Fandom: Kuroko no Basuke/Kuroko no Basket
Author: Shana Nakazawa
Chapter: 9/?
Jumlah kata: 2.042 kata
Summary: Kise Ryouta adalah boneka. Ia digerakkan oleh hal yang membesarkan namanya, dan ia juga dijatuhkan karenanya. Di saat dunia tak berpihak padanya dan Kise merasa telah muak, malaikat pun datang menolong. Pertanyaannya: dapatkah?
Warning: (possibly) OOC. AU. Disturbing materials; usage of children, bullying—both cyber and RL, rape/non-con, self-harm. GoM/Kise, dominant AoKise.
Note: Berdasarkan kisah nyata. Kredit diberikan kepada (alm) Amanda Todd, sekaligus sebagai pesan untuk menyampaikan gerakan stop bullying! Dipersembahkan sebagai karya NaNoWriMo. Dipersembahkan sebagai salah satu entri challenge "Pestisida Untuk Hama: 21 fanfict 21 genre" oleh Hama Hitam; genre hurt/comfort.
Disclaimer: Kuroko no Basuke/Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi. Cover © Zitronenkirsche [zerochan #1292621]. Tidak ada keuntungan materiil yang diperoleh dari membuat ataupun mempublikasikan fanfiksi ini. Fanfiksi ini dibuat hanya berdasarkan tujuan kepuasan pribadi.
.
.
.
Winter in Disguise
[ ix. 'happily ever after' exists as a prologue of endless misery ]
Keluarga Kise tengah berkumpul di ruang tamu dengan Tuan Kimura. Akhirnya rencana mereka menggerebek Hanamiya akan dilaksanakan. Kakak tertua Kise telah mengontak majalan Zunon Boys dan mendapatkan informasi mengenai Hanamiya. Kakak kedua Kise juga telah menghubungi temannya yang seorang peretas untuk membantu meretas komputer Hanamiya dan menghapus semua barang bukti.
Tuan Kimura, yang memang memiliki kedudukan kuat di kepolisian, memilih divisi yang paling ia percaya untuk menangani kasus ini. Untuk mencegah kelakuan nakal, tak ada polisi yang diberitahu mengenai kasus sebenarnya. Mereka hanya diperintah untuk menggeledah rumah target yang memiliki barang berbahaya.
Kise sendiri tidak ikut. Ia harus ber-video call dengan Hanamiya untuk mencegah kecurigaan pemuda berambut hitam tersebut. Ia tinggal bersama kedua kakaknya di rumah. Orangtua Kise ikut bersama Tuan Kimura.
"Jadi, kita ulang rencana. Pertama, kita berjaga-jaga di sekitar rumah target. Ryouta akan memulai video call dan saat itu Ryouko-san akan menelepon untuk memberi tanda, bersamaan dengan teman Ryuka-san membobol komputer target. Kita geledah rumah target, mencari barang sasaran, masukkan target ke penjara, dan selesai."
Kise termenung. Kata-kata Tuan Kimura selanjutnya seakan kabur, seperti di dalam air. Ia harus memastikan bahwa penyergapan ini akan berhasil. Seluruh hidupnya bergantung pada ini.
"Ryouta," Tuan Kimura memanggil, membuyarkan lamunan Kise.
"Ah, iya. Ada apa, Kimura-oji-san?" respon Kise.
Tuan Kimura tersenyum lembut dan menepuk puncak kepala pemuda bersurai pirang itu. "Tenang saja, Ryouta. Kau tidak perlu khawatir. Percayalah pada kami, kami pasti akan menangkap Hanamiya," katanya.
Kise membalas senyum pria itu. "Tentu saja, Kimura-oji-san. Saya percaya dengan kekuatan kepolisian. Saya menyerahkan segala beban pada kepolisian, saya harap ini tidak terlalu merepotkan. Saya tidak tahu apa yang bisa saya lakukan untuk membalasnya," ujar pemuda tampan itu.
Tuan Kimura tertawa. Ia berucap, "Perkataanmu itu persis seperti ibumu. Kebaikan hati dan ketulusan kalian benar-benar sama."
Pipi Kise tampak sedikit bersemu oleh rona merah muda. "Ah, Kimura-oji-san ini bisa saja. Saya belum pantas disanjung seperti itu."
Setelah berbasa-basi sejenak, Tuan Kimura berkomunikasi dengan divisinya. Untungnya tak ada yang kelewat penasaran dengan kasus yang mereka hadapi. Tentu mereka bertanya-tanya perihal kerahasiaan kasus ini yang lebih dari biasanya, namun Tuan Kimura dapat menanganinya.
"Ryouta, nanti tolong tahan walau kau sangat tidak ingin berbicara dengan Hanamiya, ya, sayang. Semua melakukan ini untukmu, kau juga harus berjuang," pesan ibu Kise sebelum meninggalkan putra semata wayangnya.
Kise mengangguk dan memeluk ibunya. "Tidak apa-apa, Kaa-san. Aku memang belum menjadi orang yang kuat, tetapi aku bukan orang yang gampang menyerah," sahutnya sambil tersenyum.
"Baguslah kalau begitu. Itulah anak yang selalu Kaa-san banggakan," kata wanita paruh baya tersebut seraya mencium kening Kise, menyampaikan salam perpisahannya secara nonverbal.
"Ryou-chan, ayo," panggil kakak sulung Kise dari dalam rumah.
"Iya, aku segera ke sana," sahut Kise dengan suara dikeraskan.
Kise menatap mobil yang membawa kedua orangtuanya dan para personil polisi menjauh. Mereka akan menempuh perjalanan ke Tokyo; perjalanan yang menyimpan doa dan harapan yang begitu membuncah. Tatapan Kise tak beralih hingga akhirnya mobil itu menghilang dari jarak sejauh matanya memandang.
Kise menutup pintu dan berjalan menuju takdirnya.
"James," ucap kakak kedua Kise di telepon, "are you ready? The polices are close to Hanamiya's house, we have to catch up."
"Please don't worry, dear Ryuka, you can always count on me," jawab lelaki di seberang sambungan telepon.
Putri termuda keluarga Kise itu memutar mata. "Yeah, right. Remember that time when you said class was to be held at 11 when it was actually at 9 so we came very late? I really can count on you, can't I?" sindirnya.
"Oh, that doesn't count, Ryuka. I mean on hacking things; I'm the expert."
"Yeah, okay, just hurry and do your work!"
Kakak Kise tersebut tetap menjaga teleponnya tersambung untuk mengetahui perkembangan yang dilakukan temannya, James. Ia menoleh pada kakak sulungnya dan tersenyum.
"Wow. Bahasa Inggrismu itu fasih sekali, Ryuka," puji kakaknya.
Yang disanjung hanya tertawa. "Hidup di Amerika itu banyak tuntutan, Nee-chan," jawab wanita itu sambil tersenyum simpul.
"Kurasa kau memang benar. Oh, bagaimana Ryou-chan?" tanya sang wanita tertua di antara mereka.
"Hmm, kurasa dia sedang bersiap-siap. Aku yakin tak mudah baginya menghadapi apa yang ia takuti. Jujur, aku sendiri … khawatir. Aku tak mau menambah bebannya," jawab yang lebih muda.
Kakak sulung Kise menepuk kepala adiknya dan mengacak rambutnya. Ia tersenyum dan berkata, "Jangan seperti itu. Ryou-chan itu kuat. Kita harus percaya padanya."
Sang adik tertegun sebelum mengangguk dan balas tersenyum lebar, menyuarakan persetujuannya atas perkataan kakaknya tersebut.
"Baiklah, aku ke kamar Ryou-chan dulu, mengawasinya," ujar kakak sulung Kise dan melangkah pergi.
"Judging from the voice, your sister is a really nice person, huh? She must be pretty," ujar James dari telepon.
"Oh, shut up, James. She's owned and you'll never stand a chance," sahut kakak kedua Kise.
"Oh, is that so? Too bad. Then I think I shall take her sister instead?" James melanjutkan dan tertawa.
"Who, me? Don't even dare to dream," balas kakak Kise yang mulai jengkel.
"Don't be like that, Ryuka. What do Japanese people call you? Hmm …tsundere, right? Yeah, don't be tsundere, Ryuka-tan~"
"Shut up! I'm not tsundere! And don't '-tan' me, you moron!" sahut kakak Kise sambil menutupi wajahnya yang memerah, walaupun pemuda di sambungan teleponnya tentu takkan dapat melihatnya.
"Geez, you're being so cute again," goda sang pemuda.
"Stop it, James, and get back to work," ujar sang wanita, "please, my brother needs it for his life. I don't … I don't know where should I seek for help if not to you."
Mendengar nada sendu yang digunakan wanita yang berbicara dengannya, mau tak mau James ikut bersimpati. Akhirnya ia menanggalkan sifat main-mainnya dan menjawab dengan serius, "I get it, Ryuka. I'll get that jerk who makes your brother suffers and kick his ass!"
Wanita itu tersenyum mendengar determinasi pemuda yang ada nun jauh di Amerika Serikat sana. "Thanks a lot, James," kata wanita itu. Lalu ia mengatakan dalam Bahasa Jepang, "Aku mencintaimu."
Terdengar suara berkeresak dari telepon sebelum James menjawab, "Ryuka … aku juga mencintaimu."
"Eh!?"
Kakak Kise itu terkejut mendengar jawaban James yang dalam Bahasa Jepang, walaupun dengan logat Inggris yang kental. Ia tak tahu kalau pemuda itu dapat menggunakan bahasa ibunya.
"Yeah, I kinda learned Japanese to speak with you more. It's worth it, you know," kata James.
"Dasar bodoh," kata kakak Kise sambil tertawa, "now get back to work!"
"You do know that I understand the meaning of your words, don't you?" kata James sambil meringis, "but I'm on my way of hacking his firewall. Oh, my guts tells me this is going to be a piece of cake~"
"Well, I'm going to keep an eye on you," jawab kakak Kise sambil tersenyum. Ia tetap membiarkan teleponnya tersambung. Sambil memejamkan mata, ia berdoa dengan penuh harap pada Tuhan.
Kumohon, selamatkan Ryou-kun!
"Jadi, Ryouta, sekarang tidak ada kakakmu atau siapapun yang akan mengganggu, 'kan?"
Kise tersenyum dengan terpaksa pada Hanamiya. "Tidak. Mereka sedang keluar dan aku sendirian di rumah," jawabnya. Tentu saja ia berbohong.
Tampaknya kemampuan Kise memanipulasi ekspresi dan nada suaranya sendiri dapat menipu Hanamiya. Terbukti oleh wajah liciknya yang menyeringai puas. "Hoo, jadi kita bisa melakukannya dengan bebas, eh? Sudah lama kita tidak melakukannya," ujarnya.
Kise menggeliat tak nyaman di kursinya, walaupun ia mencoba untuk tak menampakannya di hadapan Hanamiya. Melihatnya menderita hanya akan menaikkan hasrat pemuda itu.
"Ada apa, Ryouta? Kau tidak akan bersiap-siap untukku?" tanya Hanamiya dengan nada malas.
"Kurasa Hanamiyacchi akan menyukai jika aku melakukannya pelan-pelan. Aku sedang sedikit lelah hari ini, namun aku dapat memastikan kalau kau akan menyukai apa yang kulakukan hari ini," jawab Kise sambil tersenyum. Dalam perkataannya tersembunyi peringatan implisit yang tentu takkan Hanamiya mengerti.
"Begitu? Kurasa kau telah belajar bagaimana cara menyenangkanku, benar, Ryouta?"
"Kira-kira seperti itu."
Dalam hati Kise terus berharap Tuan Kimura akan segera melaksanakan rencananya. Lalu tepat saat itu juga, doanya terkabul. Ponselnya berbunyi dan Kise mengenali identitasnya sebagai nomor ponsel Tuan Kimura.
"Ada apa?" tanya Hanamiya.
"Oh, ini dari teman ayahku. Kurasa ayahku tidak mengangkat ponselnya," jawab Kise. Ia menerima telepon dari Tuan Kimura dan mengatakan kode yang telah ia pelajari sebelumnya. Pemuda model itu melirik dari sudut matanya; Hanamiya tampak tak curiga.
"Baiklah, Kimura-oji-san. Terima kasih atas pengertiannya. Ya, saya siap memberitahukan pada ayah saya. Selamat bekerja kembali," ujar Kise, mengakhiri panggilan.
"Lama juga," komentar Hanamiya, akhirnya dapat kembali berbicara dengan mainannya—Kise, tentu saja.
"Maaf, rupanya ada urusan penting yang perlu dibicarakan Kimura-san dengan ayahku. Namun itu tak penting bagiku," respon Kise.
"Oh, begitu? Lalu kita bisa melakukan pertunjukan yang biasa sekarang? Kau sudah terlalu banyak mengulur waktu, dan kautahu kalau aku tak suka menunggu, 'kan, Ryouta?" tanya Hanamiya sambil menatap Kise dengan nafsu terpatri di sorot matanya.
Kise tersenyum. "Tentu saja. Kita dapat melaksanakannya sekarang juga," ujarnya.
Bersamaan dengan itu, pintu kamar Hanamiya didobrak. Pemuda itu tak memiliki cukup waktu bahkan untuk bereaksi karena detik berikutnya dua orang polisi berhasil meringkusnya tanpa kesulitan. Hanamiya pun berhasil ditangkap.
"Apa-apaan ini!?" teriaknya geram.
Kise tersenyum pada Hanamiya. Ia berharap pemuda bajingan itu dapat melihatnya, melihat betapa puas yang Kise rasakan setelah dapat bebas dari cengkeramannya. "Kaulihat, Hanamiya, aku takkan selamanya menjadi budakmu. Karena bantuan keluarga, teman-teman dan yang lain, aku berhasil bebas darimu. Kini, aku takkan membiarkan orang lain merasakan hal yang sama denganku. Biar penjara saja yang menerimamu."
Hanamiya menggeram marah dan meronta-ronta. Dua orang personil kepolisian datang, menyusul kedua rekan mereka untuk menahan amukan Hanamiya.
Wajah Tuan Kimura muncul di layar laptop Kise. Ia memegang setumpukan kaset rekaman. "Totalnya ada sepuluh rekaman, Ryouta. Apa benar?"
Kise agak ragu karena ia mengira ada sebelas rekaman, namun ia sendiri tak yakin akan perhitungannya, karena itu ia mengiakan pria paruh baya tersebut.
"Tenang saja, Ryouta. Kaset rekaman ini kupastikan takkan jatuh ke tangan yang salah," kata Tuan Kimura sambil mengacungkan kaset rekamannya.
Kise tersenyum. "Tentu saja, saya percaya dengan Kimura-oji-san," jawabnya.
"Baguslah kalau begitu," balas Tuan Kimura, "oh, dan jangan lupa bertanya pada kakakmu apakah sudah berhasil menghapus data hasil meretas komputer Hanamiya."
Sebuah kebetulan yang menyenangkan, kakak kedua Kise masuk kamar Kise sambil membawa ponselnya. Wajah wanita itu tampak berseri-seri, membuatnya terlihat makin cantik.
"Ryou-kun, Ryou-kun! James baru saja mengatakan bahwa ia berhasil meretas komputer Hanamiya dan menghapus semua failnya. Bukan hanya video, foto dan lain-lain mengenaimu juga sudah dihapus. Ini bagus, ya?" tuturnya dengan bersemangat.
Kise tersenyum lebar dan memeluk kakaknya. Ia berterima kasih berulang-ulang sampai rasanya suaranya parau. Kakaknya hanya tertawa dan mengelus surai keemasan adiknya yang sehalus sutra.
Kakak Kise akhirnya mempermisikan diri untuk mengurus hal lain dan keluar dari kamar. Kise mengangguk dan memperhatikan kakaknya pergi.
"So, your brother must be very precious that you love him so much. He's good-looking?" tanya James setelah keluar dari jangkauan pendengaran siapapun kecuali kakak kedua Kise.
"Yeah, he's very precious that I could trade the whole world just for the sake of his happiness. But unlike you, I don't judge someone by their face. Although, I can say I am entirely sure Ryouta is far prettier than me and my sister," jawab kakak Kise sambil tersenyum dan mendengus di saat bersamaan.
"Whoa, if you said it like that, I'm getting curious about him. And I feel like I've heard his name before. Is he famous or such?"
"Well, he's a famous model. Probably you've heard the name 'Kise Ryouta'? He's climbing the popularity stairs at America. Showbiz people may know him."
"Wait, he's that Kise Ryo!? Oh my fucking God! He's just so pretty I could fall for him."
"Well, I won't let you. My Ryou-kun is too precious to be touched by a bastard like you."
"Ouch, that got me. You can be incredibly cruel sometimes, Ryuka."
"Well, I'm me. Get used to it."
Sementara kakak kedua Kise bersenda gurau dengan temannya dari Amerika Serikat, Kise kembali pada video call-nya. Ia baru akan menutup browser-nya saat ia mendengar Hanamiya berteriak-teriak.
"Tunggu saja, Ryouta! Aku belum selesai! Jangan kira kau sudah bebas. Aku akan kembali! Dan saat itu terjadi, aku akan memberikan penderitaan yang jauh lebih besar dari sekarang!" seru Hanamiya yang segera dikendalikan polisi dan digiring ke peradilan.
Kise duduk di kursi karena kakinya lemas dan gemetaran. Ia ingin mempercayai bahwa perkataan Hanamiya adalah pepesan kosong belaka, namun Kise juga tahu benar kemampuan Hanamiya memanipulasi sesuatu.
"Kumohon, Tuhan, jangan berikan cobaan lebih dari ini …."
Sepertinya Kise harus memohon lebih keras lagi.
—To Be Continued.
A/N:
Yep, ini masih jauh dari kata berakhir. Plus, in case ada yang pengen komentar, saya bikin percakapan James dan Ryuka (oh, nama ini gak canon lho ya, nama kakaknya Kise itu cuma bikinan saya) dalam Bahasa Inggris karena awkward kalau pake Bahasa Indonesia. /?
Dengan keyakinan bahwa anak FKNBI pada ngerti Inggris, saya dengan yakin membuat Bahasa Inggris aja. /laludiusir
Pertanyaan, kritik, saran, pujian dan segala rupa sampaikan di review, because reviews are always greatly appreciated. Oh, favs and follows too. Jaa~
111413 2123 —Shana Nakazawa
