Fandom: Kuroko no Basuke/Kuroko no Basket

Author: Shana Nakazawa

Chapter: 6/?

Jumlah kata: 2.066 kata

Summary: Kise Ryouta adalah boneka. Ia digerakkan oleh hal yang membesarkan namanya, dan ia juga dijatuhkan karenanya. Di saat dunia tak berpihak padanya dan Kise merasa telah muak, malaikat pun datang menolong. Pertanyaannya: dapatkah?

Warning: (possibly) OOC. AU. Disturbing materials; usage of children, bullying—both cyber and RL, rape/non-con, self-harm. GoM/Kise, dominant AoKise.

Note: Berdasarkan kisah nyata. Kredit diberikan kepada (alm) Amanda Todd, sekaligus sebagai pesan untuk menyampaikan gerakan stop bullying! Dipersembahkan sebagai karya NaNoWriMo. Dipersembahkan sebagai salah satu entri challenge "Pestisida Untuk Hama: 21 fanfict 21 genre" oleh Hama Hitam; genre hurt/comfort.

Disclaimer: Kuroko no Basuke/Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi. Cover © Zitronenkirsche [zerochan #1292621]. Tidak ada keuntungan materiil yang diperoleh dari membuat ataupun mempublikasikan fanfiksi ini. Fanfiksi ini dibuat hanya berdasarkan tujuan kepuasan pribadi.

.

.

.

Winter in Disguise


[ vi. romeo's reincarnation; without his juliet ]

Sebuah kejutan sesekali takkan menyakitkan. Begitulah yang dipikirkan kakak sulung Kise, yang juga merangkap sebagai manajernya. Dengan pikiran tersebut, ia datang pagi-pagi ke apartemen adiknya menenteng sarapan yang ia dapatkan dari restoran di seberang apartemennya.

Wanita itu sampai di depan pintu dan membunyikan bel. Memang ia memiliki kunci menuju apartemen tersebut, namun ia rasa tak sopan jika ia masuk tanpa dipersilakan pemiliknya, walaupun dengan fakta bahwa pemilik apartemen itu adalah adiknya sendiri.

Ia menunggu sambil mengetuk-ngetukkan kaki dalam ritme teratur. Setelah menunggu beberapa saat dan Kise belum juga keluar, wanita cantik itu menghela napas dan mengambil kunci cadangan dari tasnya. Terpaksa ia sendiri yang masuk walau tanpa izin.

"Ryou-chan? Kau masih tidur, ya? Ryou-chan!" ujarnya. Bahkan ruang tamunya masih berantakan. Sepertinya Kise lupa membereskannya. Mengetahui adiknya, sang manajer yakin pemuda itu masih tidur.

"Aduh, dasar Ryou-chan. Mentang-mentang hari ini libur, bangunnya jadi siang," gumam sang kakak sambil membereskan beberapa barang yang tergeletak di sembarang tempat. Tas belanjaan dia letakkan di dapur, majalah-majalah yang terjatuh ia urutkan dan taruh di tempat yang semestinya.

Dengan berkacak pinggang, wanita itu memperhatikan hasil pekerjaannya. Ia menepuk-nepukkan tangannya sambil tersenyum puas. Pandangannya beralih pada sarapan yang ia bawa.

Matanya menoleh ke tangga. Belum ada tanda-tanda adiknya bangun. Sambil mengesah, ia membereskan peralatan makan dan menyiapkan sarapan. Memang sederhana, hanya sup gratin kesukaan Kise dan roti ditambah susu stroberi dingin, namun dibawakan ke kamar membuatnya terlihat mewah.

Dengan senyum lebar, wanita itu menatap sarapan untuk Kise dan bergumam, "Dengan begini, selesai."

Membawa nampan berisi sarapan, ia berjalan menaiki tangga. Suasananya sepi sekali, membuat keyakinannya berkali lipat bahwa Kise masih tidur.

"Ryou-chan, sara—"

Setelah membuka pintu kamar, yang dilihatnya membuat tangannya menjatuhkan nampan sarapan. Makanan dan minuman yang dibawanya seketika langsung berantakan.

Kise berbaring di lantai mengenakan pakaian pelayan yang mereka beli bulan lalu. Wajahnya tampak gelisah, dan pakaiannya tersingkap di beberapa tempat. Terdapat bekas cairan di lantai dan sekitar paha Kise, membuat kakaknya syok bukan main.

"Ryou-chan! Kau kenapa!?" jerit wanita itu dengan panik. Ia berlutut di sisi Kise, memastikan adiknya tak apa-apa.

"Ungh …"

Perlahan, Kise membuka matanya. Kepalanya masih terasa pening akan aktivitasnya tadi malam dan tubuhnya agak kaku, terutama bagian bawahnya. Ia mencoba memfokuskan diri, dan telinganya menangkap suara samar dari sisinya.

"Ryou-chan! Ryou-chan, kau tidak apa-apa!?"

"Nee-chan!"

Mata Kise membelalak. Tidak, tidak, ia tak boleh dilihat saat ini. Astaga, apa yang akan dipikirkan kakaknya? Kise merasa sangat malu, sangat rendah, sangat hina. Ia tak berani rasanya untuk hidup dan menghadapi masalahnya.

"Ryou-chan, kau kenapa!? Kau dirampok dan d-di—"

Kakak Kise tak mampu melanjutkan perkataannya. Ia menekap mulutnya dengan kedua tangannya, air mata mengalir di pipinya. Ia tak akan sanggup jika adik bungsunya telah kehilangan hartanya yang paling berharga secara paksa.

"Bukan, Nee-chan, ini bukan seperti yang kaupikirkan. A-aku …." Kise tak sanggup meneruskan perkataannya. Ia telah menjual dirinya. Ia takkan sanggup menghadap keluarganya lagi.

"Lalu apa, Ryou-chan!? K-kau tidak …!"

Kenyataan menghantam kakak Kise seperti serbuan banteng. Ia mencoba mencari secercah cahaya dari ekspresi Kise, berharap adiknya tersebut akan menyangkal pikirannya. Namun apa yang ia dapat adalah nihil. Segala yang ditunjukkan Kise hanya meneriakkan kebenaran bahwa ia telah melakukan yang kakaknya pikirkan.

"Tidak, tidak. Ryou-chan takkan melakukan itu. Aku tahu, aku sangat tahu. Apa yang kausembunyikan, Ryou-chan!?" paksa wanita itu. Keadaannya berantakan dan kusam, tak jauh berbeda dengan Kise.

"A-aku … aku tak menyembunyikan apapun!" seru Kise. Tidak, batinnya, tak ada yang perlu tahu. Semua masalahnya haruslah ia sendiri yang menanggung.

"Jangan bohong, Ryou-chan! Ini yang aku tak suka darimu! Kenapa kau selalu berpikir untuk menanggung semuanya sendiri? Aku ini kakakmu, Ryou-chan. Kita bersaudara. Apapun yang terjadi, aku takkan menyalahkanmu. Berbagilah beban itu, jangan kauambil semuanya untuk dirimu sendiri," kata kakak Kise sambil mencengkeram bahu Kise dan menatapnya lamat-lamat.

"T-tidak ada apapun … sungguh …. Nee-chan, a-aku …," lirih Kise, tak mampu merangkai kata lagi. Mendengar perkataan kakaknya, ia ingin mati. Mengkhianati kepercayaan sebesar itu, rasanya Kise ingin mati saja dan dijerumuskan ke neraka terdalam.

Pada akhirnya, Kise tak dapat menahan air mata yang berakumulasi di pelupuk matanya. Iris ambarnya yang indah tampak berkilau oleh air yang melapisi bagian schlera-nya.

"Nee-chan!"

Kise menghambur ke dalam pelukan kakaknya dan menangis di sana. Rasanya seperti kembali ke masa kecil di mana Kise selalu dimanjakan setiap ia menangis karena sesuatu.

"Ada apa, Ryou-chan? Ceritakan pada Nee-chan," bisik kakaknya di telinga Kise, nadanya begitu lembut dan penuh kasih sayang seorang kakak.

"Jadi … Nee-chan, semuanya berawal pada—"


[ v.i. flashback ]

"Baiklah, Ryouta. It's show time."

"Ukh …"

Kise menggigit bibir. Ia sangat, sangat, sangat tak ingin melakukan ini. Ia telah bertindak bodoh dan ceroboh. Sayangnya penyesalan selalu datang terlambat dan waktu tak dapat diputar kembali. Kise tak dapat mengutuk takdir. Ini adalah buah kesalahannya. Mungkin ia telah melakukan hal yang tak termaafkan di kehidupan sebelumnya dan karma menabraknya dengan keras.

Kise mencoba sebisa mungkin untuk mengalihkan wajahnya dari layar laptop. Melihat wajah licik Hanamiya membuatnya muak.

"Sentuh dirimu seperti biasa, Ryouta. Jangan berlama-lama. Seperti yang kukatakan, aku tak punya waktu banyak," kata Hanamiya lalu tertawa.

Kise menunduk dan menahan air mata yang ingin menetes. Dengan berat hati, ia membuka kancing pakaian pelayannya dan menyentuh tubuhnya sendiri.

Seperti biasa, Kise bermain dengan nipples-nya. Dengan keahlian yang ia dapatkan dari pengalaman, tangannya bergerak sesuai naluri. Menelusuri dadanya yang basah oleh keringat dan menyentuh beberapa titik sensitifnya. Dalam hati ia merasa jijik pada dirinya sendiri; ia dapat menikmati semua ini, dan kini ia merasa kotor dan berdosa.

"Kau membosankan, Ryouta. Lakukan dengan penuh perasaan, lakukan lebih," perintah Hanamiya. Ia bertopang dagu sambil tersenyum licik.

Kise hanya menunduk pasrah. Ia harus menuruti apa yang diminta pemuda itu. Jika tidak … ah, Kise tidak berani memikirkan konsekuensinya.

"Akh!"

Sebuah desah lolos dari bibirnya saat ia tak sengaja mengelus bagian tubuhnya yang sensitif dengan agak terlalu keras. Hemogblobin berlarian ke pipinya, efek dari rangsangan yang dirasakan oleh sarafnya.

"Ya, betul, seperti itu," kata Hanamiya lagi.

Kise mengerang. Kenikmatan mengalir di seluruh tubuhnya walaupun ia tak ingin merasakannya. Ia merasa dosa—ah, Kise jadi tersadar, kalau begitu selama ini apa yang ia lakukan di hadapan Hanamiya adalah dosa? Kise ingin tertawa dalam ironi. Sudah dapat dipastikan ia akan dihukum Tuhan. Neraka adalah satu-satunya tempat yang akan menerima Kise pada akhirnya.

Bahkan hanya dengan permainan awal, Kise sudah kelelahan. Ia tak ingin menggerakan tubuhnya lagi. Akan tetapi sepertinya Hanamiya tak setuju. Sifat tiraninya—yang baru Kise ketahui baru-baru ini—memaksa Kise untuk tak tunduk pada perintah otaknya dan melanjutkan pertunjukannya.

Setelah Hanamiya mengatakan cukup dan Kise boleh melanjutkan ke tahap selanjutnya, yang lebih vulgar, Kise diam dan melakukannya. Tangannya melakukan pekerjaannya dengan baik—terlalu baik bahkan tubuhnya sendiri terkejut. Sengatan-sengatan kenikmatan membuatnya merinding.

"Sudah tegang, eh, Kise? Atau kau mau lagi? Dasar jalang," komentar Hanamiya sambil tertawa-tawa puas. Perasaan memiliki seseorang yang tunduk di bawah kakimu memang tak ada yang menandingi, apalagi bagi seseorang seperti Hanamiya yang mencintai superioritas.

Kise tak dapat menahan desahan dan erangan dari bibirnya. Ia mencoba menahannya sekuat tenaga, namun pada akhirnya tenaganya menyerah dan Kise pasrah. Ia tak ingin kalah dari Hanamiya, namun pada suatu titik dirinya ingin menyerah.

Kise memejamkan mata erat-erat saat merasakan miliknya berjengit setelah ia sentuh. Beberapa sentuhan dan pijatan berikutnya membuatnya lupa dunia. Ada perasaan tak aneh yang selalu muncul setiap ia melakukannya, dan Kise tahu itu adalah pertanda.

Gelombang rasa nikmat menghantamnya berkali-kali. Gendang telinganya seakan bertalu-talu, Kise tak memikirkan apapun lagi. Layar putih membentang di hadapannya saat pemuda tampan itu mencapai klimaksnya.

"A-akh! Nggh, mmmgh, hhh …."

Napas Kise tersengal-sengal dan ia kelelahan. Seragam pelayan yang ia kenakan kini kotor oleh semen yang dikeluarkan olehnya. Ia baru saja akan bangkit untuk mematikan laptopnya saat Hanamiya memandangnya dengan seringai di wajah.

"Uh-oh, Ryouta, kaupikir aku akan menyia-nyiakan saat aku dapat melihatmu melakukan pertunjukan sambil mengenakan pakaian pelayan? Kurasa tidak," katanya.

Kise membelalak. Jadi maksudnya akan ada ronde dua? Oh, tidak, Kise takkan kuat menahannya.

"Tenanglah, Ryouta. Aku tahu kau cukup kelelahan. Kau cukup langsung masuk ke adegan utama. Oh, namun kautahu aku tak sebaik itu. Adegan utamanya adalah … ya, benar! Anal."

Kise tak bisa lebih terkejut lagi dari ini. Ia mengerti apa yang dimaksud anal seks—oh, dia bukan anak polos kemarin sore yang tak mengerti apa-apa. Namun bukan berarti Kise pernah melakukannya; tidak, Kise tak semacam lacur.

"Ada apa, Ryouta? Kau tentu takkan menolak permintaanku, 'kan?" tanya Hanamiya dengan nada sinis yang kental.

Kise memilih tak menjawab. Ia memejamkan mata dan mengepalkan tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya terasa sakit dan memutih, berdoa pada Tuhan untuk mencabut nyawanya saat itu juga. Mungkin Tuhan hanya tertawa menanggapinya, karena Kise masih hidup dan bernapas pada detik berikutnya.

Kise menyingkap rok mini dari pakaian pelayan yang ia kenakan dan duduk dalam posisi yang aneh. Ia menyentuh lembut pintu dari lubangnya, membuat celah itu berjengit seakan meminta jari Kise untuk memasukinya.

Dengan ragu-ragu, Kise memanjakan gerbang kenikmatannya lebih jauh. Jarinya bermain sebelum akhirnya mengintrusi paksa. Di dalam rasanya hangat dan basah. Itu menelan jari Kise sepenuhnya dengan tergesa-gesa.

Kise menggeliat saat tubuhnya dipaksa menerima rasa nikmat yang membutakan. Ia masukkan satu jarinya lagi untuk lebih merasakan dampaknya, dan efek tersebut datang secepat kilat.

"Oh, ya. Seperti AV—tidak, bahkan lebih baik dari AV," gumam Hanamiya. Seringainya tak luntur, malah semakin lebar. Ia baru saja menemukan harta terpendam.

"Oh? Kau sudah ereksi sempurna? Cepat sekali," goda Hanamiya.

Wajah Kise memerah. Ia mencoba mengabaikan Hanamiya sama sekali dan menyelesaikan apa yang ia perbuat. Dengan instingnya ia dapat merasakan bahwa ia sudah dekat dengan akhir.

"Nn—ahn!" desah Kise. Permainan jarinya menjadi semakin intens begitu ia merasakan impuls yang mendorongnya untuk datang.

Disertai erangan dan desahan Kise yang tak pernah ia kira dapat terdengar begitu erotis, Kise mencapai klimaksnya untuk yang kedua kali malam itu.

Setelahnya napasnya menjadi terengah-engah. Pandangannya buram. Kecuali nikmat yang ia rasakan setelah berhasil melepaskan ketegangan seksualnya, hanya sakit dan perih yang ia rasakan. Sakit baik secara fisik dan batin. Bagian terlarangnya terasa berdenyut-denyut dan kepalanya pening. Tanpa sempat memedulikan apapun lagi, Kise terhanyut dalam bunga mimpi.


"—lalu d-dia memaksa akan me-menyebarkan videoku yang sedang melakukan self-fingering jika … jika aku tak menuruti kemauannya," jelas Kise, agak terbata-bata karena menahan tangis."

Kakak Kise tak dapat berkata apa-apa. Ia kaget sekali. Akhirnya setelah pikirannya dapat bekerja dengan baik, ia dapat bertanya, "Dan ini sudah berlangsung selama …?"

Butuh waktu agak lama sebelum Kise dapat menjawab, "… Satu bulan."

Sebuah suara napas yang tertahan datang dari wanita di hadapan Kise. "R-Ryou-chan … mengapa tidak memberitahu Nee-chan lebih awal?" tanya kakak Kise dalam keterkejutan setelah mendengarkan penuturan Kise.

Isak kembali pecah dari diri Kise. Ia mencoba sekuat tenaga untuk membentuk kalimat yang koheren.

"M-maaf, Nee-chan. A-aku hanya tak ingin … membebani siapapun. Biar aku yang menanggung semuanya."

Hati kakak Kise terasa remuk mendengar pernyataan adiknya yang begitu tulus dan mengiris hati. Mengapa kemalangan seperti ini harus menimpa adiknya yang bagaikan titisan malaikat ini? Mengapa takdir harus bermain-main dengannya?

Sedari tadi, untaian kata maaf terus terucap tanpa henti dari bibir Kise, bersamaan dengan air mata yang menetes satu demi satu ke lantai yang ia pijak. Sosok Kise yang selalu sempurna kini tampak berantakan dan sayu, dengan berbagai macam kepedihan berpusat padanya.

"Ryou-chan, Nee-chan tidak marah. Aku tidak marah sama sekali. Jangan meminta maaf. Yang terjadi padamu bukan kesalahanmu saja. Ada dosaku juga di sana. Aku yang tidak becus menjagamu. Aku yang salah karena tidak mengindahkan firasatku. Maafkan Nee-chan," lirihnya sambil memeluk Kise lagi, begitu erat seolah tak ada hari esok.

"Nee-chan tidak salah. Aku yang salah. Maaf," ulang Kise bagai mantra.

"Tidak, Ryou-chan. Kau harus berhenti meminta maaf. Semua yang terjadi di dunia terjadi karena suatu alasan. Yang terpenting sekarang adalah dirimu. Kita akan selesaikan masalah ini. Nee-chan minta, mulai sekarang jangan kausimpan semua bebanmu sendirian. Ada Nee-chan, ada Nee-san, ada Kaa-san dan Tou-san, ada semua yang akan berbagi rasa yang sama denganmu."

Kise terpaku mendengar kakaknya. Di saat seperti ini, ia baru menyadari betapa hebat keluarga yang ia punya. Di balik segala hal yang membuat mereka tak sempurna, kasih sayang yang mereka berikan pada Kise tak akan dapat ditukar dengan apapun, dan Kise takkan mau menyia-nyiakannya.

"Nee-chan …," lirih Kise. Ia mendekap kakaknya erat, seakan tak ingin pergi dari sisinya. Kakaknya terasa hangat dan penuh kasih, tepat seperti apa yang ia butuhkan.

"Jangan khawatir. Kita akan temukan caranya. Tenanglah, Ryou-chan. Nee-chan akan selalu ada di sisimu," bisik kakaknya.

Perkataan kakaknya itu begitu damai dan menenangkan, dan Kise tak sedetik pun meragukan ketulusannya.


—To Be Continued.


A/N:

—ah, harusnya saya nulis peringatan angsty. Yah, apa yang sudah terjadi biarlah terjadi lmao

Plus, sekarang ini akan di-update seminggu dua kali, karena chapter-nya lumayan banyak, jadi biar gak terlalu lama juga sih.

Pertanyaan, kritik, saran, pujian dan segala rupa sampaikan di review, because reviews are always greatly appreciated. Oh, favs and follows too. Jaa~

111013 1706 —Shana Nakazawa