Double B?
.
.
.
Pagi ini dorm iKON terlihat sangat sibuk dan ramai. Semua member tengah bersiap-siap untuk berangkat menuju Sapporo, Jepang. Mereka akan melakukan shooting untuk DVD edisi musim dingin saat ini. Semuanya sibuk mengurusi apa saja yang akan mereka bawa. Tak terkecuali member tertua iKON yang bertubuh mungil dan imut-imut itu. Ia sibuk mengecek apakah barang bawaanya lengkap dan tidak ada yang tertinggal. Tangan mungilnya bergerak lincah mengabsen satu persatu barang-barang kecil yang ada di dalam ranselnya. Ia harus memperhatikan hal itu karena tak hanya dirinya yang harus ia urus, tapi juga kekasihnya yang merupakan sang leader dari grup mereka. Leader yang selalu sibuk membuat lagu tapi sangat tidak peduli dengan dirinya sendiri dan itu sukses membuat namja mungil itu harus ektra memperhatikannya.
Ia akhirnya tersenyum karena merasa semuanya sudah lengkap. Dengan menggendong ranselnya, ia pun berdiri dan berniat untuk keluar dari kamarnya. Namun, belum sempat melangkah, ia sudah terperanjat melihat seseorang tengah tersenyum lebar padanya sambil bersandar di kusen pintu kamarnya.
"Kau mengagetkanku saja, bodoh!" umpat Jinhwan tanpa sadar.
"Ya ampun, hyung. Masih pagi dan aku malah dikatai bodoh," rengut namja tampan sang leader iKON itu.
"Maaf, Hanbinie. Makanya jangan biasakan datang tiba-tiba seperti itu. Aku kan jadi kaget."
Hanbin menghampiri namja mungil yang tengah merengut lucu dan menunduk itu. Dengan lembut, ia merengkuh tubuh mungil itu dalam pelukannya dan mengecup puncak kepala yang tengah menelusup di dada bidangnya. Namja mungil itu bahkan tak mau mengangkat kepalanya untuk sekedar menatap wajahnya. Beginilah penampakan Jinhwan jika sedang merajuk tapi merasa bersalah juga. Ia akan cemberut tapi dengan kepala tertunduk seperti orang takut.
"Ada apa kau kesini?" gumamnya di dada Hanbin.
"Ah iya..aku sampai lupa niatku kesini."
Hanbin segera melepas rengkuhannya ketika menyadari niatnya datang ke kamar itu. Tanpa tedeng aling-aling, ia kemudian menangkup kedua pipi Jinhwan. Sedikit menekannya hingga bibir mungil itu mengerucut. Sedangkan yang diperlakukan seperti itu hanya mengedip-ngedipkan matanya bingung. Jinhwan masih belum bisa membaca apa yang akan dilakukan Hanbin padanya. Namja berhidung bangir itu justru terkikik kecil melihat wajah Jinhwan yang begitu menggemaskan.
"Apwa yeang mawu kaw lakwukwan?" gumam Jinhwan masih dengan bibir mengerucut.
"Yang mau aku lakukan? Hmmm..ini."
Hanbin memajukan wajahnya ke wajah Jinhwan. Dalam sepersekian detik bibir ranum itu sudah menempel sempurna pada bibir mengerucut Jinhwan. Menyesap bibir itu atas dan bawah bergantian. Karena tekanan di pipi Jinhwan, tentu saja bentuk bibir itu lebih tebal daripada yang sebelumnya. Hal itu membuat Hanbin lebih puas melahap dan melumatnya. Ia bahkan tak peduli Jinhwan yang masih membulatkan matanya karena terkejut. Tangan mungilnya bahkan meremat erat sisi coat yang dipakai Hanbin.
Puas mempermainkan bibir Jinhwan, Hanbin melepas pagutannya dan tersenyum pada si empunya bibir yang masih kebingungan.
"Morning kiss," ucapnya santai.
"Ish! Kau ini mesum sekali sih."
"Eitt..tidak boleh marah," ujar Hanbin sambil mengenggam jemari Jinhwan yang meremat bagian depan coatnya.
"Kau menyebalkan."
Jinhwan meninggalkan Hanbin dan keluar kamar dengan kaki yang menghentak-hentak. Hanbin hanya tersenyum sambil terkekeh melihat tingkah lucu kekasihnya yang masih suka malu-malu kalau ia cium itu. Padahal mereka sudah sering melakukannya, bahkan lebih dari itu.
Jinhwan menghempaskan bokong sexy nya di sofa di sebelah Jiwon a.k.a Bobby yang tengah bermain game. Melihat sekeliling, ternyata semua dongsaengnya sudah selesai berbenah. Itu tandanya mereka akan berangkat sebentar lagi. Jinhwan tiba-tiba teringat sesuatu dan segera duduk menyamping menghadap Bobby. Wajahnya begitu menyelidik dan itu sukses membuat Bobby menghentikan pergerakannya yang tengah menyelesaikan game di ponselnya.
"W-..wae?" tanya Bobby sedikit gugup karena melihat wajah Jinhwan yang seperti singa yang akan mengamuk.
"Apa kau berselingkuh dengan Hanbin?"
Hening.
Tiba-tiba suasana menjadi diam tak bersuara. Kedua insan yang tengah bertatapan itu sama-sama hening. Namun, raut wajah keduanya menggambarkan suasana hati yang berbeda. Satu diantaranya masih menatap lawannya seperti akan menelannya bulat-bulat. Dan satunya lagi menatap lawannya dengan ekspresi yang tidak terbaca.
Tak lama kemudian keheningan baru pecah diantara mereka saat salah seorang diantaranya mulai bersuara.
"Hyung, apa kau sedang sakit?"
"Eh? Apa maksudmu?"
"Kurasa ada yang salah dengan isi kepalamu, hyung. Apa kau baru saja terbentur?"
"Yak! Kim Jiwon! Apa maksudmu? Aku baik-baik saja."
Lalu meledaklah tawa Bobby di seantero dorm itu. Dengan memegang perutnya, Bobby tertawa sampai terguling dari sofa. Ia masih tak habis pikir apa yang terjadi pada hyung tertua mereka itu. Apa? Dia selingkuh dengan Hanbin?
Yang benar saja. Bahkan jika stok uke di dunia ini habis, ia takkan mungkin menjadikan Hanbin pasangannya. Mereka sama-sama dominan. Dan Hanbin menjadi ukenya, ya ampun memikirkannya saja Bobby sudah geli sendiri.
"Ada apa ini?"
Hanbin yang tiba-tiba datang langsung duduk di sebelah Jinhwan yang masih menatap kesal pada Bobby yang masih tertawa di karpet lantai. Hanbin menatap keduanya dengan tatapan bingung. Sebenarnya apa yang mereka bicarakan sampai Bobby tertawa seperti itu dan kekasihnya cemberut setengah mati.
"Sayang..ada apa dengan kalian?" tanya Hanbin sembari menggenggam tangan Jinhwan yang terkepal.
"Aku kesal, Hanbinie."
"Wae? Apa Bobby hyung menjahilimu lagi?"
Jinhwan tak menjawab, ia bahkan mulai bergerak untuk menghajar Bobby namun tertahan karena tangannya di tarik Hanbin hingga ia kembali terduduk. Bibirnya semakin mengerucut. Bahkan wajah Jinhwan sudah memerah karena emosi. Apalagi melihat Bobby yang masih menertawai dirinya. Ingin rasanya ia mengacak-acak wajah Bobby saat itu juga. Namun, ia urungkan karena kalau wajah Bobby diacak-acak, yang ada ia akan dimarahi manajer mereka. Jadilah Jinhwan hanya melampiaskan kekesalanya dengan menendang kaki Bobby sekuat tenaganya.
Hanbin yang melihat kekasihnya sangat kesal dan tak berniat menjawab akhirnya lebih memilih untuk bertanya pada Bobby yang tawanya sudah mulai reda.
"Bobby hyung, ada apa ini?"
Bobby langsung duduk dan mengusap ujung matanya yang berair karena terlalu banyak tertawa. Masih dengan diselingi tawanya, Bobby berusaha menjawab pertanyaan Hanbin walau akan berakhir ia kembali tertawa.
"Hyung, tenangkan dirimu dan jawab pertanyaanku," ujar Hanbin dengan cengiran lebar karena merasa ingin tertawa juga melihat wajah Bobby.
Bobby mencoba mengontrol napasnya yang terengah. Ia menghirup napas dalam-dalam dan menenangkan diri. Setelah cukup tenang, ia kemudian berusaha berbicara. Ia menatap Hanbin dan Jinhwan bergantian. Dan dapat dilihatnya Jinhwan masih menatapnya kesal.
"Ekhm..Hanbin-ah."
"Hmm?"
"Itu..Jinanie..."
"Kenapa dengan Jinan hyung?" Hanbin semakin penasaran karena Bobby memenggal-menggal ceritanya.
"Jinanie mengira..ehh.."
"Apa hyung? Bicara yang jelas."
"Kau berselingkuh dengannya kan, Hanbinie..kau selingkuh dengan Jiwon!"
Suara menggelegar Jinhwan membuat dua pria tampan itu menoleh padanya. Mereka sama-sama terbengong melihat si mungil itu berdiri dengan berkacak pinggang. Wajahnya merah padam dan dadanya naik turun. Tak lama kemudian meledaklah tawa lain yang tak hanya berasal dari mulut Bobby, tapi dari mulut Hanbin juga.
Jinhwan semakin menatap keduanya kesal. Ia tak terima ditertawai seperti ini. Memangnya ada yang salah dari pertanyaannya. Ia hanya bertanya sesuai kata hatinya kok. Daripada penasaran lebih baik tanyakan langsung, itu prinsip Jinhwan.
Tapi, ia tak menyangka pertanyaannya justru menghasilkan tawa dari keduanya. Apa mereka tak memikirkan perasaannya? Ia kan hanya penasaran karena banyak fans yang menjodoh-jodohkan keduanya. Bahkan mereka juga lebih sering bersamaa saat ini daripada dengan kekasih masing-masing.
"Kenapa kalian tertawa? Tidak ada yang lucu!"
Keduanya masih tertawa, bahkan sampai memukul-mukul meja. Jinhwan semakin tidak terima, wajahnya semakin merah dan bibirnya mulai mencebik seperti akan menangis. Dan benar saja, sebulir airmata mulai menetes dari mata sipit si mungil itu.
"Aku benci kalian berdua!" teriaknya yang kemudian meninggalkan kedua rapper yang masih tertawa itu dan segera menyadarkan salah satunya.
"Oh shit!" itu suara Hanbin.
Ia mulai mengejar si mungil yang berjalan cepat ke arah pintu keluar. Terlihat jelas kalau kekasih mungilnya itu mulai menangis. Ia dapat melihat dengan jelas kalau Jinhwan berkali-kali mengusap kasar airmatanya.
"Sayang..sayang..tunggu dulu dengarkan aku," cegat Hanbin sambil menarik pergelangan tangan Jinhwan.
Jinhwan berusaha berontak. Sekuat tenaga ia mencoba menghempaskan tangan Hanbin yang menggenggam pergelangan tangannya dan tentu saja itu sia-sia. Tenaga kekasihnya itu bahkan tak bisa ia tandingi. Hanbin justru mempererat genggamannya dan mengunci pergerakan Jinhwan dengan mengkungkungnya di dinding.
"Uljima..aku jadi ingin menciummu."
"Cium Kimbab saja sana!"
Hanbin terkekeh kecil mendengar teriakan kekasihnya itu. 'Ternyata cemburunya beneran', batinnya.
"Eyy..mana sudi aku mencium kelinci jelek itu. Nanti kekasihku yang menggemaskan ini marah," ujar Hanbin sambil mengusap airmata yang masih mengalir di pipi Jinhwan.
"Siapa yang marah!"
"Lalu, kalau tidak marah ini namanya apa?"
Jinhwan semakin kesal karena dipermainkan Hanbin. Dengan tangan mungilnya ia mulai memukul-mukul dada bidang di hadapannya itu. Dan Hanbin tentu saja tidak marah karena pukulan itu sama sekali tidak sakit. Ia justru merengkuh tubuh mungil itu dan berkali-kali mengecup puncak kepala si mungil itu.
"Sudah ya marahnya..hmm?"
Jinhwan tak peduli perkataan Hanbin. Dengan tubuh mungilnya yang masih setia menempel di tubuh sang dominan, ia kembali menggerutu dan mengomel di dada Hanbin. Tangan mungilnya sesekali memukul punggung Hanbin.
Hanbin hanya tersenyum. Ia justru sangat menyukai Jinhwan seperti ini. Lebih baik Jinhwan marah dengan cara mengomel daripada Jinhwan marah tapi dengan mendiamkannya. Oh itu sangat menakutkan.
Namun, Hanbin tak mau masalahnya berlarut-larut. Masalah aneh ini harus cepat diselesaikan karena sebentar lagi mereka akan berangkat ke Jepang. Hanbin akan rugi besar kalau sampai kekasih tersayangnya ini ngambek dan tidak memberinya jatah olahraga malam. Hanbin tidak mau.
Tak lagi membuang waktu, Hanbin kemudian menangkup pipi tembam itu dan mengecup dalam-dalam bibir yang masih mengomel tidak jelas. Hanya itu satu-satunya cara menghentikan omelan seperti pembaca berita itu. Dan benar saja. Jinhwan diam di tempat. Wajahnya kembali merah padam karena malu.
"Sudah?"
Jinhwan mengangguk dengan mata sipit yang membulat.
"Sayang..kekasih tersayangnya Kim Hanbin, dengarkan baik-baik. Kau tau kenapa aku dan Bobby hyung tertawa?"
"Karena kalian mengejekku!"
Hanbin kembali tersenyum dan mengecup dengan cepat bibir Jinhwan yang sedikit terbuka.
"Anii..kami tidak mengejekmu, sayang. Kami hanya merasa lucu dengan pertanyaan atau lebih tepatnya tuduhanmu. Kau menuduhku selingkuh dengan Bobby hyung. Benarkan?"
"Kalian memang selingkuh," tuduhnya dengan menghentakkan kaki.
Hanbin menghembuskan napasnya kasar. Ia tetap tak habis pikir darimana asalnya pemikiran Jinhwan itu. Pemikiran yang sama sekali tidak berdasar menurut Hanbin.
"Demi Tuhan, hyung. Aku tak habis pikir kau dapat pemikiran itu darimana. Lagipula ini sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin aku bisa berselingkuh dengan Bobby hyung sementara aku memiliki kekasih sesempurna dirimu."
Blush.
Jinhwan merona parah karena perkataan Hanbin yang manis melebih gula itu dan Hanbin menyadarinya. Hanbin mulai tersenyum gemas karena melihat rona merah terlihat jelas di pipi tembam Jinhwan. Tak tahan rasanya untuk tak menggigit pipi putih mulus itu.
"Hyung..sayangku..belahan jiwaku. Aku tidak mungkin selingkuh dengan Bobby hyung. Kau juga tau, posisi kami sama-sama dominan. Mana sudi aku menjadi di bawahnya. Kalau aku di bawah Bobby hyung, lalu siapa yang akan menjadi dominan kekasih mungilku ini? Hm? Hyung mau punya dominan selain aku?"
"Masih ada June."
Bugh!
Hanbin refleks memukul dinding di belakang Jinhwan ketika pernyataan itu keluar dari mulut Jinhwan.
"Mwo?"
Sorot mata Hanbin berubah tajam. Terlihat sangat jelas raut kecewa disana. Ia kesal setengah mati. Tak menyangka perkataan itu akan keluar dari mulut manis kesayangannya. Matanya menatap tajam dan rahangnya mengeras.
Jinhwan sadar. Sadar sesadar-sadarnya dengan kesalahan yag baru saja ia lakukan. Dengan cepat ia memeluk tubuh tegap Hanbin. Memeluknya dengan erat bahkan sangat erat.
"Mianhae..mianhae..mianhae.." racaunya.
"Jangan coba sekali lagi mengucapkan kata itu, Kim Jinhwan!"
"Ne..ne..aku mengerti. Maafkan aku, aku tak bermaksud seperti itu."
Hanbin kembali menghembuskan napas kasarnya. Perlahan ia membalas pelukan erat dari namja mungil itu. Hatinya masih sakit, tapi ia tak mau kekasihnya itu semakin ketakutan melihat kemarahannya. Bukan tanpa alasan Hanbin seperti ini. Ia sempat hampir kehilangan Jinhwan beberapa waktu lalu ketika mereka bertengkar hebat. Hanbin bahkan tak pulang berhari-hari dari studio karena pertengkaran mereka itu. Tapi, karena tak tahan berpisah lama-lama, Hanbin akhirnya pulang dan betapa terkejutnya ia ketika menemukan Jinhwan yang tengah dipeluk June sambil menangis. Member termuda kedua itu bahkan tak segan-segan mengecup puncak kepala Jinhwan sembari menenangkannya.
Hanbin murka. Hampir saja mereka baku hantam kalau saja Jinhwan tak berteriak dan minta bantuan pada member lainnya.
Setelah kejadian itu, Jinhwan benar-benar menjaga jarak dari seme lainnya.
"Maafkan aku," gumam Hanbin.
"Aku juga minta maaf."
Hanbin semakin mempererat pelukannya. Betapa ia sangat menyayangi si mungil ini.
"Hanbinie.."
"Ya, sayang.."
"Kau benar-benar tak selingkuh dengan Jiwon kan?"
"Maunya?"
"Issh..aku benci padamu!"
"Ne..aku juga cinta padamu, Jinanie."
Cup~
....
END
Hahaha daku gak tau bawa cerita appan ini.
Intinya ini terinspirasi dari kekesalan daku karena menemukan beberapa story yang jadiin Hanben uke.
Omaygad..bukannya mau membenci ya..tapi aku juga tau itu hak masing2 orang sih ya.
Tapi tetep aja batin ini terluka ngeliatnya.
Gimanapun, bagiku Hanben itu seme sejati. Gak kebayang dia jadi uke nya. ~T_T~
Kasian Jinan ku kalau seme nya dijadiin uke.
Intinya gitu..diriku kitati.
Maafkan keabsurdan diriku. Dan buat story lainnya dalam tahap update.
기다랴
사랑해
Makasih ya yang udh review semua story aku yg ada di FFN. Maaf gk bisa balesnya, karena jujur aja aku kurang ngerti dengan FFN. Biasanya aku upload di wattpad.
sempet kesel juga di ffn karena story yg di upload jadi acak2n. pembatas alur juga ilang, makanya kesan cerita kayak loncat2 gk jelas.
sekali lagi makasih buat yg udh review.
review lagi ya biar aku semangat update terus *
#ayiii
