Chapter 4
My Life Is Strange
KookV (Jungkook and Taehyung)
T
BoyxBoy/Yaoi
Warn: OOC, Typos, OC, MPreg, tdk sesuai EYD, gaje, abal, garing, aneh dsb..
Don't like don't read~
.
.
.
.
.
.
Taehyung mengerjapkan kedua matanya saat merasakan wajahnya diterpa oleh cahaya matahari yang masuk melalui jendela disamping kanannya yang gordenya terbuka lebar. Taehyung mencoba untuk mendudukkan dirinya dan bersandar diheadboard ranjang. Saat itu juga dia kembali merasakan perutnya yang sakit, yah walaupun tidak sesakit kemarin.
Taehyung menatap sayu kedepan, dia masih dalam proses pengumpulan nyawa. Perjodohan, kabur, tersesat dan pingsan tepat didepan Jungkook, itulah yang ada didalam pikiran Taehyung saat ini. Omong-omong tentang Jungkook, kemarin dia bertemu dengan anak itu sebelum dia pingsan, setelah itu dia tidak tahu apa yang terjadi. Apa Jungkook yang menolongnya sehingga dia bisa berbaring diranjang senyaman ini? Kalau memang benar begitu..berarti kemarin Jungkook yang membawanya kesini..
"Berarti ini..kamar Jungkook?" Tanyanya pelan.
Terjawablah sudah pertanyaan Taehyung saat mendengar pintu kamar yang terbuka tiba-tiba dan masuklah seorang Jungkook sambil membawa nampan. Taehyung menatap Jungkook yang berjalan kearahnya kemudian meletakkan nampan yang dibawanya dimeja kecil disebelah Taehyung sebelum lelaki bertubuh tegap itu mendudukkan dirinya disebelah kaki Taehyung. Lelaki itu sudah memakai seragam sekolahnya dengan rapi lengkap dengan blazernya.
"Sudah merasa lebih baik?" Tanya Jungkook dengan suara rendahnya. Dia menatap Taehyung yang wajahnya tidak lagi pucat seperti semalam.
Taehyung menggeleng pelan. "Perutku masih terasa sakit sejak kemarin, sepertinya maagku kambuh.." Jawabnya lemah.
Jungkook menghela nafas. "Sudah kuduga" Jungkook mengambil nampan berisi makanan itu kemudian menaruhnya dipangkuan Taehyung. "Makanlah, kau pasti sangat lapar.."
Taehyung menatapnya dengan memiringkan kepala.
"Kenapa?" Tanya Jungkook balas menatap Taehyung dengan wajah datarnya.
"Hmm..Jungkook, apakah kau yang semalam membawaku kemari?"
"Tentu saja aku membawamu kemari, kau pingsan tepat dihadapanku"
"Ohh.." Taehyung membulatkan mulutnya.
"Istirahatlah dan cepat habiskan makananmu" Suruh Jungkook.
Taehyung mengangguk patuh, tanpa disuruh dua kali dia langsung memakan makanannya dengan lahap. Dia sangat lapar, karena dari kemarin siang dia belum mengisi perutnya yang kosong dengan makanan. Ya iyalah, masa dengan batu? Abaikan.
Selama beberapa menit Jungkook hanya menatap makhluk didepannya itu dalam diam. Taehyung yang menyadari Jungkook menatapnya langsung mengangkat kepalanya. Dia menatap Jungkook dengan alis yang bertaut dan pipi yang mengembung karena diisi oleh makanan yang belum ditelannya. Manis sekali, kalau Jungkook boleh jujur.
"Kenapa? Apa ada sesuatu diwajahku?" Tanya Taehyung setelah dia menelan makanannya. Dia menatap Jungkook sambil berkedip-kedip.
Jungkook tersadar. Dia menggelengkan kepalanya. Dia harus segera pergi sebelum terlarut memandangi Taehyung. Jungkook berdiri tiba-tiba membuat Taehyung menatapnya bingung.
"Mau kemana?"
"Kesekolah, tentu saja"
Ah, Taehyung baru ingat, sekolah! Dia buru-buru ingin bangkit setelah menaruh nampannya yang telah kosong isinya itu dimeja, tapi Jungkook lebih dahulu menahannya agar tetap diranjang.
"Kau istirahat saja hari ini, tidak usah kesekolah" Ucap Jungkook sambil menatap mata Taehyung dalam.
"Kenapa? Aku baik-baik saja, aku ingin pergi kesekolah!" Tolak Taehyung.
"Kau masih butuh istirahat Taehyung, aku tahu itu"
"Tidak mau, aku ingin pergi kesekolah Jungkook!"
"Tidak" Kali ini Jungkook berkata dengan tegas. Dan Taehyung bungkam seketika. Entahlah, dia merasa kalau dia tidak bisa membantah perkataan Jungkook yang tegas itu, seolah dia memang harus tunduk dengan segala perkataan lelaki bersurai hitam kelam itu.
Taehyung mengerucutkan bibirnya dan menatap Jungkook kesal.
"Istirahatlah Taehyung. Aku akan memberitahui Jimin hyung kalau kau sakit"
Taehyung membulatkan matanya. Dia dengan cepat menarik lengan Jungkook mencegahnya pergi.
"Jungkook jangan beritahu Jimin kalau aku disini!"
Jungkook menaikkan satu alisnya. "Memangnya kenapa?"
Taehyung menggeleng keras. "Pokoknya jangan beritahu Jimin atau siapapun kalau aku berada ditempatmu! Kumohon Jungkook.." Dia menatap Jungkook melas.
Jungkook menatapnya bingung. Memangnya kenapa kalau dia memberitahu mereka kalau Taehyung ada ditempatnya?
"Jungkook.." Taehyung menggigit bibir bawahnya. Dia meremas lengan Jungkook menunggu jawaban lelaki bersurai hitam itu.
Jungkook menghelas nafas dan akhirnya mengangguk. Tidak tahan juga dia kalau Taehyung terus-menerus menatapnya dengan tatapan anak anjing minta dipungut itu.
Taehyung segera melepaskan lengan Jungkook dan langsung menunjukan cengiran rectanglenya. "Terima kasih Kookie!" Ucapnya refleks.
Jungkook berdehem. Sedikit malu mendengar Taehyung memanggilnya dengan nama kecilnya. "Baiklah, aku pergi dulu" Ucapnya melangkah meninggalkan Taehyung dan menghilang dibalik pintu.
"Ingat jangan beritahu kalau aku disini!" Teriak Taehyung berharap Jungkook masih mendengarnya.
..
Jungkook melangkahkan kakinya memasuki gedung sekolah setelah sebelumnya dia memarkirkan motornya. Dia berpapasan dengan dengan Jimin yang sepertinya juga akan memasuki gedung sekolah. Anak itu tidak menyadari keberadaan Jungkook dan terlihat sibuk dengan ponselnya, wajahnya terlihat kusut kalau Jungkook tidak salah lihat.
Jungkook menghampiri Jimin dengan sedikit berlari. Saat sudah berada dibelakangnya Jungkook langsung menepuk bahunya membuat Jimin berbalik menatapnya.
"Jungkook?"
"Hyung, ada apa denganmu? Kau terlihat..sedikit berantakkan"
Jimin merupakan salah satu siswa yang bisa akrab dengan Jungkook. Sifat Jimin yang ramah dan easy going itu membuatnya dapat berteman dekat dengan Jungkook yang mempunyai sifat sedikit dingin itu, yah walaupun sebenarnya anak itu baik. Ditambah lagi mereka berada diekskul yang sama yaitu kelas menari.
Kedua lelaki berbeda tinggi itu mulai melangkahkan kaki mereka beriringan memasuki gedung sekolah.
"Hyung?" Panggil Jungkook.
Jimin menghela nafas. "Ini semua karena Taehyung Kook.."
Jungkook mengerutkan dahinya, penasaran dengan apa yang dikatakan Jimin. "Kenapa dengan Taehyung, hyung?"
"Dia tidak pulang kerumah sejak kemarin siang. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi, orang tuanya sangat mengkhawatirkan anak itu"
"Dia tidak pulang kerumah?" Tapi dia berada diapartemenku, batin Jungkook. Sepertinya ada yang tidak beres disini.
"Iya. Biasanya Taehyung akan memberitahu kalau dia akan bermalam ditempat temannya, tapi kemarin dia hanya bilang kepada orang tuanya ingin main bersama temannya, tidak untuk bermalam. Aishh..kemana sih si bodoh ini? Membuat khawatir saja!" Jelas Jimin sambil mengacak surai hitamnya.
"Hyung sangat mengkhawatirkannya eoh?"
"Tentu saja Kook, dia sahabatku!" Jawab Jimin tegas. "Ehm..Jungkook, apa Taehyung ada menemuimu?"
Jungkook berkedip, dia ingat pesan Taehyung. "Tidak hyung.."
Jimin menghela nafas. "Begitu ya. Siapa tahu anak itu menemuimu untuk mengambil PSP-nya, kau masih menyita benda itu kan?" Tanya Jimin tanpa menatap Jungkook.
Jungkook hanya melirinya dalam diam, tidak menjawab pertanyaan Jimin.
Dia harus bertanya sesuatu pada Taehyung nanti sepulang sekolah, anak itu pasti menyembunyikan sesuatu darinya.
..
Jungkook sudah pergi kesekolah sejam yang lalu. Dan yang dilakukan Taehyung sedari tadi hanyalah berguling-guling tidak jelas diranjang Jungkook, sepertinya dia suka sekali membuat ranjang berantakkan entah itu miliknya atau bukan. Taehyung merasa harus melakukan sesuatu, pada dasarnya dia memang bukan anak yang suka diam, dia cenderung aktif. Dan apartemen Jungkook sepi sekali. Apa anak itu tinggal sendiri?
Perut Taehyung sudah kenyang sekarang, tapi dia belum membersihkan dirinya sejak kemarin siang. Taehyung mengendusi tubuhnya, setelah itu dia nyengir menyadari tubuhnya yang beraroma sedikit kecut.
"Sepertinya aku harus mandi~"
Taehyung celingukkan mencari keberadaan ranselnya yang ternyata berada diatas kursi belajar Jungkook. Taehyung bangkit dari ranjang menuju kursi Jungkook dan mengambil pakaian gantinya yang berada didalam ransel. Dia menatap meja belajar Jungkook yang sangat tertata rapi dengan berbagai buku dari yang tipis hingga yang tebal yang tersusun diraknya. Berbeda sekali dengan meja belajar Taehyung yang sebagian besar dihuni oleh komik-komik dari pada buku pelajaran. Anak ini..tidak salah dia menjadi ketua OSIS batin Taehyung sedikit kagum.
Taehyung mengambil ponselnya kemudian mengaktifkan kembali benda itu. Dan langsung saja ponsel Taehyung dibanjiri oleh berpuluh-puluh pesan dan panggilan dari ayah dan ibunya..dan juga Jimin? Mampus, mereka pasti menghubungi Jimin karena Taehyung pernah mengatakan kalau dia satu kelas dengan Jimin sahabatnya itu sekarang. Jimin pasti marah padanya!
Taehyung dengan cepat mengetikkan satu pesan untuk ibunya.
'Untuk saat ini ayah atau ibu jangan menghubungiku! Aku masih marah dengan kalian karena perjodohan itu dan jangan menyuruhku pulang jika kalian masih memaksaku melakukan perjodohan itu!
P.S: jangan mencariku, karena aku berada ditempat yang lebih baik dari pada dirumah!'
Taehyung mendengus setelah mengaktifkan mode silent pada ponselnya, pasti setelah mereka menerima pesan darinya mereka akan kembali membanjiri ponselnya dengan pesan dan panggilan.
Maaf saja, Taehyung tidak akan membalasnya!
Dasar anak durhaka.
..
Taehyung keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang lebih segar sekarang, surai merahnya masih basah karena lelaki itu malas mengeringkannya.
"Sekarang..apa yang harus kulakukan?"
Sekarang baru jam 11 siang, dan Jungkook baru akan pulang 3 jam lagi. Taehyung memutuskan untuk membereskan ranjang Jongkook yang ditidurinya. Setelah itu dia keluar dari kamar dan menuju dapur untuk mencari sesuatu. Taehyung membuka kulkas Jungkook dengan mata berbinar.
"Wow" Ucapnya saat melihat isi kulkas Jungkook yang penuh dengan berbagai makanan.
Dia memutuskan untuk mengambil 2 kaleng soda dan beberapa bungkus snack lalu membawanya keruang tamu. Taehyung segera melahap snack itu setelah sebelumnya dia menyalakan televisi. Sepertinya, tanpa diberitahu Taehyung sudah menerapkan yang namanya 'anggap saja rumah sendiri' ketika dia bertamu dirumah orang. Hei, Jungkook bahkan tidak bilang begitu padanya, dasar Taehyung!
"Hoaammm.."
Taehyung menguap dengan lebar, ujung matanya berair. Dia bosan sekarang, acara televisi yang ditontonnya sudah tidak ada yang menarik lagi dan snacknya pun sudah habis sejak beberapa menit yang lalu.
Mata Taehyung mulai memberat dan beberapa saat setelahnya lelaki bersurai merah itu tertidur dengan kepala yang beralaskan sandaran sofa, membiarkan televisi didepannya yang masih menyala.
..
Jungkook berjalan menuju kamar apartemennya dengan lesu. Hari ini dia cukup lelah karena tambahan tugas sebagai ketua OSIS yang sedikit menyita waktu belajarnya disekolah. Seharusnya dia sudah pulang satu jam yang lalu. Jungkook memijat lehernya yang terasa pegal dengan teratur sedangkan satu tangannya membuka pintu apartemennya.
Sepi, hanya suara televisi yang terdengar samar dari ruang tamu. Jungkook melangkah masuk dengan sedikit bingung. Kemana Taehyung? Apa anak itu sudah pulang? Tapi, siapa yang menyalakan televisinya kalalu anak itu sudah pulang?
Jungkook berjalan mendekati remot televisi yang berada dimeja, ingin mematikan televisi. Tapi, saat dirinya sudah berada tepat disamping meja dia langsung mendengus melihat seorang lelaki bersurai merah yang ternyata terbaring meringkuk disofa beralaskan lengannya. Nafas anak itu teratur menunjukkan betapa lelapnya dia tidur.
Sekali lagi Jungkook mendengus melihat tumpukkan sampah kaleng dan snack yang berhamburan diatas meja. Jungkook melangkah kekamar untuk mengganti pakaiannya setelah dia mematikan televisi, setelah itu dia kembali keruang tamu untuk membersihkan sampah bekas Taehyung.
Taehyung sama sekali tidak terusik dengan apa yang dilakukan Jungkook. Dia menghampiri Taehyung dan berjongkok tepat didepan wajahnya. Jungkook menatap wajah yang berada didepannya itu dengan dalam. Mulai dari poni merah lembut Taehyung yang jatuh menutupi sebagian dahinya, alisnya yang sedikit menyatu, kelopak matanya yang tertutup dengan bulu mata yang lebat dan panjang, lalu hidung bengirnya dan yang terakhir adalah bibir merah tebalnya yang sedikit membuka. Jungkook memusatkan tatapannya pada bibir merah Taehyung yang terlihat menggoda itu. Jungkook jadi berpikir, apakah itu akan terasa lembut saat dia menyentuhnya? Atau, apakah itu akan terasa manis jika Jungkook menciumnya? Ah, sepertinya otak ketua OSIS kita sedikit konslet saat ini, mungkin dia sedang lelah.
Jungkook menghela nafas mengusir pemikiran anehnya. Tidak biasanya dia hampir lepas kendali seperti ini, Jungkook adalah orang yang mudah tenang. Atau, hanya jika didepan Taehyung saja dia bisa seperti ini?
"Tidurmu lelap sekali eoh?" Ucapnya dengan pelan. Tangannya bergerak mengelus pelan pipi lembut Taehyung membuat anak itu melenguh pelan seperti anak kucing tetapi tidak terganggu sama sekali dengan aktivitas tangan Jungkook diwajahnya. Dan entah kenapa Jungkook tersenyum tipis dibuatnya secara tidak sadar.
Jungkook memutuskan untuk memindahkan Taehyung kekamarnya, dia sedikit tidak nyaman melihat posisi tidur Taehyung yang meringkuk disofa, yah walaupun anak itu sepertinya tidak mempermasalahkannya.
Jungkook mulai menyelipkan lengannya diantara punggung Taehyung dan lututnya.
Hap!
"..ringan sekali"
Dia menatap wajah tidur Taehyung datar. Tubuh Taehyung memang sedikit kurus namun juga tinggi, walaupun masih lebih tinggi Jungkook. Tapi Jongkook tidak menyangka kalau tubuh Taehyung akan seringan ini, dia bahkan dapat dengan mudah mengangkat tubuh itu.
Jungkook mulai melangkah kekamarnya setelah memastikan posisi Taehyung nyaman digendongannya. Tapi, baru setengan jalan anak itu mulai menunjukkan kesadarannya. Matanya mulai mengerjap dengan pelan. Dari tangannya refleks mencengkram kaos didada Jungkook, membuat Jungkook menghentikan langkahnya dan menatap wajah polos khas bangun tidur Taehyung.
"Eunghh..Ju-Jungkook?" Taehyung menatap Jungkook dengan bingung, dia merasakan tubuhnya terangkat. Seingatnya terakhir kali dia tertidur disofa.
Saat kesadarannya sudah terkumpul Taehyung langsung membulatkan matanya. Anak itu memekik tertahan. Wajahnya sangat dekat dengan wajah Jungkook..dan dia berada digendongan lelaki itu! Wajah Taehyung perlahan merona saat menyadari posisinya saat ini.
"Jungkook, turunkan aku!"
Jungkook menatapnya bingung. "Bukankah kau mengantuk? Tidur saja lagi, aku akan membawamu kekamar"
"Ti-tidak, Jungkook. Turunkan aku sekarang, aku sudah tidak mengantuk!"
Akhirnya dengan terpaksa Jungkook menurunkan Taehyung karena anak itu terus meronta digendongannya minta diturunkan.
Setelah kaki Taehyung menyentuh lantai Jungkook menatapnya tajam sambil melipat tangannya didada. Taehnyung meliriknya malu-malu dengan bibir yang mengerucut.
"Kenapa? Kenapa kau memandangiku seperti itu?!" Bentaknya.
"Karena kau sudah bangun, ayo kita bicara sekarang" Jungkook langsung menarik lengannya menuju sofa.
Bruk!
"Bicara apa?"
"Kenapa bertanya padaku? Bukankah seharusnya kau yang bicara, tidakkah kau merasa harus menjelaskan sesuatu padaku?" Jungkook kembali menatapnya tajam sambil melipat tangannya didada.
Sedangkan Taehyung berusaha mengalihkan tatapan dari mata Jungkook karena gugup.
"Tadi aku bertemu Jimin hyung disekolah, dia bilang orang tuamu sangat menghkawatirkanmu.." Jungkook meraih wajah Taehyung agar anak itu menatapnya. Taehyung menelan salivanya keras saat matanya bertemu dengan mata beriris hitam kelam Jungkook yang menatapnya tajam.
"Kau kau tidak pulang kerumah huh? Sebenarnya apa yang kau lakukan Taehyung?"
"..a-aku kabur dari rumah.."
"Apa?"
"Aku kabur dari rumah Jungkook.."Taehyung meremas ujung kaosnya sesekali melirik Jungkook yang hanya diam menatapnya. Dia menggelengkan kepalanya keras kemudian kembali menatap Jungkook melas. "Kumohon jangan beritahu mereka kalau aku ditempatmu Jungkook..dan soal Jimin biarkan aku sendiri yang bicara dengannya nanti.."
"Dan kenapa aku harus menuruti perkataanmu?"
Taehyung menggigit bibir bawahnya. "Ka-karena aku punya alasan! Aku akan dijodohkan Jungkook, dijodohkan! Mereka memaksaku, bagaimana aku tidak kabur?"
Jungkook tersentak. Apa? Taehyung dijodohkan? Entah kenapa Jungkook sedikit khawatir tentang itu.
"Kau..dijodohkan? Dengan siapa?"
Taehyung menggeleng. "Aku bahkan tidak tau siapa yang mereka jodohkan denganku. Mereka hanya bilang kalau aku satu sekolah dengan orang yang akan mereka jodohkan denganku itu. Dan lagi 5 hari lagi mereka akan membawaku menemui orang itu.."
Jungkook memijat pelipisnya. "Kenapa kau tidak minta bantuan dengan Jimin hyung? Bukankah dia sahabatmu?"
"Tidak bisa..orang tuaku mengenal Jimin Jungkook..mereka bisa saja menanyakan keberadaanku pada Jimin. Aku tidak tahu lagi harus kemana" Taehyung menunduk.
Jungkook pun terdiam begitupun dengan Taehyung. Hingga beberapa saat Jungkook kembali membuka suara.
"Jadi..inti dari pembicaraan ini adalah?"
Taehyung mengangkat kepalanya kemudian menatap Jungkook dengan mata yang sudah berkaca-kaca namun terlihat sangat manis. "Kumohon..biarkan aku tinggal disini Jungkook.." Apa? Tinggal bersama Taehyung? Jungkook tidak pernah membayangkan hal itu akan terjadi. "Kumohon..aku janji akan melakukan apapun yang kau perintahkan. Aku bisa membersihkan apartemenmu, mencucikan pakaianmu atau memasak untukmu yah walaupun aku tidak terlalu ahli, tapi aku akan berusaha! Sebagai gantinya kumohon biarkan aku tinggal disini..aku tidak tau lagi harus kemana Jungkook.."
Jungkook mendesah panjang mendengar penjelasan Taehyung.
"Kenapa harus aku?"
"Ka-karena..aku tidak tau lagi harus kemana. Dan karena malam itu aku bertemu denganmu, entah kenapa aku berpikir hanya kau yang bisa kumintai tolong saat itu, a-aku pikir aku bisa mempercayaimu Jungkook. Kau bukan orang yang suka mengadu kan?"
Jungkook menyandarkan tubuhnya disofa. Anak ini, terlalu mudah mempercayai orang lain, untung yang dia temui itu Jungkook, coba kalau orang-orang jahat diluaran sana? Mereka bisa saja memanfaatkan kepolosan Taehyung untuk keuntungan mereka.
Dia mendengus kearah Taehyung. "Tentu saja. Kau bisa mempercayaiku, aku bukan orang yang seperti itu Taehyung.."
"Jadi..aku bolehkan tinggal disini?" Tanya Taehyung memastikan.
Jungkook akhirnya mengangguk pasrah. Membuat Taehyung memekik senang. Lagi pula Jungkook entah kenapa tidak rela saat mengetahu kalau Taehyung akan dijodohkan, dan dengan Taehyung yang tinggal disini itu bisa membuat Jungkook sedikit bernafas lega. Setidaknya dia bisa memperlambat perjodohan Taehyung terjadi kan? Walaupun dia tidak yakin bisa mencegah hal itu nantinya.
"Kau sudah makan siang?" Tanya Jungkook menoleh kearah Taehyung yang duduk disampingnya. Anak itu mengangguk dengan semangat.
"Apa yang kau makan?" Setahu Jungkook dia tidak memasak apapun hari ini selain untuk sarapan Taehyung tadi pagi.
"Aku memakan snackmu yang ada dikulkas, banyak sekali! Jawabnya sambil tertawa.
Ya ampun, walaupun kulkasnya penuh dengan makanan, tapi itu semua hanya berisi snack makanan ringan dan sebagian lagi bahan olahan yang belum jadi. Bagimana itu bisa disebut makan siang? Tidak mengenyangkan sama sekali. Pantas saja tubuh Taehyung ringan sekali jika makanannya seperti itu, batin Jungkook.
"Makan makanan seperti itu tidak akan membuatmu kenyang.."
"Tapi aku kenyang!" Bantahnya.
"Apanya..pantas saja tubuhmu ringan sekali ternyata makananmu seperti itu" Ucap Jungkook sambil menggelengkan kepala.
"Jungkook!"
"Sudahlah. Lebih baik kau lakukan tugas pertamamu seperti yang kau janjikan tadi. Kau masaklah sesuatu, sebentar lagi waktu makan malam"
Taehyung menggaruk kepalanya. "Apa yang harus kumasak?"
Jungkook berdecak. "Apapun itu Taehyung, asal layak untuk dimakan"
Taehyung mengangguk-angguk. "Hmm..baiklah aku akan mencobanya.."
"Ingat, jangan membuat kekacauan diapartemenku. Dan selamat berkerja..pembantu.." Ucap Jungkook sambil melangkah kekamarnya.
"Hei! Aku bukan pambantumu tahu, dasar kurang ajar!" Teriak Taehyung marah.
Hah, anak itu tetap saja menyebalkan walaupun dia sudah berbaik hati mau menolongku, batin Taehyung sambil menggelengkan kepalanya.
..
"Chanyeol, lihat Taehyung mengirimiku pesan!" Heboh Baekhyun sambil meunjukkan ponselnya dihadapan Chanyeol.
"Apa? Mana, mana?" Chanyeol meraih ponsel istrinya itu kemudian membaca pesan yang dikirim Taehyung.
"Kau sudah menghubunginya balik?"
"Sudah..tapi sama sekali tidak dibalas"
Kedua orang itu terdiam.
"Chanyeol, bagaimana? Taehyung bilang dia tidak akan pulang sebelum kita membatalkan perjodohan itu.." Ucap Baekhyun sambil menatap Chanyeol, sangat jelas raut kekhawatiran diwajahnya.
Jackson dan Jeaper hanya memandangi orang tua mereka dalam diam.
"Tapi kita tidak bisa melakukan itu sayang, kau tahu.."
"..apa kita lapor polisi saja Yeol?"
"Jangan dulu Baek, lagi pula Taehyung sepertinya tidak diculik. Kau lihatkan Taehyung masih bisa mengirimi kita pesan, berarti dia berada disuatu tempat entah dimana itu. Kupikir lebih baik kita membiarkannya dahulu, siapa tahu nanti dia akan berubah pikiran dan mau kembali kerumah ini. Kita jangan terlalu mendesaknya Baek, biarkan perlahan" Jawab Chanyeol sambil berusaha menenangkan istrinya, padahal dia sendiri pun tak kalah khawatir.
Baekhyun hanya mengangguk pelan walaupun dia masih diliputi rasa khawatir terhadap anak pertamanya itu.
"Aku harap kau baik-baik saja Taehyung.."
"Hyung kemana? Kenapa dia tidak pulang?" Tanya Jesper polos sambil menatap orang tuanya bergantian.
"Hmm..hyung sedang bermalam dirumah temannya sayang" Baekhyun mengelus surai hitamnya.
Jackson hanya diam. Sedikit tahu dia mengerti apa yang dibicarakan oleh orang tuanya itu, apalagi mereka terlihat mengkhawatirkan hyungnya itu. "Kuharap hyung cepat pulang.." Gumamnya.
..
"Jungkook"
Fokus Jungkook teralihkan pada Taehyung yang berdiri disampingnya.
"Ada apa?"
"Eum..itu, karena aku tinggal disini, aku akan tidur dimana?"
Jungkook mengerjap. Diapartemennya ini hanya ada dua kamar, kamar miliknya dan kamar miliknya hyung yang saat ini sedang kosong. Jungkook bisa saja menyuruh Taehyung menempati kamar hyungnya tapi..Jungkook merasakan perasaan semacam tidak rela, entahlah dia juga tidak mengerti apa yang dia pikirkan.
Jungkook mendongak menatap Taehyung. "..kau tidur dikamarku saja"
"Hah? La-lalu kau akan tidur dimana kalau aku tidur dikamarmu?"
"Kita bisa berbagi tempat tidur. Lagipula ranjangku cukup luas untuk ditempati oleh dua orang.." Jawab Jungkook dengan pelan, dia menatap Taehyung dalam tepat dimatanya.
"Apa? Jadi, kita akan tidur berdua?" Tanya Taehyung dengan wajah memerah, membayangkan dia dan Jungkook dalam satu ranjang entah kenapa itu membuatnya malu. Memangnya kenapa? Lagipula kalian sama-sama lelaki kan? Tidak ada yang perlu dikhawatirkan Taehyung..
Jungkook mengangguk. "Kau tidak keberatan kan?"
Taehyung langsung menggeleng. Sudah syukur Jungkook mau menampungnya disini, dia tidak akan minta yang macam-macam. Taehyung sedikit tahu diri. "Tidak! Jungkook.."
"Tae, kalau kau mengantuk tidur saja duluan. Aku masih harus mengerjakan tugasku" Ucap Jungkook yang melihat Taehyung menguap.
"Yasudah, aku tidur duluan" Taehyung langsung melemparkan tubuhnya diranjang membuatnya memantul beberapa kali. Tak lama setelahnya anak itu langsung jatuh tertidur. Taehyung memang anak yang cepat sekali tertidur.
Jungkook segera membereskan meja belajarnya setelah dia selesai mengerjakan tugas rumahnya. Dia merenggangkan tubuhnya untuk merileks-kan ototnya yang terasa pegal dan mengaku karena duduk berjam-jam dikursi. Diliriknya jam yang menggantung ditembok diatas ranjangnya yang menunjukkan pukul 22.13 malam. Jungkook menuju ranjangnya dan langsung berdecak melihat posisi tidur Taehyung yang tidak biasa, hampir memenuhi seisi ranjang dengan tubuhnya.
Jungkook yang baik hati berinisiatif membetulkan posisi tidur Taehyung yang bar-bar itu. Kalau tidak, dimana dia akan tidur?
Dia menghela nafas setelah Taehyung tidur dengan posisi yang lebih wajar. Jungkook menunduk dan menyempatkan untuk mengusap surai merah Taehyung sebelum dirinya memutari ranjang untuk tidur disisi lainnya. Tapi, sebelum itu terjadi Jungkook menghentikan pergerakkan. Dia menatap bergantian antar Taehyung dan tangannya, yah tangannya yang tiba-tiba mencengkram kaos dibagian dada Jungkook, membuatnya tidak bisa menjauh.
"Taehyung.."
Mana tega Jungkook membangunkan makhluk polos yang tidur dihadapannya ini. Jungkook menghela nafas dan terpaksa membaringkan tubuhnya disamping Taehyung, dia tidak bisa menjauh sekarang. Taehyung yang merasakan ada kehangatan disampingnya semakin merapatkan tubuhnya pada Jungkook untuk mendapatkan kenyamanan tanpa melepaskan cengkramannya dikaos Jungkook. Jungkook harus merelakan lengannya yang kini menjadi batal Taehyung. Hah, lihatlah betapa manisnya makhluk didekapannya ini, Jungkook hanya bisa terdiam menatap wajah Taehyung yang sangat dekat dengannya.
"Tidak..tidak mau dijodohkan..ibu.." Taehyung meracau dalam tidurnya. Jungkook menggelengkan kepala. Anak ini, dalam tidurnya pun masih kepikiran tentang perjodohannya, kasihan sekali. Tangan Jungkook pun mulai bergerak mengelus-elus punggung Taehyung dengan lembut untuk membuatnya tetap tenang.
"Eung..hangat..Kookie.." Taehyung bergumam dalam tidurnya membuat Jungkook yang mendengarnya tersenyum tipis.
"Selamat tidur Tae.."
.
.
.
.
.
.
Tbc
Hai-hai, bagaimana dgn chap kali ini? Apa kookv moment nya udh berasa? Moga bisa memuaskan reader semuanya, yah walaupun ini masih banyak kekurangannya~ #sigh
Kyaknya banyak yang nebak klo yg dijodohin sama tae itu kookie ya? Hm, berdoa aja moga itu beneran kookie waks xD #evilsmirk
Terima kasih juga buat yg udh review chap kemarin, yg udh follow or fav fanfic gaje ini. Pokoknya makasih banyak deh buat yg udh meluangkan waktunya baca ff ini #deepbow
Last, review please? Biar semangat lanjutin ni fanfic gaje hehe xD
