A/N: Alohaa~ oke. Banyak yg nanya sejak kapan natsu nembak lucy? Ingat ga sih setelah Mr. Gray of The Day natsu langsung nyatain cinta ke lucy di kelas? Itunglah itu sebagai nembak krn lucy juga bilang ILY pas di dare jd feminin XP hahah jayus/?

On with da story!

.

"Juviaaa!"

Gray memasuki toko baju kesukaan Juvia.

"Juviaa!"

Gray memasuki toko payung kesukaan Juvia.

"Juvia!"

Gray memasuki toko aksesoris kesukaan Juvia.

"Juviah.."

Gray memasuki toko boneka kesukaan Juvia.

"Juviah...hah.."

Gray memasuki toko es krim kesukaan Juvia.

...dan sekaligus beristirahat di sana sambil memesan semangkuk es krim.

"Sial, ke mana perginya dia?!" gerutu Gray setelah pesanannya datang. Sudah hampir setengah jam ia mencari gadis berambut biru itu. Tubuhnya berkeringat—tunggu, kenapa ia bertelanjang dada? Ah sudahlah.

Gray Fullbuster juga bisa lelah. Lelah dengan Juvia Lockser. Gadis itu memang membingungkan. Kenapa ia tiba-tiba berlari seperti itu? Hari ini tidak sesuai rencana, ya. Belum lagi katanya Levy akan membagikan keuntungan tiket drama per orang. Kemudian Lisanna. Kemudian Jellal dan Erza.

"TERLALU MEMBINGUNGKAN!" teriaknya stress. Sebuah keluarga yang akan duduk di meja di sebelahnya, buru-buru berpindah tempat.

"Flame brain pasti akan mendapatkan Lucy dua jam kemudian! Aku yakin!" Gray menyemangati dirinya sendiri. Tiba-tiba, hapenya berbunyi.

From: Flame Brain

Oi, pecundang! Rekorku 17 menit.

Gray tersenyum kesal. Sialan... pikirnya sambil menekan keyboard hapenya.

To: Flame Brain

Hah! 17 menit terlalu lama!

'Send,' pikirnya lagi. Beberapa detik kemudian, Natsu mengirimkan gambar Lucy lengkap dengan waktu ia memotretnya. Terlihat, Lucy memang sedang mengenakan pakaian yang mereka lihat saat berkumpul hari ini.

From: Flame Brain

unduh: file gambar 28,20KB

Hmph B-)

"Teme!" desis Gray. "Aku tidak kepikiran! Sudahlah! Aku harus mencari Juvia!" Gray memasukkan sesuap es krim besar ke dalam mulutnya dan menaruh uang di meja.

Sementara itu, di tempat Natsu dan Lucy berada, si rival Gray sedang tertawa penuh kemenangan.

.

"Gray-sama.. mencari Juvia! Juvia sangat senang!" bisik Juvia pada dirinya sendiri. Sekarang ia sedang bersembunyi di balik sebuah pohon sambil melihat Gray-sama-nya dari kejauhan. "Tetapi.. bagaimana jika Gray-sama dipaksa oleh Erza? Atau Mirajane? Juvia pasti sudah membuatnya tersiksa," tambah gadis itu sedih.

"Baiklah! Juvia tidak boleh bersembunyi lagi dan ucapkan selamat tinggal!"

"Memangnya mau ke mana, sayang?"

"KYAH!"

Lyon meraih salah satu tangan Juvia dan menciumnya. "Jika kau ingin mengucapkan selamat tinggal kepada Gray, ucapkan halo kepada Lyon-sama, karena aku takkan pernah terpaksa dalam mencintaimu."

"Lyon..san.." Juvia menarik tangannya kembali. "Maaf, Juvia masih mencintai Gray-sama."

"Uuh.. Juvia?"

"KYAH! GRAY-SAMA!" jerit gadis itu untuk kesekian kalinya.

"Kau ini kemana saja sih? Dari tadi aku mencarimu!" keluh Gray. "Apa Lisanna menyakitimu? Kalau iya, akan kuberi pelajaran—"

"Tidak, tidak, terima kasih karena Gray-sama sudah mengkhawatirkan Juvia, walaupun itu tidak perlu," ujar Juvia dengan wajah sedih. Ekspresi Gray ikut berubah.

"Maafkan Juvia karena sudah memaksa Gray-sama selama ini."

"Apa? Kapan?"

Juvia menarik napas panjang sembari memutar payungnya, walaupun hari ini masih cerah. "Juvia... eum.. cinta Juvia.. sudah membuat Gray-sama menderita. Seharusnya Gray-sama tidak perlu mencium Juvia saat itu jika hanya untuk menghibur Juvia."

"M-m-mencium?!" pekik Lyon kaget. "Kau...dan...Juvia-chan?!" kemudian ia berteriak-teriak histeris selagi tiba-tiba diseret Toby dan Chelia dari belakang.

"Maaf menginterupsi," seru Chelia. Meninggalkan Gray dan Juvia berdua.

"Juvia..."

"Juvia merasa dirinya seperti Lisanna.."

Mendengar kalimat tersebut, Gray menyadari sikap Juvia yang aneh. Jadi bukan Lisanna yang menyakitinya, tetapi Juvia merasa menyakiti Gray karena melihat sikap Lisanna terhadap Natsu.

Gray menarik napas panjang, lalu menghembuskannya. Tentu ia merasa kehadiran Juvia yang tiba-tiba bak seorang stalker (yah, dia memang stalker sih..) tapi jika gadis itu tak ada, ia merasa sesuatu yang kurang. Keganjilan menyelimuti hatinya. Rasanya.. seperti setengah jiwamu hilang, kau tahu?

Kata Mirajane sih.. itu.. cin—cin—cincau.

"Tidak.." gumam Gray akhirnya. "Kau salah, Juvia."

Juvia tampak kaget mendengar Gray, terlihat dari mata yang sedikit melebar. "Tapi, tidakkah Gray-sama merasa menderita seperti Natsu kepada Lisanna?"

"Tidak sama sekali." Gray merasa ujung bibirnya tersenyum lebar. "Alasan aku menciummu waktu itu karena.. instingku berkata begitu." Gray lalu menyentil dahi Juvia, dibalas oleh pekikan kecil dari sang empunya dahi. "Jangan pernah mengatakan kau tidak akan menganggu hidupku lagi, Juvia. Kurasa.. aku.. aku menyukaimu. Lebih baik kau menganggu hidupku sekarang." Ia terkekeh pelan.

Gadis yang terobsesi dengan pria yang tengah memeluknya kini tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Ah, hidup tak pernah terasa seindah ini. "Aku lebih mencintai Gray-sama!"

'Mencintai, huh..' pikir Gray dengan pipi yang agak memerah. Tiba-tiba, tanpa rasa ragu, gadis itu menempelkan sebuah kecupan di bibir Gray... yang tentu saja dibalas oleh pemuda itu.

Sayup-sayup mereka dapat mendengar backsound tangisan Lyon.

.

Langit mulai memerah menjelang malam. Natsu berjalan bersampingan dengan gadis (miliknya, jika ia harus tegaskan) berambut pirang yang sedari tadi diam. Mereka terdua terdiam dalam keheningan yang agak canggung. Yah, mungkin semenjak ia menceritakan bagaimana ia membenci Lisanna, pemuda itu dipukul berkali-kali dengan jurus mematikan karate Lucy.

'Nggak ngerti lagi,' pikirnya, memasang wajah bosan dan kesal. 'Tapi aku akan tetap tidur di kamarnya malam ini.'

"Kita sudah sampai," ujar Lucy, memecah keheningan. Natsu yang kaget mundur sedikit karena takut tiba-tiba akan dipukul lagi, tetapi masih memasang wajah bosan.

"Natsu," panggil Lucy. Natsu menoleh pelan-pelan, keringat menetes dari dagunya. "Aku ingin kita meminta maaf pada Lisanna besok, oke?! Besok hari Minggu, kan? Jadi, kurasa.. dia punya waktu," katanya, tanpa melihat ke arah Natsu. Natsu terdiam, tetapi kemudian tersenyum lebar.

Lucy menutup pagar di belakangnya tanpa menguncinya, tanpa tahu Natsu mengikutinya dari belakang.

Ia mengingat beberapa percakapan yang mereka lakukan di taman.

"Pertama kali masuk SD, Lisanna berjanji padaku ia akan menikahiku duluan dari gadis yang lain. Aku sempat berpikir tentangmu, tetapi karena aku cuek.. aku hanya diam, dan Lisanna mengira diamku adalah setuju."

Lucy membuka pintu rumahnya yang terbuat dari kayu asli yang agak berat itu, dan ia masih belum menyadari kehadiran Natsu di belakangnya.

"Lalu, setelah itu, ia selalu mengikutiku kemanapun aku pergi, hingga kita satu SMP. Dan sebenarnya itu membuatku muak. Ia mengusir semua cewek yang mengajakku mengobrol, dan akhirnya kami dijuluki pasangan suami-istri." Ujar Natsu pelan, mengepalkan tangannya.

"Ah.." Lucy tidak tahu ingin berkomentar apa.

"Lalu teman-temanku di kelas maupun klub sepak bola mulai menjauhiku karena merasa terganggu dengan Lisanna. Lisanna bahkan menganggap, jika aku bermain bersama laki-laki berarti aku gay!"

"Hmm.. tapi sebenarnya, jika aku melihatmu bersama Gray, hot juga," pikir Lucy dengan suara yang keras.

"Kau terlalu banyak menonton anime yaoi," Natsu sweatdropped, menghapus bayangan Gray dan dirinya sedang bermesraan.

Tepat saat Lucy berhenti mendadak karena berpikir, Natsu yang berada di belakangnya menabrak Lucy, dan Natsu merasakan beban yang lebih banyak di belakangnya karena... kedua orang tuanya dan orang tua Lucy juga mengalami tabrakan beruntun.

"Ouch!" seru Grandineey. "Siapa yang melanggar rambu lalu lintas?!" pekiknya kesal. Lalu matanya berbinar melihat Natsu dan Lucy. Lucy sendiri baru 'sembuh' dari kegiatan melamunnya.

"Natsu, kenapa kau ada di sini?!"

"Ibu, ayah, kenapa kalian di sini," mengabaikan pekikan Lucy, Natsu menatap kedua orang tuanya dengan wajah bosan.

"Aku juga di sini," suara kecil yang manis menampakkan kehadirannya.

"Ara, Wendy-chan!" Lucy berlutut sambil merentangkan tangannya, spontan Wendy berlari memeluk gadis yang ia panggil 'kakak' itu.

"Lucy-nee sangat wangi.." puji Wendy.

Wajah Lucy memerah. "A-ah.. terima kasih Wen—"

"Wanginya seperti Natsu-nii. Apa yang kalian lakukan?" suara manisnya tiba-tiba menjadi pelan dan serius. Poni biru panjangnya menutupi salah satu matanya, dan mata yang terlihat berkilat-kilat.

"Eh?!" keduanya terlonjak kaget.

"Oh, astaga!" Layla menutup mulutnya dengan kaget. "Jika seorang wanita tercium seperti seorang laki-laki, berarti...!"

"Ah! Ibu! Kami tidak—!" Lucy berusaha menyangkal.

"Natsu! Apa kau gunakan perlindungan? Atau sudah menyuruh Lucy meminum pil?" tanya Igneel dengan tatapan mengintimidasi.

"Ayah! Bukan begi—"

"BUKAN?! APA MAKSUDMU?!"

Jude hanya tersenyum grogi sambil sweatdropped.

Orang tua mereka semakin cerewet dalam menginterogasi mereka, sehingga Lucy terpaksa harus berteriak, "INI SALAH PAHAM!"

Hening.

"Y-yah! Aku dan Lucy takkan melakukan itu di usia yang sangat muda!" Natsu langsung menegaskan. "Lagipula, kami belum sejauh itu.. kami baru berpacaran belum satu bulan—"

"Iyahh! Jadi, Wendy-chan, jangan berpikir aneh-aneh ya? Bauku sama dengan Natsu karena tadi pagi aku menyemprotkannya parfum dan semprotan itu mengenaiku, ahaha," Lucy mengibas-ngibaskan tangannya. Dalam hati Natsu menggerutu seharian ini ia belum mandi sama sekali.

"Jadi begitulah." Ujar mereka bersamaan.

Setelah mereka mendengar beberapa helaian napas, mereka pikir mereka sudah masuk ke zona aman, tapi..

"Tapi.. saat itu aku melewati kamar Lucy.. dan mendengar bunyi kecupan dan tawa.. hmm, apa itu kira-kira?" Layla menatap ke atas dan pura-pura berpikir. Mendengarnya, Lucy dan Natsu memucat.

'Sial.. tertangkap basah!'

"Hu'um!" Wendy yang kini tak polos lagi, mengiyakan.

'Wendy!?' jerit Natsu dan Lucy dalam hati.

Kemudian kedua wanita itu memojokkan anak mereka. Mereka berjalan semakin maju, sedangkan Natsu dan Lucy semakin mundur. Bayangan tubuh mereka yang lebih besar menutupi Natsu dan Lucy.

"Kami butuh penjelasan," tuntut Grandine, Layla dan yang mengejutkan—Wendy?!

"W-wendy.. apa yang telah Mirajane katakan padamu?" bisik Natsu sweatdropped.

"Jadi.. apa yang ingin kalian jelaskan?" Layla menyilangkan kedua tangannya ke depan dada dan menghentakkan kakinya berkali-kali.

"U-uh.. kau jelaskan," pinta sang Dragneel kepada sang Heartfillia.

"Kau saja!" Lucy menolak.

"Dia kan ibumu!"

"Ibumu juga menuntutmu kan? Ditambah dengan adikmu!"

"Wendy tidak akan mengerti!"

"Oh ya?! Aku percaya kau menggumamkan sesuatu dengan nama Mirajane!"

"A-aku tidak—!"

Pertengkaran mulut mereka membuat Jude yang sedari tadi diam, berdehem.

Lucy dan Layla memucat. 'Jika Jude sudah berdehem seperti itu, gawatlah kita!' sedangkan para Dragneel hanya terheran-heran melihat kedua wanita Heartfillia yang gelisah. Jude sendiri tiba-tiba tersenyum.

"Igneel, bagaimana kalau kita minum kopi di ruang makan saja?" ujarnya sambil menepuk pundak Igneel dengan santai. Igneel memasukkan kedua tangannya ke saku.

"Bagus, Jude! Sudah lama aku tidak meminum kopi keluarga Heartfillia!"

"Hahaha, Virgo memang hebat."

Samar-samar percakapan kedua bapak-bapak itu menghilang dari zona pendengaran.

"Ehh..?" Layla dan Lucy sweatdropped. "Biasanya dia yang langsung memutuskan kan, kalau berdehem?" bisik Layla.

"Haaah, entah ada apa dengannya sekarang," Lucy menggelengkan kepalanya.

"Itu karena dia capek dengan kalian," gumam Wendy sweatdropped.

Grandineey kini tersenyum penuh kemenangan. "Sekarang jelaskan. Aku minta kalian menjelaskan dengan lengkap, detail, dan jenis-jenis kegiatan yang kalian lakukan."

'Sekalian aja bikin KTP?!' batin Natsu kesal.

"Ah terserahlah!" ucap Lucy tidak peduli lagi. "Intinya, aku dan pinkie head (Natsu: "Oi!") di sini, berpacaran kurang dari satu bulan!" jelasnya percaya diri.

"Kalau.. kegiatan?" ibu sang pinkie head mengernyitkan salah satu alisnya.

"Kegiatannya," kata Lucy masih percaya diri, kemudian pipinya mulai memerah dan kedua matanya menatap ke lantai, "b-b-b-b-berc-c-c-c-iuman... sepertinya."

'Di mana sikap percaya dirinya tadi?!' pikir semuanya kaget.

Pipi Natsu juga diselimuti semburat merah tipis, tetapi ia berani menatap ibunya dan ibu Lucy. Mata hitamnya penuh keyakinan menantang kedua mata wanita itu. "Ibu.. merestui kami.. kan?"

Layla yang sedari tadi menahan senyum, akhirnya senyum juga, lalu terjatuh ke belakang dengan banyak love yang beterbangan. Grandineey menyeringai, "bagus, bagus! Inilah yang kami tunggu. Bahkan kami sudah merancang pernikahan kalian!" ujarnya dengan mata berbinar-binar, sambil memikul Layla yang pingsan. "Lucy, aku minta izin masuk ke kamar Layla, ne?"

"T-t-tentu saja," Lucy sweatdropped.

Hening menyelimuti Natsu dan Lucy, karena Wendy buru-buru berlari ke ruang makan tempat ayahnya dan Jude bersantai.

"Bagaimana.. perasaanmu?" tanya Natsu malu-malu, memecah keheningan.

"Perasaan apa?"

Natsu kini menatap Lucy dengan intens. "Kita direstui. Bagaimana perasaanmu.. terhadap itu?"

Untuk pertama kalinya sang Dragneel melihat Lucy Heartfillia yang cuek seperti ini—dengan pipi yang merona dan ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman yang manis. "Y-yah, aku.. senang, kurasa. Yah." Walaupun ke-tsundere-annya masih ada, Natsu tahu betul gadis ini jarang menampakkan rasa senangnya.

"Haha, baguslah kalau begitu!" Natsu membalas senyumannya dengan cengiran boyish-nya, membuat Lucy gelagapan.

"Ah—Uhh, ya—"

Cup.

Natsu menjauhkan wajahnya dari kekasihnya, lalu berlari ke atas tangga menuju kamar Lucy. "Oi, Luce! Aku numpang mandi, ya!"

Sang gadis hanya menghela napas dan tersenyum kecil.

"Sejak Lisanna selalu mengikuti ke mana pun aku berada, aku mulai memikirkanmu, Luce. Secara tiba-tiba."

Pipi sang empunya nama memerah. "K-kenapa..?"

"Karena.." Natsu menghadap ke arah langit. "Lisanna berusaha menjadi dirimu saat bersamaku. Ia berusaha menjadi tomboi dan ia pernah mempunyai rambut panjang. Gaya rambutnya saat itu mengikutimu saat kita masih kecil, yaitu ponytail samping. Ia bahkan berniat untuk mengecat rambutnya menjadi pirang.."

"Heh! Dia sangat mengagumiku, ya?" tanya Lucy percaya diri. Natsu mendengus.

"Kurasa juga begitu! Lalu suatu hari ia menanyakan padaku, apakah aku sudah mulai mencintainya."

"Lalu.. apa yang kau jawab?"

"Tidak, tentu saja!" Natsu menatap Lucy dengan grin-nya. "Karena tidak ada yang bisa menggantikanmu, Luce!"

Perkataannya membuat Lucy kembali memerah.

.

Malam itu, entah kenapa..

"...KAU TIDUR DI SINI?!" jerit Lucy, memelototi Natsu yang berbaring santai di kasurnya.

"Ah ya, kenapa?" tanyanya tanpa dosa.

"Tentu saja itu salah!" tiga garis siku-siku muncul di dahi Lucy.

"Hari ini Igneel dan Grandine mengizinkanku untuk menginap, apa itu salah?" tanya Natsu lagi dengan seringai tampannya. Lucy menelan ludahnya. Pemuda ini selalu bisa mengalahkannya dalam berbicara.

Tidak! Lucy tidak akan kalah! ...lain kali.

"Ukh." Gerutunya, sambil masuk ke dalam selimut. "Aku akan menghajarmu jika menyentuhku." Ia menunjukkan glare-nya. Natsu agak berkeringat dingin sebenarnya jika mengingat rasa tinjuan Lucy—ah, ia merasa seperti suami yang takut pada istrinya.

"Apa 5 tahun ke depan aku akan hidup?" desahnya dramatis.

Tak ada jawaban atau gerak gerik dari gadis di sampingnya, menandakan ia sudah tidur. Menghela napas, Natsu mencari posisi yang nyaman untuk tidur lalu mencium kening Lucy. "Selamat malam, Lucy."

Mata karamel Lucy terbuka begitu mendengar dengkuran halus dari pemuda di sampingnya. Ah, ia sudah menunggu untuk 10 menit apakah Natsu sudah tidur atau belum. Sebenarnya, malam ini Lucy tidak begitu ngantuk. Percakapannya bersama Natsu di taman membuatnya terjaga.

"L-lalu, setelah kau memberikan jawabannya.. uhm," Lucy membuang muka agar blush-nya tertutupi. "Apa yang kau lakukan?"

"Aku mengumumkannya lewat speaker sekolah,"

"Eh?!" Lucy sweatdropped.

"Ehm, yah. Kalau tidak salah aku berkata, 'Aku sama sekali tidak menyukai ide Lisanna yang ingin menjadi istriku dan aku tidak setuju jika kalian mendukungnya!' dan beberapa kalimat lainnya tapi aku tidak begitu ingat."

"Hmm.." respons sang gadis, sambil melihat kelopak bunga dan dedaunan yang tertiup angin.

Natsu terdiam sejenak. "Lalu Lisanna membalasnya lewat speaker klub radio sekolah," kata pemuda itu dengan wajah kesal. "Ia berteriak sembari menangis—terdengar dari suaranya yang serak—dan ia mengatakan bahwa ia menyukaiku dan mulai mengumpatmu, Lucy." Natsu menatap Lucy dengan sedih.

Lucy mengenggam tangan Natsu yang notabene lebih besar dari tangannya.

"Ia mengancam warga sekolah agar tidak masuk ke SMA yang sama denganku kelak karena saat itu kami baru kelas 7, karena sebelumnya aku berkata aku akan masuk SMA yang sama denganmu, entah bagaimana aku akan mencari tahu."

"Tunggu, kau mengingatku sejak SMP? Lalu bagaimana kau tidak mengenaliku saat masuk SMA?" tanya Lucy heran.

"Aku tidak terlalu pandai mengingat wajah orang, oke? Aku hanya mengingat rambutmu dan sifatmu.." gumam Natsu, merasa bersalah. Lucy melihat raut wajahnya, dan tertawa kecil.

"Dasar pinkie head. Aku juga salah, aku tidak berpikir kau adalah Summer." Lucy mendesah kecil. "Jadi, bagaimana lanjutannya?"

"Aa!" Natsu kembali berapi-api. "Lisanna berkata, jika ada yang menemukanmu harus melaporkan padanya."

'Aku merasa dia adalah ketua geng yang mencari target,' pikir Lucy sweatdropped. "Apa ada teman SMP-mu di sini?" tanyanya sambil memainkan sebuah daun kering

"Hmm, tidak. Kurasa, mereka tidak peduli SMA tujuanku. Mungkin Mirajane yang memberitahu kita kepadanya."

'Woah.. aku tidak menyangka Natsu bisa berpikir sejauh ini,' pikir Lucy lagi. Ada apa dengan Natsu yang membuatnya ikut berpikir?

"Semua orang lalu memercayai hoax yang Lisanna sebarkan bahwa kau dan aku melakukan hubungan aneh yang anak SMP seharusnya tak lakukan. Itulah mengapa, sejak saat itu, namamu menjadi terkenal tetapi kotor—begitu juga namaku. Keadaan itu dimanfaatkan oleh Lisanna, jika aku tidak mengakuimu dan mengakui Lisanna, semua orang akan menemaniku lagi. Tetapi aku mengabaikannya, hingga tadi. Aku sendirian di sana, Luce. Tetapi walaupun tak mengingat wajahmu, aku terus membelamu, karena aku merasakan ketenangan begitu mengingatmu."

Lucy dapat merasakan wajahnya memanas, tetapi hatinya perih mendengar perjuangan Natsu membela namanya. Ia mengenggam tangan Natsu lebih erat.

"Aku.." bisiknya, matanya berkaca-kaca. Tidak, seharusnya ia tidak menangis lagi!

"Sssh, biar aku lanjutkan," sang pewaris Dragneel sempat kaget mendengar suara Lucy yang bergetar, lalu ia buru-buru memegang salah satu pipi Lucy dengan tangannya yang bebas. "Saat wisuda sekolah, setiap murid diminta untuk memberitahu kesan dan pesannya. Saat itu giliranku, dan semua memandangku dengan rendah. Aku hanya berjalan ke panggung tanpa menghiraukan mereka.

"Tiba di depan microphone, saat murid-murid lain mengatakan kata-kata formal dan kesan pesan membahagiakan mereka di sekolah ini, justru aku hanya mengatakan beberapa kalimat simpel.

"'Sekolah ini tidak terlalu berkesan bagiku.' Itu yang kuucapkan pertama kali. Beberapa orang tua murid dan guru terkejut dan berbisik-bisik, sedangkan Grandineey, Igneel dan Wendy hanya tersenyum. Entah apa yang ada di pikiran mereka. Lalu aku melanjutkan, 'tetapi karena aku mengingat seseorang bernama Lucy Heartfillia, walaupun aku sendiri, aku merasakan ketenangan di sini.' Saat itu aku memegang hatiku. Aku bersemangat dalam menjabarkanmu, Luce! Beberapa laki-laki di situ terlihat tertarik dengan penjabaranku. Kemudian, kalimat yang paling aku ingat adalah, 'jika kalian menemukan Lucy Heartfillia, kalian akan mengetahui dirinya yang sebenarnya. Jadi, simpan komentar kalian, atau kalian akan berurusan denganku.'

"Setelah mengucapkan itu, bukannya kembali ke tempat duduk, aku berlari keluar gedung dan merenung di atap gedung. Dan aku mengira-ngira kapan aku bisa bertemu denganmu lagi." Natsu mengakhiri ceritanya dengan menghela napas panjang. Ia memeluk gadisnya dengan erat. "Itulah mengapa... aku tidak menyukai cara ia menyampaikan perasaannya.. karena setelah itu.. ia mencemarkan namamu, Luce."

Pemuda itu merasakan baju kaosnya basah, dan ia mendengar suara Lucy, menangis tersedu-sedu.

"DASAR BODOH!" teriaknya, meninju dada Natsu.

"Ukh! Lucy—kenapa—?!"

"BODOH! BODOH BODOH BODOH!"serunya dengan air mata berlinang sembari terus memukuli Natsu.

"Ah! Lucy, hentikan—"

"KAU MENDERITA KARENA AKU 'KAN?! JADI KENAPA.. KENAPA KAU MEMBELAKU?!" serunya, kini mencengkram kaos pemuda itu. "K-kau.. hanya peduli padaku, demi dirimu sendiri kan?! Egois!"

"Apa maksudmu?!" balas Natsu kaget. "Aku melakukannya karena walaupun aku tidak menyadarinya dulu, aku mencintaimu!"

Lucy mencengkram kaos Natsu sangat erat—mungkin jika kaos itu basah, akan langsung terperas kering—sambil menangis, walaupun tangisannya mulai reda. Kini ia hanya sesenggukan sambil menggumamkan 'bodoh, bodoh, bodoh' berkali-kali.

Natsu sendiri tidak mengerti mengapa Lucy memanggilnya egois—sekali lagi, gadis itu memang aneh sejak dulu—tetapi ia mengerti mengapa ia membela gadis ini. Tentunya, Lucy sebenarnya pasti mengerti, walaupun dipikiran gadis itu, ia yang menyebabkan Natsu menderita.

"Kau.. tentu mengerti kenapa aku membenci Lisanna, kan?" mulai pemuda itu pelan-pelan. "Tentu kau mengerti siapa yang salah, kan?"

"Aku!" celetuknya ngotot, membuat Natsu sweatdropped.

Lucy kembali terdiam dan dalam hati menyalahkan dirinya. Tetapi ia tidak mengira perkataan Natsu selanjutnya,"Aaaargh terserah kau sajalah!"

"Eh?!" spontan Lucy memekik ketika pemuda itu mendekapnya dengan erat. "P-pinkie head.."

"Heh, dalam situasi begini kau sempat memanggilku begitu," gumamnya. Lucy hampir tersenyum, tetapi menahannya, mengingat harga dirinya. Di sini, ia sedang bersalah! Ia tak seharusnya tersenyum.

"Aku lega telah menemukanmu Lucy," ia menyampaikan. Pelan-pelan, tangan Lucy melingkari tubuh pemuda itu. "Dan sekarang aku takkan melepaskanmu karena hal sepele!"

Keduanya melepaskan dekapan mereka, lalu saling bertatapan. "Aku j-janji.. takkan.. meninggalkanmu," ujar Lucy, menggumamkan kata terakhir yang keluar dari mulutnya. Natsu terkekeh. "Aku pegang janjimu!"

"Jadi.. itu sebabnya kau membenci Lisanna?" Lucy menggumam, memperhatikan struktur wajah Natsu saat tertidur. Semburat merah tipis muncul di pipinya. Pemuda ini.. tampan juga. Bentuk dagunya yang sempurna, matanya yang tajam bak mata elang—Lucy pernah meneliti mata Natsu dan kaget bahwa sebenarnya matanya bukan hitam, tetapi olive green!—yang jika menatapnya terasa sangat intens, gaya rambutnya yang berwarna pink natural dan spiky..

Tanpa sadar Lucy telah membelai garis wajahnya dan memainkan rambutnya, membuat pemuda itu mengerjapkan kedua kelopak matanya, lalu menyeringai.

"Like what you see?" godanya, membuat wajah Lucy memerah total dan dengan pekikan kecil memukul perut Natsu hingga ia kembali 'tertidur'.

Suara jangkrik.

"...Ups, heheh."

.

Sinar matahari yang menyilaukan memaksa anak bungsu Strauss bersaudara ini membuka matanya. Lisanna menguap, dan melihat ke sekililingnya. Kamarnya, ya. Ah, kemarin ia sempat pergi ke pemakaman orang tuanya bersama Mira-nee dan Elf-nii. Setelah berdoa, ia tak berhenti-berhentinya memohon ampun dan berencana meminta maaf pada Natsu.. dan.. Lucy.

Lucy Heartfillia.

Lisanna mendesah sedih. Mau bagaimana lagi? Ia terlalu buta untuk melihat cinta Natsu kepada Lucy sangat besar, tak mungkin ia bisa mengubahnya! Ia sudah melakukan hal bodoh.

Lalu gadis itu berdiri di atas tempat tidur dan meninju udara, "sudah kuputuskan! Hari ini aku akan meminta maaf!"

Tiba-tiba ringtone hapenya berbunyi. Ia mengecek pengirimnya, dan jantungnya hampir terlonjak kaget. "L-L-Lucy?! Oh tidak, apa ia akan mengajak berantem di lapangan?" serunya khawatir. Pelan-pelan ia membaca pesan yang di kirim, lalu membacanya berulang kali.

"Lucy ingin bertemu denganku..? Ternyata benar ia mau menantangku! Aku harus bersiap-siap!"

Mirajane yang sedari tadi mengintip, sweatdropped.

.

Lucy dan Natsu sudah tiba di tempat yang di maksud—café di sebelah sekolah mereka, makanya mereka menamakannya Café Fairy Tail. Mereka sudah memesan secangkir kopi hangat, dan lagi-lagi ada sesuatu yang membuat Natsu tidak percaya.

Lucy. Memakai. Blouse. Dan. Rok. Yang. Feminin.

Dan oh! Jangan lupa tas selempangnya yang berbahan rajut berwarna putih biru, dan rambutnya yang diikat ponytail samping! Walaupun ikat rambutnya dihiasi tengkorak..

TAPI INI SEBUAH KEMAJUAN! LEVY HARUS MELIHAT INI!

"Lucy, ada alasan mengapa kau memakai pakaian seperti itu?" Natsu bertanya.

"Uhm..uh.." wajah sang empunya pakaian memerah, membuatnya tambah manis. "Semenjak aku akan meminta maaf kepada Lisanna.. jadi.. pokoknya! Apa ini tidak cocok, hah?!" serunya, meninggikan suara di akhir kalimat. Natsu sweatdropped.

"Tidak, tidak, justru kau sangat manis," Natsu mengibas-ngibaskan tangannya dengan grogi. Lucy hanya memalingkan wajahnya.

Sementara di apartemen Levy..

"Hachiim!" Levy bersin, dan tiba-tiba mengingat Lucy. "AAH! LU-CHAN! AKU HARUS MEMINTA MAAF PADANYA! OH IYA! PEMBAGIAN UANG TIKET DRAMA!" dengan tergopoh-gopoh ia kembali ke kamarnya dan meraih hapenya (setelah beberapa kali terjatuh dan barang-barang di sekelilingnya beterbangan) untuk menelpon Mirajane.

"Halo! Mira!"

"Aa, Levy, selamat pag—"

"MIRA-CHAN CEPATLAH BERSIAP DAN KITA AKAN MEMINTA MAAF PADA LU-CHAN!" seru Levy sambil mengambil handuknya.

"Ah! Lisanna akan bertemu dengan mereka! Segeralah ke Café Fairy Tail!"

"B-baik!" lalu di depan pintu kamar mandi, ia menelepon Gajeel. "Halo, Gajeel? Kau baru bangun? *sweatdropped* Ya sudah! Ayo cepat ke Cafe Fairy Tail! Mou, tidak usah banyak tanya!" ia menutup telepon.

Selagi menyiapkan air di bath tub, ia menelepon Jellal. "Selamat pagi, Jellal! Ahaha, kalian sedang.. ah, maaf," muka Levy memerah, "aku ingin kalian ke Cafe Fairy Tail setelah menyelesaikan... ritual kalian. Hehe. Maaf menganggu."

Di dalam hati, Levy mandi sambil berdoa agar Erza tidak membunuhnya.

Kembali ke Cafe Fairy Tail..

"Mereka lama sekali," gerutu Lucy sambil menyeruput kopinya, tidak menyadari bahwa sedari tadi Natsu memerhatikannya.

Bersamaan dengan kata terakhir yang ia ucapkan, lonceng di atas pintu cafe berbunyi, menandakan seseorang...

Tidak, banyak orang masuk desak-desakan, membuat orang-orang yang sedang rileks di cafe itu memberikan glare.

"Mereka rusuh sekali, siapa itu?" komentar Lucy, setelah menoleh ke sumber suara, ia kembali menyeruput kopinya dengan wajah biru. "K-k-kenapa mereka ada di sini?!" jeritnya kaget. Natsu ikut menoleh, kemudian ikut syok.

"Teman anda?" salah seorang pelayan yang lewat tersenyum sembari bertanya.

"B-b-bukan." Jawab mereka serempak, sambil menyeruput kopi mereka.

"LUCCCYYYY!" teriak Mirajane tanpa tahu malu. Lisanna mengikutinya dari belakang dengan wajah berani. Levy dan Gajeel menyusul sambil adu mulut sedangkan Jellal dan Erza berpenampilan agak berantakan, seperti terburu-buru.

"Itu teman mereka," bisik-bisik yang lain, membuat sudut siku-siku di dahi Lucy muncul.

"L-Lucy.." bisik Lisanna. Lucy melihat Lisanna dengan kaget. "Lis, kenapa..?"

"Aku tahu."

"Jelaskan padaku Lis."

Perkataan mereka membuat teman-teman mereka dan pengunjung cafe sweatdropped.

"Aku memakai baju olahraga karena kupikir kau ingin mengajakku berantem."

"Eeeeeh..." yang lain jawdropped.

Lucy sempat sweatdropped. Gadis itu menghela napas, lalu memeluk Lisanna, membuat yang lain tambah bingung. Sebenarnya, apa masalah mereka?!

"Aku minta maaf." Bisiknya. "Aku sudah membuatmu menderita."

"Siapa yang harusnya minta maaf?!" geram Gajeel gregetan.

"Tidak, Lucy. Akulah yang meminta maaf." Balas Lisanna. "Aku ingin merebut Natsu darimu, tapi tidak bisa. Dia.. sudah sangat mencintaimu." Natsu yang mendengarnya langsung memalingkan mukanya yang merah dan geng 11-C menyeringai padanya.

"Maaf, karena aku juga mencintainya!" seru Lucy kemudian, menjulurkan lidahnya. Lisanna menyeringai dan juga menjulurkan lidahnya.

"Maaf saja, aku akan menemukan yang lebih baik!" lalu mereka saling bertatapan dengan tajam.

"Apa.. mereka akan berantem?" bisik Levy khawatir. Keheningan pun melanda cafe tersebut. Jarum jam berdetak menambah ketegangan, dan salah seorang pelayan menjatuhkan sebuah gelas. Para pengunjung kafe menghentikan kegiatan mereka dan menonton pra-perkelahian mereka dengan tegang.

Detik-detik menuju perkelahian mereka terlewati, dan atmosfer menegangkan terpecah ketika kedua tertawa terbahak-bahak.

"Dasar! Aku tak tahu kau bisa begini! Ahahah!"

"Kau pintar akting ya! Pantas dramamu lumayan, senpai! Ahahah!"

"...eeehh..?"

"Sebenarnya apa masalah mereka?!" Gajeel menggigiti sendok terdekat, dan yang lain hanya menatap dua gadis itu dengan wajah datar.

Pengunjung kafe pun kembali ke aktivitas masing-masing.

"Ano.. Natsu.." mulai Lisanna lagi setelah tertawa. "Mungkin kau tidak ingin memaafkanku, tetapi aku minta maaf sedalam-dalamnya." Ia membungkuk hingga rambutnya menutupi wajahnya.

"Maafkan aku!"

Natsu terdiam sambil menyeruput kopinya. "Jika.. Lucy memaafkanmu, berarti aku juga." Jawabnya, masih terkesan dingin. "Aku.. juga minta maaf karena mengabaikanmu. Tetapi bukan berarti kau masih bisa mendekatiku."

"Hei, kasar sekali!" Lucy menegur kekasihnya seperti istri yang menegur suaminya—setidaknya di pemikiran Mirajane begitu.

"T-terima kasih." Bisik Lisanna. Lalu ia tersenyum kepada senpai-senpai -nya, "Maafkan aku juga, senpai-tachi, tetapi aku harus pergi." Ia membungkuk lagi, kemudian berjalan keluar kafe dengan tenang.

Bunyi lonceng terdengar dan suara pintu tertutup menyusul.

"Haaah..." Mirajane menghela napas. "Baiklah, Levy, sekarang giliran kita." Dibalas anggukan Levy. Wajah mereka murung dan siap-siap membungkuk maaf.

"Eh? Untuk apa?" tanya Lucy, melupakan kejadian kemarin.

Levy agak kaget. "Kau tahu.. kami mencoba membuatmu feminin.." Levy menjelaskan ragu-ragu. "Sejujurnya, aku bingung, kau itu feminin atau tomboi, Lu-chan?"

Natsu yang sedari tadi diam, berdiri dari tempat duduknya lalu melingkarkan tangannya di pinggul Lucy dengan sikap posesif. "Aku tidak peduli dia tomboi atau tidak.. dia tetaplah pacarku yang tsundere." Ia menampakkan cengirannya. Lucy memerah, kemudian mereka sadar bahwa geng 11-C belum mengetahui hubungan mereka.. kan?

Hening. Hanya terdengar suara percakapan pengunjung kafe dan deru mobil yang lewat di luar.

"SUDAH KUDUGA!" teriak Mirajane berbinar-binar. "BERKAT KEGIATAN MAKCOMBLANGKU, KALIAN BERSATU~!"

"LU-CHAN~ BERSAMA NATSU~~" Levy ikut bernyanyi.

"It's about damn time," gerutu Gajeel sambil mengemuti sendok. Erza dan Jellal hanya menghela napas. Sepertinya hanya mereka yang paling waras di sini.

"Tunggu, tunggu, makcomblang apanya?" tanya Natsu heran. Levy dan Mirajane tidak terlalu mendengarkan. Mereka sedang berdansa bersama-sama membuat beberapa pengunjung di dekat mereka menggeser kursi mereka.

"Jadi, Natsu," Erza menepuk pundak Natsu, membuat pemuda itu merinding dan bersembunyi di belakang Lucy. "Kami merancang rencana kami sedemikian rupa sehingga secara tidak sadar mengarahkanmu untuk membuat Lucy feminin."

"..Huh?"

"Buoddoh! Intinya, mereka merancangmu agar bisa lebih dekat denganku dan menyadari perasaanmu," Lucy memukul Natsu di kepala. Natsu hanya bisa cemberut sambil mengelus kepalanya.

"Iya, iya!" gerutunya. "Kenapa begitu kesal? Akhirnya kan kita jadian."

"B-bukan itu masalahnya!" wajah Lucy kembali memerah untuk keberapa kalinya. "Mereka mencoba membuatku feminin dan membuatku mengekspresikan perasaan—menangis! Mereka menyiksaku! Dan mereka harus mendapatkan pembalasan—ah, Erza dan Jellal tidak termasuk, kan? Hehe," Lucy membunyikan buku-buku jarinya dan menyingsingkan lengan baju imajinatifnya, sebelum akhirnya terkekeh grogi saat ditatap Erza.

Menyadari apa yang telah mereka perbuat walaupun misi mereka cukup berhasil, Erza kemudian menunduk sambil menundukkan kepala Jellal dengan tangannya dan Jellal menundukkan kepala Levy dan Levy menundukkan kepala Mira.

"Maafkan kamii," ucap mereka bersamaan. "Tolong pukul kami sebagai balasan," tambah Erza.

Natsu dan Lucy tersenyum grogi. "T-tidak masalah.."

Menyadari mereka sudah lama berdiri, geng 11-C kemudian duduk di tempat yang Natsu dan Lucy tempati. Untungnya, cukup. Gajeel sempat menawarkan Levy ingin duduk di pahanya atau tidak tetapi malah mendapatkan pukulan dari dompet.

Semuanya memesan cemilan dan minuman. Saat mereka berada di dalam keheningan yang nyaman, Jellal dan Erza melihat satu sama lain dan mengangguk. Erza menghela napas, "Mirajane."

"Ah, ya, Erza?" jawabnya dengan perasaan berbunga-bunga.

Erza dan Jellal kemudian membungkuk. "Mirajane, kami mengaku kalah."

Natsu, Lucy, Gajeel dan Levy yang sedang memakan cemilan, mendadak tersedak, kemudian mereka rebutan minum milik Levy.

"Kalah?" wajah cantik sang penjaga perpustakaan itu menampakkan kebingungan. "Memangnya kita ada semacam kompetisi? Atau taruhan?"

Kemudian ia menyadarinya. "Taruhan! Kalian mengaku kalah?!" jeritnya girang.

"Ya.. semenjak kami bertaruh kepadamu agar tidak pacaran, seseorang membocorkannya dengan tidak sengaja, walaupun sebelumnya ia dan kekasihnya telah menangkap kami duluan. Jadi.. begitulah." Jellal mengakhiri penjelasannya yang pasrah, sesekali melirik ke arah Natsu dan Lucy yang sedang bersiul ria.

Lucy berhenti bersiul. "Tunggu, apa?" ia menatap Mirajane dan kedua anggota OSIS itu bergantian. "JADI ALASAN KALIAN MENYEMBUNYIKAN HUBUNGAN HANYA KARENA ITU?!"

Natsu yang sedang minum kembali tersedak.

"Tentu saja, Lucy. Apa ada alasan lain?" Erza memiringkan kepalanya dengan heran.

"T-t-tidak, Erza." Lucy dan Natsu sweatdropped bersamaan. Levy yang notabene cerdas, tentu saja mengerti topik yang sedang dibicarakan. Gajeel sendiri dengan cuek kembali mengemuti sendok.

"Sudah satu setengah jam kita di sini," Levy mengumumkan. Yang lain syok. Pantas saja, beberapa pelayan terus menatap mereka dengan tidak nyaman. Spontan, geng 11-C tersenyum lalu buru-buru menuju ke pintu keluar.

Sebelum Erza, yang paling depan membuka pintunya, lonceng pintu berbunyi dan pintu terbuka duluan. Tampaklah dua wajah familiar yang memasang wajah kaget dengan kehadiran teman-temannya.

"Kalian?!" seru mereka.

"Gray! Juvia!" ujar Lucy. "Ingin kencan, eh?"

"Y-ya.." Gray menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Kalau begitu, kami duluan ya," Lucy tersenyum mencurigakan—tepatnya semua geng 11-C terlihat mencurigakan. Terburu-buru mereka keluar melewati Gray dan Juvia.

Saat Gray hendak melangkah masuk, Mirajane baru keluar dengan wajah tanpa dosa. "Aa! Gray! Pastikan uangmu cukup dalam kencan kali ini!" ia mengedipkan matanya, lalu bergabung dengan Natsu dkk. yang sudah berlari cukup jauh.

Gray dan Juvia sweatdropped. "Gray-sama, ayo kita duduk." Ajak Juvia, dibalas oleh helaian napas sang pemuda berambut raven. Sekonyong-konyong, seorang pelayan menghentikan langkah mereka.

"Barusan teman kalian, benar?" tanyanya dengan senyum manis.

"Y-ya," jawab Gray gugup. Oh, betapa menyesalnya ia menganggap mereka teman.

"Salah satu diantara mereka yang berambut putih mengatakan bahwa kau akan membayarkan makanan mereka," ia menunjuk salah satu meja besar di pojok yang penuh dengan gelas dan piring kotor.

Gray memucat. "B-berapa.. totalnya?" tetapi sang pelayan hanya menyerahkan bill-nya.

Kata-kata Mirajane terngiang di otak Gray.

"Aa! Gray! Pastikan uangmu cukup dalam kencan kali ini!"

"..."

"G-Gray-sama?"

"MIRAJANE SIALAAAAAAN!"

.

Tbc

.

A/n: Alllooohhhaaa minna-tachi! Yama is back with 4k+ words :p udah puas? /eh. Kayaknya chapter depan adalah chapter terakhir! Woohoo! Terima kasih support kalian! Yama bakalan menyebutkan nama-nama author sekalian ataupun guest yang udah membaca fic ini :') terima kasih, minna! Yang mem-fave, alert atau review! Terima kasih juga pada yang membaca tetapi tidak mereview, yang penting membaca! Sekedar klik terus balik juga makasih! X")

Udah malem, dan sekarang ada tamu di rumah Yama 0A0)3

Sign out,

Yama-chan.

.

Omake:

"Oi! Kita belum membayarnya tadi!" seru Natsu kaget. Semua yang berjalan langsung berhenti mendadak—untung tidak terjadi tabrakan beruntun. Spontan semuanya mengecek dompet mereka, kecuali Gajeel yang menyeringai sendiri.

Mirajane kemudian tersenyum polos. "Oh, kalian harus mengucapkan terima kasih nanti kepada Gray." Yang lain hanya memiringkan kepala mereka dengan bingung, sebelum akhirnya teriakan Gray terdengar, dan geng 11-C hanya menyeringai.

Yah, terima kasih Gray.