Selamat membaca!
Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it
Pairing : SasuFemNaru
Rated : T
Genre : Family, friendship, drama
Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)
Dandelions Promise
Chapter 2 : Kau Harus Mengingatnya!
By : Fuyutsuki Hikari
Segala sumpah serapah, makian serta umpatan terus keluar dari mulut Naruto yang kini berjalan tak tentu arah. Niatnya ingin ke atap gedung sekolah, namun siapa sangka jika dia malah tersesat saat ini. Langkah gadis remaja itu berhenti tiba-tiba saat tempat yang dicarinya tak kunjung ditemukan. Sekolah macam apa ini, kenapa sangat sulit sekali menemukan jalan ke atap sekolah? Batinnya seraya menghentakkan kaki, kesal.
Kurama, kakaknya yang begitu disayanginya sama sekali tidak mengenalinya? Lelucon macam apa ini? Pikir Naruto sakit hati. Apa keluarga Uzumaki sudah membakar semua foto dan barang-barang yang berkaitan dengan ayah serta dirinya? Apa semudah itu dia dibuang oleh keluarga Uzumaki? Apa dalam waktu dua belas tahun ini ibunya tidak pernah memikirkannya? Atau paling tidak mengingat jika dia memiliki satu orang putri yang hidup di belahan benua lain?
Ia menggelengkan kepala pelan saat rasa sakit di hatinya itu menjalar, membuat dadanya terasa sesak, tangannya sedikit bergetar, namun Naruto dengan keras kepala menyingkirkan semua perasaan itu. Kini dia mulai berpikir, apa menemui Kurama merupakan keputusan yang tepat? Tapi bukankah dia sudah berkompromi dengan dirinya sendiri? Bahwa dia akan mengambil resiko apapun agar bisa bertemu dengan kakaknya. Kenyataannya sekarang Kurama tidak mengenalinya, ya, sepertinya ini menjadi resiko yang sama sekali tidak diperhitungkannya.
Dia terus berjalan, semakin cepat namun apa yang dicarinya tidak juga ditemukan. Dan kenapa lorong panjang ini begitu sepi? Kemana para murid, apa mereka semua mati? Gerutunya kesal di dalam hati. "Hei, kalian?!" teriak Naruto pada dua orang remaja pria yang berjalan tidak jauh dari tempatnya berdiri. Sebuah helaan napas lega terdengar dari mulutnya. Lega karena akhirnya dia bisa menemukan seseorang untuk bertanya.
Kedua remaja pria itu berhenti melangkah, menengok ke kanan dan ke kiri sebelum saling melempar pandang, lalu sedetik kemudian keduanya menatap lurus Naruto yang kini memasang wajah masam, kesal karena dua siswa itu tidak menyahut panggilannya. "Apa dia memanggil kita, Hidan?" tanya Sasori berbisik pelan. Sudah dua tahun lebih dia sekolah di sini dan tidak ada satu orang pun yang berani memanggilnya dengan sikap kurang ajar seperti yang diperlihatkan siswi di depannya ini.
"Sepertinya begitu," jawab Hidan yang kemudian melipat kedua tangannya di depan dada. "Aku belum pernah melihat dia sebelumnya. Apa dia anak baru sehingga tidak tahu siapa kita?" tambahnya masih setengah berbisik. "Cih, haruskah kita memberinya pelajaran sopan santun?" tanya Hidan lagi, membuat Sasori tersenyum hingga kedua matanya berbinar penuh arti.
Naruto mendengus dan berjalan cepat menuju kedua pria remaja itu. "Apa kalian tahu jalan menuju atap sekolah?" tanyanya tanpa basa-basi. Naruto menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri saat Sasori dan Hidan menunjuk ke arah yang saling berlawanan. "Jangan bercanda!" desisnya saat dua siswa itu menatapnya dengan tatapan menantang.
Sekilas Sasori dan Hidan saling menatap, kemudian menunjuk kembali ke arah yang berbeda. "Bukankah aku sudah bilang jangan bercanda!" desis Naruto dengan gigi gemertuk, kesal. "Emosiku sedang tidak stabil saat ini," tambahnya dengan suara manis yang dibuat-buat. "Jadi jangan membuatku bertambah kesal!"
Hidan kembali melipat kedua tangannya di depan dada, dengan sebelah alis terangkat dia bertanya. "Kau anak baru? Tidak kenal siapa kami?" tanyanya terdengar meremehkan.
"Aku bertanya kepada kalian lebih dulu, kenapa kalian tidak menjawab dulu pertanyaanku?" ujar Naruto sinis. Gadis remaja itu sama sekali tidak terpengaruh oleh tatapan intimidasi kedua remaja pria di hadapannya ini. "Dan kenapa aku harus mengenal kalian? Apa kalian artis atau semacamnya?"
"Mulutmu sangat kurang ajar untuk ukuran anak baru," timpal Sasori. Tangannya kemudian terulur untuk mencengkram kerah kemeja Naruto, namun dengan gerakan cepat gadis itu berhasil menepis keras tangan Sasori. "Aish, ternyata bukan hanya mulutmu yang harus diberi pelajaran sopan santun," desisnya dengan mata berkilat marah.
"Kalian pikir hanya karena kalian pria lalu kalian bisa menakutiku?" tantang Naruto dengan ekspresi meremehkan. Gadis itu tersenyum kecil, mengambil satu langkah ke depan, memperpendek jarak antara dirinya dan Sasori. "Aku bukan tipe wanita yang langsung takut oleh gertak sambal orang-orang seperti kalian," gumamnya dengan suara renyah. Naruto kembali melangkah maju, membuat Sasori mau tidak mau melangkah mundur.
Hei...hei...hei... kenapa malah aku yang dibuat takut olehnya? Batin Sasori merasa terintimidasi oleh gerak-gerik Naruto.
"Aku hanya bertanya jalan menuju atap sekolah. Kenapa kalian mempersulitku?"
"Jaga sikapmu, anak baru!" seru Hidan tidak suka dari belakang punggung Naruto. Pria itu meletakkan tangan kanannya di atas bahu Naruto dan mencengkramnya keras. Kejadian selanjutnya berlangsung terlalu cepat, Hidan bahkan sama sekali tidak bisa menghindar saat Naruto memasang kuda-kuda, menangkap tangan kanannya, lalu dengan gerakan memutar dia membanting tubuh Hidan keras ke atas lantai.
"Aku tidak suka jika ada seseorang mencengkram bahuku dari belakang!" bentak Naruto pada Hidan yang kini meringis kesakitan di atas lantai. Dia kembali mengalihkan tatapannya pada Sasori yang menatap temannya yang tergolek di lantai dengan mulut terbuka. Pemuda berambut merah itu terlihat syok dan tak percaya. "Apa kau mau menjadi korban ketigaku?" tanya Naruto yang bicara dari sela-sela giginya yang terkatup. "Hari ini aku sudah membanting dua orang, apa kau mau menjadi orang ketiga?" ulangnya, sementara Sasori menggelengkan kepalanya cepat. "Jadi?" tanyanya lagi, sinis.
"Kau hanya perlu berjalan lurus dan belok kanan," sahut Sasori dengan nada senormal mungkin. "Kau akan menemukan tangga menuju atap di sana," tambahnya cepat.
"Aku akan mencarimu dan membuat perhitungan jika kau berbohong, Pendek!" ancam Naruto dengan jari teracung pada Sasori yang kini membulatkan kedua bola matanya, menahan marah. Sasori memang lebih pendek dari teman-teman satu gengnya, dia juga lebih pendek tiga centimeter dari gadis remaja yang kini menatapnya galak, tapi haruskah gadis ini mengatakannya secara blak-blakkan? "Apa? Kau tidak suka aku mengataimu Pendek?" tanya Naruto dengan senyum jail. "Kenapa kau harus marah?" tanyanya lagi dengan suara merdu. "Itu memang kenyataan," tambahnya kini dengan nada tajam, tangan kanannya terangkat ke udara, sikap hendak memukul, membuat Sasori mengangkat kedua tangannya untuk melindungi diri. "Ck, aku hanya bencanda!" ujarnya begitu ringan dengan kekehan pelan. "Terima kasih untuk informasinya." Ujarnya, mencubit gemas kedua pipi Sasori, lalu berbalik pergi.
Dia mencubit kedua pipiku, batin Sasori tak percaya jika siswi baru itu bukan hanya menyebalkan tapi juga sangat kurang ajar. Sasori bukan anak kecil yang bisa seenaknya diperlakukan seperti itu. Tubuhnya membeku untuk beberapa waktu sebelum akhirnya kesadarannya kembali dan mengingat jika Hidan masih terkapar di atas lantai. "Kau baik-baik saja?" tanya Sasori sedikit khawatir karena Hidan masih meringis menahan sakit. Pemuda itu mengulurkan sebelah tangannya untuk membantu Hidan berdiri.
"Apanya yang baik-baik saja?" Hidan tersenyum kecut. "Badanku sakit semua. Tapi diantara semuanya, harga diriku lebih sakit," tambahnya dengan ekspresi kesal dan memukul-mukul dadanya beberapa kali. Hidan pun berdiri, sedikit kepayahan karena pingganggnya berdenyut sakit. "Jangan katakan hal ini pada siapa pun, mengerti?" ujar Hidan dengan desisan menakutkan. "Aku bisa jadi bahan olokan seumur hidup jika mereka tahu," tambahnya, merinding ngeri.
Sasori mengangguk pelan dan tersenyum maklum. Pria berambut merah itu menengok lewat bahunya pada sosok Naruto yang kini berbelok menuju tangga atap sekolah. "Aku belum pernah melihat anak itu. Apa sekolah kita menerima anak baru?"
Hidan mengangkat bahunya, dan mulai berjalan pelan. Langkahnya sedikit tersendat karena pinggang dan punggungnya berdenyut sakit tiap kali dia bergerak. Dia bahkan harus menopang pinggangnya dengan sebelah tangan karenanya. "Aku tidak peduli siapa dia. Yang jelas, kita harus memastikan untuk tidak bertemu dengannya lagi. Dia berbahaya!" tegas Hidan membuat Sasori mengangguk setuju.
Keduanya terus berjalan, melewati lorong panjang menuju ruang OSIS. "Eh, ngomong-ngomong, bukankah Dei sedang di atap sekolah saat ini?" tanya Sasori memutus keheningan diantara keduanya.
Hidan mengangguk pelan, sedetik kemudian matanya berbinar bahagia. "Aku harap anak itu mengganggu tidur siang, Dei." Ujarnya penuh harap. "Dei bisa sangat menakutkan jika tidur siangnya terganggu."
"Itu maksudku," sahut Sasori dengan tawa melengking puas. "Setidaknya sakit hati kita bisa terbalaskan oleh Dei. Bukan begitu?" tanyanya lagi dengan mulut ditekuk ke atas.
"Amin..." Hidan mengamini ucapan teman dekatnya dan mereka pun melenggang pergi dengan senyum lebar yang menghiasi wajah keduanya.
.
.
.
Sementara itu, Naruto terus menaiki satu demi satu anak tangga menuju atap sekolah. Dia lalu membuka pintu dan menutupnya kasar. "Kau tidak berguna!" teriaknya keras pada angin yang berhembus tenang. Naruto berdiri di depan pagar pembatas, sementara tangannya mencengkram besi pembatas di depannya erat. "Dasar pikun!" teriaknya lagi, semakin keras.
Naruto meraup rakus udara di sekitarnya untuk mengisi paru-parunya yang terasa sedikit sesak. "Bagaimana bisa kau melupakanku?" katanya berbisik pelan, terduduk, lalu membenamkan kepalanya pada kedua lututnya yang ditekuk ke atas.
"Kenapa kau berisik sekali?!"
Naruto mendongakkan kepala, mencari sumber suara yang berani berteriak kasar padanya. Gadis remaja itu menyempitkan mata, menatap seorang siswa berambut pirang panjang yang berdiri dengan sorot mata marah, tidak jauh dari tempatnya saat ini.
"Kenapa kau begitu berisik?" tanya pemuda itu lagi, galak. "Kau mengganggu jam tidur siangku!" bentaknya marah. Deidara sangat tidak suka jika tidur siangnya terganggu. Dia pasti memberi pelajaran pada siapa pun yang berani mengusik tidur siangnya.
Naruto mengerjapkan mata, lalu berdiri dengan gerakan cepat. Dia berjalan mendekat ke arah pemuda di depannya dan menatapnya dari kaki hingga ujung kepala. "Kenapa kau diam saja?" Deidara semakin kesal dibuatnya. Berani sekali gadis ini memerhatikannya dengan begitu intens. Deidara mencoba melihat pada papan nama yang tersemat di dada kanan siswi ini, namun keningnya berkerut karena siswi yang masih berjalan mengitarinya tidak menggunakan papan nama. Anak bandel, huh? Pikirnya mengambil kesimpulan.
"Kau benar-benar curang!" teriak Naruto tiba-tiba, membuat Deidara mundur satu langkah dan mengerjapkan mata, tidak mengerti. "Apa maksudmu?" Deidara balik bertanya dengan sebelah alis terangkat. "Aku yang seharusnya marah saat ini, bukan kau!" tambahnya dengan kedua tangan dilipat di depan dada.
Naruto merengut, menekuk wajahnya dalam sebelum kembali bicara dengan nada kekanakkan. "Kenapa kau sangat cantik?" ujarnya membuat kedua bola mata Deidara membulat sempurna. "Kau terlihat lebih cantik dari wanita manapun yang aku kenal," tambah Naruto cemberut. "Lihat tanganmu," ujarnya seraya mengangkat tangan kanan Deidara dan menatap jemarinya lekat. "Jari-jarimu sangat lentik, dan warna kulitmu begitu putih tanpa cela. Aish.. kau membuatku iri!"
"Apa aku benar-benar cantik?" tanya Deidara tanpa mampu menutupi rasa senangnya. Pujian Naruto membuat kemarahannya menguap seketika. Ah, remaja satu ini memang sangat terobsesi pada kecantikan. "Atau kau berkata seperti itu hanya untuk menyenangkanku?" tambahnya dengan tatapan menyelidik.
"Aku tidak bohong!" sahut Naruto cepat. "Kau memang sangat cantik," ujarnya dengan binar mata penuh kekaguman. "Bagaimana bisa kau secantik ini, padahal kau seorang pria?"
"Aku lahir dengan kecantikan alami," Deidara menjawab penuh kebanggaan. "Ah, kau membuatku senang hari ini, jadi aku memaafkanmu," ujarnya seraya mengacak lembut rambut Naruto. "Ngomong-ngomong, siapa namamu?"
Naruto melepas napas panjang, kemudian berbalik dan berdiri bersandar pada pagar pembatas. "Aku tidak bisa memberitahu namaku," sahutnya penuh penyesalan. "Maaf..."
Deidara mengernyit, tak mengerti. "Kenapa kau tidak mau memberitahu nama?"
Naruto terdiam beberapa saat, menikmati hembusan angin yang menyentuh kulitnya. "Aku tidak bisa memberitahukan namaku sebelum dia mengingatku," jawabnya dengan tatapan menerawang jauh.
"Dia?" beo Deidara. "Siapa maksudmu?"
"Seseorang yang aku kenal," Naruto menjawab sambil mengangkat sebelah bahunya. "Aku datang untuk menemuinya, tapi dia tidak mengenaliku."
"Dia tidak berguna!" seru Deidara sambil menendang pelan tembok di depannya.
"Hei, itu juga yang aku katakan padanya," Naruto berseru girang, tidak menyangka jika pemuda asing di hadapannya ini bisa memiliki pemikiran yang sama.
"Benarkah? Jadi kau berteriak seperti itu untuk memakinya?" tanya Deidara beruntun, tidak kalah senang. Naruto menganggukkan kepala beberapa kali dan keduanya pun tertawa begitu lepas. "Kau sangat menyenangkan," ujar Deidara disela tawanya. "Namaku Deidara," dia memperkenalkan diri. "Apa kau anak baru? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya."
Naruto menggelengkan kepala cepat.
"Lalu bagaimana bisa kau masuk ke dalam sekolah?" tanya Deidara lagi, tidak mengerti. "Dan kau juga memakai seragam sekolah kami." Dia kemudian melayangkan tatapan aneh ke arah Naruto yang tersenyum polos. "Jangan katakan kau masuk secara ilegal!" pekiknya yang dijawab Naruto dengan mengangkat kedua bahunya ringan. "Apa kau sudah gila?"
"Banyak yang mengatakan seperti itu padaku," sahut Naruto tanpa beban. "Apa aku terlihat gila?" tanyanya polos.
Deidara meringis, lalu memijat keningnya yang mendadak berdenyut sakit. Gadis remaja di depannya ini memang sangat unik. "Kau terlalu berani. Bagaimana jika kau tertangkap? Kau bisa mendapat masalah besar!"
"Tidak akan," jawab gadis itu begitu yakin. "Lagipula aku disini hanya untuk beberapa hari. Aku akan memaksanya untuk mengingatku, dan setelah itu aku akan pergi."
"Kita baru saja bertemu dan kau sudah mau pergi?" cibir pemuda itu. "Kenapa kau tidak pindah sekolah kesini saja?" usulnya dengan ekspresi serius.
Naruto tertawa kering, kedua sorot matanya terlihat hampa saat dia mendongakkan kepala menatap langit biru tanpa awan di atasnya. Andai semudah itu, pikirnya sedih. "Aku tidak bisa pindah ke sekolah ini." Naruto menggeliat, meregangkan tubuh dan kembali memasang ekspresi ceria. "Sudahlah, jangan membahas hal ini lagi," katanya, menutup sesi tanya jawab.
Deidara hanya mengangguk pelan, disingkirkannya rasa ingin tahu di pikirannya. Tidak. Dia tidak mau memaksa gadis remaja di hadapannya ini. Entah kenapa, Deidara merasakan kesedihan dalam pada diri gadis ini. Senyum ceria gadis itu sama sekali tidak menyentuh kedua bola matanya. Kenapa dia sesedih itu? Apa karena orang yang dicarinya sudah tidak mengenalinya lagi?
"Karena kau tidak mau memberitahu nama, aku harus memberikan nama panggilan lain untukmu," ujar Deidara sambil bertopang dagu. "Kira-kira nama apa yang cocok untuk gadis manis sepertimu?" tambahnya dengan mata menatap lurus ke arah Naruto. "Princess? Little One? Sweetheart? Menurutmu mana yang paling cocok?"
Naruto meringis mendengar nama-nama panggilan yang disebutkan oleh Deidara. Tidak ada satu pun yang sesuai dengan karakternya. "Teman-teman dekatku memanggilku Kitsune," serunya. "Lagipula aku tidak suka nama-nama panggilan yang kau sebutkan tadi," tambahnya jujur.
"Kitsune?" beo Deidara dengan kedua alis bertaut. "Princess terdengar lebih cocok untukmu, atau Little Princess?" usulnya lagi dengan keras kepala, sementara matanya terfokus pada kedua pipi tembam Naruto.
Naruto menatap Deidara dengan ekspresi datar. Putri darimananya? Ia lebih terlihat seperti ksatria wanita daripada seorang putri. "Panggilan itu sangat tidak cocok untukku," ia kembali menolak dengan halus. "Kitsune saja, yah?"
"Teman-teman dekatmu memanggilmu Kitsune," Deidara bergumam pelan, sedikit tidak rela karena Naruto menolak pilihan nama yang diusulkannya.
Naruto mengangguk pelan sebelum kembali bicara. "Mereka memanggilku dengan panggilan itu. Kau juga boleh memanggilku dengan nama itu."
Deidara menekuk wajah, memasang pose berpikir dan kembali bicara setelah terdiam beberapa saat. "Nama itu terdengar aneh, tapi memang cocok untukmu. Baiklah, aku akan memanggilmu dengan panggilan Kitsune."
"Lalu, aku harus memanggilmu apa? Deidara?"
"Berapa umurmu?" Deidara balik bertanya.
"Tujuh belas tahun," jawab Naruto pendek.
"Ah, kalau begitu aku satu tahun lebih tua darimu." Pekiknya senang. "Panggil aku Nii-chan saja. Bagaimana?"
"Setuju," sahut Naruto senang. "Ah, boleh aku berfoto denganmu?" tanyanya penuh harap.
"Tentu saja," sahut Deidara. "Keluarkan telepon gengammu, kita akan menyimpan masing-masing satu foto untuk kenang-kenangan."
.
.
.
Suasana di ruang OSIS sangat ribut saat Hidan dan Sasori datang. Keduanya terdiam beberapa saat di depan pintu masuk, mengamati tingkah laku teman-teman satu gengnya yang tidak seperti biasa. "Apa yang terjadi di sini?" tanya Sasori menghentikan sementara keributan di dalam ruangan besar itu. "Apa ada yang bisa menjelaskannya pada kami?" ia kini berteriak karena ruangan itu kembali gaduh. "Sasuke?" teriak Sasori pada Sasuke yang duduk santai di kursinya, menatapnya acuh lalu mengangkat kedua bahunya tak peduli. Cih, tipikal Uchiha. Dengus Sasori di dalam hati.
Sasori berjalan mendekat ke arah temannya yang berkumpul mengelilingi meja Kurama dan terus bicara tanpa henti, meminta penjelasan Kurama. "Apa yang sebenarnya terjadi?" Sasori menarik kerah belakang kemeja Kiba, mengeluarkan putra bungsu keluarga Inuzuka dari lingkaran itu.. "Jadi, apa yang terjadi di sini?" tuntutnya pada Kiba meminta penjelasan.
"Ada penyusup di sekolah kita," lapor Kiba serius. "Perempuan itu bahkan berhasil masuk ke dalam ruangan ini dan membuat onar. Dia bahkan membanting Neji dan menendang keras kaki Kurama-senpai," tambahnya dalam satu helaan napas.
"Mungkin dia anak baru." Hidan menimpali dengan tenang, walau otaknya mulai menghubungkan penyusup yang dimaksud Kiba dengan siswi yang membantingnya di koridor tadi. Ah, pasti hanya kebetulan, pikirnya, mencoba menyingkirkan prasangka buruk.
"Dia bukan anak baru," sahut Kiba sambil menggelengkan kepala. "Kakuzu-senpai sudah mengecek daftar murid dan tidak ada murid baru di sekolah ini. Wanita itu penyusup dan dia mengenal Kurama-senpai."
Keterangan yang disampaikan oleh Kiba entah kenapa malah membuat Sasori dan Hidan semakin tidak enak hati. Jangan-jangan?
"Apa wanita itu tinggi, bermata biru, berambut pirang dan diikat seperti ekor kuda?" tanya Sasori mencoba bicara dengan nada senormal mungkin. Keenam temannya yang lain berhenti bicara, bahkan Sasuke pun menghentikan kegiatan menulisnya dan memfokuskan diri menatap Sasori yang kini terlihat gelisah. "Apa ciri-ciri wanita yang kusebutkan tadi sama dengan wanita pembuat onar yang kalian maksud?" tanyanya lagi setelah berdeham dua kali untuk tetap menjaga nada suaranya.
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Itachi tertarik.
Sasori melirik ke arah Hidan yang sama pucatnya dan menjawab cepat. "Kami bertemu dengannya di lorong, dia menuju ke atap sekolah."
"Jadi sekarang dia berada di atap?" desis Neji marah. "Aku akan pergi dan membuat perhitungan dengannya. Siapa yang mau ikut denganku?" dia menoleh ke belakang, mencari dukungan.
Hening.
Neji mengerjapkan mata.
Hening.
"Senpai?!" dia berteriak keras. "Diantara kalian tidak ada yang mau membantuku untuk membalas dendam?" tanyanya tak percaya jika para seniornya ini sama sekali tidak mau membantunya. "Sasuke, Kiba, ayo bantu aku untuk membuat perhitungan!"
"Tidak, Neji. Terima kasih," sahut Kiba mundur beberapa langkah. "Mendengar penuturanmu dan para senior membuatku sangat yakin jika wanita itu bukan wanita biasa. Dia pasti wanita jadi-jadian. Jika dia wanita biasa, bagaimana bisa dia mengalahkanmu yang merupakan juara judo tingkat nasional hanya dengan satu bantingan?"
"Ah, jadi kau orang pertama yang merasakan bantingannya?" Sasori mengangguk, raut wajahnya berubah menjadi kernyitan. "Hidan, kau tidak perlu malu, bahkan Neji saja tidak mampu melawan gadis itu."
"Bukankah aku sudah memintamu untuk tutup mulut?" Hidan meraung dan membekap mulut besar sahabatnya. Ia akhirnya hanya mampu mendesis dan membuang muka saat tatapan temannya yang lain tertuju lurus ke arahnya. "Ya. Gadis menyebalkan itu membantingku juga. Puas?" bentaknya yang disambut gelak tawa teman-temannya. "Kenapa kalian tertawa? Kalian harus merasakan sendiri rasa sakit saat tubuh kalian terbanting keras ke atas lantai. Kalian tidak bisa mengetahuinya jika kalian tidak merasakannya sendiri."
"Itachi, kita tidak bisa membiarkannya berkeliaran dengan bebas di sekolah ini," Kakuzu kembali bicara setelah tawanya reda. "Bagaimana jika gadis itu membawa senjata tajam dan meneror seisi sekolah?" tambahnya, raut wajahnya berubah serius. "Kita harus melaporkan hal ini pada pihak sekolah."
"Tapi dia mengenal Kurama," sahut Itachi berat. Pemuda itu melirik lewat bahunya pada Kurama yang duduk membisu di atas kursi, jelas larut dalam lamunan. "Kurama?!" panggilnya pelan. "Kurama?!" panggil Itachi lagi dengan nada satu oktaf lebih tinggi. "Uzumaki Kurama?!" Itachi menggebrak meja dan berteriak keras tepat di depan wajah Kurama.
Kurama yang terkesiap kaget bereaksi spontan, dia menampar wajah Itachi dan menjawab ketus saat Itachi melotot sambil memegang pipi yang terkena tamparan sahabatnya. "Siapa suruh kau berteriak di depan wajahku?!" dengusnya kasar dengan ekspresi tak berdosa.
"Aku memanggilmu beberapa kali," protes Itachi tidak terima. "Apa yang sedang kau pikirkan?"
"Aku sedang mencoba mengingat gadis itu," jawab Kurama ketus.
"Lalu apa kau sudah bisa mengingatnya?" tanya Itachi antusias, begitupun dengan keenam temannya yang lain. Kurama hanya menggelengkan kepala pelan, membuat ketujuh temannya mendesah kecewa.
"Aku datang!" suara keras Deidara dari depan pintu menghentikan pembicaraan di dalam ruangan itu. "Kenapa wajah kalian seperti itu?" tanyanya. "Sudahlah, lupakan!" serunya. "Lihat, siapa yang aku bawa."
"Hai...!" sapa Naruto dengan senyum lima jarinya. Gadis pirang itu bersembunyi di belakang tubuh Deidara dan mencari waktu yang tepat untuk memperlihatkan diri. Ah, hasilnya sungguh tidak sia-sia. Lihat saja ekspresi terkejut dari delapan remaja pria di dalam ruangan ini. Semuanya seperti ikan yang kekurangan air. "Terkejut melihatku lagi?" tanyanya dengan suara yang terdengar menyebalkan. "Tenang saja, kalian akan terbiasa melihatku." Tambahnya dengan senyum penuh kemenangan.
"Dei, kenapa kau membawanya kesini?" raung Itachi setelah pulih dari keterkejutannya. "Dia penyusup dan pembuat onar!"
Deidara tersenyum tipis dan berkata sinis. "Siapa diantara kalian yang berani menentang keinginanku?" ucapnya membuat suasana di dalam ruangan itu menjadi terasa berat. "Sasuke-"
"Aku tidak ikutan," potong Sasuke cepat dengan ekspresi datar. "Lakukan saja apa yang kau inginkan," tambahnya mengabaikan tatapan tajam teman-temannya yang lain yang seolah meneriakkan kata dasar penghianat padanya.
"Bagus," kekeh Deidara senang. "Kau memang sangat pengertian," pujinya. "Ah, jadi siapa yang menentangku?" tanyanya lagi penuh penekanan. "Apa kau, Neji?"
Neji sudah bersiap menjawab saat Deidara kembali bicara dengan nada mengancam. "Rambutmu sepertinya sudah sangat panjang. Mau kubantu untuk memotongnya?"
"Tidak perlu!" jawab Neji dengan mata terbelalak, ketakutan. "Aku belum bosan dengan rambutku," ia berkata cepat dan memutuskan untuk kembali ke mejanya, berusaha untuk menyibukkan diri.
"Bagaimana denganmu, Sasori?" Deidara mengalihkan tatapannya pada Sasori yang tertawa hambar. "Bonekamu sudah terlalu banyak, bukan? Mau aku bantu singkirkan? Aku bisa membakar-"
"Jangan!" teriak Sasori dengan wajah memelas. "Aku sangat mencintai boneka-bonekaku."
"Jadi, siapa yang mau menentangku?" tanyanya lagi dengan suara merdu. Deidara berdiri, begitu anggun dengan Naruto yang kini menyeringai dan bergelayut manja pada tangan kanannya. "Dan kau Itachi, apa kau mau aku meledakkan isi kamarmu?" ia berkata dengan senyum manis membuat Itachi menoleh ke arah Kurama dan berbisik pelan. "Ku, katakan sesuatu. Kamarku bukankah kamarmu juga!" ujarnya panik sementara Kurama diam membisu, tatapannya terarah lurus pada Naruto yang kini tersenyum puas.
"Kau membuat teman-temanmu takut, Nii-chan." Naruto kembali buka suara. "Jika kalian menginginkan aku pergi, kalian hanya perlu memaksa Rubah Jelek itu untuk mengingatku. Jika dia sudah mengingatku, aku pasti pergi."
"Rubah jelek?" Deidara mengernyit dan melirik ke arah Naruto yang tersenyum simpul kepadanya. "Siapa rubah jelek yang kau maksud?"
"Kurama," jawab Naruto sambil menunjuk Kurama dengan dagunya.
Deidara kembali tertawa keras mendengarnya, melihat wajah cemberut Kurama menjadi hiburan tersendiri untuknya. Aish... gadis remaja di sampingnya ini memang berbeda. Bagaimana bisa Kurama melupakan seseorang yang begitu menarik? "Jadi orang yang tidak berguna itu; Kurama?" tanyanya pada Naruto yang kini mengangguk pelan. "Bagaimana bisa kau melupakan gadis manis seperti dia, Ku?" Deidara merangkul pundak Naruto akrab.
"Iya, bagaimana bisa kau melupakannya?" timpal Kakuzu berapi-api. Dia hanya ingin Kurama segera mengingat gadis mengesalkan itu agar kehidupan tenangnya kembali. Kakuzu tidak tahu kenapa perasaannya mendadak tidak enak saat dia menatap gadis pirang yang bersama dengan Deidara.
Itachi mencondongkan tubuhnya ke arah Kurama dengan wajah memohon dia berkata, "Ku… kumohon cobalah untuk mengingatnya." Suara Itachi terdengar seperti cicitan. "Satu Deidara saja sudah membuat kita susah selama ini, dan sekarang Dei menemukan sekutu. Kehidupan kita di sekolah ini bisa bertambah suram." Itachi melirik ke arah Deidara yang kini berjalan menuju mejanya bersama Naruto. Bahkan senyuman Deidara saat ini mampu membuat bulu kuduk Itachi meremang, karena takut. "Kumohon, hanya kau yang bisa menyelamatkan kita semua dari cengkraman keduanya!"
"Aku akan mencoba untuk mengingatnya," jawab Kurama serius.
Dan sepanjang sore, sekolah diributkan gosip mengenai seorang siswi yang berhasil berteman dekat dengan anggota OSIS yang terkenal tak tersentuh.
.
.
.
Waktu pun berlalu sangat cepat setelahnya. Pukul enam sore Sasuke berjalan kembali menuju asrama. Dia tidak tahu apa harus ikut untuk menyingkirkan penyusup itu atau malah berterima kasih padanya. Keberadaan penyusup itu di ruang OSIS membuat teman-temannya tetap diam beberapa waktu dan mengerjakan tugas mereka dengan serius. Ya, Sasuke tahu teman-temannya itu tetap berada di ruang OSIS untuk ikut mencuri dengar pembicaraan Deidara dan penyusup itu. Mereka cukup heran karena ada seseorang mampu menaklukkan hati seorang Deidara yang terkenal sangat tidak ramah.
Penyusup itu bahkan memanggil Deidara dengan sangat akrab, seolah keduanya sudah saling mengenal cukup lama. Dan Deidara bersikap begitu melindungi, seolah takut jika gadis yang dipanggilnya Kitsune itu terluka. Ck, apa dia tidak tahu jika gadis itulah yang sebenarnya sangat berbahaya. Sasuke bahkan tidak habis pikir bagaimana dengan mudahnya penyusup itu mengambil hati Deidara.
Sasuke menggelengkan kepalanya pelan. Gadis itu tidak penting, putusnya di dalam hati. Ia tersenyum tipis saat matanya melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Masih jam enam sore dan semua tugasnya di OSIS sudah selesai. Benar-benar suatu keajaiban, batinnya senang.
Ia terus berjalan tanpa sadar jika dia sudah berada tepat di depan pintu kamarnya saat ini. Sasuke merogoh celana seragamnya, mengambil kunci dan memasukkan anak kunci itu untuk membuka pintu kamarnya. Dia ingin segera mandi, lalu kembali turun untuk makan malam di kantin asrama. Dia bahkan sudah tidak tahu kapan terakhir kali dia makan malam di kantin asrama. Terima kasih kepada Itachi yang selalu berhasil membuatnya sangat sibuk hingga dia selalu makan malam di ruang OSIS atau di dalam kamar. Sasuke biasanya menyantap dua buah roti melon serta tiga kotak susu putih untuk makan malam.
Keningnya berkerut dalam saat mendapati lampu kamarnya menyala. Dia tidak pernah lupa mematikan lampu jika akan pergi sekolah. Sasuke pun berjalan pelan, bersiap untuk menangkap penyusup yang berani masuk ke dalam kamarnya. Ia melirik ke arah pintu lamar mandi yang sedikit terbuka, padahal pagi tadi dia menutup pintu itu rapat. Ingatan fotografis yang dimilikinya membuatnya sangat yakin akan hal itu.
"Apa yang kau lakukan di sini?" ia meraung marah saat menangkap basah sang penyusup yang tanpa tahu malu tengah duduk di atas tempat tidurnya sambil menikmati ramen instan. "Kenapa kau bisa ada di sini?" bentaknya lagi sementara Naruto hanya tersenyum lebar ke arahnya, menatapnya polos, tanpa merasa bersalah karena sudah menyelinap dan memakai barang-barang milik Sasuke tanpa seijin pemiliknya. "Kau memakai handukku?" ujar Sasuke menatap horor handuk putih yang melilit di atas kepala Naruto. Gadis itu hanya mengangguk kecil dan kembali menyuapkan mie ke dalam mulutnya. "Dan kau juga memakai kemeja milikku!" tambahnya dengan erangan frustasi saat melihat Naruto mengenakan kemeja hitam favoritnya.
Putra bungsu keluarga Uchiha itu berhasil dibuat kalang kabut oleh Naruto. Ekspresi datar miliknya kini hilang digantikan oleh ekspresi yang lebih beragam; kesal, marah, tak percaya bercampur menjadi satu.
"Aku hanya meminjam satu handuk dan satu kemeja milikmu," sahut Naruto sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kau punya banyak handuk dan kemeja, kenapa aku tidak boleh meminjam satu diantaranya?" tanya Naruto, menelengkan kepala ke satu sisi.
Gadis ini biang masalah. Biang masalah. Raung Sasuke di dalam hati. Rahangnya mengeras, ia kembali bicara penuh penekanan disela giginya yang terkatup. "Kau meminjamnya tanpa ijin."
"Aku sudah meminta ijin," jawab Naruto santai.
"Kapan?!" bentak Sasuke frustasi, ia bahkan menjambak rambutnya sendiri karenanya.
"Bukankah barusan aku mengatakannya?" sahut Naruto, mengerucutkan bibir. "Apa kau sudah mulai pikun seperti Kurama?" ejek Naruto renyah. Gadis itu turun dari atas tempat tidur dan meletakkan mangkuk ramen siap sajinya yang sudah kosong di atas meja belajar Sasuke. "Lagipula aku tidak memiliki penyakit kulit, jadi kau tenang saja." Naruto kembali mendudukkan diri di pinggir tempat tidur dan menatap lurus Sasuke yang berdiri di depannya tanpa merasa takut.
"Lalu bagaimana bisa kau masuk ke dalam kamarku?" tanya Sasuke lagi, dia mengabaikan pertanyaan pertamanya. Dia hanya perlu menandai kemeja dan handuk yang dipakai gadis itu untuk dibuang. Sasuke sama sekali tidak suka jika barang-barang pribadinya dikenakan oleh orang lain apalagi gadis asing yang baru ditemuinya hari ini.
"Bukankah kau yang membantuku masuk," jawabnya dengan ekspresi tak percaya. "Kenapa kau melupakan hal itu juga?"
"Kapan aku membantumu masuk ke dalam asrama terlebih ke kamarku?" Sasuke kembali berteriak marah. "Jangan membual, Kitsune!" tambahnya kesal.
Naruto mengangkat kedua bahunya ringan, dan menjawab dengan ekspresi geli. "Lalu bagaimana caranya aku bisa masuk ke dalam kamarmu yang terkunci. Kau tahu 'kan jika kamarmu berada di lantai tiga?" ujarnya membalikkan fakta.
"Itu pertanyaan yang aku tanyakan kepadamu!" raung Sasuke dengan napas terengah-engah. Bertengkar dengan gadis menyebalkan ini membuatnya lelah. "Aku akan melaporkanmu pada pihak sekolah!" ancam Sasuke. Pemuda itu baru saja berbalik saat Naruto menarik pergelangan tangan kanannya dan menjatuhkan tubuh pria itu ke atas tempat tidur dengan posisi Naruto berada di atasnya.
"Smile...!" seru Naruto sebelum suara klik pelan terdengar beberapa detik kemudian. "Woah... orang-orang akan berpikir yang tidak-tidak jika mereka melihat foto ini," Naruto mengerutkan keningnya dan mengangkat telepon genggamnya tinggi agar Sasuke bisa melihat foto di dalam telepon genggamnya.
"Apa yang kau lakukan?" Sasuke bergerak untuk merampas paksa telepon genggam di tangan Naruto. "Kau berniat untuk mengancamku dengan foto murahan itu?" desisnya dengan mata menyipit tajam.
Naruto mengangguk pelan, sebuah senyuman licik menghiasi wajahnya. "Aku hanya meminta kerjasamamu. Ijinkan aku tinggal di sini untuk beberapa hari, setidaknya hingga Kurama bisa mengingatku, dan setelah itu aku tidak akan mengganggumu lagi." Naruto berkata dengan ekspresi serius, namun Sasuke terlihat menyangsikan kesungguhan gadis remaja di hadapannya ini. "Aku tidak pernah mengingkari janjiku," tambah Naruto meyakinkan.
"Brengsek!" maki Sasuke kesal sebelum menghambur pergi meninggalkan Naruto yang tersenyum penuh kemenangan.
Sasuke keluar dari dalam kamarnya dengan emosi yang meluap-luap. Gadis itu sudah salah mencari musuh. Aku akan memastikannya keluar dari kamarku secepat mungkin.
"Kurama?!" raung Sasuke yang menerobos masuk ke dalam kamar Kurama dan Itachi tanpa permisi. Itachi yang tengah duduk di atas kursi belajarnya melirik lewat bahunya dan menatap Sasuke dengan kedua alis bertaut. Ada apa dengan Sasuke, pikirnya heran karena Sasuke yang tenang bisa bersikap tak terkendali. "Mana Kurama?" tanya Sasuke pada Itachi yang masih menatapnya tak berkedip.
"Kenapa kau mencariku?" Kurama menyahut. Rambutnya masih setengah kering saat dia keluar dari dalam kamar mandi.
"Dengar. Aku tidak mau tahu bagaimana pun caranya kau harus bisa mengingat gadis kurang ajar itu!" raung Sasuke dalam satu tarikan napas. "Jika memukul kepalamu bisa membuatmu kembali mengingat siapa gadis itu, maka percayalah aku pasti melakukannya!" tambahnya sungguh-sungguh. Sasuke menarik napas panjang, mencoba untuk mengendalikan emosinya yang semakin tidak terkendali. Butuh beberapa saat baginya agar bisa kembali bicara dengan nada datar seperti biasa. "Bukan Deidara yang akan membakar kamar ini jika kau tidak bisa mengingat gadis itu, Ku. Tapi aku yang akan melakukannya," Sasuke kemudian mengalihkan tatapannya pada Itachi yang kini menatapnya dengan mulut terbuka lebar. "Aku bisa bersikap lebih gila daripada Deidara, kalian tahu 'kan?"
Hening.
"Apa lagi yang harus aku katakan? Karena aku sama sekali tidak mengingatnya," sahut Kurama tenang. Dia kembali mengeringkan rambutnya yang masih setengah basah dengan handuk yang disampirkan di pundaknya. "Kau tidak perlu menanggapinya serius, Sasuke. Kurasa gadis itu hanya ingin menarik perhatian kita saja."
"Aku tidak peduli," desis Sasuke keras kepala. "Kau harus segera mengingatnya dan singkirkan dia dari sini, secepatnya!" katanya sebelum berbalik pergi meninggalkan Kurama dan Itachi yang menatapnya tanpa kata.
.
.
.
TBC
Aloha... chap ke-2 berhasil saya selesaikan juga. Nggak seperti beberapa fic yang belum kelar, fic ini saya buat ringan dan nyelipin sedikit humor di dalamnya. Siapa tahu bisa membuat pembaca tertawa, yah... setidaknya senyum tipis gitu, biar jadi pahala buat saya. Bukankah membuat orang lain bahagia juga bisa mendapat pahala? Eh, tapi kalau diniatkan kaya gini, pahalanya dapet nggak yah? #Manyun
Fic ini paling sampe lima chap doang, dan akan disambung dengan sequel, mengambil setting setelah chara dewasa. Itu pun kalau tidak ada halangan yah. (:
Untuk pembaca yang masih menanyakan gender saya : saya perempuan, Bu/Pak. Dari pennamenya juga udah ketahuan cewek, kan? Hahahaha!
Ok, deh. Sampai jumpa dichap selanjutnya!
#WeDoCareAboutSFN
