A/N : Beberapa dari kalian menebak ini Hunkai. Tetapi maaf sekali *deep bow* membuat kalian kecewa. Ini akan menjadi cerita Kaihun hingga akhir.

A story

By AriaMoonie.

.

"eum, ku rasa ini akan sembuh nantinya."

"ku harap begitu"

.

Chapter 2 : Cheese, What's your name?

"Ayo kita kedapur, eum...bagaimana aku memanggilmu?"tanya Jongin hati-hati. Dua mata hitamnya mematri eksistensi pemuda itu dalam-dalam.

Lagi-lagi Nihil yang Ia dapatkan. Jongin mendesah samar, bibir itu terkatup rapat lagi padahal beberapa detik lalu bisa Ia dengar suaranya. Sepertinya Jongin tak bisa memaksa lebih, selain karena sosok berkulit cream ini adalah orang asing;yang pernah Ia temui atau tepatnya tidak sengaja bertatapan muka beberapa tahun lalu.

"Baiklah, aku menunggu sampai kau benar-benar siap menceritakan siapapun dirimu. Begini saja karena kau tidak ingin aku mengetahui siapa dirimu. Maka jangan salahkan aku jika memanggilmu -Cheese."

Mata pinus itu berbinar, "Cheese, apa kau punya banyak keju?"

Jongin melongo. Kenapa seorang pemuda bisa selucu dan seimut itu. Tunggu, baru saja si Creamy ini menanyakan apakah Jongin mempunyai banyak keju. Mata sayu Jongin menyorot heran tapi juga bersyukur yah setidaknya suara pemuda tersebut bisa Ia dengar lagi.

Bariton dan agak cempreng tapi berpadu suara yang teduh. "Um, ku rasa cukup untuk membuat perutmu kenyang. Kau pasti lapar sekali, huh?"

Anggukan kuat disertai ekspresi sumringah itu muncul lagi. Si-sial, kalau setiap hari diberi ekspresi semanis dan selucu itu;jangan kaget lagi ketika Jongin terserang diabetes akhirnya. Hiih, amit-amit. Jauhkan Jongin dari penyakit mengerikan itu, dia masih mau berkarir setua-tuanya dia nanti.

"Aku memang lapar."jawab pemuda itu menunduk dengan raut takut-takut. "Ta-tapi kalau aku tidak boleh makan sekarang. Tak masalah."katanya lagi lebih pelan dibandingkan tadi.

Untung saja Jongin berdiri dihadapannya coba kalau tidak, mungkin perlu alat bantu dengar supaya bisa mendengar suara si Cheese ini. "Aku akan memanggilmu Cheese, tidak apa-apakan?"

Sosok itu menggeleng, wajah itu menatapnya kesal. "Namaku bukan Cheese!"dumelnya seperti anak kecil yang tengah marah pada orang tuanya.

Jongin menggeleng tak habis pikir. "Dengar dude, kau sendiri yang tidak mau mengatakan namamu jadi jangan salahkan aku, oke?!"ini sungguh Seorang Kim Jongin mulai dilanda rasa jengkel.

Sosok ini memang berperilaku tenang, tak banyak bicara juga menggemaskan dalam satu waktu. Mata itu, coklatnya seperti tanah basah. Beningnya seperti diendapi embun. Benar-benar mata yang sehat sekaligus menyegarkan untuk ditatap lama-lama. "Aku Sehun."

"Hah?"

Mata itu mengalihkan pandangannya kebawah, lalu kembali menatap Jongin ragu. "Aku Sehun"ulangnya dengan suara lebih keras.

Jadi itu namanya. Sehun. Hanya begitu saja, tanpa marga?

"Margamu?"

"Kau hanya menanyakan namaku bukan nama keluargaku, kan?"pemuda yang kini Ia ketahui namanya sebagai Sehun tersebut balik bertanya.

Jongin mengendikan bahu. "Fine. Kau mandilah dan aku akan memasak sesuatu didapur."

Sehun mengangguk sekali. Ada sorot mata takut itu lagi. Serius, Jongin makin merasa bahwa kehidupan Sehun amat rumit. Seharusnya atau rata-rata anak semuda Sehun pastilah berisik, dan nakal juga punya nyali yang berlimpah ruah bukannya seperti ini. Tahukah kalian, anak tetangganya yang masih berusia 10 tahun saja lebih tegas dan berani ketika Jongin memarahi tapi ini. Ah, Sehun...Ada apa dengan masa lalumu?

Ia memutuskan rasa ingin tahunya yang sudah menjubel dipikirannya semenjak Sehun sudah membuka mata tetapi berkali-kali juga dirinya menahan diri."Aku memang orang asing bagimu, Sehun. Tapi, bukan berarti aku akan menyakitimu maka bersikap lebih santai saat berbicara denganku. Kalau aku adalah orang jahat, sudah pasti aku meninggalkanmu dimalam itu. Kau mengerti!"tegas Jongin. Bukan amarah namun ini lebih pada rasa simpati. Jongin sudah terbiasa menghadapi orang-orang agressive dalam hidupnya dan ini pertama kalinya Ia berhadap dengan orang yang terlalu pasif.

Pasif. Shit, Jongin jadi mengingat Kris.

'...Jangan, Jongin...'batin Jongin menenangkan dirinya untuk tidak –menangis untuk yang kesekian kali. Seperti hari-hari sebelumnya. Hari dimana kau akan menangis tersedu-sedu ketika kau selesai melakukan rutinitasmu. Dan hari dimana kau merindukan...Kris.

"Ka-kau menangis?"

Jongin mengerjap, alis matanya bertaut dalam. Tidak ada airmata. Lalu kenapa Sehun mengatakan hal itu. "Tidak, aku tidak senang menangis. Bocah!"elak Jongin tak ingin ditebak semudah itu. Ia memang tak mengeluarkan air mata tetapi memang hatinya yang tengah menangis didalam sana.

Mata coklat bening itu memandang Jongin lebih tepatnya jauh kedalam mata Jongin. "Hatimu, duka dalam matamu memcerminkan suasana hatimu saat ini. Dan duka itu sudah membekas lama,.."lalu mata itu membulat serta merta mulut yang dipaksa tertutup oleh telapak tangan. Sehun menunduk lagi, "... ah maaf aku pasti terlalu sok tahu. Maafkan aku, itu eungh –"

Jongin mendecih. "Tenangkan dirimu, Cheese."jeda sejenak. Jongin menatap lekat-lekat mata Sehun. "...Jangan merasa kau akan dihakimi hanya karena kata-katamu yang tepat sa –"rambut hitamnya Ia acak asal menjadi korban kegusarannya sendiri. "...Ah, sialan. Cepatlah mandi dan gunakan saja bajuku. Pilih sendiri, oke? Ukuran tubuh dan tinggi kita hanya berbeda sedikit yah walau kau memang lebih pendek dariku."diakhir, senyum kecil terkesan geli muncul dibibir kissable Kim Jongin. Sempat Ia lihat bibir tipis Sehun mengerucut lucu karena Ia memanggilnya 'Cheese' entahlah itu...maksudnya ekspresi Sehun yang tengah jengkel nampak imut dan sepertinya Jongin akan hobi membuat Sehun kesal. Tidak tahu sampai kapan yang pasti Ia akan mulai melakukan hal itu didetik ini.

"Sudah ya ngobrol santainya, Cheese. Aku kedapur dulu."pamit Jongin berlalu meninggalkan Sehun yang kini tengah terpekur jengkel.

"Namaku Sehun."gumam Sehun. Matanya berkaca-kaca. "Dasar ahjussi menyebalkan."rutuknya terkesan marah. "Tapi, Hun-ah. Kalau bukan karena dia, kau sudah tinggal nama dan menjadi berita headline pagi ini."Ia membawa tubuhnya beranjak dari atas tempat tidur. Baru beberapa langkah, Sehun kemudian menyadari. Ia mengingat, aroma tubuh Jongin yang khas, mata yang pernah menatapnya penuh remeh serta jua dingin. Kulit kecoklatan yang unik. "Di-Dia Kim Jongin yang dahulu pernah bertemu denganku, ya kan?'mata coklat bening itu semakin berbinar karena pemiliknya tengah di hujani perasaan bahagia secara berlebihan. "Tuhan, aku sungguh berterimakasih karena kau menuntunku hingga sampai ditempat hangat ini...ya amat menghangatkan."bibirnya tersenyum lugu. "Kim Jongin mrngingatku tidak 'ya?"senyum itu mengendur. "Huh, mana mungkin anak nakal dan kasar sepertiku di ingat oleh orang sebaik dirinya. Jangan berharap terlalu tinggi, Hun-ah."

Wah, ternyata si pendiam Sehun tak cukup tenang huh. Dia dengan ringan berbicara. Hei, ini tidak bagus. Bukannya akan lebih enak dipandang saat Sehun bisa berbicara semanis dan serileks itu ketika mengobrol dengan manusia lain. Tidak seperti ini,...berbicara dengan dirinya sendiri.

.

.

.

Beberapatahunlalu...

Dia pemuda tampan dengan mata coklat cerah yang memancarkan kepolosan juga kehangatan. Bibirnya tipis dan semerah delima, ketika tersenyum rasa bahagia akan tersalur dari matanya. Ekspresinya datar namun hatinya menawarkan kenyamanan...juga menyimpan duka mendalam.

Sebagian mengenalnya...bertingkah buruk.

Sedangkan sebagian lainnya berpikir...dirinya bertingkah sepolos balita.

.

Diusia 5 tahun, Ia memiliki keluarga yang amat harmonis.

Namun, hidup tak selamanya berada diatas awan.

Karena, kebahagian sederhana itu berakhir menyedihkan di usianya yang ke 13.

Perusahaan Ayahnya bangkrut dan terlilit hutang, ini akan mudah jika uang yang Ayahnya pinjam berasal dari Bank namun lain cerita begitu Ia mengetahui uang yang jumlahnya tak sedikit itu dipinjam dari Rentenir. Penagih hutang yang terkenal akan kekejamannya. Lintah darat. Itu julukan mereka. Kehancuran hidupnya tidak sampai disitu, sang Ibu pergi...tidak meregang nyawa atau Mati; melainkan menikah dengan pria mapan lainnya dan sungguh...pengkhianatan Ibunya tak lebih menyakitkan dari duka manapun.

Bahkan duka dimana Ia hendak dibawa paksa sebagai 'pengganti hutang' oleh rentenir bajingan itu. Secuil rasapun tak membuatnya terpuruk dibandingkan saat melihat kepergian Sang Ibu dengan mata kepalanya sendiri.

Dihari ke-6 setelah 'kebangkrutan perusahaan sang Ayah';Rentenir itu datang dan memaksanya untuk ikut Rentenir itu menjadi 'pengganti hutang'seperti yang Ia katakan sebelumnya.

Perdebatan itupun terjadi saat ini. Dihari Ulang Tahun dirinya yang ke-14 tahun.

"Apa yang kalian inginkan, bukankah kita sudah membuat perjanjian. Aku masih punya waktu 1 bulan lagi untuk melunasi hutang-hutangku!"

Kue yang lilinnya sudah Ia tiup itupun jatuh begitu saja keatas Marmer. Setelahnya Ia membawa tubuh mungilnya bersembunyi, dibalik Sofa. Menghindari tatapan penuh ancaman dari Si Rentenir dan beberapa banditnya.

"Aku baru ingat kalau kau masih punya aset yang masih segar dan hanya perlu sedikit diasah maka akan menjadi...uang. Ku ubah perjanjiannya, kau hanya perlu memberikan 'aset' itu kepadaku maka hutangmu akan lunas tanpa bunga, bagaimana?"

"Jangan sejengkalpun kau berani menyentuh anakku!" Pria yang Ia sebut Ayah menjerit penuh amarah.

"Berani kau menentangku!"teriakan rentenir itu melengking tinggi. Jauh lebih keras dibandingkan seruan Ayahnya.

Ia menunduk, airmatanya sudah turun sejak rentenir itu datang; menyedihkan... usianya bahkan baru menginjak usia ke-14 dan dia paham betul, tenaganya masih lemah meski usianya sudah bertambah. Baik itu hati maupun fisiknya.

Pelukan kuat menyapa tubuh kurusnya, ini aroma tubuh sang Ayah dan sejenak Ia terasa begitu dilindungi. "Ayah—"panggilnya dengan suara lirih, ngeri.

Bukh!

Satu tendangan kuat menghantam punggung kuat Ayahnya. "BERIKAN SEKARANG DIA PADAKU DAN HUTANGMU LUNAS!"disusul teriakan menggelegar dari rentenir itu.

Sedikit Ia mengintip ekspresi wajah Rentenir itu. Merah merajam, mata rentenir tersebut mendelik segalak Bison, Ia diserang ketakutan lalu kembali menyembunyikan wajahnya didada bidang sang Ayah. "Ayah, Hunnie takut~"bisiknya.

"Tenanglah, aeggi. Ayah ada disini, jangan takut, kay?"suara Ayahnya bernada lembut seperti saat Ia yang biasanya.

Bukh!

Padahal tendangan itu masih bersarang terus-menerus pada punggung sang Ayah. "Tapi, Ayah berdarah."ucapnya bermimik panik ketika darah mengalir pelan dari bibir Ayahnya. "Ayah, jangan tinggalkan Hunnie...hiks"pinta Sehun penuh pengharapan. "Kalau Ayah pergi, Hunnie akan sendirian. Hunnie tidak mau. Ayah harus hidup."Ia mulai meracau kacau. Perlahan-lahan mata Sang Ayah terpejam dan tak terbuka lagi. Melihat itu... Raut wajah manisnya semakin berantakan, dengan air mata yang mengalir tanpa jeda.

Wajah licik itu muncul, Rentenir kejam itu telah menemukan jalannya dan Ia berdecak senang.

"Anak manis, kau mau Ayahmu hidup?"tanya Rentenir itu dengan suara beratnya yang dibuat selembut mungkin.

Ia mendongak pelan, masih memegang kemeja Ayahnya kuat-kuat. "Ya, Hunnie mau."jawab Sehun lirih namun suara kekanakannya terdengar tegas.

"Hahaha, kau mau. Cukup dengan pergi bersama Paman Kim maka Ayah terkasihmu ini tidak akan mati. Jadi, apa jawabanmu anak pintar?"

Ia kembali menatap Ayahnya yang telah terpejam, nafas itu masih berhembus dan Ia ragu-ragu mengangguk setuju. Ayahnya sudah berada diambang batas. "Hunnie akan pergi, tapi Hunnie mohon...jangan sakiti Ayah."

Seringaian kemenangan itu terpampang bangga. Ia terlalu kecil untuk memahami arti senyuman tersebut. "Ya, Paman Kim berjanji. Kau kenal Bibi Ahn, tetanggamu?"

"Ne, Hunnie kenal."

"Bagus, wanita renta itu akan merawat Ayahmu. Aku tidaklah sejahat yang kau kirakan?"

Ia menggeleng, "Kau mengerikan seperti Bison!"sahutnya berani.

"Ha haha, baiklah, baiklah. Ayo pergi sebelum aku berubah pikiran."ajak Rentenir itu santai.

Ia menyambut uluran tangan pria itu dan berjalan pergi. Ia menoleh untuk menatap wajah sang Ayah,...untuk yang terakhir kalinya.

"Ayah, Hunnie pergi dulu. Ayah baik-baik ya"pamitnya dalam inner terdalamnya.

.

.

.

Trauma. Mimpi buruk. Bayangan kejadian mengerikan itu mengikis segalanya dalam diriku. Memberi sensasi rasa sepahit empedu.

Menyuarakannya pun terasa amat sulit. Rasa jijik itu seolah meranggas pelan masuk ke dalam hati dan pikiranku.

Dan kemudian hatiku jauh lebih membeku setiap detiknya...pikiran ini berganti menjadi statis.

Bergerak dinamis kala kekejaman menguasaiku.

Bohong, kalau tidak sakit. Ini menyiksa, sangat.

Meski begitu, kupasang lagi. Berakting wajah yang menunjukan bahwa aku...baik-baik saja.

Sudah 2 tahun aku di sini. Tertahan dalam rumah besar dan mewah. Hidupku amat terjamin.

Pria yang kupanggil, Paman Kim; amat berjasa.

Begitu berjasa membuat diriku, pikiranku...tubuhku...menjadi sejahat Pembunuh paling keji. Jauh dari itu, aku bukanlah manusia namun iblis yang bersembunyi dibalik topeng menawan yang disukai oleh mereka.

Mereka; kawanan anjing. Atau lebih dikenal; kawanan penghuni dunia bawah.

Semuanya, milikku memang sudah dikendalikan sepenuhnya oleh pria bermarga Kim itu.

Tapi, kalian perlu mengetahui...hatiku bukanlah milik siapa pun. Hanya aku seorang.

Ah, satu lagi...benci. itu sudah lama mengendap disudut hati tergelapku...itu tidaklah secara Instan. Perasaan benci itu datang kala kabar yang Ia dengar dari mata-mata kepercayaannya bahwa sang Ayah; telah tiada.

Kehilangan itu merupakan puncaknya.

Apa yang ku bagi belum berakhir, apa kalian masih sudi untuk mendengarkan?..dariku...—OhSehun.

.

.

.

Segini saja...Aku sungguh minta maaf jika kalian merasa kecewa dichapter 2 ini.

Tapi, ku harap kalian bersedia memberi review.

Aku perlu kritik dan saran, Okay!

See you in next chapter.