7 February 2017

Namja mungil itu mulai mendengus kesal. Di siang hari yang terik, ia sudah berputar di jalan yang sama sebanyak tiga kali. Tujuannya hanya satu, halte bus yang akan membawanya ke tempat sang kekasih. Sang kekasih yang tak bisa menjemputnya pulang kuliah hari ini.

Bagaimana tak mendengus kesal, ini adalah kali pertama ia harus pulang kuliah tanpa dijemput dan harus menggunakan kendaraan umum. Si mungil ingin sekali marah, tapi mendengar perjelasan kekasihnya yang tampak benar-benar sibuk membuatnya mengurungkan niat untuk memarahi si tampan itu.

"Ish, kenapa aku kembali ke jalan ini? Padahal aku sudah mengikuti petunjuk jalan dari Yunhyeong," gerutunya kesal.

Namja mungil bernama Kim Jinhwan itu menghentak-hentakan kakinya. Dengan keringat yang mulai membanjir, ia akhirnya memutuskan untuk singgah di kedai es krim yang sudah dilaluinya berkali-kali.

Masih dengan mulut yang mengerucut kesal, ia memesan es krim strawberry vanilla dan menghasilkan senyuman dari si pelayan karena melihat wajah Jinhwan yang begitu menggemaskan ketika kesal.

Setelah memesan es krim nya, Jinhwan memilih duduk di dekat jendela kaca yang memungkin untuknya melihat pemandangan jalanan di luar sana.

Ia menatap ke luar jendela masih dengan wajah kesal. Kesal pada Yunhyeong, kesal pada Hanbin kekasihnya, dan kesal pada dirinya sendiri karena memiliki penyakit buta arah yang menyusahkannya.

Bukan sekali ini ia tersesat karena penyakitnya itu, tapi berkali-kali. Hanbin kekasihnya yang tampan itu sangat mengetahui kekurangannya, maka dari itu ia tidak pernah memperbolehkan Jinhwan pergi kemana-mana sendirian. Tapi hari ini tidak berlaku, Hanbin tak biasanya lebih mementingkan urusannya daripada menjemput Jinhwan. Alhasil, Jinhwan kembali terdampar di tempat yang bukan alamat tujuannya.

Lama ia terdiam sambil menggerutu sampai pesanan es krim nya datang. Jinhwan langsung menyendok besar-besar es krim di depannya karena sudah tidak tahan dengan rasa gerah dan panas di tubuhnya. Senyum lebar terpatri di wajahnya saat merasakan es krim favoritnya itu meleleh di dalam mulutnya. Kepalanya mengangguk-angguk dan sesekali gumaman nikmat terdengar dari bibir mungilnya. Seakan kekesalannya tadi menguap entah kemana.

Hanya butuh beberapa menit bagi si mungil itu untuk mentandaskan semangkuk besar es krim di hadapannya.

Puas dengan es krimnya, Jinhwan segera berdiri dan meninggalkan kedai itu. Ia kemudian meraih ponselnya untuk menghubungi Yunhyeong untuk menanyakan arah yang benar menuju halte bus. Dalam dering ketiga, ponsel Yunhyeong telah dijawab oleh pemiliknya.

"Yeobuseyo.."

"Yak! Song Yunghyeong! Kau mengerjaiku ya..kenapa arah yang kau tunjukkan padaku membuatku tersasar."

Jinhwan langsung berteriak ketika Yunhyeong baru saja menjawab panggilannya.

"Wow..wow..sabar bro..apa maksudmu dengan tersasar? Aku sudah menjelaskan arah yang benar padamu," bela Yunhyeong tak mau disalahkan.

"Benar apanya! Buktinya aku berputar-putar di tempat yang sama sebanyak 3 kali."

Terdengar tawa terbahak di ujung sana. Yunhyeong tak sanggup membayangkan jika sahabat mungilnya itu sudah berputar-putar. Pasti wajahnya sudah sangat kesal saat ini pikirnya.

"Aku sudah menjelaskan sejelas-jelasnya padamu, Jinanie. Penyakit buta arahmu lah yang harus disalahkan. Aku sudah memperingatkan agar kau membuat peta, tapi kau mengabaikannya dan dengan angkuhnya berjalan tanpa arah yang jelas. Sebenarnya penjelasanku hinggap atau tidak sih di kepala mungilmu itu?" cerocos Yunhyeong tanpa henti.

"Diamlah, Yun! Bukan saatnya kau mengomeliku. Sekarang tunjukkan saja arahnya padaku. Aku takkan menutup panggilan ini sampai menemukan halte bus sialan itu."

"Ne..ne..arraseo. Sekarang kau ada dimana?"

"Aku ada di depan kedai es krim."

"Kenapa kau ada disana? Halte bus berlawanan arah dari sana, Jinanie."

Jinhwan menghentak-hentakan kakinya karena Yunhyeong terus saja mengomelinya tanpa henti.

"Berhenti mengomel dan tunjukkan arahnya padaku," ujarnya kesal.

"Baiklah. Dengarkan penjelasanku baik-baik," ujar Yunhyeong akhirnya.

Si mungil itu mengikuti semua petunjuk Yunhyeong melalui ponselnya. Butuh waktu 30 menit baginya untuk menemukan halte bus yang dimaksud Yunhyeong. Halte itu ternyata tak jauh dari kampusnya. Tapi berhubung di depan kampusnya terdapat pertigaan, si mungil itu salah memilih jalan. Seharusnya memilih jalan ke kanan, tapi kakinya justru melangkah ke kiri dan menghasikan dirinya terdampar di kedai es krim.

Kini Jinhwan sudah duduk manis di dalam bus yang akan membawanya ke apartemen Hanbin. Bibir mungilnya terus merapalkan di halte mana ia harus turun. Matanya yang sedikit mengantuk membuatnya lebih sering merapalkan alamat itu agar dirinya tak tertidur.

Setelah melewati tiga halte, akhirnya Jinhwan sampai di halte tujuannya.

Ia segera turun dan menguap lebar-lebar ketika kakinya sudah menapaki halte tersebut. Senyum puas kembali terkembang di wajah mungilnya, tapi tak bertahan lama. Wajahnya kembali merengut bingung ketika tatapannya tertuju pada berbagai gedung tinggi di hadapannya.

"Ya Tuhan! Jadi aku harus kembali mencari jalan agar menuju apartemen itu?" gumamnya sendiri sambil menunjuk puncak sebuah gedung yang terletak di belakang gedung-gedung yang lainnya.

Dengan langkah gontai, Jinhwan berjalan menuju jembatan penyebrangan untuk menyebrang ke arah gedung apartemen Hanbin.

Tanpa ia sadari, sedari tadi ia diikuti oleh namja tampan yang tersenyum-senyum sendiri melihat dari jauh kekasih mungilnya itu berputar-putar karena salah arah.

"Sabar ya, sayang. Sebentar lagi kita akan bertemu," gumamnya sambil tersenyum gemas.

Jinhwan sampai di seberang dengan selamat. Kini ia tengah bimbang karena kembali dihadapkan dengan pertigaan jalan. Dengan mantap, ia membuka ponsel dan menghubungi Hanbin. Walaupun kemungkinan Hanbin untuk menjemputnya sangat kecil, setidaknya ia bisa bertanya arah yang benar agar tidak kembali tersesat.

Namun, sial bagi Jinhwan. Hanbin tak mengangkat panggilannya walaupun sudah berkali-kali dihubungi.

"Issh..pabbo ya..kau kemana?"

Jinhwan kembali menghentak-hentakkan kakinya kesal. Dengan berat hati ia memilih jalan ke kanan dan itu sebenarnya salah.

Hanbin yang tak jauh darinya kembali tersenyum-senyum.

Ia sengaja menguji kesabaran Jinhwan karena ada sesuatu yang direncanakannya di apartemen miliknya.

Hari ini adalah hari ulang tahun si mungil itu. Jadi, sedikit mengerjainya tak apa kan.

Memikirkan itu saja sudah membuat Hanbin kembali terkekeh sendiri.

Ia sudah membayangkan betapa murkanya si mungil itu nanti padanya.

"Pokoknya aku akan tetap memilih ke kanan, karena kanan adalah kebaikan. Ya kan," monolog Jinhwan sambil berjalan.

Ia kembali dihadapkan pada persimpangan jalan. Dengan percaya diri Jinhwan tetap memilih ke kanan yang tanpa ia sadar, sebenarnya ia hanya memutari satu gedung besar berkali-kali.

Ia baru tersadar ketika ditegur oleh seorang kakek yang tengah duduk di bangku santai di depan gedung itu.

"Nak, kenapa kau berputar-putar sedari tadi? Kau tengah mencari sesuatu?" tanyanya pada Jinhwan

Jinhwan yang merasa dirinya ditegur langsung menoleh pada kakek itu sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia tersenyum sambil membungkuk memberi salam pada pria yang lebih tua itu.

"Duduklah. Mungkin aku bisa membantumu," ujar sang kakek.

Jinhwan duduk di sebelah sang kakek dengan masih tersenyum canggung.

"Sebenarnya kau mau kemana?" tanya kakek itu lagi.

"Aku..ehh..sebenarnya aku ingin ke gedung apartemen itu, ahjussi," jawab Jinhwan sambil menunjuk puncak gedung apartemen Hanbin.

"Lalu kenapa kau hanya berputar-putar di gedung ini?" tanya sang kakek itu sambil mengerutkan keningnya bingung.

"Benarkah aku berputar-putar di gedung ini?"

"Ne..kau sudah tiga kali melewatiku," jawab sang kakek sambil terkekeh kecil.

Jinhwan kembali menggaruk tengkuknya. Ia benar-benar tak menyadari kalau dirinya hanya berputar-putar di jalan yang sama.

"Ehm..ahjussi. Apa kau bisa menunjukkan jalan menuju gedung itu padaku? Sebenarnya aku sedikit buta arah," ujar Jinhwan sambil tertawa canggung.

Pria tua itu ikut tertawa dan menepuk-nepuk pundak Jinhwan yang masih tertawa canggung.

Dengan teliti akhirnya sang kakek menjelaskan arah menuju gedung apartemen Hanbin pada Jinhwan.

Jinhwan kembali berjalan setelah mendengar semua penjelasan sang kakek. Tak lupa ia mengucapkan terimakasih dan mendapat hadiah rangkulan kecil dari pria tua yang gemas padanya itu. Ia merapalkan terus menerus penjelasan sang kakek agar tidak lupa.

"Lurus, kiri, kiri, lurus, belok kanan," rapalnya sambil berjalan.

"Lurus, kiri, kiri, lurus, belok kanan."

Kata-kata tersebut diulangnya berkali-kali. Ia tak tau jika ada seseorang yang tak seberapa jauh darinya sedari tadi menahan tawa karena tingkah gemasnya.

"Lurus, kiri, kiri, lurus..aww!"

Ia tak sengaja tersandung trotoar. Untung saja tubuh mungilnya tak terjatuh. Ia hanya limbung dan kembali berdiri tegap. Hampir saja tingkah cerobohnya membuat Hanbin berlari ke arahnya. Tapi, si tampan menghembuskan napas lega ketika melihat kekasih mungilnya itu berhasil menyeimbangkan tubuhnya dan kembali berjalan.

Namun, sial bagi si mungil. Karena peristiwa tersandung itu, ingatan si mungil mengenai arah menjadi sedikit kacau. Ia lupa bagian tengah-tengah dari hapalannya.

"Lurus ,kiri, lalu..ah aku lupaaa..eottokee.." si mungil mulai berkaca-kaca sambil melihat sekelilingnya.

Jujur saja, ia sudah lelah. Kakinya mulai pegal karena sedari tadi ia tersesat berkali-kali.

"Aku sudah di tengah-tengah. Sekarang aku harus ke kiri atau ke kanan? Hanbin-ah..tolong aku.." tanpa sadar ia menggumamkan nama kekasihnya.

Dengan langkah putus asa, ia memilih jalan ke kanan dan berakhir di jalan buntu.

Tanpa bisa di tahan lagi, airmata mulai berderai dari kedua mata sipit si mungil. Tangan bergetarnya kembali meraih ponsel untuk menghubungi kekasihnya. Ia benar-benar sudah buntu, sama seperti jalan yang ada dihadapannya.

Hanbin yang merasakan ponselnya bergetar, hanya membiarkannya tanpa berniat untuk menjawabnya. Matanya tetap memandang tak tega pada si mungil yang sudah menangis di ujung jalan itu.

"Hah..apa ku batalkan saja rencanaku? Aku tak tega melihatnya," gumamnya sendiri.

Sementara tak jauh dari sana, si mungil mulai berjongkok dan tetap berusaha menghubungi Hanbin. Airmata terus mengalir di kedua pipi tembamnya. Ia benar-benar lelah dan takut.

Hanbin yang tak tega, akhirnya menghampiri Jinhwan.

"Jinanie.."

"Han-..Hanbin-ah.." si mungil itu langsung menghambur dalam pelukan kekasih tampannya itu.

Ia menangis sepuas-puasnya dalam pelukan Hanbin sambil sesekali memukuli dada sang namja tampan. Rasa lelah dan takut membuatnya kalut dan melampiaskan semuanya pada Hanbin. Bagaimana tidak, dari matahari terik hingga matahari terbenam, si mungil itu berjuang untuk pulang sendiri ke apartemen kekasihnya itu.

Hanbin yang menyadari kekasihnya sudah lelah, merengkuh tubuh mungil itu dan mengecupi puncak kepalanya sayang.

"Maafkan aku," gumamnya dan membuat si mungil mendongak untuk melihat wajahnya.

"Ken-..kenapa kau minta maaf?" tanya si mungil itu bingung.

Hanbin tak menjawab. Ia justru membungkuk dan berjongkok untuk meminta si mungil itu naik ke atas punggungnya. Jinhwan yang masih bingung hanya mengikuti keinginan Hanbin dan merunduk untuk naik dan bergelayut di punggung kekasihnya itu.

Hanbin kemudian mulai berjalan sambil menggendong Jinhwan di punggungnya.

"Hanbin-ah.."

"Hmm?"

"Kenapa kau bisa menemukanku?"

Hanbin tak menjawab. Ia hanya terus berjalan dan mempererat pegangannya di lekukan kaki Jinhwan.

Tak lama setelahnya, mereka sampai di gedung apartemen Hanbin. Hanbin tak menurunkan Jinhwan dari gendongannya. Bahkan di dalam lift pun ia tetap menggedong kekasihnya yang sudah berhenti menangis itu.

Ia baru menurunkan Jinhwan ketika mereka telah sampai di depan pintu apartemennya.

Setelah Hanbin memasukkan pasword pintunya, mereka masuk bersama-sama ke dalam apartemen itu.

Pemandangan pertama di dalam apartemen itu adalah gelap. Tak ada setitikpun cahaya yang menyinari apartemen itu.

"Hanbin-ah.."

Jinhwan memanggil-manggil nama Hanbin yang tiba-tiba saja menghilang. Setaunya Hanbin lebih dulu masuk dan ia mengikuti dari belakang.

Tapi sosok yang dipanggilnya tak menyahut.

Keadaan gelap gulita membuat Jinhwan sedikit takut. Dengan jalan meraba-raba, Jinhwan berusaha mencari saklar lampu ruang tengah Hanbin.

"Hanbin-ah..kau dimana? Jangan bercanda..aku takut," ujarnya sedikit lirih.

"Han-.."

Klik!

Bertepatan dengan Jinhwan menemukan saklar lampu, Hanbin berdiri di hadapannya dengan membawa kue ulang tahun yang lilinnya belum menyala. Ia tersenyum lebar dihadapan Jinhwan. Jinhwan yang masih terkejut hanya bisa membuka lebar-lebar mata sipitnya sambil ternganga.

Dengan menggunakan tangan kanan memegang kue, Hanbin menggandeng Jinhwan dengan tangan kirinya menuju ruang tengah.

Keterkejutan Jinhwan semakin bertambah ketika mereka telah mencapai ruang tengah. Ruangan itu telah di dekorasi sedemikian rupa oleh Hanbin dengan foto-foto polaroid mereka yang sangat banyak. Tak lupa setumpuk toys story di salah satu sofa. Figure yang menjadi koleksi kesayangan Jinhwan.

"Ap-..apa ini?" ujar Jinhwan terbata.

"Selamat ulang tahun, sayang," ujar Hanbin sambil mengecup kening Jinhwan yang masih terbengong. Ia segera menyodorkan kue tart yang lilinnya telah menyala.

"Make a wish dan tiup lilinnya," ujarnya lagi.

Bukannya mengikuti perkataan Hanbin, si mungil itu justru kembali terisak. Tentu saja hal itu membuat Hanbin panik. Ia tak menyangka respon yang diberikan Jinhwan berbeda dari bayangannya.

Si mungil itu menangis terisak dan tersedu-sedu seperti baru saja diberikan kabar duka.

Hanbin segera meniup lilin itu dan meletakkan begitu saja kue tart itu di atas meja.

Dengan sigap, ia merengkuh Jinhwan dalam pelukannya dan membawa tubuh mungil itu untuk duduk di atas sofa dan memangkunya berhadapan.

"Hey..hey..kenapa kau menangis sayang? Apa kau tak suka kejutan dariku?" tanyanya panik.

Jinhwan tak menjawab. Ia justru memeluk erat leher Hanbin dan membenamkan dirinya diceruk leher lelaki tampan itu. Isak tangis masih terdengar dari bibir mungilnya.

Hanbin yang masih tak mengerti hanya mengelus sayang punggung sempit yang pemiliknya masih bergelung dipelukannya itu.

"Apa aku berbuat salah?" tanya Hanbin lagi ketika merasa Jinhwan sudah mulai tenang.

"Tid-..tidak," jawabnya singkat.

"Lalu kenapa kau menangis, sayang?"

"Aku terkejut, bodoh," jawabnya sambil bergumam di leher Hanbin.

Hanbin menghembuskan napas lega dan langsung tersenyum gemas. Ia kembali memeluk erat tubuh mungil yang masih betah berada di atas pangkuannya itu.

"Kau suka dengan kejutanku?"

"Tentu saja aku suka."

Hanbin menangkup kedua pipi Jinhwan agar bisa menatapnya. Tapi si mungil itu kembali menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Hanbin karena malu. Wajahnya pasti sangat berantakan karena terlalu banyak menangis sedari tadi.

"Hey..tatap aku, sayang."

"Tidak mau!"

"Kenapa? Kau malu?"

Si mungil itu mengangguk lucu dan membuat Hanbin terkekeh kecil karena tingkahnya.

"Tatap aku, sayang. Tak perlu malu. Aku sudah melihat ribuan ekspresi dari wajah cantikmu itu," ujar Hanbin masih berusaha menangkup wajah Jinhwan.

Jinhwan tak mau menyerah, ia masih tetap menyembunyikan wajahnya di leher Hanbin.

"Benar-benar tidak mau? Ya sudah, aku tidur saja," ujar Hanbin sambil menyenderkan tubuhnya di sofa. Ia pura-pura memejamkan matanya dan melepas pelukannya dari punggung Jinhwan.

Berhasil. Jinhwan mengangkat kepalanya dan gantian menangkup wajah tampan Hanbin.

"Yak! Jangan tidur! Hanbin-ah.."

Hanbin masih pura-pura tidur.

"Hanbin-ah..Kim Hanbin..pabbo ya..!"

Hanbin tetap tak bergeming.

"Jangan tidur!"

Hanbin mulai tersenyum jahil. Masih dengan mata terpejam, ia meletakkan telunjuknya di atas bibirnya sendiri sambil mengetuk-ngetukannya mengisyaratkan agar si mungil itu menciumnya.

"Ishh.." gerutu si mungil.

Cup!

Si mungil itu memberikan kecupan singkat di bibir Hanbin dan berhasil membangunkan pangerannya yang pura-pura tidur itu.

Hanbin tersenyum lebar dan kembali menangkup kedua pipi Jinhwan untuk mengecup bibir mungil yang mengerucut itu.

Tak hanya mengecup, tapi juga melumatnya sekilas.

Setelah melepas pagutannya, Hanbin kemudian menghapus jejak-jekak airmata di pipi terkasihnya itu.

"Jangan menangis lagi, ok?"

Jinhwan hanya mengangguk dan kembali memeluk leher Hanbin.

"Sayang, tatap aku."

Jinhwan melepas pelukannya kemudian menatap Hanbin dengan wajah sayunya karena lelah dan mengantuk.

"Kenapa kau lama sekali sampai di apartemen?" tanya Hanbin pura-pura.

"Aku tersesat," jawabnya sambil merengut lucu.

Hanbin terkekeh kecil dan mengelus sayang rambut Jinhwan yang menutupi dahinya.

"Pantas saja. Hm..jadi kau menggunakan apa dari kampus kesini?" tanyanya lagi.

"Aku naik bus. Sesuai petunjuk Yunhyeong."

"Kenapa tidak naik taksi?"

"Aku tidak kepikiran," ujarnya dengan wajah polos.

Hanbin kembali tertawa kecil karena kepolosan kekasih mungilnya itu.

"Lalu kau tersasar?" lanjutnya bertanya sambil mempererat rengkuhannya di pinggang Jinhwan.

"Iya, aku tersasar. Aku juga tersandung," ujarnya lagi sambil mengerucut kesal.

Ia mulai bercerita panjang lebar mengenai perjalanannya hari ini. Tanpa si mungil itu sadari, sebenarnya namja tampan itu tau apa saja gerak-geriknya hari ini.

"Sampai kau datang menyelamatkanku di gang buntu itu," ujarnya mengakhiri cerita.

Hanbin hanya mengangguk angguk sambil berusaha menahan tawanya.

Si mungil itu kembali menyandarkan kepalanya di pundak Hanbin. Lama ia dalam posisi itu sampai ia menyadari ada sesuatu yang mengganjal.

"Hanbin-ah.."

"Hmm?"

"Kenapa kau tau aku ada di jalan itu? Padahal kau kan tidak mengangkat ponselmu," tanyanya sambil mengangkat kepalanya dari pundak Hanbin dan menatap langsung pemuda tampan itu.

Hanbin berusaha mengulum senyumnya dan membuang pandangannya agar tak bertatapan dengan si mungil yang tengah penasaran itu.

Tentu saja hal itu tak dibiarkan Jinhwan. Ia segera menangkup wajah Hanbin dan kembali menatapnya.

"Jawab aku! Apa yang kau sembunyikan dariku," ujarnya lagi.

Hanbin akhirnya tak bisa lagi menyembunyikan senyumnya. Ia menggenggam tangan Jinhwan yang masih menangkup wajahnya dan mengecup telapak tangan mungil itu.

"Berjanjilah untuk tidak marah," ujarnya menatap dua manik mata Jinhwan sambil tersenyum.

"Aku janji."

Hanbin berdeham sejenak sebelum kembali membuka suara.

"Sebenarnya..."

"Sebenarnya apa?" tanya Jinhwan tak sabaran.

"Sebenarnya aku sudah mengikutimu semenjak kau pulang dari kampus. Aku sengaja membuatmu pulang sendirian dan membuatmu tersesat hanya untuk mengerjaimu, sayang. Karena hari ini adalah hari spesial untukmu," ceritanya takut-takut.

"Mwo?" wajah Jinhwan mulai memerah.

"Kau sudah berjanji untuk tidak marah," cicit Hanbin.

Jinhwan mengehembuskan napasnya kasar. Jujur saja sebenarnya ia ingin marah, tapi karena ia sudah berjanji, akhirnya ia hanya melampiaskan kemarahannya dengan memukuli dada Hanbin dan mengumpati namja tampan itu. Hanbin menanggapinya dengan tertawa lebar dan berusaha memeluk kekasih mungilnya yang masih merajuk itu.

"Aku benci padamu! Aku benci," ujarnya kesal.

"Iya aku tau kau mencintaiku, sayang," ujar Hanbin sambil terkekeh dan memeluk kekasih mungilnya itu.

"Mianhae..aku hanya ingin memberikan kejutan padamu," bisik Hanbin lagi.

"Ah kejutan..aku sampai melupakannya." Jinhwan mengangkat kepalanya dan melihat sekeliling ruangan yang masih utuh seperti tadi. Bahkan kue ulang tahunnya pun belum tersentuh.

"Ya, kejutan. Selamat ulang tahun, sayang. Aku mencintaimu," ujar Hanbin sambil mengecup sekilas bibir Jinhwan.

"Terimakasih, Hanbin-ah. Aku lebih mencintaimu," balasnya sambil tersenyum.

Hanbin kembali memagut bibir di hadapannya. Mengecupnya lembut. Menyesap bibir atas dan bawahnya bergantian. Lalu mulai menjilatnya ketika bibir mungil itu mulai terbuka.

Hanbin mulai berani melesakkan lidahnya ke dalam mulut Jinhwan ketika Jinhwan mulai membalas lumatannya. Bahkan tangan si mungil sudah melingkar dilehernya.

Mereka saling mengecup, melumat, dan menghisap lidah sang pasangan. Terdengar jelas kecupan-kecupan mereka saling bersahutan dalam ruangan itu.

Sampai lenguhan Jihwan terdengar ketika Hanbin semakin memperdalam pagutannya dan mengakses seluruh isi mulut si mungil. Menyesap seluruh rasa manis dari mulut si mungil itu.

Bahkan tangan sang dominan mulai bergerilya dan masuk ke dalam kaos lalu mengelus acak punggung si mungil.

Jinhwan berusaha mendorong pundak Hanbin ketika merasa paru-parunya akan meledak karena kekurangan oksigen. Tapi, sang dominan masih terlena dengan kegiatannya sampai Jinhwan harus menarik rambut belakang Hanbin agar Hanbin mendongak dan melepaskan pagutannya dengan bunyi kecupan keras terdengar ketika bibir mereka terpisah.

Jinhwan segera meraup udara dengan rakus dan terengah-engah. Sebuah pukulan ia layangkan di dada Hanbin karena kekasihnya itu hampir saja membunuhnya.

"Kauh..kau mau membunuhkuuh.." ujarnya masih dengan terengah-engah. Hanbin hanya membalasnya dengan cengiran lebar dan kembali merengkuh tubuh mungil itu. Ia kembali mendaratkan kecupannya di bibir mungil Jinhwan tapi hanya sekilas karena bibirnya mulai turun menuju rahang dan leher Jinhwan.

Ia mulai menjilat dan menyisap leher putih bersih itu dan meninggalkan jejak kepemilikannya disana.

"Aahh..." satu lenguhan lolos dari bibir Jinhwan.

Hanbin semakin semangat melukis di leher putih itu ketika mendengar lenguhan merdu dari Jinhwan.

Jinhwan yang masih tersadar, kembali mengangkat kepala Hanbin agar mendongak dan menghasilkan rengekan tidak suka dari sang dominan karena kegiatan kesukaannya terganggu.

"Hanbin-ah..berhenti."

"Ah wae?" rengeknya kesal.

"Nanti kita lanjutkan lagi. Sekarang aku mau tiup lilin dulu," ujar Jinhwan sambil tersenyum semanis mungkin.

Walau dengan merengut, akhirnya Hanbin menuruti kemauan si mungil itu dan memutar tubuh Jinhwan yang masih berada di atas pangkuannya agar menghadap ke meja yang terdapat kue ulang tahun disana.

Dengan tubuh mungil itu tetap dipangkuannya, Hanbin kembali menyalakan lilin yang ada di atas kue itu.

"Sudah. Sekarang make a wish dan tiup lilinnya, sayang," ujar Hanbin sambil tersenyum dan mengecup pipi tembam itu.

"Saranghae, Habinie.."

"Nado saranghae, Jinanie.." Hanbin kembali mengecup bibir mungil yang tersenyum itu.

"Jja..sekarang make a wish dan tiup lilinnya," ujarnya lagi.

Jinhwan mengangguk dan mulai memejamkan matanya.

"Aku ingin Hanbinie mencintaiku selamanya. AMIN!"

Fuuuhh!

The End