Chapter 8

My Life Is Strange

KookV (Jungkook and Taehyung)

T

BoyxBoy/Yaoi

Warn: OOC, Typos, OC, MPreg, tdk sesuai EYD, gaje, abal, garing, aneh dsb..

Don't like don't read~

.

.

.

.

.

.


Jungkook menghela nafas sebelum menepuk pelan bahu Taehyung, membuat lelaki itu mengangkat kepalanya.

"Hei, kenapa tidak masuk saja? Kita sudah lama berdiri disini"

Mereka berdua sudah berada didepan pintu rumah Taehyung, tapi kedua lelaki itu masih belum masuk sejak beberapa menit yang lalu. Sebenarnya, Jungkook hanya menunggu Taehyung.

Entah apa yang dipikirkan anak itu hingga dia masih betah berdiri didepan pintu.

Sejak Taehyung mendapat kabar kalau ibunya sakit, dia langsung merengek meminta Jungkook untuk mengantarnya menemui ibunya. Tentu saja Jungkook langsung mengiyakan permintaan pacar manisnya itu, apalagi melihat wajah Taehyung yang memelas, mana tega Jungkook menolaknya.

"Hmm.." Taehyung terlihat ragu. "Kookie, tiba-tiba saja tadi aku kepikiran sesuatu" Gumamnya.

Jungkook mengerutkan dahinya, menatap Taehyung penuh tanya. Kenapa tiba-tiba sekali?

"Tidakkah ini sedikit aneh, tiba-tiba saja ibuku jatuh sakit? Bukankah kemarin dia baik-baik saja?" Taehyung menatap Jungkook ragu.

"..sebenarnya tadi aku juga sempat berpikiran begitu. Tapi tidak ada salahnya kan kita melihat ibumu? Siapa tahu saja dia memang benar-benar sakit"

Taehyung mengerutkan dahinya, berpikir. Jungkook tersenyum tipis, dia mengelus dahi Taehyung yang mengerut.

"Sudahlah Tae, sebaiknya kita masuk saja. Sampai kapan kita akan berdiri disini?"

"Ugh, baikalah kita masuk sekarang"

Taehyung bersiap untuk membuka pintu didepannya. Tapi sebelum tangannya menyentuh kenop pintu, pintu itu lebih dahulu terbuka dan muncullah seorang anak kecil dari dalam.

Anak itu terlihat senang.

"Tae hyung!"

Taehyung merasakan tubuhnya sedikit terdorong kebelakang. Dia menunduk untuk menatap anak kecil yang memeluk pinggangnya.

"Jesper?"

"Hyung, akhirnya kau pulang juga! Hyung kemana saja? Aku merindukan Tae hyung~" Jesper menatap Taehyung dengan mata berbinar senang.

Taehyung tersenyum. "Hyung juga merindukanmu~"

"Adikmu?" Tanya Jungkook.

"Eum.." Taehyung mengangguk.

Jesper menoleh, dia melirik Jungkook malu-malu sebelum akhirnya menatap Taehyung.

"Jes, ibu dimana?"

"Ah, ayo hyung! Ibu ada dikamar"

Jesper menarik tangan Taehyung dengan semangat. Taehyung mengisyaratkan Jungkook untuk mengikuti mereka.

"Aku membawa Tae hyung!" Pekik Jesper setelah dia membuka pintu kamar.

"Hyung, akhirnya kau pulang juga!" Sekarang giliran Jackson yang memeluk Taehyung. Dia tersenyum pada adik pertamanya itu sebelum menghampiri ranjang dimana ibunya berbaring, sepertinya Baekhyun sedang tidur.

"Stt..kalian jangan berisik" Tegur Chanyeol. Sontak saja kedua anak kecil itu menutup mulut mereka. "Jackson, ajak Jesper main dikamar sana" Suruhnya.

Jackson mengangguk patuh. "Iya, ayah" Dia menarik tangan adiknya dan membawanya kekamar mereka. "Ayo Jes, main dengan hyung"

"Taehyungie"

"Apa ibu baik-baik saja?" Taehyung duduk disisi ranjang. Dia menatap wajah ibunya yang terlihat pucat. Ah, ya ampun Taehyung baru sadar ternyata ditangan ibunya juga tertancap jarum inpus. Apa begitu parah? Ringis Taehyung dalam hati.

Chanyeol menghela nafas. "Yah, seperti yang kau lihat Tae"

Chanyeol kemudian menoleh pada Jungkook yang sedari tadi berdiri didekat Taehyung.

"Ah, apa Taehyung tidur ditempatmu selama ini?" Tanyanya tiba-tiba.

Jungkook tersenyum sopan namun sedikit canggung sembari mengangguk. "Iya, Taehyung tidur ditempatku paman".

"Bisakah kau ikut denganku sebentar?" Chanyeol mengisyaratkan Jungkook untuk mengikutinya. Lelaki bersurai hitam itu langsung paham, dia segera mengikuti Chanyeol.

"Kookie, kau mau kemana?" Tanya Taehyung.

Jungkook tersenyum. "Ayahmu mengajakku bicara"

Taehyung langsung menatap tajam Chanyeol, membuat ayahnya itu terkekeh. "Ayah tidak akan melakukan apa-apa padanya Tae, tenang saja. Sudah ya, kami keluar dulu".

Dan pintu kamar pun tertutup. Menyisakan Baekhyun berdua dengan ibunya yang tertidur.

..

"Silahkan duduk"

Jungkook mengangguk sebelum mendudukkan dirinya didepan Chanyeol.

Chanyeol berdehem. "Jadi, boleh aku tahu namamu?"

"Jungkook, namaku Jeon Jungkook paman"

"Jeon Jungkook? Jeon?" Ulang Chanyeol sambil mengangguk-angguk. Namanya seperti tidak asing, batinya.

"Ya?"

"Ah, tidak. Maksudku, terima kasih banyak kau sudah mengizinkan Taehyung tidur ditepatmu selama ini. Anak itu pasti membuatmu repot kan?"

"Tidak masalah paman. Ya, walaupun terkadang dia memang sedikit merepotkan" Ringis Jungkook jujur.

Chanyeol terkekeh.

Jungkook menunduk tiba-tiba, membuat Chanyeol menatapnya bingung. "Jungkook, ada apa?"

"Maafkan aku..karena tidak memberitahu kalian selama ini kalau Tae hyung berada ditempatku" Sesal Jungkook.

Chanyeol tersenyum. "Tidak apa, seharusnya aku yang minta maaf karena telah merepotkanmu. Tapi, jika Taehyung bersamamu aku yakin dia pasti akan baik-baik saja, kau sepertinya dapat dipercaya dan cukup dewasa dibandingkan anak itu".

"Hm, sebenarnya aku lebih muda 1 tahun dari Tae hyung"

"Woah, benarkah? Aku pikir usiamu diatas Taehyung"

Jungkook terkekeh. "Tidak, aku hanya loncat kelas makanya kami satu angkatan paman"

"Kalian juga satu sekolah?"

Jungkook mengangguk.

"Ahh..jadi begitu. Omong-omong, Jungkook, apa Taehyung sudah memberitahumu alasan kenapa dia kabur?"

Sekali lagi Jungkook mengangguk. "Tae hyung bilang kalau dia dijodohkan, makanya dia sampai pergi dari rumah.."

Chanyeol menghela nafas sebelum menatap Jungkook serius. "Jungkook..bisakah aku minta tolong padamu?"

..

Taehyung mendengus entah kenapa. Dia meraih jemari lentik ibunya untuk dia genggam.

"Ibu, apa kau benar-benar sakit?" Tanya Taehyung sambil menatap ibunya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ibunya yang biasa berperilaku aktif itu kini terbaring lemah. "Saat ayah memberitahuku kalau ibu sakit, saat itu aku sangat shock, aku khawatir sekali.."

Taehyung menghela nafas. "Apa gara-gara aku ibu jadi sakit begini? Begitu inginnya kah ibu menjodohkanku sampai jatuh sakit begini.." Taehyung memainkan jemari ibunya.

Taehyung mengerutkan dahinya, satu tangannya terulur untuk menyentuh dahi ibunya.

Hm, tidak panas kok. Memang ibunya ini sakit apa sih? Setahu Taehyung ibunya itu tidak mempunyai riwayat penyakit batin Taehyung sedikit bingung.

Tiba-tiba jemari Baekhyun yang berada digenggamannya bergerak pelan disusul dengan kelopak matanya yang perlahan terbuka.

"Ah, ibu?!" Pekik Taehyung. Dia reflek memeluk ibunya.

Baekhyun hanya tersenyum tipis. "Tae..kau sudah pulang?"

Taehyung mengangguk sebelum dia melepaskan pelukkannya.

"Apa aku membangunkan ibu?"

Baekhyun menggeleng pelan sambil membalas genggaman Taehyung. Tangan satunya terulur untuk mengelus lembut surai anaknya itu.

"Bagaimana keadaan ibu sekarang?"

"Ibu sudah merasa lebih baik, karena kau sudah berada disini" Balas Baekhyun terkekeh pelan. "Taehyung, bagaimana keadaanmu? Apa kau makan dengan benar? Kau tinggal dimana selama ini? Ibu sungguh mengkhawatirkamu dan juga merindukanmu.."

"Ibu.."

"Hm?"

"Maaf"

Baekhyun menatapnya bingung. Taehyung menghelas nafas dan menatapnya Baekhyun penuh sesal.

"Maaf karenaku ibu jadi begini.."

"Ini bukan salahmu, kau tidak perlu minta maaf Tae. Ibu begini hanya karena kelelahan, mungkin karena usia ibu yang sudah tidak muda lagi" Baekhyun tersenyum.

"Ibu kan memang sudah tua"

Baekhyun mendelik padanya. "Hei! Beraninya—"

Taehyung menatap Baekhyun bingung. Baekhyun yang tersadar menjadi sedikit panik, dia langsung menutup mulutnya dengan tangan. "—uhuk..ughh.."

"Ibu, ibu baik-baik saja?" Ucap Taehyung panik.

Baekhyun menggeleng pelan. "Sudah, tidak apa, ibu baik-baik saja Tae"

"Tapi..ibu jadi begini pasti karena aku..aku merasa jahat sekali sebagai seorang anak. Aku bahkan tidak mendengarkan ibu, ibu pasti sangat marah padaku" Taehyung menunduk.

"Stt..kau tidak perlu merasa bersalah, dan ibu juga sama sekali tidak marah padamu. Justru, seharusnya ibu yang harus minta maaf padamu Tae. Ibu terlalu memaksakan kehendak ibu padamu sampai tidak memikirkan bagaimana perasaanmu"

Taehyung terdiam.

"..dan tentang perjodohan itu, ibu ak—"

"Aku akan melakukannya" Sahutnya cepat. Taehyung menelan salivanya keras, tidak percaya kalimat itu akan keluar dengan mudahnya dari mulutnya sendiri. Dia reflek mengatakan itu, yang jelas Taehyung hanya tidak ingin melihat ibunya seperti ini lagi karena dia.

Baekhyun mengerjap.

"Ibu tidak salah dengar kan?"

Taehyung menggeleng. "Tidak, ibu tidak salah dengar"

"Tae, apa kau serius?!" Melihat binar bahagia dimata ibunya, Taehyung jadi tidak tega untuk menolaknya. "Ibu tidak ingin memaksamu lagi, ibu tau kau tidak mau melakukan itu.." Kemudian Baekhyun berucap dengan nada sedih.

"Aku serius, aku akan melakukannya! Aku akan mencobanya, demi ibu"

Suduh bibir Baekhyun berkedut. Dia menghela nafas sambil menatap Taehyung dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Taehyung..ini yang terakhir, apa kau serius eum? Ibu tidak akan memaksamu—"

"Aku akan menerima perjodohan itu" Jawab Taehyung lancar, walaupun jujur didalam hatinya dia masih ragu.

Baekhyun menghela nafas. "Baiklah kalau itu maumu, ibu harap kau tidak menyesali keputusanmu Tae"

Taehyung mengangguk.

..

Setelah pulang dari rumahnya, Taehyung langsung saja berlari menuju kamar dan menghempaskan dirinya diranjang tanpa repot-repot mengganti pakaiannya.

Jungkook menggelengkan kepalanya.

"Tae, kau sudah mau tidur?" Tanya Jungkook sambil mengganti pakaiannya.

Yang benar saja, ini bahkan baru jam 7 malam dan Taehyung sudah mau tidur?

Jungkook menghelas nafas saat tidak mendapat balasan dari pacarnya itu. Dia duduk disisi ranjang, menatap Taehyung yang berbaring memunggunginya.

"Taehyung.."

Kali ini pun tidak mendapat balasan.

Baiklah, sepertinya Taehyung sedang lelah..atau mungkin terjadi sesuatu saat mereka dirumah Taehyung? batin Jungkook.

Dia mendengus sambil melepaskan kaos kaki Taehyung yang ternyata masih belum dilepas oleh lelaki bersurai merah itu. Jungkook juga memasangkan selimut ketubuh kurus Taehyung agar dia tetap hangat. Kemudian mencium puncak kepalanya lembut sebelum berbisik pelan didepan telinga Taehyung.

"Selamat tidur, Tae.."

Taehyung mengerang pelan membuat Jungkook tersenyum tipis.

Jungkook beranjak dari ranjang kemudian menuju meja belajar dan mulai menekuni buku pelajarannya.

..

Baekhyun tidak bisa menahan senyumnya, dia meremas selimut dengan gemas.

"Bagaimana actingku tadi Yeol?" Baekhyun menaik-turunkan alisnya.

Chanyeol hanya menggelengkan kepala pasrah.

"Sepertinya aku harus mencoba bermain drama" Baekhyun tertawa keras. Kini kedua tangannya sibuk menghapus makeup diwajahnya menggunakan tisu. Sekarang wajahnya tidak lagi terlihat pucat. Inpus yang tadi berada ditangannya pun sudah terlepas karena memang inpus itu hanya menempel dipermukaan kulitnya saja.

"Kalau Taehyung tahu yang sebenarnya, aku yakin anak itu akan benar-benar marah padamu Baek"

"Tidak akan, asal tidak ada yang memberitahunya!" Pekik Baekhyun.

"Ah, dua anak ini juga. Seharusnya kalian berpura-pura sedih biar lebih meyakinkan!" Dia menunjuk Jackson dan Jesper yang menatapnya bingung.

"Kau tega sekali membohongi Taehyung. Aku jadi ikut terlibat juga pada akhirnya.."

Baekhyun hanya tertawa. "Tidak apa asalkan dia mau menerima perjodohan itu"

Chanyeol menghela nafas.

..

"Jungkook.."

Jungkook mendongak menatap Taehyung dengan mata membulat dramatis, sedikit berlebihan. Akhirnya, anak itu mengeluarkan suaranya juga. Sejak tadi malam Taehyung hanya diam saja sampai sekarang. Jungkook pun sampai bosan sendiri untuk mengajak anak itu bicara.

"Tae, ada apa?" Tanya Jungkook.

"Woah, itu tadi kata pertama yang Taehyung keluarkan sejak tadi pagi" Ucap Jimin sebelum menyeruput jusnya. Heran juga, sahabatnya yang biasanya periang ini mendadak jadi diam begini.

"Bukan sejak tadi pagi hyung, tapi sejak tadi malam" Koreksi Jungkook.

"Benarkah?"

Jungkook mengangguk.

"Hei, memangnya ada apa dengan pacarmu itu Jeon?" Tanya Yoongi diantara suapan makan siangnya.

Jungkook hanya mengangkat bahu. Dia menyentuh bahu Taehyung pelan. "Tae, ada apa sebenarnya?"

Taehyung menoleh padanya, tapi tatapan mata anak itu terlihat kosong. Jungkook melambaikan tangannya didepan wajah Taehyung. "Hei, Taehyung kau masih hidup?"

"..aku tidak percaya aku telah mengatakannya.." Gumam Taehyung.

"Mengatakan apa?"

"Akhhhhh..." Taehyung berteriak tiba-tiba membuat seisi kantin terkejut.

"Hei, hei, Tae sadarlah! Kau kenapa hah?" Jimin menggoncang bahu Taehyung sambil menatapnya khawatir.

"Ya Tuhan, anak ini hampir membuatku tuli. Lihatlah kita jadi pusat perhatian sekarang!" Dengus Yoongi.

"Taehyung.." Jungkook memanggilnya lirih.

Dan Taehyung sektika menoleh padanya, kali ini Taehyung menatapnya dengan sorot mata penuh emosi. Dia meremas tangan Jungkook.

"Kookie, aku tidak percaya aku mengatakan itu..aku harus bagaimana?"

"Hei, Taehyung memangnya kau mengatakan apa hah? Bicara yang jelas, membuat kami penasaran saja! Ucap Jimin sedikit gemas.

Taehyung menggigit bibirnya. "A-aku bilang kalau aku menerima perjodohan itu.."

Tidak ada sahutan dari Jungkook, Jimin dan Yoongi.

Taehyung merengut. "Hei, kenapa kalian malah diam?!"

"Ah! apa aku tidak salah dengar?" Jimin yang lebih dahulu tersadar, dia berpura-pura mengorek telinganya.

"Taehyung, setahuku kau itu menolak keras untuk dijodohkan, kenapa sekarang kau malah menerimanya?" Tanya Yoongi.

"Aku juga tidak tahu, tiba-tiba saja kalimat itu keluar dari mulutku" Taehyung menunduk.

Jimin dan Yoongi berpandangan. Yoongi berdehem. "Kalau sudah begini, kau harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah kau lakukan Tae. Salahmu sendiri kenapa malah menerimanya" Yoongi berucap santai, membuat Taehyung semakin cemberut.

"Tae.." Jungkook mengelus pipinya membuat Taehyung mendongak. Dia menatap Jungkook gusar. "Serius Tae, kau menerima perjodohan itu?"

Taehyung mengangguk pelan. Jungkook menghela nafas.

"Habisnya..aku tidak tega menolak ibuku saat itu. Aku harus bagaimana Kookie?"

Jungkook terdiam.

"Jungkookie~"

"Tae"

"Eum?" Taehyung mengerjap.

"..kalau keadaannya memang seperti itu, tidak ada cara lain, kurasa kau harus melakukannya"

Jimin tersedak. Yoongi langsung saja menepuk punggung pacarnya itu.

"Ju-Jungkook" Taehyung menatap Jungkook tidak percaya.

"Hei, Jeon! Teganya kau, setelah mendapatkan Taehyung kau akan melepaskanya dengan mudah begitu? Kau tidak memikirkan perasaan Taehyung hah" Ucap Jimin sedikit emosi.

"Jimin hyung, aku tidak bermaksud begitu," Jungkook menghela nafas. "Taehyung sendiri yang mengatakan kalau dia menerima perjodohan itu hyung, kau pikir aku berani menentang keinginan orang tuanya?"

Taehyung menunduk sambil menggigit bibir bawahnya. Kemudian dia mendongak menatap Jungkook dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku memang menerima perjodohan itu, ta-tapi aku juga tidak mau berpisah dengan Jungkookie, aku tidak mau putus dengan Kookie. A-aku harus bagaimana?" Taehyung meremas seragam bagian depan Jungkook.

Jungkook meringis, dia meraih wajah Taehyung dan menghapus butiran air mata yang entah sejak kapan sudah membasahi kedua pipi Taehyung. Dia menatap Taehyung lembut sambil mengelus-elus pipinya lembut. "Cengeng sekali sih" Jungkook terkekeh pelan.

"Kook, apa kau benar-benar akan melepaskan Taehyung begitu saja?" Tanya Yoongi.

Jungkook meliriknya kemudian kembali menatap Taehyung. "Hyung pikir apa yang akan kulakukan?"

Yoongi hanya mengangkat bahu sedangkan Jimin menatap Jungkook bingung.

"Tae, sudah jangan menangis lagi, seperti anak kecil saja. Kau tidak malu jadi bahan tontonan huh?" Ucap Jungkook tepat didepan bibir Taehyung.

Ketua OSIS yang berani, dasar.

Taehyung cemberut dengan wajah yang merona. Demi Tuhan, wajah Jungkook sangat dekat dengannya!

"A-aku tidak peduli!"

Jungkook menyeringai lalu mencium bibir Taehyung yang tepat berada didepannya. Sedikit melumat bibir itu sebelum melepaskannya dengan cepat. Taehyung blank seketika.

"Jungkook, dasar ketua OSIS mesum! Jaga sikapmu bodoh" Bentak Jimin memukul bahu Jungkook.

"Yoongi hyung, bisa kau tenangkan Park berisik itu?

Yoongi seketika merona entah kenapa. "Apa? Kenapa harus aku?"

Jungkook berdecak. "Tentu saja karena kau pacarnya"

"Ayo kita pergi dari sini" Jungkook tiba-tiba menarik lengan Taehyung yang terlihat pasrah, mengajaknya meninggalkan kantin.

"Jungkook, mau kau bawa Taehyung? Sebentar lagi bel masuk!" Teriak Jimin.

"Sudahlah Jim, biarkan saja mereka menyelesaikan urusan mereka sendiri" Ucap Yoongi malas.

Jimin menghela nafas. "Bocah Jeon itu, awas kalau dia mengapa-apakan Taehyung"

"Jimin.."

"Ah, sudahlah"

Yoongi menatap Jimin bingung saat pacarnya itu juga menarik lengannya meninggalka kantin. "Hei, Jim mau kemana? Lepaskan, aku masih ingin menghabiskan makan siangku!"

Jimin menoleh dan menunjukan seringai sexynya yang selalu membuat Yoongi berdebar. "Ikut saja hyung. Ah, benar apa kata Jungkook, sepertinya kau memang harus 'menenangkan'ku sekarang, itu jauh lebih penting"

Yoongi merona padam seakan mengerti perkataan Jimin. Pacar bocahnya itu memang tidak jauh berbeda dengan Jungkook, sama-sama mesum. Tampangnya saja yang polos seperti bocah tapi pemikirannya sungguh nista!

"Jim, ingat ini masih disekolah"

"Memangnya kenapa kalau disekolah? Bukankah itu..lebih menantang?" Goda Jimin. Yoongi menggeleng keras.

"Jimin, tidak mau, lepaskan aku!" Pekik Yoongi panik.

Jimin hanya menggeleng santai sambil terkekeh. Tidak peduli dengan Yoongi yang berusaha melepaskan cengkraman Jimin dipergelangan tangannya. "Hyung, jangan berisik~"

"Park Jimin bodoh! Bocah mesum!"

..

Lelaki bersurai hitam itu merasakan ponsel yang berada disaku celanya bergetar. Dia segera meletakkan buku bacaannya dan memeriksa ponselnya.

"Ibu? Tumben menelpon" Gumamnya. Tanpa pikir panjang dia langsung menggeser tombol hijau.

"Ada apa, bu?"

"Ah, tidak apa. Ibu hanya ingin memberitahumu kalau lusa kita ada acara makan malam dengan keluarga teman ibu"

"Hm.." Lelaki itu mengangguk-angguk.

"Sebelum jam 7 malam kau sudah harus dirumah, kita berangkat bersama"

"Iya bu" Lelaki bersurai hitam itu tersenyum tipis saat matanya menangkap seorang lelaki tinggi yang berjalam mendekatinya sambil membawa beberapa buku.

"Ah, jangan lupa untuk memberitahu saudaramu juga, ibu belum menghubungi mereka"

"Iya, aku mengerti. Nanti aku akan memberitahu mereka"

"Yasudah, kalau begitu ibu tutup ya? Ibu menyayangimu"

"Hm, aku juga"

"Siapa hyung?"

"Ibuku" Jawab lelaki yang lebih pendek setelah menyimpan ponselnya. "Ah, kau sudah selesai memilih buku yang akan kau pinjam?"

Lelaki yang lebih tinggi menunjuk tumpukan buku tebal yang dipegangnya dengan dagu.

"Setelah ini temani aku kekantin, aku ingin membeli susu pisang, ya?"

"Baiklah, baiklah, aku akan menemanimu. Ayo kita pergi sekarang" Ajaknya sambil terkekeh. Kalau saja kedua tangannya tidak memegang buku-buku itu mungkin dia sudah mencubit kudua pipi orang yang berjalan disampingnya ini karena gemas.

..

Jungkook mengunci pintu UKS kemudian menghempaskan punggung Taehyung dengan lembut pada daun pintu. Mengurung Taehyung diantara kedua tangannya.

Taehyung mengerjap dan menatap sekelilingnya.

"Sudah sadar eum?"

"Kookie?"

"Ya?"

"Ini dimana?"

"Kita di-UKS sayang"

"Kenapa kita bisa berada disini? Bukankan kita tadi dikantin?"

"Kau tidak sadar saat aku membawamu kesini" Ucap Jungkook gemas dengan makhluk polos didepannya ini.

"Ah.."

Taehyung mengangguk dengan bibir yang mengerucut membuat Jungkook kembali mencium bibirnya gemas. Bersyukurlah karena guru yang bertugas menjaga UKS sedang tidak masuk.

"Jungkook!"

"Kau selalu membuatku menahan diri.."

"Apa maksudmu? Jung—"

Dan Jungkook kembali mencium bibirnya.

"Kau selalu bersikap menggemaskan seperti ini, itu membuatku sulit untuk mengontrol diriku Tae.." Lirih Jungkook.

"Be-benarkah? Aku tidak sadar saat melakukan itu.." Taehyung menatap Jungkook dengan wajah yang masih merona.

Jungkook tertawa pelan sambil mengacak surai merah Baekhyun gemas.

"Berhenti mengacak rambutku!"

Jungkook berhenti mengacak surai Taehyung tapi sebagai gantinya lelaki Jeon itu mencubit kedua pipi Taehyung yang sedikit chubby itu.

"Taehyung memang sangat menggemaskan"

"Lepas, Kookie~"

Taehyung berusaha menjauhkan kedua tangan Jungkook dari kedua pipinya, dan untungnya itu berhasil. Taehyung segera mengusap pipinya sambil menatap Jungkook kesal.

Jungkook tersenyum geli. Dia menarik Taehyung untuk duduk diatas ranjang UKS.

"Menyebalkan!"

"Apanya, Tae?"

"Kau tentu saja, siapa lagi?! Tadi juga kenapa kau me-menciumku dikantin" Taehyung membuang muka dan melipat kedua tangannya didada.

"Baiklah, maafkan aku kalau begitu" Jungkook mengelus kedua pipi Taehyung yang tadi dicubitnya dan Taehyung tidak terlihat menolak.

"Kau pikir aku akan memaafkanmu begitu saja?" Taehyung melirik Jungkook.

Jungkook mengerutkan dahinya. "Taehyung"

"Aku masih kesal padamu tahu"

"Tae, ayolah.."

"Kau mau kumaafkan atau tidak?"

Jungkook menghela nafas. Taehyung sedang dalam mode menyebalkannya. Mau tidak mau Jungkook harus mengalah, lagipula dia tidak merasa dirugikan juga mengalah pada pacarnya sendiri.

"Ya, ya, katakan apa maumu" Jawab Jungkook pada akhirnya.

Taehyung langsung menghadap Jungkook sepenuhnya. Anak itu tersenyum lebar. Menunjukkan senyum rectanglenya yang begitu menggemaskan.

"Memangnya kalau aku mengatakan apa mauku, Kookie akan mengabulkannya?"

Jungkook mengangguk.

"Hmm..kalau begitu aku ingin jalan-jalan sepulang sekolah nanti, sepuasnya! Aku sudah lama tidak jalan-jalan" Ucap Taehyung semangat.

"Kau ingin kencan?"

"Bukan kencan! Tapi jalan-jalan Kookie" Ralat Taehyung.

Jungkook mengangguk-angguk, terserah apa kata Taehyung saja asal pacarnya itu senang.

"Ah, satu lagi! Aku ingin..kau memanggilku hyung! Bukankah selama ini kau tidak pernah memanggilku hyung, iya kan?"

"Tidak mau" Jawab Jungkook cepat.

"Ah, tidak mau?"

"Ya aku tidak mau saja"

"Kookie~ kenapa kau tidak mau? Dengan Jimin dan Yoongi hyung saja kau memanggil mereka hyung kenapa denganku tidak? Kau kan juga lebih muda dariku" Protes Taehyung.

"Aku sudah terbiasa memanggil namamu saja.."

"Alasan macam apa itu?"

"Sudahlah Tae, pokoknya aku tetap tidak mau"

Taehyung cemberut. Dia memajukan tubuhnya mendekati Jungkook. Membuat Jungkook menatapnya bingung.

"Ayolah Jungkookie, panggil aku Tae hyung" Ucap Taehyung didepan wajah Jungkook.

"Coba katakan Tae hyung~ Tae hyung~"

Jungkook menutup matanya sambil menggeleng.

"Kookie? Ayolah"

"Tidak mau"

Hening beberapa saat.

"..kau bilang kau akan mengabulkan apa yang kumau.."

Jungkook membuka matanya. Ah, sial, Taehyung tahu saja kelemahan Jungkook. Kalau dia menatap seperti ini, mana bisa Jungkook menolak?

"Jungkook.." Taehyung menggigit bibir bawahnya.

Jungkook mendesis sebelum menghela nafas "..baiklah, kau menang"

Taehyung membulatkan matanya. "Kalau begitu katakan!" Perintah Taehyung.

"..ung"

"Apa? Aku tidak mendengarnya, berbicaralah dengan jelas"

"Ta-Taehyung hyung" Ucap Jungkook dengan wajah yang perlahan merona.

"Katakan lagi"

"Taehyung hyung"

"Lagi!"

"Tae hyu—ah, ini sungguh memalukan!"

Taehyung tertawa. "Tidak usah malu Kookie, bukankah itu wajar kau memanggilku hyung. Mulai sekarang kau harus memanggilku Taehyung hyung"

"Tetap saja, itu membuatku malu"

"Aih, Jungkookie~ kau manis sekali, kau bahkan sampai merona begitu"

Taehyung masih saja tertawa, membuat Jungkook sedikit kesal.

"Tae hyung!"

Taehyung berhenti tertawa. Dia mengerjap menatap Jungkook yang menatapnya tajam. Kedua tangan Jungkook merengkuh wajahnya. Mereka terdiam sambil bertatapan.

"Ah! Jungkook, tentang yang tadi kita bicarakan dikantin.." Ucap Taehyung pelan. Jungkook menghela nafas, mood Taehyung kembali berubah, dasar AB line.

"Tenanglah Tae—ah hyung, jangan khawatir" Jungkook kini memegang bahu Taehyung.

"Bagaimana aku bisa tenang kalau aku akan berpisah dengamu"

"Hyung, dengar, kita tidak akan pernah berpisah atau pun putus. Mana mungkin aku melepaskanmu begitu saja, aku sungguh mencintaimu hyung"

"Kookie.."

"Kita akan baik-baik saja"

"Tapi, bagaimana dengan perjodohannya?"

Jungkook tersenyum tipis.

"Dengarkan aku, aku punya sebuah rencana untuk membatalkan perjodohannya"

"Rencana?"

Jungkook mengangguk. "Kuharap ini akan berhasil"

"Kuharap juga begitu.." Lirih Taehyung.

"Tapi..sebelum itu, aku ingin kau kembali kerumahmu dulu hyung'

"APA?"

.

.

.

.

.

Tbc


Maaf lama update, moga msih ada yg baca ff gaje ini ;) maklum ngetik disela kesibukkan #soksibuk xD

Last, review please :3