Disclaimer : Touken Ranbu milik DMM dan Nitro +. Saya tidak memiliki apapun kecuali ide cerita dan saya tidak main touranbu jadi kalau karaterisasinya bye-bye mohon dimaklumi. Tidak ada keuntungan diambil dari cerita ini selain pemuas gairah fangirling belaka.
Warning :
(i) Konten BL (dan mungkin yaoi).
(ii) Double Hasebe dengan bromance tumpah-tumpah.
(iii) Gore dan darah.
(iv) Modifikasi konsep game untuk kepentingan cerita.
(v) Cerita tidak akan ditulis dalam satu cerita yang utuh dan runtut, melainkan potongan-potongan adegan seperti oneshot yang menyusun sebuah plot besar. Seringkali akan ada jeda jauh antara satu chapter dengan chapter sebelumnya, atau bahkan timeline maju-mundur. Kenapa saya tidak menuliskannya dengan "normal"? Karena ide saya loncat-loncat dan saya tidak punya cukup kemauan untuk menyusun mereka dalam sebuah fiksi yang lengkap.
Additional Note: kali ini saya mencoba memakai gaya penulisan yang agak berbeda. jika berkenan, bolehkah minta saran dan kritiknya?
.
.
bagian iii: Adik
"Tuan sedang di penempaan. Hari ini beliau memutuskan untuk membuat pedang baru."
Satu lagi yang membuat hati Hasebe mencelos dan tangannya terasa dingin. Ia mencengkeram hulu pedang di pinggang untuk mencegah jemarinya mati rasa, namun wajahnya ditata sedemikian rupa agar Souza tidak melihat kenanaran di sana.
"…Berapa lama beliau akan membuatnya?"
Souza tersenyum, senyum yang menjadi alasan Hasebe tidak pernah merasa nyaman berinteraksi dengannya. Pedang berambut merah itu telah mengalami banyak hal dan ia bisa membaca Hasebe seperti buku yang terbuka. Pedang-pedang lain hanya melemparinya senyum canggung atau terpaksa, tapi Souza Samonji menawarkan simpati dan belasungkawa tak terucap dari senyumnya.
Hasebe tidak membutuhkan itu.
"Cukup lama. Beliau menginginkan oodachi."
"Ah."
"Mungkin saja beliau beruntung kali ini." Mungkin saja kau tidak perlu menyaksikan kematian adikmu lagi.
Waktu pembuatan oodachi sama banyak dengan waktu pembuatan Heshikiri Hasebe. Ia adalah satu-satunya uchigatana yang memerlukan waktu penempaan paling lama, dan itu membuat tuannya semakin marah ketika beliau telah menghabiskan begitu banyak material namun yang diperolehnya dari dalam kompor tempa tetaplah sebilah pedang pendek.
"Semoga saja," Hasebe melempar senyum kaku, mengangguk pada Souza lalu berlalu pergi menuju perpustakaan.
Ia mengurung diri di sana sepanjang hari, mentranskripsikan buku-buku Barat yang dibawa Tuan dari dunianya ke dalam gulungan-gulungan kertas bambu.
~.~.~.~.~
"Sudah dengar?" Bisik-bisik di balik pintu. Sosok-sosok dalam bayangan saling berbincang ditingkahi temaram lilin. "Pedang itu selesai sore tadi."
"Ya. Heshikiri Hasebe lagi, bukan? Kasihan."
"Yang kedua puluh, aku yakin."
Salah. Ini kedua puluh satu.
"Tuan sangat marah. Kau tahu? Beliau keluar dari penempaan sambil—"
"Ssst! Jangan bicara macam-macam soal Tuan! Dasar kurang ajar!"
"Baiklah, baiklah. Maaf."
Hening sejenak. Malam telah turun, burung bulbul berdekut di pohon plum dekat kolam. Bayangan-bayangan tanpa wajah itu tetap berdiri di koridor depan pintu perpustakaan, gerak tubuh mereka terdistorsi api lilin yang bergoyang. Suara mereka satu-satunya identitas pembawa nama.
"Aku belum melihatnya. Apa menurutmu dia sudah…?" Hirano Toushirou, tantou. Disayangi tuan karena kesopanan dan kesetiaannya.
"Belum. Aku sempat mengintip tadi. Dia masih di penempaan." Shishiou. Tachi yang ditempa awal bulan lalu. Masih terlalu muda untuk terjun ke medan perang, namun arogansinya mengalahkan komandan pasukan.
Desah kecil bernada lega. "Menurutmu apa yang akan terjadi padanya?"
"Sudah jelas, kan?" Salah satu bayangan nampak menggelembung oleh ke-sok tahuan. "Seperti yang sudah-sudah, tentu."
"Apa tidak ada kemungkinan…?"
"Tidak. Tuan tidak menginginkan uchigatana Hasebe lagi. Kau tahu itu."
"Kasihan."
"…Ya. Aku bersyukur keberadaanku bukan kutukan."
Tak lama kemudian lantai kayu berderit oleh langkah-langkah mereka yang menjauh, percakapan mereka memudar menjadi bisik-bisik tak tercerna hingga yang tersisa hanyalah dekut burung bulbul dan gemericik air di kolam, sesekali diikuti ketukan air mancur bambu.
Hasebe melepaskan napas yang tanpa sadar ditahannya, hembusannya bergetar, dadanya menggolak naik turun dengan cepat.
Kuas di tangannya telah patah jadi dua, terlalu erat dicengkeram.
"Kapan kutukan ini akan berakhir?" Bisiknya pada gulungan-gulungan kertas berbau tinta.
Tak ada seorang pun yang menjawab. Lilin di meja berkelebat lemah, telah begitu pendek setelah dipakai terlalu lama. Hasebe menatapnya dengan pandangan kosong sampai sumbunya habis termakan api, hangusan seperti cacing hitam tumbang di atas lelehan lilin yang mengeras.
~.~.~.~.~
Bulan telah begitu tinggi ketika akhirnya Hasebe keluar dari perpustakaan, suara geser pintunya menggaung di dalam gelap. Benteng telah lelap, hanya suara jangkrik dan makhluk-makhluk malam mengisi kekosongan. Bayang-bayang bangunan menguasai tanah; sinar pucat rembulan mewarnai benda-benda dalam warna yang salah.
Hasebe mengambil sebuah lentera yang tergantung di langit-langit teras dan berjalan menyusuri jalan dari batu-batu bulat. Tak sedikitpun suara mengeletak dari sepatunya, naluri mengendap-endap telah lama mendarah daging di kakinya. Sebuah keuntungan, sebab Hasebe tidak ingin seorangpun memergoki ke mana ia akan pergi.
Lama berjalan, melintasi hampir separuh luas benteng, bangunan itu akhirnya terlihat. Sebuah rumah berlangit-langit tinggi yang nampak lebih kokoh dari yang lain. Dindingnya, campuran antara batu dan kayu, melapis tebal seperti cangkang. Beberapa jendela kecil bertaburan di tempat tak terjangkau seolah tidak ingin orang mengintip masuk. Jelaga menghitamkan atap dan bagian belakang rumah, hasil tumpahan dari cerobong asap yang mengepul setiap hari.
Rumah penempaan. Hasebe mengetuk pintunya yang terkunci, buku-buku jari bertemu kayu kuat bergema seperti patukan burung pelatuk. Lama, sebelum akhirnya daun pintu bergetar terbuka menunjukkan seorang pria tua pendek dengan napas mendecit-decit.
"Tuan?" Cengap si pengrajin pedang, paru-paru yang rusak oleh debu besi mendorong udara lewat hidung seperti seruling. Ia membuka pintu lebih lebar, mempersilahkan sang pedang masuk ke bengkelnya yang bersahaja. "Ada keperluan apa malam-malam begini?"
Hasebe memandang berkeliling ruangan yang gelap. "Aku datang menjemput si pedang baru. Dia masih di sini, bukan?"
"Oh. Anak itu?" Nada suara pengrajin pedang itu menurun dalam simpati. "Ya, ya. Masih di sini, Tuan. Saya menyimpannya di kamar atas. Mari saya antar."
Pria bungkuk itu memimpin jalan melintasi ruang, menyelip-nyelip di antara tumpukan kayu bakar, karung-karung bijih besi, dan alat-alat pembuat pedang. Di belakang ruangan, agak tersembunyi di belakang kompor penempaan, adalah sebuah tangga sempit dari kayu. Mereka naik, Hasebe nyaris merangkak agar kepalanya tidak menabrak langit-langit.
Lantai dua adalah sebuah ruangan tanpa penerangan yang terbagi menjadi empat bilik kecil. Masing-masing ruang disekat oleh pagar-pagar kayu dan tertutup korden-korden tipis, kumal oleh jelaga. Si pengrajin pedang membimbing Hasebe menuju bilik balik ujung, darimana, setelah didekati, terdengar suara tangis tersedu-sedu.
"Menangis terus sejak tadi sore, Tuan," bisik si pengrajin, menggelengkan kepalanya yang botak dan keriput. "Aruji-sama, beliau langsung melemparnya ke kompor peleburan begitu tahu dia uchigatana. Dia beruntung terpental di dinding kompor dan terlempar keluar lagi. Saya langsung membawanya ke sini, Tuan. Anak malang. Seandainya dia bukan Heshikiri Hasebe—"
Pria tua itu menghentikan kata-katanya dan langsung tergeragap panik. "Maafkan saya, Tuan. Saya tidak bermaksud…!"
Tapi Hasebe bahkan tidak menggubrisnya. Ia menyibak korden dan melangkah masuk ke ruangan sempit itu. Hanya ada sebuah kasur kempes di atas lantai kayu, di mana seorang Hasebe muda tengah meringkuk memeluk kaki di depan dada. Cahaya bulan dari jendela memberi penerangan remang-remang, cukup untuk menunjukkan kemeja putihnya yang hangus terkoyak api dan lengan kirinya yang menghitam.
"Hei," sapa Hasebe pelan, berlutut di depan adik barunya dan menepuk kepalanya lembut. Bocah itu mengangkat kepala.
"…Kakak…?" Seraknya, matanya yang memerah tergenang airmata. Separuh wajahnya, Hasebe menyadari, juga melepuh oleh luka bakar.
Sekonyong-konyong rasa iba menggigit perutnya. Adiknya ini bernasib lain. Kedua puluh adik sebelumnya tidak punya banyak waktu antara menyaksikan kemarahan Tuan dan kematian. Mereka mungkin pergi dengan rasa kecewa, namun setidaknya kekecewaan itu menghilang bersamaan dengan hilangnya nyawa mereka. Adik terbarunya ini, Hasebe menyadari, harus hidup dengan pengetahuan bahwa Tuan tidak menginginkannya.
Dan kesadaran bahwa mungkin, besok pagi, Tuan akan kembali untuk membunuhnya.
"Sudah, jangan menangis. Itu akan membuat lukamu tambah parah," ujarnya pelan, menarik sapu tangan dari balik sabuk kainnya dan menyeka airmata adiknya dengan hati-hati. Sosok berperawakan remaja itu menarik ingus dan terisak-isak.
"Kakak, Tuan—" ia mulai mengadu, namun Hasebe meletakkan jemari di mulutnya, mendesis lembut.
"Jangan bicara dulu. Nanti pipimu bisa robek."
Uchigatana muda itu tak dapat melakukan apa-apa selain menurut. Ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat, tubuhnya terguncang menahan sengguk di tenggorokan. Sesekali Hasebe mengelus rambut dan bagian pipinya yang tak terluka untuk menunjukkan dukungan, mendesis atau meniup-niup luka bakar itu pelan-pelan jika usapannya terlalu keras sampai adiknya berjengit.
Setelah cukup mengelap wajah adiknya, Hasebe melepas sabuk kainnya untuk membebat lengan sang adik dan membantunya berdiri. Kaki pedang muda itu gemetar hebat, campuran antara kebas setelah menekuk begitu lama dan rasa terguncang setelah selamat dari kematian. Ia mulai menangis lagi, maka Hasebe membungkuk dan menggendongnya di punggung.
"Tidak apa-apa, jangan menangis. Kau akan baik-baik saja" ujar Hasebe, tidak tahu harus mengucap apa selain kebohongan. Adiknya pun nampaknya tahu ia hanya berbasa-basi, terus menelan deguk-deguk tangis dan menempelkan wajah basahnya di leher belakang sang kakak. Hasebe menghela napas. "Untuk malam ini, aku akan menjagamu."
Ia tidak bisa menjanjikan lebih.
Sang pengrajin pedang menghantarkan mereka berdua sampai depan rumah dan Hasebe membungkuk sopan mengucap terima kasih. Pria itu tertawa canggung, menepuk-nepuk lutut Hasebe muda seolah memberinya semangat, dan menghilang di balik pintu rumahnya setelah anggukan selamat malam.
Hasebe berjalan pelan menyusuri jalan kembali ke bangunan utama. Bagian belakang bajunya telah basah oleh ingus, ludah, dan airmata. Satu tangan adiknya yang masih berfungsi melingkar erat-erat di lehernya, seolah menduga Hasebe akan tiba-tiba menjatuhkannya dari gendongan.
"Tuan ingin meleburku, Kak. Kenapa Tuan ingin meleburku?" Bisik sang adik, suaranya tenggelam dalam sedu sedan.
"Jangan menangis."
"Kenapa dia tidak menginginkanku?"
"Sudah. Jangan dipikirkan."
Di kejauhan terdengar suara serigala melolong. Angin membawa sayup-sayup suara tawa entah darimana—mungkin pedang-pedang dan prajurit yang mendapat tugas jaga malam di menara-menara jaga, jauh di pinggiran luar benteng. Adik di punggungnya tak berhenti menangis namun Hasebe telah lama belajar untuk tidak memedulikan banyak hal. Tanpa banyak bicara ia terus melangkah maju.
Malam itu, purnama bersinar begitu terang.
