Chapter 5
My Life Is Strange
KookV (Jungkook and Taehyung)
T
BoyxBoy/Yaoi
Warn: OOC, Typos, OC, MPreg, tdk sesuai EYD, gaje, abal, garing, aneh dsb..
Don't like don't read~
.
.
.
.
.
.
A/N:
Disini kookie itu emang 1 tahun dibwh mphi sama temen seangkatannya jadi dia baru 16 tahun, dia kan pinter makanya bisa loncat kelas :v
Jimin dan Meanie (17), Luhan (38) dan Sehun (36).
Dua orang lelaki dewasa dan dua orang anak kecil memasuki sebuah café dengan tergesa-gesa. Mereka menatap kepenjuru isi café untuk mencari meja yang mereka tuju. Saat sudah menemukan apa yang mereka cari, mereka langsung menghampiri meja itu sambil tersenyum lega.
"Hyung, maafkan kami terlambat! Tadi ada sedikit masalah.." Ucap Baekhyun sambil menghela nafas. Chanyeol yang masih menggandeng Jackson dan Jesper mengangguk mengiyakan.
"Tidak apa Baek, silahkan duduk. Aku dan Sehun juga baru datang hahaha" Ucap seorang lelaki dewasa dengan wajah cantiknya.
Keempat orang itu pun langsung mendudukkan diri. Chanyeol memangku Jesper sedangkan Jackson duduk diantara dirinya dan Baekhyun.
"Pesanlah dulu sesuatu, sepertinya kalian cukup lelah" Suruh Luhan.
"Hai, Sehun. Bagaimana kabar kalian?" Tanya Chanyeol basa-basi.
"Kami baik hyung" Ucap lelaki berkulit pucat sambil tersenyum tipis. "Bagaimana dengan kalian?"
Chanyeol tersenyum lebar. "Yah, seperti yang kau lihat. Kami sangat baik!" Dia memainkan tangan mungil Jesper yang menatap dua orang didepannya dengan penuh tanya.
"Wahh~ lihatlah siapa dua anak manis ini? Benar-benar duplikat Chanyeol dan Baekhyun" Ucap Luhan menatap Jesper dan Jackson dengan senyum manisnya.
Baekhyun berhenti menyeruput minumannya. "Ah, benar! Ini kan pertama kalinya kalian bertemu dengan kedua anakku yang ini! Yang ini namanya paman Luhan dan yang itu paman Sehun" Seru Baekhyun sambil menunjuk Luhan dan Sehun bergantian. "Jack, Jes, ayo perkenalkan diri kalian" Suruh Baekhyun.
Jackson mengangguk kemudian berdiri untuk membungkuk pada Luhan dan Sehun. "Hai, namaku Jackson Park. Tapi kalian bisa memanggilku Jack, salam kenal!" Ucapnya sambil tersenyum lebar.
Sedangkan anak yang berada dipangkuan Chanyeol terlihat malu-malu saat Chanyeol menyuruhnya melakukan seperti yang dilakukan oleh Jackson.
"Yang ini namanya Jesper. Dia memang sedikit pemalu jika bertemu dengan orang baru" Ucap Chanyeol sambil terkekeh.
Luhan mengangguk dengan semangat. "Salam kenal juga Jack dan Jesper!"
"Oh iya, Baek. Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan dengan kami? Sepertinya penting sekali"
Baekhyun tersentak dengan pertanyaan Luhan yang tiba-tiba. Dia menggaruk lehernya dengan kaku. "Ahh..itu hyung. Sebenarnya ini tentang perjodohan anak kita.."
Luhan dan Sehun saling berpandangan kemudian menatap dua orang dewasa didepan mereka dengan bingung.
"Ya?"
"Itu, Ta-Taehyung hyung, dia kabur.."
"APA?!" Teriak Sehun dan Luhan bersama. Beberapa pengunjung café menatap mereka dengan berbagai ekspresi.
"Stt..Hyung, Sehun, kumohon kalian tenanglah dulu" Ucap Chanyeol cepat sambil menatap sekelilingnya. Setelah melihat dua orang didepannya sudah cukup tenang, Chanyeol kembali melanjutkan. "Seperti yang aku katakan tadi, Taehyung memang benar kabur.."
"Ta-Taehyung kabur? Bagaimana bisa?" Tanya Luhan dengan wajah khawatirnya.
"Begitulah hyung, Taehyung kabur karena dia tidak mau dijodohkan"
Luhan menatap mereka dengan tatapan yang sulit diartikan. "Begitu ya..jadi apa yang harus kita lakukan? Taehyung sekarang ada dimana? Bagaimana kita menemukannya?"
Chanyeol dan Baekhyun menghela nafas bersama.
"Hyung, kenapa tidak lapor polisi saja untuk mempermudah menemukan Taehyung?" Tanya Sehun.
"Sepertinya tidak perlu Sehun. Taehyung memang kabur, tapi kurasa dia baik-baik saja. Kemarin dia mengiriku pesan dia bilang tidak akan pulang sebelum kita membatalkan perjodohan itu. Kurasa dia berada ditempat seorang kenalannya.."
"Benarkah?! Lalu, apa kalian sudah menghubungi Taehyung?"
Baekhyun menggeleng. "Tidak diangkat, padahal aku sudah menghubunginya berkali-kali"
"Jadi bagaimana? Bukankah sebentar lagi kita akan melakukan pertemuan keluarga?" Tanya Sehun.
"Soal itu..sepertinya harus ditunda dulu. Taehyung, anak itu sedikit keras kepala apalagi kalau dia dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak disukainya. Lebih baik kita membiarkannya dulu hyung sambil kami memikirkan cara untuk membujuk anak itu agar mau pulang. Kuharap kalian mau bersabar.." Jelas Baekhyun.
Luhan dan Sehun hanya bisa mengagguk pasrah.
"Tidak apa Baek, kami akan menunggu, kasihan juga kalau dia terus dipaksa. Semoga Taehyung cepat pulang dan kuharap keadaan anak itu baik-baik saja. Aku sudah terlanjur suka dengannya.." Ucap Luhan sambil menghela nafas.
..
"Jungkook?"
Jungkook mengangkat kepalanya menatap Taehyung yang duduk diseberangnya. Saat ini kedua anak itu sedang menghabiskan sarapan mereka.
"Ya?"
"Kau berangkat sekolah menggunakan apa?"
"Motor"
"Ohh..aku kira kau jalan kaki"
Jungkook menatap bingung Taehyung yang terlihat ragu. "Ada apa huh?"
"Ah..itu..a-aku boleh tidak pergi kesekolah denganmu? Aku tidak tau jalanan didaerah sini dan aku juga tidak punya uang sama sekali..kau mau kan membawaku Jungkookie?" Tanya Taehyung dengan puppy eyesnya.
Jungkook menatap dengan tajam. "Hentikan tatapan itu.." Kau membuatku merasa tidak nyaman lanjut Jungkook dalam hati.
"Kau ini, kabur dari rumah tapi tidak ada persiapan, pingsan ditengah jalan dan tidak membawa uang. Bagaimana kalau malam itu kau bertemu dengan orang jahat hah? Bisa saja saat itu kau sudah..untung kau bertemu denganku"
Taehyung mengerjapkan matanya mendengar ucapan Jungkook. Dia menatap anak itu dengan kedua mata yang membulat. Apa dia tidak salah dengar? Jungkook terdengar seperti mengkhawatirkannya?
"..kau mengkhawatirkanku?"
Jungkook tersentak kemudian langsung membuang muka. Wajahnya merona samar. Dia berdehem untuk menenangkan dirinya. Taehyung yang menyadari itu, dia langsung cengengesan. Ya ampun, ternyata Jungkook bisa bersikap manis seperti ini juga? Batinnya.
"Jungkook kau manis sekali!" Ucap Taehyung tertawa.
"Berisik!"
"Wajahmu merona omong-omong~"
"Bukan urusanmu"
"Eii..aku tidak menyangka ternyata kau bisa merona juga"
"Hentikan.."
"Hah?"
"Ck, habiskan saja sarapanmu!" Desis Jungkook.
Taehyung langsung mengerucutkan bibirnya. "Jungkookie? Kookie? Jadi bagaimana dengan yang tadi? Apa aku boleh pergi kesekolah denganmu?"
"..baiklah, kau boleh pergi bersamaku"
"Assa! Terima kasih ya?! Aku tidak menyangka ternyata kau orang yang baik, seperti kata Jimin!" Ucap Taehyung sambil cengengesan.
"Apa maksudmu?" Tanya Jungkook sebelum meneguk minumnya. Dia sudah menyelesaikan sarapannya, tinggal menunggu anak didepannya ini yang sedari tadi belum menghabiskan sarapannya, dia malah sibuk mengoceh.
"Yah, maksudku ternyata kau itu tidak seburuk yang kupikirkan. Apa kau masih ingat waktu pertemuan pertama kita? Kau menyebalkan sekali saat itu! Ah, mengingat itu aku jadi teringat PSP-ku. Jungkook, bukankah kah masih menyitanya? Ayo cepat kembalikan!"
"Taehyung..kau ini berisik sekali. Cepat habiskan sarapanmu, nanti kita terlambat"
"Tapi PSP-ku?"
"Kita bicarakan itu nanti. Cepat, kalau kau lambat aku akan meninggalkanmu"
"Hei! Tidak perlu mendesakku Jungkook!"
"Cepat atau kutinggal?"
Taehyung mendengus kesal, dalam hati dia kembali menarik ucapannya yang menyebut Jungkook anak yang baik. Heh, ternyata dia masih saja menyebalkan! Dia buru-buru menghabiskan sarapannya teringat akan ancaman dari Jungkook tadi. "Iya, iya, sabar!"
Jungkook tersenyum tipis tanpa sepengetahuan Taehyung melihat anak itu yang menghabiskan sarapannya dengan kesal dan sesekali menggerutu.
..
Belum juga kedua kaki Taehyung menginjak tanah, tapi kedatangannya kesekolah sudah disambut dengan teriakkan cempreng dari Jimin sahabatnya itu. Kedua orang yang masih berada diatas motor itu sontak menoleh kearah Jimin.
"HEI, TAEHYUUUNG!"
Jimin menghampiri mereka berdua dengan wajah yang siap meledak kapan saja. Taehyung bergegas turun dari motor Jungkook dengan tersenyum kaku.
"Ha-hai, Jimin"
"Hai kepalamu! Kemana saja kau kemarin hah? Kau benar-benar kabur? Orang tuamu mengkhawatirkanmu tahu! Dan lagi, kenapa kau bisa berangkat bersama Jungkook?" Sembur Jimin dengan cukup keras, membuat mereka menjadi pusat perhatian.
"Wow, wow, santai Jim. Bisakah kau tidak berteriak? Orang-orang menatap kearah kita bodoh!"
Jungkook yang sudah selesai memarkir motornya segera menghampiri kedua orang itu dengan tenang.
"Hyung, tenanglah. Nanti, Taehyung akan menjelaskannya padamu" Ucap Jungkook. Taehyung mengangguk cepat.
Taehyung menatap sekelilingnya risih, mereka masih menjadi pusat perhatian. Memangnya siapa yang mau melewatkan menatap si orang nomor satu disekolah mereka? Tentu saja mereka penasaran dengan apa yang tengah terjadi pada si ketua OSIS dan ada hubungan apa dia dengan dua orang yang bersamanya itu.
"Lebih baik kita bicara ditempat lain.." Taehyung buru-buru menarik kedua lengan Jungkook dan Jimin meninggalkan tempat parkir. Tujuannya saat ini membawa kedua orang itu ketaman sekolah yang sempat Taehyung lewati waktu dia pertama kali masuk kesekolah ini.
Taehyung bernafas lega setelah mereka duduk dengan aman disebuah bangku taman, dia duduk diantara Jungkook dan Jimin sekarang. Keadaan taman pagi ini cukup sepi dan tenang. Beruntunglah mereka datang cukup pagi, jadi mereka punya banyak waktu untuk berbicara sebelum bel masuk kelas.
"Cepat jelaskan padaku sekarang!" Desak Jimin sambil menatapnya tajam. Sedangkan Jungkook hanya duduk dalam diam disamping Taehyung. Sebenarnya dia tidak ada perlu disini, hanya saja karena Taehyung yang sudah terlanjur menariknya tadi, jadilah dia malah ikut mendengarkan pembicaraan kedua orang itu.
Taehyung berdehem, lalu menatap Jimin sok serius. "Jadi, begini Jim..."
...
"Ahh..begitu. Dan sekarang kau tinggal bersama Jungkook?" Tanya Jimin.
"Kenapa bertanya lagi sih? Aku kan sudah menceritakan semua padamu tadi. Aku tidak mau mengulangnya lagi!"
"Hei, tidak usah marah bodoh! Aku kan hanya memastikan. Ah, bukankah kau bilang membenci Jungkook? Dan sekarang kau tinggal dengannya?"
"Iya aku memang tinggal dengan Jungkook sekarang. Dan tentang aku membenci anak ini, itu memang benar. Tapi, sebenarnya dia anak yang baik seperti katamu Jim. Benar kan Kookie?" Taehyung beralih menatap Jungkook kemudian mengacak surai hitamnya gemas. Jungkook mencoba menghindari tangan Taehyung yang mengacak surainya dan menatap lelaki bersurai merah itu dengan terganggu.
"Pfft..Kookie?" Jimin menahan tawanya. Jungkook menatapnya tajam. Setahu Jimin anak itu tidak suka dipanggil dengan nama semanis itu, katanya itu membuatnya merasa diperlakukan seperti anak kecil. Yah, walaupun kenyataannya dia memang lebih muda dari mereka sih. Tapi, Jungkook tidak menolak saat Taehyung memanggilnya begitu walaupun tetap saja wajah anak itu terlihat sedikit terganggu dengan panggilan dari Taehyung. Apa ada sesuatu yang tidak diketahuinya kah? Batin Jimin bingung.
"Ingat ya Jim, jangan sesekali kau memberitahu dimana aku tinggal sekarang pada orang lain, apalagi orang tuaku" Ucap Taehyung penuh penekanan saat dia menyebut 'orang tuaku'.
"..sebegitu bencinya kah kau dengan perjodohan itu? Tae, kau tidak mau mencoba menjalaninya dulu? Siapa tahu kau akan menyukai orang yang akan dijodohkan denganmu itu"
"BIG NO!" Tolaknya keras. "Ayolah Jim, kau cukup melakukan sepertinya aku suruh tadi, tidak susah kan? Kau mau kan membantu sahabatmu yang sedang kesusahan ini? Masa kau tega padaku.."
Jimin hanya mengangguk dengan terpaksa. Dia sedikit memang prihatin dengan nasib Taehyung yang dijodohkan itu, tapi dia juga merasa tidak nyaman karena anak itu menyuruhnya untuk menjaga rahasianya seperti ini. Nah, pada akhirnya dia malah terseret kedalam masalah Taehyung juga kan?
"Tapi..aku tidak menyangka kalau kau akan melakukan ide tentang kabur itu. Saat itu kan aku tidak benar-benar menyuruhmu untuk melakukan itu Tae. Kau tahu kemarin aku juga sangat mengkhawatirkanmu saat orang tuamu bilang kau kabur dari rumah" Jimin menatapnya ragu. Jungkook melirik Jimin dengan wajah datar.
"Sudalah, itu memang keputusanku, tapi terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Jika ada yang bertanya padamu tentang keberadaanku katakan saja kau tidak tahu" Ucap Taehyung santai.
"Akan kuusahakan"
"Awas kalau kau bocor, aku tidak mau menjadi sahabatmu lagi!"
"Iya TaeTae, kau ini cerewet sekali"
"Hei, kau yang membuatku begini tahu! Makanya jangan bertanya terus bodoh"
"Wajar saja jika aku bertanya, aku kan tidak tahu, kalau aku sudah tahu untuk apa aku menanyaimu lagi?"
"Ish, kau ini ternyata keras kepala juga ya? Menyebalkan sekali" Ucap Taehyung gemas.
"Heh, seperti kau tidak saja~" Balas Jimin menyeringai.
"Jiminnn..."
Kedua orang itu saling mencubit pipi satu sama lain.
Jungkook menatap dua sahabat itu dengan wajah datarnya seperti biasa, namun jika kalian cukup jeli maka kalian akan menemukan kalau bibir anak itu sedikit melengkung kebawah, merengut. Karena terlalu asik, kedua sahabat itu sepertinya sedikit melupakan eksistensi yang termuda diantara mereka.
Jungkook ingin menyela tapi dia merasa tidak enak, kedua orang itu kan masih hangat-hangatnya masa melepas rindu karena sudah lama tidak bertemu. Jika sudah begini, Jungkook merasa terabaikan. Dikacangi lah sebutan lainnya. Dan dia sangat tidak suka diabaikan.
..
"Hei Taehyung, kemana saja kau kemarin? Kenapa tidak masuk sekolah" Tanya Mingyu saat melihat Jimin dan Taehyung memasuki kelas bersama.
"Kau sakit huh?" Tebak Wonwoo.
"Oh, itu..iya aku sedang sakit kemarin. Tapi hari ini aku sudah merasa lebih baik" Jawab Taehyung sambil tertawa.
Jimin disebelahnya hanya memutar matanya mendengar jawaban Taehyung yang jelas-jelas bohong itu. Anak itu gampang sekali berbohong, lihat saja wajah tanpa dosanya itu, benar-benar menipu batin Jimin.
"Ah, syukurlah kalau begitu. Lain kali kau bisa memberitahu kami biar kami bisa menjengukmu" Ucap Mingyu sambil tersenyum. "Kau juga Jim, kenapa tidak memberitahu kami? Kau kan sahabat Taehyung"
"Hei, hei, jangan menyalahkanku. Aku sendiri juga tidak diberitahunya kalau dia sakit.." Jawab Jimin sambil melirik Taehyung yang menatap mereka dengan wajah innocentnya itu. Nah, sekarang aku juga jadi ikut berbohong batin Jimin pasrah.
"Maaf, aku lupa mengabari kalian~"
Setelah fokus Mingyu dan Wonwoo tidak pada mereka lagi, Jimin menatap Taehyung dengan sinis.
"Kau ini..aktingmu hebat juga ya" Ucapnya dengan suara yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.
"Hehe, kau baru tahu ya?"
"Tidak penting tahu" Cibir Jimin. "Hei Tae, omong-omong kapan kau akan menghubungi orang tuamu hah? Kau tidak kasihan apa dengan mereka yang mengkhawatirkanmu?"
Taehyung terdiam mendengar pertanyaan Jimin. "..tidak tahu Jim. Mungkin kalau mereka sudah membatalkan perjodohan sialan itu"
"Hahh..terserahmu lah" Ucap Jimin acuh. Taehyung nyengir kearahnya. Setelah itu keduanya sibuk dengan aktivitas masing-masing.
"Tunggu Tae, aku baru ingat" Ucap Jimin tiba-tiba.
"Ingat apa?"
"Jungkook..bukankah sedikit aneh. Anak itu kan ketua OSIS, tapi dia mau-mau saja menampungmu. Bukankah dengan jabatannya itu, dia bisa saja mengakses data murid untuk mencari informasi tentanmu. Dia bisa saja mengantarmu pulang kerumahmu saat itu, bukannya membawamu keapartemennya.."
"..benar juga ya?" Taehyung menerawang. "Tapi kenapa dia membiarkanku tinggal diapartemennya?"
Jimin mengangkat bahu. "Entahlah. Jungkook itu walaupun dia ketua OSIS, dia tetap membatasi hunbungannya dengan orang yang disekitarnya. Jika ada orang yang bisa dekat dengannya itu sangat beruntung, apalagi sampai bisa tinggal diapartemen pribadinya, seperti kau.."
"Berarti kau juga beruntung bisa kenal dengan Jungkook?"
"Mungkin saja, karena kami kebetulan satu klub"
"Kurasa ada sesuatu pada anak itu, tidak biasanya dia dengan mudah membawa orang yang baru dikenalnya keapartemennya" Ucap Jimin memasang wajah sok serius.
"Terserahmu lah Jim, yang penting Jungkook mau menampungku ya sudah"
"Tae, tidakkah kau berpikir kalau Jungkook itu menyukaimu? Mungkan saja dia tertarik padamu, setahuku Jungkook tidak pernah seperti ini sebelumnya, yahh..kecuali denganmu" Ucap Jimin asal.
Taehyung melotot kearahnya. "Apa-apaan kau Jim, ada-ada saja. Mana mungkin Jungkook menyukaiku.."
"Hei aku bilang kan mungkin, bukannya benar menyukaimu"
"Terserah" Ucap Taehyung acuh. Dia berdiri tiba-tiba membuat Jimin menatapnya bingung.
"Kau mau kemana Tae? Sebentar lagi masuk"
"Aku mau ketoilet sebentar"
"Oh..yasudah jangan lama-lama"
"Hmm.."
Taehyung melangkah santai menuju toilet sambil memasukkan kedua tangannya disaku celana. Benar saja, tak lama kemudian bel masuk pun berbunyi. Koridor yang tadinya ramai kini berubah menjadi sepi.
Taehyung keluar dari bilik toilet setelah dia menuntaskan hasratnya. Dia menuju wastafel untuk mencuci tangannya. Taehyung membenarkan tatanan surai merahnya sebentar sebelum melangkah menuju pintu toilet.
Baru saja tangan Taehyung membuka pintu toilet, dia tiba-tiba merasakan tubuhnya terdorong kedalam, untung dia bisa menjaga keseimbangan tubuhnya sehingga tidak terjatuh kelantai toilet yang keras.
Pintu toilet tertutup dengan keras dan masuklah 3 orang perempuan yang menatap sinis kearahnya. Taehyung mengangkat satu alisnya bingung. Apa mereka yang tadi mendorongku? Batin Taehyung.
"Hei, ada apa ya? Bukankah ini toilet untuk lelaki kenapa kalian masuk kesini?" Tanya Taehyung.
Salah satu dari 3 perempuan itu maju mendekati Taehyung, tinggi mereka hampir sama jadi Taehyung tidak perlu menunduk menatapnya.
"Hei kau murid baru itu kan? Ada hubungan apa kau dengan Jungkook hah? Kenapa kau bisa berangkat dengan Jungkook?" Tanyanya to the point.
Sepertinya Taehyung tahu apa tujuan 3 murid didepannya ini. "Apa maksudmu? Aku tidak ada hubungan apapun dengan Jungkook, kami hanya berteman" Jawab Taehyung santai.
"Bohong! Selama ini Jungkook tidak pernah mengajak seseorang pergi kesekolah, pasti kau ada sesuatu diantara kalian kan?!" Tanya perempuan berambut pendek sebahu.
Taehyung ingin menjawab tapi tubuhnya didorong lagi hingga dimundur beberapa langkah.
"Tidak usah berbohong!" Bentak perempuan tadi yang mendorongnya. Sebenarnya Taehyung bisa saja membalas perlakuan mereka, tapi dia masih ingat untuk tidak memukul perempuan.
"Hei, dengar ya kalian bertiga, aku sudah bilang yang sebenarnya kalau aku tidak ada hubungan apapun dengan Jungkook. Lagipula aku tidak tertarik dengannya, aku bukan fans Jungkook seperti kalian. Maaf saja, Jungkook bukan tipeku" Jawab Taehyung menatap tajam 3 perempuan didepannya.
Mendengar ucapan Taehyung mereka semakin marah, merasa direndahkan. Perempuan yang tadi mendorong Taehyung mencengkram rahang Taehyung, tidak terlalu sakit sih, tapi sampai membuat Taehyung sedikit meringis karena pipinya yang terkena goresan dari kuku-kuku panjang perempuan didepannya ini.
"Lepaskan aku, aku tidak mau ribut dengan kalian. Aku ingin cepat kembali kekelas"
"Kau..berani sekali"
Cengkraman tangan dirahang Taehyung semakin mengerat. Perempuan itu melepaskan cengkramannya dirahang Taehyung dan tangannya bergerak ingin menampar pipi Taehyung. Melihat itu Taehyung langsung menutup mata.
Tapi sebelum itu terjadi suara pintu yang terbuka membuat keempat murid yang berada didalam toilet itu menoleh kearah pintu. Ketiga permpuan itu seketika membatu ditempat. Taehyung menoleh dan melihat Jungkook yang menatap mereka dengan tatapan dinginnya.
"Ada apa ini?" Tanya Jungkook sambil menatap 4 orang didepannya bergantian.
"Aa..Jungkook, itu.." Yang berambut pendek tergagap sambil menatap Jungkook gugup.
"Oh, Jungkook?" Tanya Taehyung.
Kedua iris hitam Jungkook menajam saat melihat ada setetes darah yang mengalir dari luka goresan yang ada dipipi Taehyung. Jungkook mendekati Taehyung dengan tenang, tangannya bergerak menyentuh rahang Taehyung dengan lembut. Dia mendongakkan wajah Taehyung untuk melihat keadaan wajah Taehyung lebih jelas. Sedangkan Taehyung hanya berkedip balas menatap Jungkook bingung.
"Hei, kau tidak mengunci pintunya hah?" Bisik perempuan yang tadi ingin menampar Taehyung pada temannya.
"Ma-maaf eonni, aku lupa menguncinya.."
Jungkook menoleh kearah 3 perempuan yang sedari melirik takut-takut kearahnya. Jungkook menatap mereka tajam. Jungkook melirik nametag 3 murid itu kemudian kembali menatap mereka dengan tajam.
"..Kim Yoojin, Choi Jinri dan Bae Sooji. Aku akan ingat nama kalian, aku pastikan setelah ini kalian mendapatkan hukuman karena melakukan kekerasan disekolah" Ancam Jungkook. Setelah itu dia menarik lengan Taehyung keluar dari toilet, meninggalkan tiga perempuan yang pasrah menerima hukuman darinya nanti. Memang mereka bisa apa? Jungkook adalah ketua OSIS, murid yang berkuasa disekolah ini.
..
Taehyung masih terdiam ketika Jungkook mendudukkan dirinya diranjang UKS. Jungkook terlihat mengambil sesuatu dilemari obat-obatan kemudian duduk disamping Taehyung.
"Jungkook?"
"Ya?" Jawab Jungkook tanpa menatap mata Taehyung. Dia sedang fokus membersihkan luka gores pada pipi Taehyung. Taehyung sedikit meringis saat Jungkook mengoleskan alkohol pada lukanya.
"Untung saja kau datang tepat waktu, kalau tidak pipiku ini pasti sudah memerah karena tamparan perempuan tadi. Mereka itu fansmu kan? Aku tidak menyangka mereka seganas itu" Ucap Taehyung sambil tertawa kecil.
Jungkook menepuk pelan pipi Taehyung setelah dia menempelkan sebuah plester luka disana. Jungkook tanpa aba-aba meraih wajah Taehyung kemudian mencium pipi Tehyung dengan lembut sambil menutup kedua matanya, mencium Taehyung tepat dimana plester luka itu menempel.
Taehyung hanya bisa membulatkan matanya dengan mulut yang menganga karena terkejut. Wajahnya mulai merona perlahan kerena malu. Apa-apaan ini? Kenapa Jungkook menciumnya?
Setelah beberapa detik Jungkook baru melepaskan bibirnya dari pipi Taehyung. Dia menghela nafas kemudian menatap Taehyung dengan pandangan yang sulit diartikan. "Kau tidak apa Tae? Apa mereka menyakitimu ditempat lain?" Jungkook bertanya dengan tenang dengan suara rendahnya itu.
Taehyung memiringkan kepalanya menatap Jungkook, masih dengan wajah yang merona manis. "Jungkook..kurasa kau sedikit berlebihan," Taehyung meremas jemarinya yang bertaut. " Aku tidak apa, lagipula luka seperti ini sama sekali tidak masalah untukku, yah walaupun sedikit perih sih, paling nanti sudah tidak sakit lagi" Taehyung menatap iris hitam Jungkook yang masih menatapnya dalam.
Entah kenapa dada Taehyung sedikit berdesir saat Jungkook menatapnya seperti itu.
"..yah, kurasa aku memang sedikit berlebihan" Jungkook terdiam menatap wajah Taehyung yang terlihat begitu manis didepannya sebelum akhirnya dia membuang pandangannya dari Taehyung sambil mengelus belakang kepalanya. Dia sendiri juga bingung kenapa dia melakukan itu, tubuhnya seolah bergerak dengan sendirinya.
Taehyung menunduk. Dia ingin menanyakan alasan kenapa Jungkook tiba-tiba menciumnya seperti tadi tapi dia merasa sedikit malu. Tiba-tiba saja ucapan Jimin tadi terlintas dikepalanya, Taehyung buru-buru menggeleng, dia tidak mau sembarangan menduga.
Taehyung tertawa dalam hati, mana mungkin kan Jungkook me..menyukainya? Mungkin saja kan Jungkook tadi itu sedang khilaf? Entahlah, Taehyung bingung sendiri dengan pemikirannya.
..
Sebenarnya hubungan diantara mereka berdua terasa sedikit canggung sejak kejadina di-UKS itu, hanya saja mereka mencoba untuk bersikap seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa diantara mereka. Taehyung pikir Jungkook tidak terlalu memikirkan kejadian itu karena dia tidak pernah mengungkitnya, makanya Taehyung juga memilih untuk tetap diam.
Taehyung pikir hubungan mereka akan baik-baik saja.
Kamar luas itu terasa sunyi karena tidak ada suara yang terdengar walaupun ditengah-tengah ranjang itu terdapat dua orang lelaki yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing dalam diam.
Jungkook sedang bersandar diheadboard ranjangnya sambil membaca bukunya dengan serius. Jungkook mengerutkan dahinya, konsentrasinya buyar saat mendengar getaran pada ponsel Taehyung yang berda dimeja kecil disampingnya, cukup mengganggu. Jungkook menoleh kearah si pemilik ponsel yang berbaring tiarap disampingnya. Jungkook menatap datar Taehyung yang sepertinya sedang mengerjakan tugas rumahnya sambil sesekali menggigit ujung pennya.
"Tae, ponselmu bergetar" Beritahu Jungkook.
"Hmm.."
Sekali lagi Jungkook menatap ponsel Taehyung yang masih bergetar kemudian beralih menatap si pemilik yang terlihat tak peduli.
"Taehyung, angkat ponselmu, itu sangat mengganggu"
Taehyung menatap bingung Jungkook, pasalnya dia tidak mendengar ponselnya berbunyi sama sekali. Dia ingat sudah mengatur ponselnya dalam mode silent. Kalaupun ada yang menelpon pasti tidak lain adalah orang tuanya atau Jimin.
"Hmm..biarkan saja Jungkook" Jawabnya kembali berkutat dengan bukunya.
Jungkook berdecak. "Angkat atau aku akan memberitahu keberadaanmu pada orang tuamu" Ancamnya.
Taehyung berdecak kemudian bangun dengan terpaksa. Anak itu melirik Jungkook dengan bibir yang mengerucut kesal. Dia menjangkau ponselnya yang ada dimeja disebelah Jungkook dengan tubuh bagian atasnya, Taehyung menumpu tubuhnya pada kedua lutut. Tidak sadar kalau tubuhnya sangat dekat dengan Jungkook. S
edangkan lelaki bersurai hitam itu menahan nafasnya menyadari posisi Taehyung sekarang, dia bahkan dapat mencium aroma tubuh Taehyung sekarang. Jungkook tidak dapat memundurkan tubuhnya karena dibelakangnya sudah berbentur dengan headboard ranjang.
"Tae" Ucap Jungkook tertahan. Dia membulatkan matanya yang sudah bulat itu melihat pipi mulus Taehyung yang tepat berada didepan wajahnya, sangat dekat.
"Hmm.." Taehyung hanya berguman tidak peduli.
"Aishh..siapa sih, mengganggu sa-"
Taehyung sudah berhasil meraih ponselnya, saat ingin memundurkan tubuhnya dia menoleh cepat kearah Jungkook. Dan kejadian selanjutnya sudah bisa ditebak.
Kedua iris berbeda warna kedua lelaki itu sama-sama membulat terkejut. Taehyung tidak menyangka kalau wajahnya sangat dengan dengan Jungkook sampai kedua bibir mereka bisa bersentuhan seperti ini. Wajah Taehyung merona padam dengan cepat.
"Hmph-" Taehyung menyentuh bahu Jungkook dengan kedua tangannya untuk mendorong tubuhnya menjauh.
Tapi apa yang terjadi selanjutnya malah membuat Taehyung semakin membuat Taehyung membulatkan matanya. Dia menatap kedua iris hitam Jungkook yang menatapnya tajam sebelum menutup perlahan. Taehyung meremas kedua bahu tegap Jungkook. Tekanan bibir Jungkook dibibir tebalnya semakin dalam saat lelaki bermarga Jeon itu menekan tengkuk Taehyung dan menarik pinggang rampingnya sehingga tubuh mereka menempel tak berjarak.
Taehyung menutup kedua matanya rapat. Sungguh, dia tidak menyangka Jungkook akan melakukan hal seperti ini padanya. Dada Taehyung berdetak dengan cepat, luar biasa gugup dan cengkramannya pada bahu Jungkook semakin mengerat. Dia khawatir kalau saja Jungkook bisa mendengar detak jantungnya yang sangat cepat karena dada mereka yang menempel.
"Eughh..Jung-"
Dan Taehyung tersedah salivanya sendiri saat merasakan lidah lembut Jungkook semakin dalam menginvasi rongga mulut hangatnya. Sedangkan Jungkook semakin terlena dengan bibir Taehyung, dia tidak menyangka rasa Taehyung akan semanis ini. Persetan dengan apa yang akan terjadi setelah ini, yang jelas saat ini dia hanya ingin menikmati bibir manis Taehyung.
.
.
.
.
.
.
Tbc
Ga sempat edit, maaf klo bnyak typos T.T Eh, biasanya juga gitu sih wkwk
Maaf buat fans AS, Miss A dan F(x) karena udh makai mereka, gaada maksud apa2 kok sumpah ._.v
Update lamaaa~ maklum kesibukkan di real life..
Maaf juga klo tbc nya gantung :v
Makasih yg udh nyempatin baca fanfic gaje ini~
Last, review please? ^^
