Cactus


Mingyu tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya. Benar-benar tidak.

Seminggu setelah pemberhentiannya, dia tidak benar-benar tinggal di rumah. Dia pergi disaat pekerjaan rumah telah selesai, dan kembali sebelum makan malam. Wonwoo hanya memperhatikan semua itu dalam diamnya. Lagi, tidakkah Mingyu sadar beban yang dirasakannya hanya akan membawa efek kurang baik untuk Wonwoo dan kandungannya? Pembicaraan mereka malam itu terasa percuma dan sia-sia.

Ingin rasanya Wonwoo berteriak dan memintanya untuk menghentikan semua ini. Berhenti untuk mengatakan baik-baik saja di saat sikapnya sendiri menunjukkan beban dan tekanan yang berat. Tapi, apa yang bisa Wonwoo lakukan selain diam dan memperhatikan? Ini bahkan jauh lebih buruk dari saat Mingyu masih bekerja.

Mingyu semakin jauh, dan semakin sulit di jangkau.

Wonwoo ingin Mingyu terbuka kepadanya. Menunjukkan perasaannya dengan gamblang seperti dahulu. Katakan lelah jika memang merasa lelah, dan katakan menyerah jika memang dia sudah tidak sanggup menanggung semua ini. Bukannya tersenyum dengan wajah kacau, dan tertidur diatas tumpukkan kertas berisikan surat lamaran pekerjaan.

Menyedihkan.

"Hyung belum tidur?" dia bertanya.

Belum. Aku menunggumu. Wonwoo mengeratkan sweaternya. Berjalan mendahului Mingyu masuk kedalam, dan memasuki dapur dengan suara bising dari mesin pembuat kopi.

Mesin tua yang berisik dan meminta untuk dibuang, di gantikan dengan yang baru.

"Jangan terlalu sering minum kopi, Hyung." Dia memperingatkannya.

Jaraknya sangat dekat. Berdiri tepat di belakangnya dengan bau matahari yang menyengat. Wonwoo diam ditengah aktifitasnya. Berpikir, salahkah jika ia harus marah sekarang? Bau matahari yang menguar, berapa lama dia berdiri di bawah sinar matahari untuk mencari sebuah pekerjaan? Lelah, letih, dan putus asa. Dia merasakan dan memendam semua itu sendiri tanpa berniat untuk berbagi dengannya.

Mingyu, tidakkah kau ingin berbagi denganku? Seperti dulu. Mesin pembuat kopi berhenti, ia menuangkannya kedalam gelas, dan memberikannya kepada Mingyu yang langsung memegangnya dengan kedua tangan. "Minum, dan beristirahatlah." Ucapnya, kemudian pergi tanpa menoleh kembali.

Di dalam kamar, tangisan tidak bisa ia cegah. Kemarahannya berubah menjadi rasa bersalah setiap kali melihat sepasang mata teduh pemuda itu. Kekesalannya terasa percuma, karena ia-lah sumber alasan Mingyu melakukan semua ini. Semua salahnya, Mingyu membuang pendidikannya dan beralih menjadi pecundang tidak berdaya juga karena dirinya.

Haruskah ia menyeret pemuda itu lebih dalam lagi dari ini? Haruskah ia menghancurkan Mingyu lebih parah lagi?

Tuhan harusnya menarik pemuda seperti Mingyu jauh-jauh dari kehidupannya yang penuh dengan drama. Bukannya mengunci pemuda itu dengan perasaan tidak berdaya dan balas budi.

"Hyung, kau sudah tidur?"

Shit! Wonwoo hanya bisa berdoa anaknya tidak mendengar umpatan itu dan meniru kelakukannya yang hobi bersembunyi saat sudah tertangkap basah. Ketika bagian lain dari tempat tidurnya bergerak, Wonwoo merasa jantungnya mulai tidak nyaman, begitupun saat sepasang lengan mulai memeluk perut buncitnya dari belakang.

Tidak, ia tidak benar-benar berharap Mingyu ada di kasur yang sama dengannya, dan memeluk tubunya dari belakang seperti sekarang ini.

Tangan itu membawa tubuhnya berbalik hingga wajah mereka berhadapan. Memaksa mata rubahnya untuk menatap sepasang mata sendu itu untuk waktu yang lama. Dia berkata, "mata ini memberitahuku semuanya. Kau bukan bebanku. Kegelisahanku adalah beban bagiku. Jangan pernah meminta-ku untuk pergi. Karena aku tidak akan pernah sanggup untuk melakukannya. Aku menyayangimu, sangat menyayangimu."

Tangis kekanakan itu pecah. Meraung seperti anak kecil yang menangis dalam pelukan Ayah-nya dan seperti kucing yang ditinggal pergi majikannya.

Harusnya ia tahu. Mingyu mengerti dirinya lebih dari apapun. Pemuda itu memahami apa yang orang lain tidak pahami hanya dengan menatap matanya.

Tidak ada yang sepertinya

Tidak ada, tidak satupun

Dia adalah rumahku

Dia adalah payungku

Dan dia adalah sayapku

Berpikir bisa baik-baik saja tanpanya, adalah kesalahan besar. Karena faktanya, Wonwoo-pun tidak tahu apa yang terbaik untuk dirinya jika itu bukan Kim Mingyu.

"A-aku… aku merindukanmu, Mingyu"


Bagian 2


Saat pemeriksaan, Dokter meminta agar Wonwoo terhindar dari stress berat. Kehamilan pada seorang pria tidaklah sekuat kehamilan pada seorang wanita. Itulah alasan mengapa Dokter meminta agar Wonwoo menjaga baik-baik kandungannya, dan usahakan tidak memendam perasaannya. Menjadi orang yang terbuka dirasa lebih baik untuk Wonwoo di usia kandungannya sekarang.

Selama perjalanan pulang, mereka tidak terlibat banyak pembicaraan. Mingyu hanya menjelaskan beberapa vitamin dan kembali menyinggung tentang libran agar kesehatan Wonwoo membaik. Tapi Wonwoo terlalu malas untuk menjelaskan jika ia tidak butuh liburan. Sekalinya ia mengeluarkan suara hanyalah tentang, "Mingyu, belikan Ice cream." Dan Mingyu tidak bisa melakukan hal lain selain tertawa karena hal itu.

Wonwoo sangat menggemaskan baginya.

Setelah mendapatkan apa yang Wonwoo inginkan, mereka duduk bersama di sebuah halte bus. Mingyu terlalu perhatian dengan bantu membuka beberapa kancing sweater Wonwoo karena takut Wonwoo kepanasan di tengah sinar mnatahari yang cukup terik. Dia juga tidak segan memberi perhatian lebih dengan menyibak poni Wonwoo yang lepek karena keringat, hingga mengundang decakkan iri dari sekitar.

"Kau harus pergi kesalon untuk memotong rambutmu, Hyung." Komentarnya.

Wonwoo sendiri tidak mengambil pusing akan hal itu. Rambutnya yang mulai panjang memang menyushakan, dan lebih menyusahkan lagi jika harus kesalon untuk memotong rambut. Bahkan jika tidak demi kepentingan bayinya, ia malas untuk datang ke dokter karena kondisi kaki dan tubuhnya yang menjadi mudah pegal sekarang.

Tapi entah kenapa, hari ini Wonwoo tidak merasakan pegal pada tubuh dan kakinya. Mereka telah keluar sejak pagi. Berjalan beberapa meter dari tempat mereka tinggal untuk menjangkau bus, kemudian menunggu antrian untuk pemeriksaan. Seharusnya semua itu cukup untuk membuat tubuhnya matri rasa karena pegal, tapi hingga kini tubunya tidak merasakan apapun. Apa mungkin itu karena ia menikmati perjalanan hari ini? Karena ada Mingyu yang menemaninya? Atau karena Mingyu yang pada akhirnya memilih untuk mengalah kepadanya? Atau karena efek permbicaraan mereka yang semalam? Atau mungkin juga karena terbangun dalam pelukan Mingyu yang nyaman?

Wajahnya jadi memanas memikirkan semua itu. Dan bodohnya ia tidak bisa menutupinya dari Mingyu yang tengah memperhatikannya.

"Ada apa dengan wajahmu, Hyung? Kau memikirkan sesuatu?"

Dengan cepat Wonwoo menggeleng dan memakan ice creamnya, canggung bersama tawa jenaka Mingyu dan usakkan gemas pada surai coklatnya.

"Sudah lama ya tidak seperti ini." Ucap Mingyu mengenang.

Wonwoo terdiam sejenak dan menatap pemuda itu. Apakah kau merindukan semua itu? Pelan, Wonwoo melepaskan tangan Mingyu dari kepalanya, dan terdiam menatap jalan hingga bus yang akan membawa mereka datang. Menghindar dari tatapan Mingyu yang memperhatikannya cukup lama.

Keadaan berubah canggung untuk Wonwoo. Ketika sampai, Mingyu menawarkannya gendongan karena takut Wonwoo pegal, tapi Wonwoo menolak dengan gelengan kepala yang membuat Mingyu tidak nyaman. Pemuda itu sendiri berpikir jika Wonwoo tersinggung dengan ucapan sebelumnya tentang masa lalu mereka. Mungkin teringat akan seseorang. Maka dari itu dia berinisiatif menggenggam tangan Wonwoo erat di sisa perjalanan pulang. Dia berharap Wonwoo bisa merasakan semuanya melalui genggaman tangan mereka ini.

Dia ingin Wonwoo tahu jika rasa sayangnya bukanlah omong kosong.

"Setelah sampai aku akan memijat kakimu Hyung. Apakah mulai terasa pegal?" tanya Mingyu, tangannya terangkat merapikan anak rambut Wonwoo dan menyelipkannya kebelakang telinga Wonwoo, sementara Wonwoo hanay diam, menikmati segala sikap perhatian Mingyu kepadanya.

"Jihoon?"

"Apa?"

Wonwoo menatapnya. "Bukankah itu Jihoon?"


...


Hari dimana Ayahnya mengeluarkannya sebagai anggota keluarga, hari itu juga Wonwoo menganggap setiap orang yang menjadi bagian hidupnya hingga saat itu, tidaklah pernah ada. Apa yang Jihoon lakukan dan apa tujuannya datang? Tidaklah menarik minat Wonwoo untuk sekedar menyapa ataupun menyambutnya sebagai tuan rumah yang baik.

Ia diam. Menutup mulutnya serapat mungkin melihat bagaimana Jihoon dengan tatapan rindu menatapnya. Dia sahabatnya, sahabat terbaik yang pernah Wonwoo miliki saat itu. Tapi kemana dia disaat Wonwoo keluar dari rumah dimalam hujan lebat? Dimana dia saat ia butuh tempat perlindungan? Dimana dia selama ini, dan dengan seenkanya sekarang berani menunjukkan wajahnya tanpa rasa malu?

Bahkan untuk membiarkannya masuk kedalam flat kecilnya Wonwoo menolak hal itu.

"Wonwoo-"

"Pulanglah, kami sedang tidak ingin menerima tamu."

Menolak untuk melihat, Wonwoo masuk kedalam rumah mendahului Mingyu. Menunggu pemuda itu didalam dengan perasaan sukar. Namun, saat pemuda itu masuk bersama dengan Jihoon yang mengikutinya, kekecewaan menguar keseluruh relung hatinya.

Kau tidak mendukungku, Mingyu? Tanpa banyak bicara, Wonwoo membangting sweater yang telah dilepasnya, dan membanting pintu kamar dengan begitu kencang saat ia memasukinya.

Ia benci Mingyu, membenci pemuda itu yang seenaknya menentang keinginannya. Siapa dia yang berani menerima Jihoon masuk? Dia bersamanya selama ini, tidakkah dia mengerti kekecewaannya kepada Jihoon? Kepada teman-temannya yang lain?

Konyol!

Atau mungkin, Mingyu juga tidak mengerti perasaannya?

Memikirkan itu membuat air matanya tumpah. Ia membenci perasaan ini, membenci rasa melankolis yang terlalu sering menimpanya. Dadanya terlalu sesak menahan ini semua. Mengingat masa lalu yang menyakitkannya hingga kerelung hatinya.

"Wonwoo."

Dia masuk. Wonwoo terkejut, dan segera menghapus air matanya, memunggungi Jihoon yang kini berusaha dekat menyentuh punggungnya yang bergetar.

"Sudah berapa bulan?"

Wonwoo bisa mendengar suara Jihoon bergetar, dia menangis?

"Aku senang kau bersama Mingyu disini. Dia mengurusmu dengan sangat baik." dia menarik nafasnya, jari-jarinya bermain dengan ujung kaus yang Wonwoo kenakan. Kebiasaannya yang tengah merasa bingung dan resah. "Wonwoo, jika aku meminta maaf, apa kau mau memaafkan-ku?"

Tidak, kau bukan siapa-siapa.

"Aku shock, Wonwoo. Kau sahabatku, mendengar kau memutuskan itu semua, dan coba melindungi dia karena rasa cintamu, membuatku marah. Aku tahu aku tidak berhak akan hal itu, dia juga pemuda yang sangat baik. Aku tahu kau berharap banyak kepadaku, tapi aku justru menemukan diriku yang tidak berguna apapun bagimu. Aku bahkan tidak bisa menjelaskan kepada Paman Jeon tentang ini se-"

Wonwoo menoleh kepada Jihoon dengan cepat. Sepasang mata yang basah karena air mata itu menatapnya dengan tajam. "Kau berani berbicara hal itu kepada Ayahku?"

"Tidak, Wonwoo, tidak! Kau yang menyuruh untuk merahasiakannya. Lagi pula, aku lebih tertarik memberitahukannya kepada Ayah bayi-mu yang bodoh itu."

"Jihoon!"

Jihoon tersenyum ketika melihat Wonwoo mulai memfokuskan atensi kepada dirinya. Meski sombong, keras kepala, kekankkan, dan egois, dia tetaplah Wonwoo yang tidak pernah bisa marah terlalu lama kepada orang yang disayangnya. Menghabiskan masa kecil bersama, membuat Jihoon hafal betul tentang seluruh sifat Wonwoo.

Rubah kecil mereka itu mulai menangis saat Jihoon membuka tangannya dengan lebar, dia tidak berniat untuk segera memeluk Jihoon, tapi menangis kencang seperti anak kecil dengan menutup kedua wajahnya hingga membuat Jihoon gemas dan menarik paksa Wonwoo kedalam pelukkannya.

"Bayimu ternyata membuatmu terlihat lebih menggemaskan." Candanya. "Aku merindukanmu. Aku merindukan sifat judes-mu itu, Jeon!"

Pada akhirnya ia kalah. Kalah dengan perasaan kasih nya kepada Jihoon, dan kalah dengan rasa rindunya. Apa yang telah Jihoon jelaskan cukup masuk akal. Siapapun butuh waktu disaat seorang teman bercerita tentang kelainan dan kehamilannya. Dan mungkin itu juga terjadi kepada Jihoon. Dia yang tidak ada saat Ayahnya mengusir dan menghapus namanya dari daftar keluarga, bukan berarti dia tidak bisa merasakan semua kesedihannya selama ini, bukan?

Seperti bintang yang tidak selalu menemani bulan saat malam dan menjadi tidak terlihat untuk membuat sinar bulan semakin terang. Begitu juga seorang sahabat yang tidak selalu menemani namun ada meski tidak terlihat untuk membuat kita semakin kuat.


To be Continue


Akun ffn yang satunya kenapa? Saya lupa password

Itu bukan anak Mingyu? Jihoon mungkin bisa bantu saya jawab nanti

Mingyu beneran pelayan kaya meid gitu? Yup, dan nanti akan di jelaskan di bagian selanjutnya

TERIMAKASIH!

Jakarta, 14 Febuari 2017