-0-0-0-0-0-0-0-0-0-

Author : Hyomi

Cast : Hwang Zi Tao, Lu Han, Do Kyungsoo, Wu Yifan, Kim Jongin, Oh Sehun

Genre : Romance, Drama, GS

Rated : T

Note : This FF is officially mine, if you don't like, don't read. Ok!

GS! Typos! Gak pake yang namanya EYD! Bahasa Ancur! Gak Karuan!

And, Review Jusseyo!~^^~

.

CH : 2 Recite

.

~^ Affectionate ^~

.

Tao menyebrang jalan penuh kendaraan dengan hati-hati dan menggerutu pelan saat tak mendapati sedan putih Kyungsoo terparkir di dekat cafe. Bukankah Kyungsoo sendiri yang bilang bahwa ia sudah ada di sekitar sini? Akhirnya dengan mengetik ponselnya Tao duduk di sebuah bangku panjang dekat pohon.

"Zitao-ah..." Tao mengalihkan pandang ke sebuah mobil hitam metalik yang baru saja berhenti didepannya.

"Kyung?.." Tao menghampiri Kyungsoo yang ternyata memanggilnya dari dalam mobil.

"Panda nuna! Annyeong!~" seorang anak kecil melambai semangat pada Tao, dengan aksen cadelnya.

"Oh.. Namsooie..." Tao melambai balik pada bocah di pangkuan Kyungsoo sambil tersenyum.

Tu kan panda lagi... -Tao

"masuklah!" titah Kyungsoo singkat.

Hanya ada hening yang tercipta sejak Tao mengucap salam pada seorang lelaki tampan di samping Kyungsoo. Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai Kai. Tao tak mempunyai gambaran jelas tentang siapa dia, mungkin pacar baru Kyungsoo, atau saudaranya mungkin, tapi ia agak ragu dengan yang satu ini, sebab sepertinya hubungan Kyungsoo dengan lelaki ini agak aneh. Bahkan Namsoo si bocah tiga tahun itu juga ikut diam, hingga Zitao meliat Namsoo merangkak mendekati Kai dan mulai berbisik.

"Appa!" Mata Zitao melebar mendengar panggilan Namsoo pada Kai.

"Appa, Soo, pengen makan Es Klim, tapi kata eomma, Soo nggak boleh makan es klim kalo malam-malam." Soo berbisik lucu, cadel khas anak kecil.

"kalau eomma bilang nggak boleh, berarti Soo harus nurut sama eomma! Ne?" Kai ikutan berbisik pelan.

"Ahh.. appaaaa..." Namsoo menjauhi Kai dan kembali duduk dengan Kyungsoo yang entah dimana pikirannya berada.

"tapi besok pagi bolehkan? Ya kan Kyung?" Kai, Namsoo, bahkan Tao menatap Kyungsoo dari belakang.

"Eh? Ne, iya boleh..." Kyungsoo mengelus rambut hitam Namsoo sayang, Namsoo bersorak senang lalu tersenyum menampakan giginya.

~^ Affectionate ^~

Tok tok...

Zitao mengetuk kaca gelap sebuah mesin didepannya. Kaca gelap itu perlahan turun menampakan wajah cantik seorang yeoja dengan bayi yang tertidur di pelukannya. Tangan Zi Tao terulur membelai pipi gembul Namsoo sebelum mendekatkan wajahnya ke telingan sahabatnya itu.

"Kau berhutang padaku, Kyung.." suara lirih Zitao yang mendera telinga Kyungsoo membuat si pemilik membulatkan matanya. Ia paham hutang apa yang akan ditagih Zitao padanya. Penjelasan, ya itu dia. Penjelasan tentang mobil siapa yang baru saja ditumpangi Zitao? Mengapa Kyungsoo bisa bersama pria yang baru saja mengenalkan dirinya sebagai suami Kyungsoo? Padahal Kyungsoo pernah berkata bahwa ia sudah bercerai. Dan mengapa Kyungsoo tak ingin membicarakannya?

"sampai jumpa besok, Kyungsoo unnie... dan gomawo... Kai oppa!" sambung Zitao kembali berdiri tegak dengan suara manisnya. Kyungsoo sedikit bergidik ngeri, sedang Kai—suami Kyungsoo—tersenyum sekilas lalu mulai menjalankan audi hitamnya setelah yakin ZItao masuk ke dalam apartemennya.

"Kita perlu bicara..." ucap pria di balik kemudi saat yakin sudah keluar kompleks apartemen itu.

"tolong antar kami pulang..." Jawab Kyungsoo datar, tanpa berniat menyetujui permintaan Kai.

"hanya sebentar, Kyung..." Kai mengalihkan pandangannya dari jalan raya untuk menatap wajah istrinya itu.

"..."

"Oh, ayolah... aku tak mau berargumen di sini, Namsoo akan bangun..."

"just... take me home... my apartmen, ok!" potong Kyungsoo singkat.

"aku sudah janji dengan putraku, Kyung! Dan kau juga berhutang padaku..." sahut Kai tegas menekan kata 'putraku' yang membuat Kyungsoo menghembuskan nafasnya berat. Pasalnya Namsoo telah meminta appanya berjanji untuk tidak meninggalkannya malam ini. Dan audi hitam itu melaju ke arah salah satu kompleks perumahan elit di Gangnam, bukan ke apartemen Kyungsoo yang ada di dekat kantor agensi Kim. Meski Kyungsoo menolak, jika sikap Kai sudah begini, tak akan ada yang bisa mengubah pendiriannya. Kecuali ibu tirinya mungkin, itu menurut Kyungsoo.

~^ Affectionate ^~

Pintu rumah mewah itu terbuka saat Kai selesai memutar kunci. Dengan sigap ia menahan kayu berukir itu dengan tangan, mempersilahkan Kyungsoo dan Namsoo masuk lebih dulu. Kyungsoo tahu ia tak kan bisa dengan mudah lolos dari rumah yang dibeli mereka berdua dulu sebelum Kyungsoo pindah dari sini ketika Kai berpamitan pergi padanya di akhir bulan November 2 tahun lalu. ia segera membaringkan putra 3 tahunnya di sofa lembut. Ia merapikan rambut hitam kelam Namsoo yang sudah lumayan panjang dengan sayang. Kai mendekati Namsoo, dan hendak menyentuh putranya sebelum tangan Kyungsoo menepisnya.

"Jangan sentuh dia," Kyungsoo berkata dingin.

"tapi dia putraku, Kyung..." Kai menatap tak percaya pada Kyungsoo, bagaimana bisa ia menjauhkan Kai dengan darah dagingnya sendiri, dimana hampir 2 tahun mereka tak berjumpa.

"memang, tapi... jangan terlalu dekat..."Kyungsoo kembali menunduk menatap putra kecilnya yang tidur damai.

"Kyung... bagaimana bisa? Aku.." Kai hendak protes lagi saat dilihatnya Namsoo bergerak tak nyaman.

"hahh... Kita bicara setelah Namsoo tidur di kamarnya." Kai lalu menggendong Namsoo dan membawanya masuk ke kamar bayinya dulu. Kyungsoo sengaja membiarkannya agar ia bisa sendirian.

Dirasanya Kai benar-benar sudah pergi, Kyungsoo mendongak sambil mengerjapkan matanya yang merah dan terasa panas itu. Dia menggigit bibirnya saat dirasannya pertahanannya hancur. Sudah semenjak tadi ia menahan bulliran air mata yang ingin tumpah, saat Kyungsoo masuk ke rumah orangtuanya, dan dikagetkan dengan Kai yang bermain dengan Namsoo. Ia sungguh takut akan kedekatan Namsoo pada Kai, dengan fakta bahwa malaikat kecilnya selalu bertanya tentang appa nya bahkan sebenarnya ia pun merindukannya. Namun ia takut Namsoo akan lebih memilih appa nya ketimbang dirinya. Bukan ia berniat menjauhkan Kai dengan Namsoo, tapi hanya saja ia takut Namsoo pergi...

"pabbo...hiks..." Kyungsoo memukul dadanya yang mulai terasa sesak akibat tangis yang ia tahan. Ia membekap mulutnya berharap dapat meredam tangisnya, ia tak mau ambil resiko ketahuan menangis di depan Kai, sehingga ia berjalan menuju dapur. Karena dulu ia biasa menenangkan diri di dapur. Ia berhenti sejenak di dekat tangga yang ada di dekat kamar Namsoo. Dilihatnya Kai sedang mengganti baju Namsoo dengan piama yang belum pernah Kyungsoo lihat. Namsoo yang setengah bangun itu hanya menurut saja dengan appanya.

Hatinya kembali meronta menyaksikan itu, tapi lilin yang sudah mencair akan sulit kembali sempurna ke bentuk aslinya. Beberapa detik matanya bertemu dengan Kai yang hendak keluar, dan dengan segera ia berlari ke tujuan awalnya.

Di depan wastafel, ia membasuh mukanya, meski air matanya tak berhenti jatuh. Dan itu malah membuat tangisnya semakin menjadi.

"Kyung? Kau kenapa?" Kai dengan khawatir menyusul Kyungsoo. Saat tiba disana, Kyungsoo sudah dalam keadaan kacau, dengan artian, matanya yang sembab tak kunjung behenti menangis, rambut depannya yang basah, dan tubuhnya yang sepertinya akan...

Grep

"Kyung, gwenchana? Mana yang sakit?" Kai bertanya protektif setelah menangkap tubuh yang baru saja ambruk dipelukannya.

"nae maeum...maeum.."

Kyungsoo bergumam pelan dan memukul pelan dadanya. Dengan sigap Kai mengangkat tubuh rapuh Kyungsoo lalu membopongnya ke kamar. Dalam langkahnya, Kai tanpa henti berucap maaf. Dikecupinya dahi Kyungsoo saat ia mengerti apa yang Kyungsoo maksud.

Hatinya...

Ia gagal menepati janji yang diucapkkannya sendiri pada Kyungsoo dibawah sinar senja kala tahun itu... - Kai

~^ Affectionate ^~

Disebuah kamar dengan cahaya minim dari tirai yang membentuk celah kecil, duduklah seorang yeoja dengan mata yang masih menutup. Sebuah ponsel bergantungan hijau tertempel di telinganya, ia menguap berkali-kali, dan hanya berguman menanggapi si penelepon di seberang sana.

"...jangan lupa, pukul 9 di kantorku..." suara di balik benda persegi itu menginterupsi untuk ke tiga kalinya semenjak Zitao menggeser kotak hijau di layar ponselnya..

"...neehhh... aku tak akan lupa, Minseok-unnie.." jawabnya sambil menguap.

"Baiklahh, Zitao! kau tak kan percaya jumlah cek yang kuterima... kau tak boleh mengecewakanku kali ini Taozi..." Minseok berseru bahagia seperti habis memenangkan sebuah acara fashion week di Paris.

"memang siapa yang memutuskan berkerjasama denganmu? Apakah seorang yang bisa menciptakan emas dengan jentikan jari?" Zitao bertanya asal-asalan, mencoba membuka kelopak beratnya yang baru tertutup pukul tiga malam setelah ia kembali dari Bar milik Key.

"tepat sekali, kau pasti kenal siapa pemilik Grup bukan?" pantas saja suara bosnya terdengar sungguh excited, siapa yang tak kenal mega grup bernama yang dipimpin Wu Zhoumi. Apa lagi Zitao yang memang mengenal beberapa colega sang ayah disana...

"tentu... " Zitao muai mengerjapkan matanya yang terasa perih demi menghormati suara Minseok yang ada di ponselnya itu. Yah walaupun hanya di ponsel tapi Kim Minseok tetaplah seorang Sajangnim nya.

"Dan... anaknya lah yang tiba-tiba datang padaku!" tambah Minseok memperjelas siapa klien kami.

"ohh... Kris ge..." Zitao mengangguk-angguk mengerti,

"Eh? nugu?" Tanya Minseok heran.

"Wu Yifan right?" Balik Zitao heran.

"how do you know he's Wu Yifan?" selidik Minseok di ponsel.

"Just..." Tao mengerutkan dahi, Hell yeah, bagaimana ia tak kenal Wu Yifan atau Kris? Jika tuan Wu ...

"Kita akan menemuinya pukul 9! Tak ada penolakan, OK-!" – Pip – Minseok memutus sambungan.

Tiba-tiba...

"Mwo? Wu Yifan!? ... Hell No! ,,," seru Zitao mulai heboh dalam keadaan 100% sadar. Dan terdengarlah ricuh kata makian berbahasa cina dari bibir pout Zitao.

~^ Affectionate ^~

Gesekan lantai dengan red flat shoes seorang yeoja terdengar heboh menyusuri koridor lantai 9 dimana terdapat ruang rapat direksi, kantor-kantor para petinggi, dan yang menjadi tujuannya adalah kantor seorang CEO muda bernama Kim Minseok. Dengan tergesa ia mencari ruangan yang penuh kertas dengan koleksi garment bermacam bentuk dan warna. Setelah berbelok dua kali, di ujung terlihatlah pintu besar yang terdiri dari dua balok kayu dengan tulisan 'CEO Kim'. Tanganya dengan ragu terulur hendak mengetuk, tapi langsung ditariknya lagi membayangkan apa yang akan dijumpainya.

Entah sudah berapa kalinya ia datang kemari, dan bertemu pimpinannya ini, tapi kali ini terasa sangat berat hanya untuk mengetuk daun pintu didepannya. Mengingat suara Minseok yang menyapanya tadi pagi, membawa sebuah berita yang bisa membuatnya uring-uringan hingga membuatnya hampir menggunakan sepatu yang bersisihan.

"kenapa hanya diam disana, sayang?" Zitao tersentak oleh suara merdu seseorang. Ia menoleh dan langsung berhadapan dengan seorang Kim Jongdae, yang berstatus sebagai suami resmi dari Kim Minseok.

"eh?... Jongdae-ssi, annyeonghaseyo!" Tao membungkuk hormat menimbulkan tawa kecil Jongdae.

"wae? Kenapa tiba-tiba formal begini? Tak biasanya..." sahut Jongdae dengan senyuman.

"a-anniyo, oppa... aku dipanggil sajangnim!" Zitao melirik tangan kanannya yang terpasang sebuah jam Dior tembaga denga taburan amethys pemberian ibunya.

"ok kalau begitu ayo masuk..." Chen berkata sambil mengulurkan tangan untuk menyentuh besi berukir yang tertempel padu di pintu.

"Oppa CHAMKAMA..."

Cklek

Zitao berharap suara itu hanya ilusi, bukan kenyataan, kali ini ia sungguh merutuki nasibnya bertemu dengan Kim Jongdae yang dengan seenaknya membuka pintu tanpa memperhitungkan pikirannya. Tapi bukan sepenuhnya salah sih, memang siapa yang tau hati seseorang?

"annyeong?" Jongdae atau seorang produser musik terkenal dengan nama Chen, menyapa ruangan.

"Oh, Jongdae-ah" Suara Minseok mendera telinga Zitao yang masih menutup matanya. Sungguh ia belum siap berada di ruangan Minseok, apalagi jika..

"Chen-ah..." sebuah suara berat menyusul menyapa Kim Jongdae dengan nada akrab. Zitao yang masih berdiri di pintu seketika membuka matanya dan langsung menoleh pada seorang namja yang sangat familiar di kepalanya. Bahkan sebelum melihat ia sudah tahu siapa pemilik suara itu.

"Kenapa diam? Duduklah Zitao..." Minseok memberi kode agar agar ia duduk di sebelahnya.

"Nihao, love. Lama tak jumpa..." belum sempat Zitao duduk dengan benar, pemuda bernama Wu Yifan ini menyapanya dalam bahasa Cina lengkap dengan senyum miringnya. Zitao menunjukan ekspresi bahwa ia akan muntah.

"Kalian sudah kenal?" Tanya Minseok kaget. Seketika itu Kris dan Zitao saling menatap, Zitao dengan tatapan galaknya yang tetap lucu, Kris dengan tatapan polosnya yang membuat Zitao ingin sekali membuatnya lenyap di ujung langit.

"Tentu saja, Taozi itu adal..." Kris beralih menatap Minseok dengan senyuman sebelum Tao memotong ucapannya,

"Mantan... pacar, iya Yifan-ge adalah mantan pacarku." Sahut Zitao meremas ujung bajunya, berusaha menutupi gugupnya. Dan saat itu juga tiga pasang mata tertuju padanya.

"Mwo?" Minseok menatap tak percaya pada Zitao yang terlihat aneh dimatanya, matanya sungguh mengintimidasi Zitao hingga ia tak mampu menatapnya lama.

Kris menaikan alis menuntut sebuah penjelasan. Karena kenyataannya Yifan tak pernah sekalipun menjadi pacar Huang Zitao.

Chen hanya tersenyum geli dengan kelakuan Zitao, karena tanpa Zitao ketahui, Chen mengetahui semua masalahnya dengan Yifan. Dan satu lagi yang tak Zitao ketahui tentang Chen yang biasa ia curhati, Chen yang awalnya hanya teman bisnis Yifan ternyata adalah sahabat lama Yifan sendiri.

Dan satu hal yang terfikir oleh gadis cantik bernama Huang Zitao sekarang!

Tuhan tolong bunuh aku saat ini juga!- Tao

~^ Affectionate ^~

Ting Tong... Ting Tong...

Seorang yeoja mungil terlihat kesal memencet-mencet bel di sebuah pintu bernomor 611. Sudah ke lima kalinya dia memenceti benda hitam itu dengan ganas. Hampir saja ia ingin merusak mesin kode sialan itu degan stileto 15 cm-nya karena sialnya ia lupa kode baru apa yang dipasang namja itu. Dan seketika di otaknya menampilkan sebuah gambar yang membuatnya merutuki dirinya sendiri. Kedua tangannya meletakan kedua plastik putih yang terisi penuh itu ke lantai. Dengan cepat dia mengaduk isi ransel kuningnya dan mengambil sebuah card putih dengan beberapa lubang yang membentuk pola tertentu, ya sebuah kunci darurat.

Klik

"Yay, berhasil..." serunya dalam hati, lalu tanpa ribut lagi ia masuk dan kembali menutup pintu yang langsung otomatis terkunci dibelakangnya.

Dibawanya kedua belanjaan itu menuju dapur. Yeoja berambut emas itu mulai menata bawaannya di lemari es dengan rapi dan menyisakan beberapa bahan untuk di masaknya pagi ini. Tapi sebelum memulai ritual paginya di apartemen rekan kerjanya ini, Ia terlebih dulu ingin melihat keadaan sapi tidur menjengkelkan ini.

Ia berjalaan pelan hingga sampailah di depan sebuah pintu yang tak jauh dari dapur. Kenop pintu berputar dibawah jemari halusnya, menampakan sebuah kamar yang didesan maskulin yang didominasi dengan warna gelap yang elegan. Perabotan yang selaras dengan dinding membuat ruangan ini terasa mewah untuk ditempati seorang namja yang hidup sendiri. Sebuah mp3 menyala di salah satu nakas dengan suara pelan, menyenandungkan musik lulaby yang melambai seakan menghipnotis mata untuk tetap damai meski terjadi gempa sekalipun.

Perlahan dia mendekati gundukan dibawah selimut tebal yang terdapat di ranjang. Dengan cepat dan kuat ditariknya pembungkus itu hingga nampaklah seorang namja yang bertelanjang dada dengan sebuah celana pendeknya masih melayang didunia mimpi. Yeoja itu sedikit tersentak hingga sebuah semu merayapi pipinya. Tapi ia butuh membangunkan pria pemalas ini dengan segera. Ia menepuk-nepuk serta mengoyang lengan itu dengan kuat.

"Nanti saja, eomma.."

"Yakhh Oh Sehunnn... Ihhreonahh..." sebuah suara serak mengerikan terdengar dari yeoja yang baru saja bersuara ini.

"Kenapa suaramu seperti nenek sihir?"

Untuk kedua kalinya decakan lucu keluar dari bibir tipis yeoja pirang ini, setelah mendengar igauan seorang Oh Sehun yang malah mengganti posisi tidunya. Sebuah ide muncul dikepalanya dari berteriak yang dapat memperburuk tenggorokannya, hingga mengguyur namja ini dengan air dingin langsung dari kamar mandi. Tapi ia lebih memilih satu ide gila dari sekian banyak ide gila lain dikepalanya, yang sudah 'pasti' bisa membangunkan manusia yang masih bergelung diranjang itu.

Ia mencekik leher Sehun dengan semua kekesalannya hingga tak ada lagi nafas yang berhembus. Senyum mengerikan tercetak mulus di wajah imut yeoja pirang itu, dan seketika memudar saat khayalan instannya pudar. Faktanya kini malah ia berjongkok di depan ranjang gelap itu, dan mulai menepuk-nepuk pipi putih Sehun sebelum menciumi kedua matanya lalu pindah ke pipi sebelum menyentuh bibir tipis aktor tampan bermarga Oh itu. Sehun yang terusik pun menampakan senyum yang juga membuat yeojachingunya ikut tersenyum menang, yang dengan seketika menghilang begitu Sehun membalikan badanya membelakanginya. Dengan kesal ia memukul bahu kanan Sehun, sepertinya ia akan benar-benar melakukan aksi di kahayalan singkatnya tadi,

"Yaaakkkhhhh... uhuk..uhuk..aappooohh.."

"Luhanniee! Gwenchana?"

Sehun yang tadi hendak mengusili Luhan dengan tak mau bangun, malah sudah terduduk khawatir memegang bahu Luhan. Alhasil wajahnya yang tadi terlihat damai sekarang sudah ternodai dengan rupa khawatir.

~^ Affectionate ^~

"Ini..."

Terlihat Sehun yang sudah mengenakan kaos menyerahkan sebuah gelas berwarna coklat pada Luhan. Luhan yang sudah duduk di meja dapur dengan muka tertekuk sebal menerima dengan ogah-ogahan saat mengetahui cairan di dalam gelas itu tanpa sekalipun berniat meminumnya. Karna ia tahu racun apa yang diberikan Sehun untuk meredakan sakit tenggorokannya. Racun berwarna kehijauan yang berbau mint dengan kadar kepahitan yang bisa melumpuhkan fungsi pengecapnya, setidaknya itu menurut Luhan.

"apah tak dah yanghh lainnh?" serak Luhan pada Sehun yang hanya menautkan kedua lengannya di depan dada.

Luhan menggerakan tangannya membentuk sebuah bahasa isyarat, didukung bibirnya yang berbicara tanpa suara pada Sehun, seolah mengucapkan,

"apa harus ini? berikan aku yang lainnya!"

"Kau taulah itu obat paling manjur, Lu! cepatlah minum!" Luhan menatap melas dengan mata rusanya dan hanya wajah datar Sehun yang menyapanya.

Luhan mengeluh dengan lucu sebelum mulai meneguk habis isi gelasnya. Tubuhnya bergidik, hidungnya mengerenyit akan bau herbal entah apa namanya, dengan lidah dijulurkan jijik. Matanya mengerjap-ngerjap beberapa kali sebelum menatap Sehun yang malah sedang terkekeh karenanya.

Chup

"Special morning kiss.. haha..."

Luhan pun mengusir Sehun dengan paksa, dan menyuruhnya untuk mandi, dengan isyarat tentunya. Ia turun dari meja, mengikat rambut emasnya dengan rapi setelah itu mulai menyiapkan apa saja yang ia butuhkan. Luhan menakupkan kedua tangannya didepan wajah masamnya, lalu menarik nafas sebelum menghembuskannya. Dan saat ia menyingkirkan tanganya, terlihatlah wajah penuh senyumnya. Ia menyebut ini sebuah ritual meditasi singkat, yang kadang dibutuhkannya saat ia harus profesional dalam pekerjaannya, dan menurutnya memasak juga pekerjaan yang butuh ke-profesionalan.

Suara pisau yang terbentur kayu serta air yang mendidih menguasai dapur. Senandung kecil yang hanya dilakukan dari fikiran Luhan membuat ceria pekerjaannya. Tak berapalama, suara klik kompor yang dimatikan terdengar. Tandanya semua masakan telah siap.

"Lu... jadwalmuari ini, 09.30 ada pemotretan outdoor dengan Oh Sehun, jam 1 siang recording off-air di MBC, lalu di KBS, jam 4.15 sore di Fashion week dengan.. em, Zitao dan Lay, pukul 5 sore ke kantor, dan 7.30 kau ada kencan dengan Oh Sehun hingga pukul... emmmmm... hingga...pagi!"

Sehun muncul dengan sebuah tablet dalam balutan kaos putih berjaket dark grey serta skiny jeans saat Luhan meletakkan dua gelas susu di meja makan.

"aku benci pukul sembilam tiga puluh hingga lima sore, tapi aku suka kalimatmu yang terakhir..." ucap Luhan lancar sambil menjentikan jari. Ia terdiam sesaat, dan...

"Yay! Suaraku...aaa~" Luhan mulai bersenandung sambil berputar dan berhenti tepat di depan Sehun. Ia berjinjit mengecup kedua pipi Sehun dan langsung masuk ke dapur lagi.

"itu ucapan terimakasihku..." ucap Luhan. Sehun tertawa senang melihat Luhan yang ceria kembali. Lalu ia teringat pekataan Luhan tadi..

"Ya! Jadi kau tidak suka jadwal pemotretan denganku?" seru Sehun dengan sedikit cemberut.

"Pabbo... mana aku suka, jika High Cut ambil tema saja se-mesum dirimu..." Luhan menjulurkan lidahnya seperti anak kecil yang mengejek temannya.

"tapi kau akan merasakan ke-mesuman yang lebih berkelas dariku, Baby Lu~" Kedua alis sehun naik turun saat ia berbicara.

"Jangan panggil aku dengan sebutan itu... menjijikan..." Luhan mengerenyit aneh.

"aku tahu kau menyukainya.. ya kan? Baby Lu... Baby Lu... Luhan-ku sayang?"

"Shut up! Oh Sehun!"

"Ya! Panggil aku oppa! Aku lebih tua dari mu...!"

"Siiireooo... weee"

"Ya! Oh Luhan!"

"Sejak kapan namaku berubah?"

"Sejak kau membuatku jatuh cinta, Lu sayang!"

"Oh My God! Just Get Lost! Oh Sehun!"

"Love you too, Hannie..~"

God! He's an asshole but I Love him so much! - Luhan

~^ Affectionate ^~

"Mama~" Seru gadis cilik itu berlari ke arah ayunan dimana sang ibu sedang duduk.

"Daemi-ya, hati-hati..." Minseok merentangkan tangannya lalu memeluk lembut si gadis cilik.

"Mama, Daemi mau pulang!" Daemi bergelayutan di lengan sang Mama dengan sebuah aegyo khas anak kecil.

"Daemi ingat kata Jongwoon-harabeoji kan? Daemi belom boleh pulang..."

"Appaaa..." Daemi pun beralih pada lelaki di samping mamanya. Ia hanya tersenyum,

"patuhi eommamu, Daemi-ah..." Bibir mungil Daemi mengerucut sebal saat sang Appa mengusak pelan poni depannya.

"Appaaaa..."

Minseok terdiam menatap foto dibalik figura kaca itu. Pipinya basah tanpa suara, menambah pilu suasana kamar kecil ini. Kamar bernuansa krem dengan banyak gambar lucu di dindingnya, sebuah ranjang kecil dengan beberapa rak di samping kanan kirinya yang didesain untuk seorang gadis kecil. Dulu kamar ini akan selalu ramai dengan suara canda tawa seorang gadis kecil yang sangat ceria. Yang selalu menempelkan gambar-gambarnya di board hitam di dinding, mencecer crayon warna-warninya di karpet pink manis dengan sebuah buku gambar yang terbuka, dan selalu tertidur di atas ranjang berselimutkan tokoh favoritenya, Keropi.

"Appa... apa cita-cita appa dulu?" Tanya Daemin kecil yang masih berusia 4 tahun.

"Cita-cita appa? Cita-cita appa dulu adalah menikah dengan Mama dan bermain denganmu..." Chen menyentil hidung putri kecilnya yang sudah berbaring disampingnya.

"aahhh... appa... bukan ituuu..." Rajuk Daemi imut.

"hahaha... appa dulu bercita-cita menjadi seorang penyanyi... kalau Daemi, apa cita-citanya?" Jawab Chen lembut. Minseok yang ada di pintu kamar tersenyum melihat appa dan gadisnya kemudian ikut duduk di kursi samping ranjang Daemi yang diempatinya bersama Chen.

"Mama... cita-cita Daemi adalah menjadi seperti Mama... membuat baju yang bagus yang dipakai banyak orang.." Tangannya kecilnya terangkat seperti membuat pelangi.

"Kau akan jadi seorang designer yang hebat, sayang!... sekarang ayo tidur, sudah malam..." Minseok dan Chen mengecup puncak kepala Daemi dengan penuh cinta. Lalu keluar kamar setelah mematikan lampu dan membiarkan lampion kecil berbentuk piglet pink menyala.

Minseok menekan hidung babi pink lucu bernamaPiglet itu dan mematikan lampu kamar. Terciptalah gambar-gambar kartun-kartun di dinding dengan cahaya pink yang manis. Gambar-gambar bercahaya itu berputar pelan di dinding layaknya gugusan bintang yang terpancar di planetarium. Kemudian Minseok mendudukan badanya di ranjang bertutup selimut Keropi itu, tak kuat menahan kepalanya yang berangsur pusing, pandangannya mulai blur lagi karena air yang bertambah menggenang di matanya. Kini dadanya ikut naik turun, Minseok berusaha menenangkan dirinya dengan menahan isakannya agar tidak keluar. Hanya agar Chen tak mendengarnya.

Cklek...

"Daemi-ah, ayo bangun..." Minseok melangkah masuk, kemudian ia terdiam lama.

"Kemana Daemi-ku?" Minseok mulai menangis, menyadari kamar putri nya kosong, rapi seperti tak ditempati lama sekali.

"DAEMI-AAHHHH... KIM DAEMI... EODIGA?" Kini Minseok terduduk di karpet soft pink kamar itu. ia mulai histeris dan menyambar figura di salah satu nakas. Sebuah foto dimana seorang gadis kecil berwajah chubby berponi pendek sedang tertawa riang ke arahnya dengan memegangi kedua kepang rambutnya dan sebuah pantai sebagai background nya.

"Daemi-aaahhhh... Mama Bogoshipeo...! Daemi-aahhhhh..." Tangisan Minseok terasa pilu menyayat hati.

Brak

"Minseok-ah... wae geurae?" Chen datang langsung memeluk istrinya yang sedang berteriak memeluk sebuah figura.

"Minseok-ah, sadarlah, kita harus rela." Setetes air mata keluar dari hati seorang Jongdae bukan Chen, tapi sebagai seorang suami yang pilu melihat istrinya yang masih menangisi kepergian putrinya.

"Jongdae-ah... eotteohke? Daemi-ahhh, Jongdae-ah... aku tak bisa... Jongdae-ahh..." Minseok terisak hebat dan berakhir menangis di bahu Chen yang ikut menangis.

Ingatan itu kembali menyerang pikiran Minseok dengan kuat. Rasanya sungguh seperti ribuan palu yang di tempa ke kepalamu secara bersamaan. Hatinya serasa dipenuhi oleh ribuan jarum, dan darahnya seolah mengandung banyak asam yang perlahan menghabisi tubuhnya. Tangisnya pecah, isakan keras, matanya membengkak dengan kantung tebal serta warna merah telah memenuhi matanya. Bukan maksudnya untuk bersedih lagi setelah sekian lama, hanya saja ia ingin melepas rasa rindunya pada sosok putrinya, Kim Daemi. Yang telah mendapat keberuntungan berada disisi tuhan lebih dulu, serta tidak merasakan kejamnya dunia luar yang bergitu kejam. Napasnya tersengal-sengal membuatnya kekurangan udara.

Brak

Tidak itu bukan sebuah flashback lagi, tapi kenyataan dimana pintu kamar ini buka kasar oleh lelaki yang sudah bisa ditebaknya, Jongdae-nya. Suami yang telah menemaninya, menjaganya, mencintainya, merawatnya dengan penuh cinta, dan yang telah ikut memberikan Daemi untuknya.

"Astaga! Minseok-ah, apa yang kau lakukan disini." Chen mengangkat Minseok yang masih terpuruk diatas karpet pink itu.

"Jongdae-ah tolong... sebentar lagi..." Isak Minseok di pelukan Chen. Chen meringis merasakan rasa rindu mendalam yang tengah dirasakan istrinya kini. Entah sudah keberapa kalinya Minseok seperti ini. ia tak bisa menyalahkan siapa pun, tak mungkin ia menyalahkan tuhan yang telah berbaik hati padanya, dan tak ada gunanya ia menyalahkan dirinya sendiri, jika takdir sudah ditulis.

"Minseok-ah, sampai kapan kau akan begini terus?" Chen memeluk erat Minseok, ia merasakan tarikan dipunggunya hasil Minseok yang menggenggam pundak Chen dengan kuat. Ia bisa membayangkan rasa sakit yang dirasa Minseok, karena ia pun merasa sama beratnya melepas putri semata wayangnya itu. Hanya saja ia tak ingin merasa lemah untuk Minseok, ia telah berjanji pada Kim Daemi untuk selalu menjaga, merawat, menguatkan, dan mencintai sang Mama selama hidupnya. Selama nafasnya masih berhembus, ia telah bersumpah dengan hidupnya pada Putrinya.

"Aku janji, ini yang terakhir Jongdae-ah... benar-benar yang terakhir... aku akan melepasnya... Putriku... Daemi-ah... saranghae..."

"Appa wa, Nado saranghae... Daemi-ah..."

~^ Affectionate ^~

.

TBC

Ya, dengan mata sembab Chenmin di FF ini TBC dan dengan mata sembab pula, gue selesai nulis CH 2

Entah gue yang terlalu kebawa emosi dengerin lagu 'Goodbye My Love - Suju' atau apa,

tapi beneran gue nulis bagian Chen ama Xiu itu kaya apa gitu, udah gue nulis ampe subuh, nagis pula, sekarang jadi perih perih

mata gue yang emang udah beneran kaya panda sekarang kaya vampir yang belom minum darah 1 bulan. (iyah gue tau gue lebay)

Hunhan Kaisoo nya udah keluar tuh, Taorisnya sih baru sebiji, tapi next pasti lebih banyak momennya, okok...

-malah curhat-

.

Thanks to and reply :

zoldyk : Thank, you for your review... Gomawo reviewnya^^

Kirei Thelittlethieves : Iya, itu draft ku yang kemarin malah ke-posting... ini udah dilanjut... Gomawo reviewnya^^

Nasumichan Uharu : iya... aduh gimana ya, kayanya iya deh... ini udah update... Gomawo reviewnya^^

Huang Lee : ini udah di lanjutt... Gomawo reviewnya^^

Xyln : aku juga penasaran endingnya... ini udah update super kilat.. kya kya Gomawo reviewnya^^

onkey shipper04 : ntar kalo udah baca lanjutannya jangan kecewa ya... soalnya failed... Gomawo reviewnya^^

kt : oke oke aku Kristao taoris shipper koq... hehe Gomawo reviewnya^^

santaokris :iya nggak papa... BL gak masalah... yang penting jangan bashing gue.. hehe .. Gomawo reviewnya^^

TTy T.T : iya kan emang baru perkenalan... garis besar masalahnya ada disumary.. tapi gagal sumary nya.. silahkan di tunggu aja... Gomawo reviewnya^^

.

Gomawo buat readers ama reviewers ya... mumumu

Ya udah feel nya tergantung yang baca, and biasa...

Jangan lupa Review nya ya... okok!

-23 February 2014-

'04.44'

HBD buat Papa Hyo yang tambah umur hari ini.. (사랑해, 내 아빠^^) - Pris

Gomawo reviewnya^^