Disclaimer : Touken Ranbu milik DMM dan Nitro +. Saya tidak memiliki apapun kecuali ide cerita dan saya tidak main touranbu jadi kalau karaterisasinya bye-bye mohon dimaklumi. Tidak ada keuntungan diambil dari cerita ini selain pemuas gairah fangirling belaka.
Warning :
(i) Konten BL (dan mungkin yaoi).
(ii) Double Hasebe dengan bromance tumpah-tumpah.
(iii) Gore dan darah.
(iv) Modifikasi konsep game untuk kepentingan cerita.
(v) Cerita tidak akan ditulis dalam satu cerita yang utuh dan runtut, melainkan potongan-potongan adegan seperti oneshot yang menyusun sebuah plot besar. Seringkali akan ada jeda jauh antara satu chapter dengan chapter sebelumnya, atau bahkan timeline maju-mundur. Kenapa saya tidak menuliskannya dengan "normal"? Karena ide saya loncat-loncat dan saya tidak punya cukup kemauan untuk menyusun mereka dalam sebuah fiksi yang lengkap.
.
.
bagian ii: makam
Heshikiri Hasebe selalu terbangun sebelum matahari terbit.
Itu bukan hal yang istimewa. Di dalam benteng di mana semua penghuninya pernah bernapas dalam debu perang, sifat rajin adalah hal yang biasa. Demikian pula sifat waspada dan trauma yang membuatmu selalu terjaga. Dengan tiga alasan itu, benteng selalu telah menggeliat oleh kehidupan jauh sebelum fajar.
Yang membuat Hasebe berbeda adalah ini: setiap pagi setelah membantu mengumpulkan telur untuk sarapan, ia akan pergi ke bukit belakang benteng. Sendirian dan tidak pernah pamit; dan orang-orang akhirnya terbiasa dengan ketidakhadirannya di ruang makan bersama.
(Semua orang punya kepentingan mereka sendiri, dan Hasebe, salah satu yang paling soliter di antara mereka; tidak memenuhi pikiran cukup banyak orang untuk mengkhawatirkannya).
Mendekati puncak bukit, di sebelah timur, terdapat sepetak tanah yang tersembunyi di bawah lereng. Ke sanalah Hasebe pergi setiap pagi. Mencapai puncak dulu, lalu meluncur ke sepetak tanah terpencil itu dengan hati-hati—salah langkah sedikit saja ia akan terperosok ke jurang. Di tengah-tengah petak terdapat sebuah batu besar dengan banyak tulisan terukir di permukaannya. Di bawah batu terdapat empat buah guci tanah liat, masing-masing bertuliskan:
鉄—tetsu—besi.
鋼—hagane—baja.
銅—dō—tembaga.
黒曜石—kokuyōseki—obsidian.
Di sinilah Hasebe menyimpan sisa-sisa tubuh adik-adiknya.
Pagi ini ia membawa tiga pelat besi hasil peleburan kemarin, dibungkus dalam kain putih dan diikat dengan benang kepang merah. Dimasukkannya ketiga pelat itu ke dalam guci bertuliskan "besi", kemudian ia berlutut dan berdoa. Usai berdoa ia mengeluarkan perangkat pahat dari kantung serut yang dibawanya dan mulai mengikir nama pertempuran di mana adik terakhirnya ditemukan serta tanggal peleburannya di batu besar yang berfungsi sebagai nisan.
Suara denting besi pahat bertemu batu menggaung di petak kecil itu, ditingkahi kicauan burung dan gemerisik daun ditiup angin. Hasebe bekerja dalam diam.
Ini adalah pahatan kedua puluh.
Entah sejak kapan tuannya seperti dikutuk dengan kemunculannya yang terus menerus. Kapan pun dan dimana pun pasukan tuannya bertempur, pedang yang mereka temukan selalu Heshikiri Hasebe—sekedar uchigatana yang kemampuannya sedang-sedang saja. Bahkan ketika beliau menempa pedang sendiri pun, yang terlahir selalu Hasebe, dan tuannya mulai muak dengan sosok uchigatana bertahtakan inskripsi dari klan Kuroda itu.
Kali pertama Hasebe melihat tuan yang dihormatinya menebas kepala adiknya, airmatanya menetes. Kini dia tidak merasakan apa-apa lagi.
(Atau masih, dia hanya sudah terlalu pintar untuk menolak perasaaannya sendiri).
Dengan satu bidasan lembut pada batu, Hasebe menyelesaikan ukirannya. Ditepuk dan ditiupnya tulisan yang baru terbentuk untuk membersihkan sisa-sisa debu ukir yang menempel, lalu dipandangnya lekat-lekat tatanan huruf dan angka itu. Puas dengan hasil kerjanya, ia memasukkan kembali peralatannya ke dalam kantung serut kemudian berbalik memunggungi batu, tidak menoleh lagi.
Bersamaan dengan matahari yang mulai naik, Hasebe kembali memanjat tebing, berjalan pulang menuju benteng. Banyak tugas menunggunya hari ini.
