Fandom: Kuroko no Basuke/Kuroko no Basket
Author: Shana Nakazawa
Chapter: 5/?
Jumlah kata: 3.440 kata
Summary: Kise Ryouta adalah boneka. Ia digerakkan oleh hal yang membesarkan namanya, dan ia juga dijatuhkan karenanya. Di saat dunia tak berpihak padanya dan Kise merasa telah muak, malaikat pun datang menolong. Pertanyaannya: dapatkah?
Warning: (possibly) OOC. AU. Disturbing materials; usage of children, bullying—both cyber and RL, rape/non-con, self-harm. GoM/Kise, dominant AoKise.
Note: Berdasarkan kisah nyata. Kredit diberikan kepada (alm) Amanda Todd, sekaligus sebagai pesan untuk menyampaikan gerakan stop bullying! Dipersembahkan sebagai karya NaNoWriMo. Dipersembahkan sebagai salah satu entri challenge "Pestisida Untuk Hama: 21 fanfict 21 genre" oleh Hama Hitam; genre hurt/comfort.
Disclaimer: Kuroko no Basuke/Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi. Cover © Zitronenkirsche [zerochan #1292621]. Tidak ada keuntungan materiil yang diperoleh dari membuat ataupun mempublikasikan fanfiksi ini. Fanfiksi ini dibuat hanya berdasarkan tujuan kepuasan pribadi.
.
.
.
Winter in Disguise
[ v. all you need is one mistake ]
"Aakh, Hanamiya … cchi—nngggh, a-aku akan—"
"Lanjutkan, Ryouta. Lepaskanlah semua bebanmu."
"Mmph, nggh—akh!"
Seperti biasa, Kise kembali melakukan video call dengan Hanamiya. Juga masih seperti biasa, Kise melakukan aktivitasnya dengan tuntunan Hanamiya. Walaupun sebenarnya Hanamiya mengakui bahwa Kise adalah natural; ia bisa melakukannya sendiri tanpa arahan dan masih terlihat seperti artis AV.
Syahwat Hanamiya mulai mendidih melihat wajah Kise yang kelelahan setelah mencapai klimaksnya seorang diri. Ia sudah banyak bermain dengan wanita—hah, ia berganti wanita seperti berganti pakaian dalam. Namun di antara semuanya, Kise rasanya salah satu yang dapat membuatnya merinding hanya dengan melihatnya.
"Kau lelah, Ryouta?" tanya Hanamiya.
Kise mengangguk lemah tanpa repot-repot mengusap peluh yang membasahi sekujur tubuhnya. Ia menjadi cukup sering melakukan ini dengan Hanamiya walau ia tak pernah menghitung dengan tepat berapa kali, namun itu tak menjadikan tubuhnya serta-merta dapat menahan lelah.
Kise nyaris ambruk di tempat. Ia mengucapkan salam perpisahan dengan lirih dan mematikan laptopnya dengan cepat, terlihat sekali tergesa-gesa ingin tidur. Ia merangkak ke tempat tidurnya. Tangannya gemetar saat harus menopang berat tubuhnya, tanda pemuda itu tak dapat memaksakan diri lagi.
Dalam kantuknya, Kise hampir putus asa dan menginginkan untuk tidur di lantai. Namun akal sehat menamparnya dan memaksanya melempar tubuhnya ke atas tempat tidur. Kehangatan dan kenyamanan yang Kise rasakan segera menjadi penghantar tidur baginya.
Akan tetapi setelah Kise mendarat dengan nyaman dan bersiap untuk tidur, ia jadi sedikit tak ingin memejamkan mata. Seakan kilasan balik akan hal-hal yang pernah ia lakukan semenjak bertemu Hanamiya membanjir di hadapannya.
Kise bergerak tak nyaman sambil menarik selimut sampai menutupi dagunya. Tiba-tiba ia merasa resah. Perasaan aneh di dalam dirinya muncul lagi; perasaan yang meminta—tidak, memerintahkan dirinya untuk menjauhi Hanamiya dan tak pernah bersentuhan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan pemuda itu lagi.
"Ah, aku ini berpikir apa," gumam Kise lalu tertawa, mengesampingkan masalah itu sejenak seakan itu tak mengganggu pikirannya sama sekali.
Sungguh, sebenarnya Kise itu ingin meyakinkan siapa; dunia atau dirinya sendiri?
"Eh? Nee-san akan pulang hari ini?" tanya Kise, jelas-jelas terkejut oleh perkataan kakak keduanya yang menyatakan ia akan segera kembali ke kehidupan kampusnya di Amerika Serikat.
"Ya. Maaf tidak memberitahumu lebih awal, Ryou-kun. Sebenarnya aku ingin memberitahukannya tiga hari lalu, namun aku lupa. Pesawatnya berangkat nanti malam, kok, jadi kita masih bisa berjalan-jalan. Yah, itu juga kalau kau mau," jelas wanita itu.
Kise terlihat seperti akan menangis. Ia terbiasa dibesarkan dalam keadaan yang condong ke wanita, sehingga bahkan naturanya adalah seseorang yang sensitif. Kedua kakaknya, kontras, seiring dengan bertambahnya usia semakin kehilangan sifat cengeng mereka.
Karena itulah kedua kakaknya amat memanjakan Kise. Selain karena Kise adalah adik laki-laki mereka satu-satunya, sifat Kise terasa begitu menyenangkan namun rapuh di hadapan mereka. Karenanya, dengan naluri keibuan yang kental, mereka dapat dengan mudah menjadi protektif terhadap Kise.
Contohnya adalah seperti saat ini. Melihat Kise yang sudah di ambang air mata, keduanya panik dan segera kalang kabut mencari cara menghentikan adik mereka tersayang.
"A-ah, Ryou-kun jangan menangis! Kita bisa … kita bisa belanja! Ya, belanja! Lalu pulangnya kita bisa mampir ke kafe favoritmu itu! Ya 'kan, Nee-chan?"
"O-oh, ya, benar! Ryou-chan jangan menangis lagi, ya! Hari ini kita habiskan bersama, oke?"
Kise yang sesenggukan mengangkat wajah dari tutupan tangannya. Dengan wajah yang memerah dan pipi masih basah oleh air mata, Kise menahan isak dan menjawab, "Be-benar?"
Jika bisa, kedua kakak Kise ingin sekali pingsan sambil bersimbah darah. Adik bungsu mereka ini tak bisa lebih imut lagi dari ini, bukan?
"I-iya, kami janji. Jadi Ryou-chan berhenti menangis, ya?" kata kakak sulung Kise.
"Kalau begitu … baiklah," jawab Kise. Punggung tangannya ia gunakan untuk menghapus air mata segar yang masih menggenang di pelupuknya, sementara senyum merekah di bibirnya, terlihat begitu indah, bahkan menyaingi fenomena matahari terbit sendiri.
Oh, dan lagi, kedua kakak Kise terlalu cepat bicara. Tentu saja Kise dapat menjadi jauh lebih imut dan manis lagi.
"Baiklah, aku dan Nee-chan akan menunggu di sini. Ryou-kun cepat mandi dan ganti baju," perintah kakaknya dan Kise pun menurut.
Kise benar-benar tak membuang waktu. Ia segera mandi sebersih mungkin dan secepat mungkin lalu mengambil pakaian. Sebuah perpaduan antara kemeja biru muda dan coat jingga ditambah celana hitam dan ikat pinggang senada dengan kemejanya membuatnya terlihat makin tampan.
"Nee-chan, Nee-san," panggil Kise, "aku sudah siap."
Kedua kakaknya menoleh dari aktivitas mereka menonton berita gosip di televisi. Berhubung kakak kedua Kise sudah beberapa tahun tak pulang ke Jepang, ia cukup tertinggal gosip dan karenanya kakak sulung Kise sedang menjelaskan beberapa gosip terhangat para selebriti.
"Ah, Ryou-kun, cepat sekali," komentar salah satu kakaknya.
"Yah, Ryou-chan selalu bersemangat saat akan berjalan-jalan. Benar 'kan, Ryou-chan?" sahut yang lainnya.
"Nee-chan dan Nee-san ini bisanya menggodaku saja," kata Kise sambil merengut. Kedua kakaknya mencubitnya bersamaan karena gemas sekali, memperoleh rintih kesakitan dan protes dari sang pemuda tampan.
"Tetapi kausuka, 'kan, digoda seperti ini?" goda kakaknya.
"Tidak! Siapa bilang!" tukas Kise.
"Oh, ya? Dan siapa tadi ya yang menangis karena aku akan pulang ke Amerika?" goda kakaknya lagi. Kise makin merengut sebal, sedangkan kedua kakaknya tertawa-tawa senang.
"Sudahlah, cepat kita pergi saja!" seru Kise.
"Ah, ada yang marah, nih~"
"Nee-chan!"
"Ups, maaf~"
Kise dan kedua kakaknya mengambil rute biasa dengan kereta. Kebetulan kakak Kise ingin berkunjung sebentar ke kuil. Rencananya saat kemarin wanita cantik itu berkunjung ke rumah orangtuanya di Kanagawa, ia akan berkunjung ke kuil, sayangnya waktu tak mendukung.
Setelah melewati tiga stasiun, ketiga kakak-beradik tersebut sampai di destinasi mereka. Hari itu memang hari libur, namun karena masih pagi, kuil masih belum dipadati pengunjung.
Mereka bertiga berjalan menuju altar utama. Setelah menyiapkan uang persembahan, kedua berjalan menaiki anak-anak tangga yang cukup banyak. Altar itu sebenarnya tak begitu besar. Terdapat beberapa tiang penyokong berwarna merah, senada dengan cat kuil tersebut. Ada lonceng besar di atas kotak persembahan.
Kise dan kedua saudarinya melempar uang persembahan dan berdoa dengan khusyuk. Setelahnya mereka menepukkan tangan mereka dua kali dan menggerakkan lonceng besar di hadapan mereka, menghasilkan bunyi denting yang khas.
"Nah, bagaimana kalau kita ambil ramalan?" usul Kise. Kedua kakaknya menyetujui tanpa basa-basi.
"Selamat datang. Silakan tarik ramalan, hanya dua ratus yen," sambut gadis kuil yang menjadi penjaga stan ramalan. Kise menyerahnya uang bernominal enam ratus yen.
"Ah, aku sedikit beruntung. Apa maksudnya itu?" kata kakak sulung Kise. Ia melipat kembali gulungan ramalannya dan menyimpannya.
"Kalau aku sedikit sial sedikit beruntung. Wah, ini langka! Aku belum pernah melihat yang seperti ini!" seru putri kedua keluarga Kise tersebut. Ia mengacungkan kertas ramalannya tinggi-tinggi, memastikan ia tak salah lihat.
"Wah, benar! Hebat! Kalau Ryou-chan?"
Kepala kedua wanita cantik tersebut menoleh pada adik mereka yang masih belum mengutarakan kata apapun. Tidak seperti biasa, yaitu Kise yang paling bersemangat.
"Cukup sial? Sudahlah, Ryou-chan, ini 'kan hanya ramalan. Ayo kita pergi, kita belum belanja!"
"Kyaaa, belanja~"
Kise memperhatikan kedua kakaknya dan tersenyum. Bukan masalah sialnya yang ia permasalahkan, namun sub-ramalan yang ia baca. Namun Kise hanya meremas kertas itu dan membuangnya, tak menyadari hal penting di kertas itu—atau lebih tepatnya beberapa hal.
Tulisan di kertas tersebut; "Kesehatan: Banyak aktivitas dan stres membuatmu cepat sakit! Jaga kesehatan, ya. Asmara: Masih belum ada? Tenang, jodoh pasti akan datang. Keuangan: Wah, lancar sekali, tak perlu khawatir. Pertemanan: Ah, ada yang perlu diperhatikan dari teman dekatmu. Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu, apa ya?"
Juga, sebuah ramalan tambahan yang tak diperhatikan Kise, bertuliskan, "Sebentar lagi kau akan merasakan kemalangan yang luar biasa, hingga rasanya tak tertahankan. Akan tetapi jangan khawatir, akan ada malaikat yang datang membantumu di saat yang sangat tepat."
"Jadi, Nee-chan, kita mau ke mana?" tanya Kise. Ia mengira-ngira akan pergi ke Akihabara, namun ternyata tidak.
"Shibuya! Kita belum ke pusat di mana anak-anak Harajuku bergaya!" pekik kedua kakaknya bersemangat.
Kise menghela napas. Ia sedikit malas pergi ke Shibuya karena penggemarnya di sana cukup ganas. Ia sudah sering ke Shibuya untuk pemotretan dan biasanya berakhir dengan tarik-tarikan antara dirinya dan penggemarnya.
Setelah naik kereta melewati beberapa stasiun, ketiganya sampai di destinasi. Shibuya penuh sesak dengan pengunjung yang kebanyakan anak muda. Kise harus berdesak-desakan di antara lautan orang-orang, bahkan dengan tubuhnya yang dapat dikatakan relatif tinggi. Untunglah ia memakai topi dan kacamata hitam yang menyamarkannya dari tatapan penggemarnya.
"Nee-chan dan Nee-san mau ke mana dahulu?" tanya Kise.
Kedua kakaknya tampak berpikir. Lalu, seakan memiliki pikiran yang saling terkoneksi, mereka berseru berbarengan, "Toko cosplay!"
Kise hampir lupa dengan fakta bahwa kedua kakaknya merupakan duo otaku maut, walau tak banyak yang mengetahui informasi tersebut. Apalagi dengan rahasia bahwa mereka berdua sama-sama merupakan fujoshi akut.
"Baiklah, tetapi jangan lama-lama dan jangan pilih yang aneh-aneh," peringat Kise. Kedua wanita di hadapannya memang mengiakan, namun sang model tak yakin perkataannya tadi bukannya masuk telinga kanan keluar telinga kiri.
Tak ada yang membual saat ada yang mengatakan bahwa Shibuya merupakan pusat perbelanjaan pemuda-pemudi Jepang. Selain Akihabara, Shibuya menjadi distrik perbelanjaan favorit. Selain karena banyak variasi, tempatnya juga menyenangkan.
Toko cosplay—untungnya—masih belum penuh. Baru ada beberapa orang yang memilih-milih pakaian dan aksesori. Berhubung tidak akan ada festival besar dalam waktu dekat, cosplayer dapat merasakan rehat.
"Kyaaa, ada tuksedo Haru-kun! Lalu pakaian pelayan crossdress yang dikenakan Rin-chan di episode lima!"
Kedua kakak Kise harus menahan jeritan mereka melihat surga dunia tersebut. Toko cosplay tersebut merupakan salah satu yang terlengkap di Shibuya. Dengan koleksi yang sebegitu banyaknya, hasrat setiap otaku dan cosplayer pasti rasanya akan terpuaskan.
Kise, yang memang tak pernah begitu tertarik begitu dalam pada dunia anime dan manga seperti kedua saudarinya, hanya melihat-lihat. Ia akui toko ini memiliki koleksi pakaian cosplay yang berkualitas juga. Tadi ia melihat jersey dari anime basket kesukaannya dan sempat terlintas di pikiran untuk membelinya.
Kise berpaling pada kedua kakaknya yang sibuk mengurusi pakaian neko maid di ujung. Pemuda itu hanya dapat menghela napas dan memutar mata. Ia berjalan menuju rak yang menampilkan jersey tadi dan memutuskan untuk melihat lebih dekat. Toh, kedua kakaknya takkan kehilangan dirinya.
"Mencari sesuatu, Tuan?" tanya seorang pramuniaga dalam balutan seragam cosplay. Kise menoleh untuk menatapnya dan tersenyum. Secara tak sadar, wajah pramuniaga itu bersemu merah.
Jawab Kise, "Ah, iya, aku ingin melihat jersey ini."
"Oh, tentu saja, Tuan. Biarkan saya carikan ukuran untuk Tuan."
Kise menatap punggung sang wanita yang berjalan menjauh. Ia berbalik untuk kembali duduk ketika kedua kakaknya datang dan mencegatnya dengan seragam neko maid di tangan. Uh-oh, Kise mendapat perasaan buruk.
"Ryou-chan~ Kenakan pakaian ini, ya? Nee-chan memaksa~"
"Benar sekali, Ryou-kun~ Takkan ada yang bisa kaulakukan untuk lari~"
Kise menelan ludah. Sejak kapan kedua kakaknya berubah menjadi psikopat!? Oh, Kise lupa. Mereka berdua memiliki fetish terhadap uke yang dipaksa ber-crossdress dan melakukan BDSM. Bagaimanapun juga, ini sudah mulai keterlaluan!
"Nee-chan, Nee-san, tidak mau! Aku bukan uke fantasi kalian!"
Kise meronta di dalam tangkapan kedua kakaknya. Sayangnya, cengkeraman kedua wanita yang sedang kumat itu ternyata begitu kuat. Akhirnya dengan penuh penderitaan, kedua kakak Kise dapat memaksa Kise mengenakan pakaian neko maid yang begitu memalukan itu.
Kise memasuki ruang ganti dengan amat sangat terpaksa, sementara kedua kakaknya tersenyum puas. Saat para wanita sedang menunggu, pramuniaga yang tadi melayani Kise menghampiri mereka.
"Maaf, Nona, apakah Nona saudara Tuan yang tadi? Saya ingin memberitahu bahwa jersey-nya sudah ada," kata pramuniaga tersebut.
"Oh, begitu. Baiklah, sebentar, ya. Ryou-chan, cepat ganti pakaiannya, jersey-mu sudah ada!" seru kakak sulung Kise.
"Sebentar, Nee-chan!" sahut Kise dari dalam ruang ganti dengan suara bergetar, kemungkinan besar karena menahan malu.
Akhirnya Kise keluar. Dengan kaki yang tersilang, tangan menggenggam rok mininya erat-erat dan wajah merona merah yang terlihat amat manis, tak ayal jeritan pecah di sekitarnya. Kise tampak begitu manis dalam balutan pakaian pelayan berwarna hitam dan apron putih. Belum ditambah kuping kucing alias nekomimi yang membuat salah sangka.
Jika seperti ini, Kise dapat dikira perempuan.
"Kyaaa, Ryou-chan imut sekaliii! Eh, permisi, kami ambil baju maid yang ini beserta seluruh aksesorinya, ya. Lalu jersey Ryou-chan … ambil saja, deh!" seru wanita terdewasa di antara kakak-beradik Kise sambil menahan sebuah jeritan yang ingin sekali lolos dari bibirnya.
"Baiklah, saya permisi," sahut sang pramuniaga.
Pada akhirnya, pikiran Kise memutih. Ia hampir tak sadar karena malunya. Ia tak begitu ingat apa yang terjadi hingga sampai di restoran untuk makan siang. Kedua kakaknya tampak masih sangat bahagia.
Kise menggelengkan kepala. Ia takkan pernah, ulangi, tidak akan pernah lagi mengajak kedua kakaknya pergi ke toko cosplay.
"Ryou-chan, mau pesan apa?" tanya kakak tertua Kise. Ia sendiri sudah selesai memilih dengan nasi omelet dan jus mangga.
"Ah, Nee-chan, aku ingin nasi omelet juga. Minumnya teh Earl Gray saja," jawab kakak kedua dengan ceria setelah mengobservasi menu.
"Aku … sup gratin dan milkshake stroberi," timpal Kise.
Pelayan di hadapan mereka mengangguk dan mencatat semua pesanan. Setelah memastikan bahwa yang ia catat adalah benar, gadis itu permisi undur diri.
"Ryou-kun, nanti kaupakai seragam pelayan tadi dan foto, ya. Kirim ke e-mail-ku," kata kakak Kise, setengah menggoda dan setengah serius.
"Tidak! Nee-san kejam sekali pada adikmu ini! Masa aku harus ber-crossdress!? Aku ini laki-laki tulen, Nee-san!" tolak Kise tegas. Ia memasang ekspresi enggan yang begitu kentara, walaupun pemuda itu sendiri yakin kedua kakaknya tak akan terpengaruh dan akan menemukan cara untuknya memakai pakaian pelayan tadi.
"Tidak, Ryou-chan. Kau harus memakai pakaian itu. Kami memaksa," sahut kakak Kise yang lain.
"Tidak mau, Nee-chan!" tolak Kise lagi, lebih berkeras dari sebelumnya.
Mata kedua kakak Kise berkilat berbahaya, membuat Kise meneguk ludah dengan gugup. Apapun yang mereka rencanakan pasti tak akan berakhir baik bagi hidup Kise.
"Ryou-chan, kalau kau tidak mau melakukannya, kami akan memaksa~ Nah, silakan pilih, mau jadwalmu ditambah besar-besaran atau kami memotretmu dengan pakaian pelayan saat tidur dan disebarkan ke internet, hm~?"
"Nah, kau sudah tahu konsekuensinya, Ryou-kun, sekarang ayo pilih~"
Benar apa yang dikira Kise. Kedua kakaknya memang titisan iblis yang menyamar seperti malaikat. Selama empat belas tahun ia hidup, kedua kakaknya tak pernah membiarkannya hidup tenang tanpa ide-ide aneh mereka. Tinggal menunggu waktu hingga Kise dijadikan objek fantasi yaoi mereka.
Akhirnya Kise menghela napas dalam kekalahan. "Baiklah, aku akan memakai seragam pelayan itu."
Kedua kakak Kise memekik kesenangan dalam frekuensi tinggi. Untungnya suara yang mereka hasilkan tidak begitu besar sehingga tak mengganggu pengunjung lain.
"Tetapi jangan lakukan dua hal tadi!" sahut Kise sambil menatap tajam kedua kakaknya. Yang ditatap hanya tertawa-tawa kecil sambil mengangguk.
Kise mengesah sambil sedikit menggerutu. Berbanding terbalik dengan yang Kise harapkan, kedua kakaknya tidak meminta maaf saat melihat ia mengerucutkan bibir, namun hanya tertawa sambil menatapnya gemas. Yah, Kise juga tak bisa menyalahkan mereka. Sudah menjadi natura mereka untuk menjadi seperti itu, dan Kise sendiri sudah mafhum.
"Permisi, pesanan Anda."
Setidaknya, setelah ketiga bersaudara itu mendapat pesanan mereka, urusan tersebut dilupakan sejenak. Menyantap makan siang, kakak-beradik tersebut tak membutuhkan waktu yang terlalu lama hingga selesai. Setelah membayar dengan harga yang semestinya, mereka pergi untuk kembali menjelajahi Shibuya.
Jam sendiri telah menunjukkan pukul satu siang dan ketiganya tak ingin menyia-nyiakan waktu lagi. Setelah beberapa pertimbangan, tiga bersaudara memutuskan destinasi mereka berikutnya adalah toko makanan ringan khas Jepang.
Di toko yang masih kental dengan adat Jepangnya tersebut, seorang nenek dalam yukata merah keunguan bercorak bunga sakura putih menyambut dengan senyumnya yang ramah. Beliau mempersilakan Kise dan kedua kakaknya memilih. Dengan uang yang cukup banyak habis di toko tersebut, ketiganya pergi dengan puas sambil menenteng beberapa tas belanja.
"Selanjutnya kita mau ke mana, Nee-san?" tanya Kise, terutama karena lelah membawa beberapa tas belanja yang cukup berat.
"Tunggu, biar aku pikirkan. Kurasa yang belum adalah … toko suvenir! Ya? Ayo pergi!" jawab wanita itu dengan semangat tinggi.
Toko suvenir terletak agak di sudut sehingga sulit menemukannya. Bagaimanapun juga, Kise lega setelah dapat beristirahat di bangku panjang di dalam toko tersebut. Ditambah pendingin ruangan yang meniupkan angin dingin bersemilir yang memanjakan tubuh Kise yang kepanasan.
"Ryou-kun, kau tidak ikut mencari suvenir?" tanya kakaknya kepada Kise. Pemuda itu hanya menggeleng, secara nonverbal menyatakan keengganannya memperlelah diri.
"Ryou-chan capek?" tanya kakak sulung Kise pada adik pertamanya.
"Hm, kurasa. Kasihan, biarkan dia istirahat sebentar," jawab adiknya.
Kise mendengar pembicaraan mereka dan diam-diam tersenyum. Di balik semua keanehan kedua kakaknya, mereka menyimpan sisi perhatian dan pengertian yang tak ada tandingannya.
Kise bersandar pada dinding dan beristirahat. Matanya terpejam, namun kewaspadaannya terhadap keadaan di sekitarnya tak menurun. Napas sang pemuda model menjadi semakin halus dan bulu matanya yang lentik berkedip-kedip.
"Nee-chan, lihat, Ryou-kun tertidur. Lucu sekali," bisik kakak kedua Kise setelah melihat adiknya tersayang jatuh tertidur karena kelelahan.
"Biarkan saja. Dia pasti lelah sekali. Pastikan barang belanjaan kita tidak apa-apa, dan Ryou-chan juga," sahut kakaknya sambil tersenyum.
"Haha, tentu saja. Kalau ada yang berani mengapa-apakan Ryou-kun kita, mereka akan kehilangan kepala terlebih dahulu, ya!"
Keduanya beralih mencari suvenir yang menarik yang akan dibawa ke Amerika Serikat. Sesekali ujung mata mereka mengawasi Kise, memastikan ia masih tidur dengan damai. Setelah sekiranya ia tak apa-apa, mereka memfokuskan diri mencari barang yang membangkitkan rasa tertarik mereka.
"Ryou-chan, ayo kita pu—"
Perkataan kakak Kise terhenti karena melihat pemandangan di hadapannya. Kise tertidur dengan bersandar pada bahu orang asing di sisinya. Sepertinya Kise tak sengaja berpindah posisi dan menyandarkan kepalanya pada bahu orang asing yang mungkin terasa nyaman baginya.
Orang asing itu menoleh pada kedua kakak Kise dan tersenyum canggung. Kedua kakak Kise balas tersenyum padanya.
"Maaf sudah mengganggu, adik kami memang sedang kelelahan. Kami akan bangunkan sekarang," kata kakak sulung Kise dengan senyum manisnya.
"Ah, tidak apa-apa, saya mengerti," jawab sang orang asing dengan kikuk.
Untungnya Kise adalah seseorang yang tak sukar dibangunkan. Dengan agak linglung, Kise terbangun. Matanya mengerjap-ngerjap. Iris topas itu terlihat masih agak sayu namun indah seperti biasa.
Kise melihat orang asing di sisinya—seorang pemuda—tersenyum padanya. Hal pertama yang terlintas di benaknya adalah; apakah mengecat rambut dan ganguro adalah tren terbaru sekarang?
Lalu ia seakan tersadar bahwa ia baru saja bersandar ke bahu pemuda tadi. Dengan agak kikuk dan tersipu malu, Kise mengucapkan, "Maaf, terima kasih."
Ia dapat melihat rona merah yang amat samar di pipi pemuda tadi. Namun tak ada waktu untuk memperhatikannya lebih jauh ataupun berkenalan dengannya karena kedua kakaknya telah memanggil. Karenanya ia hanya membungkuk dan berlalu.
"Aku ingin tahu siapa dia …," gumam Kise. Dengan matanya yang masih agak kuyu dan pikiran masih berkabut, ia tak dapat mengingat jelas wajah pemuda yang tadi ia tiduri bahunya. "Yah, sepertinya kita juga takkan bertemu lagi."
Sekali lagi, jangan naif, Kise. Kau takkan tahu bagaimana cara takdir berputar.
Kise mengecek akun WeTalk-nya—sekarang sudah menjadi kebiasaan baginya untuk mengeceknya setiap malam. Ia menemukan sebuah pesan dari Hanamiya yang mengajaknya ber-video call. Kise mengiakan.
"Ada apa, Hanamiyacchi? Tak biasanya kau yang mengajak video call," ujar Kise.
Hanamiya menghela napas panjang. "Aku baru putus," katanya.
"Oh! Aku turut sedih. Tenang saja, masih ada banyak perempuan di dunia—"
"Ryouta."
Kise berhenti bicara mendengar nada yang digunakan Hanamiya. Sepertinya pemuda yang lebih tua darinya itu sedang dalam kondisi buruk dan Kise tak ingin memperparah keadaan.
"Ah, apa aku harus memutus sambungan, Hanamiyacchi? Kau sepertinya sedang tidak—"
"Tidak." Sekali lagi, perkataan Kise dipotong. "Aku ingin kau menghiburku."
"Eh? Menghibur? Bagaimana?" tanya Kise bingung.
Hanamiya sedikit menggeser duduknya, matanya tertuju pada sesuatu di belakang Kise. "Itu di belakang … pakaian pelayan? Bagus. Lakukan self-fingering dalam pakaian itu," perintahnya.
Wajah Kise memerah. "A-apa maksudmu, Hanamiyacchi!? Aku takkan mau! Aku lelah hari ini, dan aku takkan pernah melakukannya dalam pakaian pelayan, apalagi jika tidak berdasarkan keinginanku!" tolaknya tegas.
Hanamiya menatap Kise dingin. Lalu bibirnya bergerak membentuk sebuah seringai. "Kau akan melakukannya untukku, Ryouta. Karena kau tentu tak ingin video kau sedang bermasturbasi tersebar ke publik dan menghancurkan kariermu, bukan?"
Kise terbelalak. Ia menahan napas. Ini bukan Hanamiya, sama sekali bukan Hanamiya yang ia kenal. Apa yang terjadi?
"Jadi? Pilihlah," ujar Hanamiya enteng.
Kise terpaku. Tubuhnya gemetar menahan amarah dan rasa takut. "Kau … kau bukan Hanamiyacchi."
Hanamiya malah tertawa. Dengan seringai jahat yang terlihat memuakkan, ia menjawab, "Haha, Ryouta, Ryouta. Kau ini polos atau naif, eh? Tentu saja aku Hanamiya. Aku tak berbeda. Ini semua karena Hanamiya yang kaukenal itu tak pernah ada! Akulah Hanamiya Makoto! Kau telah masuk dalam perangkapku! Dan sekarang kau takkan bisa lari."
Kise menggigit bibirnya dengan getir. Bisa-bisanya ia tertipu bangsat macam Hanamiya. Namun apa daya, nasi telah menjadi bubur. Kini ia bagai makan buah simalakama; hanya kemalangan yang menantinya di dua sisi.
"Jadi, pilihanmu? Cepatlah, aku tak punya waktu semalaman."
"Ukh …"
Kise memejamkan mata, menahan air mata yang memaksa ingin keluar. Dengan tubuh gemetaran, ia kumpulkan seluruh tenaganya untuk menjawab, "Baiklah. Aku akan menghiburmu. Asalkan jangan sebarkan video itu, kumohon."
Hanamiya menyeringai makin lebar. "Anak baik. Nah, Ryouta, pastikan kau tak mengecewakanku."
Dengan amat berat hati, Kise mengganti pakaiannya dengan pakaian pelayan yang baru dibeli kakaknya. Sialnya adalah ia lupa memberikan pakaian itu pada kakaknya tadi setelah mengantarkan kakak keduanya ke bandara. Kise tak memberitahu Hanamiya bahwa ada kuping dan ekor kucing juga, ia takkan sudi dipermalukan lebih jauh lagi.
Kise kembali dalam balutan pakaian pelayan dengan rok mini. Hanamiya menjilat lidah. Libidonya naik hanya dengan pemandangan Kise ber-crossdress pakaian pelayan.
"Baiklah, Ryouta. It's show time."
—To Be Continued.
A/N:
Yep, saya kejam sama Kise, saya tau. Sesekali saya kasih yang fuwa fuwa lalu angst biar nyesss lah. /apa
Pertanyaan, kritik, saran, pujian dan segala rupa sampaikan di review, because reviews are always greatly appreciated. Oh, favs and follows too. Jaa~
110913 2039 —Shana Nakazawa
