Fandom: Kuroko no Basuke/Kuroko no Basket
Author: Shana Nakazawa
Chapter: 10/?
Jumlah kata: 2.102 kata
Summary: Kise Ryouta adalah boneka. Ia digerakkan oleh hal yang membesarkan namanya, dan ia juga dijatuhkan karenanya. Di saat dunia tak berpihak padanya dan Kise merasa telah muak, malaikat pun datang menolong. Pertanyaannya: dapatkah?
Warning: (possibly) OOC. AU. Disturbing materials; usage of children, bullying—both cyber and RL, rape/non-con, self-harm. GoM/Kise, dominant AoKise.
Note: Berdasarkan kisah nyata. Kredit diberikan kepada (alm) Amanda Todd, sekaligus sebagai pesan untuk menyampaikan gerakan stop bullying! Dipersembahkan sebagai karya NaNoWriMo. Dipersembahkan sebagai salah satu entri challenge "Pestisida Untuk Hama: 21 fanfict 21 genre" oleh Hama Hitam; genre hurt/comfort.
Disclaimer: Kuroko no Basuke/Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi. Cover © Zitronenkirsche [zerochan #1292621]. Tidak ada keuntungan materiil yang diperoleh dari membuat ataupun mempublikasikan fanfiksi ini. Fanfiksi ini dibuat hanya berdasarkan tujuan kepuasan pribadi.
.
.
.
Winter in Disguise
[ x. renewed situation ]
"Bagaimana kalau kita pindah ke Tokyo?"
Begitulah yang dikatakan ayah Kise pada suatu hari. Lebih tepatnya satu minggu setelah penangkapan Hanamiya. Keluarga mereka kembali pada kehidupan normal mereka yang harmonis, namun tetap ada yang berubah. Ada yang berubah, dan itu takkan bisa dikembalikan seperti semua.
"Memangnya kenapa, Tou-san?" tanya Kise. Ia menghentikan kegiatannya memakan kudapan yang disediakan ibunya. Perkataan ayahnya membangunkan rasa tertariknya.
"Kurasa terlalu banyak hal yang dapat mengingatkanmu akan … 'orang itu' di sini. Ryouta, kau dapat pindah sekolah ke Tokyo dan kami akan mengawasimu. Lagipula kebanyakan pekerjaanmu juga selalu ada di Tokyo," jawab ayahnya, "tetapi ini keputusanmu. Kalau kau tidak mau, tidak apa-apa."
Kise tampak berpikir sejenak. Kemudian ia tersenyum pada ayahnya dan mengatakan, "Jika menurut Tou-san ini yang terbaik, aku akan mengikutinya saja."
Ibu Kise datang dari dapur dengan membawa sirop rasa mangga kesukaan suaminya. "Jadi kita akan pindah ke Tokyo? Bagus, Kaa-san sudah mencanangkan sekolah baru yang sangat bagus untuk Ryouta," sahutnya.
"Dari mana Kaa-san bisa menyiapkannya secepat itu?" tanya Kise sambil mengerutkan kening.
"Oh, Kimura-san yang memberitahukannya pada Kaa-san. Kebetulan dia punya kenalan yang anaknya bersekolah di sana," jawab ibunya.
"Nama sekolahnya?" tanya Kise dan ayahnya hampir berbarengan. Ibu Kise hanya tersenyum akan kekompakan itu.
"SMP Teikou."
Kise melangkahkan kaki memasuki gerbang sekolah barunya. Dengan seragam yang masih amat baru, pemuda model itu berjalan dengan percaya diri. Di sisi kiri dan kanannya, ia dapat mendengar bisik-bisik orang-orang.
"H-hei, bukankah itu Kise Ryouta?"
"Tidak mungkin! Apa yang dia lakukan di sini?"
"Tunggu … lihat! Dia memakai seragam Teikou! Jangan-jangan dia … murid baru yang pindah ke sini!?"
"Kyaaa, kuharap dia masuk ke kelasku!"
"Teruslah berharap. Dia pasti akan masuk ke kelasku!"
Tidak ada yang berubah, batinnya. Ke manapun ia pergi, bisik-bisik selalu mengikuti. Tentu saja siswa-siswi SMP Teikou tak ada bedanya. Walaupun sekolah ini adalah sekolah elite, melihat model terkenal seperti Kise Ryouta takkan mencegah mereka dari sifat alami mereka dalam mengidolakan seseorang.
"Anu, permisi. Ini Kise Ryouta yang model itu, 'kan?" tanya seorang gadis yang dengan malu-malu menghampiri Kise.
Kise dengan sigap menanggalkan wajah datarnya dan menampakkan senyum manisnya yang berharga jutaan yen tersebut. "Ya, ini aku, Kise Ryouta. Senang berkenalan denganmu."
"Waaah, aku penggemar berat Kise-kun! B-boleh aku minta tanda tanganmu?" cicit gadis itu tanpa bisa menyembunyikan rasa senang di nadanya.
Kise tersenyum lebih lebar. "Tentu saja," jawab pemuda tampan itu.
Dalam sekejap, seorang gadis berubah menjadi antrean panjang. Kise sebenarnya sudah cukup terbiasa, namun menghadapinya di hari pertama sekolah agaknya terlalu berlebihan.
Saat itu bel sekolah berbunyi dan Kise teringat akan waktu. Apa yang harus ia katakan jika ia terlambat pada hari pertamanya di sekolah baru?
"Maaf, kurasa sudah waktunya masuk. Aku tak ingin terlambat di hari pertama sekolah. Permisi."
Dengan begitu, Kise dapat meloloskan diri dari kerumunan penggemarnya. Setelah mendengar kata-kata mereka yang meyakinkannya bahwa mereka tidak kecewa dan akan selalu menantikan saat-saat bersamanya, Kise dapat benar-benar memasuki gedung dengan tenang.
"Hari pertama yang melelahkan," gumamnya, "sekarang tinggal mencari kelas 2-5."
Dikarenakan pengetahuannya yang sedikit mengenai sekolah barunya ini, Kise sempat bertanya-tanya dahulu pada beberapa orang. Gadis-gadis yang ia tanyai berakhir dengan rona merah menghiasi pipi mereka.
"Jadi ini kelasnya?" gumam Kise. Ia memerhatikan kelas barunya. Dari luar terlihat seperti kelas biasa. Papan bertuliskan '2-5' menggantung di atas pintu geser.
"Ada apa? Kenapa belum masuk?" tanya sebuah suara dari belakang Kise. Pemuda tampan itu menoleh dan menemukan seorang guru pria yang sudah cukup uzur tersenyum lembut padanya. Kise menyimpulkan bahwa beliau adalah wali kelas dari kelas 2-5, mengingat saat ini adalah jam homeroom.
"Ah, saya murid baru. Nama saya Kise Ryouta," jawab Kise sambil membungkuk sopan.
"Oh, ya, murid baru itu? Wah, kelas 2-5 mendapatkan seorang model terkenal. Saya merasa beruntung sebagai wali kelasnya," ujar guru itu sambil tersenyum. Kise hanya balas tersenyum seraya tersipu. Guru itu berkata lagi, "Baiklah, nanti akan saya perkenalkan. Silakan tunggu."
Kise menurut. Ia menunggu sambil mengobservasi lorong sekolahnya. Sekolah ini tak jauh berbeda dengan sekolah lamanya, kecuali fakta bahwa Teikou lebih luas dan tentunya lebih modern.
"—se Ryouta. Silakan."
Kise memasuki ruang kelasnya. Seperti yang ia duga, bisik-bisik bernada campuran antara kaget dan antusias menyambutnya.
Kise menulis kanji namanya di papan tulis. Ia menghadap teman-temannya dan tersenyum seperti biasa. "Salam kenal. Nama saya Kise Ryouta. Saya adalah murid baru yang baru pindah dari Kanagawa. Mohon bantuannya, teman-teman."
Jeritan tertahan, wajah para gadis yang memerah dan tatapan-tatapan bersemangat dapat Kise lihat di antara teman-teman barunya.
"Baiklah, Kise-san, silakan duduk di kursi kosong di depan Murasakibara-kun," ujar gurunya sambil menunjukkan kursi kosong di hadapan Murasakibara—siswa berambut ungu dengan tinggi badan yang cukup mengerikan untuk ukuran anak kelas dua SMP.
Kise duduk diapit dua orang gadis, karena itu mereka langsung mengajaknya berbicara. Keduanya memperkenalkan diri dengan bersemangat. Kise sendiri tidak keberatan berbicara dengan mereka. Gadis-gadis selalu mendatanginya.
"Kise-kun, apa yang membuat Kise-kun pindah ke Tokyo?" tanya gadis yang duduk di sisi kanan Kise setelah mendengar kisah singkat mengenai kepindahan Kise dari Kanagawa ke Tokyo.
Jantung Kise berhenti berdetak untuk sejenak. Ia menjawab dengan suara agak goyah, "Ah, ayahku memutuskan untuk pindah ke Tokyo. Lagipula aku akan lebih dekat ke tempat kerja jika tinggal di sini. Aku sudah terlalu banyak bolos di sekolahku yang lama karena bolak-balik dari Kanagawa ke Tokyo."
Kedua siswi tersebut tertawa mendengar candaan Kise. Kebetulan wali kelas mereka memiliki urusan sehingga jam homeroom dihabiskan untuk perkenalan Kise.
Meja Kise segera dikerubungi gadis-gadis yang penasaran dengannya. Beberapa memberanikan diri untuk meminta foto bersama. Akhirnya semua gadis di sana berfoto bersama Kise menggunakan ponsel mereka.
Kise tak melihat teman laki-lakinya sejak tadi dan merasa sedikit sedih. Ia menginginkan teman sesama jenis agar bisa membagi perasaan. Bukannya pemuda itu tak menyukai memiliki teman wanita; tentu saja ia senang, namun berbicara dengan sesama laki-laki tentu akan terasa lebih akrab.
"Hei, anak perempuan pergi dulu, dong. Bukan hanya kalian yang ingin berkenalan dengan Kise Ryouta."
"Eh?"
Kise menoleh dan menemukan beberapa siswa kelasnya mendekati mejanya.
"Yamada-kun apa-apaan, sih?" gerutu seorang siswi, namun ia tetap menyingkir dan memberi jalan pada para siswa.
"Yo, Kise Ryouta. Namaku Yamada Kazuo. Jadi, kau sainganku di sini, ya? Ahaha, bercanda. Kau terlalu tampan untuk kujadikan saingan," kata siswa tadi.
"Terima kasih atas pujiannya dan salam kenal, Yamada-kun," sahut Kise sambil tersenyum.
Yamada menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil berkata, "Dipanggil seperti itu olehmu … rasanya aneh juga. Seperti dipanggil perempuan."
"Uwaa, Yama-chin sudah abnormal. Aku harus melaporkan ke Aka-chin," sahut seseorang dari belakang Kise dengan suara malas.
Kise dan Yamada refleks menoleh ke sumber suara. Pemuda titisan raksasa yang sempat mencuri perhatian Kise berkata sambil mengulum sesuatu yang terlihat seperti permen.
"Apa-apaan kau, Murasakibara! Jangan sebarkan fitnah yang aneh-aneh pada Akashi! Kautahu, 'kan, ganasnya dia seperti apa?" sahut Yamada sambil bergidik.
Melihat tatapan bertanya Kise, Yamada memperkenalkan Murasakibara; "Kise, ini Murasakibara Atsushi."
"Salam kenal, Kise-chin," kata Murasakibara. Ia melanjutkan memakan permennya dengan senang hati.
Kise memandang Murasakibara dengan heran sebelum kembali beralih pada Yamada. Pemuda itu hanya menggeleng. "Jangan pedulikan dia, sifatnya memang seperti itu," katanya.
"Oh, begitu. Murasakibara-kun memiliki sifat yang menarik," komentar Kise sambil tersenyum.
"Memang benar. Malah bisa dibilang aneh. Aku heran dia bisa disukai Akashi. Mungkin Raja Setan memang memiliki selera terhadap orang-orang aneh," balas Yamada.
Kise tadinya ingin bertanya mengenai Akashi yang disebut-sebut Raja Setan oleh Yamada, namun kedatangan guru menghalangi niatnya. Semua murid kembali ke tempat duduk masing-masing dan pelajaran pun dimulai.
Setelah pelajaran Matematika yang menguras otak, dentang bel istirahat terasa bagai nyanyian dari surga. Setelah guru pergi, semua murid di kelas 2-5 dapat menghela napas lega. Kise sendiri meregangkan tubuhnya karena otot-ototnya terasa kaku setelah didiamkan dalam posisi yang monoton untuk kurun waktu yang cukup lama.
"Kise-kun, mau makan siang? Apa kau membawa bento?" tanya salah seorang gadis di kelasnya. Ia gadis yang manis, dengan rambut dikuncir dua dan mata yang polos.
"Ah, Kawahara-san. Tidak, aku tidak biasa membawa bento. Aku biasanya membeli makan siang di kantin. Oh, namun aku tak tahu letaknya di mana. Bisa kautunjukkan padaku?" tanya Kise, memberikan senyuman manisnya.
Gadis itu, Kawahara, menunduk dengan wajah bersemu merah muda. Dengan cicit senang ia menjawab, "Dengan senang hati!"
Kise tak keberatan melihat teman sekelasnya tersebut senang bersamanya. Walaupun seperti itu, pemuda tampan itu tak pernah ingin melambungkan harapan seseorang terlalu tinggi. Ia pernah berada di situasi seperti itu, dan dihempaskan dengan keras rasanya sangat tak menyenangkan.
"Ini dia kantinnya, Kise-kun."
Kise tersadar dari lamunannya dan memerhatikan kantin Teikou. Kantin yang terlihat nyaman. Pilihan menunya juga lebih bervariasi dari sekolah lamanya. Setelah memerhatikan menu selama beberapa saat, Kise mengikuti antrean.
"Kise-kun, biar aku cari tempat duduk dulu, ya," ujar Kawahara sebelum berlari mencari kursi yang kosong.
Kise mengantre di bagian kari. Entah mengapa ia sedang ingin makan kari.
"Selamat datang—ah, Kise Ryouta! Murid baru, ya? Bibi adalah penggemarmu, lho," sambut bibi penjaga kantin sambil tertawa-tawa.
Kise membalas dengan sebuah senyuman manis yang mempesona. "Oh, betulkah? Wah, saya tersanjung sekali," balas model remaja itu.
"Benar. Begini-begini Bibi masih suka mengoleksi majalahmu, lho."
"Ahaha, Bibi ini bisa saja. Anu, saya mau pesan kari, Bi."
"Oh, iya, iya. Maaf, terlalu asyik mengobrol sampai Bibi lupa tugas."
"Iya, tidak apa-apa kok, Bi."
Kise tersenyum dan menanti kari pesanannya. Dalam waktu singkat, bibi penjaga kantin tersebut kembali dengan sepiring kari di nampan.
"Silakan, Kise-san," katanya sambil menyodorkan nampan tersebut.
Kise menerimanya. "Berapa, Bi?" tanyanya.
"Oh, tidak usah, Kise-san. Khusus untukmu, gratis," jawab wanita paruh baya itu sambil melambaikan tangan seolah itu adalah urusan sepele.
"Eh, apakah boleh, Bi?" tanya Kise. Dia bukan orang yang suka mengambil keuntungan karena popularitasnya.
"Tidak apa-apa, sungguh. Anggaplah ini pemberian dari Bibi, ya?"
Setelah diyakinkan berulang-ulang oleh sang bibi penjaga kantin, akhirnya Kise pergi dengan membawa sebuah senyum yang ia tujukan tulus. Matanya segera menjelajah kantin yang ramai, mencari sosok gadis yang tadi berjalan bersamanya.
"Kise-kun, di sini!" panggil seseorang dari jauh. Kise menoleh menuju sumber suara. Dengan memicingkan mata, pemuda tampan itu dapat melihat gadis yang melambaikan tangan padanya.
"Kawahara-san, maaf lama menunggu," sahut Kise seraya menempati tempat duduk yang telah disediakan untuknya.
"Tidak apa-apa. Oh, ya, kenalkan, ini teman-temanku dari kelas lain. Saat kukatakan bahwa aku bersamamu, mereka ingin berkenalan denganmu," kata Kawahara.
Kise seakan baru sadar ada beberapa gadis lain di meja itu. Mereka semua menatapnya dengan mata penuh kekaguman dan harap. Tentu dengan tatapan seperti itu, Kise takkan tega menolak. Jadi ia mengesampingkan sejenak perutnya yang keroncongan dan melayani permintaan para gadis tersebut.
"Jadi, Kise-kun memang sudah bekerja sebagai model sejak kecil? Keren sekali!" seru salah seorang gadis dengan rambut pendek, wajahnya menunjukkan rasa kagum yang teramat sangat.
"Yah, bisa dibilang seperti itu," jawab Kise sembari menghabiskan susu kotaknya.
Saat itu, bel sekolah berdentang. Sudah waktunya masuk kembali. Terdengar suara-suara kursi yang berderit, tanda penumpangnya telah berdiri. Kise sendiri menyudahi pembicaraannya dan bergegas kembali ke kelas.
Ketika mencapai tangga, seorang siswa—sepertinya berandalan, menilik dari gayanya yang urakan—mencegat mereka. Dengan senyum yang lebih tepat disebut seringai, ia berkata, "Yukko-chan~ Mau ke mana? Jadi, 'kan, kencan denganku?"
Kawahara menatap siswa itu dengan sebal dan risih. "Apa-apaan, Tanaka-kun! Aku tak pernah berkata aku setuju akan berkencan denganmu!" seru gadis manis itu.
"Jangan begitu, Yukko-chan. Walaupun sifat tsundere-mu itu imut juga," goda Tanaka. Ia mencengkeram pergelangan tangan Kawahara, membuat gadis itu meronta-ronta meminta dilepaskan.
"Tolong lepaskan Kawahara-san. Dia sudah berkata tidak, maka kau tidak memiliki hak untuk memaksanya," ujar Kise. Ia mencengkeram tangan Tanaka hingga Kawahara dapat membebaskan tangannya.
Tanaka menepis cengkeraman Kise. Dengan wajah kesal ia menatap Kise tajam. "Apa maumu, hah!? Kise Ryouta, dengan entengnya kau merebut pacar orang—"
"Aku bukan pacarmu!"
"—hanya karena kau tampan dan sempurna. Kau tidak tahu rasanya menjadi orang biasa!"
Kise menatap Tanaka dingin. Ia kehilangan respek pada orang yang menganggap hidupnya sempurna padahal sebenarnya tak tahu apa-apa.
"Asal kautahu saja, Tanaka-san, kau tidak mengerti rasanya menjadi Kise Ryouta. Lalu, kau tak memiliki hak untuk memaksakan keinginanmu pada orang lain. Sekarang, kami permisi, ada pelajaran yang harus kami ikuti," sahut Kise sebelum melenggang meninggalkan Tanaka.
Sang berandal itu menggeram marah. Ia menatap Kise yang menjauh bersama Kawahara dengan benci. Ia berdecak sebelum mengeluarkan ponselnya. Jarinya mencari sebuah nama di kontaknya dan menghubunginya.
"—ki-san, ada target baru yang harus dilenyapkan," ujar Tanaka. Seseorang di seberang sambungan berbicara sesuatu yang dijawab oleh Tanaka, "Pulang sekolah, mampirlah ke Teikou. Orangnya ada di sana."
Pemuda urakan itu menutup ponselnya dan menyeringai jahat. Berbuat kriminal sudah ada dalam darahnya, dan apa yang akan ia lakukan saat ini tak jauh berbeda—selalu mengirimkan rasa puas dan menyenangkan padanya.
Tanaka berjalan ke arah gerbang, membolos seperti biasanya. Tujuannya adalah gedung yang nyaris berseberangan dengan sekolahnya—SMP Teikou. Ia telah menanti seseorang di sana.
"Lihat saja nanti, Kise Ryouta. Akan kubuat kehidupanmu seperti neraka."
—To Be Continued.
A/N:
Akhirnya Teikou arc! Eheheh, saya udah menantikan menulis ini. Jadi, silakan nantikan kehadiran Kise's beloved Aominecchi (?) di chapter depan. /o/
Pertanyaan, kritik, saran, pujian dan segala rupa sampaikan di review, because reviews are always greatly appreciated. Oh, favs and follows too. Jaa~
111613 1516 —Shana Nakazawa
ATTENTION! PSA!
(7/27/15) Hai, ini Shana. Iya, maafkan banget guys update-an ini udah keburu buluk duluan. Anyway, saya cuma mau ngumumin kalau cerita ini sudah tidak saya lanjutin lagi, berhubung saya udah pindah fandom dan udah gak pernah fangirling-an AoKise lagi (btw saya pindahnya ke kapal USS Destiel di Supernatural lho, ada yang tau? /wink /jijik). Cerita ini udah sampai chapter 20 dan saya biarin ngegantung, jadi silakan jika Anda maso, lanjut baca aja. Tapi tolong jangan marahin saya karena jujur saya udah gak ada feel sama sekali buat ngelanjutin fic ini. Saya juga punya banyak rencana fic lain yang mau saya bikin. Jadi maaf, fic ini akan saya discontinue selamanya. Cek profil saya untuk info. Sekian aja sih ya. Selamat melanjutkkan bagi yang mampu~ (?)
