Fandom: Kuroko no Basuke/Kuroko no Basket

Author: Shana Nakazawa

Chapter: 8/?

Jumlah kata: 2.099 kata

Summary: Kise Ryouta adalah boneka. Ia digerakkan oleh hal yang membesarkan namanya, dan ia juga dijatuhkan karenanya. Di saat dunia tak berpihak padanya dan Kise merasa telah muak, malaikat pun datang menolong. Pertanyaannya: dapatkah?

Warning: (possibly) OOC. AU. Disturbing materials; usage of children, bullying—both cyber and RL, rape/non-con, self-harm. GoM/Kise, dominant AoKise.

Note: Berdasarkan kisah nyata. Kredit diberikan kepada (alm) Amanda Todd, sekaligus sebagai pesan untuk menyampaikan gerakan stop bullying! Dipersembahkan sebagai karya NaNoWriMo. Dipersembahkan sebagai salah satu entri challenge "Pestisida Untuk Hama: 21 fanfict 21 genre" oleh Hama Hitam; genre hurt/comfort.

Disclaimer: Kuroko no Basuke/Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi. Cover © Zitronenkirsche [zerochan #1292621]. Tidak ada keuntungan materiil yang diperoleh dari membuat ataupun mempublikasikan fanfiksi ini. Fanfiksi ini dibuat hanya berdasarkan tujuan kepuasan pribadi.

.

.

.

Winter in Disguise


[ viii. hello and welcome to nothingness ]

"Sudah selesai dengan makan malammu, Ryouta?"

Kise menoleh menatap ibunya yang bersiap-siap mencuci piring. Kise tersenyum padanya dan menggeleng pelan. Ibunya memasang ekspresi mengerti dan berkata, "Baiklah, ambil waktumu. Kalau sudah selesai, taruh di bak cucian, ya."

Setelah Kise menelan makanannya, ia menjawab, "Baiklah, Kaa-san."

"Ryou-chan, cepat makannya, Tou-san ingin membicarakan sesuatu," ujar kakak sulungnya dari ruang keluarga.

"Sebentar, Nee-chan!" sahut Kise. Ia mempercepat tempo mulutnya dalam mengunyah. Dalam waktu singkat, makanan di piringnya sudah habis tak bersisa.

"Terima kasih atas makanannya," gumam Kise. Ia membereskan mangkuk dan piring yang tersisa di atas meja makan dan membawanya ke bak cuci piring.

"Ada apa, Tou-san?" tanya Kise. Ia duduk di sofa bersama kedua kakaknya.

"Kami akan membicarakan soal … masalah itu, Ryouta. Duduklah," jawab ayahnya.

Seketika Kise paham tentang apa yang dimaksudkan ayahnya. Ia merasa sedikit sakit mengingat masalahnya dengan Hanamiya. Ia enggan membicarakan masalah ini lagi. Akan tetapi ia harus menghadapi traumanya itu untuk memecahkannya.

"Ryouta, kau tidak apa-apa?" tanya ibunya dengan khawatir. Wanita paruh baya itu tahu benar betapa menyakitkan topik yang mereka bicarakan saat ini.

Kise memaksakan sebuah senyum yang anehnya terasa begitu meyakinkan. "Aku tidak apa-apa, Kaa-san. Silakan lanjutkan," jawabnya.

Ayah Kise melirik putra semata wayangnya itu sejenak sebelum melanjutkan, "Jadi, apa kita harus lapor polisi?"

"Tou-san, kita tidak dapat sembarangan lapor polisi. Salah-salah malah video itu akan jatuh ke tangan mereka dan bocor," sahut kakak sulung Kise yang memang sudah cukup berpengalaman di dunia bisnis keartisan. Ia sangat mengerti berbagai macam perkara yang dapat menimpa selebriti karena ulah iri orang-orang.

"Lalu bagaimana?" tanya sang ibu cemas.

Kise menunduk dan tak dapat berkata apa-apa. Ia tak sampai hati menyaksikan ibunya bersedih karenanya.

"Kalau kita melakukan sendiri, aku tak yakin akan berhasil. Nanti malah kita yang ditangkap," gumam kakak kedua Kise.

"Lagipula kita tak tahu di mana rumah Hanamiya ini. Ya, 'kan?" sahut kakak sulungnya.

Semua orang di ruangan menghela napas. Ternyata masalahnya tak semudah itu. Mereka memandang Kise, mencari petunjuk.

"Eh, aku tak tahu rumahnya, namun aku tahu sekolahnya. Dia pernah mengatakan bahwa ia adalah anggota reguler tim basket SMA Kirisaki Daichi di Tokyo. Kalau kita bisa memastikan kebenarannya, mungkin kita bisa menemukan di mana dia tinggal," kata Kise.

Seakan ada secercah harapan yang menerangi kelima anggota keluarga tersebut. Ekspresi mereka kini mulai kehilangan rona putus asa.

"Benarkah itu, Ryou-chan? Ah, kita mendapat informasi berharga! Baiklah, aku akan mengontak Sport Weekly. Majalah besar seperti mereka pasti pernah meliput Kirisaki Daichi," ujar kakak sulung Kise dengan bersemangat.

"Tunggu, sebenarnya aku punya teman yang suaminya bekerja di kepolisian. Kalau mereka bisa dibujuk, maka kasus ini dapat diperlakukan secara personal dan rekamannya mungkin bisa jatuh ke tangan kita," ujar ibu mereka tiba-tiba.

"Maksudmu Kimura-san? Aku juga mengenalnya. Suaminya dan aku sering bermain tenis bersama setiap hari Sabtu," balas ayah Kise pada istrinya tercinta.

"Ah! Itu mengingatkanku, ada temanku yang seorang peretas andal! Andai rekaman itu juga disimpan di komputer si Hanamiya, dia mungkin bisa meretas ke sistemnya dan menghapus fail itu secara permanen," sambung kakak kedua Kise dengan wajah bahagia.

Kise menatap keluarganya dengan mata yang buram oleh air mata. Sebuah isak lolos dari bibirnya, membuat keluarganya yang tadi sedang membicarakan rencana mereka dengan bersemangat berubah panik dan mengelilinginya.

"Ryouta, kau kenapa? Sakit? Di mana?" tanya ibu Kise dengan panik. Ia menyentuh dahi Kise dan berlutut di hadapan putra semata wayangnya tersebut, mencoba mengecek apa yang salah.

"Ryou-chan kenapa?"

"Ryou-kun jangan menangis! Nee-san jadi ikut sedih."

"Ryouta, ada apa?"

Kise hanya sesenggukan sambil berusaha meredam tangisnya. Dengan terbata-bata dan diselingi isak tangis, pemuda tampan tersebut berkata, "T-tidak, hiks, aku hanya … sangat bersyukur, hiks, untuk keluarga ini. Terima kasih, hiks, telah peduli padaku. Terima kasih."

Rasa hangat meretas dalam hati keempat anggota keluarga yang mendengar penuturan Kise. Ibunya meneteskan air mata dan memeluk Kise.

"Harusnya Kaa-san yang minta maaf, Ryouta. Ini bukan salahmu. Kita akan melaluinya bersama, sebagai keluarga," sahut wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu.

"Terima kasih … Kaa-san …," lirih Kise sembari menenggelamkan kepalanya dalam pelukan ibunya yang terasa begitu nyaman.

"Sshhh, tidak apa-apa, Ryouta," bisik ibunya sambil membelai surai keemasan halus milik putra semata wayangnya dengan penuh kasih sayang.

Kise pun hanyut dalam kasih sayang yang sudah lama tak ia rasakan.


Esok hari setelah membicarakan perihal penyelesaian masalah Hanamiya, pasangan suami-istri Kimura datang setelah diundang ayah Kise. Keduanya mengiakan undangan makan malam tersebut dengan senang hati.

Setelah makan malam, dua pasangan suami-istri itu langsung duduk di ruang tamu. Tampaknya atmosfer serius yang dipancarkan pasangan suami-istri Kise membuat pasangan suami-istri Kimura menyadari akan ada sesuatu yang penting yang akan dibicarakan.

"Jadi, Kimura-san, begini. Anda kenal, 'kan, dengan putra saya, Ryouta?" tanya ayah Kise.

"Oh, Ryouta? Tentu saja, siapa yang tidak kenal Kise Ryouta!" sahut Tuan Kimura sambil tertawa.

Nyonya Kimura tersenyum. "Ryouta, ya …. Sudah berapa lama kami tidak melihatnya. Dulu dia masih kecil dan manis sekali," katanya.

Ibu Kise tersenyum tipis. "Nah, itu dia masalahnya. Saat ini Ryouta sedang terlibat … masalah," sahutnya dengan suara agak pedih.

"Masalah? Masalah apa, kalau saya boleh tahu?" tanya Nyonya Kimura sambil mengerutkan kening.

Ibu Kise menatap suaminya dan mengesah. "Kimura-san, Anda tentu tahu WeTalk, bukan?"

"Ya, saya tahu. Situs jejaring sosial yang ada aplikasinya itu? WeTalk memang sedang hit di kalangan remaja. Apa Ryouta bermasalah dengan akunnya?"

Kali ini ayah Kise yang angkat bicara, karena sepertinya istrinya tak sanggup melanjutkan. Jelasnya, "Ryouta berkenalan dengan seseorang lewat WeTalk. Dia mengenalkan diri sebagai Hanamiya Makoto. Awalnya dia tak melakukan sesuatu yang mencurigakan, dan Ryouta juga senang berbicara dengannya."

Tuan Kimura menekukkan alis dengan serius. Ia dapat menebak ke mana pembicaraan ini berjalan.

"Lalu pada suatu hari, Hanamiya membujuk Ryouta untuk melakukan … self-fingering—"

Nyonya Kimura menekap mulutnya dalam keterkejutan sementara suaminya mencengkeram celana yang ia kenakan erat.

"—dan Ryouta melakukannya. Itu berjalan selama beberapa bulan." Ayah Kise berhenti sejenak. "Lalu pada suatu hari, kakak Ryouta membelikan pakaian cosplay pelayan untuk Ryouta. Saat Ryouta dan Hanamiya melakukan video call, dia melihat pakaian itu. Hanamiya memaksa Ryouta untuk … untuk melakukan pertunjukan dalam pakaian itu. Saat itu Ryouta menolak, namun dia memaksa akan membocorkan video Ryouta sedang melakukan itu, sehingga Ryouta tak dapat menolak."

"T-tidak mungkin …," lirih Nyonya Kimura tak percaya.

"Juga, ini telah berlangsung selama berbulan-bulan. Jika Ryouko tidak memergoki Ryouta … tak akan ada yang tahu apa yang mungkin terjadi," lanjut ayah Kise, mengakhiri penjelasannya.

"Saya mohon, Kimura-san, tolong bantu kami menangkap Hanamiya Makoto. Masa depan Ryouta rusak karena Hanamiya, juga karena kami. Kami tak menyadari bahwa kami menimpakan semua beban pada Ryouta, padahal dia masih kecil. Tolong … tolong bantu kami menebus dosa kami, Kimura-san," tutur ibu Kise dengan air mata bergulir di pipinya.

Hati Nyonya Kimura amat terenyuh akan kesungguhan hati wanita di hadapannya. Air mata menetes dari sudut matanya. Dengan suara parau, ia berkata, "Kise-san, s-saya turut berduka. Tentu saja kami akan membantu."

Tuan Kimura meletakkan tangannya di pundak istrinya dan berkata, "Istri saya benar. Kami pasti akan membantu. Pemanfaatan anak di bawah umur, pemerasan dan cyber-bullying … Hanamiya Makoto akan benar-benar mendapat hukuman berat."

"Kimura-san, saya ingin minta tolong secara pribadi agar rekaman Ryouta segera dihilangkan. Saya tidak ingin video tersebut menyebar oleh oknum nakal," sahut ayah Kise.

"Baiklah. Tenang saja, Kise-san, akan diadakan sidang tertutup yang hanya disaksikan orang-orang terpercaya. Pengamanannya juga akan diperketat. Saya janji video itu tidak akan bocor ke mana-mana," jawab Tuan Kimura.

"Terima kasih banyak, Kimura-san. Saya tidak tahu apa yang bisa saya balas atas semua bantuan Anda," ujar ibu Kise sambil menyeka air matanya.

"Tidak, Kise-san. Kami melakukan ini dengan tulus. Kami hanya tak ingin Ryouta menderita lebih banyak lagi. Ryouta layak mendapatkan keadilan," jawab Nyonya Kimura sambil tersenyum.

Dari sisi lain ruang tamu yang terpisahkan tirai, Kise tersenyum dan menangis terharu. "Terima kasih," bisiknya.


Kise mengecek ponselnya setelah ponselnya bergetar karena notifikasi baru. Setelah menyadari bahwa notifikasi tersebut berasal dari akun WeTalk-nya, Kise langsung menyadari bahwa yang terburuk telah terjadi.

"Oi, Ryouta, angkat video call-ku. Apa kau mencoba melarikan diri, eh? Apa tidak apa-apa jika videomu kusebarkan di internet?"

Seketika Kise melemas. Ia segera mengetik dengan tangan gemetar, "Aku sedang sibuk kemarin. Sebentar, biar aku buka laptopku."

Jawaban Hanamiya datang dengan cepat; "Cepat, aku tak suka menunggu."

Untunglah saat itu kakak keduanya melongok dari luar kamar. "Ryou-kun, ada apa?" tanyanya.

Kise menoleh. "Nee-san, d-dia …"

"Hanamiya?" Seketika mata wanita itu menyipit dalam kebencian. "Apa yang dia katakan padamu?"

"Dia menyuruhku mengangkat video call darinya. A-aku takut, Nee-san …," lirih Kise sambil memejamkan mata erat-erat. Air mata menggantung berbahaya di kelopak matanya, terancam akan terjun bebas.

"Tenang, Ryou-kun. Dia tidak akan bisa mengapa-apakanmu. Terima saja video call-nya, Nee-san akan selalu ada di sisimu," kata kakaknya sambil tersenyum hangat untuk menenangkannya.

Kise mengangguk pelan dan membuka laptop. Setelah mengaktifkan koneksi dengan internet, Kise membuka akun WeTalk-nya dan mengirim pesan pada Hanamiya. Dalam waktu singkat, sebuah video call masuk. Kise memilih opsi terima.

"Akhirnya kauterima juga," ucap Hanamiya pertama kali.

"Ah, maaf, Hanamiyacchi. Aku sedang sibuk akhir-akhir ini," jawab Kise sambil memajang senyum palsunya.

"Oh, ini yang namanya Hanamiya Makoto-san?" ujar kakak Kise dari samping sambil tersenyum. Dalam hati ia tertawa puas melihat ekspresi bingung dan kesal Hanamiya.

"Ah, Hanamiyacchi, ini kakakku yang kedua. Dia baru pulang dari Amerika," sambung Kise.

Kakak Kise memasang senyum lebar dan tangan membentuk tanda peace dengan jari telunjuk dan tengahnya. "Kise Ryuka di sini, salam kenal~"

"O-oh, namaku Hanamiya Makoto. Salam kenal juga," sahut Hanamiya.

"Aku sedang di rumah orangtuaku, Hanamiyacchi, karena kebetulan kakaknya juga sedang ada di rumah. Lalu saat kuceritakan soal Hanamiyacchi, dia jadi ingin tahu," jawab Kise.

"Aku tidak mengganggu apapun, 'kan?" tanya kakak Kise sambil terus tersenyum.

"Maaf, ya, Hanamiyacchi," jawab Kise sambil meringis.

"Tidak apa-apa. Kau sedang apa?" tanya Hanamiya.

"Aku sedang membantu Kaa-san, sih. Hanamiyacchi sedang apa?" tanya Kise balik.

"Oh, aku tidak sedang apa-apa. Sepertinya aku mengganggumu, ya?"

"Eh, tidak juga, sih …."

"Ah, kalau begitu aku tutup saja, ya. Biar kau menyelesaikan pekerjaanmu dulu."

Kakak Kise menyela, "Eh, kenapa cepat sekali? Aku mengganggu, ya."

"Tidak, sama sekali tidak, Ryuka-san. Baiklah, aku off dulu, ya."

"Oh, baiklah."

Bersamaan dengan itu, Hanamiya memutuskan koneksi. Kise menghela napas lega. Ia memiliki trauma tersendiri berkenaan dengan Hanamiya. Untunglah selama itu kakaknya selalu menenangkannya. Tangan kakaknya yang mungil dan hangat terus menggenggam miliknya.

"Si Hanamiya itu. Memang benar yang kukira, orang yang pandai berpura-pura, bermuka dua, menjijikkan," dengus wanita cantik itu, kerutan yang tak pantas menghiasi wajahnya.

Kise hanya tersenyum lemah. "Aku tertipu oleh orang seperti itu, Nee-san. Aku bodoh dan ceroboh. Harusnya aku mendengarkan perkataan Nee-san dan Nee-chan."

Kakak Kise mengesah dan menyelentik dahi Kise. Pemuda itu mengaduh. Kakaknya berkacak pinggang sambil berkata, "Sudah kubilang, berhenti menyalahkan dirimu sendiri! Ini bukan salahmu saja. Lagipula, ini sudah terjadi, mau diapakan lagi? Yang penting sekarang adalah mencari jalan keluar dan memulihkan diri."

Kise menatap kakaknya lalu tersenyum. Kakaknya benar. Apa gunanya bermuram durja dan menjadi pribadi melankolis padahal itu takkan menghasilkan apa-apa?

"Iya, Nee-san benar," sahut pemuda model itu sambil tersenyum lebar, rona merah merekah di pipinya.

"Tentu saja, aku selalu benar!" bangga sang kakak sambil membusungkan dada.

"Ih, Nee-san mulai deh, narsisnya," ujar Kise sambil mengernyit.

"Bukan narsis, Ryou-kun, tetapi percaya diri," balas kakaknya sambil tertawa.

Kise memutar mata. "Terserah Nee-san saja."

"Hei, hei, Ryou-kun! Mau ke mana? Jangan tinggalkan aku!" kakaknya berseru sambil mengikuti jejak adik semata wayangnya keluar kamar.

"Aku ingin pergi, takut tertular sifat narsisme dari Nee-san," canda Kise.

"Ah, Ryou-kun kejaaam!" rengek wanita itu dengan gaya kekanak-kanakan.

Kise tertawa. "Nee-san, hentikan, kau memalukan sekali dengan bersikap kekanak-kanakan seperti ini," katanya.

"Ryou-kun jadi jahat padaku!" rengek kakak kedua Kise itu lagi. Kise kembali membalasnya dengan tawa.

"Ada apa ini? Ryou-chan, kau bersenang-senang tanpa kakakmu ini?" ujar kakak sulung Kise yang datang dari dapur.

"Ah, Nee-chan! Ini, Nee-san sedang bertingkah kekanak-kanakan lagi," jawab Kise seraya menoleh pada kakak sulungnya. Ia tersenyum lalu beralih pada kakak keduanya yang kini menarik-narik tangannya dengan manja. "Nee-san, hentikan!"

"Kalian ini aneh sekali, deh. Katanya sudah besar, namun kelakuannya masih seperti anak kecil," komentar kakak sulung mereka sambil geleng-geleng kepala.

"Bukan aku, Nee-chan, tetapi Nee-san!" tukas Kise sambil mengerucutkan bibir.

"Wah, ada apa ini, ramai sekali." Ibu dari ketiga bersaudara tersebut bergabung dalam konversasi setelah melangkah dari kamarnya.

"Biasa, Nee-san bersikap menyebalkan, Kaa-san," sahut Kise.

"Tuh, Kaa-san, Ryou-chan kejam sekali padaku," lapor kakaknya sambil merengut.

Ibu mereka hanya tertawa. "Sudah, sudah," katanya, "kalian ini sudah besar. Jangan seperti anak-anak terus."

"Oh, Ryouta," ibunya tiba-tiba memanggil dengan nada serius.

"Ada apa, Kaa-san?" sahut Kise.

"Besok … besok, kau akhirnya akan mendapat keadilan, Ryouta …."

Kise menatap ibunya diiringi sebuah senyum sendu. Ia hanya mengangguk dan menahan air matanya. Akhirnya semuanya akan berakhir.

—benarkah?


—To Be Continued.


A/N:

… Saya galau, saudara-saudara. Karena masalah percintaan saya sendiri di RL. /apalo S-SAYA SIH CINTA KISE SELALU! /kenapakiselagi

Oke tadi itu ngaco banget orz Biasalah lagi stres orzzz

Oh, tambahan, saya udah lamaaaaaa banget gak apdet karena minggu lalu ada study tour di sekolah. Pengalaman astral-nya mantap banget. :') Mulai sekarang, kembali ke jadwal apdet biasa!

Pertanyaan, kritik, saran, pujian dan segala rupa sampaikan di review, because reviews are always greatly appreciated. Oh, favs and follows too. Jaa~

111313 1909 —Shana Nakazawa