Shiori tidak terkejut melihat Ayaka berdiri di depan pintu ruangannya, tersenyum sambil melambaikan tangan. Di belakang gadis berambut hitam itu, Arthur hanya mengangguk sopan sambil tersenyum tanpa mengatakan sepatah katapun.
Kedua orang itu memberinya jalan bagi Shiori untuk melangkah keluar dan mengunci pintunya. Barulah gadis berambut jingga itu kembali berbalik, tersenyum pada Ayaka. "Apa aku membuat kalian menunggu?"
"Sama sekali tidak—justru aku berpikir kau sudah siap sebelum kami datang. Dan menurutku itu hal yang bagus."
Untuk suatu alasan, Shiori tidak dapat mengatakan kalau ia memang sudah siap setengah jam sebelum kedatangan Ayaka dan Arthur, dan menghabiskan sisa waktunya untuk merapikan kamarnya yang masih terkesan kosong sebelum bel berbunyi. Karena itu ia agak takut saat membuka pintu, berharap tidak ada debu mikroskopis yang menempel pada gaun putih selutut yang ia kenakan sejak pagi. Sampai sekarang Shiori tidak tahu kedua orang itu memang tidak menyadarinya atau enggan mengatakannya di depan wajahnya.
Jangan salahkan Shiori karena merasa gugup—ini pertama kalinya ia pergi berjalan-jalan dengan orang lain di Tokyo.
Tentu, Shiori memiliki banyak teman di tempat tinggalnya dulu, hanya saja mereka lebih sering menahan Shiori di rumah daripada menuruti permintaan Shiori untuk pergi berkeliling. Parahnya lagi, yang mereka katakan sepanjang hari hanyalah tentang festival yang diadakan di kota atau hal semacam lain yang terdengar menyenangkan bagi Shiori.
Tapi Tokyo? Terpikir untuk melihat-lihat saja tidak. Paling jauh ia hanya berkeliling untuk mencari toko musik yang menjual album Edward Hyde—yang ia lakukan beberapa tahun lalu, seorang diri.
Bahkan walaupun Ayaka dan Arthur berjalan agak jauh di depannya, mengobrol seolah dunia hanya milik mereka berdua, Shiori tetap bersyukur pada tetangga dan teman tetangganya itu. Sepi, memang, namun mengapa juga ia harus mengeluh kalau ia bisa mendapat hal baru sebanyak ini?
Dari depan, Shiori mendengar suara Ayaka yang memanggilnya—ia sendiri tidak percaya melihat jarak di antara mereka sudah sejauh ini, dan mungkin tidak akan sadar telah kehilangan kedua orang itu andai saja gadis berambut hitam itu tidak memanggilnya dan membuatnya mendongak.
Tersenyum pada dirinya sendiri, Shiori mempercepat langkahnya—untuk pertama kalinya, ia memutuskan untuk melupakan semua masalahnya dan menikmati satu hari yang dingin oleh angin musim gugur ini—
.
.
.
.
Title: Winter Wind, Take me home
Chapter 2 – Cold Autumn, don't push me away
Pairing: Jekyll/Gudako, Arthur/Ayaka, other pairings come later
Warning: AU, kinda fast paced, OOC, fate mash-up, Gudako's name: Shiori Emiya
Fate/Grand Order Fanfiction
Nasuverse © TYPE-MOON, Kinoko Nasu
Fate/Grand Order © TYPE-MOON, DELiGHTWORKS, Kinoko Nasu
Fate/Prototype © TYPE-MOON, Hikaru Sakurai
Fate/stay night © TYPE-MOON, Kinoko Nasu
nanashimai tidak mengambil sepeserpun keuntungan dari cerita ini.
.
.
.
.
"—Dan ini adalah tempat favoritku; mereka menjual CD Noisy Obsession lebih cepat dari toko lainnya!" Ayaka menyelesaikan kalimatnya, menghentikan langkahnya di depan sebuah toko sederhana di tengah pertokoan padat Shinjuku. "Hm? Shiori, kau baik-baik saja?"
Shiori tidak sempat mengatakan apapun, karena Arthur—yang sejak tadi terdiam ketika Ayaka memulai tur 'kecil'-nya—menjawab pelan, "Justru kami yang terkejut—kenapa kau tidak lelah sejak tadi, Ayaka? Sudah hampir jam makan siang dan kau bahkan belum berhenti berbicara sejak beberapa jam terakhir."
Manik biru mengerjap, sebelum wajah Ayaka Sajou meledak dalam sapuan merah. Dengan cepat ia mengeluarkan sebuah ponsel dari tas tangannya, memperhatikan benda malang di tangannya seolah benda itu adalah sesuatu yang membahayakan, sebelum memindahkan kembali pandangannya pada laki-laki berambut pirang dengan tatapan yang sama. "Kenapa kau tidak mengatakan apapun?"
"Kau terlihat senang." Adalah jawaban singkat yang diiringi dengan satu angkatan bahu. "Kalau Ayaka senang, kurasa baik-baik saja."
"Bukan itu masalahnya!"
Di samping mereka, Shiori hanya tersenyum pelan—menyadari kalau dirinya terlupakan lagi oleh kedua pasangan di depannya. Benar-benar menarik, kedua orang ini.
Gadis berambut hitam itu mendesah pelan. "Kurasa pembicaraan kita tidak akan berlanjut kalau seperti ini terus." Ujarnya, menoleh pada Shiori dengan senyum masam. "Hari ini aku terlalu bersemangat, sepertinya—setidaknya banyak yang bisa kuceritakan pada kakakku."
"Kakakmu?"
Ayaka mengangkat bahu, kemudian ia menoleh ke arah gedung sebelum berkata, "Bukankah lebih baik kalau kita melihat ke dalam?"
(Ya, Shiori tahu kalau Ayaka mengalihkan pembicaraan—mungkin suatu saat, ia akan mengatakannya pada Shiori nantinya.)
Dengan ragu, Shiori mengangguk pelan. Ia membiarkan Ayaka dan Arthur memasuki gedung di depan mereka. Ketika melangkah ke dalam, nafasnya seolah tertahan di tenggorokannya.
"Hari ini album baru Noisy Obsession baru saja masuk!"
Shiori mendengar seorang laki-laki di belakangnya, diikuti Ayaka yang menyapa seseorang—namun langkahnya sudah membimbingnya mendekati rak yang penuh dengan album bersampul hitam, tepat di bawah sebuah poster raksasa yang menggantung dari atap.
Pandangannya terpaku pada sosok laki-laki berambut pirang di tengah. Orang-orang di sekitarnya sering berkata kalau laki-laki yang menjadi sosok afeksinya itu memiliki senyum mengerikan, namun Shiori tidak dapat menghentikan degup jantungnya yang semakin cepat melihat senyum itu. Tanpa sadar, sebuah desah keluar dari bibirnya.
Tangannya meraih headset yang menggantung di sisi rak, menyematkannya di telinganya tanpa menghabiskan banyak waktu. Ia membiarkan musik mengalir ke dalam telinganya, kakinya mengetuk di lantai mengikuti dentum nada yang mengalun.
Orang-orang mengatakan kalau musik Noisy Obsession tidak sesuai untuknya—Shiori tidak akan mengatakan seperti itu.
Entah sudah berapa lama ia berada di tempat itu—samar-samar ia mengingat ini adalah musik yang kelima—ketika seseorang menepuk bahunya. Melihat seorang laki-laki berambut cokelat masih tersenyum padanya, buru-buru Shiori melepas headset di telinganya dan tersenyum gugup.
Laki-laki itu—yang kemungkinan adalah penjaga toko, melihat apron biru cerah yang ia kenakan—berkata dengan nada cerah, "Aku tidak bermaksud mengganggumu," ia menoleh pada pintu toko, dan mengikuti pandangannya, barulah Shiori menyadari kalau Arthur dan Ayaka tidak ada di toko lagi, "tapi barusan Ayaka mengatakan kalau ia harus pergi ke suatu tempat, dan ia mengatakan padaku untuk memberikanmu nomor ponselnya—berjaga-jaga kalau kau membutuhkan sesuatu."
Wajah Shiori berubah merah, buru-buru ia mengeluarkan ponselnya dari tas tangannya, dan mencatat nomor yang laki-laki berambut cokelat itu sebutkan. "Sepertinya anda mengenal Ayaka... erm..."
"Mereka memanggilku Feli—namaku terlalu menyulitkan untuk orang Jepang." Ah, bukan orang Jepang—pantas saja ia merasakan sesuatu yang aneh dari aksen berbicara orang itu. "Tentu saja! Aku juga mengenalmu—Shiori Emiya dari lantai tiga, bukan? Aku tinggal di lantai dua!"
"A-Ah—" Senyumnya berubah semakin canggung. "Aku belum sempat berkenalan dengan orang-orang di lantai dua."
Laki-laki itu—Feli, kalau tidak salah?—menggeleng pelan sambil tertawa. "Tidak masalah. Lagipula, lantai dua memang tidak seramai lantai tiga atau lantai satu—Lud lebih memilih belajar di perpustakaan, dan kakakku lebih senang menyendiri di kamar sementara aku bekerja!"
Tidak mengetahui jawaban apa yang harus ia berikan, Shiori hanya mengangguk ragu.
"Ah, benar juga!" Feli menepuk tangannya sekali, seolah baru menyadari sesuatu yang penting. "Shiori—tidak apa-apa kupanggil begitu, kan?—ingin berkeliling, bukan? Aku ingin sekali menemanimu, tapi—"
Buru-buru Shiori mengangkat tangannya, "Tidak apa-apa, kurasa aku akan berkeliling sendiri saja."
Kening laki-laki itu berkerut samar. "Kau yakin akan baik-baik saja?"
Melihat Shiori mengangguk, senyum Feli kembali merekah, "Bagaimana kalau aku memberimu nomorku juga? Kurasa aku bisa berada lebih dekat daripada Ayaka dan Arthur—dan aku bahkan tidak tahu dimana mereka berada!"
"Baiklah, kurasa."
Setelah bertukar nomor, memastikan kalau nomor yang ada di ponsel mereka benar, laki-laki berambut cokelat itu tersenyum lagi. "Kalau begitu, berhati-hatilah di jalan, Shiori!"
Shiori mengangguk pelan, "Sebelum itu, bolehkah aku membeli ini dulu?"
Barulah gadis berambut jingga itu berjalan pergi dari toko musik itu dengan sebuah kantung di tangannya. Feli bersikeras kalau Shiori tidak perlu membayar (untuk seorang teman baru, katanya), dan akhirnya dengan berat hati, Shiori tidak mengeluarkan dompetnya dan langsung melangkah pergi setelahnya.
Meski ia mengatakan akan pergi sendiri sebelumnya, ia sendiri tidak tahu kemana ia harus pergi.
Setelah pertemuan singkat kemarin—yang akhirnya tidak menghasilkan apapun juga—Shiori kehilangan semangat untuk mencari orang itu.
Pada akhirnya ia memutuskan untuk berhenti di sebuah kafe di pinggir jalan. Meski agak kecewa karena tidak mendapatkan tempat bagus di dalam ruangan, sepertinya ia sendiri cukup beruntung karena ada kursi yang kosong saat itu. Sepertinya restoran yang ia pilih secara asal itu cukup bagus juga.
Shiori berterima kasih pada pelayan yang menerima pesanannya, bahkan tidak memperhatikan ketika pelayan itu pergi untuk mengambil pesanan yang lain. Tatapannya sudah terfokus sepenuhnya pada jalanan Kota Tokyo yang ramai, berpikir pada dirinya sendiri dimana ia pernah melihat pemandangan ini sebelumnya.
Lalu ia mendongak, mendapati dirinya sendiri terpana oleh nostalgia ketika mendapati sebuah televisi raksasa—orang-orang kota menyebutnya apa, ya?—di sebuah gedung, yang kini menampakkan berbagai iklan dari berbagai produk. Tentu saja—barulah Shiori menyadari kalau ia tidak memilih tempat ini secara acak.
Kakinya memang sengaja membawanya ke tempat ini.
Alasannya sederhana; tempat ini adalah pertama kalinya ia mendengar lagu Edward Hyde di musim panas dua tahun lalu.
Shiori Emiya mengingat jelas hawa musim panas yang menusuk kulitnya, serta bunyi serangga musim panas yang mengisi telinganya seolah menertawainya. Rasa kecewa dan frustrasi mengisi setiap sudut batinnya juga hari itu—mungkin lebih dari apa yang ia rasakan sebelumnya.
Ya. Shiori seolah dapat melihat dirinya dua tahun lalu; berdiri seorang diri di tengah jalan, wajahnya yang seolah tengah menahan tangis. Ia seolah melihat dengan jelas laki-laki yang berjalan menjauh, bahkan tidak peduli dengan gadis yang hendak menangis di belakangnya.
Kemudian televisi itu berbunyi dengan nyaring, bahkan hingga orang-orang di sekitarnya ikut mendongak, terfokus pada acara yang akan ditampilkan dalam televisi itu. Andai saja Shiori memperhatikan, mungkin ia dapat melihat orang itu dan mengejarnya—menangkapnya saja mungkin bisa. Namun manik merah yang tampil beberapa detik selanjutnya telah sukses membuatnya tidak dapat beralih. Dan ketika laki-laki pirang itu membuka mulutnya dan bernyanyi sepenuh hatinya—Shiori Emiya tahu kalau ia tidak dapat lagi diselamatkan dari Edward Hyde.
Dapat dikatakan, Edward Hyde adalah penyelamat—sekaligus cinta pertama Shiori Emiya.
Gadis berambut pirang itu bahkan tidak menyadari seseorang telah menempati kursi di depannya, terlalu sibuk menanti sosok yang dinanti kembali muncul di layar yang besar itu. Keningnya tertumpu di telapak tangannya, mendengungkan sebuah lagu yang samar-samar ia ingat sebagai salah satu lagu yang ia dengarkan sebelumnya, namun tidak terlalu mengingat apa judulnya. Mungkin saja Shiori tidak akan menyadari pelayan yang membawakannya makanan, andai saja suara yang cukup familiar tidak menariknya kembali pada kenyataan.
"Makananmu sudah datang, kau tahu?"
Dengan cepat Shiori menoleh, mendapati sosok berambut pirang duduk di hadapannya, tersenyum ramah. Terpikir oleh Shiori untuk menanyakan laki-laki yang berbicara dengannya seolah mereka sudah saling mengenal, namun untuk suatu alasan, laki-laki itu sendiri memang terlihat familiar; rambut pirang yang disisir rapi, mata hijau di balik lensa bening yang bertangkai hitam—barulah ia teringat sesuatu.
Ia sendiri mendengar suaranya penuh dengan keraguan saat berkata, "Tuan... Jekyll?"
Laki-laki berambut pirang itu tidak mendongak dari buku menu di tangannya. "Ya?"
Shiori mengeluarkan nafas lega, setidaknya ia tidak salah orang. "Maaf, sekilas aku tidak mengenalmu." Melihat tatapan bingung yang diberikan padanya, buru-buru Shiori menambahkan, "Anda terlihat berbeda dari semalam!"
Oh, pilihan jawaban yang bagus, Shiori Emiya.
Jangan salahkan Shiori. Kalau semalam laki-laki itu terlihat seperti Edward Hyde—seorang penyanyi rock terkenal, hari ini ia benar-benar terlihat seperti orang lain; jaket berwarna merah di atas sweater cokelat serta celana jeans biru—bahkan Shiori sempat merasa ragu kalau ini adalah orang yang sama yang bersikap kasar padanya semalam.
Setidaknya laki-laki itu tidak terlihat marah seperti semalam. Ia menyerahkan menu pada pelayan (Shiori tidak menyadari keberadaannya sebelumnya, maaf saja) dan setelah memberi tahu pesanannya, kembali menoleh pada Shiori. "Aku baru pulang dari pekerjaanku semalam, dan aku mengingat mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan padamu." Senyumnya agak jatuh, dan Shiori langsung merasa tidak enak melihatnya. "Maafkan aku."
"T-Tidak, itu bukan salahmu!" Ia menjawab dengan cepat. "Maksudku, salahku juga karena menduga kalau kau... erm.. Edward Hyde."
Henry Jekyll tertawa pelan—lebih kosong, sepertinya—sebelum berkata, "Tidak—seharusnya aku tidak masalah dengan hal itu. Aku sudah biasa."
Shiori ingin bertanya maksud perkataan laki-laki itu, namun akhirnya hanya bisa mengangguk pelan. Mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan Edward Hyde sepertinya tidak akan berakhir bagus untuk Shiori—yang baru saja bisa berbaikan dengan Henry Jekyll.
"Jadi, erm," Alihkan pembicaraan, Shiori! "Tuan Jekyll tidak terlihat seperti orang Jepang."
"Memang bukan." Laki-laki itu terlihat lega pembicaraan mengenai Edward Hyde berhenti di sana. "Aku datang dari Inggris. Karena budaya Jepang terlihat menarik, aku memutuskan untuk datang ke sini beberapa tahun lalu—dua atau tiga tahun, sepertinya."
Melihat Shiori mengangguk, laki-laki itu melanjutkan, "Aku memiliki seorang teman di sini—teman pena, bisa kau katakan begitu. Dia mengajariku Bahasa Jepang dan memberiku tempat tinggal yang cukup murah. Mungkin aku akan mengenalkanmu padanya lain kali."
Bersyukur makanan yang dipesan Jekyll datang setelahnya, karena Shiori benar-benar sudah kehabisan topik pembicaraan setelah itu.
Mereka tidak mengatakan apapun selagi menghabiskan makanan, sibuk dengan pikiran sendiri. Terkadang Shiori mengangkat pandangannya dari roti isi yang ia pesan, memandangi sosok Henry Jekyll yang tengah memandangi keramaian. Mulutnya bergerak kala mengunyah roti isi miliknya sendiri.
Tentu saja Shiori menyadari keberadaan perempuan yang memandangi mereka—laki-laki di depannya, lebih spesifik lagi. Meski yang dipandangi terlihat tidak sadar dan terus mengunyah tanpa peduli, sibuk dengan pikirannya sendiri.
Barulah ketika Henry Jekyll menoleh padanya, Shiori kembali terfokus pada makanannya.
Shiori bersyukur dalam hati ketika makanannya telah menghilang sepenuhnya dari pandangannya. Mendongak, ia melihat Henry Jekyll berdiri dari tempat duduknya, lalu menoleh ke arah Shiori dan bertanya, "Apa kau ada acara setelah ini?"
"Tidak. Kurasa tidak."
"Bagaimana kalau aku membawamu berjalan-jalan di Kota Tokyo?" Laki-laki berambut pirang itu memiringkan kepalanya sedikit. "Dan lagi, mungkin Nona Sajou sudah melakukannya, ya?" Melihat senyum meminta maaf dari Shiori, laki-laki itu menambahkan, "Kalau begitu, maukah kau menemaniku berjalan-jalan saja? Aku tidak ingin kembali ke apartemen sekarang."
Dulu, seseorang pernah mengatakan kalau ia tidak seharusnya mengikuti seorang laki-laki yang baru ia kenal. Dan lagi, orang yang sama kini meninggalkannya sendiri. Apa gunanya mengikuti kata-kata dari orang yang bahkan tidak dapat menepati janji, bukan?
Setidaknya, Henry Jekyll tidak seperti yang awalnya ia duga. Bisa dikatakan, dari sedikit laki-laki yang pernah Shiori temui, ia adalah orang yang paling bersikap sopan padanya. Shiori tahu jelas seperti apa orang yang berpura-pura baik—terutama laki-laki—padanya, dan sikap Henry Jekyll jauh daripada itu.
Pembicaraan mereka mengalir dengan lancar, mulai dari kehidupan Shiori di tempat asalnya—yang, tentu saja, tidak ia ceritakan dengan mendetil—hingga kehidupan Henry Jekyll sebelum ia datang ke Jepang. Laki-laki itu tahu kapan untuk tidak menekan pembicaraan lebih jauh, dan Shiori menjauhi topik yang terlihat tidak menyenangkan bagi laki-laki itu. Pembicaraan yang paling dalam di antara mereka akhirnya mengenai tempat tinggal mereka sekarang.
"Kau bertemu dengan Feli?" Laki-laki itu tidak terlihat terkejut sama sekali. "Sekarang dia bekerja di toko itu, ya? Pantas aku tidak pernah bertemu dengan laki-laki itu." Ia memiringkan kepalanya—kebiasaan yang Shiori sadari ketika laki-laki itu berpikir. "Aku hanya tidak mengerti kenapa ia harus bekerja. Kakaknya seorang pelukis terkenal, bahkan ketika aku masih berada di Inggris."
"Kami hanya bertemu sebentar." Shiori mengangguk. "Dia terlihat seperti orang baik."
"Dia memang orang yang baik, hanya terlalu aneh, menurutku." Jekyll mengangguk. "Aku tidak bisa mengatakan yang sama tentang Lovino—kakak Feli, maksudku. Aku tidak pernah bertemu dengannya. Ludwig mengatakan kalau ia tidak sebaik Feliciano—sayangnya, aku tidak dapat mengatakan seperti itu tentang orang yang belum kutemui."
Perjalanan mereka kembali dilanjutkan dalam keheningan. Hingga melihat suasana di sekitar mereka yang semakin gelap, barulah keduanya sepakat untuk kembali ke apartemen.
Beruntung mereka mendapatkan bis terakhir yang sampai hingga ke halte dekat apartemen mereka. Bis terakhir itu begitu sepi, selain keberadaan supir dan mereka yang duduk di sudut bis. Jekyll hampir tidak mengatakan apapun, dan Shiori juga tidak berniat membuka pembicaraan.
Hingga tiba-tiba, tanpa menoleh padanya, Jekyll bertanya—mungkin lebih tepatnya, menggumam pada dirinya sendiri, namun cukup kencang hingga Shiori dapat mendengarnya, "Kenapa kau menyukai Edward Hyde?"
Shiori menoleh pada laki-laki berambut pirang di sampingnya. Ia memandangi pemandangan yang berlalu dari jendela, tertimpa cahaya jingga dari matahari yang terbenam. Tidak ada emosi dalam manik hijau itu, seolah ia tengah memandangi sesuatu yang jauh. Sekilas ia teringat akan sesuatu dari ekspresi itu—sesuatu yang tidak dapat ia sentuh dalam kepalanya.
Namun akhirnya, ia menjawab juga dengan sepenuh hati. "Edward Hyde telah menyelamatkanku."
Laki-laki itu menoleh padanya. Manik hijau masih tanpa ekspresi, namun satu alis yang terangkat seolah memintanya untuk melanjutkan.
Dan Shiori dengan senang hati melakukannya, "Andai saja saat itu aku tidak mendengar suaranya, mungkin saja aku tidak akan kembali ke tempat ini." Sebuah senyum muncul di wajahnya. "Mungkin aku sudah menyerah mencari sesuatu yang penting bagiku. Mungkin aku tidak akan menemukan kebebasan untukku sendiri."
Baginya, Edward Hyde adalah seorang pahlawan.
Tidak peduli apapun yang orang lain katakan.
Tidak peduli walaupun laki-laki di sebelahnya akan menertawakannya, mengatakan kalau Edward Hyde tidak seperti apa yang ia duga.
Namun laki-laki itu tidak mengatakannya. Henry Jekyll hanya mengulang kalimatnya dengan pelan, seolah tengah berpikir. Pandangannya tidak lagi bertemu dengan Shiori Emiya.
Bahkan hingga mereka berhenti di halte dan berjalan berdampingan menuju apartemen, Henry Jekyll yang ada di sebelahnya terasa begitu jauh. Seolah Jekyll yang baru saja mengantar Shiori menghilang begitu saja, dan mereka kembali menjadi orang yang tidak saling kenal.
Shiori tidak menyukainya.
Kenapa setelah ia mengetahui banyak hal baru tentang laki-laki itu, laki-laki itu justru menjauh kembali? Apakah Shiori mengatakan sesuatu yang salah?
Apapun itu, Shiori tidak menyukainya sama sekali.
Hingga mereka sampai ke depan pintu masing-masing, Jekyll hanya menggumamkan selamat tinggal. Ketika laki-laki itu hendak membuka pintu, barulah Shiori memberanikan diri untuk memanggil nama laki-laki itu, membuatnya mendongak ke arahnya.
Ya, Shiori Emiya tidak menyukai tatapan menjauh dari Henry Jekyll sekarang ini.
"Minggu ini, apakah kita jadi pergi ke kafe itu?"
Manik hijau mengerjap, sebelum sebuah senyum kecil muncul di wajahnya. "Tentu saja. Kau bisa mengajak—"
"Maksudku," Ia akan meminta maaf pada Jekyll nantinya, untuk sekarang—"Hanya kita berdua. Kau... kau sudah berjanji akan menemuiku di sana, bukan?"
Senyum laki-laki berambut pirang itu kembali jatuh. "Apakah baik-baik saja, kalau denganku?"
"Tentu saja!" Gadis itu mengangguk cepat. "Kau—Kau tidak akan mengingkari janjimu, bukan?"
(Jangan katakan kalau kau orang seperti itu—tolong, kau bukan orang seperti itu, kan? Kau—kau tidak seperti orang itu, kan? Kau tidak akan mengkhianati Shiori Emiya, bukan?)
"Baiklah."
Manik jingga mengerjap, sebelum menyadari kalau ia tengah menatap langsung pada manik hijau yang menatapnya balik.
"Hari Minggu, jam sepuluh nanti." Senyum laki-laki itu mengembang. "Aku akan menjemputmu, jadi tunggulah aku, oke?"
Menarik nafas dalam-dalam, senyum Shiori dapat mengembang lebih mudah dari sebelumnya. Jantungnya masih enggan untuk berubah tenang, bahkan setelah ia mengangguk cepat-cepat. "Tentu! Aku akan menunggu!"
Sesaat Jekyll terdiam, begitu cepat hingga ketika Shiori hendak menanyakan sesuatu, laki-laki itu sudah menggeleng dengan senyumnya. Laki-laki berambut pirang itu berjalan mendekatinya, hingga mereka berdiri berhadapan—Shiori tidak menyadari betapa dekatnya mereka hingga merasakan kedua tangan yang menggenggam bahunya dan nafas di sisi wajahnya dan, Tuhan, wangi laki-laki ini—
"Tunggu aku, oke?"
Bibir yang menempel di pipinya bergerak seperti itu.
Sisi yang disentuh oleh bibir laki-laki itu masih terasa panas, bahkan hingga Henry Jekyll telah berjalan pergi darinya dan memasuki kamarnya sendiri.
Di depan pintu kamarnya, setelah beberapa menit berlalu, barulah Shiori Emiya menutup wajahnya yang memerah dengan kedua tangan, berharap agar ia pekikannya tidak keluar di lorong lantai tiga yang sepi.
(Dan, ya, titik yang hangat di wajahnya itu masih mengalirkan panas ke seluruh wajahnya seperti kompor yang menyala.)
.
to be continued.
.
.
(19 November 2016)
Mungkin ada yang sadar kalau chapter ini sempat saya hapus? Yap, ini saya tulis ulang (walaupun akhirnya nggak banyak yang berubah), but shit, saya mulai berpindah hati pada Edmond Dantes. Kutuklah kokoro saya yang nggak kuat baca monte cristo dan habis nonton gankutsuou. Hiks. Akhirnya saya kuat lanjut karena Jekyll saya udah level 100 dan bond level lagi menuju level 8.
Mungkin yang ingat, saya lupa bilang kalau fanfic ini sebenarnya masih satu universe dengan fic saya yang lain; satu dari fandom Elsword (masih on-going, yang tertarik baca bisa cek Forged Star /promosi) dan fanfic Hetalia yang mungkin nggak akan saya publish. Maaf saya jahat, udah sering denger kok. :(
Intinya,
Saya masih lanjut sama cerita ini, walaupun kayaknya bakalan macet sampai pantura, because I'm such a lazy lil' shit.
Anyway, thanks for reading and I don't own fate series (and others!)
