Fandom: Kuroko no Basuke/Kuroko no Basket
Author: Shana Nakazawa
Chapter: 7/?
Jumlah kata: 2.197 kata
Summary: Kise Ryouta adalah boneka. Ia digerakkan oleh hal yang membesarkan namanya, dan ia juga dijatuhkan karenanya. Di saat dunia tak berpihak padanya dan Kise merasa telah muak, malaikat pun datang menolong. Pertanyaannya: dapatkah?
Warning: (possibly) OOC. AU. Disturbing materials; usage of children, bullying—both cyber and RL, rape/non-con, self-harm. GoM/Kise, dominant AoKise.
Note: Berdasarkan kisah nyata. Kredit diberikan kepada (alm) Amanda Todd, sekaligus sebagai pesan untuk menyampaikan gerakan stop bullying! Dipersembahkan sebagai karya NaNoWriMo. Dipersembahkan sebagai salah satu entri challenge "Pestisida Untuk Hama: 21 fanfict 21 genre" oleh Hama Hitam; genre hurt/comfort.
Disclaimer: Kuroko no Basuke/Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi. Cover © Zitronenkirsche [zerochan #1292621]. Tidak ada keuntungan materiil yang diperoleh dari membuat ataupun mempublikasikan fanfiksi ini. Fanfiksi ini dibuat hanya berdasarkan tujuan kepuasan pribadi.
.
.
.
Winter in Disguise
[ vii. there are no divine truth, therefore don't trust any ]
Keluarga Kise telah mengetahui seluruh kisah insiden pelecehan yang dialami Kise. Kakak sulung Kise telah menceritakannya.
Awalnya, ayah Kise marah dan ibunya tak dapat berhenti menangis. Akan tetapi sang ayah luluh melihat betapa Kise sendiri lebih tersiksa daripada dirinya. Karenanya ia tekan amarahnya dan memunculkan rasa sayang seorang ayah. Lagipula Kise memang putranya satu-satunya.
Ibu Kise menangis tak henti-henti. Kise harus turun tangan menghentikannya. Memang dalam proses, Kise dan ibunya menangis berdua karena teringat masalah yang amat menyedihkan ini. Untungnya pada akhirnya ibu Kise sadar bahwa menangis takkan mengubah apa-apa dan menegarkan diri.
Bahkan kakak kedua Kise merencanakan akan pulang selama beberapa waktu ke Jepang untuk membantu mengurus kasus ini. Awalnya Kise menolak dengan alasan tak ingin mengganggu pendidikan kakaknya, namun wanita itu menyangkal bahwa kuliahnya masih santai dan ia pasti dapat mengejar ketertinggalan.
Secara diam-diam Kise dan keluarganya merencanakan cara menghentikan Hanamiya. Tentu saja mereka tak boleh mengambil waktu terlalu lama agar penyiksaan yang dilakukan Hanamiya terhadap Kise tak bergulir terlalu lama pula.
Akhir-akhir ini, dengan alibi banyak pekerjaan yang menyita waktu, Kise jarang mengecek akun WeTalk-nya. Terdapat beberapa pesan dari Hanamiya, beberapa di antaranya bernada mengancam.
Kise membalas dengan sebuah pesan, "Maaf, aku sibuk akhir-akhir ini. Aku akan on lagi jika jadwalku sudah mulai longgar."
Toh, Kise tak begitu peduli dengan pendapat Hanamiya, jadi ia biarkan saja pesan-pesan berikutnya membanjir tanpa ia baca. Selama ia belum menemukan tanda-tanda mencurigakan dari pemuda yang lebih tua darinya itu, Kise lebih ingin berfokus pada rencananya membongkar rahasia Hanamiya.
Tiga hari setelah diberi kabar, kakak kedua Kise datang ke Jepang. Tak ada waktu beramah-tamah dan berjalan-jalan seperti kemarin. Kali ini ia datang dengan suatu tujuan yang amat serius.
"Nee-san," sambut Kise sesampainya di bandara. Lalu lintas Tokyo yang padat bukan main menyebabkan pemuda itu sedikit terlambat dan kakaknya menunggu, untungnya tak begitu lama.
"Ryou-kun! Oh, syukurlah! Aku sudah dengar semua. Kau tidak apa-apa, 'kan!? Apa orang itu menyakitimu!? Astaga, maafkan aku sudah memaksamu membeli pakaian pelayan itu. Karena itu kau jadi …," kata kakak Kise, panik di awal dan lirih di akhir.
Melihat kakaknya berada di ambang air mata, Kise menepuk kepalanya dan tersenyum. "Tenanglah, Nee-san. Ini bukan salahmu. Aku tak apa-apa," sahutnya, berusaha menenangkan wanita itu.
Pada akhirnya kakak Kise tetaplah menangis. Akan tetapi Kise cukup yakin alasannya menangis berbeda dengan alasan awalnya. Wanita yang tingginya lebih rendah darinya itu hanya berkata, "Maafkan Nee-san, Ryou-kun. Kau ini memang anak yang tegar, berbeda denganku. Teruslah seperti itu, ya. Aku … aku tak mau kehilangan senyumanmu itu. Tetaplah menjad Ryou-kun yang kuat dan kusayangi, ya."
Kise memandang kakak keduanya yang menenggelamkan wajahnya dalam dada Kise. Ia tersenyum lembut dan mendekapnya erat. Kakaknya ini memang perhatian.
"Nee-san tak perlu khawatir. Walau apapun yang terjadi, aku akan tetap menjadi Ryouta seperti biasa. Ini kesalahanku; aku memanen apa yang kutanam. Harusnya aku yang meminta maaf. Tak sepantasnya aku membuat semua orang repot dan khawatir," sahut Kise sambil tersenyum.
Kakak Kise hanya mengangguk. Mereka bergandengan tangan menuju mobil di mana keluarga mereka sudah menanti.
Wanita itu mendongak menatap Kise. Adiknya ini masih empat belas tahun. Namun apa yang ia alami adalah hal yang tak terbayangkan bahkan oleh orang dewasa sekalipun. Apa yang telah Kise lalui, segalanya, telah merebut masa kecilnya dan memaksanya untuk dewasa sebelum waktunya.
Jujur saja, kadang sang kakak merasa amat bersalah. Tanpa sadar, ia menyeret Kise dalam dunia yang tak pemuda itu inginkan. Kebutuhan keluarganya akan materi yang didapatkan oleh Kise memaksa pemuda itu melepaskan apa yang ia kehendaki. Ingin rasanya wanita cantik itu meminta maaf karenanya.
Namun, di atas semuanya, kakak kedua Kise itu amat mengagumi ketegaran Kise. Ia tahu, di balik sifat ceria yang adiknya tunjukkan, dia masih menyimpan luka karena pelecehan yang ia terima. Siapa yang dapat menyembunyikan perasaannya dengan begitu baik? Bagaimana bisa Kise melakukannya?
Setelah bertukar salam rindu, mobil keluarga Kise melaju menuju rumah mereka di Kanagawa. Kise telah memutuskan untuk sementara tinggal di rumah keluarganya dan meninggalkan dua apartemen yang ia miliki di Kanagawa dan Tokyo.
Pekarangan yang terasa familier menyambut keluarga utuh tersebut. Rumahnya memang sederhana, namun karena luas dan cukup asri, kesan hangat terpancar dari segala sisi. Taman kecil yang berisi bunga-bunga dan air mancur kecil di tengahnya menjadi nostalgia indah di kala kecil.
Lima anggota keluarga tersebut turun dari mobil yang telah diparkir dan memasuki rumah. Wangi masakan yang telah disiapkan ibu Kise menyambut begitu pintu rumah dibuka.
"Wah, pai daging spesial buatan Kaa-san, ya? Rindunya~" komentar kakak kedua Kise. Saat ia berkunjung ke Jepang bulan lalu, ia tak sempat menghabiskan banyak waktu bersama kedua orangtuanya.
"Ryuka, istirahat sebentar lalu makan, ya. Kau pasti lelah, 'kan? Ryouko, tolong bantu Kaa-san. Ryouta, kau juga harus banyak istirahat. Kaa-san tak ingin kau banyak pikiran dan terlalu lelah," ujar ibu mereka.
"Baik," jawab ketiga buah hatinya dengan serentak, membuat wanita paruh baya tersebut tersenyum.
Kakak kedua Kise berjalan ke kamarnya sambil membawa kopor-kopornya. Ia membereskan pakaiannya dengan cepat. Setelah ia rasa selesai, wanita cantik itu melongok ke dapur.
"Kaa-san, Nee-chan, aku ikut bantu, ya!" serunya ceria.
"Eh, kau tidak mau istirahat dulu?" tanya ibunya dengan nada cemas.
Sedangkan yang ditanya hanya mengibaskan tangan dan tertawa, menganggap itu angin lalu. "Tidak apa-apa, Kaa-san. Lagipula aku tak selemah itu. Aku ingin membantu. Aku rindu memasak dengan Kaa-san dan Nee-chan," jawabnya.
Ketiga wanita itu melaksanakan tugas merekaa masing-masing dengan penuh canda tawa. Kebahagiaan terpancar dari air muka mereka. Kise yang mengintip dari balik pintu kamarnya diam-diam tersenyum. Ia merindukan suasana hangat keluarganya yang seperti ini. Rasanya bagaikan sudah beberapa dekade berlalu semenjak terakhir ia merasa senyaman ini.
Ada perasaan menyakitkan bersarang di hatinya begitu berpikir tentang itu. Rasanya perih sekali, tepat di sini, di dadanya.
"Maaf …."
Kise mendongak, menghalau air mata yang ingin keluar dari tempat persembunyiannya. Pada akhirnya pemuda tampan itu memang gagal, namun setidaknya ia telah mencoba.
"Ini salahku, maaf …."
Kise jatuh terduduk di lantai yang terasa dingin di kulitnya. Sambil memeluk lutut, sang model melepaskan keluh kesahnya dalam tangisan hening.
Berbagai hal berkecamuk dalam pikirannya. Jika ia tak macam-macam berkenalan dengan orang asing, ia takkan berakhir seperti ini. Jika ia mendengarkan nasihat kedua kakaknya untuk lebih berhati-hati, keluarganya tak akan repot seperti ini. Ia adalah beban … benar, bukan?
Untuk apa ia hidup? Untuk menjadi budak Hanamiya? Apakah ia hanya hidup untuk dipermainkan takdir, Kise bertanya dalam hati.
"Ryouta, saatnya makan malam," ujar ibunya dari kejauhan, menyentakkan Kise dari lamunannya.
"Iya, sebentar, Kaa-san," sahut Kise. Ia menghapus jejak air mata di wajahnya sebisa mungkin.
Kise berkaca dalam cermin. Bayangannya yang menatapnya balik terlihat mengerikan bagi mata Kise. Inilah dirinya yang selalu ia banggakan; kotor dan hina. Rasanya dia ingin mati saja.
"Ryou-chan, cepat! Semua sudah berkumpul, lho," panggil seseorang lagi, kali ini kakaknya.
"Iya, Nee-chan, aku ke sana sekarang," jawab Kise. Ia memastikan tak ada yang mencurigakan dari wajahnya dan melangkah meninggalkan kamarnya yang nyaman.
"Lama sekali, Ryou-kun," sahut kakak keduanya yang sudah bersiap untuk makan.
"Nee-san saja yang tidak sabaran. Nanti kalau banyak makan jadi gendut, lho," peringat Kise main-main.
"Ih, Ryou-kun jahat! Masa kau mendoakan aku jadi gendut, sih!" tukas wanita itu sambil mengerucutkan bibir.
"Sudah, sudah. Ayo cepat makan, nanti painya keburu dingin," lerai ayah mereka dengan suara khas kebapakannya.
"Baik," gumam Kise dan kakaknya.
"Selamat makan."
Makan malam berlangsung lebih hidup dari biasanya. Kakak Kise banyak bercerita mengenai Amerika Serikat dan kehidupannya selama berada di sana. Tentu saja wanita cantik itu sempat mengalami culture gap karena perbedaan adat dan kebiasaan yang mencolok. Namun setelah tiga tahun berada di sana, budaya Amerika seakan sudah membaur dalam dirinya.
Ia bercerita bagaimana orang-orang Amerika begitu unik. Budaya mereka yang bebas sempat terasa aneh baginya yang orang Jepang tulen. Di Jepang, adat ketimuran mereka masih melekat sehingga tata krama masih cukup diperhatikan. Sedangkan di Amerika, segala batas lepas.
Ibunya menyimak dengan penuh perhatian. Bukannya ia tak pernah ke Amerika; wanita paruh baya itu pernah sekali mengunjungi negeri Paman Sam itu bersama suaminya saat menjenguk putri mereka di sana. Akan tetapi Amerika Serikat masih terasa tanah yang asing baginya.
Putri bungsu keluarga Kise itu melanjutkan bahwa yang paling ia suka dari Amerika adalah titelnya sebagai pusat peradaban dunia. Wanita itu mengaku pernah pergi ke Hollywood karena diajak temannya yang punya kenalan di sana. Saat itu, ia terpukau oleh kemewahan ala sebuah negara superpower.
Di sana kebetulan kakak kedua Kise itu menghadiri gala premier pemutaran sebuah film dari salah satu rumah produksi terbesar di Hollywood. Ia bertemu berbagai macam artis karpet merah, bahkan berhasil berfoto dengan Chris Hemsworth dan Tom Hiddleston, dua artis favoritnya.
Saat ia menceritakan bagian itu, kakaknya menjerit bersamaan dengannya. Maklum, kedua artis itu memiliki makna tersendiri di hati mereka. Ibu dan ayah mereka hanya menggeleng-geleng sambil tersenyum. Mereka tampak tak bermasalah sama sekali dengan kesukaan dua putri mereka.
"Lalu mana fotonya? Nee-san tidak pernah memberikannya," komentar Kise.
"Ah, benar! Sebentar, sepertinya aku tak membawanya … eh, tetapi ada di ponselku, sepertinya. Tunggu sebentar," katanya sambil merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan ponsel cerdas miliknya, buatan salah satu merek terkenal.
"Mana, ya? ThorKi, ThorKi …," gumam wanita itu, "nah, ini dia!"
"Mana, mana!?"
Kedua saudari itu rusuh saat menghadapi artis-artis tampan di layar ponsel. Kakak kedua Kise berdiri di antara Chris Hemsworth dan Tom Hiddleston sambil tersenyum lebar. Ada juga foto Chris Hemsworth dan Tom Hiddleston sedang berangkulan dalam tuksedo mahal mereka.
"Astaga, astaga, astaga. Aku iri padamu, Ryuka, serius," sahut kakak sulung Kise dengan antusiasme meluap-luap.
"Iya, 'kan? Foto ini kuambil baru-baru ini. Nee-chan sudah menonton filmnya, 'kan? Aku tidak bohong saat berkata aku menangis. Akting mereka berdua sungguh amat sangat … brilian!"
Kise memperhatikan kedua kakaknya sambil bertopang dagu. Walau kadang ia tertawa bersama, sebagian besar pikirannya sedang ada di tempat lain. Entah mengapa ia jadi sering melamun akhir-akhir ini.
"Ryouta, mengapa tidak kauhabiskan paimu? Apa tidak enak?" tanya ibunya di sela-sela keributan yang disebabkan dua putrinya.
"Ap—oh, bukan itu, Kaa-san. Pai dagingnya enak seperti biasa, kok. Aku hanya terganggu melihat Nee-chan dan Nee-san teriak-teriak terus di meja makan," jawab Kise polos.
"Ryou-chan!"
"Ryou-kun jahat!"
Kise hanya menatap kakaknya dengan senyum tanpa dosa bertengger di wajahnya. Ibunya tertawa bersama dengan ayahnya. Dua saudari Kise hanya merengut.
Makan malam itu akhirnya benar-benar lengkap dengan partisipasi Kise dan celotehnya. Tanpa terasa, makanan yang mereka santap kini tandas dan yang tersisa adalah waktu bersantai bersama keluarga.
"Ryou-kun, aku tidak mau menonton basket!" rajuk kakak Kise sesaat setelah Kise meraih remote televisi dan menyetel saluran olahraga.
"Nee-san 'kan sering menonton di Amerika, aku di sini sibuk jadi jarang menonton televisi!" tukas Kise. Ia memegang remote erat-erat, menjauhkannya dari jangkauan kakaknya.
"Ih, Ryou-kun pelit sekali! Tou-san!" seru kakak Kise. Ia menoleh ke arah ayah mereka yang duduk di samping Kise dengan secangkir kopi robusta kesukaannya.
"Ryouta, mengalah pada kakakmu. Memang ada pertandingan apa sekarang?" tanya ayahnya pada Kise. Kakak kedua Kise yang hampir bersorak kesenangan kini menahan diri. Biasanya selera ayahnya dan Kise nyaris sama, dan ayahnya tentu mengutamakan basket jika tim favoritnya yang bermain.
"Ada Lakers melawan Rockets, Tou-san! Kita harus menontonnya!" hasut Kise bersemangat. Dikarenakan pembawaannya yang entah mengapa dapat mengundang dan membujuk orang (karena itulah Kise banyak disewa sebagai model), ayah Kise dapat diyakinkan dengan mudah.
"Oh? Lakers dan Rockets akan main? Wah, ini menarik," katanya, "Ryuka, kita menonton ini saja."
Sesaat Kise kira kakaknya akan merajuk karena keinginannya tak terpenuhi, namun kontras, wajah kakaknya tampak bercahaya oleh antusiasme.
"Lakers!? Lakers akan main!? Ayo kita tonton!" serunya bersemangat. Ia segera duduk manis di sisi Kise, matanya terpaku pada acara di layar kaca.
"Oh, Nee-san suka Lakers juga? Aku baru tahu," kata Kise.
"Iya, aku jadi suka karena pacarnya teman sekamarku di Amerika adalah penggemar berat Lakers. Ryou-kun juga suka?" tanya kakak Kise dengan bersemangat. Ia tahu adiknya menggemari basket dan dapat bermain, dan mengetahui adiknya juga menyukai tim yang sama dengannya membuatnya senang.
"Ya, aku suka. Gaya permainan mereka entah mengapa sangat menarik untukku," jawab Kise tenang.
"Waaah, sama! Tos!"
"Eh, siapa ya, yang tadi marah-marah tidak ingin menonton basket katanya?"
"Ryou-kun!"
Kakak kedua Kise tersebut menggembungkan pipi karena sebal. Kise hanya tertawa dan menampakkan ekspresi minta maaf karena telah menggoda saudarinya tersebut.
"Maaf, maaf, Nee-san. Tos?"
Kakak Kise menatapnya dengan bibir cemberut. Kise tersenyum manis, membuat wanita itu berpikir ulang mengenai tindakannya marah pada adiknya tersayang dan akhirnya senyum meretas di bibirnya.
"Tos!"
Tangan Kise bertepukan dengan tangan kakaknya. Senyum lebar merekah di wajah Kise, membuatnya terlihat amat cantik sekaligus tampan, ditambah rona merah alami di pipinya dan ekspresinya yang bercahaya.
"Sudah mulai, Ryouta, Ryuka. Lalu, kalian mendukung Lakers? Tak ada yang mendukung Rockets?" ujar ayah mereka.
"Aku mendukung Rockets, seperti Tou-san~"
Kakak sulung Kise datang dan memeluk ayahnya dari belakang. Ia lalu tersenyum dan mengambil tempat di sisi ayahnya.
"Wah, semuanya sudah berkumpul. Menonton apa?" tanya ibunya sambil membawakan senampan kudapan dan minuman dingin.
"Ah, Kaa-san! Cepat, dukung Lakers atau Rockets?" tanya kakak kedua Kise dengan antusias.
"Wah, jadi Kaa-san penentunya, nih? Tidak, ah, Kaa-san jadi wasitnya saja, deh," sahut sang ibu sambil tersenyum. Ia meletakkan nampan di meja dan duduk bersama dengan suami dan ketiga buah hatinya.
Kelima anggota keluarga tersebut tertawa bersama dan menghabiskan waktu bersama. Hanya dengan seperti inilah, rasanya Kise merasa seperti kembali ke rumah, tempatnya merasa aman, nyaman dan hangat. Ya, Kise telah pulang.
—To Be Continued.
A/N:
Family chapter, tribute gara-gara video Thor dan Loki deleted scene yang bikin hati fuwa fuwa nyesss gimanaaa gitu. "Sometimes I'm envious, but never doubt that I love you." Brothership love-nya njir! MARVEL TUKANG NGE-BROKORO-IN ORANG, DASAR! /oke /nyantembak
Plus, ada juga yang suka ThorKi di sini? Mari temani saya. Kak pilong dan Lilyka juga, mari kita galau bareng yuk. ;;
Plus lagi, ada juga yang suka LA Lakers kayak saya? Walau saya masih fans baru dan gak ngerti apa-apa LOL
Pertanyaan, kritik, saran, pujian dan segala rupa sampaikan di review, because reviews are always greatly appreciated. Oh, favs and follows too. Jaa~
111113 2129 —Shana Nakazawa
