A Fanfiction

By

AriaMoonie

.

MAIN PAIR

Kim Jongin x Oh Sehun

.

Warning : ZONA KAIHUN! -Slight Chanhun. M-preg. Bahasa agak kasar. Jebakan Typo.

Rated : M...not just about sex! Kay!

.

.

.

"Flashback...Tahun 2014"

(Moonie : Kejadian dimana sebelum kematian Kris dan belum bertemunya Sehun dan Jongin)

Saat usianya 16 tahun. Oh Sehun. Remaja lelaki tanpa keluarga atau lebih tepatnya tak menganggap mereka ada kecuali; ayah terkasihnya. Terbengkalai dalam kekelaman dunia, terperangkap dalam kepalsuan duniawi, dia terbiasa menjadi –yang lain- sesuai tempat dan dia telah menjalani segalanya dalam 2 tahun ini.

.

.

.

Bang! Bang!

"Luhan. Aku duluan."

Pemuda bertubuh pendek berambut hitam mendekati pria bermata coklat terang. Wajah lelaki itu terkaget-kaget, "Kau yang menghabisi mereka?"matanya menemukan tumpukan mayat yang berserakan.

Suaranya terdengar tidak percaya, didepannya sekitar 20 orang pria dewasa dengan berstatus preman tingkat atas tergeletak tanpa nyawa dengan luka tembak ditempat yang sama yakni dada, kepala dan mata kiri.

"Nih, terimakasih."

Lelaki itu menyodorkan senjata api kepada pemuda bernama Luhan itu dan pergi dari sana –tempat pembantaian yang sebagian adalah hasil dari tangan kejamnya. Sejenak Lelaki itu mengibaskan debu-debu yang menempel pada seragam sekolahnya yang berbordir –Seoukha High School.

Luhan memandang kepergian Lelaki itu dengan mata menyorot kagum, dia menekan walkie-talkienya, "Ya, bagaimana kondisi disana. Kami masih sibuk disini!"suara berat dari seberang bertanya cepat.

"Kami sudah selesai."kata Luhan.

"Kerja bagus, bocah!"

Luhan menggenggam kuat senjata api yang tadi sempat digunakan Lelaki tadi –"Siapa Sehun, sebenarnya?"

"Dia partnermu, kalau kau sudah selesai maka cepatlah ke lokasi 2. Kami perlu bantuan beberapa orang lagi."

"Baik. Apa aku harus membawa Sehun, bersamaku?"

"TIDAK! JANGAN BODOH! DIA AKAN MEMBUNUHMU!"jedak sejenak, "ck, biarkan dia berangkat untuk sekolah dan kau cepat kesini."

"Em, baiklah Mr. Kim."

.

.

"Kelas XI-2. Seoukha High School...

"Permisi, Pak. Apa saya boleh masuk?"

Suara datar itu membuat belasan pasang mata terarah ke ambang pintu.

"Dia terlambat lagi."

"Apa dia tidak minder karena diberi hukuman hampir setiap hari?"

"Mungkin urat malunya sudah putus."

"Bisa jadi."

Sehun, terdiam tanpa reaksi berarti ketika jelas-jelas pendengarannya menangkap bisik-bisik negatif tertuju untuk dirinya; dia bukannya sudah kebal tetapi hanya mencoba mengabaikan, dia tetaplah remaja, mempunyai hati dan jujur saja; dia perlu waktu berbulan-bulan untuk melatih diri, memantapkan mental agar tak habis di jadikan perbincangan oleh orang-orang tak bertanggung jawab.

Mereka sibuk menilai tanpa perlu jawaban dari si objek pembicaraan.

"Kenapa kau terlambat lagi, pelajaran sudah berlangsung selama 1 jam."suara tajam dari sang guru membungkam bisik-bisik itu.

Sehun menatap lurus tepat ke lensa mata sang guru, bibirnya terpulas segaris senyum tanpa makna. "Saya ingin belajar."

Guru itu mendudukan diri keatas meja miliknya lalu melipat tangan didepan dada dengan ekspresi merendahkan, mata sinisnya memperhatikan penampilan Lelaki itu dari atas hingga ke bawah. Ia mengedipkan mata dua kali lalu tersenyum menghina, "Berandal sepertimu tidak pantas belajar disini, akan lebih cocok kau belajar di balik sel penjara saja."

Sehun memejamkan mata, dia mengepalkan kedua telapak tangannya, menghembuskan nafas sehalus mungkin untuk kemudian menarik senyum tanpa makna itu lagi.

"Ini kesempatan pertama dan juga terakhir yang diberikan pihak kepolisian. Dan saya tak ingin mengakhiri kesempatan ini menjadi 1 minggu lebih cepat."hal itu dikatakan dengan nada ringan tanpa bermaksud mengancam namun guru itu menangkap hal lain dan dengan wajah berpura-pura galak, guru itu mempersilahkan –Sehun- masuk kedalam kelas.

"Baiklah, cepat masuk."

Sehun melangkah masuk dan mendudukan diri dikursi paling belakang dan tersudut sendirian tanpa teman sebangku, bukan mereka yang menghindari tapi dirinya lah yang meminta untuk tidak ditemani.

"Kelas dimulai lagi."seru guru itu ketika bisik-bisik itu terdengar lagi

.

Waktu istirahat.

"Hai?"sapa sebuah suara berat dan hangat.

Sehun berdecak, dia segera memakai headset yang tersambung pada i-podnya dan mengacuhkan keberadaan pemuda jangkung yang berjalan disebelah kirinya.

"Sehun!"

Dengan sengaja Ia menambahkan volume suara.

Pemuda jangkung itu merengut. Ia melepaskan satu headset milik Sehun lalu memasang wajah menantang kepada pemuda berwatak cuek dan dingin itu ketika mendapat reaksi tidak suka dari Sehun.

"Apa? Apa?"tantangnya sinis. "Kau betah ya selalu sendiri?"

"Hmm."Sehun mengambil headset digenggaman pemuda itu lalu menjawab malas pertanyaan yang selalu saja diajukan oleh pemuda itu disetiap kesempatan ketika tengah berinteraksi dengan dirinya.

"Ish, lihatlah. Kau hanya bereaksi hm, ya dan tidak. Lidahmu dulu diapakan sih hanya bisa berbicara 3 kata super limit itu?"

"Hmm."

"Dasar menyebalkan."rutuk pemuda jangkung itu, kesal.

Di ujung koridor yang ramai kaki pemuda itu berbelok kearah kiri dan langsung dihentikan oleh tangan besar milik pemuda itu, dia menoleh cepat lalu menghempaskan kukungan pemuda tersebut, dia menyandarkan tubuhnya pada dinding sembari memberi tatapan datar namun terkesan menusuk kearah pemuda jangkung dengan dimple kirinya yang nampak menawan ketika tersenyum.

"Apa yang kau inginkan dariku?"tanyanya.

Pemuda itu membuka mata, "Kau baru saja berbicara?"Ia balik bertanya dengan suara terpekik kaget.

Sehun dibuat kesal karena reaksi berlebihan itu. "Aku juga manusia kalau kau lupa."katanya.

"Aku ingin mengenalkan diriku."pemuda itu menggaruk rambut jabriknya yang hitam legam, tangan kirinya dimasukan kedalam kantong celana kiri, dia nampak gugup.

"Lakukan sekarang."

"Ah, bolehkah?"

Sehun bergumam dengan anggukan kepala. "Hmm."

Pemuda itu mengulurkan tangan kanannya dengan sebuah senyuman menawannya, "Aku Park Chanyeol."

"Sehun."

"Hm, tanpa marga?"

"Hmm."pemuda itu menarik jemarinya lalu berjalan pergi. "Sekarang pergilah, karena kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan, jadi jangan ikuti aku lagi."

Tap! Tap!

Serius. Dalam 1 tahun bersekolah disini...tak ada yang pernah membuat Sehun sekesal ini. Chanyeol keras kepala sekali. ia berbalik, menarik lengan kanan pemuda bernama Chanyeol menuju atap sekolahan.

Tak sedikit yang menyapa pemuda itu karena dia populer.

.

"Diatap...

Bruk!

"Aduh punggungku!"erang Chanyeol ketika tubuh jangkungnya dibanting kelantai atap begitu mudah.

"KAU INGIN APA DARIKU?!"suara Sehun meninggi. Dia menginjak perut Chanyeol. "Berhenti disini atau jika bertekad maka kau akan mati."ucapnya dengan nada dingin juga keseriusan tinggi.

"Aku tidak peduli."

"Tapi AKU PEDULI, SIALAN!"

Chanyeol bengong. "Kau galak sekali."komentarnya. "AAAKH!"Ia berteriak kuat ketika perutnya ditekan begitu kuat oleh kaki Sehun. "Sakit, woy!"walau begitu tak ada kebencian ataupun kemarahan disuaranya.

Sehun menghentikan aksinya dan menendang tubuh itu sejauh 3 meter lalu menendang pintu atap dengan tenaga yang diselingi kemarahan. "KAU GILA! DASAR OGEB SEJATI!"

"Iya deh, Aku ogeb dan kau begonya! Adilkan!"pemuda itu tertatih untuk bangun, dia berjalan tergopoh-gopoh menuju Sehun yang terlihat meninju pintu atap terus-menerus.

"SHUT UP, IDIOT!"

"Aku tidak idiot cuma kurang pasokan otak."

"kheh."sinis Sehun geli dan kesal.

Sett!

Kepalan tinju Sehun yang mulai terarah ke dinding ditangkap oleh tangan Chanyeol, "Uhuk! Uhuk!"pemuda itu terbatuk keras –dengan darah disana.

Sehun terbelalak. "Ka-Kau payah sekali."hina Sehun, dia tersenyum sinis. "tubuhmu saja yang kelebihan dosis tapi soal fisikmu jauh ada dibawahku."katanya lagi jelas mengatai.

"Aku tahu itu kok."sahut Chanyeol dia melepaskan tangan Sehun dan memandang langit disiang itu. "Aku juga mau jago berkelahi tapi ah sudahlah..."

Dugh!

"Aduduh, anarkis sekali kau!"protes Chanyeol saat kakinya ditendang kuat oleh Sehun.

"Salahkan otakmu yang keras kepala!"jerit Sehun sarat akan rasa jengkel.

"iya sih, Kau tidak lapar –Hun?"

Sehun menggeleng, dia mendudukan diri dilantai atap, menundukan wajah diantara rambut coklat madunya. "Aku tidak lapar."jawab Sehun pelan.

Chanyeol memukul kepala Sehun membuat pemuda itu mendongak dengan wajah marah, "woy, peace kanjeng ratu. Bagaimana kalo kita mati bareng-bareng saja, dari sini?"

Plak!

Sehun itu pendendam oleh karenanya dia balik memukul kepala itu dibagian kening Chanyeol, jemari kasarnya menarik tangan Chanyeol lagi, sama seperti yang Ia lakukan. "ikuti aku"perintah pemuda itu.

"Kemana? Ceritanya mengajaku berkencan, nih?"

"In your dream."desis Sehun, dia menarik dan menyembunyikan kepala Chanyeol kedalam pelukannya.

Jelas saja tindakan itu membuat Chanyeol diserang kegugupan, "Kau sedang a-apa?"

Sehun menarik dagu Chanyeol hingga membuat kepala itu mendongak dan menatapnya penuh kebingungan. "Diamlah, liat secara hati-hati jauh dibelakangku."

Chanyeol menurut lalu melotot kaget saat matanya melihat sepintas sinar merah dari kejauhan dari atas gedung yang berseberang dengan sekolahan ini. "I-tu sniper?"tanya Chanyeol kembali memandang mata Sehun.

"hmm, kau harus turun."

"kau?"

"Aku akan menyusul."

"ah, aku tidak percaya. Kita turun bersama-sama."tolak Chanyeol sekaligus memaksa.

"Kau kolot sekali sih."

"Kau sama saja, bego!"

Sehun berdecak, "oke –oke, tapi ada syaratnya?"

"Apa?"

"Traktir Ramyun di Restoran Minjeon."

"Gila saja! disanakan mahal-mahal, tapi okelah. Setelah itu kau tidak boleh mengusir seperti anak ayam dan ini resmi; kita berteman, deal!?"

"Ini bocah, seterah kau aja. Tunggu aba-abaku."perintah Sehun serius.

"hei, dengan jarak sejauh itu kita tidak mungkin tertembak."ujar Chanyeol.

Sehun menjedukan keningnya dengan kening Chanyeol lalu mengumpat, "ogeb! Kau lihatkan cahaya merah tadi?"

"lihat, hubungannya?"tanya Chanyeol dengan wajah melongo begonya.

Sehun menjelaskan dengan sabar. "Kalau cahaya merah itu berkedip, maka kita sudah jadi target terkunci. Cahaya itu masih menyala berarti kita bisa mati kapan aja."

"Tapi, kita masih hidup tuh."

"itu karena angin terlalu kuat untuk melesatkan peluru."

"lah bagus dong, kita harusnya lari sekarang!"seru Chanyeol.

Sehun berdecak sebal, "anginnya masih terlalu rendah, kita tidak ditembak karena sebagian tubuh kita terlindungi hiasan patung."

"Tunggu dulu."

Hening melanda, mata bulat agak sipit itu terpejam lama, ketika terbuka, ada senyuman miring pada bibirnya, pemuda itu mengambil permen karet dari kantung bajunya dan membuka satu lalu dikunyah cepat, "Mau apa kau!?"tanyanya ketika Chanyeol hendak mengambil permen lainnya dari kantong bajunya.

"Pelit sekali, akukan hanya minta satu saja!"

"Tidak boleh."tolak Sehun mentah-mentah.

"cih, pelit sekali. Awas loh kuburanmu sempit, mau BAB aja sulit pastinya."kata Chanyeol dengan teori aneh menggelikannya.

Mau tak mau Sehun merasa geli jua, dia memilih mengabaikan perkataan itu, dan secara sengaja menjatuhkan kepala Chanyeol dari –pelukannya.

"aduh, dua kali kau menyiksaku secara semena-mena. Apa aku ini menyebalkan sekali. Huh?"

"100 persen tanpa minus, kau itu super-kubik-menyebalkan, and ngomong-ngomong siap untuk hidup?"

"YA IYALAH BEGO!"jerit Chanyeol merasa sebal akan pertanyaan konyol itu.

"Well, ayo lari sekarang! Pintunya hanya sejauh tiga meter saja"

Chanyeol berlari terlebih dahulu, Sehun mengikuti lalu 5 langkah mereka hampir mencapai pintu –beberapa tembakan dilesatkan oleh –sniper itu- dan hampir mengenai tubuh tinggi Chanyeol –dia menghindari dengan kepayahan sedangkan Sehun terlihat gesit menghindari peluru itu.

Sekian sekon Sehun meludahkan permen karet itu keatas dan dengan anehnya –permen karet- itu berubah menjadi anak panah serta busur, dia menangkap dua benda itu dengan mudah lalu mengarahkan senjata itu dan melesatkannya tanpa keraguan kearah si sniper, "buka pintunya!"perintah Sehun tergesa.

Chanyeol yang masih terpaku akan kejadian yang tak masuk akal itu gelagapan membuka pintu dan segera masuk bersamaan dengan Sehun yang langsung mengunci pintu atap itu.

Keduanya terduduk dianak tangga dengan nafas memburu cepat, "Kau yakin anak panah tadi terkena si sniper?"

"hmm."

"hosh, hosh..kau siapa sebenernya?"

"Aku –hhh, MANUSIALAH OGEB!"

"AH ITU JUGA AKU TAHU! BEGO!"

"KEPALA BATU!"

"BIBIR BELATI!"

"COWOK PAYAH!"

"COWOK MONSTER!"

"KAU!"

"AP -UHUK! UHUK!"seruan Chanyeol terhenti ketika batuk menyerangnya, dengan sengaja Ia menutup mulutnya agar darahnya tak berceceran dan hal itu membuat Sehun dilanda rasa bersalah.

Secara sengaja Ia menangkup wajah Chanyeol agar menatapnya, "Kau bisa jalan sendiri?"

"ya bisalah."jawab Chanyeol.

"bagus, tetaplah sadar dan kita ke UKS sekarang."

Alis pemuda itu menukik, dia memukul kening Chanyeol dengan tenaga, "Kenapa kau tersenyum tidak jelas?"

"Kau terlihat imut saat memasang wajah khawatir! Hehe!"

Sehun mendengus tak habis pikir, "OGEB!"dia segera berdiri dan meninggalkan Chanyeol disana.

"LAH, TUNGGU AKU HUNNIE! PUSING TAHU PERUTKU!"

"YANG WARAS NGALAH!"balas Sehun geram setengah mampus.

"Jadi, MAKSUDMU AKU INI TIDAK WARAS!"

"KAU TERNYATA PINTAR JUGA, YA!"

"AARGH!"

Teriakan frustasi Chanyeol terdengar di sekeliling atap ketika Sehun menghinanya.

Flashback off.

.

.

.

"Masa sekarang...tahun 2018

Jongin termangu didepan lemari pendinginnya. Dia tidak benar-benar tahu cara memasak. Hanya bisa masak sebatas menggoreng telur dan tidak lebih. "Akh, lebih baik aku memesan makanan cepat saja saja."gumam Jongin pelan. Ia menutup pintu lemari esnya. Merogoh pelan ponsel hitam yang berada disaku celananya.

"Um."

Suara pelan itu cukup mengejutkan Jongin. Pemuda itu menemukan Sehun yang berdiri tak jauh dibelakangnya, sudah lebih segar dengan pakaian miliknya. Kaus hitam polos dan celana longgar. Well, dengar kawan...Jongin tidak tahu bajunya bisa menjadi cute saat Sehun memakainya. Ehei, Jong...jangan mulai berfanboy lagi!

"Kau bisa memanggilku Jongin-Hyung, atau Jongin saja tak masalah."tandas Jongin menjelaskan hal tersebut sebelum Sehun bertanya.

Sehun mengangguk pelan, "Nde, Jongin-Hyung."Sehun berdiri canggung, mata coklat beningnya terus saja memperhatikan gerak-gerik Jongin yang kini sibuk berbicara dengan seseorang melalui ponsel hitamnya. Ia angkat bicara saat Jongin sudah memutuskan dan menyimpan ponsel itu didalam kantong celananya. "Kau menghubungi siapa'hyung?"tanya Sehun.

Jongin mengalihkan pandangannya dari jendela dapur yang langsung mengarah pada taman bunga apartemennya. "Pengantar Pizza."jawab Jongin singkat. Mata hitamnya kini menotis keberadaan Sehun. Bibirnya tertarik ke kiri, tersenyum menggoda dan jahil. "Kau tahu, Cheese? kau lucu sekali dengan bajuku, bukankah tinggi dan ukuran tubuh kita sama tetapi kenapa bajuku jadi sangat longgar saat kau memakainya?"komentar Jongin.

Mata cerah Sehun jelas menunjukan rasa kesal saat mendengar si Jongin itu masih saja memanggilnya dengan sebutan Cheese. "Mungkin aku terlalu kurus dan Namaku Sehun -hyung."ada nada sebal disana dan Jongin terkekeh pelan.

"Kau tidak suka?"

Sehun menggeleng cepat disertai bibir maju beberapa centi. Menggemaskan, bung. Ehei, Sehun jangan membuat Jongin mati terkapar karena terlalu gemas denganmu, ya!

"Ya, aku tidak suka. Aku sudah 19 tahun, bukan 14 tahun lagi."perjelas Sehun.

Jongin mengangguk-ngangguk sok paham. "19 tahun ya, masih bocah dalam sudut pandangku. Ah, iya aku rasa sih panggilan Cheese masih cocok untuk anak seusiamu. Bahkan wajahmu terlihat mirip seperti keponakanku."ucap Jongin santai.

Sehun merengut, "Memang berapa usia keponakanmu?"

Jongin tersenyum iseng. "5 tahun!"

"APA!"Jerit Sehun kaget. Wajahnya berekspresi tidak setuju. "Aku bukan bayi!"

Jongin mencebik. "Kau bayi besar. Lihatlah kau protes hanya karena hal kecil, dasar anak kecil!"

"Aku bukan bayi besar ataupun anak kecil!"

"Anak kecil!"olok Jongin dengan senyuman mengusili.

"Bukan!"Sehun menolak dengan jeritan tertahan.

"Iya!"seru Jongin lagi semakin keras menggoda Sehun.

"Bukan!"pekik Sehun, dia sudah berjalan mendekati bahkan memukul dada Jongin berkali-kali.

"Ehei, hentikan! Kenapa kau berlaku anarkis pada tubuhku! Anak kecil galak!"

Sehun melotot karena Jongin malah makin mengolok-oloknya. "Dasar Ahjusshi menyebalkan!"akhirnya Sehun membalas juga.

"Ahahaha!"Jongin malah tertawa keras karena hinaan Sehun. Agak sebal sih dipanggil begitu tetapi ituloh wajah Sehun lucu untuk tidak ditertawai. Pipi Sehun memerah, bibirnya maju, mengerucut seperti bebek. Lumayan epic untuk dijadikan bahan hiburan bagi orang kekurangan pasokan ekspresi seperti Kim Jongin.

"Tertawalah sesukamu. Seterah kau saja, Jongin-ahjusshi!"

"Ahahaha."

Sehun pasrah. Dia capek lama-lama dan memilih untuk duduk dikursi meja makan.

Jongin lamat-lamat menghentikan tawa garingnya. Dia sekarang tengah tersenyum kecil.

Ding dong!

Saat mendengar bel berbunyi segera saja Ia berlari kecil, begitu membuka pintu berdirilah seorang pemuda yang mengulurkan satu kotak pizza. "Tanda tangan di sini, Tuan."kata pengantar pizza itu. Jongin mengiyakan setelah selesai Ia rogoh kantung celananya dan kosong. "Eh."koor Jongin. Ia berniat kembali masuk kedalam untuk mengambil dompet tapi Ia ingat ada Sehun disana.

"Sehun-ah!"panggil Jongin.

Agak lama hingga akhirnya suara Sehun terdengar. "Nde!"

"Ambilkan uang diatas lemari es, semuanya bawa saja!"

"Arraseo, Ahjusshi!"

Jongin melongo, "Dia masih marah'ya."gumam Jongin merasa geli.

"Keponakan Anda, Tuan?"tanya pengantar pizza itu.

Dan tak lama Sehun muncul dengan memegang uang 2 lembar uang ratusan ribu won.

Jongin menggeleng muram menjawab pertanyaan si penghantar pizza, Ia tersenyum saat Sehun didekatnya dan kini tengah mengulurkan uang itu pada pengantar pizza tadi.

Ku balas kau karena berani memanggilku ahjusshi, Ngehahaha!'Jongin tertawa bengis.

"Dia bukan keponakanku tapi orang gila yang tidak punya tempat tinggal, karena kasihan aku jadi menampungnya."ucap Jongin disertai wajah sok sedihnya guna mendukung kebohongan besarnya.

Mata pengantar pizza itu menyorot kagum. "Anda baik sekali, Tuan."kemudian tatapan kagum itu berganti prihatin saat memandang kearah Sehun. "Sayang sekali anak muda setampan dia sudah mengidap penyakit kegilaan."ujarnya sok tahu.

Sedangkan orang yang tengah dijadikan objek pembicaraan mengendikan bahu berpura-pura tidak peduli padahal hatinya dongkol setengah mati.

"Ini uangnya."ucap Sehun sembari memberikan uang itu pada si pengantar pizza.

Pengantar pizza itu menerima dan merasa uangnya berlebih Ia sudah menghitung uang kembalian. "Ini kelebihan beberapa Won, Tuan."

Sehun mendorong jauh uang kembalian itu.

"Pergilah, sisanya anggap saja tip untukmu."lanjutnya lagi dengan senyuman ala malaikat.

Pengantar pizza itu tertawa canggung, "Sepertinya yang gila itu bukan Anda tapi..."mata pengantar pizza itu beralih menatap Jongin.

Ck, baru kali ini Kim Jongin dibeginikan. Ehei, kalian tidak tahu saja Jongin itu sebenarnya jahil tingkat dewa. Jadi, jangan heran dia kelihatan kesal sekali ada orang yang bisa membalas bahkan membuatnya diam tak berkutik.

Bayi besar sialan.'inner Jongin merutuk pelan. Ekspresi wajahnya sudah berubah abstrak karena bercampur antara emosi dan ingin buang air kecil.

"pergilah bung sebelum ku jadikan kau samsak tinju!"ancam Jongin.

Pengantar pizza itu pergi terburu-buru. "Saya sarankan untuk pergi secepatnya dari sini, Tuan!"bisik pengantar pizza itu menyindir Jongin.

Sehun sih mengangguk cuek saja.

Jongin melotot galak. Pengantar pizza itu merinding ngeri dan berpamitan pergi pada Sehun. "Saya pergi, Tuan!"

"Hati-hati."kata Sehun kalem.

Ia menutup pintu dan meninggalkan Jongin yang masih berdiri dengan wajah dongkol. "Hei, Cheese!"

Sehun malas menjawab. Dia masih melangkah dan begitu sampai diruang tamu, Ia mendudukan diri disofa panjang dengan wajah datar.

Jongin menaikkan satu alisnya. "Ada apa dengan wajahmu?"tanya Jongin sambil ikut duduk tak jauh dari Sehun, disofa yang sama. Ia membuka kotak pizza itu sembari menunggu Sehun membuka mulutnya.

Kotak itu sudah terbuka seluruhnya dan menampakan satu pizza jumbo dengan toping keju juga irisan daging yang masih mengepul. Perutnya yang menjerit lapar didengar dan segera saja Jongin mengambil satu helai pizza itu dan digigitnya lebar. "Ummm, lezat."koor Jongin.

Sehun menoleh, meneguk ludah.

Jongin menoleh. "Kau mau?"tawarnya.

"Tidak."tolak Sehun susah payah.

"Serius!?"

"Nde."sahut Sehun pelan.

"Yakin nih?"Jongin kekeuh memaksa.

"Nde!"Sehun jadi agak jengkel makanya dia sedikit mengeraskan suaranya.

Jongin mendekati satu helai pizza yang baru saja diambilnya ke dekat wajah Sehun. "Benar-benar tidak mau?"

Gelengan lagi.

Jongin mengiming-imingi lagi.

Sehun mendengus, "Kalaupun aku mau, kau pasti tidak akan membagi."tuduh Sehun merendah diri.

"Tahu darimana?"cibir Jongin.

"Cuma menduga."

"Salah besar, aku tidak sepelit itu kok."kata Jongin.

Sehun memiringkan tubuhnya, Ia mengigit bibir dengan raut malu. "Jadi, boleh ya?"

Jongin mengangguk sekali. "Aku tidak akan marah hanya karena hal kecil. Hun-ah."mata hitam itu menyorot meremehkan. "Memangnya kau."sindir Jongin.

"Kenapa denganku?"

"Entahlah."cuek Jongin. Dia memilih menyibukan diri dengan pizza hangatnya.

Sengaja membiarkan Sehun meneguk ludah semenjak tadi.

"Mau?"

"Nih, buka mulutmu."

Sehun menurut tanpa berniat menolak ketika Jongin menyuapkan separuh pizza yang mana separuhnya sudah dilahap oleh Jongin terlebih dahulu. "Enak kan?"

Sehun mengangguk semangat. "Ini benar-benar enak."puji Sehun, pipinya menggembung dengan semu merah. terlihat senang sekali kala mengunyah makanan yang disuapkan oleh Jongin.

"Kau berapa hari tidak makan?"tanya Jongin pelan. Ia menyudahi memakan pizza itu. Memandang Sehun lebih menarik perhatiannya.

Sehun terlihat berpikir, "Aku makan dengan rutin."

Jongin memicingkan matanya, mencari kebohongan dimata cerah Jongin. Tidak ada apapun hanya mata yang menyorot teduh. "Lalu kenapa hal..."Jongin menarik ucapannya lagi. Hampir saja keceplosan.

Tapi, anehnya Sehun terlihat masa bodoh. Jongin malah makin gelisah karena Sehun tidak bereaksi sama sekali.

"Kau berbicara sesuatu, -hyung?"

Rasa lega mengisi hati Jongin. Ia merasa bersyukur sekali karena Sehun tidak mendengar pertanyaannya tadi. Well, Jongin rasa makanan memang bisa membuat orang lain lupa diri. Tidak terkecuali Sehun juga.

"Kau masih bersekolah atau kuliah?"

Tangan pucat Sehun terhenti, mengambang tak jauh dari helaian pizza itu. Matanya melirik kearah Jongin. Ia menarik jauh tangannya dari pizza itu lalu menunduk.

Jongin menghina dirinya sendiri sekarang. Bodoh Kim Jongin. Kau merasa masa lalu Sehun cukup buruk bukan, lalu kenapa kau menanyakan hal sensitif ini, huh!?

"Kalau kau tidak mau menjawab, tak masalah."Mata Jongin melirik jam dinding disebelah kiri atas lemari peralatan memasak.

Sudah jam 7 lewat. Waktunya berkerja. "Hun-ah."

"Nde?"respon Sehun masih menunduk.

Jongin menghela nafas pelan, pasrah saja melihat hal itu. Sehun jadi pasif lagi.

Pelajaran hari ini : Jangan tanyakan apapun yang berkaitan tentang masa lalu...-Sehun.

Setidaknyatidakdalamwaktudekatini.

"Aku harus berkerja. Kau bisa lakukan apapun diapartemenku tapi jangan diberantaki. Di sebelah pintu kamar tidurku ada ruangan kan?"

"Iya."tanggap Sehun.

"Disana ada banyak kaset game dan tumpukan komik. Kau habiskan waktumu disana. Kalau kau lapar telpon saja nomor yang tertempel dilemari es."

Sehun kini berani mendongak. "Aku bisa memasak."

Jongin tidak yakin, "Ah, masa?"

Sehun semakin mendongak dan berani menatap wajah Jongin lagi. "Aku tidak berbohong. Sungguh!"

"Lalu, kenapa tidak bilang?"protes Jongin. "Tahu begini aku tidak akan memesan pizza di saat sarapan."

"Kau tidak bertanya, ahjusshi."

Jongin melotot dan menarik wajah Sehun. "Berhentilah memanggilku seperti itu. Aku masih 25 tahun."

Sehun ber-oh saja dan kembali melanjutkan melahap pizza diatas meja kaca didekatnya. "Kau tidak makan lagi!?"

"Sudah kenyang."jawab Jongin sekenanya. Ia membawa tubuhnya berdiri, meregangkan tubuhnya barang sejenak dan menunduk untuk melihat Sehun yang begitu lahap menyantap pizza itu. "Aku akan mandi dan langsung berangkat."

Sehun menjilati jari-jarinya dan mengelapkan bekas jilatannya itu pada baju hitamnya longgarnya.

Jongin mendesis. "Iss, kau jorok sekali sih. Apa matamu katarakan, tepat didepanmu ada kotak tisu."

"Begini lebih cepat."

"Terserah."

Sehun menahan satu tangan sebelah kanan Jongin. Ia mendongak untuk mendapatkan perhatian Jongin. "Apa aku boleh ikut?"

Jongin langsung bilang..."Tidak, bocah. Aku berkerja dirumah sakit dan tidak akan punya waktu untukmu. Aku dokter, kay!"

"Ta-tapi, aku tidak ingin sendirian."

Jongin tersenyum, "Aku telfonkan Ahjumma Gho saja, bagaimana?"

Sehun menolak. "Tidak usah, lebih baik aku menunggumu pulang saja."

Jongin duduk lagi menuai wajah tanya di wajah tampan Sehun.

"Kenapa, kau duduk lagi. Berangkat saja aku akan baik-baik saja."dorong Sehun.

"Jangan berbohong. Jelas sekali matamu bilang 'jangan tinggalkan aku, Jongin-hyung' begitu."tebak Jongin tepat sasaran.

Tapi, si cheese itu lagi-lagi mengelak. "Kau sok tahu. Pergilah -hyung!"kali ini Sehun memaksa.

"Tidak ah."malas Jongin. "Aku bisa saja meminta izin dan aku yakin pasti di izinkan. Toh, Kepala rumah sakit memang menganjurkan padaku untuk libur sejenak sedari lama. Ku pikir aku akan menerimanya sekarang."

"Jatah libur?"tanya Sehun.

"Iya, lumayan cuti seminggu itu hadiah karena aku berhasil melakukan beberapa operasi besar dalam 1 minggu tanpa henti. Itu sekitar 3 bulan yang lalu. Jadi, berbahagialah, anak kecil yang manja!"

"uuukh, aku bukan anak kecil apalagi anak manja. Kenapa kau suka sekali mengolokku sih."

"Karena, aku ingin saja."

"Dasar tukang bully."

"Terimakasih atas pujiannya!"

Sehun mencibirkan bibirnya, "Itu bukan pujian!"

"Bagiku iya!"

"Tidak!"

"Iya!"

Sehun mengalah, dia mengalihkan wajah dan Jongin yang terkekeh bangga. "Ganti baju sana, kita akan jalan-jalan."perintah Jongin.

Mendengar kata jalan-jalan Sehun menoleh lagi, dengan mata berbinar yang tidak Ia sembunyikan. "Jalan-jalan?"ulangnya penuh harap.

Jongin terkekeh geli, telapak tangan besarnya mengacak asal rambut coklat madu milik Sehun. "Iya, Cheese."

"Apa yang harus ku lakukan agar kau tak memanggilku dengan nama itu."

Jongin mendesah, "Aku suka nama itu. Cocok untukmu, Cheese."

"Tapi, aku tidak suka."

"Sudahlah, Sehun-ah."putus Jongin. Dia berdiri lagi menuju kamar. "Aku mandi dulu, kay!"

Sehun yang lagi-lagi hanya mengangguk tanpa kata-kata.

.

"Menyenangkan. Aku tidak pernah senyaman ini dalam beberapa tahun ini. Terimakasih, Jongin-hyung."gumam Sehun disertai senyum manisnya yang tampan dan menyejukan. "Terimakasih, Tuhan. Aku sudah yakin bahwa sejak pertemuan itu...Kim Jongin akan memberi dampak positif dalam diriku."sambungnya masih terus meracau penuh rasa syukur. Dengan dua tangan yang menyatu didepan bibir merahnya juga mata yang tertutup.

.

Mau tahu bagaimana hati; Sehun?

Keras. Masih sekeras Es. Belum berubah tapi bukan berarti tidak akan berubah. Karena, Es akan mencairkan jika dipanaskan.

Ice will melted.

Hanya saja memang belum waktunya.

Perubahan perlu memakan waktu dan tak terkecuali hati yang dimiliki -Sehun.

.

.

.

.

.

MOONIE AREA! BACA BENTARAN AJA! ^_V

Ini Chapter 3.

Point Urgent! : Bagaimana menurut kalian, apakah moment Sehun dan Jongin terlalu cepat. Maksudku obrolan ringan yang mereka lakukan? Seharusnya memang sih ada kecanggungan karena mereka nggak saling mengenal selain cuma tau nama. Ehei, liat dari sudut pandang Sehun. Pasti kalian mengerti kenapa kedua orang itu bisa tampak berbicara santai tanpa saling menolak.

Intinya Sehun hanya ingin bereaksi dan Jongin sendiri memang punya niatan untuk merubah sifat pasif Sehun.

Point Urgent 2 : TERIMAKASIH BUAT RESPON KALIAN DIKOTAK REVIEW. ITU HEALING BANGET POKOKNYA! DAN WALAU NGGAK BALAS REVIEW KALIAN SEMUA TAPI AKU BACA REVIEW DARI KALIAN LOH, SEMUANYA!

Point 1 : Ehei, man-teman ingat anak 12 bulan yang Kim Jongin panggil 'Mini Kris'...aku ingin mengkonfirmasi itu bukan anak KrisKai. Tapi, anak orang tua Kris itu sendiri.

Kepanjangan nggak WORD-nya. Kalau iya aku pendekin deh. Takutnya yang baca keburu molor duluan sebelum selesai baca 1 chapter karena saking panjangnya. Ini 3000 lebih kata, nggak termasuk A/Nnya.

POINT UTAMA : INI ZONA KAIHUN! KAIHUN! KAIHUN! JANGAN ADA YANG NANYA LAGI, INI KRISKAI, OR CHANHUN! DAN BIASAKAN BACA CUAP-CUAP AUTHOR DULU SEBELUM PERGI! MAAF CAPSLOCK BIAR KELIHATAN!

Hei, Guys...Login ya,...review kalian ke pending loh kalau cuma jadi guest. Aku agak kaget sewaktu review baru masuk ditanggal 11 kemaren...sedangkan review itu tanggal 9 dan 10. Biasanya kalau kalian review hari ini ya hari itu juga masuknya tapi ini nggak. Jadi, saranku sih login! Ya, sebenarnya nggak masalah sih...hee hee.

Dan aku ketawa geli. Yang update 'Imperio tapi yang dapat review malah yang ini 'Ice Meet stone. Hahaha, aku mikir pasti review ke pending atau banyak yang nggak tahu kalau udah update.

Point 2 : Aku update saat tengah malam! Cuma ngasih tahu aja...hee hee...dan kalau ide jalan mengalir seperti sungai..3 hari update ini dan 3 hari update yang lapak sebelah alias Imperio.

.

Aria Ask you?

Review?

Masih mau kan?

Atau sembunyi?

Hahaha...terserahlah. yang penting Moonie sudah update.

Hak kalian untuk review atau tidak. Asalkan jangan menghina dua pangeran kesayangan kami saja; Kaihun.

See you in next Chapter. Ciao