.

"Bukankah rasanya lebih sakit jika kau memendam perasaan itu?" Levy berujar pelan.

"Tolong jangan bahas ini lagi Levy,"

"Lu-chan, aku tahu Summer itu Natsu," Levy berjalan mendekati Lucy. "Kau berkata, di dalam mimpimu Summer hilang. Apa kau bisa mengatasinya jika di dunia nyata, Natsu menghilang?"

Lucy terdiam.

"Aku membantumu, Lu-chan. Untuk bisa bersama dengan Natsu—"

"Kenapa kalian tidak fokus kepada Jellal dan Erza yang sudah berpacaran diam-diam?" balas Lucy, kemudian berlari pergi. Jellal dan Erza menatap Lucy dengan wajah kaget, sedangkan Mirajane menatap kedua anggota OSIS dengan ekspresi tidak percaya.

Bersamaan dengan itu, Gray datang dengan wajah santai. Ia melihat atmosfer diantara teman-temannya begitu tegang. Ia mengernyitkan alis.

"Ada apa dengan kalian?"

Levy hanya menggelengkan kepalanya, kemudian berlari menyusul Lucy.

"Shrimp.." gumam Gajeel.

.

Sementara itu, Gray dan Natsu di seret Lisanna ke sebuah gang diantara dua toko.

"Whoa, Lisanna. Bagaimana bisa kuncinya jatuh sampai ke sini?" seru Gray heran. Lisanna menjulurkan lidahnya sambil mengambil kuncinya dari dalam saku jeans-nya.

Natsu menatap Lisanna dengan kesal. Sialan..

"Aku baru ingat ternyata ada di saku celanaku!" jawabnya riang. "Ne, Gray-senpai, bagaimana kalau kita gantian?"

"He?"

"Natsu-senpai akan diborgol bersamaku!" jelas adik sang she-demon. Gray tersenyum lebar. "Aku tidak akan melewatkan kesempatan emas ini." Ia menyeringai ke wajah suram Natsu. Seringainya hilang. "Oi, flame head, kenapa diam saja? Kau sembelit?"

"Tentu saja tidak, ice princess!" geram Natsu. "Memangnya kenapa kalau aku diam?"

"Wajahmu menjadi tambah jelek," jawab Gray.

"Hah! Wajahku lebih baik darimu, kakek tua!"

"Tidak mungkin! Aku heran kenapa Lucy bisa menyukaimu!"

"Karena aku lebih baik darimu! Mungkin Juvia sudah buta karena terobsesi denganmu!"

"Jangan hina Juvia!"

"Jangan hina Lucy dari awal!"

"Minna..." desis Lisanna dengan kesal. Lucy lagi, Lucy lagi. "Bisa aku lepas borgolnya sekarang?"

"Uuh, tentu," jawab Gray, sementara Natsu terdiam kembali.

Setelah terbuka, Gray melompat gembira. "Bagus! Kalau begitu, aku duluan ya! Jaa!"

Lisanna melambaikan tangannya kepada Gray kemudian menatap Natsu dengan wajah kesal. Ia meraih syal Natsu dan menggosokkannya ke mulut sang pemuda dengan kasar.

"Ewh! Aku yakin ada bekas mulut Lucy di situ!" desisnya kesal. Natsu tetap diam sambil menatap Lisanna dengan tajam.

"Natsu, katakan sesuatu." desak Lisanna. "Jika maaf apa yang kau inginkan, baiklah~ aku minta maaf. Mira-nee juga mendesakku. Jadi, disinilah aku. Untuk meminta maaf. Jadi, maafkan aku?" pintanya dengan suara yang diimut-imutkan. Natsu berdecak.

Walaupun hanya decakan, Lisanna sudah senang itu adalah respons pertama Natsu kepadanya sejak SMP.

"Ayolaaah~" Lisanna mendekatkan wajahnya ke wajah Natsu, "apa spesialnya Lucy Heartfilia?"

Natsu ingin menjawabnya, sangat ingin. Tentang Lucy. Lucy itu spesial, tidak bisa dijabarkan melalui kata-kata. Dan ia mencintai Lucy karena dia Lucy.

Tetapi Natsu sudah berjanji untuk tidak berbicara pada gadis ini.

Gadis yang telah menipunya dahulu—!

Kemudian Natsu mendengar Levy meneriakkan nama Lucy dari kejauhan. Untunglah pendengaran Natsu termasuk di atas rata-rata. "Lucy.." ia bergumam, lalu melepaskan cengkraman Lisanna di bajunya.

"Natsu-senpai!" desis Lisanna sambil menarik lengan Natsu. Tiba-tiba ia mendapat ide.

Lucy, yang merasa mendengar nama Natsu, berhenti tepat di depan sebuah gang. Disuguhkan pemandangan Natsu berada di atas Lisanna, menciumnya.

.

Levy melihat semuanya. Bagaimana Lisanna tersenyum licik sambil menarik Natsu ke atas dirinya lalu menempelkan mulutnya yang penuh dusta dengan mulut Natsu. Levy tidak bisa melihat ekspresi Natsu, tetapi ia yakin pemuda itu membelalakkan matanya.

Dan untuk pertama kalinya sejak SMP, ia melihat sahabatnya, berlari dengan mata coklat yang berkaca-kaca.

Sial.

Sekarang Lucy akan berpikir semua kekhawatirannya tentang kehilangan Natsu akan nyata. Terima kasih pada Lisanna...

"Sial.." desis Levy sambil mengacak-acak rambutnya. Seorang Levy McGarden tidak pernah mengutarakan kata-kata seperti itu, tetapi kasus ini lain. Levy berlari tepat di depan gang dan mendapati Natsu tengah mendorong Lisanna dengan kasar.

"Aku sangat membencimu sekarang," katanya dengan suara rendah sambil mengelap mulutnya dengan wajah jijik. "Kau mempunyai dua pilihan di sini. Meminta maaf pada Lucy atau tidak menampakkan wajahmu lagi padaku."

"Tidak bisakah kau memandangku?!" teriak Lisanna sambil menangis. "Lucy ini! Lucy itu! Apa spesialnya dia?!"

"Dia, adalah orang YANG TIDAK AKAN MEMBENCI TEMAN MASA KECILNYA SENDIRI!" balas Natsu sambil berteriak. Lisanna mundur ketakutan. "Aku sendiri tidak tahu apakah dia membencimu atau tidak. Dia adalah tipe orang yang menyembunyikan perasaannya, semenjak sebuah kejadian. Sebenarnya aku berterima kasih jika ada orang yang membuatnya mengekspresikan perasaannya—seperti menangis," Natsu bangkit berdiri.

"Tetapi, jika itu adalah kau," Natsu menatap Lisanna tajam, "jangan berharap lebih." Ia beranjak melewati Levy. "Sekarang, enyahlah." pemuda itu berlari menyusul Lucy tanpa mempedulikan apa-apa lagi.

Lucy ...

.

"Li-chan.." Levy tersenyum pada Lisanna, menawarkan tangannya untuk membantu Lisanna berdiri. Lisanna tersenyum, menerima tangan Levy dan bersiap untuk memutarbalikkan fakta lagi. Tetapi apa yang ia terima adalah rasa nyeri di pipi.

Sontak gadis itu memegang pipinya dengan kaget.

"Itu untuk menusuk sahabatku dari belakang..." Levy tersenyum. "Maaf.. walaupun kakakmu adalah teman baikku, tetapi aku tidak bisa menoleransimu lagi. Lagipula, aku berhutang maaf juga untuk Lu-chan.."

"Tepatnya kami," Mirajane menghela napas dari belakang.

"Mira-nee.." Lisanna berbisik.

"Jika kau tidak berniat untuk meminta maaf, sebaiknya tidak usah ikut." Mirajane menatap adiknya tajam. "Apa yang akan kau lakukan setelah ini? Apa manfaatnya bagi dirimu? Dengar, Lisanna. Aku... tahu, bagaimana rasanya cinta bertepuk sebelah tangan..."

Wajah seorang pemuda pirang jutek dengan headset muncul di benaknya.

"Tetapi aku tidak pernah memaksanya untuk mencintaiku juga."

Gray muncul dari belakang dengan wajah kesal. "Jika aku tahu rencanamu begitu, aku pasti takkan meninggalkan kalian berdua. Flame brain tetaplah temanku. Jika kau melakukannya lagi, walaupun kau adalah adik dari Mirajane, aku tidak akan segan-segan memberimu pelajaran."

Mata hitamnya menangkap seorang gadis berambut biru panjang yang tiba-tiba berlari pergi dengan wajah menunduk. "Juvia?" ia celingak-celinguk. "Juvia!" kemudian ia berlari menyusul calon kekasihnya tanpa tahu arah.

Gajeel tidak mengatakan apa-apa, tetapi melalui tatapan tajam matanya yang merah, ia tahu Lisanna menangkap pesannya: sialan.

Jellal dan Erza hilang entah ke mana.

Sang gadis berambut putih salju itu mulai menangis, menangis tanpa peduli lingkungan sekitar dan lirikan berbagai ekspresi orang-orang yang lewat. Angin musim semi berhembus diiringi kelopak bunga Sakura yang gugur. Yang terdengar hanya tangisan seorang anak perempuan yang merintih meminta maaf berkali-kali.

Keheningan menyelimuti mereka saat tangisnya reda.

Gajeel akhirnya angkat bicara. "Simpan maafmu untuk flame breath dan bunny girl nanti. Kau bukan hanya menyakiti bunny girl, tetapi juga menyakiti flame breath."

Lisanna mengerjapkan matanya lalu mengangguk kecil sambil melihat ke arah lain. Mirajane mengulurkan tangannya, kali ini Lisanna tidak merasakan nyeri di pipi, melainkan kelembutan tangan kakaknya.

"Bagaimana kalau sekarang kita mengunjungi Elf-nii dan kuburan ayah ibu?" tawarnya sambil tersenyum. Lisanna kini tersenyum pahit, "untuk menebus dosaku."

.

"Lucy! Lucy!" teriakan seorang pemuda berambut pink terdengar di seluruh penjuru pusat perbelanjaan. Natsu Dragneel berlari dari toko ke toko, mencari seorang gadis berambut pirang yang baru saja ia dapatkan hatinya. Sial..

"Luce! Lu—" BUUKK.

"Oi, lihat-lihat jalan, brengs—ah, flame breath?"

"Ice princess?" Natsu menatap Gray yang juga terjatuh karena aksi saling menubruk mereka. Kedua lalu menghela napas dengan aura depresi menguar dari tubuh mereka.

"Lucy—Juvia—kabur.." ujar mereka bersamaan. Mereka berdecih bersamaan. Kemudian mereka melotot kepada satu sama lain.

"Jangan mengikutiku!" seru mereka bersamaan lagi. Natsu mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.

Tidak ada satu patah kata pun diantara keduanya.

"Oi.." Natsu memulai. "Lucy kabur masih wajar—bagaimana dengan Juvia?" tanyanya.

Gray mencibir dengan kesal. "Mana kutahu! Tahu-tahu dia sudah kabur sambil menangis—aku curiga bahwa adik Mirajane telah melakukan sesuatu padanya!" jelasnya berapi-api. "Padahal.. hari Minggu aku sudah berjanji padanya.."

"Ha!" Natsu menunjuk Gray dengan jari tengahnya. "Juvia pasti meragukan janji palsumu itu!"

"Lalu kenapa kau menunjukku dengan sopan begitu?!"

"Jadi kau ingin aku menghormatimu, kakek?!"

"Lihat siapa yang bicara, dasar keriput api!"

"Apa kau bilang?!"

Lalu keduanya diselimuti aura depresi kembali.

"Aku akan mencari Juvia," Gray bergumam, lalu menyeringai kepada Natsu. "Lebih cepat dari kau mencari Lucy."

Natsu berdiri dari duduknya, "aku anggap itu sebagai tantangan, otak es."

"20 menit." ujar Gray.

"Terlalu lama," balas Natsu. Kemudian keduanya berlari berlawanan arah.

.

Lucy Heartfilia tidak akan menangis. Lantas mengapa matanya terasa perih? Lantas.. mengapa matanya berair? Lantas, mengapa rasanya ia ingin berteriak dan mengeluarkan cairan itu dari kedua matanya?

"Hanya.. orang cengeng.. yang menangis.." bisiknya, sementara sebulir air mata turun dari matanya. "Setiap orang akan ditinggalkan, dan itu wajar..." bisiknya lagi, sambil berjalan ke taman kota.

"Jadi.." tes.

"...Aku..." tes. tes.

"...Nggak boleh..." tes tes tes..

"Na..hiks..ngis.." Lucy mengusap kedua matanya dengan kasar. "AAAARGH!"

Ia menendang batang sebuah pohon hingga kakinya terasa sakit, membuat burung-burung yang sedang bertengger terbang pergi. Ia menendang dan menendang.

"AKU.." tendang.

"NGGAK.." tes. tendang.

"BOLEH.." tes tes.

"Nangis." Perintah sebuah suara di belakangnya. Lucy tak perlu menoleh lagi untuk mengetahui pemilik suara itu. Sayup-sayup ia mendengarnya berbisik '10 menit' pada dirinya sendiri, tetapi mengabaikannya.

"Nggak mau." Bisiknya, tak peduli jika perkataannya tidak sesuai dengan kenyataan. Karena nyatanya, kedua matanya mengeluarkan cairan bening itu lagi. "Aku benci padamu. Jadi pergi."

"Benci saja Lisanna."

"K-Kenapa?! Dia adalah sahabatku—"

"Sahabat nggak mungkin menusuk sahabatnya dari belakang kan?" ujar Natsu sembari duduk di samping Lucy. Mata onyx-nya menatap Lucy bagaikan sinar x-ray. Bagaikan bisa menembus tubuh gadis itu. "Dan aku tidak akan meninggalkanmu begitu saja, Lucy Heartfilia." Ia menunjukkan cengirannya.

Sontak, Lucy memalingkan wajahnya yang memerah.

'Sial.. bahkan di saat seperti ini..!' geramnya. "Pergilah. Sudah kubilang aku membencimu!"

"Nggak percaya," Natsu menjulurkan lidahnya.

"P-percayalah!" desak Lucy kesal sambil menendang pohon di depannya. "Walaupun.. aku tak punya hak untuk membencimu."

"Kenapa?"

"Karena Lisanna sudah memenangkan pertarungan ini!" seru Lucy dengan bahasanya yang aneh. Natsu sweatdropped.

"Jadi seharusnya kau membenci Lisanna." Ujarnya simpel.

"Nggak bisa!" Lucy ngotot, melupakan kesedihannya. "Aku membenci diriku sendiri! Aku cengeng! Aku sudah menahan tangis selama 5 menit tetapi cairan itu—cairan itu tetap keluar selama 2 menit!"

"Kau menghitungnya?" Natsu sweatdropped lagi. "Jadi? Kenapa kau tidak melampiaskan emosimu dengan.. err.. kau tahu.. menendang? Memukul?"

"Tidak ada yang bisa dihancurkan di sini," Lucy kemudian duduk memeluk lututnya di sebelah Natsu. Natsu menatap Lucy dengan ekspresi aneh, lalu terkekeh.

"Jadi sepertinya kau tidak punya pilihan lain, ya?" bisiknya, lalu memeluk gadis pirang di sampingnya. "Pertama, kau mendengarkanku, kedua, menangis di sini, ketiga, memukulku."

Lucy tidak berbicara apa-apa, hanya membiarkan pemuda di sampingnya memeluk tubuhnya. Natsu tersenyum lebar, "Bagus! Aku hanya ingin mengatakan, Lisanna-lah yang menarikku."

Lucy yang masih terdiam langsung memukul lengan Natsu dengan keras.

"Oi! Untuk apa itu!"

"Aku takut ditinggalkan," ungkap Lucy, berbisik. "Aku takut ditinggalkan seperti dulu. Makanya.. makanya aku belajar untuk menjadi kuat. Aku yakin suatu saat hal ini pasti terjadi, makanya aku—"

"Oh, intinya kau tidak mempercayaiku."

"B-bukan begitu, bodoh! Aku mempercayaimu, aku mencintaimu! Makanya aku takut!" seru Lucy dengan kesal. Natsu menatapnya dengan mata yang melebar, sementara Lucy langsung memerah begitu kekasihnya menyeringai.

"Oh, begitu..."

Mata hitamnya berusaha menatap mata karamel yang selalu menghindar untuk ditatap. Natsu tersenyum lembut. "Yah, kalau begitu sih, jangan takut lagi! Karena aku takkan meninggalkanmu!"

Kini gadis itu menatap Natsu dengan pandangan tidak percaya. "Bodoh.." gumamnya kaget. "Dari cara berjanjimu, aku meragukannya." Ujarnya, meninggikan nada suaranya. Tetapi Natsu sangat tahu bahwa gadis itu hanya mempertahankan harga dirinya.

"Hehe."

"Apa yang lucu?!"

Natsu hanya tersenyum lebar melihat gadis di depannya. Gadisnya. "Tenang saja, aku akan membuktikannya padamu!"

Lucy memukul lengan pemuda itu lagi, malu. "L-lagipula! Kenapa kau sangat membenci Lisanna? U-uuh.." tanyanya, mengganti topik pembicaraan yang sayangnya salah. Natsu terdiam. Lucy menjadi panik dan menyangka pemuda itu akan cemberut atau sebagainya—bagaimanapun juga Lucy yakin itu adalah pengalaman paling menyebalkan bagi si pinkie head—tetapi saat ia melihat wajahnya, Natsu tersenyum lebar.

"Akhirnya!" serunya gembira.

"A-apa?" Lucy sweatdropped.

"Aku bisa mengajarimu bagaimana membencinya!" jawabnya dengan berseri-seri. Samar-samar, pelangi terbentuk di belakangnya.

"Oi," si blonde sweatdropped.

Natsu berdehem, mengabaikan ekspresi aneh yang diberikan Lucy, kemudian dengan berapi-api ia mulai bercerita...

.

Tbc

.

A/N: JAHAT BANGET YA YAMA. Udah gitu ninggalin fic ini terus cuma ngasih 3k+ words DX gomen gomen. Yama sempet sakit nih /curhat. Tapi pulsa udah keisi /eh. Terus scene di atas kok kayak agak maksa ya-_-a Udahlah!

Minta saran, pendapat, kritik di chapter ini dalam review? :3

Next Chapter:

"Kami butuh penjelasan." Tuntut Grandine, Layla dan yang mengejutkan—Wendy?!

"Juvia merasa dirinya seperti Lisanna.." "Kau salah, Juvia."

"Mirajane, kami mengaku kalah."

"Jadi.. itu sebabnya kau membenci Lisanna?"

"JADI ALASAN KALIAN MENYEMBUNYIKAN HUBUNGAN HANYA KARENA ITU?!"

Sweatdrops, sweatdrops everywhere.

.

See you next chap!