Selamat membaca!

Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it

Pairing : SasuFemNaru

Rated : T

Genre : Family, friendship, drama

Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)

Dandelions Promise

Chapter 3 : Berkemah Ala Geng Akatsuki Part 1

By : Fuyutsuki Hikari

Setelah meluapkan kekesalannya di kamar Itachi, Sasuke pun kembali ke kamarnya dengan emosi yang belum stabil. Dilihatnya Naruto yang kini asyik menonton televisi, sesekali gadis remaja di depannya itu terkikik menahan tawa karena acara komedi yang ditontonnya, dan hal itu berhasil membuat Sasuke bertambah kesal.

"Kenapa kau tidak duduk?" tanya Naruto dengan ekspresi polos saat melihat Sasuke hanya berdiri dengan wajah masam. "Duduklah!" serunya santai sambil menepuk-nepuk sisi kosong tempat tidur.

"Aku lebih suka berdiri," sahut Sasuke tajam membuat Naruto mengangkat kedua bahunya tak peduli. Bagaimana bisa dia bersikap seolah semua baik-baik saja? Pikir Sasuke tidak mengerti.

"Terserah..." balas Naruto cuek dan kembali memfokuskan diri untuk menonton televisi. Sedetik kemudian dia kembali tertawa pelan saat melihat satu adegan yang menurutnya sangat lucu.

Ekspresi wajah Sasuke pun berubah, dari masam menjadi tidak bersahabat. Ditelitinya gadis kurang ajar yang kini tertawa dengan gembiranya karena acara yang bahkan menurut Sasuke sama sekali tidak mendidik dan hanya acara sampah.

Karena kesal, Sasuke mengambil remote yang tergeletak di atas tempat tidur untuk mematikan televisi. Pemuda itu hanya berekspresi datar saat Naruto mendongak dan mendesis marah padanya sebagai tanda protes. "Ini kamarku, aku bebas melakukan apapun!" seru Sasuke menjawab protes Naruto. "Kita kembali ke bisnis," tambah Sasuke masih terlihat tenang walau sebenarnya dia pun merasa sedikit terganggu oleh tatapan tajam yang dilayangkan Naruto ke arahnya. "Apa yang harus aku lakukan agar kau segera keluar dari kamarku? Dari kehidupanku?"

Naruto memutar kedua bola matanya, mendengus, dan melipat kedua tangannya di depan dada. "Apa kau sangat bodoh?" sindirnya tajam sambil mengangkat dagu, membuat gigi Sasuke gemertuk kesal karenanya. "Bukankah tadi aku sudah katakan jika aku hanya akan pergi apabila Kurama sudah mengingatku. Bagian mana dari ucapanku yang tidak kau mengerti?" ujar Naruto panjang lebar. Dia bergerak cepat untuk merebut remote dari tangan Sasuke dan menyalakan kembali televisi.

Sesaat Sasuke terdiam, membatu. Bagaimana dia bisa bergerak secepat itu? Batinnya tidak mengerti, dan rahangnya kembali mengeras karena marah. "Aku akan membantumu," sahut Sasuke dari sela giginya yang mengatup, menahan marah. Dia bahkan harus tetap bersabar saat Naruto memasang ekspresi menyebalkan dan menyahut ketus. "Bagus. Semakin cepat Kurama mengingatku, semakin cepat aku pergi."

Untuk beberapa lama keduanya saling melempar tatapan sinis, tidak mau kalah. Merasa menang, Naruto bersorak gembira saat Sasuke pada akhirnya membuang muka dan memutus kontak mata mereka.

"Aku akan turun untuk makan malam," kata Sasuke membuat Naruto menggendikkan bahu tidak peduli. "Jangan menyentuh barang-barangku selama aku pergi. Mengerti?!" tambahnya penuh penekanan. Sebelah alisnya naik saat Naruto mengangguk dan tersenyum lebar ke arahnya. Sungguh, Sasuke tidak suka ekspresi wajah Naruto saat ini. Gadis di depannya ini jelas sedang mengolok-oloknya. "Aku sungguh-sungguh dengan ucapanku, Bodoh!"

Naruto melotot saat mendengar panggilan tidak sopan yang diucapkan oleh Sasuke. Dia kemudian bergerak untuk berdiri di atas tempat tidur dan berkacak pinggang sebelum menyembur Sasuke dengan ucapan pedasnya. "Hati-hati dengan ucapanmu, Tuan Muda!" bentaknya sinis. Sasuke mundur satu langkah ke belakang, terlalu kaget karena ada seseorang yang berani membentaknya dengan kasar. Bagaimana lagi, ini pengalaman baru untuknya. "Kau tidak akan pernah tahu apa yang bisa aku lakukan saat kau tidur nanti!" tambah Naruto keras menyadarkan Sasuke dari kekagetannya.

Pemuda itu berdeham dua kali untuk menormalkan nada suaranya. "Jangan macam-macam!" ujarnya dengan sikap menantang. "Atau aku akan menendangmu dari sini!"

Naruto tersenyum tipis sebelum kembali bicara. "Coba saja jika kau bisa!" ujarnya dengan nada geli. Gadis itu terdiam sejenak untuk menambah efek dramatis dan kembali bicara dengan seulas senyum licik. "Karena sebelum kau menendangku, aku yang akan menendangmu dari sini terlebih dahulu."

Mata Sasuke menyipit saat mendengarnya. Bagaimana bisa gadis remaja di depannya ini mengintimidasi dirinya dengan begitu mudah? Sasuke benar-benar tidak suka tipe wanita seperti ini. Dia lebih menyukai wanita penurut dan mudah diatur, bukan singa betina seperti Kitsune, pikirnya.

Sasuke mengerjapkam mata, mengernyit heran. Kenapa dia berpikir seperti itu di saat seperti ini?

"Apa?!" bentak Naruto saat Sasuke menatapnya dengan ekspresi aneh.

"Hn..." jawab Sasuke tidak jelas, membuat Naruto kembali memutar kedua bola matanya lalu duduk bersila di atas tempat tidur.

"Ah, gara-gara kau, acara komedinya selesai!" sungut Naruto kesal. Dia meraih remote dan mulai mengganti-ganti saluran televisi dengan bertopang dagu.

Sasuke hanya bisa menghela napas panjang karenanya. Ia pun memutuskan untuk turun ke kantin asrama putra saat perutnya mulai bernyanyi minta diisi. Dia menutup pintu kamarnya keras tanpa menoleh lagi ke arah belakang. Gadis di dalam kamarnya benar-benar menguras emosi dan tenaganya saat ini. Sial! Makinya dalam hati.

.

.

.

Kantin asrama putra sudah agak sepi saat dia tiba, hanya tinggal beberapa murid saja yang bertahan untuk mengobrol di sana. Kebanyakan para murid sudah kembali ke kamar mereka masing-masing atau berkumpul di ruang santai yang luas dan nyaman di lantai satu asrama.

Namun meja yang biasa diduduki oleh Sasuke masih terisi penuh oleh anggota geng Akatsuki termasuk Kurama dan Itachi di dalamnya. Ah, jangan lupakan Deidara yang sepertinya sibuk mematut diri pada sendok mengkilat di tangannya. Dasar aneh! Pikir Sasuke tanpa ekspresi.

Dengan cepat dia mengambil piring dan mengisinya dengan berbagai macam lauk-pauk yang menggugah selera. Setelah itu dia pun berjalan ke meja untuk bergabung dengan anggota Akatsuki yang lain.

Sasuke duduk dalam diam. Anggota geng yang juga anggota OSIS itu terlihat sedang terlibat dalam diskusi serius sehingga mengabaikan kedatangannya.

"Tapi bagaimana bisa kau melupakannya?" tanya Itachi pada Kurama yang berekspresi datar.

Putra sulung keluarga Uzumaki itu mendorong piring yang masih setengah terisi ke depan dan mendelik tajam ke arah teman-temannya. "Kalian membuat napsu makanku hilang!" omelnya. Kurama mengambil serbet dan mengelap mulutnya kasar lalu melempar serbet itu ke atas meja. "Berapakali lagi aku harus bilang?" sungut Kurama ketus. "Aku sama sekali tidak mengenalnya!"

Sasuke menusuk-nusuk makanannya dengan gerakan malas. Ah, jadi mereka masih membahas penyusup itu, ujarnya dalam hati, sedikit kesal saat kembali teringat jika saat ini gadis itu menginvasi kamarnya.

"Tapi sepertinya dia sangat mengenalmu," Deidara menimpali. Diletakkannya kembali sendok di tangannya ke atas meja. Pemuda itu memasang ekspresi serius sebelum kembali bicara. "Mungkin dia teman masa kecilmu, atau kau pernah bertemu dengannya saat kau masih kecil," ujarnya panjang lebar. "Well, kau harus mengingatnya secara perlahan-lahan. Jangan terlalu memaksakan diri!" tambahnya dengan nada manis namun penuh penekanan.

Dia gila! Batin anggota Akatsuki minus Kurama dan Deidara, kompak. Namun ketujuh orang itu tetap menutup mulut rapat, siapa yang berani menentang Deidara? Resikonya terlalu besar. Deidara bisa meledakkan loker mereka, dan melakukan hal gila lainnya untuk membuat mereka menderita hingga kekesalannya hilang.

"Tapi yang membuatku aneh, Kitsune ada dimana saat ini? Dia pasti butuh tempat untuk tidur, kan?" Deidara mengernyit saat mengatakannya. Ucapannya itu sukses membuat Sasuke tersedak hebat hingga matanya berair.

"Sasuke, sejak kapan kau datang?" tanya Itachi yang baru sadar akan keberadaan adiknya. Kini semua mata anggota geng Akatsuki tertuju pada Sasuke yang masih terbatuk hebat.

Sasuke meraih gelas dan menenggak air mineral di dalamnya dengan rakus. Sial, jika terus seperti ini dia bisa mati karena serangan jantung, pikirnya berlebihan. Ia mengambil napas panjang dan menyenderkan tubuhnya ke punggung kursi, mencoba untuk kembali santai.

"Apa kalian tidak punya bahan obrolan lain yang lebih berbobot untuk dibicarakan?" tanya Sasuke tajam. Dia tidak tahu kenapa emosinya kembali meledak.

"Memangnya kenapa?" Sasori balik bertanya dengan ekspresi polos. Sasori memang kakak kelas Sasuke tapi kepolosannya itu kadang membuatnya terlihat seperti siswa kelas tiga SMP daripada siswa kelas tiga SMA. "Penyusup itu kini menjadi buah bibir murid-murid di sini," ia menambahkan dengan satu oktaf lebih rendah. Sasori melayangkan tatapannya ke seluruh penjuru, takut jika ada murid lain yang mendengar ucapannya. "Mereka menyangka penyusup itu sebagai murid baru. Murid lain penasaran kenapa dia bisa bergaul dan mengenal kita. Dan aku tidak tahu siapa yang memulainya, mereka mengatakan jika penyusup itu merupakan anak dari salah satu konglomerat di negara ini."

"Yang benar saja!" ujar Neji dengan ekspresi datar. Gadis dekil itu putri dari konglomerat? Sepertinya murid-murid di sekolah ini terlalu banyak menonton drama, pikirnya masam.

"Kau tahu darimana?" tanya Kakuzu dengan ekspresi tak kalah serius.

"Aku tidak sengaja mendengar percakapan beberapa siswa di toilet sekolah, tadi sore," jawab Sasori sambil mengangkat sebelah bahu. "Dan apa kalian tidak sadar jika sedari tadi kita menjadi pusat perhatian murid yang lain?"

Kini giliran Hidan yang mengangkat bahu dan menjawab santai. "Bukankah kita selalu menjadi pusat perhatian?" ujarnya membuat Sasori mendesis keras.

"Tapi kali ini berbeda!" sembur Sasori kesal. "Tatapan mereka lebih intens," tambahnya cepat. "Tidak bisa dipungkiri, murid-murid yang lain pasti merasa heran karena ada seorang murid yang terlihat asing bisa langsung akrab dengan kita. Aku pun jika jadi mereka pasti akan penasaran."

"Mau kemana, Sasuke?" tanya Kiba buka suara saat Sasuke bergerak dan berdiri dari kursi makannya.

"Aku sudah kenyang," jawab Sasuke cepat sebelum berbalik pergi.

Kiba mengernyit dalam saat melihat kepergian Sasuke. "Dia terlihat aneh," gumamnya setengah berbisik.

Neji melirik sekilas ke arah Sasuke dan menyahut cepat, "bukankah dia selalu aneh?" ujarnya membuat Kiba kembali mengernyit dan mengangguk ragu-ragu setelah berpikir untuk beberapa detik. Hei, kecuali dirinya siapa di geng Akatsuki yang tidak memiliki sikap aneh? Pikir Kiba percaya diri.

.

.

.

Sasuke terus berjalan dengan langkah berat menuju ke kamarnya. Sejenak dia berpikir untuk menghabiskan waktu beberapa saat di ruang santai, namun hal itu segera diurungkannya saat dia ingat jika masih ada setumpuk pekerjaan rumah yang harus diselesaikannya malam ini.

Ia mengambil napas dalam-dalam saat berdiri di depan pintu kamarnya. Semoga gadis dekil itu sudah tidur saat ini, doanya di dalam hati. Namun lagi-lagi doanya tidak terkabul. Ah, sepertinya hari ini bukan hari keberuntungannya.

"Kau sudah kembali?" Naruto menyambutnya dengan sebuah senyum lebar. Sasuke bahkan berpikir apa bibir gadis itu tidak terasa sakit karena tersenyum begitu lebarnya?

Naruto menggendikkan bahu saat Sasuke sama sekali tidak membalas sapaannya. Pemuda itu malah mendudukkan diri di atas kursi belajarnya, mengeluarkan beberapa buku dari dalam tas sekolahnya dan mulai mengerjakan tugas-tugas sekolah.

Sasuke melirik lewat bahunya saat mendengar Naruto menguap. Gadis itu menggeliat, menarik selimut dan membaringkan diri di atas tempat tidur. Sasuke meletakkan pensil di tangannya ke atas meja. "Jangan bilang kau berniat tidur di atas tempat tidurku!" katanya dingin dan sinis.

Pemuda itu berdiri dan bergerak menuju tempat tidurnya lalu menarik selimut yang dipakai oleh Naruto secara paksa. "Hei?!" bentak Naruto kesal karenanya. "Apa yang kau lakukan?" tanyanya dengan mata melotot, menatap marah ke arah Sasuke yang berdiri di samping tempat tidur dengan ekspresi datar.

"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu," desis Sasuke disela-sela giginya yang terkatup.

"Apa aku harus menjawabnya?" Naruto balik bertanya dengan melipat tangan di depan dada. "Apa kau tidak bisa lihat jika aku mau tidur?" tambahnya dengan mata memicing tajam.

"Tidak di tempat tidurku!" desis Sasuke. "Kau tidur di lantai!" tambahnya cepat.

"Kalau kau mau tidur di lantai, silahkan!" seru Naruto santai. Dia merebut selimut di tangan Sasuke dan kembali bergelung nyaman. "Tapi aku akan tidur di tempat tidur nyaman ini," katanya lagi dari balik selimut.

"Aku pemilik kamar ini. Sedangkan kau hanya parasit. Pengganggu!" bentak Sasuke yang kembali berusaha menarik selimut yang dipakai oleh Naruto. "Sebagai penyusup kau benar-benar tidak sopan!"

Naruto menghela napas panjang lalu mendudukkan diri. "Kenapa kita harus mempermasalahkan hal kecil seperti ini, sih?" tanyanya tanpa ada beban. "Kita bisa berbagi, kan? Tempat tidur ini cukup besar untuk menampung kita berdua," tambahnya begitu santai membuat Sasuke terbelalak tak percaya.

"Apa kau sudah gila?" Sasuke kembali membentak. "Apa kau tidak punya otak?" tanyanya lagi beruntun masih dengan nada yang sama. "Bagaimana bisa kau dengan santainya menawarkan untuk berbagi satu tempat tidur denganku? Dengan seorang pria?"

"Memangnya apa yang salah?" tanya Naruto dengan kening ditekuk dalam. "Aku tidak akan memperkosamu!" ia mengatakannya dengan mata berbinar geli. "Asal kau tahu, kau bukan tipeku," tambahnya cepat. "Aku menyukai pria berotot, bukan flower boy sepertimu!" jelasnya menutup percakapan mereka.

Sasuke yang mendengarnya bahkan tidak sanggup untuk berkata-kata lagi. Otaknya terlalu syok. Dia hanya bisa menatap tak percaya pada Naruto yang kini berbaring memunggunginya. Bagaimana bisa gadis itu menganggap ringan perihal berbagi tempat tidur dengan seorang pemuda asing? Lalu memangnya kenapa jika seorang pria tidak memiliki otot? Apa seorang pria terlihat lemah jika tidak memiliki tubuh yang berotot? Ya, ampun. Bagaimana bisa dia dibuat begitu tertekan hanya karena ucapan seorang gadis asing? Pikirnya frustasi.

Pemuda itu akhirnya memutuskan untuk kembali ke meja belajar. Berdebat dengan Naruto hanya menghabiskan waktu berharganya. Dia harus memfokuskan diri untuk menyelesaikan tugas-tugasnya.

Satu jam akhirnya berlalu. Sasuke meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku, lalu membereskan buku-buku di atas meja sebelum kembali bergerak mendekati tempat tidur. Perlu beberapa menit untuk Sasuke sebelum akhirnya membaringkan diri di samping Naruto yang kini tertidur pulas.

Kepalanya menengok ke arah Naruto yang berbaring menghadap ke arahnya. Sasuke mengamatinya lekat-lekat. Gadis di sampingnya ini bukan hanya aneh, tapi juga menyebalkan, egois, kasar dan tidak tahu diri, pikirnya.

Pemuda itu terus mengamatinya, hingga tidak sadar jika kini ia mengamati gadis itu dengan ketertarikan yang baru. Dia tidak jelek, pikirnya. Ah, bukan. Dia tidak terlalu jelek, ralatnya cepat. Sasuke mengubah posisi tidurnya hingga menyamping agar bisa mengamati wajah Naruto dengan lebih leluasa.

Satu alis Sasuke terangkat saat melihat kening Naruto mengernyit dalam. Tanpa disadarinya, ia meletakkan jari telunjuknya di atas pangkal hidung gadis itu, menghentikan kernyitan Naruto.

Kenapa kau mengernyit dalam tidumu? Apa kau bermimpi buruk? Tanya Sasuke di dalam hati tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah Naruto yang hanya berjarak tiga puluh centimeter darinya.

Sasuke mengamati bulu mata lentik Naruto yang tebal, beralih ke hidung tipisnya yang mancung, dan berakhir di bibir merah gadis itu. Sebenarnya dia cukup imut andai saja dia tetap diam tanpa membuka mulut pedasnya itu, pikirnya.

Aku pasti sudah gila! Teriaknya di dalam hati. Bagaimana bisa dia memuji gadis yang menyebalkan ini? Tidak. Tidak. Tidak. Sasuke menggelengkan kepala pelan lalu mengubah posisi tidurnya lagi hingga berbaring memunggungi Naruto. Kelelahan menyelimuti Sasuke beberapa saat kemudian. Pria itu akhirnya memejamkan mata dan tertidur dengan pulasnya.

.

.

.

Naruto bangun tepat pukul delapan pagi, hari ini. Dia mengerjapkan mata beberapa kali, menguap lebar dan menggeliat lalu melirik ke samping tempat tidurnya yang sudah kosong. Ah, Sasuke sudah berangkat sekolah rupanya. Naruto mengacak rambut pirangnya, melepas napas lelah, menarik selimut, meringkuk dan memutuskan untuk kembali tidur.

Gadis itu kembali terbangun karena rasa lapar. Jam yang tergantung di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Pantas perutnya berteriak minta diisi, pikirnya masam.

Dengan langkah gontai ia berjalan menuju kamar mandi. Tubuhnya kembali segar setelah air dingin mengguyur seluruh tubuhnya. Sasuke pasti marah besar jika tahu dia menggunakan handuk milik pemuda itu lagi. Ah, tapi membuat Sasuke kesal menjadi hiburan tersendiri bagi gadis remaja itu. Pemuda itu terlalu minim ekspresi. Karena itulah Naruto sangat senang mengganggunya.

Setelah selesai berpakaian dan mematut diri di depan cermin, Naruto keluar dari dalam kamar Sasuke dengan mengendap-ngendap. Dia menjulurkan kepalanya sedikit, sebelum berbelok menuju pintu keluar gedung asrama. Sejenak dia mengamati keadaan di sekitarnya, setelah merasa aman dia pun berlari cepat keluar gedung.

Perlu waktu tiga puluh menit untuk Naruto menemukan kantin utama sekolah. "Aku tidak bisa berpikir jika perutku dalam keadaan kosong. Bisakah Anda memberiku sepotong roti untuk mengganjal perutku?" tanyanya dengan wajah memelas. "Aku bangun kesiangan hingga melewatkan sarapan, pagi ini," tambahnya beralasan.

Wanita paruh baya yang dimintai tolong oleh Naruto itu tidak menjawab. Dia melirik ke arah jam dinding, dan kembali menatap lurus Naruto yang masih memasang wajah memelas. "Satu jam lagi jam makan siang," katanya, sama sekali tidak ramah.

Naruto menunduk menatap kedua tangannya yang diletakkan di atas perut. "Tapi perutku sudah tidak bisa diajak kompromi, Ibu Penjaga," jawabnya dengan ekspresi sedih. "Aku bahkan beralasan pergi ke toilet agar bisa sampai di sini. Tolong, untuk sekali ini saja. Tolong bantu aku," mohonnya meratap.

Ibu penjaga pun akhirnya luluh melihat ekspresi Naruto yang hampir menangis. Diberikannya dua buah roti melon dan sekotak susu coklat pada Naruto yang menerimanya dengan suka cita. "Terima kasih," ucap Naruto dengan senyum lima jarinya.

"Jangan sampai hal ini terulang lagi. Mengerti?"

Naruto mengangguk cepat, dan tersenyum lebar. Hatinya bersorak gembira karena lagi-lagi aktingnya bisa sangat menyakinkan.

Ibu penjaga itu mencondongkan tubuhnya dari belakang meja counter dan berbisik dengan ekspresi serius. "Dan rahasiakan hal ini dari murid lain. Oke?"

"Oke." Jawab Naruto lagi. Gadis itu membungkuk dalam sebagai tanda terima kasih sebelum akhirnya berbalik pergi, mencari tempat untuk menikmati sarapan paginya yang terlambat.

Pilihan Naruto jatuh pada sebuah pohon yang cukup tinggi di taman belakang sekolah. Pohon itu sangat rindang, dengan sebuah kursi taman di bawahnya.

Naruto melemparkan tatapannya ke segala penjuru, merasa cukup aman dia pun memanjat naik ke atas pohon dan memilih dahan paling kuat untuk duduk. Dengan semangat dia melahap roti melon dan menyeruput habis susu coklatnya. Ia memasukkan sampah sisa sarapannya ke dalam kantung plastik dan menggatungnya di sebuah dahan, untuk dibuangnya nanti setelah dia turun.

Siang ini matahari bersinar begitu terik, beruntung angin bertiup membawa rasa nyaman dan mengusir hawa panas. Suara angin yang berdesir membuat kelopak matanya menjadi berat. Ia memilih posisi paling nyaman untuk tidur siang.

Naruto baru saja akan memejamkan mata saat telinganya menangkap suara berisik dari bawah. Kedua matanya menyempit, mengamati seorang pria tua yang terus terkekeh.

"Seksi sekali..." Pria tua itu kembali tertawa mesum sementara tangannya membuka halaman demi halaman majalah dewasa di tangannya. "Ini bisa jadi referensi bagus untuk kelanjutan novel erotisku," tambahnya senang.

Pria itu mengambil selembar tisu dari saku celananya, menggulung tisu tersebut dan menyumpalkannya ke dalam lubang hidung. Naruto mendesis, menggeleng pelan saat tahu majalah apa yang sedang dibaca oleh pria tua di bawahnya.

Tanpa suara Naruto turun dari atas pohon. Setelah menginjakkan kaki di atas tanah, ia pun berjalan mendekat dan mencondongkan tubuhnya lalu berkata pelan di bahu kanan Jiraiya. "Seksi sekali," ujarnya.

Jiraiya terkekeh dan menyahut senang, "memang sangat seksi." Pria itu kembali membuka halaman lain, tanpa sadar jika ada seseorang yang memergoki kegiatannya. "Lihat. Payudara model ini sangat penuh. Ah, aku merasa seolah-olah aku sedang menyentuhnya." Jiraiya tertawa keras setelahnya, membuat Naruto mendesis dan tanpa sungkan dia memukul bagian belakang kepala pria tua itu.

"Dasar kakek mesum!" teriaknya marah sambil berkacak pinggang.

Jiraiya mengaduh keras, majalah di tangannya terjatuh ke atas rumput. Dia berbalik ke belakang dan melotot namun nyalinya langsung menciut karena siswi yang dihadapinya memasang ekspresi yang jauh lebih menakutkan dari dirinya.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Jiraiya dengan nada suara senormal mungkin. Dia mengangkat bahu, bersikap penuh wibawa.

Naruto mengetuk-ngetukkan kaki kanannya di atas tanah, kedua tangannya dilipat di depan dada. Dia mendesis dan menyempitkan mata, menatap tajam ke arah Jiraiya yang kini terlihat sedikit gugup. "Seharusnya aku yang bertanya kenapa Anda membaca majalah porno di sini?"

Sikap tenang pria itu itu langsung hilang seketika. Dengan panik dia melempar tatapannya ke seluruh penjuru, takut jika ada murid lain yang mendengar percakapan mereka. "A-apa maksudmu?" tanyanya dengan senyum dipaksakan.

Naruto menunjuk dengan dagunya. Majalah yang tergeletak di atas tanah itu terbuka, memperlihatkan satu halaman penuh foto seroang model wanita dengam pose seksi, tanpa busana.

Jiraiya memungut majalah itu dan melemparnya ke atas kursi taman, dengan cepat ia menjawab, "itu majalah yang kusita dari salah satu siswa," katanya beralasan. "Dan kenapa kau berada di sini? Sekarang belum masuk jam istirahat!" tegur Jiraiya. "Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Jiraiya lagi merasa jengah karena tatapan intens Naruto.

Naruto melirik ke arah tumpukan buku di atas kursi taman. Dengan cepat dia mengambil salah satu buku bersampul warna jingga. "Icha-icha Paradise..." Naruto membaca judul novel di tangannya dengan suara merdu. "Apa novel ini hasil sitaan juga?" ia melempar senyuman penuh arti pada Jiraiya yang menatapnya heran. "Kau tahu novel itu?" Jiraiya balik bertanya.

Dengan sikap tenang Naruto membuka halaman demi halaman novel di tangannya lalu mengangkat novel tersebut hingga sejajar dagu. "Paman angkatku mengoleksinya," jawabnya dengan nada mencemooh. Pria memang sama saja, pikirnya.

"Apa pamanmu menyukai novel buatanku?" tanya Jiraiya yang tanpa sadar kembali membocorkan rahasianya.

Naruto mengangkat sebelah alisnya. "Jadi Anda pengarang novel erotis ini?"

"Ya," jawab Jiraiya antusias.

"Tidak heran kenapa wajahnya terlihat sangat mesum," gumam Naruto tidak jelas. "Pamanku sangat menyukai novel Anda. Puas?" ujarnya dengan nada satu oktaf lebih tinggi.

Jiraya hanya terkekeh pelan dan kembali mendudukkan diri di atas kursi. Naruto menghela napas panjang, dan akhirnya ikut mendudukkan diri di samping Jiraiya.

Keduanya terdiam untuk beberapa saat. Jiraiya melirik sekilas ke arah Naruto, mengamatinya lekat. "Kau bukan murid sekolah ini. Kenapa kau bisa masuk dan memakai seragam sekolah kami?"

"Aku murid di sini," jawab Naruto cepat.

"Kau tidak bisa membohongiku," sahut Jiraiya dengan wajah teduh. "Aku tahu semua wajah murid-muridku di sini." Tambahnya tenang. "Bagaimana kau bisa menyusup ke dalam sekolah?"

Naruto balas menatapnya lekat. Haruskah dia menjawab dengan jujur? Pikirnya bimbang.

"Kau belum menjawab pertanyaanku," kata Jiraiya lagi saat Naruto tidak menjawab pertanyaannya.

"Sebelum aku menjawab pertanyaan Anda, aku ingin menanyakan satu hal."

"Apa?"

"Apa posisi Anda di sini?" tanya Naruto dengan ekspresi serius.

"Aku?" beo Jiraiya. "Aku kepala sekolah di sini."

Naruto tertawa lepas mendengarnya. Pria tua di sampingnya ini; kepala sekolah? Jangan bercanda!

"Jangan bercanda, Kek!" kata Naruto setelah tawanya mereda. "Bagaimana bisa sekolah elit ini memiliki kepala sekolah mesum seperti Anda?" tambahnya dengan nada tak percaya.

"Terserah. Kau mau percaya atau tidak, itu bukan urusanku," sahut Jiraiya sedikit tersinggung karena Naruto tidak mempercayainya.

"Jadi Anda benar-benar kepala sekolah di sini? Di sekolah ini?" pekik Naruto sementara Jiraiya mengangkat sebelah bahunya cuek. Dia membereskan buku-buku yang dibawanya, memastikan jika majalah dan novel erotisnya tersembunyi dengan baik. "Kalau begitu bagaimana jika kita bekerjasama?"

"Apa maksudmu?" tanya Jiraiya dengan kening ditekuk dalam.

"Aku akan menjaga rahasia Kakek sebagai penulis novel erotis asal Anda mengijinkanku untuk tetap tinggal selama beberapa hari di sini," usulnya. "Aku janji setelah urusanku selesai, aku akan segera pergi. Aku tidak akan membuat masalah," tambahnya cepat. "Tolong ijinkan aku, Kek!" rengeknya.

Jiraiya menimang-nimang, bisa kacau jika pekerjaan sampingannya bocor. Dia melirik ke arah Naruto, apa gadis remaja ini bisa dipercaya? Bagaimana jika gadis ini membocorkannya ke publik. Jiraiya mengumpat di dalam hati, merutuki kebodohannya yang sudah membocorkan pekerjaan sampingannya pada gadis remaja ini.

"Aku bersumpah tidak akan membocorkan rahasia ini." Naruto berjanji sepenuh hati. "Kumohon..."

"Baiklah... kau boleh tinggal untuk beberapa hari," jawab Jiraiya dengan berat hati. "Tapi kau harus memegang janjimu. Mengerti?"

Naruto mengangguk dengan antusias.

"Kau juga tidak boleh menyebabkan keributan di sini!"

"Aku tahu," sahut Naruto dengan senyum jail.

Jiraiya sejenak memejamkan mata sambil mengusap pangkal hidungnya. "Sebaiknya aku kembali ke ruanganku," ujarnya pelan. Kepalanya mendadak berdenyut sakit. Apa pertemuannya dengan gadis remaja ini membuat darah tingginya kambuh?

"Boleh aku ikut?" tanya Naruto. "Aku bosan berkeliaran seorang diri."

Lagi-lagi Jiraiya menghela napas panjang. "Baiklah, kau boleh ikut," ujarnya sambil bangkit dari duduknya.

.

.

.

Tepat pukul dua belas siang bel panjang berbunyi. Para murid membungkuk memberi hormat pada guru pengajarnya masing-masing. Tidak jarang dari mereka yang langsung melesat cepat menuju kantin sekolah setelah sang guru keluar dari pintu kelas.

Suasana di kantin sangat ramai siang ini. Murid-murid mengantri rapih untuk mendapatkan jatah makan siang mereka.

"Siapa yang sedang kau cari?" tanya Kurama pada Deidara yang sedari tadi terus melirik ke arah pintu kantin.

"Kitsune," jawab Deidara, kurang semangat. "Aku belum bertemu lagi dengannya sejak kemarin sore," ujarnya. "Jangan-jangan dia sudah pergi?"

"Itu bagus!" timpal Itachi penuh semangat dengan mulut penuh makanan. Ia memukul dadanya pelan karena tersedak makanan, sementara Kurama yang duduk di sampingnya segera menyodorkan segelas air minum untuk sahabatnya itu.

"Jangan bicara dengan mulut penuh!" tegur Kurama.

Itachi terbatuk kecil dan menelan sisa makanan yang ada di mulutnya. "Aku hanya senang jika penyusup itu sudah pergi," katanya dengan senyum lebar. "Hidup kita akan kembali damai setelah dia pergi."

Kurama terdiam mendengarnya, tanpa bernapsu dia mengunyah makan siangnya yang kini terasa hambar di lidahnya.

"Kitsune tidak mungkin pergi tanpa berpamitan denganku," ujar Deidara. "Apa kalian melakukan sesuatu pada Kitsune?" Deidara memicingkan mata, menatap wajah teman-temannya satu per satu.

"Apa yang bisa aku lakukan padanya?" Sasori menyahut cepat, sementara Kakuzu dan Hidan mengangguk cepat, mendukung pernyataan Sasori. "Kitsune terlalu menakutkan untuk kami ganggu," tambahnya.

Neji dan Kiba membatu di tempat. Tatapan intens Deidara mampu membuat wajah mereka memucat seketika. Masa SMA mereka bisa berubah menjadi mimpi buruk jika Deidara dalam mood yang tidak baik.

"Di-dia mungkin sedang bersembunyi saat ini," ujar Hidan mencoba mengembalikan mood Deidara. "Sebentar lagi dia pasti akan datang untuk mengganggu kita."

"Kau benar," seru Deidara sambil menjentikkan jari. Senyumnya kembali merekah karena senang. "Mungkin saja saat ini dia sedang merencanakan sesuatu untuk mengganggu kalian," tambahny begitu gembira. "Hah, sekolah akan sangat membosankan jika Kitsune tidak ada di sini. Mungkin aku harus membujuknya untuk pindah sekolah ke sini," dia mengangguk-ngangguk dengan ekspresi serius sementara wajah Itachi, Sasori, Kakuzu, Hidan, Neji dan Kiba memucat sempurna mendengarnya, sedangkan Sasuke tetap berekspresi datar dan Kurama terlihat melamun.

"Hei, Kurama. Kenapa kau tidak mengatakan apapun?" bisik Itachi sepelan mungkin. Dia takut jika Deidara mendengar ucapannya. "Katakan sesuatu untuk mencegah Deidara!"

Kurama melirik sekilas ke arah Itachi dan menjawab, "untuk apa aku menghentikannya? Aku hanya akan menggali lubang kuburku sendiri jika berani menentangnya," ujarnya membuat Itachi bungkam.

Semua mata di meja itu kembali tertuju pada Deidara saat dia bangkit dari duduknya, merapihkan seragam dan berkata penuh semangat. "Sebaiknya aku mencari Kitsune."

"Kau tidak tidur siang?" tanya Hidan dengan mata terbelalak. Sungguh satu keajaiban besar jika Deidara melewatkan satu hari tanpa tidur siang.

"Mencari Kitsune lebih penting daripada tidur siang," jawabnya. Deidara pun berbalik pergi meninggalkan teman-temannya yang menatap kepergiannya dengan ekspresi campur-aduk.

"Kita harus melakukan sesuatu," ujar Neji setelah Deidara pergi. "Deidara-senpai harus kita jauhkan dari Kitsune."

"Aku setuju," timpal Kakuzu. "Itachi, kau harus memikirkan cara agar Deidara jauh dari penyusup itu."

Itachi menekuk wajahnya. "Kita harus pergi dari sekolah untuk beberapa hari," ujarnya pelan setelah berpikir cukup lama.

"Apa maksudmu?" tanya Sasuke yang baru buka suara.

"Jika kita pergi dari sekolah, Deidara tidak akan bisa bertemu dengan penyusup itu. Iya, kan?" jelas Itachi menggebu.

"Sepertinya begitu," sahut Sasori ragu-ragu.

"Lalu bagaimana caranya kita bisa keluar dari sekolah?" tanya Kiba. "Tanpa alasan yang jelas pihak sekolah tidak akan mengijinkan kita keluar."

Itachi tersenyum dan menjawab santai. "Tugas OSIS."

"Tugas OSIS?" beo Neji tidak mengerti.

Itachi mengangguk pelan. "Ayo, kita bahas masalah ini di ruang OSIS!"

Tidak perlu waktu lama bagi mereka untuk merencanakan semuanya. Tugas terakhir yang harus dilakukan hanya meminta ijin dari Jiraiya selaku kepala sekolah.

Itachi menenteng map di tangannya erat. Dia berjalan angkuh bersama Kurama di sampingnya. Keduanya bahkan tidak membalas sapaan berlebihan beberapa murid, tidak penting menurut mereka.

Diketuknya pintu ruang kepala sekolah beberapa kali. Keduanya beranjak masuk setelah terdengar suara keras dari dalam ruangan yang mempersilahkan keduanya untuk masuk.

Baik Itachi maupun Kurama hanya bisa membulatkan kedua matanya saat melihat Naruto. Apa yang dilakukannya di sini? Batin keduanya kompak.

"Eh, kalian?" Naruto mendongakkan kepala dan melambaikan tangan dengan antusias kearah keduanya. "Hai..." ujarnya dengan sikap bersahabat yang berlebihan.

"Kau mengenal mereka?" Jiraiya terlihat terkejut mendapati Naruto mengenal kedua murid populernya.

Naruto menggendikkan bahu, matanya kembali fokus pada pion-pion catur miliknya. "Aku mengenal Kurama, tapi tidak terlalu kenal dengan Si Keriput di sampingnya. Kami baru bertemu kemarin," jawabnya santai sementara Jiraiya mengangguk pelan. "Skak!" ujarnya senang membuat Jiraiya merengut, sedikit kesal karena Rajanya kembali terancam.

Kurama melirik ke arah Itachi. Sahabatnya itu terlihat sangat terganggu karena panggilan tidak sopan yang diberikan Naruto padanya. Kurama menyikut pelan perut Itachi, mengingatkannya akan tujuan utama kedatangan mereka ke ruangan kepala sekolah.

Itachi berdeham, mencoba mengendalikan emosinya. Setelah yakin jika nada suaranya sudah kembali normal dia pun berkata, "kami memerlukan persetujuan Anda, Jiraiya-sama."

"Persetujuan apa?" tanya Jiraiya tanpa menatap wajah kedua anak didiknya yang masih berdiri. Pria tua itu terlalu fokus pada permainan caturnya.

Itachi menggigit bibir bawahnya, menahan kesal. Kepala sekolahnya ini lebih tertarik bermain catur bersama penyusup daripada menghadapi anak didiknya? Pria tua itu bahkan tidak mempersilahkan keduanya untuk duduk.

Putra sulung keluarga Uchiha itu pun berjalan mendekat untuk memberikan proposal kegiatan. "Apa ini?" tanya Jiraiya. "Aish... kalian mengganggu permainan caturku," keluhnya kesal. Dia mengambil proposal tersebut dan membacanya sekilas. "Kalian berencana pergi berkemah?" tanyanya lagi dengan sebelah alis terangkat.

Itachi mengangguk pelan. "Seperti yang anda tahu, tugas OSIS sangat banyak dan hal itu membuat otak kami sangat lelah. Ditambah dengan banyaknya tugas sekolah yang harus kami kerjakan secara bersamaan. Oleh sebab itu kami memerlukan udara segar untuk menghilangkan penat."

"Kalian berniat pergi sore ini?" tanya Jiraiya lagi, sedikit terkejut. "Kalian perlu ijin dari orangtua kalian juga."

"Kami sudah mendapatkan ijin dari wali kami," jelas Kurama. "Anda bisa cek di lampiran akhir proposal kami," tambahnya dengan nada suara senormal mungkin.

"Kalian menyiapkan ini sejak kapan?"

"Sejak lama," dusta Itachi menjawab pertanyaan Jiraiya. Yang benar, mereka menyiapkan semuanya hanya dalam waktu tiga puluh menit. Sasuke bahkan bertepuk tangan karena teman-temannya itu bisa bekerja begitu cepat dan penuh semangat.

Itachi terus berusaha mempertahankan ekspresinya saat Naruto menyempitkan mata dan menatapnya dengan ekspresi tidak percaya.

"Besok sore kalian harus sudah kembali ke asrama," ujar Jiraiya seraya membubuhkan tandatangannya di atas proposal yang diajukan. "Satu malam seharusnya cukup untuk menyegarkan otak," imbuhnya. "Aku tidak bisa mengijinkan kalian pergi terlalu lama, karena seharusnya aku tidak mengijinkan kalian pergi berlibur. Kalian tahu, kan?!"

"Kami tahu," sahut Itachi. Satu hari jauh dari penyusup itu pun sudah merupakan satu berkah, pikirnya senang.

"Jam berapa kalian pergi?"

"Jam dua siang," jawab Kurama pendek.

"Baiklah, kalian boleh pergi," ujar Jiraiya. Yang penting mereka tidak mengganggu waktuku bermain catur lagi, pikirnya senang.

Itachi dan Kurama baru saja akan membungkuk dan pergi sebelum Naruto memotongnya. "Kakek, boleh aku pergi bersama mereka?" mohonnya dengan penuh harap.

Kakek? Batin Itachi dan Kurama kompak. Keduanya saling menatap, bingung.

"Untuk apa kau pergi bersama mereka?" tanya Jiraiya. Aku mengijinkan mereka pergi agar mereka tidak menggangguku bermain catur lagi, pikir Jiraiya. "Kalau kau pergi aku tidak punya teman untuk bermain catur," ujarnya mengeluh.

"Aku hanya pergi selama satu hari. Selama aku pergi, kakek bisa berlatih agar bisa menang dariku. Benar, tidak?"

Jiraiya terlihat berpikir, menimang-nimang sementara Itachi merapal doa di dalam hati agar Jiraiya tidak mengijinkan Naruto untuk pergi. "Sepertinya idemu bagus juga," katanya. "Baiklah, kalau begitu kau juga boleh ikut bersama mereka agar aku memiliki waktu untuk berlatih."

Naruto terpekik senang dan memeluk Jiraiya hangat layaknya seorang cucu pada kakeknya. Jiraiya yang seumur hidupnya tidak memiliki anak maupun cucu terlihat senang mendapat perlakuan seperti ini. "Pelukanmu terlalu erat, kau bisa membunuhku, Bocah!" sungutnya berbanding terbalik dengan apa yang dirasakannya saat ini. "Kalian!" tunjuknya pada Kurama dan Itachi. "Jaga cucuku dengan baik!" perintahnya tegas.

"Baik," jawab Itachi berat hati sedangkan Kurama tidak mengatakan apapun.

"Sebaiknya aku bersiap," seru Naruto semangat. "Dan Kakek, terima kasih sudah mengijinkanku tinggal dan pergi bersama mereka," ujarnya sebelum berlari pergi keluar ruangan.

Jiraiya tersenyum kecil dan menatap lurus kedua anak didiknya, "cucuku sangat menggemaskan," pujinya membuat Itachi tersenyum dipaksakan karenanya.

.

.

.

"Jadi kenapa dia bersama kita sekarang?" tanya Neji dengan kening mengernyit. Bis yang membawa mereka terus melaju mulus di atas jalan beraspal. "Bukankah kita pergi untuk menghindarinya?" tambahnya dengan kernyitan semakin dalam.

"Apa yang bisa kulakukan jika kepala sekolah mengijinkannya untuk ikut bersama kita?" jawab Itachi sebal. "Kepala sekolah bahkan memberi perintah agar kita menjaganya."

"Justru kitalah yang harus dijaga dari pengganggu itu," sahut Kiba dengan menekuk wajahnya.

"Sepertinya hanya Deidara yang terlihat begitu senang saat ini," Hidan menimpali dan melirik ke arah Deidara yang tengah bercengkrama akrab dengan Naruto. "Menurut kalian apa yang sedang mereka bicarakan?" tanyanya penasaran. "Apa mungkin mereka sedang menyusun rencana untuk menjaili kita?" bulu kuduk Hidan meremang saat mengatakannya.

Hening. Itachi dan lainnya nampak terpengaruh oleh ucapan Hidan.

Hidan pun terlihat berpikir keras, ia lalu mengerjapkan mata saat otaknya selesai memproses ucapan Itachi. "Kitsune mengenal kepala sekolah?"

Itachi mengangkat kedua bahunya, "dia bahkan memanggilnya kakek."

"Apa?!" Sasori membelalakkan mata dan menatap ke arah kursi yang ditempati Naruto dan Deidara di bagian depan. "Jadi penyusup itu cucu kepala sekolah?" tanyanya.

Giliran Kurama yang mengangkat kedua bahunya, dan dia pun berseru keras. "Kitsune, kau cucu kepala sekolah?!"

"Kau gila?!" bentak Itachi berusaha membekap mulut Kurama namum gerakannya kurang cepat dan akhirnya gagal.

Tawa Naruto terhenti dan ia menengok ke arah belakang dimana Itachi, Kurama dan lainnya duduk di kursi bagian tengah sementara Sasuke memilih menyendiri di kursi paling belakang. "Kalian bisa menganggapnya seperti itu," ujarnya datar.

"Jangan main-main dengan kami!" timpal Hidan dengan mimik serius. "Dia kakekmu atau bukan?"

"Entahlah," jawab Naruto sambil mengangkat sebelah bahunya. "Beliau sudah tua jadi tidak salah jika aku memanggilnya kakek."

Kelompok Akatsuki semakin bingung dibuatnya. Penjelasan Naruto yang berbelit-belit membuat mereka mengernyit dan menggaruk-garuk kepala tidak mengerti.

"Anggap saja dia kakekku. Puas?" tambah Naruto, dan ia kembali bercengkrama dengan Deidara.

"Tapi aku tidak pernah mendengar jika kepala sekolah memiliki anak, bahkan cucu," Hidan berbisik pelan. "Mungkinkah Kitsune anak dari kerabatnya?" tanyanya semakin penasaran.

"Entahlah," sahut Kiba cepat. "Yang jelas Kitsune memiliki sekutu yang sangat kuat. Kita tidak bisa menyingkirkannya dengan mudah," ia menghela napas dan menunduk dalam.

"Jangan-jangan dia berbohong saat mengatakan jika dia mengenal Kurama." Itachi melipat kedua tangannya di depan dada. "Bisa jadi dia mengarang alasan itu agar bisa dekat dengan kelompok kita."

"Sepertinya dia bukan tipe seperti itu," Kurama menimpali. Dia melirik ke arah depan sebelum memalingkan muka, menatap keluar jendela. Pemandangan di luar begitu menakjubkan. Pohon-pohon berderet rapih, sepertinya tempat yang mereka tuju sudah semakin dekat.

"Kenapa sekarang kau malah membelanya?" dengus Itachi tidak suka. "Jika kau memang sama sekali tidak mengingatnya, berarti perkiraan kita benar, dia hanya mengarangnya agar bisa dekat dengan kelompok kita," tambahnya. "Sasuke, bagaimana menurutmu?"

"Aku setuju dengan Kurama," sahut Sasuke datar membuat Itachi terperangah tak percaya. "Melihat kesungguhannya, dia tidak mungkin memiliki motif lain."

"Sasuke jelas sudah terpengaruh," ujar Neji sungguh-sungguh. "Kitsune sudah mempengaruhi tiga diantara kita. Kita harus lebih berhati-hati saat menghadapinya."

Hidan meletakkan satu jari tangan di depan mulutnya. Dia mengingatkan tanpa suara agar teman-temannya mengecilkan suaranya. Bisa berbahaya jika percakapan mereka didengar oleh Naruto dan Deidara. Dan sisa perjalanan mereka pun berlangsung sunyi.

Mereka sampai di kaki bukit tepat pukul empat sore. Mereka harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki untuk sampai di lokasi perkemahan. Itachi paling terakhir turun dari bis, dia mengintruksikan kepada supir agar besok menjemput mereka pukul sebelas siang.

Para anggota Akatsuki terlihat sibuk menurunkan perlengkapan kemah dari dalam bagasi. Hanya Naruto dan Deidara yang terlihat santai. Keduanya hanya membawa satu buah tas punggung.

"Sebenarnya apa yang mereka bawa?" tanya Naruto pada Deidara. "Kenapa Sasori membawa boneka kayu? Untuk apa?" tanyanya lagi, semakin tidak mengerti.

"Jangan bertanya padaku," jawab Deidara dengan menggelengkan kepala pelan. "Sampai saat ini aku masih belum bisa membaca pikiran teman-temanku itu."

"Teman-temanmu sangat aneh!" desis Naruto yang kembali terbelalak saat melihat Neji membawa sebuah tas transparan berisi selimut tebal dan satu buah bantal bulu angsa. "Apa dia harus membawanya juga?" dia menunjuk ke arah Neji dengan ekspresi datar. "Mereka mau berkemah atau pindah rumah?"

"Selamat datang di Geng Akatsuki," ujar Deidara dengan senyum geli.

Naruto hanya bisa menggelengkan kepala melihat Sasori, Hidan, Neji dan Kiba kepayahan saat pendakian karena barang-barang bawaan mereka. Jika seperti ini sepertinya mereka akan memerlukan waktu lebih dari satu jam untuk sampai ke lokasi. "Sepertinya kita tidak akan sampai lokasi tepat waktu," keluh Naruto.

"Tenang saja, kita pasti tiba tepat waktu," sahut Sasuke dari belakang Naruto. Pemuda itupun berjalan cepat, mendahului Deidara dan Naruto.

Benar apa yang dikatakan Sasuke, mereka tiba tepat pukul lima sore di lokasi perkemahan. Di depan mereka terdapat danau kecil yang terbentuk jutaan tahun yang lalu akibat letusan gunung. Menakjubkan pikir Naruto. Pikirannya kembali jernih saat telinganya menangkap suara alam yang menenangkan. Ah, dia sangat merindukan saat-saat seperti ini.

"Apa maksudmu makanan kita tidak terbawa?" raung Itachi membuat Naruto menoleh ke arah suara. Sasori masih sibuk memeriksa satu per satu tas yang dibawanya dan dia tidak bisa menemukan tas berisi bahan makanan mereka yang sudah disiapkan oleh kantin sekolah.

"Maaf, Itachi. Sepertinya ketinggalan di sekolah," ujar Sasori merasa sangat bersalah. "Aku hanya membawa peralatan masak dan satu toples kopi saja."

"Lalu kita akan makan apa?" tanya Neji mulai panik. "Bagaimana jika kita kembali turun dan pulang ke asrama?"

Itachi menjambak rambutnya sambil berjalan mondar-mandir. "Supir bis baru besok akan menjemput kita pukul sebelas siang. Lalu kita akan pulang naik apa sekarang? Akan sangat memalukan jika murid lain tahu kita gagal berkemah hanya karena lupa membawa perbekalan makanan."

"Telepon ke rumah dan minta diantar perbekalan makanan saja," usul Kiba.

"Tidak ada sinyal di sini, Kiba." Neji menyahut membuat Kiba kembali lesu.

"Lalu kita harus menahan lapar, begitu?" sungut Kakuzu kesal. "Aku setuju dengan Neji, kita minta dijemput saja."

"Sangat berbahaya jika kita turun gunung sekarang," Naruto menimpali. "Hari sudah semakin gelap. Sebaiknya kalian mulai dirikan tenda dan buat api unggun. Aku yang akan cari makanan untuk kita semua."

"Kau akan mencarinya dimana?" tanya Kurama. "Hutan sangat berbahaya," tambahnya dengan nada cemas.

"Aku tidak akan pergi sendiri," sahut Naruto tenang. "Sasuke akan menemaniku. Sebaiknya kita bagi menjadi tiga kelompok. Empat orang tetap tinggal untuk mendirikan tenda. Empat orang lainnya mencari kayu bakar dan membuat api unggun sedangkan aku dan Sasuke akan mencari makanan. Ayo Sasuke, kita pergi!" ujarnya tegas membuat kesembilan pemuda itu tidak sanggup untuk membantah ucapannya.

"Kita akan mencari makanan kemana?" tanya Sasuke setelah keduanya berjalan selama sepuluh menit masuk ke dalam hutan. Naruto mengeluarkan sebilah pisau lipat dan memberi tanda pada beberapa pohon yang dilaluinya.

"Kita mencari sumber mata air untuk mengambil air bersih dan menangkap ikan," jawab Naruto tanpa menoleh ke arah belakang.

"Kenapa kita tidak menangkap ikan di danau?" tanya Sasuke tidak mengerti. "Bukankah akan lebih mudah?"

"Kau mau berenang untuk menangkap ikan?" Naruto menggelengkan kepala pelan. "Aku tidak membawa peralatan memancing. Tapi nanti malam aku akan membuatnya agar besok pagi kita bisa memancing di danau." Jelasnya panjang lebar. "Ah, benar dugaanku. Ada sungai kecil di sini."

"Bagaimana kau bisa tahu?"

"Apa kau tidak melihat ada aliran sungai kecil yang bermuara di danau?" Naruto balik bertanya sementara Sasuke menggelengkan kepala. "Kau harus lebih memperhatikan keadaan di sekitarmu, Sasuke. Terkadang itu sangat penting dan menolong seperti dalam keadaan kita saat ini." Naruto berdiri di tepi sungai kecil itu dan tersenyum senang saat melihat banyaknya ikan yang terdapat di sungai dangkal itu. "Isi botol minum kita hingga penuh. Aku akan menangkap ikan untuk makan malam kita." Perintahnya tegas.

Naruto mengambil sebuah kayu panjang, dan meruncingkan ujungnya menyerupai sebuah tombak. Dengan lihai dia menombak satu demi satu ikan yang berenang di sungai. Sasuke bahkan tidak berkedip melihat kemampuan gadis remaja itu.

"Boleh aku mencobanya?" tanya Sasuke penasaran. Jika gadis itu bisa melakukannya, kenapa dia tidak bisa? Pikirnya tidak mau kalah. Naruto menyerahkan tombak di tangannya.

"Kenapa sangat sulit melakukannya?" Sasuke mengatupkan gigi, kesal. Entah sudah berapa kali dia menembakkan tombaknya, tapi tidak ada satu ikan pun yang berhasil ditangkapnya.

"Dulu aku juga selalu gagal," hibur Naruto. "Perlu latihan cukup lama hingga aku mampu melakukannya. Ayahku melatihku dengan penuh kesabaran." Naruto menepuk bahu Sasuke pelan. "Fokuskan pikiranmu pada ikan-ikan itu, lalu gunakan instingmu saat melepaskan tombak ke dalam air."

Sasuke pun mengenyampingkan egonya, dengan patuh dia menuruti semua intruksi Naruto. "Aku berhasil!" pekiknya senang. Dia mengangkat hasil buruannya ke udara, membuat Naruto tersenyum karenanya.

"Kau berbakat," puji Naruto tulus. "Bisakah kau menangkap beberapa lagi sementara aku membersihkan hasil buruan kita?"

"Tentu," jawab Sasuke dengan seringai penuh percaya diri.

Naruto dan Sasuke kembali hampir satu jam kemudian. Naruto mengernyit dalam saat melihat kondisi tempat itu masih sama seperti saat ditinggalkannya. Tenda belum didirikan, api unggun pun belum dinyalakan. "Kenapa tendanya belum kalian dirikan?" tanyanya dengan rahang mengeras.

"Aku tidak tahu jika mendirikan tenda bisa begitu sulit," jawab Itachi cemberut.

"Apa?" Naruto menaikkan kedua alisnya, tidak mengerti. "Bukankah ini bukan kali pertama kalian pergi berkemah?"

"Memang," jawab Kurama sambil menekuk mulutnya ke atas tipis. "Tapi ini kali pertama kami pergi berkemah tanpa pelayan," tambahnya cepat, merasa malu. Kurama berdeham keras dan kembali menyibukkan diri untuk mendirikan tenda.

"Aku berhasil! Aku berhasil!" teriak Deidara senang karena tenda miliknya berhasil didirikan namun sayangnya hanya sepuluh detik tenda itu berdiri sebelum akhirnya kembali runtuh. "Sial!" maki Deidara kesal. "Sebenarnya siapa yang mengusulkan untuk pergi berkemah, hah? Kemari! Aku akan mencukur habis alis matanya!" teriaknya membuat Itachi ketakutan dan bersembunyi dibalik Kurama.

"Dan kenapa api unggunnya belum dinyalakan juga?" tanya Naruto setelah melepas napas lelah.

Sasori cemberut dan menjawab ketus. "Kayunya tidak mau dibakar?"

"Apa?" Naruto berjalan mendekat ke arah gundukan kayu yang disusun oleh Sasori, Hidan, Kakuzu dan Kiba. Keempatnya terlihat sibuk menyalakan api. Emosi Naruto meledak saat melihat tumpukan kayu itu. "Aku menyuruh kalian mencari kayu bakar!" raungnya seraya menendang kayu-kayu itu hingga berserakan. Keempat pemuda yang berjongkok di bawahnya menggigil di bawah tatapan intimidasi gadis itu. "Kayu bakar," desis Naruto dari sela-sela giginya yang terkatup. "Aku meminta kalian mencari kayu bakar. Kenapa kalian malah mengambil kayu yang masih basah?"

"Kami memotong akar-akar pohon. Bukankah barang yang masih baru lebih bagus daripada yang sudah layu?" ujar Kiba beralasan.

"Mati! Kau akan mati di tanganku!" raung Naruto lagi yang semakin emosi karena penjelasan Kiba, namun dengan sigap Sasuke segera mencegah gadis itu yang sudah bersiap menghajar Kiba. Kenapa para tuan muda ini tidak bisa berpikir praktis? Bukankah akan lebih mudah membakar kayu yang sudah kering? "Bagaimana jika aku menggunakan boneka kayumu sebagai kayu bakar?" ancamnya membuat Sasori berlari ke arah bonekanya dan memeluk kedua boneka itu erat.

Naruto mengambil napas panjang untuk menurunkan emosinya yang tidak stabil. Tanpa berkata apapun dia pergi masuk ke dalam hutan dengan sebuah senter di tangan. Sasuke kembali mengikutinya walau tanpa diperintah. Terlalu berbahaya menurut Sasuke jika Naruto pergi ke dalam hutan seorang diri.

"Sebenarnya apa yang kalian bisa?" gerutu Naruto pada Sasuke. Tangannya memungut dan menumpuk satu demi satu ranting-ranting pohon yang sudah kering di dalam pelukannya. Sasuke tidak menjawab, dia ikut memungut ranting-ranting itu. "Mendirikan tenda, tidak bisa. Mencari kayu bakar pun tidak bisa. Lalu apa yang bisa kalian lakukan, hah?"

"Ajari kami," sahut Sasuke tenang. "Ajari kami agar kami bisa melakukannya tanpa bantuanmu," tambahnya dengan suara dalam. Naruto berbalik dan menatapnya dalam kegelapan. Dia terdiam cukup lama sebelum akhirnya kembali bicara. "Sebaiknya kita kembali. Kita harus menyalakan api unggun, mendirikan tenda dan menyiapkan makan malam," kata Naruto dengan senyum kecil.

Hari sudah gelap saat Naruto kembali. Tanpa banyak bicara dia segera menumpuk kayu bakar yang dibawanya dan menyalakannya. Helaan napas lega terdengar dari mulut pemuda-pemuda itu. Satu masalah selesai, pikir mereka kompak.

Setelah selesai menyalakan api unggun dan memasak air untuk membuat kopi, Naruto berjalan ke arah Deidara untuk membantunya mendirikan tenda. Itachi, Kurama dan Neji memperhatikan cara kerja Naruto dengan seksama dan mulai mempraktekannya. Mereka tertawa gembira dan saling berpelukan saat berhasil mendirikan tenda milik mereka. Mereka bahkan tersenyum penuh arti pada Naruto, mengucapkan terima kasih tanpa kata.

Naruto menghela napas panjang. Ada hal lain yang harus dikerjakannya. Menyiapkan makan malam. Kesembilan pemuda itu ikut berkumpul mengelilingi api unggun setelah selesai memasukkan barang bawaan mereka ke tenda. Masing-masing dari mereka mendapatkan satu cangkir kopi hitam yang masih mengepul dari Naruto.

"Sebentar lagi ikan bakarnya siap," ujar Naruto sambil membalikkan ikan-ikan bakar yang dipangganggnya di atas api unggun. Kesembilan pemuda itu menunggu dengan tidak sabar, bagaimana mereka bisa sabar jika aroma ikan bakar ini begitu menggoda indra penciuman. "Makanlah!" kata Naruto setelah ikan-ikannya matang. Kesembilan pemuda itu menerimanya penuh suka cita. Mereka melahapnya dengan rakus. Sejak kapan ikan bakar terasa begitu nikmat, pikir mereka.

"Ngomong-ngomong aku tidur dengan siapa malam ini?" tanya Naruto polos membuat kesembilan pemuda itu tersedak hebat.

"Apa maksudmu?" bentak Sasuke.

"Maksudku, aku tidur di tenda mana?" jelas Naruto sembari memutar kedua bola matanya. "Memangnya apa yang ada di otak kalian, hah?"

"Aku satu tenda dengan Kurama," ujar Itachi. "Neji dengan kiba sementara Kakuzu satu tenda dengan Sasori dan Hidan. Hanya Sasuke dan Deidara yang memiliki satu tenda untuk diri mereka sendiri."

"Kau boleh tidur di tendaku," tawar Deidara namun gagasan itu langsung ditolak mentah-mentah oleh Kurama. "Kenapa?" tanya Deidara tidak mengerti.

"Kau seorang pria," jelas Kurama dengan nada selembut mungkin.

"Kalau begitu aku satu tenda dengan Sasuke saja," ujar Naruto dengan ringannya.

"Tidak bisa!" timpal Kurama lagi, menolak dengan tegas.

"Kenapa?" tantang Naruto. "Aku sudah pernah ti-"

Sasuke langsung membekap mulut Naruto dan berkata dengan cepat. "Aku akan pindah ke tenda Deidara. Kau bisa memakai tendaku untuk dirimu sendiri."

"Sejak kapan kau menjadi begitu baik hati, Sasuke?" tanya Itachi sambil menelengkan kepala ke satu sisi.

"Anggap ini sebagai balas budi," jawab Sasuke datar sambil melepas bekapannya dari mulut Naruto. Ia lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Naruto dan berbisik pelan. "Jangan katakan pada siapa pun jika kau bermalam di kamarku. Mengerti!"

Naruto mendelik dan akhirnya mengangguk pelan sebagai tanda persetujuan.

Suasana kembali hening setelahnya. Hanya ada suara binatang malam yang saling bersahut. Api meletik-letik, menghasilkan suara derik kayu yang terbakar semakin kencang.

"Kau tidak makan?" tanya Deidara memutuskan keheningan yang menggantung. Untuk sejenak dia berhenti mengunyah.

Naruto menggelengkan kepala. "Aku belum lapar," jawabnya pendek. Naruto melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Dia sedang membuat beberapa pancing sederhana untuk memancing besok.

"Tidak perlu membuat alat pancing," seru Sasuke. "Aku akan membantumu menombak ikan- besok."

Naruto tersenyum mendengarnya, sementara tangannya masih terlihat sibuk memasang tali senar pada bambu panjang yang sudah dirautnya hingga tipis dan lentur. "Bukankah kau meminta untuk diajari cara bertahan hidup di alam liar, Sasuke? Dan aku sedang mengajari kalian saat ini," jelasnya membuat Sasuke kembali terdiam.

"Kau dapat darimana tali senar itu?" Itachi mengernyit heran. Naruto mengangkat sebuah kotak kecil yang tergeletak di sampingnya dan menjawab tenang. "Ini kotak ajaibku," ujarnya membuat Itachi mengernyit. "Aku selalu membawanya kemana pun aku pergi."

"Apa saja isinya?" Sasori menimpali dan menjulurkan kepala untuk melihat isi kotak berwarna coklat yang dibawa oleh Naruto.

"Tali senar, pisau lipat, obat luka, kompas, jarum serta benang jahit, peluit, tali sepatu, cutter, dan pematik api," jawab Naruto tanpa mengalihkan pandangannya dari alat pancing sederhana yang baru selesai dibuatnya. "Kita akan memancing ikan untuk sarapan besok," tukasnya dengan mata berbinar gembira.

"Kita beruntung," ujar Deidara berbisik pelan di telinga Kurama. "Apa kau bisa membayangkan bagaimana nasib kita jika Kitsune tidak ikut berkemah dengan kita?"

Kurama terdiam.

Deidara menepuk bahu Kurama dan kembali berbisik. "Apa kau yakin tidak mengenalnya, Kurama?"

Kurama melepas napas kasar dan menoleh ke arah Deidara. "Dia akan pergi jika aku mengingatnya," jawabnya yang juga berupa bisikan pelan.

Deidara mengangkat kedua alisnya dan mengangguk mengerti. "Begitu?"

Kurama mengalihkan tatapannya pada Naruto yang entah sejak kapan mulai akrab dengan anggota Akatsuki yang lain. "Apa kau akan membocorkan hal ini?" tanyanya pelan.

"Aku tidak akan mengatakan apapun. Karena aku juga tidak mau dia pergi!" sahut Deidara dengan ekspresi serius.

.

.

.

TBC

Yeay... tinggal dua chap lagi. Semangat!

Sampai jumpa dichap selanjutnya!

#WeDoCareAboutSFN