Cactus


Wonwoo ingin bertanya apakah kau lelah? Atau maukah kau tidur bersama denganku? Kepada Mingyu yang tengah menuntunnya untuk berbaring di tempat tidur. Namun ia menemukan dirinya tidak mampu mengungkapkan kata-kata itu dan berakhir dengan memunggungi Mingyu yang sibuk menyibak salimut untuknya.

Jika di pikir-pikir, rasanya sudah lama sekali dari terakhir mereka tidur bersama dan saling bercerita hal lucu sebagai pengantar tidur. Wonwoo rindu masa-masa itu. Masa dimana tidak ada kecanggungan diantara mereka dan Wonwoo bisa bangga menyebut Mingyu adiknya di hadapan banyak orang. Tapi, apakah Mingyu juga merasakan hal yang sama? Tidakkah pemuda itu sadar jika kehidupan mereka sekarang justru membuat mereka semakin jauh satu sama lain? Kenapa Mingyu harus kembali menjadi pelayannya setelah bertahun-tahun mereka membangun hubungan baik sebagai sepasang saudara, dan sepasang sahabat baik yang saling melengkapi.

Merasakan itu samua membuat dadanya sesak dan ingin menangis. Mungkin saja jika keadaannya tidak seperti ini, ia masih bisa melihat Mingyu yang dulu. Mereka akan berangkat kuliah bersama, dan akan saling menunggu saat salah satunya belum keluar kelas seperti sebelumnya.

Ia rindu. Sangat rindu.

"Mingyu." Panggilnya.

Mingyu berhenti diambang pintu, berbalik menatap Wonwoo, dan tersenyum dengan kelelahan yang jelas nampak diwajahnya. "Hyung butuh sesuatu?" tanyanya.

Wonwoo hanya menggeleng. Aku rindu. Kau semakin jauh, Mingyu.

Lagi, itupun tidak mampu Wonwoo ucapkan. Ia memilih untuk kembali memunggungi Mingyu pada akhirnya. Mengigit bibir bawahnya dengan kuat untuk menahan rasa melankolis yang tengah dirasakannya. Tidak lama ia mendengar suara pintu tertutup, ia beprikir Mingyu telah keluar dari kamarnya dan ia mulai menangis kekanakkan dengan isakkan-isakkan kecil yang lolos dari bibir tipisnya. Ulu hatinya terasa sakit setiap kali memikirkan masa lalu dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi jika takdir tidak membuatnya dalam keadaan seperti ini. Rasa rindunya kepada Mingyu juga membuatnya sesak.

Dan menyalahkan dirinya adalah hal terbaik yang bisa ia lakukan untuk semua yang telah terjadi.

Bahkan untuk ketidakberdayaan Mingyu meninggalkannya.


Bagian 1


Mingyu di pecat. Dia pulang malam itu dengan wajah lelah seperti biasa. Dia tidak mengatakan apapun, dia hanya mengajaknya membuat rencana liburan dengan alasan melihatnya yang akhir-akhir ini terlihat bosan dan suka melamun.

Wonwoo diam saja. Dia menangkap gelagat aneh dari Mingyu yang tiba-tiba mengajaknya liburan. Ini bahkan terlalu telat untuk sebuah Babymoon. Tidak ingin terlalu banyak memberi respon berarti untuk Mingyu, Wonwoo berjalan ke kamar mandi untuk mengatur suhu air agar Mingyu bisa mandi dan langsung beristirahat. Lagi-lagi Mingyu hendak menahannya ketika menangkap Wonwoo menyiapkan semua itu. Tapi Wonwoo juga tidak mengerti dengan dirinya sendiri saat ia justru malah merajuk dan menunjukkan wajah kesal dengan bibir mengerucut menatap Mingyu.

Ia mendengar bagaimana Mingyu tertawa di belakangnya dan menyusulnya sambil mengusak surai coklatnya yang mulai terlihat panjang. Kemudian dia berkomentar tentang rambutnya dan menanyakannnya apakah ingin pergi ke salon untuk memotongnya? Tapi Wonwoo menolak dengan alasan ia malas berjalan keluar rumah karena kondisinya yang sekarang mudah sekali lelah dan pegal.

Saat Mingyu mandi, Wonwoo menggunakan kesempatan itu untuk mengecek isi dalam tas Mingyu. Benar saja ia mendapati surat pemberhentian. Mingyu bukanlah pegawai tetap sehingga dia terkena pemutusan kontrak kerja disaat perusahaan tempatnya bekerja sedang mengalami kesulitan dan Mingyu adalah salah stau karyawan yang terkena dampak itu.

Segera saja Wonwoo membereskan semuanya kembali. Bersikap seolah tidak tahu dan memilih untuk membuat sereal di dapur sendirian sebelum Mingyu kembali keruang TV setelah selesai mandi.

"Hyung lapar?" tanyanya ketika melihat Wonwoo makan sereal semangkuk penuh sendiri di meja dapur. Wonwoo hanya mengangguk singkat dan Mingyu segera memposisikan diri membuka kulkas untuk mencari bahan yang bisa dia masak untuk makan malam.

"Kita makan sereal saja. Aku sedang tidak ingin makan apapun." Selah Wonwoo.

Mingyu menatapnya tidak suka dan mulai menasehatinya tentang nutrisi serta kondisi tubuh Wonwoo yang sedang butuh banyak asupan untuk bayi dalam kandungannya. Wonwoo juga tidak ingin kalah. Dia bersikukuh sudah cukup dengan sereal dan menyuruh Mingyu memasak untuk dirinya sendiri saja jika tidak ingin makan sereal bersamanya, hingga akhirnya Mingyu menyerah dan mengalah mengikuti keinginan Wonwoo dengan memakan sereal bersama sebagai makan malam dengan ditemani acara komedi di televisi.

Selama makan malam, mereka sibuk dengan pikiran maisng-masing. Hanya Wonwoo yang terlihat lahap. Acara komedi yang sedang di tayangkan juga terlihat seolah tidak berpengaruh terhadap keduanya. Mingyu yang sibuk memikirkan cara menjelaskan kepada Wonwoo tentang pemberhentiannya, sedangkan Wonwoo sibuk memikirkan perasaan Mingyu yang jadi semakin terbebani dengan ini semua.

Setelahnya Wonwoo memutuskan untuk pergi menyikat gigi dengan Mingyu yang menunggunya dengan sabar pada ambang pintu kamar mandi. Dia juga memangku handu di tangannya untuk membantu Wonwoo yang hendak mencuci wajahnya. Mingyu juga dengan telaten merapikan poni Wonwoo yang menutupi wajah dengan sebuah jepitan lucu berbentuk rubah.

Wonwoo bertanya melalui tatapannya melihat jepitan kekanakkan itu dengan mulut penuh pasta gigi. Mingyu hanya tersenyum dan menjelaskan jika ia membelinya saat pulang kerja tadi. Wonwoo jadi merasa geli dan tertawa sendiri melihat pantulannya di cermin dengan jepitan itu yang terlihat seperti wanita.

Sadar atau tidak, diam-diam mereka sama-sama merasakan ketenangan juga kehgangatan lewat interaksi kecil seperti ini. Mingyu yang menyukai senyum Wonwoo, merasa bebannya hilang saat melihat Tuan Mudanya itu tersenyum. Begitupun dengan Wonwoo yang merasa akan sulit bagi dirinya jika memang saat ini Mingyu tidak bersamanya.

"Terimakasih, Hyung."

Wonwoo menatap Mingyu yang tersenyum kepadanya dari pantulan cermin di kamar mandi. Meski Wonwoo tidak mengerti untuk apa Mingyu mengucapkannya, Wonwoo hanya tersenyum merespon ucapan tulus itu dan membalas perkataannya dalam diam.

Aku yang seharusnya berkata seperti itu.


...


Pagi hari, Wonwoo tidak menemukan flat kosong dan meja makan berisikan penuh makanan dengan note seperti biasa. Ada Mingyu disana yang tengah membersihkan rumah dan carpet dengan vacum. Dia segera menghentikan kegiatannya ketika melihat Wonwoo baru saja keluar kamar dan langsung mendudukkan Wonwoo pada sofa didepan televisi.

"Kau ingin minum?" tanyanya.

Wonwoo hanya menggeleng seolah kesadarannya belum seratus persen. Dia memandang Mingyu dalam dan mulai berkutat dengan pikirannya sebelum Mingyu menyadarkannya dengan sebuah tepukkan hangat di kepala.

Mingyu mengira jika dirinya masih mengantuk.

"Aku sudah menyiapkan air untuk mandi. Hyung mandilah dahulu, kemudian kita sarapan dan setelah itu kita bicara sebentar." Ujar Mingyu dan Wonwoo hanya mengangguk sambil berjalan kekamar mandi setelah Mingyu kembali sibuk dengan vacum-nya.

Setelah selesai mandi, seperti biasa Mingyu telah menyiapkan semua keperluannya diatas tempat tidur. Dan kembali keluar kamar disaat Mingyu juga sudah terlihat segar dan menunggunya di meja makan untuk sarapan.

Selama sarapan, Mingyu terlihat canggung dan bingung dengan mengeluarkan banyak pertanyaan tidak penting seperti, haruskah kita mengganti shampoo untu mendapatkan wangi yang berbeda? Atau Hyung, tidakkah perutmu terlalu besar untuk ukuran usia 5 bulan? Atau apakah Hyung ingin membeli sereal dengan jenis merek yang berbeda? Sedangkan Wonwoo hanya melirik counter dapur yang berisi jejeran sereal dari berbagai jenis merek yang baru Mingyu beli minggu lalu.

Wonwoo tahu jika Mingyu hanya bingung untuk memulai pembicaraan tentang pemecatannya, dan Wonwoo coba memaklumi itu dengan merespon segala pertanyaan tidak penting yang Mingyu lontarkan. Hingga tiba saat dimana Wonwoo merasa kecemasan Mingyu sudah melampaui batas dan Wonwoo menarik tangan Mingyu untuk memfokuskan perhatian pemuda itu.

"Katakan." Pintanya.

Helaan nafas berat terdengar dari Mingyu. Dia tidak melepas genggaman tangan Wonwoo, tapi juga tidak membalas genggaman tangan itu. "Aku di pecat." Ucapnya. Dia menjeda hanya untuk melihat respon Wonwoo, namun Wonwoo tidak memberikan respon berarti yang justru membuat Mingyu bertanya-tanya.

Beberapa saat mereka hanya terdiam. Masing-masing seolah memberikan waktu untuk berpikir sebelum membicarakannya kembali. Kini justru mereka terlihat seperti sepasang suami istri yang tengah memikirkan permasalahan ekonomi dalam rumah tangga. Wonwoo adalah yang pertama kembali membuka suara saat mereka terdiam 16 menit lamanya. Ia memulai dengan kata maaf dan berkata jika telah mengetahui hal ini dari surat pemutusan kontrak yang ada di dalam tas Mingyu. Tentu saja Mingyu cukup terkejut mendengarnya, tapi ia memaklumi hal itu ketika mendengar alasan Wonwoo yang merasa Mingyu menyembunyikan sesuatu saat pulang bekerja.

"Aku rasa mungkin ini saatnya kau beristirahat. Kau terlalu bekerja keras beberapa bulan terakhir. Jangan terlalu memikirkan banyak hal. Aku rasa tabungan kita juga sudah lebih dari cukup untuk biaya persalinan ku. Kita juga masih mempunyai asuransi yang bisa meringankan kita." Wonwoo telah memikirkan semua ini sejak semalam. Dan ia mengerti kecemasan Mingyu tanpa ingin membuat pemuda itu lebih terbebani lagi. Ia juga cukup senang saat Mingyu memutuskan untuk memberitahukan semuanya dan berbagi pemikiran dnegannya seperti ini. Jujur saja, ia sempat beprikir jika Mingyu akan merahasiakan ini semua dan berakhir berbohong pergi keluar untuk bekerja namun sebenarnya mencari pekerjaan baru.

Setelahnya Wonwoo menolak untuk kembali bicara banyak. Ia merasa malu tanpa alasan yang jelas ketika Mingyu hanya diam dan menatapnya begitu lekat. Ia hanya berharap jika Mingyu tidak memperhatikan perubahan warna pada wajahnya dan memilih cepat-cepat pergi dari sana dengan alasan ingin menonton TV. Wonwoo bahkan snegaja menggerutu soal cookies coklatnya yang telah habis dan menuntut Mingyu untuk membuatkannya lagi. Sementara Mingyu hanya tersenyum simpul melihat bagaimana Wonwoo yang salah tingkah terlihat begitu manis di matanya.

Alasan aku merasa senang dari semua ini adalah, karena aku akan kembali bisa melihatmu lebih sering disisiku seperti sebelumnya. Aku merindukanmu, Mingyu.


To Be Continue


Wonwoo hamil anak siapa? Saya membebaskan kalian untuk berspekulasi di setiap bagiannya untuk menebak ayah siapa dari anak Wonwoo.

Kenapa Mingyu baik banget? Dari prologue sudah saya jelaskan akan status Mingyu. Di bgaian ini juga seperti itu. Selain karena tanggung jawab, saya rasa kalian bisa menafsirkannya sendiri

Mingyu suka atau untuk balas budi? Mungkin keduanya.

Note : terimakasi. Sejujurnya saya sennag masih di respon dengan baik saat kembali ke ffn. Pegang janji saya untuk tidak memindahkan ini ke wattpad. Hehehe :D


Terimakasih!