Main Cast :
|Kim Jongin x (Marga (unknown) Sehun|
Other Cast :
| Park Chanyeol, Kim Minseok and Do Kyungsoo |
Warning :
| PERHATIKAN 'TAHUNnya' DISETIAP PERGANTIAN PARAGRAF |
Rating :
| M...ehei, rating ini dipakai nggak cuma karena scene seks! ^_ |
.
.
.
..—Selamat Membaca!"
.
.
.
Perumahan Gangnam.
Tahun 2008
Kyungsoo terlahir dikeluarga sederhana namun harmonis. Ibunya seorang guru dan Ayahnya berkerja diperusahaan ternama di kota besar bernama Korea Selatan. Ia tinggal di perumahan rapi dan bersih Di Gangnam.
"Dua hari lagi kita akan pindah."suara berat Ayahnya memecahkan keheningan.
"Tidak apa-apakan kau harus beradaptasi lagi?"suara hangat Ibunya menyapa lembut pendengarannya.
Kyungsoo mengangguk tanpa berkomentar.
Waktu itu jam 7 pagi dan Ayahnya selesai sarapan pagi, bangkunya bergeser dan pria tampan berjas rapi itu berdiri, memberi ciuman kening pada Ibunya lalu mengacak asal rambut darkbrown nya. "Ayah, berangkat dulu. Habiskanlah waktumu bersama teman-temanmu agar ketika pindah kau tak harus menyesal."
Kyungsoo mengangguk dalam diam dengan seulas senyum manis di bibirnya. "Hati-hati, Ayah."
Pria berjas hitam merah itu berjalan pergi, ditangan kirinya tergenggam tas jinjing berisi berkas penting serta laptop pribadi.
Terhitung 10 menit. Ayahnya telah pergi dengan mobil pribadinya.
Plak!
Wajah Kyungsoo tertoleh kekiri ketika tamparan keras itu didapatnya dari sang Ibu. Ini sudah terjadi hampir setiap hari. Dan Kyungsoo terlalu kebal untuk sekedar menangisi rasa perih dipipi kanannya.
Ketika tak ada sang Ayah dimanapun, Ibunya selalu menjadi wanita lain –ah tidak berkpribadian lain, matanya terpancar penuh kebencian. Atau wajah cantik itu bermuka dua, mengeluarkan sisi 'kelam' ini saat berdua saja dengan Kyungsoo.
"Kenapa kau berulah lagi."Ibunya bertanya tajam.
Kyungsoo menggeleng, dia enggan membuka bibir merahnya. Nafsu makannya menghilang dan dia beranjak pergi dari kursi makan.
Kyungsoo sayang Ibunya.
Plak!
Tamparan itu datang lagi kali ini lebih keras, Ia meringis karena itu. "Aku berangkat."Pamitnya.
Cekalan kuat menahan lengan kirinya, kuku panjang terawat wanita anggun itu melukai dan menyebabkan darah merembes dari kulit lengannya.
"Mau kemana kau!"
Kyungsoo meronta kuat. Usianya masih 10 tahun dan dia lemah.
Brak!
Tubuhnya terhempas dilantai yang dingin. "Aku sudah hidup nyaman disini tapi kau -kau selalu saja mengacaukan segalanya!"Suara itu kian meninggi, melengking tajam bersamaan dengan lemparan gelas kaca yang terbanting tak jauh dari tubuh terbaringnya diatas lantai.
Prank!
Beberapa serpihan mengenai jemarinya. "Isssh."Ia melenguh kesakitan.
"Sakit?!"
Kyungsoo bergerak mundur, dia berlari tanpa menengok lagi.
.
.
.
Dia menghilang dan tanpa kabar.
Selama perjalanan menghilangkan jejak hidup...Kyungsoo memahami bahwa sang Ibu begitu membenci dirinya.
.
.
.
Seoukha Highschool
Tahun 2014
Dum! Dum! Dum!
Pemuda berkulit putih pucat itu memutar tubuhnya, menggiring bola orange yang Ia dribble dengan leluasa, menghindari satu pemuda yang menghalanginya dan melompat setinggi-tingginya hingga bola orange itu masuk ke dalam ring basket dengan mulus.
Shoop!
Bruk!
Pemuda lainnya langsung membaringkan tubuhnya diatas lapangan basket dengan keringat yang membanjir, "Hosh, hosh. Sialan Hun, kenapa kau selalu menang padahal tinggi badanmu dibawahku beberapa senti?"ujar pemuda yang tengah terbaring atau persingkat saja Chanyeol. Wajahnya merengut kesal dan bertanya-tanya.
Sehun mendudukan diri didekat Chanyeol, pemuda berkulit pucat tadi memang Sehun. "Karena kau tidak pernah berusaha."ucapnya kalem. Ia tengah memijat kaki kanannya. "Issh, masih saja sakit."gumam Sehun yang masih bisa didengar oleh Chanyeol.
"Memangnya kakimu kenapa?"tanya pemuda itu sambil merubah posisinya untuk duduk. Ia melirik kearah Sehun yang menunduk dengan tangan kanannya yang masih sibuk memijat kakinya sendiri.
Lama Sehun terdiam dan Chanyeol setia menunggu, mereka selalu seperti itu Sehun memang super cuek lalu Chanyeol bukan tipe pemuda yang nyalinya langsung ciut walau digimanakan oleh Sehun. Mau dihina, disumpahi dan ditindas oleh Sehun, si tampan pemilik senyum kekanakan itu pasrah saja karena entahlah dia hanya melihat kesepian dimata Sehun...dan itu adalah salah satu dari sekian alasan dia tetap bertahan disamping pemuda berkulit pucat ini walau harus makan hati hampir setiap saatnya.
"Aku terjatuh dikamar mandi."
Chanyeol meringis, "Kau ceroboh sekali. Ckck."
Sehun melirik malas dan semena-mena memukul bahu Chanyeol cukup keras.
Bugh!
"Aduh, kau mulai anarkis lagi!"jerit Chanyeol agak kesal.
"Hmm."
Mata Chanyeol memutar malas, "Sehun berubahlah, apa kau masih sariawan? Kita sudah berteman selama 1 minggu dan kau masih saja berbicara seperti orang asing denganku."papar Chanyeol sedikit mengeluh dan juga terdengar agak mellow. Ciri khasnya dan Sehun meskipun terlihat tidak pernah memperdulikan apapun yang Chanyeol lakukan, kenyataannya dia tetap menyimpan setiap kebiasaan Chanyeol dalam memorinya.
Mulai dari yang terburuk sampai yang paling jorok. Ada sih sisi baiknya, tapi Cuma satu yaitu saat dia tertawa lepas. Bagi Sehun, suara tawa Chanyeol itu enak didengar karena seolah tak ada beban dari suara tawa Chanyeol dan jujur saja mendengar suara tawanya selama hampir 1 mingguan ini, beban Sehun sedikit terangkat dan walau beberapa saat masalah hidup yang Ia pinggulpun mulai berkurang walau tidak benar-benar hilang. Tidak ada yang instan didunia ini, itulah yang Sehun tetapkan dalam hati juga pikirannya.
"Dengar ya, lidahku ini normal dan aku tidak sariawan! Ogeb!"
"Yang bilang lidahmu tidak normal, siapa sih!? Aku cuma minta kau lebih banyak bicara denganku seperti teman sebaya, bukannya berat sebelah begini, bego! Dan Kau tahu tidak?"
"Tidak."sergah Sehun cepat.
Chanyeol menggertakan giginya gemas, "Dengarkan dulu!"serunya agak menjerit.
"Hmm."
"Usiamu sama denganku tapi pola pikirmu seperti om-om."
Wajah Sehun mengkeruh, "Pikiranmu saja yang terlalu bocah."
Chanyeol makan hati lagi nih, diakan hanya ingin Sehun bertindak sesuai usianya tapi kenapa Chanyeol selalu saja dihina. "Kau itu menyebalkan."
"Aku belajar darimu."sahut Sehun ringan, dia tiba-tiba berdiri dan memungut bola basket yang tak jauh dari kakinya. Ia mendribble bola basket itu lagi dan melakukan threeshoot dari garis layer.
Shoop!
Dan itu langsung berhasil dalam sekali coba.
"Wah, wah! Threeshoot yang mengagumkan, dude!"seru sebuah suara dari arah pintu utama gedung auditorium tersebut. Sehun dan Chanyeol bersamaan menoleh kearah sumber suara dengan wajah bertanya-tanya.
"Maaf, apa kami mengenalmu?"
Sosok itu mengelengkan lehernya disertai senyum tampan. "Tentu saja tidak karena aku baru saja disini selama 1 hari."jawab sosok itu.
Sehun mengendikan bahunya, tidak begitu peduli. Namun, berbeda dengan Chanyeol yang bereaksi. "Kau anak baru, murid kelas berapa?"
"XI-III."Jawab sosok itu. Ketika tubuh sosok asing itu sudah berada dihadapan Chanyeol, satu tangannya terulur dan disambut dengan senang hati oleh Chanyeol. "Aku Kim Minseok."
Chanyeol mengangguk disertai senyuman kekanakannya. "Aku Park Chanyeol, panggil Chanyeol saja."
Minseok balas tersenyum dan menarik tangannya menjauh lalu beralih memandang kearah Sehun yang masih sibuk memasukan bola basket itu kedalam ring tanpa jeda. "Dia siapa?"tanyanya kepada Chanyeol.
"Oh, dia. Pacarku."jawab Chanyeol dengan cengiran konyolnya.
Sehun yang bersiap memasukan bolanya entah yang keberapa itu secara sengaja melemparkannya kepada Chanyeol dan dia harus menelan rasa kesal begitu melihat Chanyeol dapat menangkap lemparan terlatihnya itu dengan gerakan mudah.
Sehun memelototkan mata. "Ck, jaga ucapanmu."desis Sehun sarat akan ancaman kasat mata, membuat Chanyeol selaku pelaku utama hanya bisa tertawa canggung.
"Hahaha, aku cuma bercanda. Dan My Sehun-Baebae, eeh iya ampuuun –"jerit Chanyeol segera menundukkan wajah guna menghindari kaki Sehun yang sudah siap menendang kepalanya.
Minseok terkekeh melihat interaksi keduanya yang terbilang unik. Sering sih melihat yang pertengkaran antar teman tetapi yang begini hampir-hampir tidak pernah. "Jadi namamu Sehun, aku Kim Mins –"
"Minseok. Iya, iya...aku tidak tuli."potong Sehun cepat dan terkesan sinis.
Minseok membulatkan bibirnya, paham. Mata bulatnya melirik kearah Chanyeol, "Bisa temani aku keliling sekolah ini?"pintanya kepada Chanyeol.
Orang yang diajak berbicara sempat mengerjapkan mata kaget, satu telunjuknya bergerak bergantian dari Sehun lalu kearah wajahnya sendiri. "Kau meminta itu kepadaku atau pada Sehun?"
"Kurasa lebih aman bersamamu."Kata Minseok tenang.
Sehun menarik tangan Minseok, "Denganku saja."
"Um, ok. So, Chan...sampai nanti."pamit Minseok sedikit berseru dari ambang pintu.
"Kay, Minseok! Ciao!"
Chanyeol yang ditinggalkan begitu saja hanya menggaruk wajahnya, bingung. "Tumben."namun setelah itu dia memilih untuk tidak memikirkan hal itu lebih lanjut dan segera ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh berkeringatnya. sialnya, dia super kepo akan sikap agak 'aneh yang ditunjukan Sehun tadi, ketika Minseok datang dan mengajak mereka bicara, dan saat dia berbicara dengan Minseok tadi. Lalu...ah lupakan.
"Apa dia cemburu?"
Chanyeol terbahak sendiri akan pemikirannya barusan, "AHAHA, Tidak! Tidak! Mana mungkin, euuuh...ini lucu! Pemikiranmu menggelikan, Chanyeol."pemuda kelebihan kadar ketampanan itu memukul jidatnya sekali lalu sosok menghilang dibalik pintu kamar mandi dan detik berikutnya terdengar suara shower serta nyanyian-nyanyian sok asyik dan tidak jelasnya.
.
.
.
Pukul 20.08 waktuKst.
Sehun POV
Malam itu berlalu seperti hari-hari yang telahku lewati. Hanya dimalam hari saja aku bisa rehat sejenak dari; profesiku.
Kini Aku tengah menyamankan diri diatas kasur King Sizeku dalam posisi menelungkup dengan gadget canggih tergenggam diantara ke-10 jemariku. Iseng, mencari berita terbaru atau mencari-cari senjata ampuh yang sekiranya bisa membunuh seseorang tanpa perlu repot-repot menyentuh si target.
Pistol memang bisa dijadikan senjata, pedang juga, ataupun panah. Semuanya sudahku masukan ke daftarlistdengan judul yang Ku tulis di aplikasi Memo gadgetku, berbunyi; SENJATA AMPUH PEMBUNUH SI PAMAN-BASTARD-KIM.
Brak!
Keisenganku yang tengah menscroll salah satu blog berjudul 'Cara membunuh orang dengan mudah, simple dan tak perlu memakan waktu lama' harus terhenti ketika pintu kamarku dibuka keras secara semena-mena oleh Paman-bastard-Kim itu.
"Wohoo, santai Uncle Kim. Pintu itu baru saja diganti setelah kemarin kau hancurkan, itu yang ke-7 atau yang...–"
"AKU TIDAK PEDULI, BO –"
"Ah, iya!"seru Sehun riang, setelah berhasil mengingat hitungan yang benar. "Yang ke-20."
Paman Kim, melemparkan beberapa lembar foto berukuran 4x6 cm tepat diatas kasurku dan setengah niat ku pungut satu lalu menatap lekat-lekat seseorang didalam foto itu. Satu kata; Tampan.
"Wajahnya menarik."kataku jujur.
Paman Kim, mendekat dan duduk disamping kiriku. Mata tajamnya memandang lantai kamarku. "Dia Kim Jongin. Adikku."
"Hah?"aku sengaja berlagak tuli. Karena, aku ingin memastikan apakah suara Paman Kim benar-benar bisa selembut dan separau itu.
"Kau mendengarnya dengan baik, Gaki (anak kecil)!"
Bibirku mencibir saat mendengar suara beliau menjadi sengak dan galak lagi. "Iya, Iya. Apa dia targetku, boleh saja karena dia tampan."ucapku sedikit berujar dengan suara riang.
"Dalam mimpimu, Gaki (anak kecil)!"
"Lalu, apa maksudmu menunjukan foto ini kepadaku?"tanya Sehun penasaran tetapi tidak menunjukan secara langsung, dia harus berhati-hati ketika berinteraksi dengan pria ini atau tidak salah-salah dia akan dihajar lagi dengan; omelan 3 jam tanpa jeda iklannya.
Aku kembali menatap foto yang masih ku pegang, tak jua mataku berkedip, aku terpukau akan ketampanannya yang unik. Nampak bercampur dengan wajah orang-orang Jepang kebanyakan yah meski wajah koreanya masih lebih kental.
Sehun End POV.
.
"Kalian kakak-adik?"tanya Sehun lagi.
"Kau itu kapan terakhir kali membersihkan telingamu?"tandas pria itu sarat akan kedongkolan. Bukankah dia sudah mengatakan bahwa sosok dalam foto itu adalah adiknya; adik kandungnya.
"Tapi, kalian tidak mirip."cecar Sehun kelewat santai.
Plak!
"Ouch!"keluh Sehun sambil menggosok jidatnya yang baru saja jadi korban tamparan. "Itu tidak pelanloh."dumel Sehun. Meski suaranya terdengar marah, toh anak kecil itu kembali menatap foto milik Kim Jongin. "Ngomong-ngomong, kapan kau mengambil fotonya. Dari warnanya yang lumayan pudar, ku rasa ini sudah cukup lama?"tanya Sehun ingin tahu, mengabaikan jidatnya yang masih terasa nyeri.
"Itu ku ambil saat usianya masih 16 tahun."mata hitam Paman Kim melirik dingin kearah Sehun yang tengah menatap foto itu tanpa berkedip sama sekali. Diam-diam bibir tipisnya menukik kekiri, ada sorot mata geli yang tergambar dalam dua mata hitamnya.
Sudah ku duga kau akan langsung tertarik dengannya, aku mempercayai Kim Jongin untukmu...dan aku harap kau tidak mengecewakanku, Gaki (anak kecil)'Paman Kim membatin penuh harap.
"Bersiaplah, kita akan datang ke perayaan festival tahunan di Balai Kota."
Ah, kerja lagi. Tidak peka ya si Paman Kim ini, dia tidak tahu atau berpura-pura tidak peduli, betapa mati rasanya tubuh Sehun saat ini, "Aku tidak mau. "tolak Sehun cepat.
"Maka kau akan menyesal karena ini mungkin bisa jadi kesempatan terakhirmu untuk bersenang-senang."
Mata bulat tajam itu membola karena kaget, serius?
Kau tidak salah dengar kok, Sehun-sshi.
Apa si penjahat-super-keji ini berniat mengajakku jalan-jalan, merefresh otak. Ehei, terbentur apa kepala berisi money-moneynya ini?
Ya, memang benar.
Jangan terlalu senang, Sehun. Tetaplah waspada.'Batin Sehun.
"Kalau begitu aku ikut."
Dasar bocah, tetaplah seperti ini...agar kemampuan membunuhmu tertutupi dengan baik'pria itu kembali membatin dan tak lelah mengiringi setiap perkataanya dengan sebuah 'harapan.
Ya, sebuah 'harapan' kecil yang Ia serahkan secara tidak langsung pada pemuda polos dengan kemampuan bertarung dihadapannya ini.
.
.
.
...Masa sekarang...
Seoul, Korea Selatan
Tahun 2018
Sekitar 30 menit Sehun menunggu Jongin dan penantiannya berakhir saat tubuh tinggi dan proposional itu muncul dari balik pintu dan kini tengah berjalan kearahnya. Dengan seulas senyuman tipis. "Apa lama?"
Sehun menjawab dengan anggukan serta raut innocent naturalnya.
"Sorry, kau tidak ganti baju?"tanya Jongin sembari mendudukan diri disamping Sehun setelah mengambil sepasang sepatu dari lemari kecil yang memang dikhususkan untuk tempat-tempat sepatu yang diletakan pada salah satu sudut ruang tamunya.
Sehun memandang Jongin yang tengah mengikat tali sepatunya, "Apa aku boleh memakai bajumu yang lain?"
Sejenak Jongin menghentikan kegiatannya untuk memandang Sehun, "Kenapa tidak. Kita tidak hanya jalan-jalan saja tetapi aku berniat mengajakmu membeli beberapa baju."
Dua kelereng hazel itu menyorot penuh tanya, "Untukku?"
Jongin mengangguk dan tak lupa tangannya yang sibuk mengacak rambut madu milik Sehun. "Tentu saja, Cheese.'
Bibir bawah Sehun mencebik, "Kau mulai lagi'hyung."gerutu Sehun.
"Sudahlah, cepat ganti bajumu sana!"
Namun, Sehun terlihat enggan. "Aku nyaman dengan baju ini."
"Jangan membantah, Cheese."
Sehun mendengus dan berbalik pergi menuju kamar Jongin.
.
Huh, dasar Kakak dan adik sama saja.. sama-sama tukang perintah... 'gerutu Sehun dalam pikirannya.
Saat tubuh putihnya telah berada dihadapan lemari Jongin, segera Ia pilah dan memutuskan untuk memakai T-shirt berwarna biru gelap dan celana jeans berwarna abu-abu dan sengaja dia padukan dengan syal berwarna coklat tanah yang Ia lingkarkan pada leher jenjangnya.
"Ku rasa ini sudah bagus."gumam Sehun setelah memperhatikan penampilannya pada cermin fullbody yang memang dekat dengan lemari baju milik Jongin.
Merasa puas dengan pilihan bajunya segera saja Sehun kembali ke ruang tamu, dimana Jongin tadi menunggu.
"Well, not bad. Ternyata kau punya selera pada sesuatu."komentar Jongin saat Sehun sudah berdiri dihadapannya dengan penampilan lain. "Simple tapi keren."
Mata Sehun mengerling malas. "Aku tidak butuh pendapatmu, kau bukan seorang juri yang harus menilai penampilanku."tukas Sehun sedikit membumbui suaranya dengan nada menyindir. "Jadi tidak sih?"
Pemuda matang dan memiliki karier luar biasa diusia mudanya itu hanya balas terkekeh. "Kau tidak sabar sekali, sebegitu inginnya berkencan denganku, hmm? "
"Uukh, Kau terlalu percaya diri!"tandas Sehun sedikit berseru. Padahal wajahnya sudah dihiasi warna merah menggemaskan, alhasil malah membuat Jongin tertawa geli.
"Gihihi, Lihatlah reaksimu. Tanpa perlu ku jelaskan, kau menunjukkan antusiamemu tanpa perlu ku paksa."Jongin sepertinya semakin suka saja mengganggu Sehun.
Lalu Sehun, hanya bisa bersabar diri saja. "Tidak tahulah. Sebaiknya kita berangkat sekarang saja."
"Iya, Cheese. Sabar."ucap Jongin. Dia mengambil dompet dan ponselnya yang sengaja Ia letakan tadi diatas meja kaca tepat didepannya, menyimpan dalam kantung jaket kulitnya. "Karena mobilku sedang dibengkel. Jadi, Kita akan jalan kaki dan mencari taksi sekitar 100 meter maka baru kita menemukan taksi, tidak apa-apakan?"
Sehun menjawab dengan anggukannya.
Jongin tersenyum lega, Ia pikir Sehun akan bersikap manja tetapi nyatanya tidak. Hmm, Jongin menyimpulkan bahwa Sehun hanya pendiam dan pasif ketika berinteraksi saja sementara secara perilaku dia lebih mengarah sebagai; anak mandiri. "Well, ayo berangkat dan bersenang-senang."kata Jongin kelewat riang dan entah sengaja atau tidak, pria tampan itu menautkan jemarinya dengan milik Sehun.
Reaksi Sehun, dia hanya bisa mengunci mulut dan menikmati apapun yang Jongin lakukan sebaik mungkin.
Karena, serius... Sehun sama sekali tak ingin melewati setiap momen yang Ia lalui saat bersama Jongin; orang yang selama ini Ingin Ia jadikan peraduan terakhirnya.
.
.
.
Pukul 19.50 waktu KST.
Tahun 2018
Bar 'Kaneki'
Bar ini beroperasi sudah lebih dari 5 tahun dan paling terkenal diwilayah Seoul, terutama bagi penghuni dunia bawah. Pemuda bermata belo, berbibir dengan bentuk hati yang dikenal dengan nama Kyungsoo; sudah sadar segala resikonya, Ia bukannya bertahan disana tapi dia sudah terikat kontrak selamanya dan mau tak mau, susah senang dia harus berkerja disana dengan mempertaruhkan nyawanya yang cuma 'satu.
Malam ini lebih ramai, penyebabnya karena salah satu penghuni dunia bawah berkunjung, dikenal sebagai Geng 'Kei' yang diketuai oleh pria berjenggot dengan tubuh besar, bernama; Abrion.
Kenapa Ia bisa tahu, simple saja karena dia punya telinga dan masih sehat untuk dipakai, jadi meski dia tidak sudi mendengar mereka berbicara, dia tetap saja akan tahu.
Sebenarnya 'shift' Kyungsoo hanya sampai jam 5 sore tetapi teman kerjanya sedang ada urusan yah sialnya Kyungsoo harus pasrah menjadi pengganti sementara teman kerjanya itu.
"Tuan, pesan 1 soda."
Reaksi Kyungsoo ketika mendengar suara berat itu adalah dengusan geli, dia selalu berbicara apa adanya. "Ini Bar bukan Kafe."kata Kyungsoo to the point.
Sosok yang memesan itu langsung menunduk dengan wajah malu, "Emm, aku tidak biasa minum."
Kyungsoo menaikan satu alis, "Lalu, untuk apa masuk ke dalam sini?"
Jujur saja, Kyungsoo terheran. Tumben sekali dia sudi menjawab omongan para pelanggannya. Padahal biasanya Ia akan lebih memilih mengangguk atau tak bereaksi sama sekali kecuali ada yang memesan minuman kepadanya.
Pria itu awalnya ragu tapi tiba-tiba dia banyak bicara. "Aku baru saja putus dari pacarku dan dipecat dari perkerjaanku."
"Oh."Tanggap Kyungsoo tak peduli.
Abaikan saja, Kyungsoo. Pikir Kyungsoo pada dirinya sendiri.
"Aku tidak punya teman dekat."Si pria pemilik suara husky dan berat itu terus berbicara meski Kyungsoo sudah memasang wajah tidak peduli.
"Rasanya mau mati saja."
"Ya mati saja."Komentar Kyungsoo, lagi-lagi frontal.
Pria itu mengangguk lemah, tidak ada wajah tersinggung barang sedikitpun dan cukup membuat Kyungsoo menatapnya; tertarik. "niatku begitu tapi aku tidak punya keberanian."Entah hanya perasaan Kyungsoo atau suara pria itu benar-benar menyedihkan.
"Pacarmu, ah atau mantan ya?"
Pria itu menaruh wajahnya diatas meja bartender, tidak memandang kearah Kyungsoo tetapi terpejam dengan posisi wajah yang terarah kiri membuat helaian merahnya terjatuh diatas meja. "Mantan dan pengkhianat. Aku sudah membiayai kehidupannya setelah orang tuanya meninggal, dia seperti duniaku tapi dia malah menikahi pria lain dan dia berkata bahwa aku hanyalah seorang kakak dimatanya. Uuukh. Aku benar-benar bodoh."Pria itu memukul kepalanya secara mendadak dan tidak pelan sama sekali karena bekas pukulannya menyisakan bercak 5 jari dengan warna merah mentereng.
Kyungsoo sempat meneliti penampilan pria itu sembunyi-sembunyi sementara tangannya tidaklah diam karena dia sibuk meracik minuman paling ringan yang sekiranya bisa diminum oleh pria 'patah hati' itu.
"Dan aku rasa kau baru saja menjadi pendamping pria untuk gadis itu?"
"Kau benar."
"Kau sial sekali. Kenapa tidak kau bunuh saja dia?"
Pria itu langsung mendongak dan menegakan tubuhnya disertai wajah tak suka. "Mana bisa aku membunuh gadis yang aku cintai."Desis pria itu, jelas marah.
Namun, ekspresi itu tidaklah membuat Kyungsoo merasa terancam malahan dia sedang memasang raut wajah datar. "Aku tidak bilang 'gadis'mu itu tetapi yang ku maksud adalah pria yang dicintainya."
"Tidak, aku tidak mungkin merenggut nyawa pria yang dicintai gadis yang ku cintai. Dia pasti akan membenciku."
Kyungsoo diam saja setelah mendengar itu setelah berkata. "Terserah."
Tangannya menyodorkan gelas panjang berisi cairan biru yang langsung diteguk kasar oleh pria itu. Saat telah tandas, pria itu menyerahkan lagi kepada Kyungsoo.
"Tambah."
Kyungsoo menggeleng, "satu saja cukup untuk membuatmu tidur."
Alis pria itu bertautan, "maksudmu?"
Brak!
Bibir Kyungsoo tertarik kekiri, menyeringai tajam. "Johnny, bawa dia keatas."
Satu pria bersetelan hitam-hitam menggendong tubuh pria itu menuju tangga. Mata hitam Kyungsoo teralih pada keramaian 'Dance Floor'. Bibirnya masih saja menyeringai, "Kau akan tertawa setelah ini. Park Chanyeol."
.
.
.
Seoul, Korea Selatan
Pemakaman Umum
Tahun 2014
Seorang remaja lelaki atau yang kerap kali dipanggil oleh orang-orang dikenalnya sebagai Sehun kini tengah menatap rindu kepada sebuah nisan yang bertuliskan 1 nama, Oh Jongsuk; nisan sang Ayah.
"Hai Ayah. Aku kangen masakanmu. Kasih sayangmu, senyuman hangatmu, nyanyianmu, pokoknya semua yang ada pada Ayah."katanya lirih sembari mengelus pahatan nama Ayahnya. "...Kau tahu, Aku sudah bisa mengendarai sepeda dan bahkan bisa menggunakan motor. Tahu tidak, latihan keras yang kau berikan sangat berguna untukku. "bibir remaja lelaki itu mulai bergetar, suaranya tercekat.
Dia membenahi rambutnya dan membenahi kemejanya yang berwarna hijau lembut dengan 2 kancing didepan dada. Dia menarik nafas berat lalu menghembuskannya bersamaan dengan bulir bening yang sudah mengalir dari kedua sudut matanya, kini sorot mata itu menerawang jauh kedepan. "Aku hidup dengan baik bersama Paman Kim si rentenir sialan itu. Dan terkadang aku juga berkunjung ke rumah Paman Oh dan bibi juga 2 keponakanku yang sudah mulai beranjak dewasa, usia mereka 14 tahun. Mereka sangat baik padaku."
'Kau sekedar menumpang disini, jangan belaga.'
'Semenjak Ayah mu meninggal ini sah menjadi rumah kami, Sehun'
'Aku benci paman, kau merebut Kahi dariku.'
'Paman sangat cerewet, aku tidak suka'
Sehun mencengkram rumput didekatnya dengan mata yang bergerak gelisah, berusaha menghapus bayang-bayang wajah murka dan benci yang diarahkan kepadanya dari paman, bibi, juga 2 keponakannya. "Aku selalu mengunjungi rumah mereka walau aku sekarang masih menetap dirumah Paman Kim, ya si Rentenir sialan itu masih lebih baik dari adikmu, Ayah. Pria sialan itu, meski hanya tahu uang saja...tetapi, setidaknya dia tidak merecoki diriku dengan umpatan-umpatan menyakitkan."
Sehun masih berdialog dilingkungan yang jarang dikunjungi oleh orang-orang itu, "Ah, tidak..Ayah. aku tidak membenci adikmu, Oh Jongrim. Aku menghormati paman serta Bibi Oh Hanra, bahkan dua keponakanku Jinyeol dan Ahrin."
'anak kecil sial, semenjak kau dilahirkan. Ayahmu terpaksa meminjam uang untuk memajukan perusahaanya. Padahal sebelum kau lahir, dia tidak harus berkerja sekeras ini. Lihatlah, karenamu kakakku harus mati...pembawa sial.'
'Kenapa tidak kau saja yang mati, kami muak melihatmu'
'Jangan sok akrab, kau bukan paman kami. Sehun itu sudah mati buat kami.'
'Pergi sana, jangan dekat-dekat Ahrin.'
Dia menggeleng keras, mencengkram wajahnya dengan raut linglung. "Mereka baik padaku, sangat baik. Aku menyayangi mereka begitu juga sebaliknya, ya benar.. mereka menyayangiku –pasti"
'KELUAR DARI RUMAH INI!'
'MATI KALAU PERLU!'
'PEMBUNUH!'
"No –no, aku bukan pembunuh."Sehun meracau sembari menutupi telinganya begitu kuat berusaha menghalau semua teriakan-teriakan dari kepalanya yang mengusik setiap saat ketika hatinya merasa lelah.
.
.
.
Seoul, Korea Selatan
Unknown Place
Tahun 2018
"woah~"
Seulas senyum lebar muncul dibibir Sehun. Pemuda itu terlihat kagum dengan apa yang ada dihadapannya saat ini. Ia melirik kearah Jongin, "Tempat apa ini. Indah dan sangat sejuk, bagaimana bisa bunga dan pepohonan bisa tumbuh sesubur ini?"tanyanya penasaran.
Jongin jadi gemas, karena suara Sehun ketika bertanya benar-benar seperti anak kecil, mata hazel itu memancar antusias dengan uraian senyum kagum yang belum juga hilang. Jujur saja, Jongin sama sekali tidak menduga kalau reaksi Sehun akan sesenang ini. Ayolah, ini hanya sebuah padang rumput yang ditumbuhi banyak bunga liar yang tumbuh subur dengan pepohonan rindang mengelilingi. "Aku menamakan tempat ini, Secret Paradise. Tempat rahasiaku."
"Ah, begitu. "sahut Sehun. Lalu mata hazel itu kini beralih lagi menatap hamparan bunga liar warna-warni dihadapannya, "Ini tempat yang menakjubkan."
"Ini hanya kumpulan bunga-bunga liar, Cheese."
"Aku suka bunga, mereka indah apalagi bunga mawar biru ini. Mengingatkanku pada Ay -eum, apakah aku boleh mengunjungi tempat ini sewaktu-waktu."
Tangan besar Jongin mengacak rambut berwarna coklat madu milik Sehun. Ada senyum kecil dibibirnya. "Ini menjadi tempat rahasiamu juga sekarang. Berjanjilah, tidak akan memberitahukan ini pada siapapun. Kau mengerti?"tukas Jongin tegas dan menuntut seperti biasa. Sambil menahan diri untuk tak menanyakan kata-kata yang di potong oleh Sehun secara sengaja baru saja. Jongin sadar dia hanya orang asing dalam mata Sehun.
"Aku tidak bisa bilang tidak, kau lebih jago memaksa orang untuk berkata 'Iya'entah apapun masalah itu."
Sehun berlarian mendekati bunga-bunga itu, dan menghirup salah satu bunga tulip dengan Jongin yang mengikutinya tanpa berkata sampai tak sengaja mata Jongin terjatuh pada leher bagian belakang Sehun, ada sebuah luka sayatan disana, dan dilihat dari bekasnya itu sudah cukup lama.
"Cheese?"
"Hmm?"Sehun menoleh saat Jongin memanggilnya. Walau masih kesal dipanggil begitu toh dia bisa apa, lagipula panggilan itu tidak buruk juga.
"Kau tau tempat ini adalah tempat rahasiaku juga kakakku."
Deg!
Jantung Sehun serasa akan copot mendengar itu tetapi sebisa mungkin dia tak bertindak gegabah atau mencurigakan. "Benarkah, lalu dimana dia sekarang?"tanya Sehun sembari menatap bunga tulip merahnya sebagai pengalihan.
Ada satu tarikan nafas dalam terdengar dan entah kenapa Sehun merasa Jongin sedang bersedih.
"Entahlah, aku kehilangan jejaknya semenjak usiaku 16 tahun. Dengar Cheese, aku tidak mengapa tetapi ku rasa akan ada waktu aku akan menjadi benar-benar jahat. Jadi, ku harap disaat waktu itu datang... Pergilah sejauh mungkin."
Sehun bergeming, hatinya bergemuruh. Ada perasaan takut yang mulai melingkupinya, ini aneh.
Dan Sehun tidak suka sensasi ini. "Jongin-hyung, aku tidak kapan itu datang. Tetapi, meski itu datang didetik inipun maka jawaban ku... Tetap tinggal."
Mata Jongin melebar sedetik untuk kemudian menyipit dengan bibirnya yang menarik senyum lebar. "Ini akan mudah kalau kau menjawab 'ya, Jongin-hyung aku akan pergi jika itu yang kau mau', tapi memang kau ini."diakhir Jongin hanya bisa menggeleng-gelengkan lehernya tak habis pikir.
"Lalu ini, kenapa luka sebesar ini ada pada tubuhmu?"tanya Jongin, matanya menyorot penuh tuntutan dan Sehun membenahi kerah T-shirtnya gugup.
"Ini...umm-"
"Ya?"
"Ini bekas luka ka.. "bibir bawahnya sudah digigit-gigit dengan mata yang bergerak gelisah.
"Berbicaralah dengan benar, Cheese."paksa Jongin lembut. Dia memperhatikan setiap gerak-gerik Sehun dan menghela nafas begitu menyadari ada sesuatu yang lagi-lagi dirahasiakan oleh Sehun.
Pada akhirnya Jongin tersenyum maklum dan berkata pelan, "Kalau memang berat untuk mengatakannya karena kita baru saling mengenal maka aku akan menunggumu sampai kau siap dan... jadi, jangan berani pergi dariku sebelum kau mengatakan rahasiamu, kay!"papar Jongin sembari mengacak pelan rambut Sehun. "Ini resmi, aku akan mengacak-ngacak rambut sebagai terapi dariku."
Sehun benar-benar lega dan mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Jongin, tanggapan yang Sehun berikan adalah aneh. Ehei, Sehun...Jongin memang seperti itu jadi sekarang atau nanti mulailah biasakan dirimu dengan segala keanehan yang dimilikinya. "Sesukamu saja'hyung."sahut Sehun cuek.
Jongin manggut-manggut dan berbalik juga tak lupa menarik bagian kerah belakang Sehun.
"Hei, hei... apa-apaan ini. Sakit'hyung!"protes Sehun.
Kemudian Jongin memutar tubuh Sehun dan lagi-lagi menautkan jemarinya dengan milik Sehun. "Kita ke Lotte World dan ayo bersenang-senang!"seru Jongin dengan suara beratnya yang ringan dan dipenuhi keceriaan.
Well, Sehun jadi tertular. "YEI, NAIK ROLLEL COASTER!"pekik Sehun tak kalah ceria.
Jongin menatapnya, "Kau saja sendiri yang naik itu."katanya dengan suara sinis.
Sehun tersenyum jahat, "Kau takut ya'hyung. Hiii, dasar pengecut. Masa kalah sama anak muda sepertiku, malu sama umur'hyung!"
Jongin mendelik dan berpura-pura memiting leher Sehun. "Apa katamu, bocah! Minta ku bunuh ya, hmmm!"ancam Jongin.
Sehun menanggapi dengan tawa ringan, "hahaha, dasar om-om shinigami!"
Jongin semakin intens memiting leher Sehun, melingkarkan lengan kanannya pada leher Sehun sementara tangan kirinya mengelitiki perut Sehun.
"Hahaha, ampuun'hyung. Ini geli, yak! yak!"
Jongin tertawa puas saat melihat Sehun tertawa karena rasa geli. "Rasakan makanya benahi mulutmu, sopanlah dengan yang lebih tua, bocah!"
Sehun mendorong tangan kiri Jongin, nampak berusaha menghindari tangan jahil itu. "Jebbal, Jongin-hyung. Ini geli, sungguh! hahahaha?!"
"kekeke, berjanji dulu jangan memanggilku om-om."
"iya-iya, aku janji!"jerit Sehun. Dia sudah tak tahan rupanya.
Jongin mendengus dan melepaskan tubuh Sehun. "hahaha, aduh. Tanganmu mengerikan'hyung. Dasar ahjussi bulukan!"
Mata Jongin melotot dan mulutnya ternganga. Apalagi saat Sehun memeletkan lidah lalu berlari menjauhinya. "Yak! KESINI KAU ANAK HILANG!"
"TIDAK MAULAH!"
"AWAS SAJA KAU!"jerit Jongin dongkol.
Sehun terus berlari dan Jongin terus mengejar.
2 hati dari dunia berbeda kini akan saling terbagi, membuka lembaran baru dan sesekali membuka lembaran lama bersama.
Itulah sebuah janji yang tak mereka ucapkan namun Sehun juga Jongin menyadari ada sesuatu yang mereka saling rasakan.
Yaitu...rasa peduli.
.
.
Bunga Mawar itu indah namun pasti akan layu termakan waktu.
Tetapi, keindahannya tersimpan disetiap hati semua orang bagi mereka para penganggumnya... Sehun.
Keletihan hati yang berduka setiap waktu.
Terkadang seseorang berhenti sejenak untuk nanti melangkah lagi.
Begitu juga... Kim Jongin.
.
.
.
AriaMoonie : Kami benar-benar minta maaf akan keterlambatan untuk update.
Jadi, Lanjut atau Berhenti?
...Kasih respon kalian di kotak Review by AriaMoonie...
PLEASE, DONT BE SIDERS!
