Fandom: Kuroko no Basuke/Kuroko no Basket
Author: Shana Nakazawa
Chapter: 2/?
Jumlah kata: 2.226 kata
Summary: Kise Ryouta adalah boneka. Ia digerakkan oleh hal yang membesarkan namanya, dan ia juga dijatuhkan karenanya. Di saat dunia tak berpihak padanya dan Kise merasa telah muak, malaikat pun datang menolong. Pertanyaannya: dapatkah?
Warning: (possibly) OOC. AU. Disturbing materials; usage of children, bullying—both cyber and RL, rape/non-con, self-harm. GoM/Kise, dominant AoKise.
Note: Berdasarkan kisah nyata. Kredit diberikan kepada (alm) Amanda Todd, sekaligus sebagai pesan untuk menyampaikan gerakan stop bullying! Dipersembahkan sebagai karya NaNoWriMo. Dipersembahkan sebagai salah satu entri challenge "Pestisida Untuk Hama: 21 fanfict 21 genre" oleh Hama Hitam; genre hurt/comfort.
Disclaimer: Kuroko no Basuke/Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi. Cover © Zitronenkirsche [zerochan #1292621]. Tidak ada keuntungan materil yang diperoleh dari membuat ataupun mempublikasikan fanfiksi ini. Fanfiksi ini dibuat hanya berdasarkan tujuan kepuasan pribadi.
.
.
.
Winter in Disguise
[ ii. sweet talk, sweet mood ]
"Selamat pagi, Kise-san."
"Ah, pagi, Hayaka-san. Apa kabar?"
"Baik. Kau?"
"Syukurlah. Aku juga."
Kira-kira demikian sapaan pagi Kise terhadap orang-orang yang terlibat sesi pemotretan. Sepertinya pemuda itu dalam perasaan hati yang baik, terlihat dari ekspresinya yang terus mengumbar senyum.
"Ryou-chan, cepat ganti pakaian. Jadwal kita ketat. Jam sebelas kita harus sudah ada di tempat Suzuki-san," tegur kakak Kise.
"Ah, Nee-chan. Baiklah, aku takkan mengecewakanmu!" sahut Kise dengan nada ceria. Kakaknya hanya menggeleng-gelengkan kepala lalu tersenyum. Adiknya ini memang manis.
"Tatap kameranya lebih tajam, Kise-kun. Tersenyumlah melalui matamu. Iris keemasan yang seindah itu tak boleh disia-siakan," arah sang fotografer. Ia adalah seorang wanita dan merupakan fotografer andalan majalah Zunon Boys. Kise sudah mendapat beberapa kali kesempatan bekerja bersamanya.
Bunyi klik-klik terdengar, sebagaimana wajarnya saat berada di lokasi pemotretan. Kise memasang pose yang beragam. Beberapa kali sang fotografer mengarahkannya, namun pada akhirnya sang pemuda berambut pirang selalu mendapat serentetan pujian.
"Ya, pemotretannya sudah selesai. Kerja bagus, semuanya!" seru sang fotografer. Beberapa kru terlihat riuh menyambut pekerjaan mereka yang selesai dengan cepat.
Manajer Kise mendekatinya sambil membawa air mineral. "Ryou-chan, kau cepat juga hari ini. Sudah tidak sabar untuk pemotretan katalog?" tanyanya.
Kise menghabiskan sebotol air mineral yang disodorkan padanya hingga tandas dan berpaling. "Tidak juga. Aku hanya sedang merasa seperti ingin melakukannya."
Kakaknya tertawa. "Harusnya kau seperti ini setiap hari. Ah, masih ada satu jam sebelum pemotretan katalog. Apa kau ingin langsung ke Suzuki-san atau apa kau ingin berjalan-jalan? Ada kafe yang baru buka di dekat sini dan kudengar tempatnya menyenangkan," tawarnya.
Kise tampak menimang-nimang keputusannya. Ia akhirnya sampai pada konklusi bahwa menunggu pemotretan hanya akan membuatnya bosan sampai berkarat, sehingga ia memutuskan untuk menerima ajakan kakaknya mengunjungi kafe tersebut.
"Kami pergi lebih dulu, ya. Terima kasih atas pekerjaannya hari ini," ucap manajer Kise sebelum meninggalkan lokasi. Kise menyalami beberapa staf dan mengucapkan beberapa patah basa-basi sebelum mengekori jejak kakaknya.
"Kudengar dari Ryuka kafe itu menyediakan frappe chocomocchino yang aku suka. Kue red velvet-nya juga enak," oceh kakak Kise dengan bersemangat. Sepertinya sifat cerewet Kise memang diwariskan turun-temurun.
"Aku hanya ingin iced chocolate dengan susu dan krimnya. Aku pernah coba di kafe dekat sekolah dan rasanya enak, tidak terlalu manis namun juga tidak terlalu pahit," sahut Kise sambil tersenyum.
"Ah, kesukaanmu seperti Kaa-san. Oh, kudengar ada sup gratin kesukaanmu juga," sahut kakaknya.
Kise terlihat berseri-seri mendengar nama masakan kesukaannya disebutkan. "Oh, ya? Wah, semoga seenak buatan Kaa-san. Eh, tetapi apa kita tidak disangka pasangan? Biasanya yang pergi ke kafe semacam itu 'kan pasangan kekasih," kata Kise sambil tertawa.
Wanita di sisinya ikut tertawa sambil memukul pelan lengan adiknya. "Jangan karena Ryou-chan belum punya pacar jadi melampiaskan padaku, ya. Aku sudah punya yang lain!"
Pembicaraan mereka dipenuhi tawa. Kaki-kaki mereka melangkah dalam irama tak tentu menuju destinasi. Cuaca sedang amat bersahabat. Matahari sedikit tersembunyi di balik awan-awan yang berarak dengan lambat. Angin musim semi bertiup lembut, menghantarkan rasa damai yang menenangkan, banyak terhadap preferensi Kise.
"Kenapa melamun, Ryou-chan? Apa akhirnya ada gadis yang menarik perhatianmu?"
Kise berpura-pura cemberut mendengar godaan kakaknya. "Tentu saja tidak! Aku sedang ingin fokus ke sekolah dan modeling," jawabnya.
"Fokus pada sekolah sedangkan nilai tes Matematika lima?"
"Nee-chan!"
Kakak Kise tertawa sementara Kise menggembungkan pipinya. Terkadang omongan kakaknya memang pedas dan menusuk, namun Kise tahu wanita cantik itu hanya bercanda. Kakaknya menyayanginya, dan ia juga.
"Ah, kurasa ini kafenya. Ayo masuk," ujar kakak Kise. Kise mengangguk dan mengikuti jejak sang kakak memasuki kafe.
Interior kafe itu sangat manis. Kise dapat menyimpulkan bahwa kafe ini bertema empat musim. Ada empat seksi yang melambangkan keempat musim; semi, panas, gugur dan dingin.
Musim semi memiliki dinding bercat salem lembut dengan wallpaper pohon sakura dan stiker guguran mahkota sakura beserta keindahan musim semi lainnya. Tak berbeda jauh dengan semi, seksi musim gugur berlatarkan guguran dedaunan ginkgo berwarna merah dan dinding bercat oranye kekuningan.
Musim panas berlatarkan teriknya matahari dan langit yang bersih tak berawan—biru muda merupakan pilihan warna yang tepat. Biru muda juga menjadi pilihan cat warna untuk musim dingin, hanya saja di sini birunya tampak agak lebih tua dan didominasi oleh warna putih salju.
Kise dan kakaknya memutuskan untuk mengambil duduk di seksi musim semi. Tampaknya pesona sakura mampu menangkap perhatian kedua kakak-beradik tersebut.
Seorang pelayan dengan kemeja putih dan apron hitam mendekat dan menampilkan senyum lebarnya. Ia menawarkan dengan keramahan standar, "Ada yang ingin Anda pesan?"
Kise dan kakak merangkap manajernya merupakan pelanggan baru di kafe itu—lagipula kafe itu baru buka dua minggu lalu—sehingga mereka cukup menyita waktu dalam melihat menu dan memilih-milih. Untungnya sang pelayan tak keberatan. Malah sebenarnya ia menahan diri untuk tidak menjerit karena ia tahu yang ada di hadapannya adalah sang model kondang, Kise Ryouta.
"Ah, tolong frappe chocomocchino satu dan vanilla soufflé satu. Lalu, untuk Ryou-chan …?"
"Aku iced chocolate ekstra susu dengan krim saja."
"Tentu saja. Silakan tunggu pesanannya, akan saya antarkan dalam sepuluh menit. Terima kasih sudah memilih Beauty Belle."
Kise menatap punggung sang pelayan yang mendekap menu dengan pipi bersemu merah. Ia tersenyum kecil, menyadari penyebab pelayan tadi tersipu-sipu. Pemuda itu terbiasa melihat ekspresi itu setiap orang bertatap wajah dengannya.
"Jadi, Ryou-chan, apa yang membuatmu dalam suasana hati baik?"
Kise menatap wanita di hadapannya yang sedang tersenyum.
"Nee-chan ingin tahu sekali, ya?" godanya. Kali ini kakaknya yang menggembungkan pipi karena sebal. Kise tertawa. Katanya, "Nee-chan tahu WeTalk?"
Dahi wanita cantik itu tampak mengerut. "WeTalk? Situs jejaring sosial baru itu?"
"Ya," Kise mengiakan, "dan aku baru membuat akunnya. Kemarin aku berkonversasi dengan seseorang bernama Takkun, dan dia ramah sekali. Aku berbicara asyik dengannya, jadi mungkin karena itu aku terlihat senang hari ini."
"Oh, begitu …," gumam sang kakak. Ia senang melihat adiknya bahagia, namun ada sesuatu yang mengusik pikirannya. "Tetapi, Ryou-chan, kau harus hati-hati. Akhir-akhir ini sedang ada banyak penipuan melalui situs jejaring sosial seperti itu. Internet tidak pernah menjadi tempat yang aman, kautahu."
Kise mengangguk menyetujui pernyataan kakaknya. Ia juga sangat menyadari bahayanya internet, terlebih sebagai anak muda yang terlahir di zaman di mana teknologi menjadi mainan sehari-hari. Globalisasi memang mengerikan.
"Memangnya kalian berkonversasi apa saja?" tanya kakaknya.
Kise merogoh saku celananya dan meraih smartphone terbaru yang ia dapatkan dari pemotretan terbarunya. Tangannya mengetikkan kata sandi—Kise juga remaja biasa, ia tak dapat merisikokan privasinya terbongkar, apalagi ia adalah publik figur—dan membuka aplikasi WeTalk untuk smartphone yang telah ia unduh tadi pagi.
Kise mengakses akunnya dan melihat bagian konversasi. Ia lalu menunjukkannya pada kakaknya. Wanita itu menerima ponsel yang disodorkan dan mulai mengecek percakapan adiknya dan orang asing itu satu per satu.
[ i.i. flashback ]
"Hai juga, Takkun."
Kise menunggu sambil mengambil headset-nya dan mendengarkan lagu yang sedang ia suka. Balasannya datang lebih cepat dari yang ia kira.
"Ah, jangan panggil aku seperti itu. Ini akun sepupuku yang sudah tak terpakai dan aku terlalu malas mengganti username-nya. Namaku Hanamiya Makoto, panggil apa saja yang kausuka. Lalu aku harus memanggilmu apa?"
Kise mengetikkan jawabannya dengan cepat.
"Kalau begitu kupanggil Hanamiya-san? Panggil saja aku Ryou."
Kise menunggu jawaban dari orang asing itu—Hanamiya Makoto. Terlihat tulisan yang mengatakan bahwa Takkun101 sedang mengetik jawaban. Beberapa detik kemudian terdengar dering yang menandakan terdapat pesan masuk.
"Ryou? Namamu mengingatkanku akan seseorang—" Kise menahan napas tegang. "—ada temanku yang bernama Ryou juga di sekolah."
Kise makin tenang mengetahui bahwa Hanamiya ternyata masih seorang siswa sepertinya. Ia tahu mungkin saja lawan bicaranya itu berbohong, namun apa gunanya?
"Oh, begitu. Berarti nama Ryou memang pasaran, ya? (LOL) Hanamiya-san kelas berapa?"
Jawaban yang ini juga datang cepat. Entah Hanamiya memang pengetik yang cepat atau dia sangat bersemangat ingin melakukan konversasi dengan Kise. Biarlah, lagipula Kise sendiri tidak peduli.
"Aku SMA kelas tiga. Kau?"
"SMP kelas dua."
Sayangnya Kise lengah. Peraturan untuk hidup tenang di internet adalah jangan pernah sekali-kali memberitahu informasi pribadi kepada orang asing.
"Wah, masih muda sekali. Sekolahmu di mana?"
Kise sedikit menimbang-nimbang akan keharusannya menjawab pertanyaan ini. Senaif dan sepolos apa pun Kise, ia sadar akan bahaya internet jika ia tak berhati-hati menyikapinya.
"Di Kanagawa. Hanamiya-san sendiri?"
Setelahnya Kise agak lega karena Hanamiya tampak tak memaksa untuknya menjawab pertanyaan dengan detail, terbukti dari jawabannya; "Oh, Kanagawa, jauh juga. Aku di Tokyo, SMA Kirisaki Daichi. Kalau kau sedang bingung ingin masuk SMA mana, masuk ke sini saja."
Kise tertawa kecil. Jujur saja, ia belum menentukan ingin melanjutkan jenjang pendidikannya ke SMA mana. Ia bukan tipe siswa prestisius yang mengejar ambisi melalui pendidikannya; tidak, Kise tak memiliki kemewahan itu. Yang Kise miliki hanyalah bakat alami dalam hal kinestetik dan wajahnya yang rupawan.
"Aku juga belum tahu. (LOL) Memilih SMA sepertinya merepotkan. Aku cukup sibuk dengan pekerjaanku."
Kise agaknya sedikit ceroboh dan menyesal memberitahu bahwa ia memiliki pekerjaan. Untungnya ia tidak keceplosan mengatakan tentang pekerjaannya sebagai model.
"Kaupunya pekerjaan sambilan? Apa itu?"
"Hanya kerja sambilan biasa. Memangnya Hanamiya-san tidak?"
Kise terpaksa sedikit berbohong.
"Tidak. Bekerja itu merepotkan. Aku bukan orang rajin sepertimu yang ingin menghabiskan waktuku untuk bekerja. Memangnya kau tidak ikut klub di sekolah?"
Kise tertawa miris. Bagaimana mungkin ia dapat bersenang-senang di sekolah jika setiap ia lewat tatapan sinis dan benci selalu terlempar ke arahnya—kecuali oleh penggemarnya, tentu saja.
"Aku ikut klub sastra, walaupun klubku tak begitu aktif."
"Begitu? Sudah kaucoba basket? Aku reguler klub basket Kirisaki Daichi dan kurasa basket cukup menyenangkan untuk orang sepertimu."
Kise hampir terjengkang. Ia tidak menyangka dapat berkenalan dengan anak klub basket. Sebenarnya pemuda tampan itu sangat ingin bergabung dengan klub basket dan merasakan suka dukanya. Tak ada yang tahukah bahwa Kise kadang selalu menatap dari jauh dengan iri terhadap para siswa klub basket sekolahnya yang tampak begitu bahagia?
Tangan putra bungsu keluarga Kise itu agak gemetar saat mengetik jawaban. Luka lama yang telah ia tutup rapat-rapat kembali membuka.
"Apa maksudmu orang sepertiku? -_- Eh, Hanamiya-san anak basket!? Sebenarnya aku sangat suka basket! Namun karena sesuatu, aku tak bisa masuk klub basket."
Apa sangat terkesan curhat, pikir Kise sambil meringis.
"Kenapa? Jangan-jangan ada anak yang tidak suka kau bermain basket?"
Kise mengesah. Sebegitu mudahnyakah hidupnya ditebak?
"Sebenarnya iya. Kebanyakan anak laki-laki di sekolahku tidak suka padaku. Sebenarnya aku selalu mengasumsikan bahwa mereka iri. Aku memiliki teknik yang tak dimiliki siapa pun, yaitu aku bisa meniru dengan persis gerakan yang dilakukan para pemain basket."
"Whoa, tunggu dulu! Maksudmu kau bisa menyalin jurus mereka!? Itu keren sekali! Harusnya kaudiamkan para cecunguk yang berbicara jelek tentangmu dan bungkam mulut mereka dengan kemampuanmu yang gila itu!"
Kise tersenyum kecil. Dalam hati ia berpikir untuk berterimakasih yang sebesar-besarnya pada orang asing ini. Tak banyak orang yang menghargai bakatnya dalam bidang olahraga, terutama basket yang notabene merupakan cabang olahraga favoritnya.
"Terima kasih, Hanamiya-san. Tak banyak yang mengatakan seperti itu padaku. Terima kasih telah membuatku percaya diri. Aku akan berusaha masuk reguler klub basketku! #^.^)9"
Balasan Hanamiya membuat Kise tertawa kecil.
"Berjuanglah. Lalu apa-apaan emotikon menjijikkan itu!? Jangan-jangan kau perempuan!?"
"Eeeh, emotikonnya 'kan imut~ Aku bukan perempuan, sungguh! =3="
Selanjutnya Kise dan Hanamiya terlibat pembicaraan ringan yang terlihat akrab. Kise sepertinya sudah sangat nyaman dengan orang asing yang baru ia kenal beberapa jam lalu. Memang sifatnya sebagai social butterfly selalu membantunya saat berkenalan dengan orang baru, apalagi ditambah sifatnya yang ceria seakan kelebihan gula.
"Kau akan on lagi pada jam ini besok?"
Kise mengetik dengan penuh harap. Mengobrol dengan Hanamiya berakhir sangat menyenangkan dan ia begitu tak ingin ini berlangsung hanya sekali.
Jawaban Hanamiya datang agak terlambat, namun hasilnya memuaskan Kise.
"Tentu saja. Kita bicara lagi."
Setelahnya, Kise keluar dari situs tersebut—tanpa keluar dari akunnya, lagipula itu laptop pribadinya dan biasanya pemuda dengan bulu mata lentik tersebut tak membiarkan orang lain mengaksesnya—dan pergi ke situs lain. Dia membuka akun surat elektroniknya dan menemukan ribuan pesan tak terbaca menumpuk di sana. Sembilan puluh lima persen Kise yakini dari penggemarnya.
Ia mengecek satu per satu dan membalasnya satu per satu juga. Pemuda itu memiliki prinsip untuk membalas kebaikan orang dengan setara, kalau bisa lebih. Karena itu Kise mengusahakan untuk membalas setiap surat dari penggemarnya. Hanya saja ia sudah tak mengeceknya selama seminggu dan sudah sangat banyak yang terkumpul, karena itu sekarang ia hanya membalasnya dengan kalimat yang sama yang ia salin dan tempel di setiap surat elektronik.
Setelah membalas semua surat-surat itu dan sukses membuat jari-jarinya keriting, Kise memutuskan bahwa hari sudah cukup larut sehingga ia harus beristirahat.
Kise keluar dari browser-nya dan menutup segala program yang tengah ia jalankan. Setelahnya tangannya bergerak hingga kursornya menunjuk tanda shut down lalu mengkliknya.
"Hari yang melelahkan," gumam Kise, namun ia tersenyum, "sepertinya besok akan menyenangkan."
"Ah, syukurlah kalau kau menemukan teman mengobrol yang cocok untukmu, Ryou-chan. Sudah lama aku tak melihatmu mengobrol seakrab ini," komentar kakak Kise setelah mendengar cerita Kise.
Kise tersenyum sebagai balasan. "Tentu saja. Aku sangat senang, Hanamiya-san adalah orang yang sangat baik," katanya.
"Permisi, pesanan Anda; satu frappe chocomocchino, satu iced chocolate ekstra susu dengan krim dan satu vanilla soufflé," ujar seorang pelayan yang membawakan pesanan. Ia meletakkan pesanan Kise dan kakaknya dengan anggun sebelum membungkuk dan pergi.
Kise mengaduk minuman pesanannya dan menyeruputnya. Rasa cokelat dicampur susu terasa manis dan segar di lidahnya. Bibirnya secara involunter membentuk kurva persamaan negatif.
"Nee-chan ikut senang. Pesan Nee-chan hanya agar Ryou-chan jaga diri, kejahatan ada di mana-mana," ujar kakaknya dengan bijak sambil menyendok sepotong kue dan melahapnya.
Kise menunduk dan mengangguk. Ia mengagumi kakaknya ini, menyayanginya, karena itu tak mungkin ia mengabaikan nasihatnya. Karena itu ia berkata, "Tentu saja, Nee-chan."
Senyum di bibir Kise tak memudar. Setidaknya ia masih memiliki tendensi untuk tersenyum sekarang, karena siapa yang tahu kemudian, bukan?
—To Be Continued.
A/N:
Chapter dua~ Saya selesaikan dalam sehari, wow, pencapaian terbesar mungkin. Masih awal, konflik belum muncul, karena saya pengen pace dari alur ceritanya mengalir. Plus saya suka berlama-lama di perkenalan, since itu lumayan seru; mengenalkan suatu karakter dalam sifat yang sama sekali berbeda.
Oke tadi saya meracau. Apaan sih saya ini orz
Untuk selanjutnya, ini akan update sekitar seminggu sekali, mungkin tiap malam Minggu, untuk menemani para jomblo~ /dor
Last, pertanyaan, kritik, saran, pujian dan segala rupa sampaikan di review, because reviews are always greatly appreciated. Jaa~
110413 2208 —Shana Nakazawa
