Fandom: Kuroko no Basuke/Kuroko no Basket

Author: Shana Nakazawa

Chapter: 4/?

Jumlah kata: 2.677 kata

Summary: Kise Ryouta adalah boneka. Ia digerakkan oleh hal yang membesarkan namanya, dan ia juga dijatuhkan karenanya. Di saat dunia tak berpihak padanya dan Kise merasa telah muak, malaikat pun datang menolong. Pertanyaannya: dapatkah?

Warning: (possibly) OOC. AU. Disturbing materials; usage of children, bullying—both cyber and RL, rape/non-con, self-harm. GoM/Kise, dominant AoKise.

Note: Berdasarkan kisah nyata. Kredit diberikan kepada (alm) Amanda Todd, sekaligus sebagai pesan untuk menyampaikan gerakan stop bullying! Dipersembahkan sebagai karya NaNoWriMo. Dipersembahkan sebagai salah satu entri challenge "Pestisida Untuk Hama: 21 fanfict 21 genre" oleh Hama Hitam; genre hurt/comfort.

Disclaimer: Kuroko no Basuke/Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi. Cover © Zitronenkirsche [zerochan #1292621]. Tidak ada keuntungan materiil yang diperoleh dari membuat ataupun mempublikasikan fanfiksi ini. Fanfiksi ini dibuat hanya berdasarkan tujuan kepuasan pribadi.

.

.

.

Winter in Disguise


[ iv. pretty white lies ]

"Ryouta, bermainlah denganku."

"Eh, bermain apa, Hanamiyacchi?" tanya Kise sambil mengerutkan kening. Kepalanya sedikit terteleng ke satu sisi, gestur khasnya saat sedang bingung.

Seringai di bibir Hanamiya belum luntur. Malah, jika mungkin, seringai itu menjadi makin lebar. "Bermain, yah, bermain. Kautahu self-fingering?" tanyanya dengan nada aneh.

Mata Kise membelalak, menunjukkan keterkejutan yang luar biasa. Kontan seluruh tubuhnya gemetar. "Eh!? Maksud Hanamiyacchi bukan …?"

"Ah, ternyata kau mengerti," ujar Hanamiya, tersenyum puas, "dan itulah yang akan kita lakukan sekarang."

Kise tak percaya ini. Kini ia merasa tak nyaman dengan ekspresi dan nada bicara yang Hanamiya gunakan. Rasanya seperti bicara dengan sisi gelap dari pemuda itu. Kata Kise, "A-aku tak yakin, Hanamiyacchi …."

Hanamiya tertawa kecil. "Ryouta, Ryouta. Kau ini memang polos, ya, tepat seperti yang kuduga."

Kise tampak gelagapan. "Bu-bukan seperti itu, Hanamiyacchi, aku—"

"Mau kuajarkan caranya?" potong Hanamiya.

Sejenak Kise ragu. Ada sesuatu dalam dirinya yang melarangnya untuk terlibat lebih jauh lagi dengan Hanamiya. Pemuda yang lebih muda itu menggeliat seakan tak nyaman dengan tubuhnya sendiri.

"Kau percaya padaku, 'kan, Ryouta?"

Kise menggigit bibir bawahnya getir. Topas miliknya tampak jelas dipenuhi dengan rasa cemas, kontras dengan sorot keseriusan yang ditampilkan Hanamiya.

"Ryouta, tenanglah," ujar Hanamiya. Tatapan dan nada bicaranya melembut. "Lihat aku. Kau telah mengalami banyak penderitaan dalam hidupmu, aku tahu. Aku ingin membebaskanmu dari semua itu. Percayalah padaku."

Kise memejamkan mata erat-erat. Tangannya terkepal, mencegahnya untuk gemetar, efek dari campuran emosi yang bergelegak di dalam dirinya. Dalam lirihan yang nyaris bukan termasuk audiosonik, Kise menjawab, "Baiklah."

Hanamiya tersenyum, walau Kise tak melihat. "Tenanglah, Ryouta. Aku akan membimbingmu," ucapnya halus. Perkataan itu menyelusup ke telinga Kise dan seakan-akan melumpuhkan saraf sang pemuda berambut pirang.

"Buka pakaianmu. Sentuh dadamu dengan tanganmu. Rasakan bagaimana tubuhmu terasa."

Kise melakukan apa yang diperintahkan Hanamiya. Jemarinya menemukan jalan menelusuri dadanya yang bidang. Keringat mengalir setetes dari lehernya yang jenjang, menuruni tubuhnya dan membuat kulitnya yang seputih susu berkilau oleh pantulan cahaya. Saat tangan Kise sampai ke bagian nipples-nya, ia tak sengaja mengeluarkan desah dari bibirnya.

Kise tak melihat bagaimana tubuh Hanamiya menegang dalam antusiasme saat suara desah itu terdengar olehnya. Pemuda dengan surai hitam kelam itu menjilat bibirnya, seakan ingin melahap Kise.

"Baiklah, Ryouta," lanjut Hanamiya, "sentuh itu. Mainkan sampai kau merasa puas. Jangan menahannya, itu hanya akan menyakitkanmu."

Kise mengangguk sambil menahan libido yang memenuhi dirinya hingga rasanya sangat menyesakkan. Ia menuruti Hanamiya karena ia rasa pemuda itu tahu apa yang dilakukannya.

Kise sendiri menuruti nalurinya. Ia memainkan nipples-nya yang berwarna merah muda cerah. Kise menyentuhnya, mengelusnya, memuntirnya, mencubitnya, segala yang dapat ia lakukan hingga memancing desah kepuasan alami dari bibirnya. Secara natural, kedua nipples itu makin menegang seiring tiap sentuhan yang Kise berikan.

"A-ah, Hana—ahn—miyacchi, aku—khh!"

"Kau sudah tegang, Ryouta?"

Seringai di bibir Hanamiya kembali. Melihat wajah Kise yang tampak tersiksa namun dalam saat yang sama terpuaskan oleh dirinya sendiri membuatnya terangsang. Bagaimana mata Kise memejam erat, peluh mengalir dari pelipisnya dan pipinya merona merah, Hanamiya menyukai segalanya.

"Aku tahu kau ingin melakukannya, Ryouta. Tak apa-apa, lepaskan segala batasan, kau juga harus memuaskan dirimu sesekali," kata Hanamiya.

Kise memejamkan mata, tersiksa dengan nafsunya sendiri. Akhirnya dengan tergesa-gesa pemuda model itu melepaskan celananya dan menampakkan kejantanannya yang telah ereksi sempurna.

"Kau tegang sempurna hanya karena nipples play? Kau ini seperti perawan saja," goda Hanamiya. Ia menatap layarnya dengan intens; babak utamanya baru akan dimulai.

"Akh, ja-jangan—nggh, menggodaku, Hanamiyacchi, mmh—"

"Tidak mungkin! Kau masih perawan? Wow!" seru Hanamiya, antusiasmenya makin meningkat mengetahui fakta kecil itu. "Tangkapan bagus," gumamnya sambil menyeringai diam-diam, tak terlihat oleh Kise yang sibuk dengan dirinya sendiri.

Wajah Kise memerah mengetahui Hanamiya menggodanya. Walaupun profesinya sebagai model, Kise belum pernah merasakan berhubungan intim dengan siapapun.

Posisi Kise masihlah sangat canggung karena ia belum berpengalaman—yah, pemuda itu bahkan belum pernah melakukannya sama sekali. Tangan kanannya mengurus bagian bawah sementara tangan kirinya masih bermain dengan bagian atas.

"Ya, seperti itu. Wow, kau natural, Ryouta. Ini saat pertamamu dan kau sudah sehebat ini?" komentar Hanamiya sambil meneguk ludah. Ia tak menyangka bocah yang tak tahu apa-apa soal Kise dapat membuat libidonya memuncak.

Kise terlalu sibuk sampai tak bisa menanggapi Hanamiya lagi. Ia melakukan gerakan-gerakan memijit pada miliknya, membuatnya tegang. Ia terus melakukannya berulang-ulang hingga terjadi suatu perasaan aneh yang berasal dari dalam dirinya yang tak dapat ia jelaskan. Tubuhnya terasa panas dan segala sesuatu terlihat buram. Nafsu menggelegak dalam diri Kise, memaksa untuk dikeluarkan.

"A-aakh, mmnghm! A-aku akannh … da-datanggh, aaah!"

Dengan satu kali hentakan, Kise melepaskan ikatan yang membelenggunya. Benih lelakinya menyembur ke luar dalam jumlah yang tak sedikit, menyebabkan Hanamiya terpana. Sementara Kise, dalam kondisi terbutakan oleh kenikmatan, hanya dapat terengah-engah. Segala di hadapannya adalah hamparan putih tak berujung.

"Tadi itu … wow. Wow! Ryouta, kau hebat sekali!" seru Hanamiya bersemangat.

Kise mengangguk lelah; terlalu lelah sampai tak mampu berkata apa-apa lagi. Dengan sisa kekuatannya, Kise menggumamkan, "Terima kasih, Hanamiyacchi," dan segera mematikan laptopnya, beringsut ke ranjang.

Ia dapat mendengar samar-samar Hanamiya mengucapkan sesuatu sebelum ia mematikan laptop, namun Kise terlalu lelah untuk peduli.

Sayang, padahal jika Kise menyadarinya, ia akan sadar tentang sesuatu yang disembunyikan Hanamiya; sesuatu yang kelam dan jahat.

"Terima kasih telah masuk dalam perangkapku, Ryouta."


Esoknya Kise terbangun dengan tubuh amat sangat lelah. Ia memandang ke sekeliling dengan mata suntuk. Tidur semalam tak dapat sepenuhnya menghapuskan kelelahan tubuhnya akan apa yang ia lakukan ia malam.

Apa yang dilakukan tadi malam …

"Aaaakh!" jerit Kise sambil menutup wajah. Tentu saja, walaupun tak ada siapapun di sana, ia tak sudah terbiasa untuk menutupi wajahnya saat sedang memerah. Ah, mengingat kejadian semalam membuat Kise tersipu malu rupanya.

"Ah, apa yang kupikirkan?" gumamnya sambil mengacak-acak rambut.

Akhirnya hanya sebuah helaan napas yang lolos dari mulutnya. Kise bangkit dengan gontai menuju kamar mandi. Ia memiliki lima jam sebelum kakaknya datang untuk menjemputnya, lalu—

"Ah, sial, aku lupa ada talkshow di FashionTV. Nee-chan akan marah sekali," rutuk Kise. Dengan cepat ia mandi dan menyiapkan diri. Apartemennya sangat berantakan dan residu dari aktivitasnya semalam belum ia bereskan.

Kise mengambil apa saja yang ada di lemarinya—kaus tanpa lengan berwarna abu-abu dan hotpants merah. Kise sendiri tak begitu peduli dengan bagaimana penampilannya, toh tak ada yang melihatnya ini.

"Harusnya aku menyewa pelayan saja," keluh pemuda yang berada sendirian di apartemennya tersebut. Pada akhirnya ia hanya dapat mengesah, lelah dan kesal. Lelah, tentu saja, karena ia baru saja mencoba sesuatu yang cukup menguras staminanya. Sedangkan kesal? Kise sendiri tak mengerti. Mungkin pengaruh hormon testosteronnya yang kemarin membludak, walau Kise tak dapat menemukan di mana hubungannya.

"Astaga, kenapa aku jadi cepat lelah?" gumam Kise sambil merenggangkan tubuhnya. Suara tulang-tulangnya berkeretak membuat pemuda tampan itu meringis. Ia butuh pergi ke spa dan benar-benar dimanjakan. Lagipula besok hari Minggu, Kise dapat bersantai seharian.

Jika ada yang menyangka bahwa Kise adalah sosok pangeran manja yang tak bisa apa-apa, anggapan itu adalah salah besar. Bahkan sebenarnya kontras; Kise dapat melakukan kegiatan rumah tangga dengan baik. Hal ini dikarenakan keluarganya memang tak pernah memiliki pelayan, sehingga segala tugas rumahan harus dikerjakan oleh seluruh anggota keluarga.

Kise mengambil pel dan membersihkan residu dari apa yang ia lakukan semalam. Untunglah tidak begitu lengket dan tak menyisakan noda yang mencurigakan. Kise dapat bernapas lega. Tak ada yang perlu tahu mengenai apa yang terjadi tadi malam kecuali ia dan Hanamiya.

Setelah kiranya segala pekerjaan selesai dan apartemennya bersih berkilau, dan itu menghabiskan satu jam, Kise menghempaskan dirinya ke sofa. Lembutnya beludu seakan mendekapnya. Sang remaja meloloskan kesah dari bibirnya.

Mata Kise terpejam dan angin semilir yang datang dari pendingin ruangan membuainya untuk tidur lagi. Hanya saja suara dering ponsel dari ruang sebelah memaksanya untuk membatalkan niatnya tersebut. Pemuda itu mengerang; siapa orang yang tega mengganggu waktu santainya?

Kise mengucek-ngucek mata, berhati-hati agar tak menjadi merah. Ia menatap layar ponselnya. Ternyata kakaknya, harusnya Kise bisa menduga.

"Ryou-chan!" seru suara di seberang sambungan.

"Ada apa, Nee-chan?" erang Kise sebal. Ia tak membayar sedikit pun perhatian pada apa yang ingin dibicarakan kakaknya, ia malas sekali.

"Sepertinya Ryou-kun sedang marah, kenapa?" goda suara lain yang lebih cempreng.

"Nee-san!?"

"Bravo! Ryou-kun masih ingat padaku!"

Jika boleh jujur, kehadiran kakak kedua Kise cukup menceriakan pemuda tersebut. Ia sudah rindu dengan kakaknya yang selama ini berkuliah di Amerika Serikat. Tanyanya, "Nee-san sedang apa di sini?"

"Eh, tidak boleh? Jahat! Padahal Nee-san-mu ini rela datang jauh-jauh dari Amerika untuk bertemu denganmu!" Terdengar suara tangisan buaya yang membuat Kise memutar mata. Sungguh, apa sebenarnya jika ia menangis buaya terdengar semenyebalkan ini?

"Bukan tidak boleh, Nee-san. Aku hanya bertanya kenapa tiba-tiba Nee-san datang ke Jepang, tidak memberiku kabar apa-apa lagi," jelas Kise.

Terdengar gelak tawa khas para wanita dari seberang sambungan. Suara kakak kedua Kise menyahut, "Aku tahu, aku tahu. Aku hanya bercanda, Ryou-kun. Aku sedang liburan dua minggu, dan daripada berkarat di Amerika, aku pulang saja."

Kise mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan tersebut.

"Jadi, jadi," kali ini suara kakak pertama Kise, "bagaimana kalau kita bertiga jalan-jalan? Sekaligus menunggu jadwal talkshow-mu, Ryou-chan."

Kise tak perlu memikirkan jawabannya. Pikirannya masih berkabut dan tubuhnya lelah, namun berjalan-jalan adalah penyegaran terbaik. Apalagi dengan kedua kakaknya tersayang.

"Tentu saja. Nee-chan dan Nee-san di mana?"

"Kami sedang minum kopi dan sarapan. Kutebak kau belum sarapan, Ryou-chan. Biar kubawakan french toast yang kausuka dan cokelat hangat, oke? Kami ke sana dalam tiga puluh menit."

"Baiklah, Nee-chan, Nee-san. Hati-hati di jalan, ya, kutunggu."

Kise memutus sambungan terlebih dahulu, namun ia yakin kakaknya tak akan protes. Mereka pasti sibuk dengan pembicaraan para gadis mereka, dan tak ada tempat untuk laki-laki untuk masuk, Kise yakin itu.

"Baiklah, siap-siap!" gumam Kise, menyemangati diri sendiri. Barulah saat model rupawan itu mengganti pakaian, ia menyadari betapa memalukannya pakaian yang tadi ia kenakan.

"Kaus tanpa lengan dan hotpants? Memangnya aku mahasiswi ingin joging?" tanyanya sambil menggaruk kepalanya. Ia heran dengan dirinya sendiri. Ia mengaku model, namun kadang selera berpakaiannya sangatlah tak dapat dibanggakan.

Akan tetapi pada akhirnya Kise tertawa sendiri. Ia memang bodoh pagi ini. Raganya memang ada, namun pikirannya terbang entah ke mana.

Akhirnya Kise memilih pakaian yang menurutnya normal. Kaus hitam lengan pendek yang ditutup jaket biru tua lengan panjang, namun Kise gulung sampai sebatas siku. Hood jaket tersebut Kise biarkan tak terpakai karena memang bukan tipenya memakai hood. Celananya adalah celana jins hitam favoritnya.

Penampilannya mungkin sederhana, namun kasual dan keren, terutama karena pembawaan Kise seperti itu. Mungkin karena itulah Kise disebut model berbakat.

Sambil menunggu kedua kakaknya, Kise mengambil karton susu dari kulkas dan menuangnya dalam satu gelas sedang. Ia mengembalikan karton tersebut ke tempatnya dan melangkah ke ruang depan. Menghempaskan bokongnya ke sofa kulit, Kise meletakkan gelas susunya di meja sambil mencari remote televisi.

Sambil bersandar, Kise mencoba menemukan acara yang menarik. Tangannya berganti-ganti memencet tombol, mencari saluran yang menampilkan acara yang diinginkannya. Keputusannya tertambat pada saluran yang menampilkan siaran pertandingan NBA.

Tatapan Kise terfokus pada seorang pemain bernomor tujuh yang melakukan lay-up. "Tekniknya sempurna …," gumam Kise penuh kekaguman.

Dengan tangan yang melakukan gerakan tak sadar mengantarkan gelas susu ke mulutnya, Kise memperhatikan layar televisinya. Perebutan bola di antara kedua tim terasa makin menekan, terutama karena tinggal tersisa dua menit di kuarter terakhir.

Salah seorang pemain melakukan dunk dan segera setelahnya peluit panjang dari wasit mengakhiri pertandingan. Skor seratus tujuh puluh dua melawan seratus delapan puluh empat tampak tak begitu mengecewakan bagi Kise, namun sepertinya pihak yang kalah tak menganggap demikian. Meskipun begitu, Kise tetap mengagumi sportifitas antar pemain.

Bersamaan dengan gelas Kise habis, suara bel apartemennya berbunyi. Kise dengan tergesa membuka pintu, menampakkan dua orang wanita yang sekilas mirip.

"Nee-chan, Nee-san, silakan masu—mmph!"

Kakak kedua Kise langsung menubruk adik laki-lakinya itu hingga hampir terpelanting. Kise dengan susah payah menahan berat mereka berdua.

"Ryou-kun! Nee-san rindu sekali padamu!" serunya sambil memeluk Kise—bahasa halus dari berusaha meremukkan tulangnya.

"Nee-san, s-sesak," sahut Kise dengan terbata-bata, terutama karena ia tak bisa bernapas.

"Oh, iya. Ehehe, maaf, Nee-san hanya semangat sekali akan bertemu Ryou-kun lagi. Kau sudah tambah besar, padahal baru dua tahun kita tak bertemu," kata wanita itu.

"Aku juga rindu Nee-san, walaupun Nee-san tak banyak berubah. Bagaimana Amerika?" Kise bertanya.

Kakaknya hanya mengibaskan tangan. "Biasa. Ramai, sumpek, globalisasi, kau takkan percaya apa saja yang kualami selama tinggal di Amerika," jawabnya.

"Nah, kalau begitu cepat Ryou-chan habiskan sarapannya agar kita bisa segera pergi dan bicara banyak." Kakak pertama Kise tiba-tiba menyahut.

"Ah, iya. Terima kasih makanannya, Nee-chan," ujar Kise singkat. Ia mengambil piring dari rak peralatan dapur dan segera menyantap french toast dari restoran kesukaannya. Mengingat perutnya juga sedang keroncongan, tak butuh waktu lama bagi Kise untuk menghabiskan menu sarapan.

Kedua kakak Kise segera menyandang tas mereka dan berjalan menuju pintu, jelas sudah tak sabar ingin berjalan-jalan. Kise sendiri memaklumi karena ia juga merasakan hal yang sama.

"Duh, walau aku sudah memakai sepatu hak, tinggi Ryou-kun masih jauh melebihiku," komentar kakak kedua Kise saat mereka berjalan berdampingan.

Kakak pertama Kise menoleh padanya sambil berkata, "Bayangkan aku yang setiap kali harus berjalan bersamanya. Rasanya memalukan, padahal haknya sudah tujuh senti."

"Tentu saja, Nee-chan, Nee-san, aku 'kan laki-laki dan pertumbuhanku cepat," sahut Kise dengan nada berbangga hati.

Kakak kedua Kise mencibir. "Ah, padahal waktu kecil siapa yang menangis hanya karena dikatakan paling pendek di keluarga?" godanya, membuat ia dan kakaknya tertawa.

Sedangkan Kise hanya memerah padam. "Nee-san!"

"Bercanda, Ryou-kun, tak usah dimasukkan ke hati," sahut yang dimaksud sambil membentuk tanda damai berbentuk V dengan jarinya.

"Jadi, mau ke mana? Apa ke Akihabara? Kebetulan aku sedang ingin belanja."

"Ide bagus, Nee-chan. Ayo, Ryou-kun."

Ketiga bersaudara itu berjalan dengan riang menuju stasiun kereta peluru supercepat dan membeli tiket yang menuju Akihabara. Kakak Kise yang baru kembali dari Amerika tampak canggung dengan prosedurnya, namun wanita itu cepat belajar.

"Jadi, mau ke mana, Nee-chan?" tanya kakak kedua Kise, menoleh pada kakaknya.

"Ah, kemarin Suzuki-san, desainer yang memesan Ryou-chan untuk katalognya, memberikanku kartu diskon ke butiknya. Kebetulan koleksi mereka bagus-bagus. Mau ke sana?" tawar sang kakak tertua.

"Baiklah."

Kedua adiknya menyetujui dengan suara bulat dan akhirnya tujuan pertama mereka di Akihabara adalah butik Suzuki Esthétique. Kebetulan saat ketiganya berkunjung, Suzuki Haruto sedang ada di sana dan dengan senang hati melayani mereka bagai raja.

"Kise-san! Silakan coba yang ini, saya yakin cocok denganmu. Warna gelap dari kemejanya menonjolkan warna kulitmu yang cerah itu."

"Ah, Mai, tolong bantu mereka menyediakan segala yang mereka butuhkan, oke?"

"Tidak, tidak, Kise-san! Anggap ini pemberian dari saya, kau tak usah bayar, ya? Tidak apa-apa, sungguh, ini hadiah terima kasih dari saya atas kerja kerasmu kemarin."

Kise amat bersyukur ia tak asal-asalan saat pemotretan katalog kemarin. Buktinya, Suzuki amat puas dan ia memberikan beberapa pakaian hasil desainnya secara cuma-cuma untuk Kise dan kakaknya.

"Aaah, Ryou-kun, coba seperti ini setiap hari, aku takkan mau meninggalkanmu!" canda kakak Kise, yang disambut tawa dari pemuda yang dituju.

"Siapa dulu manajernya~"

"Huu, Nee-chan ini, yang kerja 'kan aku."

"Heh, mau ditambah nih, jadwalnya?"

"E-eh, tidak, Nee-chan, aku hanya bercanda, kok."

Kise mengecek arlojinya. Tinggal satu jam sebelum talkshow, untunglah tempatnya tak begitu jauh dari sini. Jaraknya hanya sekitar tiga stasiun, lima belas menit dengan kereta juga sampai. Sepertinya mereka terlalu banyak menghabiskan waktu di butik Suzuki, walaupun mereka mendapatkan segala yang mereka inginkan.

"Nee-chan, Nee-san," panggil Kise, "bagaimana kalau kita minum saja? Talkshow sebentar lagi dan aku tak mungkin terlambat."

Kakak yang merangkap manajer Kise segera mengecek arlojinya dan menyadari hal itu. "Oh, iya. Baiklah, kita ke kafe saja, baru ke lokasi, oke?"

Sekali lagi, kedua adiknya menyetujui keputusan tersebut.

Di kafe, Kise dan kedua kakaknya hanya memesan minuman ringan. Kise bahkan memesan jus. Alasannya untuk menjaga tubuhnya agar tetap proporsional.

"Jadi, Ryou-chan sudah punya teman akrab, lho!"

"Eeeh, perempuan?"

Kise mengesah mendengar gosipan kedua kakaknya. Memang para wanita tak bisa dipisahkan dari kata gosip.

"Bukan, laki-laki. Namun mereka akrab sekali seperti pacaran."

"Sungguh? Wah, Ryou-kun sudah besar~"

"Apa-apaan sih, Nee-san."

Kise menggerutu sementara kedua wanita di hadapannya tertawa-tawa.

"Eh, tetapi Ryou-kun kenal orang itu dari mana?" tanya kakak kedua Kise.

"Err, WeTalk," jawab Kise singkat.

Kakaknya tampak termangu. Ia menatap Kise serius saat berkata, "Tetapi hati-hati, ya, Ryou-kun. Banyak kejahatan di dunia maya saat ini."

Kise hanya tertawa dan melambaikan tangan, mengindikasikan itu bukan masalahnya. Wajahnya tetap ceria seakan tak terganggu dengan fakta meresahkan itu.

"Tentu saja Hanamiyacchi bukan orang seperti itu," ulang Kise, "tentu saja tidak …."


—To Be Continued.


A/N:

Ya, akhirnya, adegan rated M. Btw, self-fingering tau 'kan? Sebenernya itu cuma istilah saya buat, well, masturbation. Cuma rasanya terlalu frontal kalau Hanamiya ngomong gitu, sayanya juga gak nyaman ngetiknya. /dor

Both Kise's sisters are cute and adorable~ Kise bersaudara itu oenjoeh sekali, pengen deh saya liat canon-nya.

Last, pertanyaan, saran, kritik atau pujian silakan sampaikan lewat review. Reviews, favs and follows are always greatly appreciated. Jaa~

110613 2154 —Shana Nakazawa