A/N: Hai! Maaf udah lama nggak update, Yama lupa mulu mau nulis chapter terakhir hwhwhw. Etjieeeh chapter terakhir ;;3 /nak. Dan btw, semua reviewer bakalan disebutkan di bawah. AND BEWARE TOO MANY KISSES COZ I FRIGGIN CANT HELP MYSELF BUAHAHAHAHA /nak

Enjoy the last chapter!

.

"Luucy,"

Suara apa itu?

"Luuucyyy..."

Hngh, suara Natsu, ya.

"Luuushhiii.."

Sang empunya nama perlahan-lahan membuka matanya, memandang mata yang lain. Mereka tersenyum satu sama lain. Natsu Dragneel mencium kening kekasihnya sejak kelas 11.

"Pagi, Natsu," Lucy berbisik.

"Hmm." Natsu menggumam. Ia menjauhkan wajahnya dari Lucy. "Kuharap kau tidak lupa bahwa malam ini ada prom."

Seketika, Lucy jatuh dari tempat tidur. "AKU TAK MAU PERGIIII!" ia mencak-mencak. "Aku tak ingin menggunakan gaun yang menjijikkan itu dan berdandan dan berdansa dan—"

"Sejujurnya, aku juga tak ingin pergi, Luce," Natsu menghela napas. Prom ini adalah yang terakhir bagi mereka, karena sebentar lagi mereka akan melakukan perpisahan. Maklum, mereka akan segera menjadi mahasiswa.

Natsu tersenyum samar. Gadis ini, Lucy Heartfilia, sahabat masa kecilnya yang bahkan mereka tak sadari, kini berada di depan matanya. Hingga mereka berdua berpacaran, Natsu takkan lupa bagaimana reaksi fanclub Lucy.

Seminggu pertama

Lucy melangkah santai ke gerbang FTA hingga ratusan derap kaki menyerbunya.

"LUUUUCY-SAMAAAA!"

"HUAPA-APAAN KALIAN!" Lucy berteriak kaget. Ratusan fans yang terdiri dari cewek, cowok, dan cowek—eh, apa?—tak tanggung-tanggung menyapa idola mereka. Ada yang langsung menggaet lengan Lucy, memeluknya dari depan dan belakang, memeluk pergelangan kaki, bahkan sembari menariknya.

"HOI, APA KALIAN INGIN MEMBUNUHKU?!" Lucy mencak-mencak.

"Lucy-sama, kami dengar anda berpacaran dengan Natsu?!"

"Hoo, Natsu yang ikut lomba judo tahun sebelumnya?!"

"Lomba judo?! Aku mendengar gosip lombanya, tapi tak menyangka itu lomba judo!"

"Ne, ne, Lucy-sama! Apa itu benar?"

"Ungh.. uhh.." Sang idol menelan ludahnya. "Natsu.. d-dia.."

"Yyyyaaaaaa?" Semua fans menatapnya dengan mata berbinar.

"Dia.." Lucy mengepalkan tangannya

Semua fans mendekatkan wajah mereka dengan penuh harapan.

"..."

"..."

"IKUT JUDO DAN TIDAK MEMBERITAHUKU?!"

Semua fans terjatuh. "SALAH FOKUS!"

"Ah, yo, Luce." Sapa yang digosipkan dari belakang dengan santai. Lucy menatap kekasihnya dengan tatapan tajam, membuat Natsu sweatdropped. Beberapa fans yang tak merestui Natsu pun ikut menatapnya tajam.

If looks could kill, he'd be dead right now.

"Se..selamat pagi?"

"NATSU, KUTANTANG KAU DI LAPANGAN SEKARANG!"

"HUAPA?!"

Hari itu Natsu baru sadar bahwa Lucy sedang mengalami monster per bulannya dan terpaksa harus menenangkannya. Dan karena Lucy yang terus mencak-mencak, gosip Natsu dan Lucy yang berpacaran hilang...untuk sementara.

Seminggu kedua

"Oi, Lucy. Kemarin Levy sudah memberikan kita uang dari tiket drama," Natsu memandang sang Heartfilia yang tengah memakan Okonomiyaki kantin seperti biasa. Kali ini, ia lebih mempunyai manner, tidak seperti babi kelaparan yang sering Natsu lihat dulu. Kecuali.. saat monster per bulannya datang. Itu.. tak bisa dicegah.

Natsu sweatdropped sendiri.

"Ah, ya? Kalau begitu jatahku di kamu saja," Lucy tersenyum.

"Kenapa begitu?"

"Biasanya yang memegang uang adalah ibuku. Tetapi ayahku yang menafkahi keluarga, jadi sekali-kali seorang ayah memegang uang kan tidak apa-apa?" Lucy tersenyum lebih jahil sekarang, mendekatkan wajahnya pada Natsu.

Natsu tiba-tiba blushing—

.

.

—Tunggu, bukankah Natsu sedang mengenang reaksi fanclub Lucy? Kenapa jadi pembagian tiket drama dan blush-nya..

"Terkutuklah seorang suami yang memegang uang istrinya," gumamnya, kembali blushing. Ia tak bisa membayangkan masa depan tanpa Lucy, tetapi soal suami istri.. i-ia hanya belum s-siap... ungh ...

"Na-tsu."

"Apa." Natsu menggumam.

"Kau blushing memikirkan gadis lain, huh?!"

Seketika, Natsu menoleh ke arah Lucy dengan panik. "Bu-bukan begitu! Mana mungkin aku—Lucy?"

Lucy hanya terdiam, poninya menutupi matanya. "Aku akan mandi dulu. Jangan ganggu aku, jika aku mati di dalam.."

"Jangan berpikiran begitu!" wajah Natsu membiru, tetapi sebelum kalimatnya selesai, Lucy sudah menutup pintu kamar mandi.

Detak jarum jam dinding menemani Natsu di dalam kesepian.

"GWAAAAA!"

Lantas pemuda itu jatuh dari tempat tidur. "LUCY!"

Membuka pintu kamar mandi yang tidak dikunci, Natsu mendapati jejak cairan merah yang mengalir dari bath tub yang tertutup tirai..

"Lucy..?"

Pemuda itu melihat bayangan Lucy di balik tirai, lalu dengan satu tarikan nafas, ia menggeser tirai tersebut...

Lalu Lucy melompat dan memeluk Natsu hingga jatuh ke lantai.

"Aku ingin mandi sambil meminum jus tomatku, tetapi aku memegangnya terlalu kuat dan kotak jusku pecaaaah!" rengeknya sambil menunjukkan sekotak jus yang sudah kosong. "Tetapi untung kau datang, kau ternyata masih sayang padaku!" ia memeluk Natsu hingga terdengar bunyi 'kretek'.

Setelah dapat terlepas dari pelukan mautnya, Natsu ngos-ngosan.

"Aku tak pernah dengar orang mandi sambil minum jus tomat," ia sweatdropped. Natsu tiba-tiba teringat sesuatu. "Ne Luce, mungkin hari ini kau.. datang bulan?"

Lucy mengernyitkan alisnya, kemudian matanya berkaca-kaca. "Be..beraninya kau menanyakan hal itu padaku?!"

"HAH?!" Natsu tersentak kaget. "Aku sudah sering menanyakan hal ini, kau tahu—?!"

"Hukuman untukmu!" Lucy menarik kaos yang tengah dipakai pemuda itu. "K-kau harus menemaniku mandi!" seketika wajahnya langsung berubah gembira lengkap dengan pipi yang memerah.

"APA!"

'...yup, memang datang bulan.'

.

"Jadi kita di sini untuk membeli gaun prom nanti malam. Khususnya untuk Lucy," Erza menekankan nama gadis itu yang bersiul cuek.

"Terima kasih Erza tetapi aku tak akan datang. Titik." Ia menyilangkan kedua lengannya di depan dada. Serentak, geng kini 12-C menatap Natsu seperti biasa—untuk membujuk Lucy. Natsu baru saja memberitahu bahwa monster per bulan gadis itu datang, sehingga sifatnya.. berubah-ubah drastis. Namun, biasanya hanya Natsu-lah yang bisa mengendalikannya. Sejak kelas 11.

Entah itu ironis atau tragis mereka pun tak tahu.

"Ah, satu lagi. Cowok dan cewek akan berpisah," Mirajane memberi tahu dengan manis.

"Tidak mengejutkan," Gajeel menjawab dengan suara berat.

"Jaa!" Levy melambaikan tangannya, menyenggol siku Mirajane, lalu dalam kedipan mata, mereka sudah menarik Lucy ke tempat antah-berantah.

Angin berhembus, sebuah bola jerami numpang lewat.

"Lucy.. akan baik-baik saja?" Gray berkomentar.

Natsu menghela napas. "Ada Mirajane, setidaknya dia bisa menahan diri."

Para pemuda mulai berjalan menyusuri sepanjang trotoar, memandangi toko-toko pakaian yang mereka lewati. "Apa maksudmu menahan diri?" Gray bertanya.

"Dia hanya ingin manja sesekali," Gajeel menyela. "Ya kan, salamander?"

"Uh," Natsu tersentak. "Bisa..jadi. Mengingat sifatnya cuek."

"Lucy -san ingin perhatianmu, Natsu." Jellal tersenyum jahil dari belakang. "Ingin kasih sayangmu." Didukung seringai jahil pemuda lain.

Aura depresi menguar dari tubuh sang Dragneel. "Kalian urusilah gadis kalian masing-masing!"

.

"Ini cocok untukmu, Lucy!" Mirajane mengangkat sebuah gaun berwarna hitam dengan pita putih. Lucy menyipitkan matanya melihat gaun tersebut.

"Tidak mau," gadis itu ngotot. "Lagipula, aku tidak punya uang untuk membelinya!"

"Kita sudah sepakat untuk membayarnya dengan keuntungan tiket, bukan? Kebetulan sekali kita belum menggunakannya sejak tahun lalu!" Levy menyahut sembari meneliti sebuah mini dress. Ia berjalan meninggalkan mini dress itu, kemudian kepala birunya menoleh ke arah Lucy begitu menemukan sebuah gaun. "Lu-chan! Coba lihat gaun ini, warna-warni dan ceria!"

Lucy mendekati Levy, lalu jawdropped melihat desain gaun norak itu—warnanya memang warna-warni, tapi enggak 7 warna pelangi juga kali! Juga, pita-pita besar dan panjang yang dijahit di bagian pinggang, jangan lupa glitter yang membuat gaun itu bercahaya.

"Bagaimana?" Levy berseri-seri.

"APA-APAAN GAUN NORAK INI!"

"N-norak?!" Levy tersengal kaget dengan background gunung meletus.

"Lucy, pilihanku adalah yang terbaik. Kemarilah," panggil Erza dari seberang ruangan. Dengan ogah-ogahan, Lucy meninggalkan Levy.

Mirajane memegang pundak Levy, "sudahlah Levy, kau tahu Lucy sedang dalam bulannya." Membuat sang kutubuku mengangguk lemas.

"Sindrom ini... baru terjadi setelah SMA," Levy berbisik dramatis.

"Sindrom?" Mira sweatdropped.

Sementara itu, Lucy tengah memandang gaun pilihan Erza dengan takjub. "Whooaaa.."

"Benar kan?" Erza mendengus bangga. "Desain ini cocok untuk orang sepertimu."

Sang Heartfilia, dengan efek blink-blink di sekitarnya, memandang gaun itu dari berbagai sudut pandang. Menyentuh bahan gaun itu, memfoto gaun itu, mengelus gaun itu. "Oh Erza aku menyukai ini."

"Apa yang kau pilih?" Mirajane dan Levy datang dari belakang.

"Ini!" Lucy menunjuk gaun pilihan Erza dengan backsound suara terompet.

Levy dan Mirajane membuka mulut mereka lebar-lebar.

Kemudian kerah baju Lucy dicengkeram oleh Mira. "Dengar, Lucy! Kau tahu gaun apa itu?" wajahnya ia dekati dengan wajah Lucy. Lucy menelan ludah,

"Yang penting gaun," jawabnya kemudian.

"LUCY ITU GAUN MALAM!"

"Hee, benarkah?!" Lucy kaget dengan polosnya. "Awwe, padahal aku suka bulu sintetis di sekitar—"

"—Bagaimana kau memakai gaun yang tembus pandang dengan satu set lingerie?!" Mirajane menggoyang-goyangkan Lucy dengan syaraf kemarahan di dahinya. "Apa kau mau mempermalukan pinkie head?!"

"Pinkie head?"

"Erza, kau yang menyarankan ini kah?!"

"Hmm, salah ya?" Erza menatap Mira dengan melotot kaget.

"SALAH BANGET!"

Kemudian Mirajane terengah-engah sambil terduduk di lantai, sementara Levy memijit-mijit pundaknya. "Tenang, Mira... jangan sampai kau yang ingin beli gaun malam itu untuk seseorang," bisik Levy dengan wajah serius.

Mirajane menoleh pelan-pelan dengan wajah garang, membuat Levy sweatdropped. "Siapa itu seseorang hah?"

"Ngomong-ngomong... di mana Juvia?" tanya Lucy.

.

Para cowok yang telah menemukan toko jas, bergegas masuk dipimpin oleh Gray, entah bagaimana caranya. "Yak, kita di sini." Gray mendengus bangga.

"Kenapa kau terlihat bangga sekali?" komentar Gajeel, memicingkan mata sembari meneliti seisi ruangan ber-AC itu. Lalu ia mendapati Jellal berada di kasir, membawa setelan jas berwarna coklat muda.

"CEPET AMAT!"

"Aku tak ingin lama-lama di sini," Natsu menghela napas. "Kita semua hanya bisa menyewanya. Dasar para cewek yang membagikan keuntungan yang tidak adil."

"Tahu darimana?" Jellal tiba-tiba balik dari kasir, dengan wajah kaget.

Natsu terbatuk sedikit, "Lucy menitipkan jatahnya kepadaku, dan saat aku menghitungnya mereka lebih banyak."

"Berapa persen?" Jellal menyiapkan catatan.

"Mana kuhitung, baka?!"

"Kenapa Lucy menitipkannya padamu?" tanya Gray curiga sembari mencoba jas berwarna biru dongker.

"Tidak ada alasan!" dalam sekejap, wajah sang pinkie head memerah, mengingat peran ayah-nya—

Pintu toko tiba-tiba terbuka, lonceng di atasnya berbunyi. "Permisi," suara berat yang familiar terdengar.

Natsu, Gray, Gajeel, dan Jellal menoleh kaget. "Laxus?!"

.

"Jadi, kalian semua sudah memutuskan?" Levy mengangkat gaun pilihannya—mini dress jinggayang tadi ia perhatikan, desainnya cukup simpel, desain di bagian dada berupa kain renda yang menjuntai, menutupi dress yang ketat hingga paha. Mirajane juga telah membawa gaun pilihannya, berwarna hitam elegan dengan rok renda bertingkat. Erza baru saja memutuskan sebuah gaun berwarna kuning yang ketat di atas lalu menjuntai elegan di bagian bawahnya, lengkap dengan selendang kuning bening yang ber-glitter.

Semuanya menoleh ke arah Lucy.

"Aku akan memakai T-shirt, jeans dan sepatu kets," Lucy menjawab ceria.

Kemudian ia diserbu ketiga temannya dan terlibat perkelahian di antara asap yang menggumpal.

.

"Siapa partnermu, Laxus?" Natsu bertanya setelah menyerahkan jas sewaannya. Mereka sepakat untuk hanya membeli kemeja dan dasi, sedangkan jas akan disewa. Urusan sepatu, tentu saja mereka juga menyisihkan uang.

Laxus menatap sang penjaga kasir yang membungkus jas hitam elegan Natsu dengan terampil, menempatkannya di samping jas biru dongker Gray, jas putih Gajeel dan jas coklat muda Jellal. Kemudian ia menempatkan masing-masing kemeja di atas jas—kemeja merah dengan dasi putih untuk Natsu, kemeja biru langit dengan dasi hitam untuk Gray, kemeja abu-abu dengan dasi kuning untuk Gajeel dan kemeja kuning dengan dasi merah untuk Jellal.

Hal itu cukup untuk menentukan pilihan jas Laxus begitu matanya diam-diam menemukan jas yang cocok saat meneliti ruangan sekali lagi.

"Mirajane," Laxus menghela napas.

"Hah? Wanita iblis itu?" Gray tampak kaget.

"Siapa yang wanita iblis!" Laxus protes dengan syaraf kemarahan di dahinya. Ia terdiam sejenak. "Sebenarnya, aku belum mengajaknya." Bisiknya, terduduk di kursi terdekat.

Jellal mengernyitkan alis sambil tersenyum jahil. "Maka Mira tak bisa disebut partner, kan?"

Laxus hanya terdiam dan memasang earphone-nya dengan cuek. "Lihat saja, di prom nanti."

"Bahahaha! Bukan hanya kalah dalam Judo saat itu, mendapatkan cewek juga kalah ya!" Natsu tertawa maniak, membuat Laxus darah tinggi.

"DIAM, BOCAH!"

.

Dengan berat hati, Lucy dan kawan-kawan keluar dari toko gaun sembari menenteng tas belanjaan mereka. Lucy menghela napas. Terpaksa ia membeli mini dress tube berwarna merah, dengan jahitan berenda yang melingkari dress tersebut secara diagonal hingga bawah.

Yah, bukannya Lucy tak menyukainya sih..

Tapi tetap saja ia tak akan memakainya!

"Aku ingin bertemu Natsu~" rengeknya, meneguk sebotol jus yang ia siapkan dari rumah.

Levy menghela napas mendengarnya. "Lu-chan, sekarang kita akan membeli sepatu, kemudian di restoran terdekat kita akan bertemu lagi dengan Natsu." Gadis berambut biru itu sebenarnya tak habis pikir dengan sindrom terbaru sahabatnya, benar-benar. Selain itu, tiba-tiba ia juga merindukan Gajeel, walaupun enggak nyambung.

"Yes," Lucy bersorak kecil.

Mereka pun memasuki sebuah toko sepatu langganan Erza dan Mirajane.

"Lucy, tolong jangan memilih sepatu ket—JANGAN BAYAR ITU!" Mirajane jejeritan begitu melihat Lucy menggotong sepasang sepatu kets ke kasir.

"Awwee, Mira. Ini model terbaru dan sedang diskon 20%," Lucy merengek.

"Bagaimana kalau kita bertemu dengan Natsu dulu?" Mirajane menoleh ke arah Levy.

"M-Mirajane jangan menyerah!"

Erza memandang sepatu yang Lucy gotong sembari sesekali meneliti setiap sepatu yang terpajang. Matanya dengan tajam menatap merk yang sama, model yang mirip, namun merupakan high heels yang tidak terlalu girly.

"Lucy, lihat ini," Erza menunjuk sepatu itu. Perpaduan putih, krem dan hitam—mirip dengan sepatu kets idaman Lucy. Tiga per empat bagian depannya menutupi kaki, dilengkapi tali layaknya tali di sepatu kets. Haknya tidak terlalu tinggi.

"Model yang mirip, dan lebih cocok untuk prom bukan?"

"Ah.." Mata Lucy berubah kagum. "Boleh juga." Ia mencoba sepatu itu di kakinya seperti Cinderella, dan mendesah. "Whoa..."

"Bayarlah, dan buatlah Natsu bangga melihatmu pergi ke prom dengan normal." Erza berkata dengan efek shoujo, bunga bermekaran, background pink berkilauan. Mata karamel Lucy terhipnotis, mengambil sepatu hak tinggi itu dan membayarnya dengan normal.

Levy dan Mirajane menatap satu sama lain, lalu tersenyum dengan efek shoujo yang sama.

.

Para cowok tiba di toko sepatu termurah yang pernah mereka kunjungi. Yah, mereka berpisah dengan Laxus, karena anak itu dengan songongnya berkata ia sudah mempunyai sepatu warisan Makarov.

Omong-omong, toko sepatu ini banyak diskonnya. Asik. Terdengar agak ngenes memang, tetapi inilah takdir.

Natsu mendorong pintu toko yang agak berderik dengan muka masam. "Permisi, saya ambil model ini, itu, itu dan ini."

"Jangan seenaknya, bodoh!" Gray menepis tangan Natsu yang tengah menunjuk 4 pasang sepatu dengan keempat jarinya.

"Aku sudah lapar. Cepat sedikit tidak masalah." Pemuda itu mendengus. "Ya sudah, aku ambil yang aku mau sendiri saja." Ia pergi mengambil model berwarna hitam yang diskon 30% dan menanyakan nomornya.

Jellal melihat 3 pasang sepatu yang Natsu abaikan (yang tadinya ia tunjuk untuk Gray, dirinya, Gajeel), lalu menghela napas. "Gray, ia menunjuk semua yang diskon." Pemuda itu mengangkat bahu, dan mengambil sepatu berwarna coklat kayu.

"Lumayan, salamander." Gajeel hanya menyeringai, dan mengambil sepatu yang ditunjuk Natsu untuk menanyakan warna putih. Gray memicingkan mata.

"Dasar idiot.." dan setengah hati, ia mengambil sepatu pilihan Natsu.

.

"Erza, kau tidak beli sepatu?" tanya Mirajane begitu mereka berjalan menuju ke restoran yang mereka janjikan untuk bertemu kembali. Librarian itu melirik high heels elegan dengan pita di bagian pergelangan kaki yang dibungkus di dalam kardus yang tengah ia bawa.

"Aku punya di rumah." Jawabnya simpel. "J-Jellal yang membelikan... dulu..."

"Oh, manisnyaa," Levy tersenyum sembari memandang sepatu jingga-putih yang membungkus setengah betisnya dan hanya berhak 3 cm.

"Kau langsung memakainya Levy?" Mira bertanya.

"Un! Aku ingin membiasakan diri memakai high heels," Levy mengakui.

Tiga pasang mata lalu melirik Lucy yang sedari tadi diam.

"Aku ingin mempertemukannya dengan pinkie head.." Mirajane memandang Lucy yang lesu. Levy menghela napas. "Kalau begini caranya, aku juga setuju." Levy berkata.

"Restorannya sudah di depan," Erza mengumumkan berseri-seri.

Mirajane lalu mendapati para cowok sudah berkumpul di depan pintu restoran dengan muka yang, yah, kusut. Lalu entah kenapa mereka agak memandang pacar masing-masing dengan sinis. Kecuali Gray. Gray celingak-celinguk mencari Juvia.

"Hoi," sapanya. "Apa aku baru sadar kalau dari awal Juvia tidak bersama kalian?"

"Oh, aku lupa kalau kalian sudah pacaran," Mirajane menutup mulutnya.

"BUKAN ITU MASALAHNYA!"

"Ano.. kenapa kalian kusut begitu," Levy bertanya khawatir, "apa uangnya tidak cukup?"

Semua cowok tersedak udara.

"Ng-ng-nggak! Cukup! Lebih dari cukup!" bela Natsu. Gray mengangguk-angguk.

"Pesan steak lada hitam," ujar Gajeel dari dalam restoran yang sudah duduk bersama Erza, Jellal, Lucy dan Juvia.

"TUNGGUIN DONG!" Natsu dan Gray emosi.

Seperti biasa, kedatangan geng mereka yang ribut membuat beberapa keluarga menggeser kursi mereka lebih jauh.

"Natsu," Lucy mendesah bahagia, kemudian merapatkan jarak duduknya dengan Natsu. Natsu menelan ludah sembari Lucy merangkul lengannya seperti seorang fangirl. Juvia yang melihat hal itu, melakukan hal yang sama pada Gray.

"Sejoli yang bahagia, pesan makanan dulu." Geram Gajeel, melirik pelayan restoran yang memandang mereka dengan cemburu.

"Makanan yang sama seperti Natsu."

"Makanan yang sama seperti Gray."

Gray dan Natsu menghela napas sementara Lucy dan Juvia menatap tajam satu sama lain, tak mau kalah adu kemesraan. Pada saat yang bersamaan, mereka menarik pacar masing-masing, Lucy mencium Natsu dan Juvia mencium Gray.

Sudut siku-siku muncul di dahi Gajeel. "Tolong kodok goreng saos bunga bangke dan minumnya jus putri malu."

"MMPHH! BOD-MMPPH! GAJEELMMF SHIALANMHHPH!"

.

Siangnya, mereka pulang dengan Gray dan Natsu yang kecapean.

"Sampai jumpa jam 5 sore nanti!" para cewek melambaikan tangan, dan setiap pasangan pulang masing-masing. Natsu dan Lucy pulang ke apartemen mereka. Semenjak bersama, Grandine dan Layla memang menyarankan mereka untuk tinggal bersama. Direspons dengan blushing Natsu dan tsundere Lucy.

Natsu membuka kunci apartemen dan tanpa basa-basi melompat ke tempat tidur. "Aahh..."

"Kau begitu capek," Lucy duduk di pinggiran tempat tidur.

"Kau pikir salah siapa?" Natsu bergumam, memeluk guling.

Lucy nyengir jahil. "Kapan lagi aku dapat melakukan hal ini selain saat aku menstruasi?"

Natsu tak merespons sejenak, lalu menoleh ke arah Lucy dengan kaget. "Jadi, maksudmu..?!"

Tak memandang mata Natsu, Lucy menghela napas. "Aku..aku ingin sesekali manja dengan orang yang kusayangi."

Natsu memandang Lucy dengan alis yang terpaut. "Lucy..."

"Aku tak bisa melakukannya dengan ibuku. Apalagi ayahku." Bisiknya. "Tetapi.. bersamamu, rasanya nyaman." Matanya melembut. "Kelembutan. Sudah lama aku tak merasakannya. Jujur saja, dulu aku sempat terlena dengan kelembutan Sting."

Natsu hanya terdiam, menatap langit-langit. Ia sadar betul, Lucy sudah berubah sejak setahun yang lalu. Ia sudah mulai mengakui perasaannya, jujur kepada dirinya sendiri. Ia sudah dewasa.

"Kau sudah tahu alasanku bukan? Mengapa aku tidak ingin menjadi cewek cengeng dan bla bla bla."

Tanpa kata-kata, Natsu menarik Lucy ke pelukannya dan menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma khas Lucy. "Kau dapat melakukannya kapan saja Luce." Natsu mengernyit. Lucy hanya blushing. "Sebelum prom.. bagaimana kalau kita tidur dulu?"

Lucy hanya mengangguk, mendekatkan tubuhnya ke pelukan kekasihnya. Menyandarkan kepalanya di dada Natsu, lambat-lambat pemuda dan gadis itu terlelap bersama.

.

BRUAK!

"NATSU, LUCY, SEGERA BANGUN DAN BERDANDAN!"

"Erza, kau tak perlu mendobraknya.." Jellal sweatdropped, memandang pintu suci tak berdosa yang engselnya rusak. Erza hanya mendengus.

"Berdandan lebih penting! Dengan ini kita akan menyelamatkan harga diri mereka."

"Apanya?" bisik Gray.

Mirajane sendiri sedang sibuk memfoto pose tidur mereka, bunyi kamera dan flash menyinari sejoli itu. "Aaargh! Tidak! Memoriku habis!"

"Sebanyak itu?!" Gray kaget.

"Mira, berikan foto mereka setengahnya!" Levy fangirling-an.

"Ini bukan saatnya, hey!" Gray emosi sendiri.

Kemudian, pasangan yang tengah tidur itu bergerak. Natsu dan Lucy membuka mata mereka perlahan-lahan, mengerjapkannya lalu menguap.

"Natsu...?" Lucy berbisik, matanya setengah terpejam dengan efek berkaca-kaca.

"Selamat sore, sayang..." Natsu tersenyum dengan efek blink-blink di sekitarnya. Kemudian mulut mereka mendekat..

"SENSOR SENSOR!" Gray menyilang tangannya di depan mereka.

"Apa perasaanku saja mereka semakin mesra?" Gajeel menggumam.

"Natsu, kami akan meminjam Lucy sebentar," Levy dan Mira menarik Lucy pergi ke kamar mandi, diikuti dengan Erza yang menatap tajam para cowok dengan jari telunjuk 'mengiris' lehernya. Juvia menutup pintu kamar mandi sambil tersenyum. Semuanya menelan ludah.

"Bodo amat. Siapa juga yang mau mengintip Lucy," Natsu menghela napas.

"Mencurigakan," semua cowok menjawab.

Belum 5 menit, jeritan keluar dari kamar mandi. Semua cowok menatap Natsu dengan tatapan 'urus Lucy.'

Dengan muka kusut, Natsu hanya melambaikan tangan ke kamera terdekat.

.

Mereka pergi ke prom dengan mobil keluarga Erza, dikendarai oleh Jellal.

"Gray, apa Juvia terlihat baik-baik saja?"

"Juvia, kau cantik. Tenang saja."

"Mou, Gajeel! Kau sama sekali tidak berkomentar!"

"Kau sendiri juga tidak ada komentar!"

"Kau tampan! Puas!"

"Kau imut! Puas!"

Mirajane sweatdropped.

Erza dan Jellal hanya bertukar tatapan, tentunya saat mereka hanya berdua, sikap asli mereka akan keluar. Mirajane menyeringai. Memori hapenya kembali pulih, tentu saja ia takkan melewatkan kesempatan kali ini.

Kesempatan, ya?

Mirajane baru menyadari ialah yang tersisa di antara teman-temannya.

Terkadang... rasanya dingin. Ia ingin seseorang merangkulnya, memeluknya. Ia melirik Natsu yang menenangkan Lucy yang tengah ngambek. Bagaimana rasanya? Ditenangkan dengan lembut. Kemudian ia melihat Natsu mencium kening Lucy. Jangan jauh-jauh dicium—dilirik Laxus saja ia—

Laxus!

Bersama siapa pemuda itu pergi?

Librarian itu menghela napas sembari memandang pemandangan kota yang mulai gelap. Lampu-lampu mulai menyala. Dan di depan mereka, view sekolah mulai terlihat.

Mata birunya sendu. Sebentar lagi mereka akan lulus. Kapan lagi Mira bisa menyatakan perasaannya?

Kemudian gadis itu menyadari malam ini memang kesempatannya.

.

Malam terasa begitu dingin. Setelah beberapa kata dari kepala sekolah, guru atau siapapun yang Levy tak begitu kenal, sekarang adalah waktunya berdansa. Musik beat dan RnB diputar. Tentu saja, musik slow diputar terakhir. Yah, Levy tak terlalu percaya diri dengan menari. Jadi di sinilah ia, menikmati cocktail.

"Levy-chaaaaan."

"Lu-chan..?" Levy menoleh ke arah Lucy yang berwajah merah. "Kau mabuk?"

"Tiiidak. Um, sedikit. Haha!"

"Uh," Levy menghela napas. "Aku akan panggil Natsu untukmu."

"Aku akan mengatasinya." Natsu muncul dari belakang, menarik Lucy dengan pelan ke balkon terdekat. Levy tersenyum melihat sahabatnya, kini bahagia. Aah. Kenapa ia jadi cemburu sendiri? Sisi Natsu yang manis kini terungkap. Ia ingin Gajeel menjadi seperti itu tetapi...

Ah, Gajeel mempunyai caranya sendiri untuk bersikap.

Levy melangkah untuk mengambil segelas cocktail yang lain, namun sedikit terhuyung. Entah karena sepatunya, atau semi-mabuk. Namun, lengan besar menahannya dari belakang.

"Shrimp bodoh." Gumamnya pelan. "Jika kau sampai mabuk dan di bawa orang, aku takkan memaafkanmu."

Kepada siapa dia berharap Gajeel akan membisikkannya kata-kata manis? Tiada. Namun, tak ada yang tak Levy sukai dari sikap pemuda itu. "Terima kasih Gajeel." Bisiknya, lalu menciumnya, tak menyadari Gray dan Juvia yang sedari tadi menyaksikan.

"Juvia.. tak percaya Juvia bisa berpacaran dengan Gray." Juvia berkomentar. Gray hanya terbatuk kecil.

"Jangan Lyon," bisiknya. "Jangan Lyon."

"Oh? Gray cukup posesif ya?" Juvia menyikut Gray dengan pelan.

"Ah.. tidak." Gray memalingkan wajahnya. "Dan omong-omong... panggil aku dengan –sama malam ini saja."

Mata Juvia membesar, "K-kenapa? Kita sudah sepakat untuk tidak—"

"Panggil aku," Gray berbisik, mendorong tubuh gadis itu dan memerangkapkannya antara dinding dan Gray sendiri. Juvia tersengal kaget, sementara matanya setengah terpejam dengan kilatan jahil.

"Gray... sama."

.

Mirajane menggoyang-goyangkan gelas di tangannya, cairan cocktail mengikuti pergerakannya. Ia sempat bertabrakan dengan Laxus tadi—keduanya hanya terdiam, bertukar sapa, kemudian sibuk kembali dengan urusan masing-masing.

"Urgh. Kapan aku dapat mengatakannya?" bisiknya sebelum meneguk cocktail –nya hingga habis. Ia mengerang setelah menghabiskannya, tepat begitu ia mendengar sebuah tapak kaki mendekat.

"Mira."

Sang empunya nama menoleh pelan-pelan, "Laxus..."

"Yo." Cucu Makarov menggaruk kepala belakangnya. "Aku akan katakan sekali saja. Aku—"

"Aku menyukaimu!" Mirajane berseru sebelum ia menyesalinya. "Aku menyukaimu." Ia mengulanginya lagi dengan pelan. Mata biru Laxus membesar. Ia menghembuskan napas, "seharusnya itu tugas cowok."

Mirajane yang tadinya menunduk, mengangkat kepalanya.

"Kurasa aku tak harus mengatakannya lagi." Laxus berujar, sebelum menerjang bibir Mira dengan bibirnya.

.

"Benarkah? Kau melihatnya?" Jellal bertanya, kaget begitu Erza menjadi saksi pernyataan cinta Mirajane.

"Benar," Erza tersenyum. "Aku senang kini ia tak hanya menjodohkan orang saja."

"Mira juga manusia, kau tahu?" Jellal tertawa kecil, menarik Erza ke pelukannya. Erza menghela napas lega merasakan kehangatan pemuda itu. "Ironis memang, sebagai matchmaker justru ia yang terakhir."

"Kau agak jahat," Erza tertawa, memukul pelan dada pemuda itu. Jellal tersenyum, "sepertinya kau sudah mulai terbiasa dengan pelukanku."

Sekejap, wajah mantan anggota OSIS itu memerah. "A-a-a-a-aku hanya belum terbiasa dengan ciuman dan—"

Ia dapat merasakan napas hangat Jellal di pipinya. "Kurasa aku harus membiasakannya." Bisik pemuda itu.

Dan, chu.

.

"Kau meminum 8 gelas cocktail?" Natsu terkejut.

Lucy mengangguk manja, pipinya memerah. Natsu memerhatikan gadis di depannya. Ia dapat melihatnya bercahaya. Dengan cahaya bulan dibaliknya, senyumannya, dan rambutnya yang membingkai wajahnya dengan sempurna. Ia tak pernah melihat Lucy secantik itu. Rambutnya yang kini panjang sepunggung, diikat ponytail samping yang rasanya ia ingin belai selamanya. Dan.. aroma khas gadis itu.

"Lucy, aku jadi ingat sesuatu."

"Hm?"

"Kenapa kau dulu selalu menutupi rambutmu dengan bergo jaket?"

Lucy, yang sepertinya mulai tersadar dari mabuknya, memandang langit malam. "Ah.. itu. Aku tidak ingin orang-orang mengetahui bahwa aku memakai shampoo bayi. Aku menutupinya dengan bergo."

Natsu tersedak. Jadi aroma yang ia cium dari ikat rambutnya saat itu, bukan dari shampoo wanita?! Malah, bayi?!

Natsu menyentuh surai Lucy yang menjuntai. Halus. Kemudian ia membawa surai-surai itu ke hidungnya. Wanginya bukan lagi shampoo bayi, melainkan shampoo wanita. Ia ingat, dulu Lucy ingin memotong rambutnya pendek. Tetapi Natsu memohon untuk memanjangkannya. Lucy tak bisa menolak. Yah... secara teknis, itulah permintaan ulang tahun Natsu kepadanya.

Natsu menyeringai.

"Kenapa dengan seringaimu?" Lucy mengernyit.

"Aku hanya menyadari, tomboy, tsundere, atau tidak sama sekali, kau tetap Lucy yang kucintai." Ia tersenyum lembut.

Lucy dapat merasakan pipinya memanas—bukan karena alkohol. Ia juga baru menyadarinya. Teman-temannya pun mungkin sudah menyadarinya. Lucy adalah Lucy. Dan, Lucy bahagia begitu ada seseorang yang mencintainya karena ia Lucy.

"A-aku tahu itu."

"Ahahahaha! Tsundere-nya kambuh!"

"Diam, baka!"

Natsu tertawa kecil. "Tapi, jujur. Sudah lama aku tak melihat sisi tsundere-mu."

"Kau yang mengubahku bukan." Lucy menyilangkan kedua lengannya di dadanya, "yah.. aku sadar bahwa mengeluarkan segalanya lebih lega. Itu saja."

"Apa itu, nona tsundere?"

"Ugh, berisik!"

Natsu tertawa sembari memeluk gadis itu dari belakang. "Kau membuatku ingin menikahimu saja."

Hening.

Pemuda itu perlahan memerah, dan melonggarkan pelukannya. "Ma-Maaf aku mengatakan hal itu. Lupakan saja." Matanya melihat ke arah manapun kecuali Lucy.

Namun gadis itu memberikan senyuman terbaiknya. Ia menyentil hidung pemuda itu pelan.

"Bukan begitu caranya melamar, bodoh."

"Sudah kubilang lupakan saja."

"Iya."

"Bagus, kalau begitu—"

"Iya, aku juga ingin menikahimu."

"...!"

"APA INI YANG KUDENGAR?!" Mirajane menyerbu tiba-tiba dengan hapenya yang tengah merekam percakapan mereka. "KALIAN BERDUA RESMI BERTUNANGAN!"

"BELUM!" Lucy jejeritan.

"AKU AKAN MENJADI PENGHULUNYA! NATSU, APAKAH KAU MENERIMA LUCY SEBAGAI ISTRIMU?"

"Yup!" Natsu nyengir, "Lucy juga sebaliknya!"

"Itu melewati fase pertunangan!" Lucy protes.

"You may kiss the bride." Levy tiba-tiba muncul dengan seringai di wajahnya. Gray dan Juvia mendorong kedua kepala sejoli tersebut. Chu!

Jellal dan Erza tertawa kecil, juga Gajeel yang menyeringai. Geng yang dulunya 11-C tergelak bersama, dan dengan kedatangan Laxus, mereka merayakan masa muda mereka.

Dan, tentunya, Natsu dan Lucy mempunyai senyuman yang paling lebar.

.

The End

.

Thanks for all reviewers below:

anaracchi

Nnatsuki

Reka Amelia

Jim

Hanara Ve-chan

Minako-chan Namikaze

karinalu

Khairul Dreyar

RyuuKazekawa

Himiki-chan

Sadsa

Guest

Pidachan99

azalya dragneel

furee-sama

ghinapink

Ren

Rukami Aiko/Shiro Rukami

Sykisan

nshawol566

Trollshima

Mishay

DiRacchi 7ack

Kisasa Kaguya

Fi-chan nalupi

Kou Keehl

hana sapphire

fubuki41

namikaze immah-chan sapphire

LucyHeartfillia-Chibi

ArQuella

Dragonia Dragneel

Kikyu RKY

Yukiko Arashi

Gumi Kagenuma

Kanzo kusuri

christie stephanie

aridorukikyo

shinta dragneel

I Love Erza

Azumi Nafis

hana1308

Tanami-chan

Fani Shuuya

AzureLestya

hikari609

Hikaru Aiyuki

dilaedogawa

Nekonyan-kun

ft-fairytail

Mikasa-Chan

WTS-gaki

Rin-981

Beikkuma-99

kirigaya dragneel

miere

Heiwajima Risa

Toru's Wife

Ree Luchia

Hyuuhi Ga Ara

Ultimatekuuga

Ren-chan Hanami

desty dragfilia

aichan14

A'Velha Senhora

Mercury Heartfilia

Kelvin KLR

bwoles01

ChaYeol

DarkCrowds

kyouruusuke1

Malaslogin

Hayatu JeWon

zilaq

dragneelhyuga

Yudi Arata

Himawari Heartfilia

MysteriOues Girl

Maaf jika ada kesalahan nama, kesalahan kata-kata di fic ini jika kurang berkesan. Sampai jumpa di fic yang lain! Contohnya, Forever Alone. #promosi

SELAMAT HUT RI KE-70!

Jaa! -Yama.