Selamat membaca!
Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it
Pairing : SasuFemNaru
Rated : T
Genre : Family, friendship, drama
Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)
Dandelions Promise
Chapter 5 : Hold My Hand!
By : Fuyutsuki Hikari
Kushina tengah sibuk menyelesaikan pekerjaannya yang masih menumpuk saat Kurama memaksa masuk ke dalam ruang kerjanya yang terletak di lantai sepuluh Gedung Perusahaan Uzumaki, sore ini. "Apa yang membuatmu datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu?" tanyanya tanpa menoleh dari berkas yang masih dibaca dan diperiksanya dengan seksama.
Tanpa banyak bicara, Kurama melangkah semakin mendekat ke arah meja kerja ibunya, dan setelah jarak keduanya hanya dipisahkan oleh sebuah meja, Kurama meletakkan benda yang diberikan oleh adiknya tepat di atas berkas yang tengah diperiksa oleh ibunya.
Kushina mendongak, menatap putranya dengan sebelah alis terangkat. "Kau datang hanya untuk memperlihatkan benda ini?" tanyanya tanpa menatap benda yang tergeletak tepat di bawah hidungnya. Kushina menghela napas panjang saat putra sulungnya tidak juga menjawab pertanyaannya, alih-alih bicara, Kurama hanya menatap lurus wajah Kushina dengan tatapan tajam.
Wanita itu menggeleng pelan, sedikit aneh melihat kelakuan tidak biasa dari putranya. Setengah enggan dia akhirnya mengambil dog tag dan menatapnya dengan malas, namun ekspresi wajahnya seketika berubah saat dia membaca nama pemilik dari dog tag tersebut. Kushina terbelalak ngeri, lalu menatap wajah putranya lurus- meminta penjelasan. "Darimana kau mendapatkannya?" tanyanya dengan suara sedikit bergetar, menahan sejuta perasaan yang berkecamuk; takut, marah, was-was, sedih, dan lainnya yang tidak bisa diungkapkannya.
"Naruto yang mengantarkannya padaku," jawab Kurama datar, namun ekspresinya masih tetap sama; tajam, menusuk.
"Na-Naruto?!" Kushina mengerjapkan mata, napasnya putus-putus, dadanya mendadak sesak mendengar berita yang disampaikan oleh putra sulungnya ini. Hatinya bertambah sakit, rasa rindunya yang ditekan begitu lama membuncah saat nama putrinya keluar dari mulut Kurama. "Leluconmu sangat tidak lucu, Kurama!" ujar Kushina setelah berhasil menenangkan diri. "Jika kau melakukan ini hanya agar aku mengijinkanmu untuk mencari ayahmu, maka sebaiknya kau mengurungkan niatmu! Bukankah aku sudah katakan jika kau bisa menemuinya setelah lulus SMA!"
Kurama masih tidak menjawab.
"Bicara, Kurama!" bentak Kushina yang kesabarannya sudah hilang melihat sikap tidak sopan putra sulungnya. Wanita itu kemudian berdiri dan menggebrak meja keras karena Kurama tak juga angkat bicara. "Tidak!" ujarnya lemah sambil menggelengkan kepala. "Tidak mungkin!" ujarnya lagi, dengan keras kepala dia tidak mau menerima berita yang disampaikan oleh putranya. Kedua kaki Kushina tiba-tiba saja kehilangan tenaga. Wanita itu mendudukkan diri dengan keras di atas kursi kerjanya, hatinya mencelos. Rasanya begitu sakit, teramat sakit saat menyadari jika Kurama sangat serius saat ini. "Pasti ada kesalahan! Pasti ada kesalahan!" racaunya panik. "Adikmu pasti sedang bergurau untuk mengerjaimu!" racaunya lagi, untuk menghibur diri. "Seharusnya kita diberi kabar mengenai kematian ayahmu. Seharusnya seperti itu! Bagaimana bisa adikmu tiba-tiba datang dan mengatakannya? Ini tidak benar! Ini tidak benar!" Kushina lalu terdiam lama setelahnya, termenung, larut dalam kesedihannya.
"Tolong cari keberadaan adikku!" mohon Kurama, memutus keheningan yang menyiksa di dalam ruangan itu.
Kushina menatap kosong wajah putranya, perlu beberapa waktu baginya untuk mencerna maksud dari permohonan putranya. "A-apa maksudmu?" tanyanya masih dengan suara bergetar. "Bukankah Naruto yang mengantarkannya padamu? Kenapa aku harus mencarinya?" Kushina mengernyit heran, tidak paham. Dengan gerakan cepat dia menyambar tas miliknya yang diletakkan di atas meja lalu beranjak berdiri dan berseru keras. "Antar aku pada adikmu! Aku harus menanyakkan hal ini padanya secara langsung. Aku tidak akan segan-segan menghukumnya jika dia berbohong untuk mengerjai kita. Ini semua tidak lucu!"
"Aku benar-benar tidak tahu dimana keberadaannya sekarang," sahut Kurama pahit.
Ucapannya membuat langkah Kushina yang sudah setengah jalan menuju pintu keluar terhenti seketika. Wanita itu membalikkan badan, "apa maksudmu?!" tanyanya tidak mengerti. Wajah yang biasanya terangkat itu kini terlihat cemas dan rapuh. "Kenapa kau bisa tidak tahu dimana keberadaannya?"
"Dia pergi," jawab Kurama dengan nada berat. Suaranya seolah tersangkut di tenggorakannya. Lidahnya kelu, dadanya berdenyut sakit saat dia kembali teringat jika adiknya tidak diketahui keberadaanya. "Dia pergi tanpa mengatakan apapun," lanjutnya. "Karena itulah aku datang. Aku harap Ibu bersedia membantuku mencarinya."
Kushina membeku di tempatnya berdiri. Kakinya terasa sangat berat untuk melangkah dan serta merta ia-pun menangis. Wanita itu jatuh terduduk di atas lantai, menangisi takdir keluarganya yang menyedihkan. Bukan hal ini yang diharapkannya saat berpisah dengan Minato dua belas tahun yang lalu. Kenapa mimpi buruknya berubah menjadi kenyataan? "Mungkin saja adikmu berbohong, kan?!" ujarnya yang kini terdengar seperti sebuah pengharapan. "Dia pasti berbohong, kan?!" katanya lagi dengan suara serak. Sayangnya Kurama menjawab dengan gelengan kepala pelan. Naruto tidak mungkin menjadikan kematian ayah mereka sebagai suatu lelucon. Itu tidak mungkin, pikirnya pilu.
Kurama terpekur menatap ibunya yang masih menangis keras di atas lantai. Air mata ibunya jatuh membasahi lantai berkeramik putih di bawahnya. Kushina terus menangis pilu, meratapi kekurangberuntungannya. "Brengsek!" maki Kushina di tengah isakannya. "Kau berjanji untuk menjaga Naruto!" ujarnya lagi kini berupa gumaman tidak jelas. "Kau berjanji untuk menjaga dirimu dengan baik!" tangan kanannya terkepal sementara tangannya yang lain meremas kemeja putih berbahan sutra yang dikenakannya, lalu memukul-mukul dadanya keras. Wanita itu kemudian mendongak saat Kurama berlutut dan menatapnya. "Maafkan aku, Ku...!" ujarnya lemah. "Semuanya salahku! Salahku!"
Kurama tidak bisa mengatakan apapun lagi. Dengan lembut dia memeluk tubuh ibunya yang bergetar. Kushina meremas jas sekolah putranya yang kini mulai basah oleh air matanya. Kushina tahu jika penyesalannya tidak berguna sekarang, karena penyesalannya tidak mampu untuk memutar kembali waktu yang telah lalu.
.
.
.
Tepat pukul delapan malam, Kurama kembali ke kamarnya di asrama. Pemuda itu terlihat lebih pendiam dari biasanya. Kepulangannya begitu dinanti oleh teman-teman dekatnya. Pertanyaan-pertanyaan terus dilayangkan kepadanya, namun bibirnya tetap terkatup rapat.
Deidara yang terkadang bersikap lebih dewasa diantara mereka semua akhirnya mengambil tindakan. Dia memberikan pengertian kepada teman-temannya yang lain agar memberikan waktu bagi Kurama untuk menenangkan diri. "Kurama sama terkejutnya dengan kita. Jadi kumohon, beri dia waktu!" tukasnya dengan ekspresi serius.
Kamar berukuran empat kali empat meter itu untuk sesaat menjadi sunyi senyap. Deidara tersenyum kecil, senang karena teman-temannya yang lain bisa mengerti dan bersikap dewasa. Namun senyumannya seketika lenyap saat ruangan itu kembali ribut oleh pertanyaan-pertanyaan yang kembali diajukan oleh Sasori, Hidan, dan Kakuzu.
Itachi yang mendengar gumaman protes dari adik juga teman-temannya yang lain akhirnya ikut buka suara, ia menyetujui apa yang dikatakan oleh Deidara. "Kita akan bertanya setelah Kurama siap," ujarnya penuh penekanan. "Tidak ada tapi, Sasuke!" ancamnya, memotong protes adiknya yang sudah diujung lidah. "Lebih baik kalian semua kembali ke kamar kalian masing-masing dan istirahat!"
Itachi dan Deidara akhirnya harus memaksa Sasuke dan yang lainnya untuk keluar dari dalam kamar. Keenam pemuda yang diusir secara paksa itu pun melakukan sedikit perlawanan kecil. Mereka bersikeras untuk tetap tinggal.
Sasuke dan kelima temannya yang lain hanya bisa menghela napas panjang setelah Deidara dan Itachi berhasil mengeluarkan mereka dari dalam kamar milik Kurama dan Itachi. Merasa percuma berdiri di sana, mereka pun akhirnya memilih kembali ke kamar mereka masing-masing dalam keheningan.
Mereka terlarut dalam pikirannya masing-masing. Namun sepertinya pertanyaan-pertanyaan yang berputar di dalam otak mereka tidak jauh berbeda; jadi Kitsune adik kandung Kurama? Kenapa gadis itu menyembunyikan identitas aslinya? Apa benar ayah mereka sudah meninggal dunia? Lalu kemana Kitsune sekarang?
Pertanyaan-pertanyaan itu mengusik pikiran keenam pemuda itu. Mereka juga tidak menyangka kenapa keberadaan gadis itu yang begitu singkat mampu memberikan kesan dalam di dalam hati dan otak mereka? Mereka sungguh tidak mengerti.
Di dalam kamar, Deidara berjalan dengan langkah lebar lalu menempelkan telinga kanannya di daun pintu untuk mencuri dengar suara-suara yang berasal dari luar. Pemuda berambut pirang itu melepas napas panjang saat tidak lagi mendengar suara gaduh teman-temannya di luar. "Kenapa mereka sulit sekali mengerti?" ujarnya setengah berbisik. Deidara pun berbalik dan mendapati jika Itachi menatapnya dengan tatapan memohon. Ya, saat ini Itachi tidak tahu apa yang harus dikatakannya untuk menghibur Kurama; sahabat baiknya. Itachi bukan tipe penghibur yang baik. Otaknya seolah menjadi lumpuh jika dihadapkan pada situasi seperti saat ini.
Deidara lagi-lagi melepas napas panjang dan menggelengkan kepala pelan sebelum akhirnya mendudukkan diri di samping Itachi. Di depannya, Kurama duduk dengan kepala menunduk dalam, mulutnya masih tertutup begitu rapat. "Sebaiknya kau cuci muka, ganti pakaian dan lekas tidur, Ku!" kata Deidara memutus keheningan mencekam di dalam ruangan itu. Pria itu melirik lewat ekor matanya saat Itachi menarik-narik kaus oblong putih yang dipakainya, memohon agar dia melakukan sesuatu untuk menghibur Kurama, namun Deidara hanya bisa menggelengkan kepala pelan, menyesal karena dia sendiri pun tidak tahu apa yang bisa dikatakan atau dilakukannya untuk menghibur Kurama.
"Kami berharap jika berita yang disampaikan oleh Naruto hanya lelucon," kata Kurama akhirnya buka suara. Perlahan dia mengangkat kepalanya untuk menatap lurus wajah kedua teman baiknya yang terlihat sangat khawatir. "Aku pergi untuk menemui ibuku untuk mengabarkan berita ini. Aku juga memohon agar dia mau membantuku mencari Naruto," jelasnya dengan nada suara yang begitu tenang.
"Jangan khawatir, adikmu pasti ditemukan!" Itachi berkata penuh keyakinan. "Dengan pengaruh yang dimiliki oleh keluargamu, tentunya tidak akan sulit untuk menemukan adikmu."
Kurama tersenyum kecil mendengarnya, ia sama sekali tidak menyangka jika Itachi bisa mengatakan sesuatu yang bisa membuat hatinya sedikit tenang. "Terima kasih," balas Kurama lirih masih dengan senyum tipis yang menghiasi wajah tampannya.
Di tempat lain, Sasuke menghempaskan diri dengan keras ke atas tempat tidurnya. Otaknya berpikir dengan keras, mencoba menebak dan memahami apa yang dipirkan oleh gadis asing yang kini sudah diketahui namanya. Naruto. Hah... Sasuke tersenyum miring saat mengingatnya. Sungguh nama yang aneh untuk seorang wanita, pikirnya. Namun senyuman itu segera hilang, berganti oleh tekukan dalam di dahinya.
Sasuke mendudukkan diri, helaan napas keras terdengar beberapa saat kemudian. Untuk mengalihkan pikirannya, dia menyisir asal rambutnya yang berantakan dengan jari-jari tangannya mencoba membuatnya rapih seperti biasa, namun gagal, otaknya tetap tertuju pada Naruto dan kerapihan serta gaya rambutnya yang berantakan sepertinya sama sekali tidak menjadi penting untuk saat ini.
Pemuda itu berdiri dan berjalan menuju kursi belajarnya. Sebuah kemeja putih tersampir pada punggung kursi. Beberapa hari yang lalu hal ini pasti membuatnya kesal setengah mati, namun kali ini hal ini malah dinantikannya. Dia menginginkan keberadaan Naruto di sini. Sungguh, dia tidak akan marah jika Naruto memakai kemeja dan handuknya tanpa ijin. Dengan senang hati dia akan berbagi tempat tidur dengan gadis itu, Sasuke bahkan rela jika Naruto menyuruhnya tidur di lantai jika itu bisa membuat gadis itu senang. Dia bahkan tidak akan protes jika Naruto menonton televisi dengan suara keras, walau hal itu mengganggu konsentrasi belajarnya.
Kenapa Sasuke baru menyadarinya sekarang? Kenapa setelah gadis itu pergi dia baru menyadarinya? Rasa tertariknya pada Naruto mungkin disebabkan oleh perlakuan gadis itu padanya. Sasuke tidak melihat binar kagum dikedua mata gadis itu saat melihatnya, binar yang selalu dilihatnya di mata para gadis yang selama ini dikenalnya.
Naruto bahkan tidak sungkan bersikap barbar dihadapannya, bersikap seenaknya, tidak tahu malu, dan begitu menyebalkan. Namun dibalik semua itu, gadis itu menularkan keceriaan pada setiap orang yang berada di dekatnya.
Sasuke menarik napas panjang, memejamkan mata lalu meletakkan kedua tangannya pada pinggiran meja belajar untuk menopang tubuhnya. "Dasar bodoh!" umpatnya dengan rahang mengeras. Sasuke sangat kesal, kesal pada dirinya sendiri yang tidak bisa melakukan apapun saat ini. Dia tidak memiliki kekuasaan, pengaruh serta kemampuan untuk mencari jejak keberadaan Naruto. Benar, keluarganya merupakan salah satu keluarga yang berpengaruh di negara ini, tapi sebagai seorang anak yang belum matang, dia bagaikan tunas kecil yang sama sekali belum memiliki akar kuat. "Brengsek!" umpatnya lagi, memaki ketidakmampuannya.
.
.
.
Dua hari sudah berlalu sejak Naruto kembali ke kamp bersama Kimimaro dan Shikamaru. Gadis remaja itu bersikap ceria seperti biasanya, dia terlihat sama kecuali kedua bola matanya yang kini tidak bersinar seperti dulu.
Orang-orang yang mengenalnya dengan sangat baik pasti bisa menebak jika Naruto tengah berusaha menutupi kesedihannya. Gadis itu tengah menata hatinya saat ini. Shikamaru dan Kimimaro tidak bisa berbuat banyak karena Naruto memutuskan dengan keras kepala jika pertemuannya kembali dengan Kurama menjadi topik yang tidak boleh diangkat dalam pembicaraan mereka.
"Apa yang terjadi?" tanya Kakashi tanpa basa-basi.
Naruto menaikkan sebelah alisnya, menatap pelatih yang juga berperan sebagai wali sahnya dengan tatapan tidak mengerti. "Apa maksudmu?" gadis remaja itu balik bertanya, menanggalkan keformalan diantara mereka. Keduanya berada di dalam kantor Kakashi saat ini, setelah sebelumnya Kakashi memerintahkan Naruto untuk datang menghadap.
Kakashi mengetukkan jari-jari tangannya ke atas meja, menunggu beberapa saat untuk menenangkan diri. "Aku ingin kau jujur, Naruto!" ujarnya penuh penekanan. "Aku tahu jika sesuatu telah terjadi, dan jangan mengelak karena aku tahu kau bersikap aneh setelah pulang dari rumah Nara!" katanya penuh penekanan pada kalimat terakhirnya.
Naruto memutar kedua bola matanya, dengan sikap tenang dia menjawab pertanyaan Kakashi. "Aneh? Kenapa Paman beranggapan jika sikapku aneh akhir-akhir ini? Bukankah selama ini sikapku memang selalu aneh?" katanya dengan santai.
"Jangan main-main dengan kesabaranku, Naruto!" tegur Kakashi dengan nada suara yang mampu membuat anak buah maupun musuhnya bergetar takut, sayangnya hal itu tidak berefek untuk Naruto. "Katakan sesuatu!" perintahnya lagi dengan ketegasan yang nyata. Kakashi menunggu dengan kesabaran yang semakin menipis, dia masih ingin menguji kejujuran Naruto.
Hening.
"Jadi?!" tanya Kakashi lagi.
"Sebenarnya aku tidak pergi ke rumah Shikamaru," jawab Naruto dalam satu tarikan napas, memulai pengakuannya, namun Kakashi hanya menatapnya datar tanpa mengatakan apapun. "Aku menemui Kurama di sekolah," akunya lagi dengan suara sedikit gemetar, kepalanya menunduk menekuri lantai berkeramik hitam di bawahnya. Ia pun mendongak, lalu mengerjapkan mata, membaca ekspresi wajah Kakashi. Oh, tidak mungkin! Jeritnya di dalam hati. "Kau tahu tentang hal ini, kan?!" tuduhnya dengan gigi gemertuk menahan kesal. Oh, tentu saja paman tersayangnya ini tahu mengenai kenakalannya. "Kau benar-benar sudah tahu," kata Naruto lagi dengan kedua tangan terkepal erat di sisi tubuhnya.
"Untuk apa kau menemuinya?" tanya Kakashi kini dengan suara lebih lembut. "Menemuinya hanya akan menyakitimu. Kau tahu itu!"
Naruto bergeming menanggapinya.
"Jika ibumu mengetahui profesimu saat ini, maka kau tahu betul apa konsekuensinya terhadapmu!"
Naruto masih diam, tertunduk dengan ekspresi kalut. "Ibuku tidak bisa memaksaku untuk keluar dari sini," katanya setelah terdiam lama.
"Oh, dengan kekuasaan serta koneksi yang dimilikinya dia mampu melakukannya. Kau tahu betul hal itu," Kakashi menyahut dengan suara berat. Pria itu kembali menghela napas panjang dan melempar tatapannya keluar jendela kantor sementara selama dia berada di Tokyo. "Ibumu bisa gila jika tahu kau bergabung dalam pasukan khusus, seperti halnya ayahmu dulu. Kau tahu alasan kenapa orangtuamu bercerai, kan?"
Naruto mengangguk lemah. Sejenak dia terdiam sebelum kembali bicara dengan nada sakit hati yang nyata. "Dia tidak akan melakukan apapun. Ibuku tidak akan peduli, dia bahkan tidak membalas teleponku saat itu." Ia menunduk, mencermati jari-jari tangannya yang saling bertaut. "Aku meninggalkan pesan agar dia menghubungiku balik. Aku ingin memberitahunya mengenai kematian Ayah, tapi balasan itu tidak pernah datang- sampai saat ini."
"Mungkin resepsionis itu tidak menyampaikan pesan darimu," kata Kakashi mencoba untuk berpikir positif. Dia tahu pasti sebesar apa Kushina mencintai mantan suami dan putri bungsunya. Ego dan harga diri Minato serta Kushina sangat tinggi, membuat keduanya menahan diri dan tetap memegang teguh perjanjian perceraian diantara keduanya. Perjanjian yang menyertakan kedua anak mereka. Mereka sangat bodoh, pikir Kakashi saat mengenangnya. "Lalu, apa kau sudah memberitahu kakakmu mengenai ayah kalian?"
Naruto mengangguk lagi. "Kurama tidak mengenalku saat aku muncul dihadapannya. Bahkan dia marah besar saat aku memaksanya untuk mengingatku," Naruto tersenyum tipis dan melirik ke arah Kakashi yang tengah menatap dan mendengar ucapannya dengan ekspresi serius. "Dia tidak mengatakan apapun saat aku menyerahkan kotak berisi dog tag itu ke tangannya."
"Dia sama sekali tidak mengenalimu?" tanya Kakashi lirih nyaris setengah berbisik. Tidak mungkin, pikirnya. Otak cerdas Kurama pasti bisa menebak siapa Naruto sebenarnya walau mereka berpisah cukup lama. Yah, tidak bisa dipungkiri jika Naruto memang berubah banyak. Gadis muda itu tidak lagi gendut, berpipi tembam dan bertubuh pendek seperti saat dia berusia lima tahun. Kakashi menyandarkan kepalanya pada punggung kursinya, berusaha duduk senyaman mungkin. "Aneh," ujarnya lirih namun Naruto hanya mengangkat bahu, tidak peduli.
"Kau marah karena aku membohongimu?"
"Tentu saja aku marah," omel Kakashi kesal. "Kau dan bocah Nara itu mengelabuiku dengan sangat lihai. Tapi kalian salah jika kalian beranggapan aku tidak bisa mencium kebohongan kalian," dia melepas napas lelah dan kembali bicara, "kau seharusnya jujur kepadaku. Aku bisa mengantarmu pada ibu dan kakakmu secara langsung."
"Aku tidak mau bertemu ibuku!" seru Naruto mutlak. "Dia lebih mencintai Kurama daripada aku," tambahnya dengan nada iri dan marah yang menjadi satu. "Jika dia mencintaiku, dia pasti berusaha menemuiku. Tapi hal itu juga tidak dilakukannya."
"Dengar Naruto!" sela Kakashi cepat. "Banyak hal yang tidak kau ketahui mengenai orangtuamu. Rasanya tidak adil jika kau melihatnya dari salah satu sisi saja," Kakashi menegur pelan, mencoba memberi pengertian pada putri asuhnya yang keras kepala, persis seperti ayah dan ibu gadis itu. "Ibumu memutuskan membawa Kurama karena dia takut jika ayahmu menjadikan Kurama sepertinya. Ibumu sangat takut kehilangan ayahmu, dia juga sangat menyayangimu dan Kurama. Dia sangat mencintai keluarganya, ibumu bahkan rela meninggalkan kenyamanan keluarga Uzumaki untuk menikahi ayahmu. Pengorbanannya selama ini sangat besar, bertahun-tahun dia diliputi ketakutan akan kematian ayahmu saat bertugas, karena itu dia mengancam ayahmu dengan perceraian, dan siapa mengira jika ternyata ayahmu akan menyetujui usul ibumu itu."
Naruto terdiam, dia sendiri tahu mengenai alasan perceraian kedua orangtuanya, tapi dia sama sekali tidak tahu alasan kenapa Minato membawanya sementara Kushina membawa Kurama.
"Ayahmu tahu jika ibumu sangat menyayangimu, karena itu dia berkeras membawamu, berharap jika rasa sayang dan rindu Kushina terhadapmu bisa menyatukan kembali keluarga kalian-"
"Dan ternyata Ayah salah besar," potong Naruto sinis. "Ibu tidak pernah mencariku. Tidak pernah."
"Kedua orangtuamu sangat keras kepala," ujar Kakashi sedih. "Mereka sama sekali tidak sadar jika tindakan mereka menghancurkan kebahagiaan mereka sendiri. Ayahmu yang terlalu mencintai pekerjaan dan negaranya menjadi buta dan saat sadar semuanya sudah terlambat, karena dia sudah kehilangan keluarganya. Jangan mengulangi hal yang sama, Naruto! Jika kau setuju, aku akan menghubungi ibumu sekarang juga."
"Tidak!" tolak Naruto tegas. "Aku belum siap untuk bertemu dengannya saat ini. Aku tidak mau!"
"Naruto?!"
"Tidak, Paman!" mohonnya lirih. "Jangan sekarang. Jika apa yang Paman katakan benar, ibuku pasti akan memintaku meninggalkan pekerjaanku saat ini. Aku tidak mau! Aku tidak bisa!" tegasnya keras kepala. "Aku ingin seperti Ayah. Mengabdi kepada negara hingga aku merasa lelah dan ingin kembali ke keluargaku karena keinginanku sendiri. Sampai saat itu tiba, tolong jangan hubungi ibuku. Walau aku sekarat sekali pun, kau tidak boleh menghubunginya! Berjanjilah! Janji seorang prajurit, kau harus melakukannya atas namaku, Paman!"
.
.
.
"Here lies a soldier who served his country well. Beloved by family, cherished by friends."
Minato Namikaze
01.25.1960 - 03.28.2005
"May the journey on your next adventure be as joy-filled as your time with us. See you soon, Daddy!"
Demi, Tuhan, sudah lebih dari tiga bulan ayahnya meninggal dunia. Kenapa tidak ada satu orang pun yang mengatakan perihal ini kepadanya? Kenapa Naruto baru muncul sekarang? Kenapa? Tanya Kurama di dalam hati. Dia tidak mengerti. Sama sekali tidak mengerti jalan pikiran adiknya itu.
Kurama bahkan tidak berkedip saat membaca tulisan di atas batu nisan makam ayahnya. Tulisan itu tercetak cantik di atas batu granit hitam yang menjadi tanda pusara ayahnya. Dia melirik ke arah ibunya yang kini berlutut di atas rumput hijau di bawahnya. Wanita itu lalu terduduk, dengan kepala menunduk dan kedua bahunya kini bergetar hebat, dia menangis tanpa suara.
Kushina segera mengatur kepergian mereka ke Amerika sesaat setelah laporan mengenai kebenaran kematian mantan suaminya itu diterimanya. Keduanya tidak banyak bicara selama perjalanan panjang dari Tokyo menuju Los Angeles. Mereka tiba pukul sepuluh pagi, hari ini, waktu LA. Setelah menyimpan barang-barang mereka yang tidak banyak di hotel, keduanya segera berangkat menuju tempat peristirahatan terakhir Minato.
Kurama tahu betul jika ibunya terguncang hebat akibat kematian Minato, belum lagi hingga detik ini berita mengenai keberadaan Naruto sama sekali belum ada perkembangan terbaru.
Keduanya berada di sana selama satu jam sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi ke apartemen yang selama ini menjadi tempat tinggal Minato dan Naruto.
Dengan bahasa inggris fasih Kushina menjelaskan kepada penjaga apartemen jika dia merupakan ibu dari Naruto dan mantan istri dari Minato. Penjaga apartemen berbadan kekar dengan kepala pelontos itu terlihat simpati melihat keadaan Kushina yang menyedihkan. Dengan tatapan simpati dia memberikan kunci cadangan apartemen milik Minato dan mengucapkan bela sungkawa dengan tulus pada Kushina dan Kurama. Dia juga mengatakan jika Naruto tidak lagi tinggal di sana dan memintanya mencarikan satu orang pekerja yang bersedia membersihkan apartemennya setiap satu minggu sekali dengan upah yang pantas.
Apartemen sederhana yang di tempati Naruto berada di lantai lima, bertembok bata yang dicat putih sempurna. Ruangannya tidak terlalu besar, namun barang-barang yang berada di dalamnya ditata sedemikian rupa hingga terlihat efisien dan nyaman.
Kushina tidak sanggup menahan laju air matanya saat menatap foto keluarganya yang terpasang di tembok ruang tamu. Foto yang diambil tiga belas tahun yang lalu itu masih terpasang dan terawat dengan baik.
Kurama mengikuti arah pandangan Kushina dan tertegun lama di sana. Di dalam foto berukuran kanvas itu ada sosoknya yang masih berusia lima tahun, bergelayut manja pada Minato, sementara Naruto yang masih berusia empat tahun duduk di atas pangkuan Kushina. Mereka terlihat sangat bahagia. Siapa sangka jika satu tahun kemudian kebahagiaan itu akan sirna dan terengut dari mereka.
.
.
.
Sementara itu di Tokyo, Itachi terus menatap wajah teman-temannya dengan ekspresi serius. Ruangan OSIS yang biasanya ribut itu kini selalu tenang dan terasa begitu damai. Perilaku teman-temannya berubah drastis sejak kepergian Naruto. Kakuzu dan Hidan sudah dua hari ini menghilang setelah jam pelajaran terakhir selesai dan kembali saat jam makan malam. Kadang keduanya baru pulang setelah larut malam. Saat Itachi menanyakan kemana mereka pergi, keduanya hanya diam tanpa mengatakan apapun. Lain lagi dengan Deidara, pemuda yang biasanya menghabiskan jam makan siang untuk tidur di atap sekolah itu kini lebih suka menghabiskan waktu di ruang OSIS walau hanya sekedar duduk atau membaca buku. Ck, Deidara membaca buku? Yang benar saja!
"Sasuke?!"
"Hn." Jawab Sasuke tanpa menatap Itachi.
"Kepala sekolah meminta proposal penyelenggaraan festival seni sudah ada di atas mejanya besok pagi. Apa kau bisa menyelesaikannya hari ini?" tanya Itachi datar.
"Tidak masalah," jawab Sasuke sama datarnya.
"Aku juga memerlukan laporan festival olahraga kemarin, apa kau juga bisa menyelesaikannya hari ini?"
"Ok," jawab Sasuke.
"Aku akan membantumu," timpal Neji dan Kiba secara bersamaan.
"Tidak perlu," tolak Sasuke halus. Pemuda itu merapihkan berkas-berkas laporan yang sudah diperiksanya lalu menumpuknya menjadi satu bagian sebelum akhirnya diserahkan kepada Itachi. Dia tidak akan menolak semua pekerjaan yang biasanya dianggap sebagai beban karena dia memerlukan hal lain untuk menyibukkan diri agar pikirannya teralih dari Naruto.
"Kapan Kurama kembali?" tanya Sasori tiba-tiba. "Lalu, apa sudah ada kabar mengenai keberadaan Naruto?"
"Hari ini Kurama pulang ke Tokyo, dan sayangnya tidak ada kabar apapun mengenai Naruto."
Kakuzu dan Hidan masuk ke dalam ruangan tepat saat Sasori membuka mulut untuk menyahut Itachi. Namun mulutnya kembali terkatup, matanya terbelalak saat melihat keadaan Kakuzu dan Hidan saat ini.
"Ada apa dengan kalian?" Deidara menyuarakan pertanyaan yang sama dari keenam temannya yang lain.
"Hanya kecelakaan kecil," sahut Hidan sembari mendudukkan diri ke atas kursi kosong. Dia sedikit meringis saat luka di kakinya kembali berdenyut sakit akibat gerakannya yang kasar.
"Sebenarnya kalian pergi kemana selama ini?" Itachi bertanya dengan mata melotot dan berkacak pinggang. "Asal kalian tahu, aku tidak bisa terus menerus melindungi kalian. Bagaimana jika kalian tertangkap basah keluar masuk asrama tanpa ijin? Ayolah, Teman! Saat ini bukan waktu yang pas untuk melakukan hal-hal bodoh!"
"Kami pergi untuk mencari Naruto dengan sepedah motor." Kakuzu yang sedari tadi diam kini buka suara. Dia melepas napas panjang dan menatap langit-langit ruangan itu dengan tatapan kosong. "Kami mencarinya disetiap penjuru kota, sayangnya kami tidak menemukannya." Kakuzu tersenyum kecut setelahnya.
"Hanya itu yang bisa kami lakukan untuk membantu Kurama," timpal Hidan menjawab ekspresi kagum dari Itachi dan yang lainnya, kecuali Sasuke yang kini menunduk dengan kedua tangan terkepal dikedua sisi tubuhnya. "Aku dan Kakuzu tidak bisa berbuat banyak selain hal ini," tambahnya terdengar sangat menyesal.
"Lihat apa yang sudah dilakukannya pada kita semua!" Sasuke bicara dengan gigi gemertuk. "Dia datang dan pergi dengan seenaknya. Membuat kita semua khawatir setengah mati, sementara dia? Hanya Tuhan yang tahu apa yang saat ini ada dipikiran gadis barbar itu!"
"Sas-"
"Aku membencinya!" teriak Sasuke putus asa memotong ucapan Itachi. "Dia memporakporandakkan duniaku yang tertata rapih. Dan setelah melakukannya dia pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun! Kenapa dia seperti itu?!" teriak Sasuke keras. "Tidak..." ujarnya dengan senyum dingin dan gelengan kepala pelan. "Aku tidak akan terus seperti ini, aku akan melupakannya, kembali ke kehidupan normalku, dan aku sarankan kalian melakukan hal yang sama!" tambahnya sebelum berjalan pergi dalam keadaan marah.
"Biarkan dia sendiri!" ujar Deidara pada Neji dan Kiba yang sudah melangkah untuk mengejar sahabatnya. "Sasuke bukan marah pada Naruto, dia marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa melakukan apapun untuk mencari keberadaan Naruto," tambahnya lagi. "Kurasa apa yang dikatakan oleh Sasuke ada benarnya. Tidak baik jika kita terus terlarut dalam kesedihan ini. Kita harus tetap melanjutkan kehidupan kita, dan menyiapkan sambutan yang tidak akan pernah dilupakan oleh Naruto jika dia berhasil ditemukan nanti," tambahnya dengan sebuah senyuman penuh arti.
.
.
.
Satu hari berlalu dengan cepat setelahnya. Tadi malam Kurama kembali pulang ke asrama. Pemuda itu kembali bersikap seperti biasanya; acuh dan menyebalkan. Hal itu pun membuat Itachi sedikit lega, karena Kurama tidak terus menyalahkan diri sendiri atas kepergian Naruto.
"Kau mau kemana?" tanya Itachi saat melihat Kurama keluar dari dalam kamar mandi dengan pakaian rapih.
"Toko buku," jawab Kurama malas. Mereka memutuskan untuk tidak membahas masalah Naruto dan akan sabar menunggu hasil penyelidikan detektif yang disewa Kushina untuk mencari Naruto.
"Aku ikut!" seru Itachi tanpa meminta persetujuan. Kurama hanya menggendikkan bahu, tidak peduli saat Itachi mengekor di belakangnya. "Kalian berdua juga mau pergi?" tanya Itachi saat berpapasan dengan Sasuke dan Deidara di lorong asrama.
"Sasuke akan mentraktirku makan siang," jawab Deidara sambil merangkul akrab bahu Sasuke yang mendengus ke arahnya.
"Dalam rangka apa?" tanya Itachi penasaran.
"Dalam rangka aku membantunya menyelesaikan laporan dan dalam rangka menyambut hari Minggu yang cerah ceria," sahut Deidara lagi ceria.
"Neji dan Kiba tidak ikut?" tanya Kurama penasaran karena dua sahabat Sasuke tidak ikut bersamanya.
"Sasori menugaskan mereka untuk menjaga Kakuzu dan Hidan," jawabnya datar, dan mereka pun melanjutkan perjalanan mereka dalam keheningan.
.
.
.
Pusat perbelanjaan yang ramai pengunjung itu dikejutkan oleh aksi perampokan dan penyanderaan yang terjadi sangat cepat di lantai dua, tepatnya di sebuah toko perhiasan. Sepuluh orang perampok itu bersenjata api lengkap. Mereka melumpuhkan petugas yang berjaga dengan mudah.
Pengunjung toko yang ketakutan mulai berlari untuk menyelamatkan diri, namun seorang penjahat yang berjaga di pintu masuk toko itu segera menembakkan senjatanya ke udara sebagai ancaman.
Di luar toko, pengunjung yang mengetahui aksi perampokan dan penyanderaan itu panik dan berusaha untuk menyelamatkan diri. Kepanikan yang menyebar sangat cepat itu berujung ricuh dan tidak sedikit dari pengunjung yang terluka akibat terjatuh lalu terinjak pengunjung yang lain.
Mobil-mobil polisi datang cepat sesaat setelah menerima laporan tersebut. Pengunjung yang berlarian keluar dari gedung perbelanjaan itu menjadi kesulitan tersendiri untuk polisi yang siaga. Menenangkan ratusan bahkan ribuan orang dalam waktu yang bersamaan sungguh bukan tugas yang mudah. Pengunjung itu semakin panik saat letusan senjata api kembali terdengar dari lantai dua yang kini berubah menjadi lokasi penyanderaan.
Perampok-perampok itu menodongkan senjata mereka kepada pengunjung yang masih terjebak di lantai dua, menggiring mereka dengan tatapan bengis menuju sebuah restoran cepat saji. Dengan cepat polisi mengepung restoran cepat saji di lantai dua itu, memerintahkan para perampok untuk menyerah.
Semuanya terjadi begitu cepat hingga Kurama, Itachi, Deidara dan Sasuke tidak sempat berlari untuk melarikan diri. Setelah ketenangannya kembali, mereka baru sadar jika saat ini mereka menjadi sandera perampok. "Tenang!" kata Deidara mencoba untuk menahan Kurama yang hendak memberikan perlawanan. "Mereka bersenjata," ia mengingatkan dan melirik ke arah salah satu penjahat terdekat yang menenteng sebuah pistol. "Mereka bukan lawan kita," tambahnya yang akhirnya berhasil membuat Kurama, Itachi dan Sasuke diam, menundukkan kepala sambil mengawasi keadaan, mencari celah dan waktu yang tepat untuk menyelamatkan diri.
"Bos, kenapa kita tidak melarikan diri saja?" tanya seorang penjahat bertubuh kurus dan pendek. "Kita sudah mendapatkan apa yang kita inginkan."
"Kita terkepung," jawab kepala perampok itu dengan gigi terkatup. Matanya menatap bengis pengunjung yang duduk ketakutan di lantai restoran siap saji itu. "Kita tidak akan bisa keluar hidup-hidup jika tidak memiliki sandera. Selain itu, kita bisa mendapatkan uang lebih banyak sebagai tebusan untuk para sandera."
Ketua perampok itu menanggapi gertakan polisi dengan santai. Dia menarik paksa seorang wanita tua dan pria gemuk yang mencicit ketakutan lalu mendorong keduanya untuk berjalan di depannya sebagai tameng. "Mundur! Atau aku tidak akan segan-segan membunuh mereka semua!" ancamnya dengan ekspresi dingin dan penuh perhitungan.
Polisi-polisi itu bergeming, tetap diam di tempat. Merasa tidak dianggap, kepala perampok itu mengangkat tangannya, memperlihatkan pistol ditangannya dan tanpa sedikit pun rasa ragu dia menarik pelatuk, menembak pria gemuk itu tepat di belakang kepalanya. Pria gemuk itu langsung roboh, mati, tanpa sempat mengeluarkan suara kesakitan. Wanita tua yang berdiri di samping pria itu menjerit ketakutan. Menutup mata dan air matanya pun mengalir menganak sungai.
"Mundur! Atau wanita tua ini akan jadi korban selanjutnya!" perampok itu bicara lantang dengan kebengisan yang mampu membuat bulu kuduk yang mendengarnya meremang.
.
.
.
Naruto, Shikamaru dan Kimimaro tengah latihan menembak saat Kakashi datang terburu-buru. "Ada tugas untuk kalian bertiga!" tukasnya tanpa memberitahukan secara detail. Ketiga anak didiknya itu mengangguk kecil, mengecek pistol latihan mereka, mengeluarkan sisa peluru sebelum mengembalikan pistol-pistol tersebut kepada pengawas latihan tembak. Tugas ini pasti sangat penting, pikir ketiganya mengingat jika besok pagi mereka harus terbang ke Okinawa untuk memulai latihan gabungan.
"Pihak kepolisian Tokyo meminta bantuan pasukan khusus untuk menangani perampokan dan penyanderaan di salah satu pusat perbelanjaan di pusat kota," jelas Kakashi pada ketiganya. Mereka berempat terus berjalan dengan langkah cepat menuju kantor Jendral Senju Tobirama.
"Apa jatuh korban?" tanya Shikamaru.
"Satu orang sandera tewas," jawab Kakashi. "Perampok itu menembaknya karena polisi tidak mau mundur."
"Sepertinya perampok itu mulai putus asa." Naruto menimpali dengan tegang. "Perampok yang putus asa bisa sangat nekat."
"Karena itulah pihak kepolisian memerlukan bantuan kita," jawab Kakashi sesaat sebelum mengetuk pintu dan masuk ke dalam kantor kerja Tobirama.
.
.
.
Pasukan khusus gabungan itu tiba di lokasi setengah jam kemudian. Dengan cepat pihak kepolisian yang bertugas menerangkan situasi di dalam gedung perbelanjaan itu. Shikamaru segera memasang peralatannya, dia meretas sistem keamanan gedung untuk melihat rekaman CCTV saat kejadian perampokan di toko perhiasan terjadi.
Pihak kepolisian yang melihatnya hanya bisa terbelalak, kagum dan iri saat menyadari perbedaan kemampuan mereka. Kakashi yang bertindak sebagai ketua dengan serius membaca situasi dan mulai merencanakan penyerangan. Keselamatan sandera menjadi prioritas utama mereka saat ini.
"Kami sudah mengepung pintu dan tangga darurat. Perampok itu berkumpul di lantai dua dengan para sandera," lapor kepala polisi. "Pintu keluar restoran cepat saji itu dikunci dari dalam, tapi beberapa anggotaku sudah bersiap dengan senjata lengkap di luarnya."
"Bagaimana, Shika? Apa ada celah agar anggota kita bisa menyusup ke dalam restoran itu?" tanya Kakashi tanpa mengalihkan tatapannya dari layar laptop milik Shikamaru.
Jari-jari Shikamaru terus menari di atas keyboard, mempelajari struktur bangunan dengan teliti. "Kita bisa masuk lewat pipa saluran AC," jawab Shikamaru dengan kernyitan dalam. "Sayangnya ukuran pipa terlalu kecil untuk dimasuki pria dewasa. Kurasa hanya Naruto yang bisa masuk ke dalamnya." Shikamaru melirik lewat bahunya ke arah Kakashi sebelum mengalihkan tatapannya pada Naruto.
"Aku siap," sahut Naruto tanpa sedikit pun keraguan dalam suaranya. Dan mereka pun melakukan rapat singkat untuk membahas rencana penyerangan yang akan mereka gunakan.
Hanya perlu waktu tiga puluh menit bagi Naruto untuk merayap melewati lubang sempit pipa AC yang hanya memiliki lebar lima puluh centimeter. Dia bisa mendengar suara memohon dan rintihan pilu dari para sandera. Dia juga bisa mendengar bentakan-bentakan kasar yang terdengar sangat marah dari bawahnya.
Ia terus merangkak dengan lihai. Dia harus berlari melawan waktu. Tugas utamanya adalah membuka pintu darurat restoran itu agar polisi yang menunggu di luar bisa bergerak untuk menyelamatkan sandera. Dia kembali bergerak pelan, mengikuti arah petunjuk yang diberikan Shikamaru menuju dapur restoran.
Naruto mengeluarkan sebuah teropong kecil dari saku rompinya. Teropong itu bisa ditekuk untuk memudahkannya menyelidiki ruangan di bawahnya. Ada satu orang bersenjata lengkap di sana dan ada empat orang pegawai restoran yang menjadi sandera di dapur. Gadis remaja itu menyeringai senang. Satu orang akan lebih mudah dilumpuhkannya.
Gadis itu membuka satu demi satu baut-baut pintu di ujung lorong pipa AC. Naruto meletakkan jarinya di depan bibir saat salah satu pegawai restoran itu melihatnya. Seolah mengerti, pegawai itu kembali memalingkan kepala dan dengan isyarat tangan dia memberitahukan jika di dapur ada satu orang bersenjata.
Ternyata benar hanya satu orang, batin Naruto semakin senang. Dengan perlahan dia turun dari pipa AC tersebut. Tiga orang sandera lain yang baru menyadari keberadaan Naruto sedikit tersentak dan menahan napas, mata mereka menatap takut ke arah komplotan perampok yang tengah menatap keluar, lewat celah pintu, mencoba mencari tahu apa yang terjadi di sana.
Perlahan tapi pasti Naruto berjalan semakin mendekati perampok yang tidak siaga, dan dalam waktu beberapa detik saja sebuah bunyi tulang leher patah terdengar pelan namun begitu menyayat hati dan menyakitkan, seketika penjahat itu roboh, mati.
Tugas pertamanya hampir selesai, dia lalu berbalik untuk membuka pintu ganda yang terkunci itu. "Mana kuncinya?" tanya Naruto pada keempat sandera yang masih terlihat shock dan hanya mampu mengangkat sebelah tangannya ke arah penjahat yang kini terbaring tak bernyawa.
Naruto kemudian menggeladah tubuh penjahat itu, bernapas lega saat menemukan apa yang dicarinya pada saku jaket kulit penjahat yang sudah menjadi mayat. Dia lalu melaporkan hasil pekerjaannya lewat microphone kecil yang terpasang di balik rompi gelapnya.
Kimimaro dan empat orang polisi dengan senjata lengkap sudah menunggunya di balik pintu. Dengan kecepatan luar biasa mereka mengeluarkan empat orang sandera yang ada di dalam dapur itu. "Aku akan menyelinap masuk ke dalam restoran. Kalian harus siaga untuk hal yang paling buruk," kata Naruto pada Kimimaro dan lainnya.
Kimimaro mengangguk paham. Kemampuannya di bidang medis pasti diperlukan jika sesuatu yang buruk terjadi. Setidaknya dia bisa melakukan pertolongan pertama jika ada petugas maupun sandera yang terluka. Dia yakin jika baku tembak tidak bisa dihindarkan dalam penyerangan ini. Semoga tidak ada korban jiwa dipihak kami, doanya di dalam hati, memohon keselamatan untuk petugas kepolisian dan sandera.
.
.
.
Naruto tengah bersiap untuk menyelinap masuk ke dalam restoran saat suara tembakan terdengar bersahutan dari dalam restoran. Dia memaki di dalam hati, mencaci kecerobohan beberapa oknum polisi yang tidak bisa menunggu dan menahan diri.
Jeritan ketakutan melolong dari restoran, tangisan dan rintihan memohon untuk dilepaskan terus diucapkan oleh para sandera. Dua perampok yang berjaga di balik pintu masuk restoran mati terkena luncuran timah panas. Salah satu perampok yang berada di dekat pintu dapur berjalan lalu menarik rambut salah satu sandera. Wanita paruh baya yang ditarik secara kasar itu terus meronta meminta untuk dilepaskan, dan rontaannya itu berhenti saat timah panas menembus otak kirinya, menghancurkan sebagian wajahnya karena ditembak dari jarak yang sangat dekat.
"Aku akan membunuh semua sandera jika kalian terus menyerang!" sang kepala perampok berteriak keras dari balik tembok. "Aku menginginkan uang sebesar lima puluh juta yen dan dua buah mobil sebagai harga tebusan untuk membebaskan sandera."
Naruto yang melihat celah langsung menyelinap masuk ke dalam restoran dan berbaur dengan sandera yang duduk melingkar disisi restoran dekat meja kasir. Gadis itu membelalakkan mata saat melihat Kurama, Itachi, Sasuke dan Deidara juga ada dalam lingkaran sandera itu. Dia mulai menghitung, ada sekitar tiga puluh sandera di dalam ruangan itu, empat diantaranya terluka parah dan sulit dipindahkan.
"Aku memberi kalian waktu satu jam untuk menyiapkannya!" ketua perampok itu kembali bicara dengan suara menantang. "Aku akan membunuh lima orang sandera setiap lima belas menit. Dan aku tidak main-main dengan ucapanku!"
Wajah Sasuke memucat saat menyadari keberadaan Naruto di tengah mereka. Dia pasti berhalusinasi, pikirnya mencoba untuk tetap tenang. Namun saat merasakan genggaman erat tangan Itachi di tangan kanannya, dia tahu jika dia sama sekali tidak berkhayal; Naruto ada di sini, bersama mereka, menjadi sandera.
Kurama dan Deidara yang mengikuti arah tatapan Itachi, bereaksi sama seperti halnya Sasuke. Wajah keduanya memucat sempurna. "Kau?!" desis Kurama pelan, ekspresinya campur-aduk, antara kesal, marah, lega juga khawatir.
Naruto mendelik, meminta kakaknya untuk tutup mulut. Di depan pintu masuk, kepala perampok itu terus bicara dengan nada mengancam dan kasar. Keenam anak buahnya terlihat menyeringai, mata mereka berbinar memikirkan banyaknya uang yang akan mereka miliki setelah drama penyanderaan ini selesai.
"Bantu aku mengeluarkan sandera-sandera ini," bisik Naruto yang hanya mampu didengar oleh Kurama, Itachi, Sasuke dan Deidara. Keempat pemuda itu menatapnya, mengatakan tanpa kata bagaimana cara untuk mengeluarkan sandera-sandera itu. "Pintu dapur," lanjut Naruto masih setengah berbisik sementara matanya mengawasi dengan jeli gerakan perampok-perampok itu. Naruto memberikan tanda 'lima'. Kurama dan Sasuke membisikkan sesuatu kepada lima sandera itu yang segera mengangguk setuju. Kelimanya memilih untuk mengikuti saran yang diajukan kepada mereka.
Kelima sandera itu bergerak sepelan mungkin di bawah arahan Naruto. Salah sedikit saja mereka bisa mengundang perhatian perampok dan rencana mereka bisa gagal total. Naruto mengangguk ke arah Kurama setelah lima orang sandera berhasil masuk ke dalam dapur dan diselamatkan oleh Kimimaro serta petugas lainnya yang sudah menunggu di sana.
Empat orang sandera kembali menyusul, diantaranya ada seorang gadis kecil berusia tiga tahun yang menjadi perhatian khusus Naruto. Gadis kecil itu didekap erat oleh ibunya, dengan wajah bengkak karena menangis dia menatap Naruto, mempercayakan keselamatannya juga putrinya di tangan gadis remaja itu. Naruto mengangguk mantap, matanya kembali terarah pada perampok yang masih berteriak-teriak ke arah polisi yang mengepung di luar.
"Bos, kenapa sandera kita menjadi sedikit?" tanya salah satu perampok yang kembali mengalihkan perhatiannya pada sandera.
"Apa tadi kau menghitungnya?" kepala perampok itu balik bertanya dengan nada kasar.
"Tidak."
"Bodoh!" bentak kepala perampok itu kasar. Dia berjalan menuju sandera dan mulai menghitung, "dua puluh dua sandera!" teriaknya keras. "Kau harus mengingatnya! Ini tanggung jawabmu!" dia menambahkan dengan nada memerintah.
"Tapi rasanya tadi lebih banyak," jawab pria lain sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Mungkin sandera itu melarikan diri, Bos?!"
"Bagaimana bisa mereka melarikan diri?" bentak kepala perampok keras. "Dasar tidak becus!"
Dada Naruto bergemuruh saat kepala perampok itu memerintahkan salah satu anak buahnya untuk mengecek ke dapur. "Kenapa lama sekali?!" teriak kepala perampok itu tidak sabaran saat salah satu anak buahnya tak kunjung kembali. "Apa yang dilakukannya? Susul dia!" teriaknya marah, frustasi. Dia tersudut sekarang.
Suara tembakan terdengar kali ini dari dalam dapur. Perampok-perampok itu berubah siaga dan mendekat ke arah dapur. Letusan senjata kembali terdengar dari dapur, dua orang perampok tewas seketika terkena peluru milik Kimimaro.
Naruto menggunakan kekacauan singkat itu untuk mengeluarkan sandera lewat pintu masuk restoran. Kimimaro dan polisi yang berada di dapur terus menembak, mengalihkan perhatian perampok-perampok itu ke arah mereka.
"Cepat pergi!" perintah Naruto tegas. Kurama, Itachi, dan Deidara segera mengeluarkan sandera sebanyak yang mereka bisa. Sasuke berusaha mengeluarkan empat orang sandera yang terluka parah, dibantu oleh Naruto keduanya berhasil mengeluarkan tiga dari empat sandera yang terluka itu.
Gerakan Naruto terhenti saat sebuah peluru berdesing mengenai tembok di sisi kanan kepalanya. Dengan cekatan dia membalikkan meja lalu menarik Sasuke untuk berlindung. Naruto mengeluarkan sebuah pistol yang terselip di paha kanannya. Kurama yang sudah ditarik oleh polisi di luar restoran hanya bisa melihat kejadian itu tanpa mengedipkan mata. Adiknya memiliki pistol? Kurama tidak mengerti, terlalu kacau untuk berpikir saat ini.
Kepala perampok itu terus menghujani Naruto dengan tembakan membabi-buta. Lima orang anak buahnya sudah mati, dua lainnya terluka parah. Tinggal dua orang lagi yang tersisa untuk membantunya bertahan melawan gempuran polisi.
Naruto yang terlalu fokus untuk melumpuhkan ketua perampok itu tidak menyadari apa yang tengah dilakukan oleh Sasuke. Pemuda itu keluar dari persembunyiannya untuk menarik seorang sandera yang terluka ke tempat yang aman. Sasuke sama sekali tidak sadar jika sandera yang tersisa itu sudah meninggal dunia karena luka tembak di dada kanannya. Naruto yang menyadari perubahan target kepala perampok itu langsung bergerak cepat, menjadikan tubuhnya sendiri sebagai perisai Sasuke.
Timah panas milik ketua perampok itu mengenai perut bagian kanannya dengan telak. Naruto menarik Sasuke keluar dari restoran itu dengan susah payah. Desingan peluru terus menghujani mereka, polisi yang berjaga di luar restoran sudah menarik diri ke lantai satu untuk mengamankan sandera yang berhasil dikeluarkan dari restoran.
Ketika sebuah peluru kembali berdesing melewati kepalanya, Naruto segera menunduk dan menarik Sasuke bersembunyi di balik tembok terdekat untuk berlindung. Suara desing peluru kembali terdengar, kini dua kali. Gadis remaja itu menahan diri untuk tidak meringis saat rasa sakit terus membakar perut kanannya. Dia takut jika Sasuke menyadari kondisinya saat ini. Naruto tidak mau membuat Sasuke cemas. Ini hanya luka kecil, rapalnya di dalam hati, mengabaikan darah miliknya yang terus merembes keluar.
Naruto melirik ke arah Sasuke lewat bahunya. Sedari tadi pemuda itu tidak mengatakan apapun dan menuruti perintah Naruto dengan patuh. "Kau baik-baik saja?" tanya Naruto lirih, nyaris berbisik. Sasuke menatapnya lurus dan mengangguk kecil. "Jangan khawatir, aku akan membawamu keluar dari gedung sialan ini dengan selamat. Kau percaya padaku?"
"Aku hanya percaya pada Tuhan," jawab Sasuke tanpa terdengar takut. Dia sudah menyerahkan takdirnya pada Tuhan. Jika Tuhan menghendakinya mati di sini, maka apa yang bisa dilakukannya selain berserah diri?
"Bagus," seru Naruto senang. "Itu yang kau perlukan sekarang," tambahnya dengan senyuman lebar yang menjadi ciri khasnya. "Kau harus lari secepat mungkin setelah aku mengatakan aman. Mengerti?"
"Dan kau?"
"Aku akan mengikutimu dari belakang," jawab Naruto tenang. Dia mengecek isi pistolnya. Tinggal dua peluru lagi yang tersisa. Sial! Makinya di dalam hati.
"Apa kau yakin baik-baik saja?" tanya Sasuke lagi. "Keringatmu banyak sekali," tambahnya cemas.
"Di sini panas," kilah Naruto dengan senyum dipaksakan. Desingan peluru kembali terdengar. Penjahat yang tersisa itu sepertinya sudah mulai putus asa dan terus menyerang dengan membabi-buta. Jika terus seperti ini, keselamatan Sasuke bisa terancam.
"Aku akan membawa kalian ke neraka bersamaku!" penjahat itu berteriak keras dengan penuh keyakinan. "Kalian tidak akan lolos dariku!" tambahnya lagi yang kini tertawa puas dan membahana.
Naruto mencoba untuk bersikap tenang, walau tidak bisa dipungkiri jika jantungnya berdetak semakin cepat. Beruntung dia mengenakan rompi hitam saat ini, hingga Sasuke tidak tahu jika darah Naruto terus merembes keluar dari perutnya. Otaknya berputar, mencari cara aman agar mereka bisa menuruni tangga berjalan yang berjarak beberapa meter dari mereka, dengan selamat. Ruangan ini terlalu terbuka dan hanya ada sedikit tempat untuk bersembunyi. Sialnya lagi, pintu darurat berada lebih jauh dari tangga berjalan itu.
Dia harus bisa membawa Sasuke turun ke lantai satu. Naruto yakin jika polisi masih mengepung lantai satu dan keduanya akan aman jika berhasil turun. Tapi bagaimana caranya? Ataukah dia harus menunggu bantuan dan tetap bertahan? Tidak. Tidak ada cukup waktu untuk tetap tinggal. Naruto akhirnya mendorong salah satu troli pakaian terdekat untuk mengalihkan perhatian musuh sementara dia dan Sasuke berlari menuju tangga berjalan. Naruto berlari kepayahan di belakang Sasuke, terus berlari di belakangnya, menjadikan tubuhnya sebagai perisai pelindung Uchiha bungsu.
Letusan peluru kembali terdengar keras. Penjahat itu menembaki troli pakaian hingga beberapa kali. Dia mengumpat kasar dan dengan cepat mengisi pistolnya dengan peluru. Merasa terkecoh, dan marah, penjahat itu keluar dari persembunyiannya untuk mengejar Naruto dan Sasuke yang kini sudah ada di lantai satu. Dan desingan peluru polisi pun menyambutnya saat pria itu menampakkan diri untuk memburu Naruto dan Sasuke.
Di luar gedung perbelanjaan, Kurama, Itachi dan Deidara terlihat cemas dan khawatir memikirkan keselamatan Naruto dan Sasuke. Wartawan yang sudah mencium kejadian ini berkumpul untuk mengambil gambar tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Barikade polisi menahan dan memaksa para wartawan yang haus berita itu untuk menjauh agar tidak mengganggu.
Kurama hanya bisa menatap penuh rasa takut saat suara desing peluru kembali terdengar dari dalam gedung hingga berkali-kali. Di dalam hati dia terus merapalkan doa untuk keselamatan Naruto dan Sasuke. Kurama akhirnya bisa bernapas lega saat beberapa detik kemudian Naruto dan Sasuke keluar dari dalam gedung, diikuti oleh beberapa polisi di belakang mereka. Senyum lebar menghiasi wajah adiknya itu sebelum akhirnya perlahan menghilang dan Naruto jatuh tak sadarkan diri.
Seorang polisi langsung menarik Sasuke mundur. Pemuda itu terlihat sangat shock saat mendapati lantai tempat Naruto terbaring kini digenangi darah merah yang pekat.
"Bersihkan lokasi!" teriak Kimimaro lantang sambil berlari kencang ke arah Naruto. Dengan gerakan cepat dia berlutut di samping Naruto, memeriksa keadaan rekan setimnya itu. Dia membuka kotak medis yang disodorkan tim medis kepadanya, mengeluarkan kain kasa dari dalamnya untuk menghentikan sementara pendarahan pada luka tembak di perut kanan Naruto.
Sasuke yang ditarik semakin jauh tidak bisa melepaskan tatapannya dari tubuh Naruto yang terbaring tak berdaya. Mata dan mulutnya seolah terkunci saat ini. Naruto tertembak? Dia tertembak demi melindunginya? Kenapa? Seharusnya dia yang terbaring saat ini, bukan Naruto. Kenapa? Kenapa harus Naruto yang menjadi tamengnya? Kenapa, Tuhan? Kenapa? Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, membuatnya mual dan sakit.
Suara sirine ambulan bersahutan, menghebohkan keadaan disekitarnya. Anggota medis tambahan berlarian turun dari dalam ambulan dan menurunkan peralatan-peralatan canggih untuk pertolongan pertama. Shikamaru dan Kakashi berlari mendekat, sebelum akhirnya mereka kembali ke tempatnya semula, membantu barikade polisi menahan wartawan yang bergerak semakin dekat.
"Tidak! Tidak! TIDAK!" raung Kimimaro panik saat tidak merasakan detak jantung dan denyut nadi rekan setimnya. Pria itu langsung memberikan napas buatan, menekan dada Naruto beberapa kali lalu menempelkan telinganya di dada Naruto.
Defibrilator atau alat kejut jantung pun segera disiapkan. Seorang petugas medis mengoleskan jeli pada paddle dan setelah siap dia menyerahkannya pada Kimimaro. "200 joule, all clear?!" Kimimaro memberi aba-aba.
"Clear," sahut petugas medis yang menyiapkan defibrilator. Sesaat dada Naruto terangkat ke udara setelah alat itu bekerja di dadanya. Baik Kurama, Sasuke maupun yang lainnya hanya bisa menatapnya dari kejauhan dengan rasa takut, tegang dan ngeri. Bagaimana jika Naruto tidak selamat? Rasa takut itu pun menghampiri mereka dengan cepat.
"300 joule, all clear?!" seru Kimimaro keras. Alat itu kembali bekerja namun Naruto masih tidak bereaksi. Jangan tinggalkan kami! Kumohon... ratap Kimimaro di dalam hati. "Sekali lagi. 300 joule, all clear?!"
Dan keajaiban pun terjadi. Detak jantung Naruto kembali walau sangat lemah. Kimimaro tersenyum senang karenanya walau tugasnya belum berakhir. Dia harus membawa Naruto ke rumah sakit dan melakukan operasi untuk menghentikan pendarahan serta mengeluarkan peluru yang bersarang di perut rekannya ini.
Naruto dinaikkan ke atas tandu sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil ambulan yang akan membawanya ke rumah sakit militer. Alat bantu pernapasan dan pendeteksi jantung pun sudah dipasang oleh salah satu petugas medis, sementara Kimimaro menghubungi pihak rumah sakit untuk menyiapkan ruang operasi serta persediaan darah untuk Naruto.
.
.
.
Tiga bulan berlalu setelah kejadian itu, dan surat dari Naruto pun akhirnya tiba di tangan Kurama, siang ini. Sesaat Kurama bergeming, menatap surat beramplop kuning lemon itu sendu. Tangannya sedikit gemetar saat dia membuka amplop dan mengeluarkan kertas surat dari dalamnya.
Teruntuk Kakakku tersayang; Kurama,
Saat kau menerima surat ini, itu berarti aku sudah pergi meninggalkan negara ini. Jangan menekuk wajahmu seperti itu! Sungguh, kau terlihat sangat jelek jika merengut dan berwajah masam. Kau terlihat sangat tampan saat tertawa. Apa kau tahu? Ck, apa kau tidak pernah berniat untuk menjadi seorang aktor? Kurasa kau memiliki bakat terpendam dalam hal itu. Buktinya kau bisa mengelabuiku dan teman-temanmu saat aku berada di sana bersamamu.
Aku baru sadar setelah Paman bicara jika rasanya tidak mungkin jika kau bisa melupakanku begitu saja. Well, satu hari rasanya masih terasa wajar, tapi selama tiga hari? Rasanya tidak mungkin. Karena itulah aku yakin jika sebenarnya kau sudah mengingatku. Apa kau tetap berpura-pura tidak mengingatku karena takut aku pergi? Tolong maafkan aku jika kejadiannya memang seperti itu.
Kurama memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya membuka lembar kedua dari surat Naruto.
Maaf aku baru memberimu kabar. Paman mengatakan jika aku koma selama hampir tiga minggu, tapi sekarang aku sudah sembuh dan bisa kembali berlatih. Rasanya sangat menyenangkan bisa terbebas dari rumah sakit dan bau obat-obatan yang menyengat.
Ah, tolong katakan pada Sasuke jika aku baik-baik saja. Lukanya memang berbekas dan sepertinya tidak akan hilang seumur hidupku, karena itu tolong katakan satu hal lagi padanya; jika tidak ada satu pria pun yang bersedia menikahiku karena bekas luka ini, maka aku akan datang kepadanya, meminta pertanggungjawabannya untuk menikahiku. Katakan padanya persis seperti yang kutulis! Mengerti?!
Kurama tersenyum kecil dibuatnya.
Sampaikan salamku pada Sasuke, Itachi, Dei-nii dan yang lainnya. Maaf karena lagi-lagi aku pergi tanpa mengatakan apapun. Aku takut. Aku sangat takut jika aku menemui kalian lagi maka pendirianku akan goyah.
Jangan mengkhawatirkanku! Aku akan menjaga diriku dengan baik. Kalian adalah angin bagiku. Aku mungkin tidak bisa menggenggamnya, tapi aku bisa merasakannya dimana pun aku berada. Ah, apa aku sudah bilang jika aku menyayangi kalian? Sekarang aku katakan; aku sangat menyayangi kalian. Karena itu, tolong jaga diri kalian dengan baik!
Setelah aku merasa lelah, bolehkah aku kembali pulang ke tengah-tengah kalian? Jangan marah jika tiba-tiba aku datang kembali pada kalian. Dan jangan mencariku! Tolong sampaikan itu pada Ibu. Berhenti mencariku. Katakan aku mencintainya, dan aku juga mencintaimu, Kak! Aku menyayangi kalian semua. Sampai jumpa lagi!
Penuh cinta,
Naruto Namikaze
"Aku akan menunggumu dengan sabar hingga kau kembali," janji Kurama lirih pada angin yang berhembus membawa udara dingin akhir musim gugur.
.
.
.
END
Seperti yang saya beritahukam dichap-chap sebelumnya, fic ini hanya terdiri dari 5 chap saja dan akan dilanjut dengan sequel. Untuk sequel, akan membahas apa yang terjadi setelah kejadian penyanderaan itu, dan menceritakan kehidupan mereka setelah dewasa, karena itu ratednya akan naik jadi 'M'. Fic dengan rated 'M' bukan hanya fic yang mengandung unsur seksual saja, tapi fic yang di dalamnya mengandung kekerasan, dan kata-kata kotor/kasar juga masuk ke dalam rated ini. Contoh pertanyaan yang saya dapat dific lain : Rated 'M' kok nggak ada lemonnya? Bahkan ada oknum yang marah karena fic rated 'M' tapi nggak ada lime/lemon, padahal jelas-jelas dibeberapa chapternya menyuguhkan adegan kekerasan bahkan pelecehan yang tidak cocok untuk bacaan remaja.
Ok, kembali lagi ke topik utama, terima kasih untuk semua dukungannya. Saya sama sekali tidak menyangka jika fic ini bisa mendapat banyak fav dan dukungan seperti ini. Saya jadi mengharu-biru. ^-^
Semua review readers saya baca dengan hati berbunga-bunga. Tidak jarang beberapa tanggapan dari readers membuat saya tersenyum, tertawa bahkan tersulut semangat untuk melanjutkan chapter selanjutnya secepatnya. Dan seperti biasa, saya tidak bisa membalas dan menjawabnya satu per satu, saya hanya bisa mengucapkan terima kasih banyak kepada kalian semua yang sudah bersedia meluangkan waktu untuk meninggalkan jejak di kotak review. Sekali lagi, terima kasih, dan sampai jumpa di sequelnya!
Coming soon - To Be With You.
#WeDoCareAboutSFN
