Chapter 3
My Life Is Strange
KookV (Jungkook and Taehyung)
T
BoyxBoy/Yaoi
Warn: OOC, Typos, OC, MPreg, tdk sesuai EYD, gaje, abal, garing, aneh dsb..
Don't like don't read~
.
.
.
.
.
.
"Ja-jadi..orang menyebalkan ini ketua OSIS Jim?"
Jungkook menatap Taehyung tajam mendengar ucapan anak itu yang mengatainya terang-terangan.
"Benar sekali" Jawab Jimin. "Ehm. Jungkook, kudengar kau menyita PSP Taehyung?"
"Taehyung?" Tanya Jungkook menatap Jimin bingung.
"Ah, ini Taehyung Kook" Jimin merangkul bahu Taehyung agar mendekat padanya. "Kau ingat kan dengannya?"
Jungkook menatap Taehyung lama membuat anak itu mengangkat satu alisnya bingung.
"Hei kau, cepat kembalikan PSP-ku!" Ucap Taehyung tiba-tiba. Bosan juga dia menunggu Jungkook yang tak kunjung membuka suaranya. Taehyung menatapnya dengan raut wajah kesal namun malah terlihat manis.
Jungkook tersadar. Dia melihat arlojinya sebentar sebelum menatap Jimin. "Hyung, aku pergi dulu. Masih ada urusan diruang OSIS" Ucap Jungkook santai. Dia melirik Taehyung sebentar sebelum melangkah meninggalkan mereka berdua.
Taehyung menggigit bibir bawahnya, sedangkan kakinya menghentak ditanah dengan kesal.
"Lihat kan Jim? Anak itu menyebalkan sekali!" Marah Taehyung menatap punggung Jungkook yang menjauh dengan tajam.
Jimin menghela nafas. "Bersabarlah Tae, mungkin dia memang ada urusan. Mungkin nanti dia akan mengembalikan PSP-mu" Jimin mencoba menenangkan Taehyung dengan mengelus bahunya.
Taehyung menghela nafas sambil mengelus dadanya. "Menyebalkan sekali, dia bahkan tidak bicara padaku. Apa dia tidak menganggapku huh?"
"Sudahlah Tae, dia memang seperti itu tapi sebenarnya dia anak yang baik. Lain kali coba temui dia lagi"
"Tentu saja aku akan menemuinya! Ngomong-ngomong dia kelas berapa Jim?"
"Dia kelas 11-A..kelas unggulan"
"Shit, aku benci dengan anak-anak kelas unggulan. Pantas saja sikapnya seperti itu, mereka suka seenaknya!" Gerutu Taehyung.
Jimin tertawa. "Kau hanya belum mengenalnya Tae. Dia anak yang manis"
"Manis apanya, menyebalkan begitu"
Jimin menggelengkan kepalanya. "Ah, Tae sebenarnya Jungkook itu 1 tahun lebih muda dari angkatan kita"
"Apa?! Bahkan dia lebih muda dariku? Tapi dia berani sekali bersikap kurang ajar seperti itu.." Ucap Taehyung sok benar.
"Sudah Tae, lebih baik kita kembali kekelas sekarang sebentar lagi bel masuk berbunyi" Ajak Jimin sambil merangkul Taehyung yang masih terlihat kesal.
"Hmm.." Taehyung mengikutinya dengan cemberut.
..
"Aku pulang~"
"Taehyung? Tae cepatlah ganti bajumu setelah itu turun ya, ada yang mau ayah dan ibu bicarakan" Ucap Baekhyun serius, tapi Taehyung menanggapinya dengan santai.
"Ya baiklah" Jawab Taehyung sambil berjalan menuju kamarnya.
Setelah beberapa menit kemudian Taehyung kembali dengan pakaian rumahannya yang terlihat santai. Ayah dan ibunya ternyata sudah duduk diruang tengah. Taehyung segera mendudukkan diri didepan mereka.
Jackson dan Jesper? Oh, tenang saja kedua bocah itu sudah diungsikan kerumah nenek mereka.
"Apa yang mau ayah dan ibu bicarakan?" Tanya Taehyung menatap Chanyeol dan Baekhyun bergantian.
Baekhyun dan Chanyeol lirik-lirikan mengode, dan itu berlangsung cukup lama. Taehyung memutar matanya melihat kedua orang tuanya yang tidak kunjung membuka suara.
"Kalau tidak ada yang mau kalian bicarakan lebih baik aku kekamar saja-"
"Jangan!" Chanyeol dan Baekhyun berseru bersamaan. Mereka menatap Taehyung panik.
"Yasudah kalau begitu katakan! Kenapa susah sekali sih.." Ucap Taehyung sedikit kesal. Menurutnya orang tuanya terlalu bertele-tela, Taehyung itu suka yang to the point.
Baekhyun dan Chanyeol sekarang sudah lebih tenang. Chanyeol menghela nafas sebelum berdehem. "Begini Tae.." Chanyeol mencari kata-kata yang tepat supaya anaknya itu tidak marah. "Kau tahu kan kalau kakek dari pihak ibumu sudah meninggal?"
Taehyung mengangguk-angguk mengerti. "Ya, lalu?"
Tangan Taehyung sibuk mencomoti cemilan yang berada diatas meja didepannya dan mengunyahnya dengan santai.
"Sebelum dia meninggal, dia sempat berpesan pada ayah dan ibu, yah bisa dibilang ini wasiat terakhirnya sebelum dia meninggal.."
"Hmm.." Taehyung kembali mengangguk-angguk.
"Sayangnya, wasiat ini berhubungan denganmu Tae"
Taehyung langsung langsung menatap orang tuanya dengan dahi mengerut. "Ada hubungannya denganku?"
"Ya Tae, ibu harap kau tidak marah.."
"Marah? Untuk apa aku marah? Ayolah, katakan saja apa yang ingin kalian katakan setelah itu aku bisa kembali kekamar" Ucap Taehyung gemas.
"Sebenarnya..kau itu dijodohkan Tae" Ucap Chanyeol hati-hati dan serius.
Taehyung mengedip.
Apa?
Jodoh?
Dia dijodohkan? Di zaman yang sudah modern seperti ini?
"HAH? YANG BENAR SAJA?!" Teriaknya dengan mata melotot kearah ayah dan ibunya.
Baekhyun menutup matanya rapat menerima serangan dari remah cemilan yang Taehyung kunyah, kebetulan dia duduk berhadapan dengan Taehyung. Baekhyun memekik jijik dan langsung meraih tisu untuk membersihkan wajahnya.
"Sayangnya ini benar Tae. Maafkan ayah dan ibu.."
Sebenarnya Chanyeol kasihan juga dengan anaknya, Taehyung bahkan masih berusia 17 tahun. Tapi mau bagaimana lagi, yang namanya wasiat harus dipenuhi. Dan dalam keluarga mereka wasiat itu harus terpenuhi bagaimanapun caranya, kalau tidak keluarga yang bersangkutan dipercaya akan terkena sial. Chanyeol kan tidak mau kalau keluarga tercintanya ini terkena sial..
Tidak ada cara lain selain memenuhi wasiat itu.
"Taehyung, ibu harap kau menerimanya. Karena ini wasiat dari kakekmu-"
"Aku tidak mau dijodohkan!" Putus Taehyung.
Chanyeol dan Baekhyun hanya bisa menghela nafas pasrah. Sudah menduga reaksi Taehyung akan seperti ini.
"Kalian tidak harus dijodohkan sekarang Tae, kalian bisa memulainya dengan pertunangan dulu" Chanyeol mencoba membujuk Taehyung. "Kakekmu bilang dia ingin menjodohkanmu dengan cucu dari sahabatnya.."
"Aku tetap tidak mau, aku tidak mau terikat. Aku masih ingin bebas!"
"Taehyung, ayolah ibu mohon seminggu lagi kita sudah harus menemui calonmu itu"
"Apa?! Seminggu lagi? Kalian bahkan sudah merencankannya?!"
"Maafkan kami Tae, tapi perjodohan ini harus dilakukan"
"Pokonya aku tidak mau! Titik! Kenapa ayah dan ibu memaksa sekali sih? Aku tidak mau dijodohkan! Kenapa kalian menyebalkan sekali!" Taehyung langsung berlari kekamarnya dengan marah tanpa mempedulikan panggilan ayah dan ibunya.
Sekali lagi Baekhyun dan Chanyeol menghela nafas mendengar pintu yang dibanting oleh Taehyung dengan keras. Anak itu sepertinya benar-benar marah.
"Apa kubilang.." Ucap Baekhyun sambil melirik Chanyeol.
"Habis mau bagaimana lagi? Itu kan wasiat terakhir ayah.."
"Sudahlah biarkan anak itu menenangkan diri, dia pasti sangat shock. Mungkin kita bisa membujuknya kembali besok" Ucap Baekhyun yang angguki Chanyeol dengan pasrah.
..
Taehyung menghempaskan tubuhnya dengan kasar diranjang. Kedua kaki dan tangannya mengacak seisi ranjangnya dengan ganas, membuatnya menjadi berantakkan. Wajahnya memerah karena marah. Oh, tentu saja dia marah. Memangnya siapa yang tidak marah jika mengetahui dirimu akan dijodohkan tiba-tiba begini? Apalagi kau tidak tahu siapa yang mau dijodohkan dengan dirimu.
Taehyung marah dengan orang tuanya. Kenapa mereka bisa terpikir untuk menjodohkan Taehyung? Dia bahkan masih muda, dia masih ingin bebas dan dia tidak mau terikat diusia semuda ini. Ah, semua ini karena wasiat sialan kakeknya itu! Kenapa harus Taehyung sih yang menjadi korban? Kenapa tidak Jackson atau Jesper saja?
Ini semua benar-benar bencana. Taehyung bagaikan mendapat sembaran petir disiang bolong. Ini sungguh gila! Dan lagi minggu depan dia harus menemui calonnya? Ya Tuhan, Taehyung bisa benar-benar gila nanti.
Taehyung menenggelamkan wajahnya dibantal dan berteriak. "Aarghhhh..."
Taehyung kemudian membalik tubuhnya menjadi terlentang. Dia menatap langit kamarnya dengan tajam.
"Ini benar-benar menyebalkan..ayah dan ibu juga menyebalkan, wasiat kakek juga! Kenapa kalian melakukan semua ini padaku? Kalian semua tidak memikirkan perasaanku, kalian egois!" Teriak Taehyung. Untung saja kamarnya kedap suara, jadi dia bebas mau berteriak sekencang apapun.
Bebrapa menit setelah puas berteriak dan meluapkan emosinya Taehyung pun akhirnya jatuh tertidur. Hm, mungkin kelelahan.
..
Pagi ini Taehyung bangun dengan mood yang luar biasa buruk, begitu pun dengan wajahnya yang terlihat sangat buruk. Taehyung masih mengingat dengan jelas pembicaraannya dengan kedua orang tuanya kemarin mengenai perjodohan sialan itu. Ah, mengingat itu emosi Taehyung yang teredam itu kini kembali muncul.
"Sialan!" Taehyung mengacak rambutnya gemas.
Setelah puas bergalau ria dipagi hari Taehyung memutuskan untuk segera membersihkan dirnya. Taehyung ingin berendam, mungkin dengan itu kepalanya bisa sedikit mendingin.
Taehyung sudah siap dengan seragam sekolah dan ranselnya. Anak itu turun dengan wajah cemberut. Taehyung mendengar celotehan kedua adiknya didapur.
"Taehyung, kemari, ayo sarapan" Suruh Baekhyun sambil tersenyum mencoba memperbaiki mood anaknya itu.
Taehyung yang melihatnya hanya mendengus kemudian membuang muka. Tanpa bicara Taehyung mendudukkan dirnya disamping Jackson dan mulai memakan sarapannya dalam diam. Taehyung masih marah dengan ayah dan ibunya dan lagi tidak ingin berbicara dengan mereka sekarang.
Chanyeol dan Baekhyun hanya tersenyum maklum melihatnya.
Sesi makan keluarga itu hanya didominasi oleh ocehan tidak penting dari Jackson dan Jasper. Sedangkan Chanyeol dan Baekhyun lagi mencari waktu yang tepat untuk memulai pembicaraan dengan Taehyung.
"Ehm..Taehyung, soal yang kemarin itu.."
Mendengar ayahnya ingin mengungkit masalah perjodohan itu emosi Taehyung seketika bangkit kembali. Dia membanting sumpit dengan keras kemeja makan dan menatap ayahnya tajam.
"Tae, tidak bisakah kau-"
"AKU BILANG AKU TIDAK MAU!" Taehyung berteriak kalap dengan wajah memerah marah, matanya pun sudah berkaca-kaca saking kesalnya. Keempat orang yang berada disitu terlonjak kaget mendengar teriakkannya.
"Taehyung, ibu mohon-"
"Kenapa kalian masih saja memaksa? Aku kan sudah bilang kalau aku tidak mau!"
Jesper dan Jackson melirik hyung mereka takut-takut. Baru kali ini mereka melihat Taehyung semarah itu.
Setelahnya Taehyung bergegas meneguk minumannya dan membawa ranselnya pergi. Taehyung tidak berselera lagi menghabiskan makannya. Orang tuanya memang tidak tahu situasi, mereka masih saja membahas masalah itu dimeja makan.
"Yah! Tae, kau mau kemana? Biar ayah mengantarmu!" Teriak Chanyeol melihat Taehyung yang sudah berlari menuju pintu.
Taehyung memutuskan untuk pergi kesekolah menggunakan angkutan umum saja, dia tidak mau diantar oleh ayahnya. Bahkan ini masih terlalu pagi untuk berangkat sekolah. Biarlah, Taehyung tidak peduli asalkan dia tidak berada dirumanya.
Sesampainya disekolah keadaan masih cukup sepi, hanya ada beberap murid dan penjaga sekolah. Taehyung berlari menuju kelasnya dan duduk dikursinya, dia langsung menenggelamkan wajahnya dilipatan tangannya. Beberapa menit setelahnya terdengar dengkuran samar, anak itu tertidur.
"Hei, Tae pagi-pagi sudah tidur saja. Kau begadang hah?" Jimin menepuk bahunya. Jimin tidak tahu saja kalau sahabatnya itu datang kesekolah pagi sekali.
Anak itu hanya bergumam karena tidurnya terganggu.
"Hei, Tae kau benar-benar tidur?" Kali ini Jimin mengguncang bahu Taehyung. Taehyung pun terpaksa menegakkan tubuhnya. Dia mengusap matanya sebelum menoleh kearah Jimin yang langsung berteriak kaget dikursinya.
"Astaga! Taehyung, apa yang terjadi padamu hah?! Kau berantakkan sekali.." Jimin menatapnya khawatir.
Taehyung menatapnya cemberut, dengan mata yang membengkak dan wajah yang berantakkan. Oh, apa anak ini habis menangis? Wajah Taehyung memang terlihat berantakkan tapi juga sangat manis disaat yang bersamaan. Lihat saja alisnya yang bertaut itu, matanya yang berkaca-kaca, pipi yang membulat dan bibir yang mengerucut itu. Jimin yang melihatnya antara kasihan dan ingin mencubit pipi itu karena gemas.
"Jimin.." Panggilnya pelan. Anak itu menggigit bibir bawahnya.
"Ta-Taehyung..kau baik-baik saja?" Jimin duga pasti terjadi sesuatu yang buruk sampai membuat Taehyung seberantakkan ini.
"Jimin..aku.."
"Ada apa Tae? Katakan padaku apa terjadi sesuatu yang buruk?" Jimin bertanya dengan tidak sabaran.
Taehyung mengangguk pelan. "A-aku.."
"Ya, ya?"
"..aku dijodohkan Jim.."
"Apa?"
Taehyung memukul kepala Jimin. "Aku bilang aku dijodohkan Jimin!" Teriak Taehyung membuat teman-teman sekelasnya menatapnya. Taehyung langsung gelagapan.
"Bu-bukan aku, maksudku sepupuku yang dijodohkan, iya..sepupuku..haha.." Taehyung mengibaskan kedua tangannya didada sambil tertawa canggung.
"Ohh.."
Taehyung menghela nafas lega.
"Jadi.."
Taehyung menatap Jimin yang meminta penjelasan. "Seperti yang kau dengar tadi Jim, aku memang dijodohkan.." Ucap Taehyung dengan sedikit berbisik diujungnya, takut teman-temannya mendengar pembicaraan mereka.
"Astaga, bagaimana bisa Tae?" Jimin tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Sahabatnya ini? Dijodohkan? Memangnya mereka hidup di zaman apa sampai masih ada saja tradisi perjodohan?
Taehyung menghela nafas pasrah. "Entahlah lah Jim, aku tidak tahu apa yang dipikirkan kedua orang tuaku sehingga mereka tega menjodohkanku. Mereka bilang ini adalah wasiat dari kakekku yang sudah meninggal dan wasiat itu harus dilakukan bagaimanapun caranya Jim! Bagaimana aku tidak gila kalau begini.."
Jimin hanya mengelus-elus bahunya menenangkan. Dia tidak tau harus berkomentar seperti apa.
"Emm..aku yakin mereka melakukan itu pasti ada alasannya Tae.."
"Dengan mengorbankan hidupku begitu? Aku bahkan tidak tahu siapa yang mereka jodohkan dengan ku! Mereka melakukannya tanpa memikirkan perasaanku.."
"Dan kau menolaknya begitu?"
"Tentu saja aku menolaknya!" Sahut Taehyung cepat. "Aku harus bagaimana Jim? Ibu bilang minggu depan aku sudah harus bertemu dengan orang yang mereka jodohkan. Aku harus bagaimana Jim~" Taehyung mengguncang bahu Jimin tidak sabaran.
"Hei, hei, hentikan itu kau membuat kepalaku pusing" Ucap Jimim sambil menyingkirkan kedua tangan Taehyung dari bahunya.
Taehyun kembali cemberut kemudian menatap Jimin melas. "Jadi aku harus bagaimana Jim supaya terhindar dari perjodohan sialan itu?"
Jimin menghela nafas. Sebenarnya dia juga tidak punya ide untuk membantu Taehyung. Lagi pula ini kan masalah keluarga yang cukup serius, Jimin tidak terlalu berani ikut campur.
"Jimin!"
"Sebentar Tae, aku sedang berpikir.." Jimim membuat pose berpikir, entah dia benar-benar berpikir atau hanya berpura-pura berpikir.
Tunggu, kenapa jadi Jimin yang repot-repot berpikir? Bukankah ini masalah Taehyung, seharusnya anak itu yang berpikir!
"Jimin~" Taehyung memanggilnya gemas. Jimin berpikir lama sekali.
"Hmm..Tae"
"Apa? Apa? Kau ada ide?" Mata Taehyung berbinar bahagian.
"Hm..bagaimana kalau kau bicarakan baik-baik dengan orang tuamu dan buat supaya mereka mengerti, bilang saja kalau kau benar-benar tidak menginginkan perjodohan itu dan tidak bisa melakukannya. Kalau perlu kau memohon sambil bersimpuh dibadapan mereka supaya lebih meyakinkan" Ucap Jimin diakhiri dengan tawa.
Taehyung menatap Jimin ragu. "Memangnya itu berhasil? Aku tidak yakin mereka akan membataklannya..apa kau tidak ada cara lain yang labih meyakinkan Jim?"
Jimin kembali bepikir sebentar.
"..ada Tae, tapi sebenarnya aku tidak tahu ide ini akan berjalan baik atau tidak, hanya tinggal itu yang terpikirkan olehku.." Jimin menatapnya serius.
Taehyung balas menatapnya. "A-apa?"
"..kabur"
Mata Taehyung membola. Kabur? Taehyung sama sekali tidak terpikirkan soal itu. Lagipula..kabur itu terdengar sedikit nekat dan berani. Taehyung kan tidak ada pengalamam sama sekali soal yang begituan. Dan juga, sepertinya itu memang ide yang cukup bagus untuk membuatnya terhindar dari perjodohan sialan itu.
"Ka-kabur?"
Jimin mengangguk.
"A-apa harus Jim?"
Jimin mengangkat bahunya. "Terserahmu sih, keputusan kan ada ditanganmu. Aku hanya berusaha membantumu Tae. Tapi, kalau kau benar-benar melakukannya jangan menyeret-nyeret aku kedalam masalahmu"
"Iya, iya, cerewet!"
Taehyung mengalihkan tatapannya dari Jimin dan mulai berpikir. Kalau memang itu satu-satunya cara agar dia bisa menghindari perjodohan ini, mungkin Taehyung akan mencoba melakukannya.
"Aku akan mencoba bicara dengan mereka dulu, kalau itu tidak berhasil terpaksa aku melakukan cara yang terakhir"
..
Taehyung pulang kerumah dengan menggunakan angkutan umum lagi seperti dia berangkat tadi pagi. Hari ini kebetulan sekolah Taehyung pulang lebih awal karena para guru sedang melakukan rapat dadakan.
Taehyung memasuki rumahnya masih dengan wajah cemberut. Rumahnya sepi sekali karena hanya ada ibunya saja, ayahnya masih dikantor dan kedua adiknya masih disekolah. Saat melewati ruang tengan Taehyung melihat ibunya yang sedang menonton televisi.
Suara langkah Taehyung membuat Baekhyun menoleh kearahnya. "Tae, kau pulang cepat hari ini?" Tanya Baekhyun santai.
Taehyung mendengus. Lihatlah, ibunya masih bisa berbicara sesantai itu tanpa rasa bersalah sedikit pun pada Taehyung. Tanpa menjawab pertanyaan Baekhyun dia langsung menuju kamarnya. Tapi baru mencapai anak tangga pertama, Taehyung berbalik dan kembali menghampiri ibunya kemudian duduk disampingnya.
"Ibu" Panggilnya serius.
Baekhyun menoleh kearahnya dengan bingung.
"Soal yang kemarin itu.."
"Perjodohan maksudmu?" Baekhyun kini membetulkan posisi duduknya agar menghadap Taehyung.
"Iya, itu..tidak bisakah kalian membatalkannya? Aku benar-benar tidak mau melakukannya.." Taehyung menatap Baekhyun melas, berharap ibunya itu akan luluh dan mengabulkan keinginannya.
Baekhyun menghela nafas. Dia mengelus pipi Taehyung dengan penuh kasih sayang. "Sekali lagi maafkan ibu Tae, ibu tidak bisa membatalkannya. Itu..adalah wasiat terakhir dari kakekmu dan ibu tidak bisa menolaknya. Ini juga untuk kebaikan keluarga kita Taehyungie.."
"Tapi kalian memaksaku, kalian tidak mengerti bagaimana perasaanku!"
Sekali lagi Baekhyun menghela nafas. "Ibu mohon terima perjodohan ini ya Tae? Ibu jamin kau pasti akan bahagia"
Taehyung menatapnya tajam. "Kenapa ibu seyakin itu?"
"Tentu saja, karena ibu sudah bertemu dengan keluarga calonmu itu, dan mereka sangat baik. Ibu yakin anak mereka pun pasti begitu" Ucap Baekhyun sambil tersenyum. "Lagi pula dia adalah cucu dari sahabat kakekmu. Dan ibu dengar dia juga satu sekolah denganmu.."
"Apa?! Dia satu sekolah denganku?" Pekik Taehyung.
"Iya"
Taehyung tiba-tiba saja panik mengetahui kalau orang yang akan dijodohkannya itu ternyata satu sekolah denganny. Apa Taehyung mengenal orang itu? Atau lebih parahnya jangan-jangan dia sekelas dengan orang itu, teman sekelas Taehyung kan tidak ada yang..yah begitulah. Entah kenapa Taehyung bergidik membayangkan itu.
"Ibu..di-dia kelas berapa?"
Baekhyun sedikit berpikir. "Hmm..entahlah, sepertinya ibu lupa Tae"
Taehyung menghela nafas.
"Jadi..kau mau kan menerima perjodohannya?"
Taehyung melotot kearah Baekhyun. " TETAP TIDAK MAU!"
"Ibu, aku kan tidak menyukainya bagaimana bisa kalian menjodohkanku dengannya.."
"Kalian kan bisa saling mengenal nanti Tae, siapa tahu dengan berjalannya waktu bisa membuat kalian saling menyukai"
Taehyung menggelengkan kepalanya keras. "Tetap tidak mau! Pokoknya aku tidak mau. Kalau kalian tetap melakukan itu aku akan kabur dari rumah ini!"
"Kau harus menerima perjodohan ini Taehyung!" Bentak Baekhyun. Gemas juga dia melihat Taeyung yang terus-terusan menolak.
"Pokoknya aku tidak mauuuu!" Taehyung bangkit dari sofa kemudian berlari meunuju kamarnya.
"YAH! PARK TAEHYUNG DENGARKAN AKUUU! KAU HARUS MENURUTI PERINTAHKU!" Teriak Baekhyun dengan suara melengkingnya.
"TIDAK MAUUU!" Balasnya kemudian membanting pintu kamarnya dengan keras.
Taehyung bersandar didaun pintunya dengan nafas yang memburu. Ternyata ibunya masih tidak mau diajak bernegosiasi!
"Ya Tuhan, aku harus bagaimana?!" Taehyung mengacak rambutnya gemas.
..
Jam saat ini menunjukan pukul satu siang. Taehyung masih berada dikamarnya dan rebahan malas diranjangnya yang sudah berantakkan. Anak itu tidak keluar dari kamarnya sejak kepulangannya tadi pagi. Lagi pula Taehyung malas kalau harus bertemua ayah dan ibunya, mereka pasti akan membahas masalah perjodohan itu lagi.
Tiba-tiba Taehyung teringat akan rencana yang disarankan Jimin tadi pagi, padahal dia sempat melupakan rencana itu tadi. Taehyung mulai memikirkan kembali saran Jimin. Dia tidak berhasil membujuk ibunya dengan cara baik-baik (atau tidak?), Taehyung pun meilih cara terakhir. Jadi, apa dia harus benar-benar kabur? Biar saja ayah dan ibunya marah nanti, kan Taehyung juga marah dengan mereka!
Kalau dia tetap tinggal dirumah ini mereka pasti akan tetap memaksanya melakukan perjodohan itu walaupun Taehyung menolak. Taehyung kan jelas tidak mau!
Akhirnya setelah berpikir panjang dan dengan bermodalkan nekat, Taehyung memutuskan untuk kabur saja. Tapi, bagaimana caranya? Taehyung menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ah, bukankah aku harus menyiapkan sesuatu sebelum kabur ya?" Tanyanya pada diri sendiri.
Taehyung mengambil ranselnya dan menaruhnya diranjang. Dia kemudian menuju lemari pakaiannya dan mengambil beberapa lembar pakaian kemudian memasukkannya kedalam ranselnya, tak lupa memasukkan seragam sekolahnya. Untuk buku pelajaran Taehyung tidak perlu khawatir karena buku-bukunya sudah berada diloker sekolahnya.
Setelah itu Taehyung memakai hoodie abu-abunya tanpa mengganti celana trainingnya. Taehyung mengambil ponselnya dan memasukkannya disaku hoodienya.
"Nah, persiapan sudah selesai!"
Ayah dan ibunya pasti tidak akan curiga karena dia hanya membawa sedikit pakaian diranselnya dan Taehyung pikir penampilannya tidak terlihat seperti orang yang ingin kabur.
Taehyung melewati ruang tengan dengan santai. Disana orang tuanya dan kedua adiknya sedang berkumpul.
"Tae, mau kemana?" Tanya Chanyeol tiba-tiba.
Taehyung hanya meliriknya sekilas kemudian melanjutkan langkahnya. "Jalan dengan teman"
"Ohh, yasudah. Jangan pulang terlalu malam ya?"
"Hm"
Taehyung berhasil menutup pintu rumahnya. Saat berada diteras anak itu langsung bersorak bahagia.
"Ya ampun mereka tidak curiga sama sekali" Ucapnya sambil tertawa.
Taehyung mulai melangkahkam kakinya menjauh dari komplek rumahnya. Dia berjalan dengan perasaan bahagia, entahlah. Sejujurnya, Taehyung tidak terlalu hapal dengan daerah tempat tinggalnya ini. Dia kan biasanya kalau berpergian selalu dijemput oleh teman-temannya.
Taehyung tetap melangkahkan kakinya sambil menatap sekelilingnya dengan bingung, dia sudah berjalan cukup jauh. Dan dia tidak punya tujuan sekarang.
Benar. Taehyung baru sadar. Kemana dia akan pergi? Dimana dia akan tinggal? Dia kan kabur? Taehyung melupakan itu. Dia langsung panik. Taehyung ingin menghubungi Jimin, tapi anak itu kan bilang jangan menyeretnya dalam masalah Taehyung sendiri, Taehyung menggeleng. Dia berpikir, siapa lagi yang bisa dihubunginya. Ah, Jin hyung! Taehyung bergegas mencari kontaknya, tapi..Taehyung juga baru ingat kalau kedua orang tuanya juga mengenal mereka karena Taehyung pernah mengajak mereka kerumah. Kedua hyungnya itu pasti langsung menghubungi orang tuanya jika mengetahui dia kabur dari rumah.
"Hahh.." Taehyung menghela nafas.
Akhirnya dia hanya berjalan-jalan tak tentu arah. Melewati daerah-daerah yang bahkan masih asing baginya. Taehyung melihat ponselnya, sekarang sudah jam 8 malam. Taehyung meringis sambil memegangi perutnya yang terasa sakit, dia lapar dan dari tadi siang dia belum mengisi perutnya dengan makanan. Mau membeli makanan pun dia tidak bisa, dia lupa membawa dompetnya. Sungguh sialan..
Ponselnya bergetar, Taehyung melihatnya. Oh, ayahnya menelpon. Pasti mereka ingin menyuruhnya pulang. Taehyung langsung menekan tombol berwarna merah dan langsung mencabut batray ponselnya.
Taehyung mendudukkan dirinya didepan ruko yang kebetulan sudah tutup, sekarang dia benar-benar tidak tahu harus kemana, dia lelah dan kakinya juga sudah sakit karena dibawa berjalan cukup lama. Daerah yang Taehyung singgahi sekarang cukup sepi, hanya ada beberapa orag saja yang lewat didepannya. Disaat seperti ini, Taehyung mulai berpikir yang tidak-tidak. Bagaimana kalau ada orang jahat yang mabuk melihatnya lalu melukainya seperti didrama-drama itu? Atau bagaimana kalau dia dirampok? Tunggu, Taehyung kan tidak punya uang sekarang. Atau lebih parahnya bagaimana kalau dia diculik lalu dijadikan budak! Tidak, tidak. Taehyung menggelengkan kepalanya berusaha mengusir pemikiran negatifnya. Taehyung menghela nafas, dia mencoba menenangkan dirinya.
Taehyung merasakan kepalanya tiba-tiba pusing dan wajahnya mulai memucat. Taehyung meremas perutnya yang terasa semakin sakit, perih sekali. Ya Tuhan dia lapar sekali! Ah, lihahlah wajahnya yang melas itu. Persis seperti anak anjing yang dibuang saja.
"Begini ya rasanya kabur itu.." Ucapnya sambil menatap lurus kesebrang jalan.
Taehyung mengedipkan matanya.
"Itu kan.."
Walaupun orang itu berada diseberang jalan, Taehyung masih dapat mengenali orang itu, apa lagi rambut hitamnya dan tubuh tegapnya itu. Orang itu mengenakan hoodie hitam dan tangan kirinya menenteng plastik.
Tanpa pikir panjang Taehyung langsung berlari menghampiri orang itu dengan sedikit terseok-seok karena pusing dikepalanya. Dan untungnya lagi tidak ada mobil atau kendaraan yang melintas dijalanan saat Taehyung menyebrang.
"JUNGKOOK!"
..
Jungkook baru saja pulang dari minimarket untuk membeli beberapa kebutuhan dapurnya yang menipis, makanya dia bergegas pergi keminimarket malam ini juga. Jungkook tidak suka menunda sesuatu, selagi bisa sekarang kenapa tidak.
Dia sengaja tidak menggunakan motornya karena jarak apartemennya cukup dekat dengan minimarket diujung jalan sana. Anggap saja olahraga batinnya.
Jungkook berjalan dengan santai sambil menatap lurus kedepan. Tiba-tiba saja dia tersentak saat mendengar seseorang meneriaki namanya, Jungkook menoleh kearah seseorang yang memanggilnya itu. Dan matanya membulat mengetahui siapa yang telah meneriakkinya itu.
"JUNGKOOK!"
Itu Kim Taehyung, murid baru disekolahnya yang telah Jungkook sita PSP beberapa hari ini. Taehyung menghampiri sambil terseok-seok. Jungkook menatapnya dengan bingung. Kenapa dia bisa bertemu Taehyung malam ini? Sangat tidak terduga.
"Ju-Jungkook.."
Jungkook mengerjapkan matanya mendengar suara Taehyung yang memanggilnya pelan. Tahu-tahu anak itu sudah bersimpuh didepannya. Tangan kanannya mencengkram ujung hoodie Jungkook sedangkan tangan kirinya memegangi perutnya. Kenapa dengan perutnya? Batin Jungkook bingung.
"Jungkook..to-tolonghh.."
Taehyung menatapnya dengan raut wajah yang terlihat kesakitan, wajah anak itu juga pucat dan sedikit berkeringat, Jungkook baru menyadarinya.
Jungkook menarik lengan Taehyung agar anak itu berdiri. Tapi, sebelum Taehyung menegakkan tubuhnya dia merasakan kepalanya yang semakin berdenyut dan matanya mulai berkunang. "Jung.."
Taehyung mendengar suara Jungkook yang meneriakinya sebelum pandangannya menghitam dan dia merasakan tubuhnya terjatuh.
"TAEHYUNG!"
..
Jungkook menatap dalam seseorang yang kini berbaring diranjangnya dengan mata yang menutup dan wajah yang sedikit pucat. Jungkook tidak tau apa yang mendorongnya untuk membawa Taehyung keapartemennya. Yang jelas, saat Jungkook bertemu dengan Taehyung ditengah jalan dan anak itu menghampirinya dengan raut wajah yang kesakitan sebelum akhirnya jatuh pingsan dipelukkannya. Jungkook entah kenapa merasa khawatir.
Sekarang sudah jam 10 malam. Berarti Taehyung sudah tertidur hampir satu jam setengah dan selama itu juga Jungkook berada disisi ranjangnya duduk sambil menatapi wajah tertidur Taehyung. Iseng, Jungkook menyentuh dahi Taehyung yang tertutupi surai merahanya yang ternyata sangat lembut saat menyentuh jemari Jungkook, dan dia tergoda untuk mengelus surai lembut itu hingga beberapa saat.
"Sebenarnya, apa yang terjadi padamu huh?" Tanyanya pelan sambil menatapi wajah manis Taehyung dari dekat. Iya, Jungkook baru menyadarinya kalau wajah Taehyung itu manis. Tidak, Jungkook bukannya baru menyadari kalau Taehyung itu manis, dia sudah tahu kok kalau wajah Taehyung itu memang manis bahkan sejak pertemuan pertama mereka. Hanya saja jika dilihat sedekat ini wajah Taehyung terlihat lebih manis dan juga imut.
Sejujurnya, Jungkook memang merasakan sedikit ketertarikan dengan Taehyung saat pertama kali mereka bertemu. Saat dia Taehyung menatapnya melas karena minta diantarkan keruang guru. Tapi, Jungkook masih tidak berani menyimpulkan kalau dia menyukai Taehyung, dia hanya sedikit tertarik.
Jungkook menghela nafas. Sepertinya Taehyung tidak akan bangun. Jungkook berjalan menuju lemarinya dan mengambil selembar selimut kemudian berjalan keluar kamarnya. Jungkook merebahkan dirinya disofa, sepertinya malam ini dia akan tidur disofa saja karena ranjangnya sudah dikuasai oleh Taehyung.
.
.
.
.
.
.
Tbc
Maafkan atas segala kekurangan yg msih ada dlm ff ini~
Okay, last review please? ^^
