Selamat membaca!

Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it

Pairing : SasuFemNaru

Rated : T

Genre : Family, friendship, drama

Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)

Dandelions Promise

Chapter 4 : Berkemah Ala Geng Akatsuki Part 2

By : Fuyutsuki Hikari

Semakin malam tawa kelompok Akatsuki terdengar semakin keras. Hidan yang membawa gitar kesayangannya mulai unjuk gigi, ia mengiringi teman-temannya yang bersedia menyanyi untuk menghibur dan meramaikan suasana. Kebersamaan ini membuat mereka bahagia, dan tertawa lepas.

Kiba mengangkat tangan kanannya tinggi. Mencoba mengutarakan niatnya; menyumbang suara untuk bernyanyi. "Tunggu giliranmu, Kiba!" ujar Neji membuat Kiba kembali menurunkan tangannya dan mengangguk semangat. Putra bungsu keluarga Inuzuka itu bertepuk tangan, memberi dukungan dan semangat pada Kakuzu yang tengah bernyanyi dengan gaya berlebihan.

Naruto yang sedari tadi mengamati perilaku anggota Akatsuki merasakan satu kejanggalan. Dia pun mendekatkan kepalanya ke telinga Sasuke dan berbicara sedikit keras untuk mengimbangi siulan, nyanyian serta tawa keras di sekitarnya. "Kenapa aku merasa jika kalian menghalangi niat Kiba untuk beryanyi?" tanyanya heran.

Sasuke melirik ke arah Naruto. "Terlalu beresiko," jawabnya datar.

"Maksudmu?" tanya Naruto lagi dengan kedua alis bertaut.

"Suara Kiba lebih kacau daripada Giant," jelas Sasuke masih dengan nada dan ekspresi datar. "Nyanyiannya bisa membahayakan kesehatan telinga pendengarnya," tambahnya berlebihan.

Naruto terbelalak. "Maksudmu tokoh Giant di anime Doraemon?"

Sasuke menyeringai kecil sebagai jawaban dari pertanyaan Naruto. Gadis itu melirik ke arah Kiba. Sebagian dari dirinya merasa kasihan karena kelihatannya Kiba sangat antusias untuk bernyanyi. Tapi disisi lain, jika benar apa yang diinformasikan oleh Sasuke, maka ia lebih memilih jika Kiba tetap menutup rapat mulut dan menjadi penonton saja.

Malam pun semakin larut. Saat tiba giliran Kiba untuk menyanyi, Hidan menguap lebar, pura-pura mengantuk. "Maaf, Kiba. Tapi aku sudah sangat ngantuk. Aku tidak memiliki energi lagi untuk memainkan gitar," ujarnya beralasan. "Dan tidak. Aku tidak mengijinkan siapa pun dari kalian untuk menyentuh gitar kesayanganku ini. Gitarku akan tidur bersamaku." Tambahnya cepat saat Kiba membuka mulut, berniat untuk meminjam gitar milik Hidan.

Teman-temannya yang lain bisa bernapas lega karenanya, kecuali Kiba yang terlihat lesu dan tidak bergairah. Neji menepuk bahu Kiba dan berkata dengan nada menghibur. "Apa kau tidak ngantuk, Kiba? Kita bisa karaoke sepuasnya setelah pulang nanti," ujarnya membuat mata Kiba kembali berbinar karena senang. "Sebaiknya kita istirahat. Bukankah besok kita akan membantu Kitsune memancing ikan?"

Kiba mengangguk pelan dan mengikuti Neji masuk ke dalam tenda mereka.

"Ya. Sebaiknya kita tidur agar besok bisa bangun pagi," timpal Kakuzu saat Neji dan Kiba sudah masuk ke dalam tenda mereka. "Selamat malam semua!" ujarnya sebelum bebalik pergi.

"Hei, kenapa perlengkapanku ada di luar tenda?" raung Sasori yang baru menyadari jika ransel dan dua buah boneka kesayangannya diletakkan begitu saja di luar tenda.

"Barang-barangmu membuat tenda kita semakin sempit," kata Hidan beralasan. "Jadi aku dan Kakuzu mengeluarkannya dari dalam tenda."

"Berani sekali kalian melakukannya!" raung Sasori tidak terima. "Lalu kenapa kau berniat membawa masuk gitarmu ke dalam tenda?" tanyanya dengan nada satu oktaf lebih tinggi.

Hidan memeluk gitar kesayangannya erat dan menjawab cepat. "Aku tidak mungkin membiarkan gitarku kedinginan di luar."

"Kalau begitu aku juga akan membawa kedua bonekaku ke dalam tenda," seru Sasori tidak mau kalah. Namun niatannya segera dihalangi oleh Kakuzu.

Naruto mendengus dan memutar kedua bola matanya. Pertengkaran yang sangat tidak masuk diakal. Bukankah gitar dan boneka hanya benda mati? Benda-benda itu tidak akan keberatan 'kan jika disimpan di luar ruangan? Kenapa Hidan dan Sasori harus meributkannya? "Kenapa kalian berdua tidak meletakkan barang-barang kesayangan kalian itu di luar? Jadi adil, kan?" Naruto memberi usul, namun sepertinya baik Hidan maupun Sasori enggan melakukannya.

"Kitsune benar," sahut Deidara sambil memasang ekspresi serius. "Aku peringatkan. Sebaiknya kalian jangan membuat keributan hingga mengganggu tidurku! Atau aku sendiri yang akan membakar benda-benda kesayangan kalian itu. Mengerti?"

Hidan dan Sasori mengangguk kompak. Mereka bergegas masuk ke dalam tenda dan meninggalkan boneka serta gitar kesayangan mereka di luar tenda. Naruto tersenyum lebar dan mengacungkan jempol pada Deidara.

Deidara tersenyum manis dan berkata, "biasa saja," katanya sambil mengibaskan rambut pirangnya, dan ia pun masuk ke dalam tenda untuk istirahat.

Setelah Deidara pergi, di luar tenda hanya ada Naruto, Sasuke, Itachi dan Kurama. Keempatnya berpindah tempat, berbaring di atas tanah di dekat danau. Mereka melipat kedua tangannya di belakang kepala, menjadikannya sebagai bantalan.

Keempatnya mendongak, menatap langit malam bertabur bintang. "Indah sekali," kata Itachi memutus keheningan yang menggantung di antara mereka. Naruto tersenyum tipis namun tidak mengatakan apapun. "Apa kau sering pergi berkemah, Kitsune?" tanya Itachi lagi tanpa mengalihkan tatapannya. "Sepertinya kau sudah sangat terbiasa dengan kegiatan ini."

"Begitulah," jawab Naruto pendek. Gadis remaja itu bangkit untuk duduk. Ia melepas napas panjang sebelum kembali berkata, "hampir setiap sebulan sekali ayahku membawaku pergi berkemah. Beliau yang mengajariku cara bertahan di alam bebas, mengajariku memancing, mengajariku untuk mencintai alam." Naruto tersenyum saat mengingatnya. Ah, dia mulai merindukan ayahnya.

"Ayahmu kedengarannya sangat hebat," ujar Itachi penuh kekaguman.

"Beliau ayah paling hebat di dunia," jawab Naruto lirih, namun matanya berbinar penuh kebanggaan.

Kesunyian kembali menyelimuti mereka setelahnya. Mereka terdiam cukup lama. Naruto, Sasuke dan Itachi sibuk menikmati keindahan langit malam yang sangat jarang mereka dapatkan saat di kota. Andai saja mereka bisa tinggal lebih lama, pikir ketiganya kompak.

Sedangkan Kurama, ia tengah sibuk dengan pemikirannya sendiri. Sekilas dia melirik ke arah Naruto yang duduk di sampingnya. Perasaannya campur aduk saat ini. Mendengar penuturan Naruto mengenai ayah mereka membuatnya sedikit iri. Bukankah seharusnya dia juga bisa merasakan dan mengalami pengalaman yang sama seperti Naruto? Bukankah berkemah lebih cocok untuk anak laki-laki? Hanya karena kedua orangtuanya bercerai membuatnya tidak bisa memiliki waktu berkualitas bersama ayahnya. Kenapa rasanya sangat tidak adil? Batin Kurama protes.

Di sisi lain, Kurama pun kembali bertanya. Apa adiknya memiliki banyak pakaian bagus seperti dirinya? Apa adiknya memiliki kemewahan seperti dirinya? Apa adiknya memiliki pelayan yang selalu siap untuk melayani seperti yang dimilikinya? Kurama kembali melirik ke arah Naruto, apa adiknya itu hidup bahagia?

"Kitsune, apa kau bahagia?" tanya Kurama tiba-tiba. Pertanyaannya itu jelas mengagetkan Itachi dan Sasuke. Kurama menekan rasa sesak yang mengganjal di hatinya. Ditatapnya Naruto lurus, jantungnya berdebar semakin cepat, menunggu jawaban sang adik.

"Aku bahagia," jawab Naruto sedikit ragu. Gadis remaja itu menekuk lutut dan menopangkan dagu di atas lututnya. "Aku bahagia..." ulangnya setengah berbisik dengan ekspresi sendu.

"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Itachi pada Kurama. Dia mencoba mencairkan ketegangan yang entah kenapa terasa mencekiknya. "Tentu saja dia bahagia," tambahnya cepat. "Darimana dia mendapat energi untuk mengganggu kita jika dia tidak bahagia dalam hidupnya? Pertanyaanmu sangat aneh!"

Kurama tidak mengatakan apapun, dia memilih untuk bangun untuk berdiri dan berbalik, berjalan menuju tendanya untuk istirahat. Itachi yang melihat kelakuan aneh sahabatnya hanya bisa menggelengkan kepala. "Aku juga sudah lelah," katanya. "Lebih baik aku tidur saja. Sampai bertemu besok!" dan Itachi pun pergi tanpa menunggu jawaban dari Naruto maupun Sasuke.

"Kau baik-baik saja?" tanya Sasuke setelah kepergian Itachi dan Kurama. Pemuda itu berdeham saat Naruto menelengkan kepala, menatapnya dengan ekspresi aneh. "Pertanyaan Kurama seperti mengganggumu," ujarnya dengan nada senormal mungkin.

Naruto tersenyum tipis, dia merapatkan jaket yang dikenakannya karena udara malam terasa semakin dingin. "Aku hanya kaget karena Kurama menanyakan hal itu," jawabnya setelah terdiam beberapa saat. "Dia orang pertama yang menanyakannya padaku." Naruto kembali tersenyum tipis pada Sasuke.

"Apa Kurama sangat penting untukmu?" tanya Sasuke dengan nada suara aneh. Pemuda itu memaki dirinya sendiri, kenapa juga dia harus menanyakan hal ini? Dia sama sekali tidak memiliki hak untuk bertanya masalah pribadi pada Naruto. Lalu kenapa mulutnya dengan spontan menanyakan hal itu? "Apa penting jika dia mengingatmu?" Sasuke mengumpat dalam hati, kenapa mulutnya bekerja lebih cepat dari otaknya sekarang?

"Dia sangat penting bagiku," jawab Naruto tanpa keraguan sedikit pun. "Tapi aku sudah tidak tahu lagi, apa aku masih ingin agar Kurama mengingatku atau tidak." Dia menarik napas panjang dan melepasnya perlahan. "Mungkin seharusnya aku tidak pernah muncul lagi di hadapannya."

"Kenapa kau menyesali sesuatu yang sudah terjadi?" ujar Sasuke dingin. Naruto terhenyak. Benar, untuk apa dia menyesalinya sekarang? Bukankah semua sudah terjadi? "Sudah berapa lama kau mengenalnya?" tanya Sasuke lagi.

"Seumur hidupku," jawab Naruto pelan. Alis Sasuke bertaut saat mendengarnya. Kitsune mengenal Kurama selama hidupnya? Lalu bagaimana mungkin Kurama bisa tidak mengingatnya? Ini aneh, pikir Sasuke. Apa mungkin Kurama menyembunyikan sesuatu? "Apa kau marah karena Kurama tidak mengenalmu?"

Naruto melepas napas panjang sambil mengangkat kedua bahunya. "Aku manusia biasa, Sasuke. Tentu saja aku marah, kecewa dan sedih saat dia sama sekali tidak mengenaliku dan bahkan tidak mengingatku hingga detik ini," jawabnya panjang lebar. "Tapi aku juga tidak bisa menyalahkannya. Sudah lebih dari dua belas tahun kami tidak bertemu."

"Tapi kau masih mengingat dan mengenalinya," kata Sasuke ketus. Entah kenapa dia begitu marah pada Kurama saat ini. Sasuke bisa melihat jika jauh di dalam hati Naruto, gadis itu terluka karena sikap Kurama.

"Mungkin dia perlu waktu untuk mengingatku kembali," kata Naruto menghibur diri. "Lagi pula, aku akan pergi jika dia sudah mengingatku. Apa kau mau aku cepat pergi?" Naruto menyempitkan mata dan menatap tajam ke arah Sasuke yang kini memasang pose berpikir.

"Kalau begitu aku berharap Kurama tidak akan pernah mengingatmu," kata Sasuke kini merubah ekspresinya menjadi serius. "Aku tahu itu akan menyakitimu," tambahnya dengan nada bersalah. "Tapi jika dengan itu kau bisa tetap tinggal, maka aku berharap jika Kurama tidak akan pernah mengenalimu. Selamanya."

Naruto mengerjapkan mata, seolah tidak mempercayai pendengarannya dia kembali bertanya untuk memastikan sesuatu. "Kau berubah pikiran? Sekarang kau tidak mau aku pergi?"

"Tentu saja aku ingin kau pergi dari kamarku," sahut Sasuke cepat. "Tapi kau bisa pindah ke asrama wanita dan tetap bermain-main dengan kami. Iya, kan?"

"Sasuke... kau benar-benar menggemaskan!" pekik Naruto senang. Tanpa berpikir dia memeluk pemuda di sampingnya dan mengecup singkat bibir Sasuke. "Kenapa kau tidak langsung bilang jika kau tidak mau berpisah denganku?" tambahnya dengan senyum jail.

Sasuke yang masih syok dengan apa yang baru saja terjadi tidak mampu membalas ucapan gadis itu. Dia memerlukan waktu beberapa saat untuk pulih dari keterkejutannya. "Kau memeluk dan menciumku?" tanyanya dengan ekspresi datar.

"Memangnya kenapa?" Naruto balik bertanya, polos. "Di Amerika, pelukan dan ciuman merupakan hal yang wajar untuk mengungkapkan kasih sayang antar teman, dan keluarga. Bukan hanya pada kekasih saja."

"Tapi ini Jepang!" bentak Sasuke. "Kau tidak bisa melakukannya pada setiap pria dengan sembarangan!"

"Kau tidak suka aku memeluk dan menciummu?" Naruto menekuk wajahnya dalam. "Lagipula yang tadi bukan ciuman. Itu hanya sebuah kecupan ringan," ujarnya begitu santai, membuat Sasuke melotot ke arahnya. Gadis itu menyempitkan mata, kapan lagi dia bisa mengusili Sasuke dan membuatnya salah tingkah dan dia pun melakukan hal gila lainnya, "ini yang namanya ciuman," ujarnya merdu dan Naruto pun mencium mesra Sasuke yang hanya bisa terbelalak dan bersikap kaku seperti patung.

"Kau?!" Sasuke gemertuk saat ciuman itu berakhir. Dia sangat kesal, marah dan malu bercampur menjadi satu. Bagaimana bisa gadis itu menciumnya tanpa rasa malu dan dengan begitu santainya? Lalu kenapa dirinya hanya duduk kaku tanpa membalas ciuman itu? Kenapa dia harus sekecewa ini pada dirinya sendiri?

"Lihat wajahmu!" Naruto tertawa sambil menunjuk ke arah Sasuke. "Apa itu ciuman pertamamu?" ledeknya dengan seringai mencemooh.

"Memangnya kenapa?" tantang Sasuke. "Apa kau begitu bangga karena pernah mencium pria sebelumnya?" tanyanya dengan rasa cemburu yang terasa membakar di dada.

Naruto terus tertawa hingga perutnya terasa sakit. Sasuke tidak perlu tahu jika pria lain yang pernah diciumnya hanya ayah, Kurama serta keponakan Kimimaro, itu pun hanya dipipi saja. Tidak penting baginya untuk meluruskan hal ini. Iya, kan?

"Mau kemana?" tanya Naruto saat Sasuke berdiri dan berbalik pergi. "Hei, kau marah?" tambahnya dengan menahan tawa sementara Sasuke terus berjalan masuk ke dalam tenda tanpa menggubris ucapan Naruto.

.

.

.

Naruto menekuk lutut dan memeluknya erat. Wajahnya mendongak kembali menatap langit bertabur bintang di atasnya. Tuhan, betapa dia sangat merindukan suasana ini. Dia sudah tidak ingat kapan terakhir kali dia pergi berkemah dengan ayahnya.

Dia menghela napas panjang, dan melirik ke arah tenda Deidara dan Sasuke. Kenapa mereka semua pergi tidur dengan cepat? Kenapa Sasuke harus marah karena ia memeluk dan menciumnya? Sasuke terlalu berlebihan, gerutunya dalam hati. Seharusnya mereka bergadang hingga dini hari, duduk melingkar di depan api unggun dan bernyanyi riang sepanjang malam. Atau berbaring di tempat ini untuk menikmati langit malam. "Dasar tidak berguna!" desis Naruto kesal. Dia lalu melirik ke arah tenda Kakuzu, Hidan dan Sasori. Sepertinya mereka sudah mencapai kesepakatan karena takut akan ancaman Deidara. Sasori meninggalkan boneka kesayangannya di depan tenda, begitu juga dengan Hidan yang meninggalkan gitar kesayangannya di depan tenda.

Naruto bergerak dari duduknya untuk mengambil gitar milik Hidan. Gadis itu meringis, Hidan pasti mengamuk jika tahu ada seseorang yang berani mengambil gitar kesayangannya tanpa sepengetahuannya. "Aku pinjam sebentar!" Naruto berbisik pelan di depan tenda dan juga dengan langkah pelan dia kembali ke tempat duduknya tadi dan duduk bersila.

Jari-jari tangan kanannya menelusuri senar-senar gitar dengan lembut dan memetik senar itu satu per satu. Beberapa saat kemudian gitar dimainkan, dan nyanyian Naruto pun mengalun merdu memecah malam.

Kono sora no shita anata to aeta kiseki wa

Kitto tooi mukashi kara kimatte ita koto

(Under this sky, the miracle of meeting you. For sure was decided a long time ago)

"Siapa yang bernyanyi tengah malam begini?" Itachi yang masih belum sepenuhnya tidur langsung terbangun karena suara nyanyian Naruto. Pemuda itu melirik ke arah Kurama yang berbaring memunggunginya. "Kurama, bangun!" ujarnya sambil menendang pelan pantat sahabatnya itu.

Kurama berbalik dan mendesis, menatap tajam Itachi yang kini tersenyum kaku sambil mengangkat jari-jari tangannya membentuk huruf 'V'. Itachi mendudukkan diri, bersila dan memasang telinganya. "Apa Kitsune yang bernyanyi?"

"Siapa lagi?" sahut Kurama datar. "Hantu?!" tambahnya tajam. Itachi mengangguk pelan dan melipat kedua tangannya di depan dada. Nyanyian Naruto kembali mengalun merdu.

Ou hitorikiri hiza o kakaete ta yoru mo

Ima koushite mitsumeaeba chikara ni naru

(Yes, even in the nights I held my knee alone. If we could look at each other like that, it would change into my strength)

Itachi mengernyit dalam, memasang pose berpikir. "Aku tidak pernah mendengar lagu ini sebelumnya."

Kurama ikut duduk bersila, dengan terbelalak dia balik bertanya. "Kau tidak pernah nonton anime?" Itachi menggelengkan kepala, Kurama menghela napas panjang karenanya. "Lalu apa yang kau lakukan saat masih kecil?"

"Bermain saham," jawab Itachi datar membuat Kurama memutar kedua bola matanya, dan kembali berbaring memunggungi Itachi.

"Apa hubungannya lagu ini dengan anime?" Itachi menekuk wajahnya semakin dalam. Dia masih tidak mengerti apa hubungannya lagu yang dinyanyikan oleh Naruto dengan anime. "Kurama, apa hubungannya?" tanya Itachi lagi sambil menendang-nendang kaki Kurama untuk mengganggunya.

Sotto tsunai da yubisaki hanarenai youni

Zutto issho ni arukou kyou kara no michi

(In order to not let the fingertip I hold go. Let's walk together forever the path that starts today)

"Lagu ini soundtrak penutup salah satu anime." Kurama akhirnya menjawab dengan suara datar.

"Apa masih diputar di televisi?"

"Tidak." Jawab Kurama cepat. "Anime lama, kau mungkin bisa mencarinya di internet."

Itachi membaringkan diri, di luar suara Naruto masih mengalun merdu. Dia menatap langit-langit tendanya yang rendah dan kembali bertanya. "Anime itu bercerita tentang apa?"

Toki no kaze ni nori oozora o watarou

Yume no tobira e to tsuzuiteru niji o doko made mo

(Taking a ride in the time wind, let's cross the heaven. Somewhere in the rainbow that leads to the door of the dreams)

Kurama mengubah posisinya, dia berbaring lalu melipat kedua tangannya di belakang kepala dan menjadikannya sebagai bantalan. "Kisah persahabatan tentang pangeran manusia, putri angin dan calon penyihir cilik." Kurama tersenyum tipis saat mengatakannya. Nyanyian Naruto mengembalikan kenangan-kenangan lama yang sempat dikuburnya dalam. "Putri angin terdampar di dunia manusia hingga akhirnya ia mencintai pangeran manusia, tapi sang pangeran yang pemberani namun lugu itu hanya menganggapnya sebagai sahabat."

Nee oboeteru hajimete no mijikai no kisu

Kogoete ita kono kokoro ga toke hajimeta

Ashita shiawase ni nareru youne kanjiteru

Ryoute ippai no kono ai o daite tabidatou

(Hey, do you remember our first and short kiss? This frozen heart started to speed up. I feel tomorrow we can be happy. Let's being a trip holding our hands filled of love)

"Apa putri angin mengutarakan perasaannya?" tanya Itachi antusias.

"Tidak," sahut Kurama dengan nada suara berat. "Putri angin sangat keras kepala. Dia memiliki ego yang sangat tinggi dan lebih mementingkan persahabatan mereka."

"Lalu apa yang terjadi?"

"Ras manusia, angin dan naga akhirnya bisa hidup rukun hingga putri angin pun bisa kembali ke negerinya sendiri; Negeri Angin."

Kaze wa deaiya wakareya todokanu omoii

Atsumete hakobu yasashii mahou nanda ne

(The wind gathers meetings, splits and unreachable feelings. And take them kindly, it's a magic)

"Apa pangeran dan penyihir merelakan kepergiannya?"

"Bagaimana pun juga putri angin memang harus pulang ke negerinya," ujar Kurama. "Namun sang pangeran tahu, kapan pun angin bertiup saat itulah putri angin tengah tertawa dan menyapanya dari Negeri Angin."

"Berakhir disitu?" tanya Itachi dengan kernyitan dalam.

"Berakhir disitu," beo Kurama dengan senyum masam.

"Cerita macam apa itu?" dengus Itachi. "Ceritanya terlalu menyedihkan untuk dikonsumsi oleh anak-anak."

"Sebenarnya jalan ceritanya penuh makna, menghibur dan lucu," Kurama mengatakannya dengan tatapan kosong. "Hanya akhir ceritanya saja yang menurutku terasa tidak adil untuk putri angin. Dia sudah banyak mengorbankan diri namun pada akhirnya dia tidak bisa memiliki orang yang dicintainya. Dan hebatnya dia masih bisa gembira karena sudah ditakdirkan untuk bertemu dengan dua orang sahabatnya."

Ima wa shinjiteru ummei ga aru koto

Toki no kaze ni nori oozora o watarou

Yume no tobira e to tsuzuiteru niji o doko made mo

(Now, I believe destiny exists. Taking a ride in the time wind, let's cross the heaven. Somewhere in the rainbow that leads to the door of the dreams) (1)

Penjelasan Kurama berakhir bersamaan dengan berakhirnya nyanyian Naruto. Gadis itu mengembalikan gitar milik Hidan ke tempatnya semula dan memutuskan untuk masuk ke dalam tenda untuk istirahat. Ah, besok dia masih harus bekerja keras, pikirnya dengan helaan napas keras.

Sementara itu, ternyata ada satu orang lagi yang terpengaruh oleh pesona Naruto malam ini. Sasuke berbaring menyamping, memunggungi Deidara yang sudah terlelap lama. Kedua matanya masih enggan untuk dipejamkan. Apa yang dilakukan Naruto tadi berefek sangat dasyat untuknya, dengar saja debaran jantungnya yang semakin kencang dan rona merah di pipinya kini menjalar hingga ke daun telinganya. Sasuke tidak pernah menyangka jika dia akan jatuh cinta di usia tujuh belas tahun pada seorang gadis yang baru dikenalnya, bahkan belum diketahui namanya.

.

.

.

Kabut menyelimuti lokasi perkemahan pagi ini. Udara dingin membuat mereka yang masih terlelap kembali menarik selimut, enggan untuk keluar tenda. Hal serupa pun terjadi pada Naruto. Jika tidak ingat jika dia harus menyiapkan sarapan, dia pasti enggan untuk bangun dan memilih untuk tidur lebih lama lagi.

Hawa dingin menampar kulitnya saat dia keluar dari dalam tenda. Kabut tebal sedikit menyulitkan penglihatannya. Naruto segera mencuci muka dan menggosok gigi sekedarnya. Setelah itu ia menyalakan api unggun untuk memasak air dan membuat kopi.

Dia hanya bisa menghela napas karena orang-orang yang tadi malam begitu bersemangat untuk membantunya ternyata masih tertidur pulas di dalam tenda mereka masing-masing. "Dasar mulut besar!" gerutunya seraya menuangkan kopi panas ke dalam cangkirnya.

Selesai menikmati kopinya, Naruto memutuskan untuk mengambil ikan di sungai, hal itu ia lakukan untuk berjaga-jaga jika hasil dari acara memancingnya dengan kelompok Akatsuki nanti tidak sesuai dengan harapannya.

Naruto berlama-lama di sungai itu, menikmati dinginnya air sungai, menikmati suara gemericik air, menikmati hijaunya pepohonan yang mengelilinginya, hingga dia lupa akan niat awalnya pergi ke sungai itu.

"Ya, ampun!" pekiknya seraya menepuk keningnya sendiri keras. "Aku harus mengambil beberapa ikan dan membersihkannya," ujarnya. Naruto pun segera melempar tombak buatannya ke dalam sungai, mengarahkan dengan tepat mata tombaknya pada ikan-ikan buruannya. Setelah merasa cukup, ia lalu membersihkan ikan-ikan tersebut dan kembali pulang ke lokasi perkemahan.

Kedatangannya disambut oleh suara gelak tawa Itachi, dan lainnya dari arah danau. Hanya Kurama dan Sasuke yang terlihat tidak antusias dengan kegiatan yang mereka lakukan saat ini. "Apa yang sedang kalian lakukan?" tanyanya masam. "Bukankah kalian berjanji akan membantuku memancing ikan?"

"Woah...?!" Itachi yang kaget langsung berteriak histeris saat melihat Naruto berdiri dengan ekspresi datar di tepi danau. Secara otomatis pemuda itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada untuk melindungi dadanya yang telanjang. "Apa kau tidak malu melihat pria bertelanjang dada?!" teriak Itachi.

Naruto hanya mendengus dan memutar kedua bola matanya. "Kau terlalu percaya diri, Tuan Muda!" dia menatap pemuda itu dengan ekspresi meremehkan. "Asal kau tahu, tubuhmu sama sekali tidak seksi!" tambahnya penuh penekanan sebelum berbalik pergi.

Itachi yang mendengar penghinaan itu langsung menunduk, mengamati bentuk tubuhnya. Dia berputar di dalam air, untuk mencari Kurama. "Apa tubuhku tidak seksi, Ku?" tanyanya terdengar frustasi.

"Kau hanya kurang berotot saja, Keriput!" jawab Kurama membuat Deidara dan kelima teman lainnya tertawa terbahak-bahak. Sementara Sasuke, dia memilih untuk berenang ke tepian, mengambil kausnya, memakainya dan segera menyusul Naruto.

"Kau mau kopi?" tawar Naruto pada Sasuke yang kini duduk di sampingnya. Sasuke mengangguk pelan. "Kalau begitu ganti pakaianmu dulu! Kau bisa masuk angin." Tanpa banyak bicara, Sasuke segera masuk ke dalam tendanya untuk berganti pakaian.

"Kau menangkap ikan seorang diri?" tanya Sasuke setelah berganti pakaian dan duduk di samping Naruto. Diliriknya sekilas ember berisi ikan yang sudah dibersihkan. Bukankah kemarin dia menawarkan diri untuk membantu gadis ini menangkap ikan? "Seharusnya kau membangunkanku agar aku bisa membantumu," tambahnya penuh penekanan. Sasuke tidak mengerti kenapa gadis di sampingnya ini lebih suka bekerja sendiri?

"Kau akan membantuku memancing ikan," sahut Naruto sambil menyodorkan segelas kopi panas pada Sasuke. "Kalian semua akan membantuku," ralatnya membuat Sasuke mengernyit. "Aku menangkap ikan-ikan itu hanya untuk berjaga-jaga."

"Maksudmu?"

"Aku tidak bisa berharap banyak dari hasil kalian memancing," jawab Naruto dengan ekspresi meminta maaf. "Kau tidak mau kita kelaparan, kan?"

"Hn," sahut Sasuke tidak jelas.

Dan benar saja apa yang diperkirakan oleh Naruto. Kelompok Akatsuki sangat payah dalam memancing. "Kenapa ikan-ikan itu hanya mau menyantap umpan yang dilempar Kitsune?" Kiba berteriak protes dan melempar alat pancingnya karena kesal. "Pasti ada hubungannya dengan tempat," tambahnya yakin. "Kitsune, kita tukar tempat saja!" Kiba membawa alat pancing sederhananya dan mengusir Naruto. Gadis itu hanya bisa menghela napas dan memutar kedua bola matanya.

"Aku rasa cacing yang kita gunakan sudah tidak segar," timpal Sasori yang juga mulai mengeluh. Sudah satu jam dia menunggu tanpa hasil. "Ikan-ikan itu hanya memakan cacing milik Kitsune. Hei, apa yang kau tambahkan pada umpanmu?"

"Apa lagi yang kutambahkan?" sahut Naruto tajam. "Umpan yang kugunakan sama dengan yang kalian gunakan. Aku memakai cacing yang sama seperti kalian."

"Tapi ikan-ikan itu tidak mau memakan umpan kami. Menyambar pun tidak." Keluh Hidan yang terlihat sangat frustasi. "Argh... aku menyerah!" teriaknya. "Bisa kita makan ikan hasil buruanmu saja?" tambahnya dengan wajah memelas. "Perutku sudah sangat lapar."

"Perutku juga," sahut Sasori, Kakuzu dan Neji kompak.

"Bagaimana jika aku yang memasak?" Itachi meletakkan alat pancingnya dan dengan baik hati menawarkan diri. Dia lebih memilih berkutat dengan asap daripada duduk termenung tanpa hasil.

"Tidak!" tolak Kurama dan Sasuke cepat. "Lebih baik Kitsune saja yang memasak dan kita tetap memancing hingga dia selesai memasak," ujar Kurama membuat Itachi menekuk wajahnya dan terlihat lesu.

"Memancing sangat membosanka-" Itachi menghentikan ucapannya, matanya berbinar saat alat pancingnya bergerak. "Aku mendapat ikan! Aku mendapat ikan!" serunya gembira. Ketujuh temannya kecuali Sasuke terlihat sama antusiasnya. Mereka berteriak memberi dukungan dan meminta Itachi untuk menarik senar pancingnya dengan hati-hati.

Tarian kemenangan dibawakam saat Itachi berhasil menangkap ikan buruannya. Mereka menari berputar, seperti tarian pemanggilan roh suku Indian sementara Itachi mengangkat ikan itu tinggi, memperlakukannya layaknya sebuah tropi yang berharga. Tepukan riuh kembali terdengar dari teman-temannya yang segera memberinya ucapan selamat secara berlebihan.

"Mereka gila!" ujar Naruto dengan ekspresi bosan pada Sasuke yang juga mengamati perilaku kakak dan teman-temannya dengan ekspresi datar. "Kenapa kau tidak bergabung dengan mereka?" tanya Naruto pada Sasuke dengan senyum geli.

Sasuke menatap Naruto lurus, namun segera membuang muka saat teringat kejadian tadi malam. Wajahnya kembali memerah dan merambat hingga telinganya. "Kenapa wajahmu merah? Apa kau sakit?" Naruto meletakkan telapak tangannya di dahi Sasuke namun telapak tangannya segera ditepis kasar oleh pemuda itu.

"Aku baik-baik saja," ujar Sasuke dengan nada senormal mungkin. Aku akan baik-baik saja jika kau tidak berada dekat denganku, tambahnya di dalam hati. Dia menarik napas panjang untuk menormalkan detak jantungnya yang berdebar semakin cepat. Dia kemudian kembali duduk di atas tanah, menarik tali senar pancingnya untuk mengganti umpan dan melemparnya jauh ke air danau yang tenang. Ia harus mendapatkan ikan atau dia akan menanggung malu karena kalah dari kakaknya di hadapan Naruto.

Kelompok Akatsuki akhirnya melupakan rasa lapar setelah satu per satu dari mereka berhasil mendapatkan ikan. Teriakan Naruto yang memanggil mereka untuk makan pun diabaikan. Pemuda-pemuda itu terus bersorak senang karena semakin siang semakin banyak pula ikan yang mereka dapatkan.

.

.

.

Tepat pukul sepuluh pagi mereka akhirnya selesai berkemas dan mulai berjalan untuk turun gunung. Tawa gembira terus terdengar selama perjalanan. Mereka memaksa Naruto untuk memuji keahlian mereka dalam memancing. "Ya. Aku akui kalian sangat berbakat dalam memancing," kata Naruto dengan senyum penuh kebanggaan. "Kalian tidak terlalu payah," tambahnya.

"Kami tidak payah!" kata Itachi ketus. "Bahkan Deidara saja bisa menangkap banyak ikan." Itachi memang tidak menyangka jika Deidara yang sangat terobsesi dengan kecantikan dan kebersihan mau berkotor-kotor memasang cacing pada kain sebagai umpan untuk memancing ikan hanya karena Naruto memintanya.

"Memangnya kenapa denganku?" sahut Deidara yang merasa tersinggung karena Itachi meremehkan kemampuannya. "Sekembalinya ke kota aku akan pergi ke salon untuk mengembalikan kecantikan kuku-kuku tanganku," ujarnya yang kini mengernyit menatap kuku-kuku jari tangannya yang kotor. "Aku pasti mengebom danau itu dan mengeringkan airnya jika ikan-ikan kurang ajar itu tidak memakan umpanku!" tambahnya dengan ekspresi berlebihan.

"Kapan kita akan pergi berkemah lagi?" tanya Sasuke tiba-tiba membuat Naruto dan yang lainnya terdiam. "Kenapa?" ujarnya heran karena merasa jika tidak ada yang salah dengan pertanyaannya.

"Aku tidak tahu jika kau suka berkemah," kata Neji. "Biasanya kau tidak mau diajak berkemah."

Itachi tersenyum melihat wajah adiknya. Sasuke banyak berubah dalam tiga hari terakhir ini. Adiknya yang sangat suka menyendiri akhirnya mau bersosialisasi dan semua itu diakuinya berkat pengaruh Kitsune, gadis aneh yang bahkan tidak diketahui nama dan asalnya.

Putra sulung keluarga Uchiha itu melirik ke arah Kurama yang berjalan di sampingnya. Sahabatnya itu tidak banyak bicara sejak tadi malam. Namun satu hal yang tidak luput dari pengamatan Itachi, kedua bola mata Kurama terlihat hangat namun juha sedih saat menatap ke arah Kitsune. Apa Kurama sudah mengingat gadis itu? Batin Itachi.

"Apa kau bersedia berkemah karena ada Kitsune bersama kita?" goda Neji lagi pada Sasuke yang kini memasang wajah masam. "Kenapa kau tidak menjawab?" tambah Neji dengan seringai mengejek.

"Ssttttt...!" Naruto yang berjalan paling depan berbalik dan menghentikan langkahnya secara tiba-tiba membuat Sasuke kembali mengurungkan niatnya untuk membalas ucapan Neji.

"Ada apa?" tanya Hidan penasaran karena Naruto memasang wajah waspada.

"Suara apa itu?" tanya Sasori yang terganggu dengan suara teriakan dari kejauhan.

"Suaranya semakin dekat." Kiba menimpali.

Naruto baru saja akan bicara saat terdengar teriakan keras. "Awaaaaas! Minggir! Ada babi hutan!" teriakan itu terdengar sangat keras disusul oleh suara berisik dari arah semak-semak. Beberapa detik kemudian seekor babi hutan berukuran besar berlari keluar dari semak-semak.

Naruto terbelalak kaget, sementara Itachi dan lainnya langsung memucat, berteriak keras dan mulai berlari panik karena seekor babi hutan berukuran besar berlari ke arah mereka dengan cepat.

Naruto dan Sasuke yang berlari di barisan paling depan terus berlari tanpa sadar jika anggota kelompoknya yang lain sudah berbelok dan memanjat naik ke atas pohon terdekat untuk menyelamatkan diri.

"Kitsune, Sasuke lari...!" teriak Itachi dari atas salah satu pohon. Pemuda itu terlihat semakin pucat, panik, takut dan khawatir secara bersamaan. Bagaimana jika sesuatu terjadi pada Sasuke dan Kitsune, pikirnya cemas.

Napas Naruto semakin memburu. Dia dan Sasuke berlari turun semakin cepat. Ia lalu menoleh lewat bahunya, mencoba berpikir tenang agar bisa keluar dari situasi ini. Babi hutan itu pun berlari semakin cepat. Naruto mendorong Sasuke ke samping, membuat pemuda itu terjatuh dan menatap Naruto ngeri karena babi hutan itu kini menjadikan Naruto sebagai sasaran.

Gadis itu berlari menuju salah satu pohon besar, alih-alih menabrakan diri, dia menginjakkan kakinya kuat-kuat pada batang pohon, melayang dengan gerakan memutar hingga akhirnya babi hutan itulah yang menabrak pohon lalu roboh tak berdaya.

Naruto berteriak senang dan mengangkat kedua tangannya tinggi, dia sangat gembira karena berhasil menumbangkan seekor babi hutan besar. "Kau baik-baik saja?" Sasuke meletakkan kedua tangannya di atas bahu Naruto dan membalikkan tubuh gadis itu. Diamatinya Naruto lekat-lekat dari ujung kaki hingga ujung kepala, takut jika gadis itu terluka.

"Kau terluka?" ujar Naruto saat melihat pelipis Sasuke berdarah. "Apa aku mendorongmu terlalu kuat?" tanyanya lagi. "Apa badanmu terasa sakit?"

"Aku baik-baik saja!" sahut Sasuke kesal karena Naruto tidak menjawab pertanyaannya. "Kau bisa membahayakan dirimu sendiri, Dobe! Bagaimana jika kau terluka?"

"Kalian baik-baik saja?" Kurama dan yang lainnya berlari mendekat, memotong pembicaraan keduanya.

"Sasuke, kau terluka?" Itachi menjadi panik melihat keadaan Sasuke.

"Aku yang menyebabkan Sasuke terluka," kata Naruto merasa bersalah. Ditatapnya wajah Sasuke lekat dan dengan ekspresi serius dia berkata. "Kau tenang saja, Sasuke. Jika luka di pelipismu berbekas dan tidak ada wanita yang bersedia menikahimu karenanya, maka aku akan bertanggungjawab untuk menikahimu."

"Woah... tidak perlu seserius itu!" ujar Deidara protes sementara Sasuke terdiam, terlalu kaget hingga lidahnya terasa kelu. "Itu hanya luka kecil pasti cepat sembuh," tambah Deidara dengan dengusan kasar. "Hidupmu akan membosankan jika memiliki suami sepertinya, Kitsune. Nii-chan, tidak akan memberimu restu untuk menikahinya."

"Tapi Sasuke terluka karena ulahku dan aku harus bertanggungjawab jika lukanya berbekas," sahut Naruto tetap teguh pada pendiriannya.

"Sasuke, Kitsune sedang melamarmu," goda Kiba membuat Sasuke berdeham dan memalingkan muka. Pemuda itu terlihat gugup dan malu secara bersamaan. Kiba dan Neji saling bertukar pandang karenanya. Mungkinkah? Pikir keduanya kompak.

"Ini hanya luka kecil," kata Sasuke berusaha tetap bersikap biasa, walau dalam hatinya dia berharap jika luka di pelipisnya itu berbekas dan Naruto tetap memegang teguh janjinya. "Pasti sembuh. Kau tidak perlu bersikap berlebihan!" tambahnya cepat, berbanding terbalik dengan keinginan di dalam hatinya. "Dan siapa yang mau menikahi wanita barbar sepertimu?" katanya ketus membuat Naruto mendelik dan mendesis ke arahnya.

Deidara langsung berdiri di tengah mereka dan merangkul Naruto dengan sikap melindungi. "Tenang saja, Kitsune. Setelah kau dewasa, pasti banyak pria tampan dan baik yang akan mengantri untuk menikahimu," katanya membesarkan hati Naruto. Gadis itu tersenyum lebar dan menatap Deidara hangat.

"Benarkah?" tanya Naruto berbunga-bunga.

"Tentu saja," sahut Deidara yakin. "Jadi sebaiknya lupakan janji konyolmu itu. Kau terlalu bagus untuk Sasuke."

"Hanya pengecut yang menarik kembali ucapannya," timpal Sasuke ketus dengan nada dan ekspresi datar. "Sebaiknya kau pegang janjimu, Kitsune!" tambahnya mutlak.

Hening.

"Kau tidak bisa menikahi Kitsune," ujar Kurama memutus keheningan di antara mereka. Kelompok Akatsuki yang lain terlalu syok untuk menanggapi ucapan Sasuke.

Sasuke menyeringai dan melipat kedua tangannya di depan dada. "Apa hakmu untuk melarangnya? Kau pikir kau itu siapa?" tanyanya dengan sikap menatang membuat suasana kembali tegang. "Asal kau tahu, Kitsune bukan hanya membuatku terluka, dia juga sudah mencuri ciuman pertamaku, dia juga menginvasi kamarku."

Kurama dan yang lainnya terbelalak dan menoleh ke arah Naruto dengan ekspresi tak percaya. "Kau tidur di kamarnya dan mencium anak ayam ini?" pekik Kurama dengan suara serak.

"Hanya tanda terima kasih," jawab Naruto ringan. "Lagipula aku terpaksa menggunakan kamarnya untuk istirahat dan bersembunyi. Hanya jendela kamarnya yang terbuka saat itu."

"Itu hanya tanda terima kasih," beo Kurama pada Sasuke. "Dan keadaan yang memaksanya menggunakan kamarmu."

"Ciuman tetaplah ciuman," kata Sasuke dingin. "Apapun alasannya, dia sudah merebut hal yang penting bagiku."

"Apa kalian terluka?" teriak seorang pria memutus percakapan itu. Pria itu menenteng sebuah senapan di tangan, setengah berlari dia mendekat ke arah mereka disusul oleh empat pria lain di belakangnya. Kedua bola mata pria itu terbelalak saat melihat babi hutan buruannya tak berkutik lagi. "Kalian berhasil melumpuhkannya?" ujarnya tak percaya. "Kalian sangat hebat!" pujinya tulus.

"Babi hutan ini sangat mengganggu. Seringkali merusak perkebunan warga di kaki bukit dan kami di sini untuk memburunya," sahut pria bertopi.

"Sebaiknya kami membawa kalian ke desa untuk mengobati luka teman kalian itu," kata pria pertama seraya menunjuk ke arah Sasuke.

"Percakapan kita belum selesai, Uchiha!" bisik Kurama dengan nada mengancam. "Kita akan menyelesaikannya di sekolah," tambahnya cepat sementara Sasuke hanya mengangkat kedua bahunya ringan untuk menanggapinya.

Dan mereka semua pun kembali meneruskan perjalanan mereka, turun menuju kaki gunung dengan seekor babi hutan sebagai hasil buruan.

.

.

.

"Kalian sudah kembali?" Jiraiya yang tidak sengaja melihat bis yang membawa rombongan Naruto sengaja berdiri di tempatnya lebih lama untuk menyambut kedatangan cucu angkatnya itu.

Naruto berlari untuk memeluknya. Senyumnya mengembang saat dia berkata, "aku pulang!" ujarnya tanpa bisa menyembunyikan kegembiraannya karena bertemu lagi dengan Jiraiya. "Lihat, Kek. Kami mendapat penghargaan dari Kepala Desa Otto karena berhasil menangkap babi hutan," lapornya antusias. Ia memberikan sebuah piagam penghargaan pada Jiraiya yang diterimanya dari kepala desa beberapa jam yang lalu.

"Benarkah?" Jiraiya menerima piagam penghargaan itu, membacanya lalu melirik ke arah Itachi, Kurama dan Sasuke. Dia menatap wajah ketiganya bergantian, lalu pada keenam muridnya yang lain yang kini tengah sibuk menurunkan barang-barang mereka dari bagasi bis, sebelum akhirnya ia menatap lurus wajah Naruto. "Bagaimana kalian melakukannya?" tanyanya. Wajah pria tua itu berkerut, terlihat cemas. Dia memutar tubuh Naruto, takut jika gadis remaja itu terluka.

Naruto terkikik dan mengalungkan tangannya pada tangan Jiraiya. "Cucumu ini sangat hebat, Kek. Aku bahkan bisa mengalahkan seekor babi hutan tanpa terluka sedikit pun." Ujarnya bangga membuat Sasuke mendesis saat ingat jika gadis itu bertindak tanpa memperdulikan keselamatannya sendiri. "Tapi aku membuat Sasuke terluka," dia menatap Sasuke dengan wajah bersalah.

"Hanya luka kecil," ralat Sasuke datar.

"Luka tetap saja luka," kata Naruto dengan helaan napas panjang. "Aku-"

"Apa dia cucu Anda, Tuan Jiraiya?" sebuah suara halus dan berwibawa memotong ucapan Naruto.

Jiraiya dan Naruto melirik ke arah sumber suara. Di belakang mereka- Mito berjalan dengan dagu terangkat, terlihat berwibawa dan angkuh secara bersamaan. Di sampingnya terlihat Karin yang berjalan dengan kepala menunduk.

Kesembilan pemuda di belakang Naruto membungkuk, memberi hormat pada wanita tua itu. "Apa kabar, Nyonya Uzumaki?" tanya Jiraiya dengan senyum ramah. Dia melirik ke arah Naruto sebelum kembali menatap lurus ke arah Mito dengan sinar mata penuh kebanggaan. "Benar. Namanya Kitsune, dia cucuku." Jawabnya tanpa keraguan.

Naruto berdiri tegak, membungkuk empat puluh lima derajat dan memberi salam. "Senang bertemu dengan Anda, Nyonya?" ujarnya dengan sikap sangat sopan. Baik Sasuke, Kurama, Itachi dan kelompok Akatsuki lainnya hanya bisa menatap gadis itu tak percaya, ternyata Kitsune sangat pintar menempatkan diri, pikir mereka kompak.

Mito mengangguk pelan, mengamati Naruto yang kini tersenyum cerah ke arah Jiraiya. "Apa cucumu sekolah di sini juga?"

"Sayangnya tidak," jawab Jiraiya sambil menepuk-nepuk pelan punggung tangan Naruto yang digenggamnya. "Dia hanya datang untuk liburan," tambahnya. Mito kembali mengangguk pelan sementara kesembilan pemuda di belakang Naruto terlihat mengernyit, tidak mengerti kenapa Jiraiya berbohong sejauh ini demi seorang penyusup?

Mito mengalihkan tatapannya pada Naruto dan bertanya dengan nada yang cukup ramah, hal itu jelas mengagetkan Kurama sebagai cucunya. Apa neneknya melakukan hal itu hanya karena status Naruto sebagai cucu kepala sekolah? Kurama tersenyum sinis, begitu tipis. Pemuda itu ingin tahu bagaimana reaksi Mito saat tahu jika Naruto merupakan cucu kandungnya.

"Kau sekolah dimana?" pertanyaan Mito pada Naruto membuyarkan lamunan Kurama. Benar, pemuda itu juga ingin tahu dimana adiknya sekolah sekarang. Bukan hanya Mito yang penasaran akan jawaban Naruto. Itachi, Sasuke dan yang lainnya pun sama penasarannya. Terlalu sedikit hal yang mereka ketahui tentang gadis berambut pirang ini.

"Saya sudah lulus SMA, Nyonya," jawab Naruto membuat orang-orang di sekitarnya kaget.

"Kau tidak terlihat lebih tua dari cucuku," ujar Mito sambil melirik ke arah Kurama yang juga berekspresi bingung. Bingung karena ternyata adiknya telah lulus SMA. "Berapa usiamu?"

"Saya memang baru berusia tujuh belas tahun," jawab Naruto. "Tapi saya sudah lulus SMA saat berusia lima belas tahun," jelas Naruto lagi.

"Kau pasti sangat bangga memiliki cucu sepertinya, Tuan Jiraiya," kata Mito lagi tanpa bisa mengalihkan tatapannya dari Naruto. Dia berusaha agar air mukanya tetap tenang, walau tidak bisa dipungkiri dia merasa iri terhadap Jiraiya. "Tidak seperti cucuku yang satu ini," tambahnya seraya melirik ke arah Karin yang menunduk semakin dalam. "Yang bisa dilakukannya hanya membuat keributan dan membuatku harus datang ke sekolah."

"Setiap anak memiliki kelebihannya masing-masing," sahut Jiraiya rendah hati. "Kalau begitu saya permisi, Nyonya Uzumaki. Saya ada janji bermain catur bersama Kitsune," tambahnya dengan mimik wajah senang. Dia mengangguk kecil lalu membawa Naruto pergi bersamanya.

Untuk sesaat Mito menatap punggung Naruto yang berjalan semakin jauh. Jiraiya sangat beruntung memiliki cucu pintar seperti Kitsune, pikirnya. "Kurama?!" panggilnya tajam membuat Kurama maju satu langkah dan membungkuk kecil. "Awasi sepupumu ini!" perintahnya tegas. "Aku tidak mau mendapat panggilan dari sekolah lagi hanya karena ulah Karin!"

"Saya mengerti," jawab Kurama dengan suara berat. Mito pun berjalan pergi dengan sikap angkuh menuju mobil ptibadinya, meninggalkan Kurama dan anggota geng Akatsuki di belakangnya.

"Berhenti berbuat masalah!" desis Kurama pada Karin yang kini berdiri semakin gugup setelah kepergian Mito. Di dalam Klan Uzumaki, Kurama memiliki posisi penting sebagai calon kepala klan, karena itulah mau tidak mau, Karin harus patuh dan tunduk terhadap perintahnya. "Kendalikan dirimu dan aku tidak mau mendengar kau terlibat masalah lagi dengan si Haruno itu!" tambahnya mutlak, tak terbantahkan.

"Teguranmu terlalu keras, Kurama!" tegur Itachi pada Kurama. Kesembilan pemuda itu kini berjalan menuju ruang OSIS meninggalkan Karin yang tetap berdiri di tempatnya untuk beberapa waktu. "Kau bisa menegurnya dengan lebih lembut. Dia adikmu-"

"Sepupu!" ralat Kurama cepat, memotong ucapan Itachi. "Perilakunya membuatku repot," jawab Kurama ketus. "Hanya karena ibuku memanjakannya bukan berarti aku akan bersikap sama," tambahnya. "Dan tolong, jangan membahasnya lagi!"

.

.

.

"Aku sudah berlatih dengan keras," ujar Jiraiya. "Aku sangat yakin bisa mengalahkanmu kali ini," tambahnya penuh percaya diri. Naruto hanya tersenyum kecil menanggapinya. Jiraiya melepas napas lelah, tatapannya terlihat menerawang. "Jika kau pulang, siapa yang akan menemaniku bermain catur?"

"Kau bisa meminta Itachi, Kurama atau Sasuke untuk menemanimu bermain catur," jawab Naruto. "Mereka pasti bisa main catur, kan? Kau juga bisa meminta anggota OSIS lainnya untuk menemanimu."

"Mereka sangat sibuk," keluh Jiraiya membuat Naruto tersenyum kecil. "Asuma pun sangat sibuk belakangan ini, tidak ada yang bisa menemaniku main catur lagi jika kau pergi. Apa kau tidak bisa tetap tinggal?"

Naruto menggeleng pelan, meminta maaf.

"Kau akan mengunjungiku jika ada waktu, kan?" tanya Jiraiya lagi, penuh harap namun Naruto kembali tersenyum kecil menjawabnya. "Apa sangat sulit untuk kembali jika kau sudah pulang ke tempatmu?"

Naruto mengangkat bahunya ringan. Benar, akan sangat sulit. Dia sendiri tidak tahu kapan dia bisa kembali ke Jepang atau mungkin dia tidak akan pernah kembali. "Maaf..."

Jiraiya tersenyum maklum. "Setidaknya kirimlah surat walau tanpa mencantumkan alamatmu. Setidaknya aku akan tahu bagaimana kabarmu, itu sudah cukup bagiku." Naruto mengangguk pelan. "Baiklah, lupakan masa yang akan datang dan kita nikmati saja masa sekarang. Ayo, mainkan pion-pionmu!" ujar Jiraiya dan permainan catur mereka pun dimulai.

Setelah menang empat babak dari Jiraiya, Naruto pun pamit untuk ganti baju dan istirahat. Jiraiya mengerang, kesal karena latihannya selama satu hari sama sekali tidak membantunya untuk mengalahkan Naruto. "Pergilah, jadi aku memiliki waktu lebih untuk kembali berlatih," ujarnya dengan mata terfokus pada papan catur.

Naruto tersenyum dan menutup pintu ruangan itu tanpa suara. Di lorong sekolah dia bertemu dengan Kurenai. Gadis itu membungkuk untuk memberi hormat. "Apa kau melihat kepala sekolah?" tanya Kurenai.

"Beliau ada di ruangannya," jawab Naruto dengan senyum manis. Dia pun kembali membungkuk sebelum berjalan pergi.

"Bukankah dia gadis yang sedang dirumorkan sebagai murid baru itu?" tanya Asuma dengan kernyitan dalam.

Hening.

Asuma dan Kurenai kembali berjalan berdampingan menuju ruang kepala sekolah. "Dia cucu dari kepala sekolah," jawab Kurenai kemudian.

"Darimana kau tahu?"

"Aku melihat gadis itu di dalam ruangan kepala sekolah kemarin siang. Mereka bermain catur dan saat aku menanyakan mengenai identitas gadis itu, kepala sekolah mengatakan jika dia cucunya, putri dari kerabat jauhnya."

Sebelah alis Asuma terangkat mendengarnya. "Pantas saja dari kemarin kepala sekolah tidak memintaku untuk bermain catur setelah jam pulang sekolah. Lalu dimana gadis itu tinggal?"

"Di rumah dinas kepala sekolah," sahut Kurenai. "Dimana lagi?" tambahnya dengan delikan tajam ke arah Asuma yang hanya tersenyum dipaksakan. "Karena itulah Kitsune sering berkeliaran di sekolah kita. Dia di sini selama liburan, tidak akan lama."

"Pasti akan sangat membosankan jika terus berada di ruangan kepala sekolah," kata Asuma lagi dengan ekspresi prihatin.

"Kepala sekolah mengijinkan dia untuk berjalan-jalan di lingkungan sekolah asalkan Kitsune tidak mengganggu aktivitas murid di sini."

"Begitu rupanya." Asuma mengangguk paham dan obrolan mereka pun berhenti saat keduanya tiba di depan pintu ruang kerja Jiraiya.

.

.

.

Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, sebentar lagi para murid pasti segera kembali ke asrama, karena itulah Naruto mempercepat langkahnya menuju kamar Sasuke. Dia merogoh saku celana overall selututnya untuk mengambil kunci kamar yang diberikan Sasuke saat di bis.

Naruto menutup pelan pintu di belakangnya. Ekspresinya berubah waspada saat dia melangkah masuk. Ada seseorang di kamar ini. Ia meletakkan tas punggungnya di atas lantai dengan perlahan, berusaha untuk tidak membuat suara.

Dia membuka pintu kamar mandi lalu menjulurkan kepala, kosong. Naruto terkesiap kaget saat ada sebuah tangan menyentuh bahu kanannya. Dengan gerakan cepat dia menangkap tangan itu untuk melumpuhkan si pelaku.

Naruto tidak menyangka jika si pelaku bisa dengan mudah mengunci gerakan kakinya. Ia mendesis, dan melayangkan sikutnya ke arah belakang, mengincar ulu hati penyerangnya namun gerakannya bisa dipatahkan dengan mudah.

Penyerangnya menangkap kedua tangan Naruto, menguncinya di belakang dan mendorong tubuhnya ke tembok. "Apa kabar, Naruto?"

Gadis itu terbelalak saat mengenali pemilik suara itu. "Kimimaro?!"

Kimimaro melepas kunciannya dan menatap Naruto yang kini berdiri menghadapnya. "Ka-kau... kenapa kau bisa ada di sini?" tanyanya terbata. "Pasti Shikamaru yang mengatakannya, kan!" Naruto mulai panik saat senior yang sudah dianggapnya sebagai kakak itu kini melihatnya tajam, meminta penjelasan.

"Itu tidak penting!" ujar Kimimaro dingin. "Aku datang untuk menjemputmu. Waktumu sudah habis!" tambahnya mutlak.

Naruto bergeming. Kepalanya menunduk dalam, dia menekuri lantai di bawahnya dengan tatapan kosong. "Tolong berikan aku waktu lebih lama," ujarnya setengah berbisik. Dia mendongakkan kepala dan menatap Kimimaro dengan nanar. "Kakakku belum mengenaliku dan aku masih belum memberikan barang yang menjadi haknya."

Kimimaro menghela napas panjang mendengarnya. Dia meletakkan tangannya di bahu gadis itu, ditatapnya Naruto lurus. "Bukankah Shikamaru sudah memberimu waktu selama tiga hari? Kenapa kau tidak menggunakannya dengan baik?" tanyanya dengan nada lembut. "Pelatih memberitahuku jika kau menginap di rumah Shikamaru. Awalnya aku berniat memberi kejutan. Tapi siapa sangka jika akulah yang diberi kejutan oleh kalian berdua," dengusnya kasar. "Aku menghubungimu sejak kemarin tapi kau tidak mengangkat teleponku." Kimimaro kembali melepas napas panjang. "Aku sangat cemas karena itu aku memaksa Shikamaru untuk melacak keberadaanmu."

"Telepon genggamku tertinggal di sini," jelas Naruto parau. "Kemarin aku pergi berkemah dengan Kurama dan yang lainnya."

"Kemasi barangmu, kita pergi saat ini juga," perintah Kimimaro tegas. "Kau tidak bisa tinggal di sini lebih lama, Naruto. Kau harus ingat tugas dan kewajibanmu!"

Naruto terdiam mendengarnya.

"Aku memberimu waktu tiga puluh menit untuk berpamitan. Pergi dan berikan benda yang ingin kau berikan pada kakakmu itu. Dan tidak, aku tidak seperti Shikamaru yang bisa luluh karena tatapan memelasmu itu. Kau bisa menghancurkan masa depanmu jika terus bertindak semaumu."

"Satu jam," mohon Naruto. "Berikan aku waktu selama satu jam."

"Baiklah," Kimimaro mengangguk dan mengacak pelan puncak kepala Naruto. "Ingat, aku melakukan ini sebagai seorang senior. Aku berkewajiban mengingatkanmu, karena semua ini demi kebaikanmu sendiri."

"Aku mengerti," jawab Naruto parau.

.

.

.

Naruto berlari menuju ruang OSIS. Dia yakin jika kakaknya masih berada di sana saat ini karena Sasuke pun belum kembali ke asrama. Dia sudah tidak memiliki waktu lagi. Naruto harus memaksa Kurama untuk mengingatnya saat ini juga. Setidaknya mereka akan punya sedikit waktu untuk dihabiskan bersama.

Saat Naruto datang hanya ada Kurama, Itachi, Sasuke dan Deidara di dalam ruangan itu. Dengan napas putus-putus dia berjalan menghampiri Kurama yang kini duduk bertopang kaki di atas sofa. "Kurama?!" panggil Naruto.

"Ada apa denganmu?" Kurama bertanya dengan sebelah alis diangkat. "Apa kau dikejar-kejar babi hutan lagi?" Kurama tersenyum mencemooh saat mengatakannya.

"Ku... tolong, bisakah kau lebih berusaha lagi untuk mengingat siapa aku?" kata Naruto mengabaikan cemoohan kakaknya. "Tolong..." pinta Naruto lirih.

"Kenapa kau selalu memaksaku untuk mengingatmu?" teriak Kurama tepat di depan wajah Naruto. "Apa kau pikir dirimu begitu penting hingga aku harus mengingatmu?" tambahnya dengan ekspresi dingin dan tatapan yang menusuk.

Kedua tangan Naruto terkepal di sisi kanan dan kiri tubuhnya. Giginya gemertuk menahan marah. Dia menatap balik ke arah Kurama dengan sikap menantang.

"Kenapa kau diam?" cibir Kurama dengan melipat tangan di depan dada.

"Cukup, Kurama!" bentak Itachi. "Kali ini kau sudah sangat keterlaluan!" ujarnya.

"Kenapa aku harus diam?" desis Kurama dengan seringai mengejek. Tak sedetik pun tatapannya teralih. "Gadis tidak tahu diri ini tiba-tiba saja datang dan dengan seenaknya memaksaku untuk mengingatnya. Dia pikir dia siapa?" teriaknya. Sasuke yang sudah tidak sanggup menahan amarahnya bergerak maju untuk melayangkan tinju, namun dia satu langkah lebih lambat daripada Naruto. Gadis remaja itu sudah terlebih dahulu maju untuk melayangkan sebuah pukulan keras ke arah rahang Kurama hingga pemuda itu tersungkur di atas lantai.

"Bukan ini yang kuharapkan setelah dua belas tahun tidak bertemu denganmu," ujar Naruto dengan tatapan dingin. "Mungkin seharusnya aku tidak menemuimu," tambahnya lirih dengan senyum pahit. Naruto mengambil sesuatu dari saku celana overall denimnya. Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam dan memberikannya pada Kurama. "Sebenarnya aku datang hanya untuk mengantarkan benda itu padamu," ujarnya namun Kurama dengan ekspresi tidak peduli malah melempar kotak kecil itu ke sembarang arah.

Naruto menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. "Terserah padamu jika kau mau membuangnya," katanya tenang. "Aku sudah memiliki semua kenangan pemiliknya bersamaku, dan benda itu sekarang menjadi milikmu. Kau bebas melakukan apapun!" Naruto menghela napas pendek dan menatap lurus Kurama dengan tatapan kecewa sebelum akhirnya dia berbalik pergi dengan perasaan hancur.

"Kenapa kau tidak memakai otakmu?" bentak Sasuke pada Kurama yang masih terduduk di lantai. "Kau menyakitinya!" desisnya tajam.

"Kurama juga tidak kalah sakit, Sasuke," sahut Deidara. Pemuda itu berjalan pelan ke arah Kurama, mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri.

"Dia pantas mendapatkan pukulan itu!" desis Sasuke tanpa bisa menyembunyikan amarahnya. Dia belum mengerti maksud dari ucapan Deidara yang sebenarnya.

Deidara menghela napas, "pukulan Kitsune pasti terasa sakit. Tapi hatimu jauh lebih sakit, iya 'kan, Kurama?"

Kurama terkekeh namun bibir dan tangannya gemetar. Sasuke dan Itachi hanya bisa menatapnya tak percaya saat melihat Kurama meneteskan air mata. Apa maksud ucapan Deidara. "Aku tidak mau dia pergi," ujarnya lirih. "Tapi aku juga ingin memeluk dan mengatakan jika aku sangat merindukannya. Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya bingung. "Adikku akan pergi jika aku mengatakan kebenarannya."

Sasuke dan Itachi terdiam. Akhirnya mereka tahu kebenarannya. Kurama berpura-pura tidak mengenal Naruto karena takut gadis itu pergi. Pasti sulit bagi Kurama untuk menahan diri beberapa hari ini. Adik yang selama ini dirindukannya ada di depan mata namun tidak bisa dijangkaunya. Itachi bahkan tidak tahu darimana Kurama memiliki kekuatan untuk tetap bertahan.

Tidak. Kurama sudah tidak peduli lagi. Dia harus mengatakannya pada Naruto. Dia mengambil kotak yang tadi dilemparnya tanpa membukanya terlebih dahulu. Kurama hanya menggenggam erat kotak tersebut. Pikirannya sangat kacau saat ini. Dia pasti bisa membujuk Naruto untuk tinggal lebih lama lagi. Iya, kan? Kurama pun akhirnya memutuskan untuk mengejar Naruto. Dia berlari sekuat tenaga untuk mencari keberadaan adiknya.

"Sejak kapan kau tahu tentang ini?" tanya Sasuke pada Deidara setelah Kurama pergi.

"Sebenarnya aku sudah curiga sejak kita makan malam di asrama dua hari yang lalu," jawab Deidara tenang. "Kurama terlihat tidak fokus dan dia kelihatan terganggu saat kalian memintanya untuk segera mengingat siapa Kitsune agar Kitsune bisa segera pergi."

"Benarkah?" tanya Itachi dengan ekspresi bersalah. Dia memijit tengkuknya dan mendengus pelan. "Kenapa Kurama merahasiakan hal ini dari kita?"

"Karena kalian tidak menyukai adiknya," jawab Deidara pedas. "Memang seperti itu kenyataannya, kan!" ujarnya lagi penuh penekanan saat Itachi dan Sasuke menatapnya sinis, tidak terima.

"Tapi sekarang Kitsune sudah menjadi bagian dari kelompok kita. Aku tidak mau dia pergi," kata Itachi sungguh-sungguh. "Aku yakin jika yang lainnya pun berpendapat sama."

"Kita harus ikut mencarinya!" seru Sasuke yang langsng melesat keluar ruangan untuk mencari Naruto.

.

.

.

Di luar gedung sekolah, Naruto memeluk erat Jiraiya yang terlihat enggan untuk melepasnya pergi. Setelah Naruto berjanji untuk memberinya kabar barulah pria tua itu melepaskannya dengan berat hati. Naruto tersenyum kecil dan melambaikan tangan pada Jiraiya. Di dalam mobil SUV warna putih, Kimimaro dan Shikamaru sudah menunggunya.

Naruto masuk ke dalam mobil dengan ekspresi sedih. Dia sama sekali tidak menyangka jika akhirnya harus seperti ini. Perpisahannya dengan Kurama sama sekali tidak berjalan menyenangkan. Naruto tahu, semua itu adalah kesalahannya. Andai dia mengatakan kebenaran sejak awal mungkin hal ini tidak akan terjadi. Tapi apa yang harus disesalinya? Semuanya sudah terjadi.

Kurama yang sudah kehabisan napas akhirnya berhenti berlari untuk mengatur kembali napasnya. Kaus yang dikenakannya sudah basah oleh keringat, kakinya bergetar karena lelah. Dia sangat panik saat Sasuke memberitahunya jika tas serta barang-barang pribadi milik adiknya sudah tidak ada di dalam kamar.

"Dimana dia?" Kurama semakin panik dibuatnya. Hampir satu jam dia mencari namun tidak ada hasil. Sasuke, Itachi dan Deidara yang juga ikut mencari pun tidak berhasil menemukannya. "Kau ada dimana, Naruto?" tanyanya lirih.

Kurama mendongak menatap langit. Semburat jingga mulai menghiasi langit. "Apa mungkin di ruangan kepala sekolah?" Kurama langsung berbalik dan melesat pergi menuju ruangan kepala sekolah.

Sesampainya di sana dia mengetuk pintu ganda itu dengan tidak sabar. "Masuk!" seru Jiraiya dari dalam ruangan. Kurama membuka pintu, dan menutupnya pelan setelah dia masuk ke dalam.

Kurama mengedarkan tatapannya ke seluruh penjuru. Dia harus kembali kecewa karena Naruto tidak ada di dalam ruangan itu. "Apa yang membuatmu kesini?" tanya Jiraiya dari balik meja kerjanya."

"Kepala sekolah, apa Anda melihat Kitsune?" tanya Kurama tanpa basa-basi.

Jiraiya terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya dia menjawab dengan siara berat. "Dia sudah pergi."

"Apa maksud Anda?" Kurama berjalan semakin mendekat, suaranya terdengar aneh bahkan untuk pendengarannya sendiri. "Dia pergi kemana?" tanyanya lagi beruntun.

"Aku juga tidak tahu," jawab Jiraiya yang kini berdiri memunggungi Kurama. Tatapannya terlihat menerawang jauh, menatap taman belakang sekolah dari jendela besar ruang kerjanya. "Banyak hal yang tidak aku ketahui mengenai adikmu, Kurama. Bukankah seharusnya aku menanyakan mengenai dirinya padamu?" ia balik bertanya pada Kurama yang kini berekspresi kaget.

"Jadi Anda tahu jika dia adikku?"

Jiraiya mengangguk pelan. "Adikmu mengatakannya padaku saat berpamitan."

Pamit? Apa maksud Jiraiya dengan pamit? Naruto pergi? Kenapa? Bukankah dia masih berpura-pura tidak mengenalnya? Pikiran Kurama sangat kacau saat ini. Tanpa mengatakan apapun Kurama keluar dari ruangan itu. Dia kembali berlari cepat keluar dari gedung. Tidak ada. Sosok adiknya itu sudah tidak ada.

"Apa kau menemukannya?" Itachi terengah-engah. Ia menepuk bahu Kurama pelan namun sahabatnya itu sama sekali tidak menjawab pertanyaannya. Itachi melirik ke arah Sasuke yang hanya bisa menatapnya tanpa ekspresi.

Apalagi yang bisa Sasuke katakan? Gadis yang baru diketahui namanya itu membuatnya kalang kabut. Berani sekali Naruto pergi tanpa pamit kepada mereka. Sial! Makinya di dalam hati. Dia pasti membuat perhitungan jika bertemu dengan Naruto.

"Dia sudah pergi," kata Kurama setengah berbisik. "Pada akhirnya dia tetap pergi." Kurama tersenyum pahit, tangannya merogoh saku celananya untuk mengeluarkan kotak kecil pemberian Naruto padanya.

Napasnya tercekat, matanya berkaca-kaca saat dia melihat isi kotak tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah dog tag atau liontin tanda pengenal tentara. Kotak itu terjatuh saat Kurama mengeluarkan benda di dalamnya. Ditatapnya liontin kalung itu lama. Liontin berbentuk pipih itu bertuliskan nama lengkap ayah mereka, nomor registrasi serta kesatuan tempatnya berasal.

Kurama terduduk, dan menangis dalam diam. Itachi dan Sasuke yang berdiri di samping kiri dan kanannya ikut berlutut untuk memberikan penghiburan dan kekuatan. Mereka akhirnya mengerti apa maksud dari ucapan Naruto tadi. "Aku sudah memiliki semua kenangan pemiliknya bersamaku, dan benda itu sekarang menjadi milikmu."

.

.

.

TBC

Note :

(1) Kaze no Mahou by Oto Fumi (OST Anime Popolocrois (Ending)) - Salah satu anime lawas fav author. Coba deh dengerin lagunya. Mantep abis! ^-^

Btw, chap ke 5-nya mungkin akan lebih lama karena saya akan menyelesaikan chap 9 fic I'm Sorry I Love You dulu yang sudah tertunda lama. Terus dichap kemaren si Sasorinya memang nggak kesebut di pembagian tenda. Sudah saya perbaiki. Terima kasih untuk koreksinya yah...

Oh, iyah. Mohon maaf lahir dan batin... Saya maafkan juga kalian semua yang suka neror buat update cepet. Bwuahahahahaha... :D

Sampai jumpa dichap pamungkas yah... (;

#WeDoCareAboutSFN