Fandom: Kuroko no Basuke/Kuroko no Basket
Author: Shana Nakazawa
Chapter: 3/?
Jumlah kata: 2.031 kata
Summary: Kise Ryouta adalah boneka. Ia digerakkan oleh hal yang membesarkan namanya, dan ia juga dijatuhkan karenanya. Di saat dunia tak berpihak padanya dan Kise merasa telah muak, malaikat pun datang menolong. Pertanyaannya: dapatkah?
Warning: (possibly) OOC. AU. Disturbing materials; usage of children, bullying—both cyber and RL, rape/non-con, self-harm. GoM/Kise, dominant AoKise.
Note: Berdasarkan kisah nyata. Kredit diberikan kepada (alm) Amanda Todd, sekaligus sebagai pesan untuk menyampaikan gerakan stop bullying! Dipersembahkan sebagai karya NaNoWriMo. Dipersembahkan sebagai salah satu entri challenge "Pestisida Untuk Hama: 21 fanfict 21 genre" oleh Hama Hitam; genre hurt/comfort.
Disclaimer: Kuroko no Basuke/Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi. Cover © Zitronenkirsche [zerochan #1292621]. Tidak ada keuntungan materil yang diperoleh dari membuat ataupun mempublikasikan fanfiksi ini. Fanfiksi ini dibuat hanya berdasarkan tujuan kepuasan pribadi.
.
.
.
Winter in Disguise
[ iii. little to none ]
Kise menatap layar laptopnya dengan mata yang segar. Ia tersenyum sambil menanti orang yang ia tunggu. Tangannya meraih cangkir teh yang ia siapkan di sisi laptopnya. Ia telah mengetikkan sapaan biasa pada Hanamiya sambil menunggu orang itu membalas pesannya.
Sudah sepuluh menit semenjak waktu yang dijanjikan di antara kedua pemuda itu dan Kise belum dapat melihat tanda-tanda Hanamiya telah on. Karenanya pemuda berambut pirang itu memutuskan untuk mengecek surat elektroniknya lagi.
Di barisan pertama terdapat pesan dari pemilik merek yang menyewanya untuk katalog musim panasnya, Suzuki Haruto. Kise membukanya dan menemukan ucapan terima kasih dari pria itu beserta beberapa foto pemotretannya tadi.
Ada tiga foto yang dikaitkan pada surat elektronik tersebut. Yang pertama adalah saat Kise mengenakan kemeja berwarna kuning pucat polos dan jaket dengan hood berwarna biru tua dan kuning cerah yang menyolok, juga celana jins sederhana sepanjang lutut, dan headset sebagai tambahan aksesori.
Yang kedua adalah foto Kise saat bersantai di bangku taman, mengenakan kaus putih dengan vest hitam, celananya juga adalah jins walau dengan warna biru yang agak gelap.
Yang terakhir adalah saat Kise bersandar ke dinding bata dengan kemeja berwarna salem cerah berlengan panjang yang dilipat sampai ke siku. Sebagai tambahan adalah rompi rajutan berwarna merah marun dan topi berwarna senada. Celananya lagi-lagi adalah jins, kali ini berwarna hitam.
Kise tersenyum. Ia menyukai hasil pemotretannya. Fotografer yang disewa oleh Suzuki memang tak main-main. Efeknya berbaur dengan baik dengan latarnya. Kise juga amat menyukai koleksi pakaian Suzuki. Kesannya sangat bergaya namun juga kasual.
Kise membaca ulang pesan dari Suzuki.
from: suzukiharuto at suzukiesthetique dot com
to: kiseryo at yahoo dot co dot jp
subject: Pemotretan
Kise-san, selamat atas kerja kerasnya! Saya sangat menyukai foto-fotonya dan sekarang saya sedang mengolah untuk katalog. Saya puas sekali dengan hasilnya, jadi saya harap Kise-san tidak kapok untuk bekerja lagi bersama saya untuk katalog berikutnya.
Kise tertawa kecil. Ia bukan pribadi yang suka berbangga hati, namun jika pelanggannya puas, ia merasa senang di dalam. Apalagi kini ia tengah meniti tangga menuju puncak kesuksesan dan popularitas. Mendapatkan kepercayaan dari pemilik Suzuki Esthétique merupakan batu loncatan yang besar.
from: kiseryo at yahoo dot co dot jp
to: suzukiharuto at suzukiesthetique dot com
subject: Re: Pemotretan
Ahaha, Suzuki-san ini berlebihan. Akan tetapi saya senang sekali kalau Anda puas dengan kinerja saya. Oh, tentu saya tak akan keberatan jika Anda ingin mempercayakan katalog Anda pada saya lagi. Saya akan berusaha agar tak mengecewakan Suzuki-san. :)
Kise memastikan ia tak mengetik sesuatu yang salah sebelum mengarahkan kursornya untuk mengirim surat elektronik itu. Setelah selesai ia mengecek lagi WeTalk-nya. Masih belum ada pesan dari Hanamiya. Kise mengesah, berusaha untuk ia tampik perasaan kecewa di hatinya.
Kembali Kise membuka surat elektronik yang ada di kotak masuknya. Ada empat ratus yang harus ia jawab malam ini. Semuanya berasal dari penggemarnya. Semuanya beragam; ada yang mengatakan bahwa mereka mengagumi Kise, ada yang mengatakan bahwa mereka amat sangat mencintai Kise, ada juga yang mengatakan bahwa mereka adalah penggemar terbesar Kise. Tipe-tipe penguntit seperti itulah yang membuat Kise merinding.
"Masih belumkah …?" Kesah lolos dari bibir Kise. Ia merenggangkan punggungnya yang terasa kaku. Ia melepaskan kacamatanya sejenak sambil mengurut dahinya. Matanya sehat sempurna, hanya saja ia memiliki kebiasaan memakai kacamata saat berlama-lama di hadapan laptop.
Kise pergi lagi ke dapur untuk membuat lagi secangkir teh madu hangat. Ia mengaduk tehnya sambil melamun. Apakah sebenarnya Hanamiya memang tak ingin berbicara dengannya? Ia merasa dikhianati.
Ah, bodohnya, pikir Kise. Ia menggelengkan kepala. Terlalu banyak berpikir bukanlah karakteristiknya, apalagi berpikir hal-hal negatif. Bersikap melenceng dari karakternya bukanlah kesukaan Kise, apalagi di saat-saat seperti ini.
Sang pemuda melangkahkan kakinya kembali ke kamar. Ia segera menghadap layar laptopnya sambil mengenakan kacamata yang membuatnya terlihat makin tampan.
Kise melihat lagi situs WeTalk-nya. Yang ia lihat membawa senyum yang lebar ke wajahnya, seakan ia tak dapat tersenyum lebih lebar lagi tanpa merobek wajahnya. Akhirnya Hanamiya on dan membalas pesannya.
"Hai juga. Maaf terlambat, ternyata komputerku mati jadi aku harus mengecasnya dulu," tulisnya.
Kise mengetik balasannya dengan cukup cepat.
"Oh, tidak apa-apa, Hanamiya-san. Namun kau membuatku khawatir! Kukira kau tidak akan on! =3="
Kise mengirim pesan tersebut disertai emotikon khasnya. Banyak yang mengatakan bahwa Kise terlihat seperti seorang gadis remaja jika menggunakannya dan itu menjijikkan, tetapi Kise tidak ambil peduli. Orang-orang bisa bicara semau mereka dan Kise akan membayar sedikit bahkan tidak sama sekali perhatian pada mereka.
"Sudah kubilang emot itu menjijikkan!"
Kise tertawa kecil menerima balasan itu.
"Eeeeh, Hanamiya-san kejam! TAT"
Seperti biasa, percakapan mereka didominasi oleh hal-hal yang tak begitu penting namun begitu asyik dibicarakan. Kise dapat benar-benar tersenyum dan tertawa dengan tulus. Ia sudah lupa bagaimana rasanya berteman, dan saat-saat seperti ini terasa begitu menyenangkan.
Berbicara bersama Hanamiya benar-benar membuat Kise lupa waktu dan lupa daratan. Baru saat jam di kamarnya berdentang dua belas kali, Kise tersadar bahwa ia sudah jauh melewati waktu tidurnya.
Kise mengusap matanya yang baru ia sadari telah sangat lelah dan memberikan salam perpisahan pada Hanamiya. Sebenarnya model itu sangat tak ingin berpisah sekarang. Akan tetapi ia meyakinkan diri bahwa akan ada hari esok.
"Hanamiya-san, aku off dulu. Sudah larut dan ini waktunya tidur. Besok, jam yang sama?"
Hanamiya membalas tepat sebelum Kise menutup browser-nya.
"Tentu saja. Sampai besok, Ryou."
"Seseorang sedang senang hari ini," goda wanita berambut pirang sebahu yang kini beristirahat di sofa beludu lobi hotel Majesty Inn. Wanita itu, yaitu kakak sorang Kise Ryouta sekaligus manajernya, berada di sana untuk membahas kontrak.
"Nee-chan diam saja, deh!" balas yang tak lain adalah Kise Ryouta sendiri.
Kakak Kise hanya tertawa. Ia memutuskan untuk angkat bicara karena ia dan adiknya telah menunggu selama lima belas menit. Rupanya presiden direktur hotel Majesty Inn belum datang, sedangkan Kise dan kakaknya tidak dikenal sebagai orang yang begitu sabar.
"Jadi apa dengan pacarmu itu?" goda sang manajer lagi.
"Hanamiyacchi itu laki-laki, Nee-chan, bagaimana mungkin aku jadi pacarnya?" tanya Kise sambil protes. Kakaknya memang terkadang bercanda hal yang tak ia mengerti.
"Sudahlah, Ryou-chan takkan mengerti. Lagipula itu tak penting. Sudah tiga bulan kau berkenalan dengan si Hanamiya ini. Bagaimana? Sepertinya kalian akrab sekali. Nee-chan-mu ini iri, aku juga ingin dekat dengan Ryou-chan~" goda wanita cantik itu.
"Nee-chan, kalau kau bisa menjadi tidak aneh, kita bisa menjadi kakak dan adik yang akrab," jawab Kise sambil memutar mata. Tentu saja ia tak serius dengan ucapannya.
"Ryou-chan jahat sekali!" ujar sang kakak dengan air mata buayanya. Sepertinya keluarga Kise memang mirip satu sama lain.
"Permisi, Kise-san? Presiden direktur telah datang," kata seorang wanita dalam balutan pakaian hitam. Sepertinya ia sekretaris presiden direktur hotel Majesty Inn.
"Ah, Kise-san. Maaf lama menunggu, perjalanan saya terhambat. Baiklah, silakan ke ruang pertemuan, kita akan bahas lebih jauh di sana," kata seorang pria paruh baya dengan setelan jas yang mahal. Kise mengenali bahannya; kasmir murni.
Kise mengikuti jejak kakaknya yang sudah melenggang terlebih dahulu ke ruang pertemuan. Di perjalanan ia dapat melihat kemewahan hotel Majesty Inn sebagai salah satu hotel top di Tokyo, bahkan mungkin di Jepang.
"Silakan masuk."
Sang presiden direktur mempersilakan Kise dan kakaknya masuk. Ruang pertemuan dan konferensi Majesty Inn sangat luas dan megah, pantas dengan titel prestisius yang dimiliki hotel itu sendiri.
Kise dan kakaknya duduk untuk menikmati makan siang terlebih dahulu. Sang presiden direktur tampaknya paham benar bagaimana cara merebut hati tamunya. Ia memperlakukan Kise dan kakaknya bagai raja. Mereka berbicara basa-basi untuk mencairkan suasana.
Setelah mereka makan siang dan semua orang sudah rileks, datanglah saat yang menegangkan. Bapak presiden direktur yang duduk di seberang meja berdeham, posisi dan ekspresinya berubah serius. Tak ayal Kise dan sang manajer juga ikut serius.
"Jadi, Kise-san, jadi saya ingin menyewa jasa Anda untuk mempromosikan hotel ini. Saya menyukai gaya segar dan energetik yang Anda tampilkan, dan saya rasa dengan Anda menjadi duta hotel ini akan menaikkan minat masyarakat pada kami. Saya telah menyiapkan pembayaran yang saya rasa memadai," ucap pria paruh baya itu.
Kakak Kise memainkan peran manajer secara profesional. Dia menangkis dengan, "Maaf, Pak, Ryouta adalah anak SMP. Bukannya saya ingin menolak, namun saya tak dapat menjanjikan segala waktu Ryouta akan dapat diserahkan untuk mempromosikan hotel Anda."
"Tidak apa-apa, saya dapat memberikan jadwal yang fleksibel," sahut sang presiden direktur.
Manajer Kise menoleh pada yang sedang diperdebatkan. Kise mengesah; "Saya akan senang hati menerima jika kegiatan promosinya tak akan mengganggu aktivitas harian saya."
Tentunya perundingan tak selalu berlangsung mulus. Terdapat beberapa batu sandungan. Kise sendiri tak banyak berperan aktif. Kakaknya adalah pembicara yang lebih baik darinya dikarenakan kecerdasannya. Biasanya Kise dibutuhkan saat ia harus membuat keputusan yang benar-benar harus keputusannya.
Untunglah perundingan tak terasa begitu alot. Setelah satu jam, kedua pihak sampai pada suatu mufakat. Kise menerima tawaran menjadi duta hotel Majesty Inn dengan bayaran bernominal menggiurkan. Untungnya kedua pihak puas karena merasa sama-sama diuntungkan.
Akhirnya sang presiden direktur berdiri, diikuti Kise dan kakaknya. Mereka membungkuk dan saling bertukar kata terima kasih.
"Berterimakasihlah pada kakakmu ini, kau jadi dapat tambahan penghasilan," ujar kakaknya saat meninggalkan hotel. Tentu saja wanita itu hanya bercanda.
Kise memutar mata, namun ia tetap tertawa. "Ya, ya, terima kasih banyak, manajer-san," sahutnya.
"Sama-sama, Kise Ryouta-san," sahut sang kakak dengan nada senang.
Keduanya bersenda gurau di perjalanan. Setelah sampai di apartemen Kise, ia berpisah jalan dengan kakaknya tersayang yang menuju apartemennya sendiri.
Selepas kepergian kakaknya, hal pertama yang ia lakukan adalah mandi. Ia harus membersihkan diri. Tubuhnya kotor dan berkeringat, membuatnya sangat tak nyaman. Pemuda berambut pirang itu menghabiskan cukup waktu untuk meremajakan dirinya kembali. Profesinya sebagai seorang model memang menuntutnya untuk terlihat sempurna kapan pun, di mana pun.
Kise keluar dari kamar mandi dengan handuk di atas kepalanya yang masih basah. Kulit putihnya tampak berkilau dengan air yang mengalir sepanjangnya. Ia mendesah bahagia; tubuhnya terasa segar sekali.
Setelah mengenakan pakaian santai, ia beralih untuk menyalakan laptopnya. Seperti biasa, jika ada hal menarik, ia ingin segera menceritakannya pada Hanamiya. Apalagi sekarang ia sudah cukup mempercayai pemuda itu untuk melakukan video call.
[ iii.i. flashback ]
Saat itu sudah dua bulan setengah Kise mengenal Hanamiya. Mereka cukup sering berkonversasi, dan makin lama mereka makin akrab. Hingga suatu saat, Hanamiya meminta sesuatu pada Kise.
"Hei, Ryou."
"Ya?"
Pertanyaan Hanamiya berikutnya membuat dahi Kise mengernyit.
"Kita sudah lama berkenalan. Mau coba video call?"
Kise menimang-nimang. Memang benar ia dan Hanamiya telah kenal untuk beberapa saat. Mungkin tak salah memberikan sedikit kepercayaan padanya.
Lalu bagaimana dengan fakta bahwa ia adalah model terkenal? Ah, Kise nyaris lupa. Akan tetapi Kise memutuskan untuk meninggalkan masalah itu untuk sejenak. Apa pun yang akan terjadi akan ia hadapi konsekuensinya.
"Tentu. Mengapa tidak?"
Beberapa detik setelah Kise menjawab demikian, ia menerima panggilan. Kise memilih tombol terima.
"Halo, Hanamiyacchi!" seru Kise dengan ceria.
"Oh, jadi kau seperti ini, Ryou—eh!? Kau bukannya Kise Ryouta yang model itu!?" seru Hanamiya. Reaksinya sudah dapat Kise duga. Tentu saja, siapa yang tidak kaget saat mengetahui bahwa ia sedang ber-video call dengan seorang artis?
"Sungguh, aku tak menyangka. Jadi Ryou itu maksudnya Kise Ryouta? Hanya … wow!" kata Hanamiya yang sepertinya masih tertegun akan nasibnya.
Kise tertawa di seberang lain sambungan. "Beda denganmu, aku tak terkejut melihat rupamu. Kau mirip dengan yang kubayangkan, Hanamiyacchi."
"Keadaan menjadi semakin menarik, aku beruntung," gumam Hanamiya dengan nada rendah. Sebuah seringai tipis terbentuk di wajahnya.
"Eh? Kau mengatakan sesuatu, Hanamiyacchi?" tanya Kise sambil menelengkan kepalanya sedikit ke kanan, memasang wajah polos yang tak ia sadari.
Wajah Hanamiya sedikit merona melihat ekspresi dan gestur Kise. Ia tampak gugup dan gelagapan saat menjawab, "A-ah, bukan apa-apa. Lagipula, –cchi itu terdengar lebih aneh jika diucapkan!"
Kise tertawa lagi. Hanamiya sangatlah lucu. "Baiklah, baiklah, terserah Hanamiyacchi~"
"Apa maksudmu itu, bodoh!"
"Ahahaha, Hanamiyacchi lucu sekali~"
"Di-diamlah!"
"—lalu akhirnya Nee-chan menyepakati harga yang ditawarkan presiden direktur dan kontrak dibuat. Mulai minggu depan aku akan menjadi duta hotel Majesty Inn," ujar Kise pada kamera.
Wajah Hanamiya di layarnya tampak mengangguk-angguk. "Begitu. Selamat, ya. Kau makin populer. Aku hampir tak percaya aku berteman dengan model terkenal Kise Ryouta sekarang."
Kise meringis. "Sudah kubilang jangan anggap aku seperti itu, Hanamiyacchi. Aku tetap Ryou yang dulu, tak ada yang berubah," ucapnya.
"Yah, kau selalu mengatakan itu. Aku tahu, aku tak menganggap ada yang berbeda," jawab Hanamiya.
Kise meringis lagi. Ia tak yakin.
"Daripada itu," Hanamiya berkata, "aku tahu sesuatu yang menarik."
Kise tampak tertarik dengan bagaimana ekspresi Hanamiya berubah. "Apa itu?" tanyanya.
Bibir Hanamiya melengkung menjadi sebuah seringai.
"Ryouta, bermainlah denganku."
—To Be Continued.
A/N:
Akhirnya ini selesai~ Pendek dan agak gak penting, bener. Namun ini cukup menjelaskan untuk konflik di chapter selanjutnya, sungguh.
Ups, hampir lupa, mulai chapter depan, fanfiksi ini akan berganti rating menjadi M! Hal ini dikarenakan banyak sexual contents, dan bukan itu saja, akan ada banyak disturbing materials yang tidak cocok untuk anak-anak underage. Jadi, saya mohon pengertiannya, ya.
Last, pertanyaan, saran, kritik atau pujian silakan sampaikan lewat review. Reviews, favs and follows are always greatly appreciated. Jaa~
110513 2109 —Shana Nakazawa
