Author : Hyomi

Cast : Huang Zi Tao, Lu Han, Do Kyungsoo, Wu Yifan, Kim Jongin, Oh Sehun

Genre : Romance, Drama, GS |-| Rated : T

Note : This FF is officially mine, if you don't like, don't read. Ok!

GS! Typos! Gak pake yang namanya EYD! Bahasa Ancur! Gak Karuan!

CH : 3

.

~^ Affectionate ^~

.

Hyo's right now...

Yahhh.. gue seneng deh responnya positif... untung gak ada yang protes bias kalian gue nistain di setiap ff gue.. hiihi

Ok gue bakal jalasin apa sih kerjaan para tokoh disini... mungkin prolog yang gue tulis kemaren emang ancur jadi malah pada bingung... so this is it..

Kyungsoo : dia designer plus Vice President di Grace. Punya butik bareng Xiu yang dibangun dari jaman minseok lulus, and jadi sebesar Grace gitu

Xiumin : dia juga designer kaya Kyungsoo, tapi dia yang jadi President Director, dia yang punya Grace

Chen : dia produser, komposer, penyayi, plus seorang enetertener...(yah tau lah image Jongdae..) gue juga gak janji chenminnya bakan jadi sorotan soalnya gue lagi fokus ama Taoris ama Kaisoo, yah walau hunhan ma chenminnya nyempil dikit-dikit...

Zitao : dia sebenernya model kalo ada pertunjukan, kadang juga jadi bintang CF, kan Grace selain jalan di fashion, entertain juga di suatu bisnis, lah bisnis itu namanya Virtual, Virtual itu bekerja dalam bidang jasa, jasanya yah,,, penyewaan pasangan yang tentunya hanya kontrak, bisa buat one day date, ato temen kalo mau ke acara resmi gitu, lah Zitao itu ngerangkep kerjaannya. Dan kasus Zitao kemaren dia disewa buat ngaku kalo dia tunangan Yongguk.. gituu..(mudeng ya, kalo nggak tanya ama Zitao aja)

Luhan : dia itu pesis banget ama Tao, model, bitang iklan, tapi dia mulai tenar jadi penyayi solo, yah Luhan itu bisa dibilang Idol... Dia juga kerja di Virtual kaya Zitao, tapi udah out gara-gara jadwalnya mulai Sibuk and dia juga gak enak hati ama bang Hun, walau Sehun gak pernah ngelarang Luhan.

Sehun : Yah dia salah satu aktor, male model, deelel di Grace. Ngikutin Kyumin yang dulunya juga aktor dan aktris...

Kai : yah seperti yang tak diketahui banyak orang, sebenernya Kai itu Wakil CEO perusahaan otomotif di Jerman yang sebenernya punya ayahnya. Dan ayahnya juga masih jadi CEO... gitoh, kalo masalah Kai ninggalin Kyung untuk apa... itu bisa dilihat dibawah ne...

Kris : tau lah kerjaan abang satu ini... gue sebenernya mau buat dia jadi gelandangan, tapi hell yeaa... gak pantes juga ... and monoton dia jadi orang kaya, yang ngurusin salah satu perusahaan keluarganya yang bejibun itu...

Hyo: aduh hyo masih sekolah hehe jadi nanti kalo update nya lama dimaklumi aja... ne (gak ada yang tanya loe masih skull ama udah lulus!)
Yah sekiranya itu aja... ok Bring it back to wanforti (ikutan jessica*) to story...

~^ Affectionate ^~

"Dia tampan bukan?" Lay menyenggol lengan yeoja yang sedang asyik dengan ponsel bergantungan hijau.

Zitao mendongak kearah Lay lalu mengikuti pandangan Lay, seorang model tampan dengan garis muka tegas dan tinggi proposional berjalan melintas didepannya.

"Ah, benar, Woobin memang selalu mempesona..." sahut Zitao lalu kembali ke ponselnya. Lay menghela nafas saat Zitao tak terlalu menanggapinya karena sedang berkirim pesan dengan klien barunya.

"apa klien barumu itu lebih menarik dari acara ini panda?" gerutu Lay saat ia mulai di cueki Zitao.

"Entah, dia lebih rumit dari pada calon pacarmu yang pendek itu Lay!" Sahut Zitao membuat Luhan terkikik pelan. Lay hanya mendelik galak pada kedua temannya itu, dengan cepat ia kembali duduk menyilang, dan menatap lurus seolah ngambek pada mereka berdua.

"Lu, apa benar kau dan Kim Woobin tak ada apa-apa, kulihat kalian sangat dekat..." Tanya Lay saat Luhan kembali bergabung dengan Lay dan Tao dengan Kim Woobin, setelah acara pagelaran busana milik Kwon Jiyoung usai. Kini acara sedang berganti dengan pesta kecil yang hanya dihadiri rekan-rekan serta kolega si designer.

Luhan mengibaskan rambut pirangnya sambil menatap malas pada yeoja berdimple itu. Luhan berbicara sambil mengetukan sepatunya.

"Sudah berapa kali aku bilang, Yixing! Dia hanya teman Yi, lagian aku sudah punya Sehun...oops..."

Tao menghentikan aktivitas dengan ponselnya, lalu berbalik menatap Luhan. Lay membuat ekspresi lucu dengan membuka mulutnya tepat saat Luhan menutup rapat mulutnya.

"Punya siapa, Lu?" Yixing berteriak heboh lalu memekik pelan saat Tao memukul bahunya. "pelan-pelan, lay" Tao hanya tersenyum malu pada beberapa orang yang memandang kearahnya dan teman-temannya. Untung saja Tao punya tampang memikat, jadi mereka malah menatap takjup atas kecantikan panda china itu.

"Aniya, aku maksud aku sudah punya Sehun sebagai teman, kenapa aku harus mencari yang lain? Haha iya itu.." Jelas Luhan dengan gugup, ia mulai mengipasi wajahnya dengan kertas perak yang terdapat rentetan acara itu sambil memangklingkan wajahnya dari Tao dan Lay.

"Ani, kalimatmu sungguh ambigu, nona Lu... Secara tak langsung berati kau membenarkan rumor pacaranmu dengan Sehun bukan?" Goda Tao saat mendapati wajah Luhan yang makin memerah.

"Ya..Ya! siapa.. bilang begitu...?" Gagap Luhan lucu.

"Ayolah jujur saja, sebenarnya kami sudah memperhatikan kalian berdua sejak lama, Loh..." Tambah Yixing memainkan alisnya pada Tao, mengajaknya sekongkol. Dengan misi, 'Mari menggoda Luhan'.

"Akui saja, Jiejie-ku tersayang... kau sudah berapa lama dengan tuan Oh yang tampan itu? hemm?" Tao bertanya sambil tersenyum jahil. Ia merangkul pundak Luhan yang lebih pendek darinya itu.

"Ya! Cukup... Kau Lay, urusi saja aktor Kim Joonmyunmu itu, dan kau Zitao, urusi saja klienmu lagi..." Suruh Luhan sebal, bagaimana ia bisa keceplosan bicara ditengah kedua teman terjailnya ini? Ia bergidik menyingkirkan tangan Zitao dan sedikit membuka jarak dari Lay dan Zitao.

"Oh, Lay, apa kau ingat bagaimana manisnya ketika nona Lu ini menyuapi Sehun di sebuah restoran tradisional sehabis malam show di Tokyo? Hihihihi..." Zitao menepuk pundak terbuka luhan dengan tangan kirinya. Lay membuat ekpresi terkejut, di buat-buat tentu saja.

"Benar! Aku masih ingat! Bukan kah itu yang dinamakan kencan tengah malam? Apa kau menikmati Midnight Datting mu?"

"Aku dan Sehun hanya kebetulan lapar, Huang! Dan itu hanya makan biasa, bukan kencan!" Tegas Luhan dengan muka merah.

"Aigoo... uri Luhannie malu... haha" Tao mencolek dagu Luhan gemas, sunggu imut rusa cina satu ini.

Mereka bertiga tetap beradu argumen kecil, hingga seorang lelaki berwajah pahatan porselen dengan tuxedo hitam di tubuh tegapnya menginterupsi pembicaraan ketiga model itu.

"Ni hao, Taozi?" Suara berat mendera ketiga telinga gadis berpenampilan glamour tersebut. Luhan mendesah lega, akhirnya ada yang mengalihkan perhatian mereka jadi dia tak perlu lagi berbohong!"

Lay, Luhan, terutama Tao menatap si lelaki itu dengan tatapan aneh. Lay dan Luhan mengerutkan dahi mereka bertanya satu sama lain akan identitas lelaki pirang ini. Tao hanya membeku sejenak sebelum memekik pelan mengucapkan nama si namja.

"Kris ge! Apa yang kau lakukan disini?"

"apa lagi? Tentunya aku diundang oleh GD, Panda... kau lupa siapa designer pernikahan kakaku?" Kris melambaikan kertas perak seperti yang ada digenggaman semua tamu VIP yang menghadiri fashion show ini.

Tao menggeleng singkat, "aku tak tau!" jawabnya ketus. Kris menaikan alis tebalnya,

"kenapa masih marah? Aku kan sudah menepati janjiku Taozi..." tanya Kris.

"Memang kau tak membawaku pulang! Tapi mama akan datang besok pagi, naga jelek!" Ketus Tao. Luhan dan Lay yang mendengar pembicaraan Tao dan Kris dalam bahasa Cina tersebut kemudian tertawa, karena mereka juga orang Cina.

"itu juga diluar kendaliku, Taozi..." Ucap Kris ogah-ogahan sebelum beralih pada Lay dan Luhan.

"Oh, hai, nona-nona! Maaf, namaku Wu Yifan..." Kris memperkenalkan dirinya dengan bahasa korea yang sopan pada Luhan dan Lay, sedang Tao mendecih sebal.

"Ni hao! Wo shi Lu Han!" Luhan sedikit membungkuk hormat. Wajah datar milik Kris merileks saat Luhan mengeluarkan logat Beijing yang kental.

"Yixing, Zhang Yixing!" Matanya tak beralih dari wajah Kris. Ia memang tampan, rambutnya juga pirang, matanya tajem, alisnya udah kaya alis burung hantu. Yixing masih saja terkagum-kagum dengan mahluk ini, Yixing teringat seseorang yang pernah menjadi temen sekelasnya. Iya yang tingginya amit-amit, yang jadi kapten basket paling cakep sepanjang Yixing sekolah di sana, tapi dulu dia agak item. Mirip dah kaya angrybird, item... lagi, namanya sapa sih lupa... aduh itu Kepo? Kalap? Kelep? Kakap? Malah gak nyambung itu sapa sih? Kep..kep apaan ya? Oh iye...

"Kevin?" Tanpa sadar Yixig ngomong.

"Gue kira loe udah lupa ama gue Xing!" Jawab Kris sedikit antusias.

"Oh, gak lah siapa yang lupa mantan sendiri?" jawab Lay santai. Luhan dan Zitao mangap berjamaah.

Lay? Mantan kekasih Kris? Yang benar saja?-Tao merasa aneh mengetahui fakta baru ini, dan mendadak ia menjadi kesal.

~^ Affectionate ^~

Tao kembali merutuki Minseok yang bisa dengan mudahnya memberikan semua data-data Tao pada Kris. Entah apa yang telah diperbuat namja tampan itu pada sajangnimnya itu, hingga Minseok berani membeberkan seluruh informasi Tao dari pekerjaan, alamat, bahkan hal sekecil minuman favorite, yang tak ada di dalam kontrak perjanjian virtual. Tao menyesali rahasia yang sudah lama di sembunyikannya dari kerabatnya di Cina sana, kini sudah terbuka lebar untuk seorang Wu Yifan. Padahal sudah hampir selama dua tahun ini Zitao sibuk menutupinya dari Kris yan entah dari mana mendapatkan nomor ponselnya. Dia sendiri masih bingung apa tujuan Kris datang kemari. Apa yang sebenarnya diinginkan namja itu, Zitao kira jika ia sudah pergi dari keluarganya, hubungan dengan keluarga Wu akan ikut pergi juga.

Mengapa dia harus mempunyai hidup seperti ini? Mengapa Zitao harus terlahir sebagai seorang perempuan di keluarga Huang? Dan mengapa pula ia harus terikat dengan perjanjian kuno sialan antara tetuan Huang dan Wu? Kenapa ia juga yang harus ditakdirkan untuk menjalankannya? Kenapa Kris bisa menemukannya setelah ia dengan rapat mengasingkan diri? Kenapa juga Kris yang harus menjadi Kliennya saat ini? Tao sepertinya sudah mulai frustasi dengan keadaan hidupnya. Kenapa Kris dan Ia harus lahir didunia?

"Apa maumu? Aku masih punya seorang klien malam ini, dan besok pagi aku harus terbang ke Jepang dengan Klien dari Busan! Kau tak punya banyak waktu. Kontrakmu denganku bahkan masih dua hari lagi!" Tanya Tao galak.

"Aku hanya ingin memenuhi permintaan Baba untuk bertemu putrinya, apa itu salah?" Sahut Kris santai, ia sudah kenal sifat kesal Zitao. Kris pun sudah maksud dengan Klien yang Zitao maksud, ya klien seperti dirinya. Tapi masa

"Tapi aku sudah tak ingin berurusan lagi dengan lelaki tua itu sejak aku pergi," Rajuk Tao melepas heels silver dikakinya dengan paksa. Ia tahu yang Kris maksud dengan Baba tadi adalah ayahnya Zitao.

"Kau pikir, aku menerima dengan suka rela? Pekerjaanku juga lebih penting dari perjanjian konyol itu..." Kris tetap fokus kedepan tanpa sekali melirik Tao.

"lalu kenapa kau mau mencariku?" Wajah datar yang Kris pasang sejak tadi mulai sedikit goyah. Ia mengingat apa tujuannya benar-benar mencari Tao kali ini.

"itu karena Huang Liexui memintaku untuk membawamu sebelum ia koma seminggu yang lalu..."

"MWO? Kenapa tak ada yang mengabariku kalau Kakek koma? Apa yang terjadi? Kris-ge.."

"Yak! Siapa suruh meninggalkan ponsel, siapa yang bisa menghubungimu? Serangan jantung! Kakek terkena... Ya! Apa yang kau lakukan, Panda!"

"kembali ke Qingdao...! cepat buka pintunya, aku mau pulang sekarang!"

Kris kembali protes saat tubuh Zitao condong ke arahnya dengan tangan terulur. Sebelum jemari Zitao benar-benar meraih otomatic lock di pintu Kris, lelaki itu sudah menahan dulu dua lengan mulus itu dengan satu tangan. Sedangkan tangan krinya masih setia dengan roda kemudi Audi A5 Cabrio kesayangan sepupunya yang telah menjamur selama 2 tahun di bagasi rumahnya.(udah nebak siapa si sepupu naga satu ini?)

"Kakek tak ada di Qingdao! Dia ada di Paris!" Lontaran Kris berhasil menghentikan kegiatan Zitao yang lebih terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang melakukan 'iya-iya' ketimbang sedang berusaha meraih lock di pintu Kris.

"Eh?" Dengan mata polos mengintimidasinya Zitao mendongak menatap Kris yang masih berusaha konsentrasi dengan jalan ramai didepannya. Kris pun mau tak mau melirik ke arah Zitao yang ada di depan dadanya. Oh...

Deg...

Wush...

Kris reflek membanting roda kemudinya yang beberapa detik lalu oleng terabaikan dan hampir mencelakakan mereka berdua, membuat kepala Zitao terantuk keras dada bidangnya. Untung saja ketika kejadian tadi jalur sebelah kirinya sedang sepi, kalau tidak entah seperti apa wajah tampannya akan berevolusi saat mobil ini membentur bis didepannya.

"Kembali ke tempatmu, nanti ku jelaskan..." Titah Kris mengatur kembali nafasnya yang sempat terpacu tadi. Tapi tak ada sekalipun tanda Zitao akan beranjak dari tempatnya saat ini, membuat seorang bermarga Wu itu mengeluarkan sedikit energinya untuk memindahkan kepala panda Zitao dengan jari telunjuknya.

"AAKKKHH... Sakit!"

Resonansi melengking Zitao membuat kelinga Kris berdengung aneh.

"WHAT!" Balas Kris ikut berteriak. Ganti telinga Zitao yang berdengung mendengar teriakan cukup seram keluar dari mulut Kris.

"Kau membuat rambutku tersangkut, Fan Ge!" Seru Zitao yang masih tak bisa duduk normal. Tanpa ada pilihan lain, Kris menepikan maserati merah itu ke pinggir jalan, tepat di depan sebuah taman dengan penerangan cukup terang.

"Aish, kenapa tak mau lepas.." Tao terus saja mencoba mengurai rambutnya. Bahkan kepang rumit karya Key sudah ia luruskan kembali.

"Gunting saja! Apa susahnya sih?" Seru Kris tak sabar. Ternyata ia memilih tempat yang salah untuk berhenti di sini karena beberapa orang yang sekilas melihat mereka menampakan ekspresi aneh saat melihat kearahnya.

Dengan satu gerakan cepat, Kris mengatupkan gagang gunting itu sekali potong.

Kre...

"Kau gila! It..."

Eesss..

Zitao membelalak horor saat otaknya menerima impuls suara dari telinganya, dan menatap beberapa helai panjang rambut pirangnya berjatuhan ke bawah.

Terkutuk Kau Wu YIFANNNNNN! – aura menyeramkan pun terasa menggelegar di setiap molekul udara dalam wadah berjalan milik sepupu Kris itu.

Tanpa sadar namja ini merasakan getaran di tengkuknya,

"WU YIFANNNNNN!" Lengkingan Zitao terdengar untuk ke sekian kalinya malam ini.

Ooo... Kris! sepertinya memotong saham seseorang lebih aman dari pada memotong beberapa helai rambut ini.

Kali ini tak ada yang ragu jika kau memang seoang pesulap! Ya... kau telah menyulap seekor panda jinak menjadi seekor singa betina yang siap menerkam zebra segar di padang gersang Afrika.

"Hehehe..."

"Aw... shit... ok maaf... awhh... Ya Huang Zitao, kau... awhh...sshhh"

(gue gak tega ceritain apa yang dilakukan seorang Zitao pada seonggok daging raksasa*uhuk-Kris-uhuk*saat ini)

~^ Affectionate ^~

Bias mentari pagi menembus kaca-kaca rumah yang cukup mewah itu. lantai marmernya memantulkan warna cantik pada langi-langit putih yang digantungi puluhan lampu kristal itu. burung dipohon mulai bernyanyi dengan kicauan merdu, gemerisik daun tertiup angin membawa udara segar yang sejuk. Kita beralih ke ke sebuah kamar dengan dinding bercat biru gelap yang ditempeli gambar-gambar hanya kalian temukan dalam buku astronomi dengan aksen anak kecil tentunya. Karena yang sedang terbaring di bed kecil dengan slimut tebal adalah seorang anak laki-laki yang tertidur damai sambil memeluk boneka buaya kecil, Krong dari Pororo.

Tiba-tiba sebuah lenguhan kecil keluar dari bibirnya. Tanganya terangkat sibuk memencet-mencet matanya, lalu pindah menggaruk rambutnya. Tubuh mungil itu menggeliat tak nyaman. Matanya menyipit terbuka perlahan menerima sinar pagi yang masuk melalui ventilasi.

"Ennggghhh...aeemm... hooaaaamm..." bibirnya membentuk huruf O kecil saat menguap.

Mata kecil itu mengerkejap lucu, dia bangkit untuk duduk dengan rambut berantakan, mata sayu imut, hingga selimutnya terjatuh di atas pahanya. Matanya menjelajahi setiap sudut ruanngan. Asing itulah kata-kata yang terpikir olehnya. Ia menatap ke seberang tempat tidurnya, dimana ada meja kecil dengan banyak buku cerita dan alat gambar, disebelahnya hanya ada dinding penuh foto dalam figura kecil yang disusun acak. Ia mendongak ke atas. Seketika matanya bertemu dengan gugusan bintang yang tercipta dari beberapa benda yang entah apa namanya dapat memantulkan cahaya sehingga menimbulkan efek berkilau seperti bintang dilangit. Pandangannya mengitari kamar yang terasa familiar untuknya, tapi juga terasa asing. Ia menoleh ke samping, tak dilihatnya seorang yang selalu menemaninya tidur. Ia mulai mencari, tapi tak ada siapapun selain dia dikamar ini. anak kecil itu mulai bangkit dan berjalan menuju pintu, diraihnya handel tinggi itu dengan sedikit berjinjit. Dan terbuka...

"Hiks... eomma... hik...hiks... eomma..."

~^ Affectionate ^~

Gelap. Itulah yang pertama kali telihat diruangan ini. berjalannya waktu, sinar mentari mulai menyeruak masuk memberi penerangan minim untuk ruangan abu-abu itu. warna abu-abu dindingnya sangat kontras dengan karpet putih yang ada di ruangan itu. berbeda dengan kamar sebelah yang mempunyai aksen ceria, kamar ini disusun dengan elegan menampakan interior berkelas yang disususun sedemikian rupa. Ranjang kingsize telah berdiri gagah ditengahnya, dengan dua manusia yang masih sibuk dengan mimpinya masing-masing dalam pelukan hangat. Selimut yang tak lagi rapi menampakan yeoja berambut panjang yang terbalut dengan baju tidur pendek, dan seorang namja yang hanya memakai celana tidur panjang, tanpa atasan.

Sungguh pemandangan pagi yang indah, dada bidang yang diikuti sixpack berwarna tan yang tengah dipeluk sebuah jemari lentik berwarna agak pucat, lengan kekar yang dijadikan bantal tidur oleh sang yeoja. Kedamaian itu tak berlangsung lama saat sebuah suara tangisan dari arah luar terdengar

"Hiks... eomma... hik...hiks... eomma..."

Kedua insan itu mau tak mau mulai sadar, suara yang familiar terdengar di telinga masing-masing. Si lelaki membuka dulu matanya, ia menoleh merasakan berat pada lengan kirinya, dilihatnya seorang yeoja berwajah cantik tengah menggunakannya sebagai bantal. Ia tersenyum lalu mulai mengecup kedua mata yang masih tertutup didepannya.

"Kyungsoo-ah... bangun, Namsoo menangis..." Kai menepuk-nepuk pipi gembul Kyungsoo pelan. Perlahan Kyungsoo membuka matanya, mengerjap-ngerjap lucu, dan dengan segera terbuka lebar seperti koin bundar. Karena malu plus khawatir, dia bangkit dari ranjang dan mulai keluar kamar mencari aegya kecilnya itu. Beda reaksi, Kai malah terkekeh melihat kelakuhan Kyungsoo yang tak berubah jika Namsoo menangis, tapi ia lebih menyukai reaksi dimana Kyungsoo sadar bahwa yang ditatapnya pertama kali adalah suami yang baru saja pulang setelah hampir dua tahun. Itu sungguh lucu dan menyenangkan meihatnya kembali setelah sekian lama.

"Namsoo-ya... cup cup, eomma disini ne..." Terdengar sayup suara Kyungsoo menenangkan Namsoo.

Kai pun bangkit dan mengikuti Kyungsoo keluar kamar. Ia menoleh ke arah dapur, dan tepat, disanalah Kyungsoo. Berdiri sambil menggendong namsoo, menganyun Namsoo pelan dalam pelukannya, dan mengecupi kepalanya sayang. Kai sudah hapal kebiasaan Kyungsoo menenangkan Namsoo, serta kebiasaan Namsoo saat ia mencari Kyungsoo, pasti ia akan mencari sang eomma di dapur. De javu yang menyenangkan untuk Kai.

Kai pun mendekat, ia berdiri dibelakang Kyungsoo. Kai mengelus pipi anaknya yang masih sesenggukan. Namsoo yang menyadari keberadaan Kai mulai mengulurkan tangan untuk menggapai sang appa.

"Hiks, appa..." Kyungsoo berbalik dan mendapati Kai dihadapannya half naked. Matanya kembali membulat, entah kenapa ia merasakan panas pada pipinya melihat Kai sedekat ini tanpa atasan yang layak.

"Ssttt... namja tak boleh menangis, Namsoo-ie... kalau Namsoo nangis, appa gak mau ah beli ice cream buat Namsoo!" Kai bersedekap seolah ngambek. Namsoo yang sudah berbalik posisi mulai diam.

"hiks...Soo-ie, boleh makan es klim?" Dengan mata sembab dan pipi basah ia bertanya pada Kai.

"Ne... tapi jika Namsoo tidak nangis lagi..." Kai tersenyum melihat Namsoo yang berusaha untuk menghentikan tangisannya. Tangan mungil namsoo mengucek matanya, tapi langsung dihentikan Kyungsoo.

"jangan pakai tangan, Namsoo!" tuntut Kyungsoo menggenggam jemari anaknya.

"waaaeeee?" tanya Namsoo balik dengan imut. Kai pun menarik tissue basah dari meja makan dan mengelap wajah Namsoo.

"nanti mata Namsoo bisa bengkak seperti eomma..." sahut Kai terkekeh.

"Mataku kan cantik..." Kyungsoo menggerutu sebal sambil memanyunkan bibirnya menanggapi gurauan Kai. Kemudian ia merubah ekspresinya lagi, ke wajah datar setelah ingat apa yang baru saja ia lakukan.

"mata eomma kan indah, appa..." Namsoo mulai terkikik geli mengikuti kerjaan appanya.

~^ Affectionate ^~

Bagaimana bisa ia tertidur dikamar ini bersama Kai dengan hanya sebuah piama pendek?

Hey siapa yang memakaikannya?

Lagian mana bra yang kyungsoo pakai kemarin? Walau sudah kebiasaannya tak memakai bra saat tidur, tapi Kyungsoo tak ingat ia pernah mencopotnya tadi malam...

Siapa yang mengganti bajunya?

Dan kenapa Kai yang hanya memakai celana panjangnya tanpa baju?

Parahnya lagi bagaimana ia bisa tidur disamping Kai? Yah walaupun memang wajar untuk sepasang suami istri, tapi untuk keadaan Kyungsoo, What The Hell Am I Doing Here?

Apa yang telah ia perbuat hingga ia menjadi bingung seperti ini?

Bagaimana bisa semua ini terjadi secara beruntun?

"Aarrrgggghhhh!" Kyungsoo menggeram jengkel karena otaknya yang tiba-tiba saja terasa seperti komputer rusak.

Ceklek

Kyungsoo tau pintu kamar itu terbuka dan terdengar suara berisik dari lemari yang dibelakanginya, ia tak peduli, karena masih meresapi semua kejadian ini.

Dimana malam tadi ia bertemu Jongin untuk pertama kali dalam 2 tahun terakhir di rumah orang tua Kyungsoo. Lalu karena mobilnya yang tiba-tiba mati, ia harus diantar Kai, sialnya ia janji menjemput Tao yang tipe anak ingin tahu hingga Kyungsoo hutang penjelasan pada anak itu. Dan Kai tidak mengantar Kyungsoo pulang ke apartemennya, melainkan menahan keduanya dirumah besar ini. Rumah yang ditempati keluarga barunya setelah menikah hingga umur Namsoo hampir satu setengah tahun. Dan Kyungsoo menyadari betapa bodohnya ia tadi malam, ia menangis di dapur, dimana Kai malah menemukannya.

Setelah itu...Kyungsoo tak tau lagi.

Kyungsoo tetap memaksa otaknya untuk berusaha mengingat.

Tapi malah yang keluar sebuah suara seorang lelaki. Dan suara itu sungguh mengganggu hatinya karena ia hafal suara siapa yang terus saja berputar dikepalanya. Dan yang membuat ibu satu anak itu lebih frustasi dari kesibukan seminggu sebelum fashion week dimulai adalah,

apa yang diucapkan suara itu,

suara mlik Kai.

.

.

"Mianhae, saranghae, Nae Kyungsoo!.. Jeongmal bogoshipeo!" Suara Kai seolah menenangkannya.

Kyungsoo tak salah ia mendengar suara Kai.

Iya...

KAI

.

.

"Nado, saranghae, nae nampyeon! Bogoshipeo-do" dan apa Kyungsoo salah dengar?

Bukankah itu suaranya sendiri?

Oh tidak!

Apa yang ia katakan.

.

Kyungsoo memukuli pelipisnya dengan telapak tangan, Ia berharap agar semua yang ada dipikirannya itu hanya mimpi atau kenangan masalunya. Kyungsoo memohon itu bukan memori tentang tadi malam. Plis!

"Micheonabwa!" Lirih Kyungsoo pelan, ia sudah bisa mendiamkan kedua tangannya karena ternyata memukuli pelipisnya terasa lebih sakit dari pekiraannya. Dan ia masih sayang pada tubuhnya, Kyungsoo meyakinkan diriya bahwa suara 'aneh' tadi hanyalah mimpinya. Badannya membeku mendadak saat mendengar suara Kai... lagi

"Namsoo sudah diantar ahjussinya, Chanyeol hyung, ia berangkat dengan si kembar Chanhyun dan Hyohyun!" Kai mendengus sabar karena tak mendapat respon dari Kyungsoo.

"Kenapa melamun eomma Kim?..." Kai duduk didepan Kyungsoo sambil menakupkan tangannya di wajah Kyungsoo.

Lembut, penuh perasaan dan menenangkan.

Setidaknya itu yang sedang dirasakan Kyungsoo dari tatapan Kai.

Ia merindukan ini, sungguh merindukan tangan hangat dan tatapan teduh dari Kim Jongin.

Juga, panggilan 'eomma' yang keluar dari bibir tebal namja itu. Kyungsoo rindu semua tentang namja itu.

Tanpa sadar Kyungsoo pun Luluh dan tersenyum sambil memejamkan matanya, menikmati perasaan lama ini kembali kesisinya.

Tapi seketika Kyungsoo menyadari, ia tak boleh jatuh lagi untuk suami yang sebentar lagi akan menjadi mantannya ini.

Ani, Kyungsoo tak boleh.

"Mianhae, aku tak tahu harus mulai dari mana, tapi, mianhae, Kyung... tentang pernikahan itu... aku tak.."

"Mian, aku harus bekerja, Jongin-ah!" Yeoja yang masih memakai piyama itu tiba-tiba beranjak dari tempat tidur dengan wajah datar. Buliran tipis mulai merembes keluar sejalan dengan langkah kaki Kyungsoo.

Aku belum bisa mendengar pengakuanmu Jongin-ah... mianhae... aku masih terlalu mencintaimu... mianhae.. hatiku belum sanggup.. -Kyung.

.

.

Karena terkejut dengan perubahan sikap Kyungsoo, dia hanya memandang punggung Kyungsoo yang dengan segera memasuki kamar mandi. Sebentar saja, sudah terdengar kucuran air yang membentur lantai dengan suara menggema yang teredam. Padahal ia ingin sekali menjelaskan, kenapa ia tiba-tiba pergi tanpa adanya penjelasan, kenapa ia lebih memilih mengikuti ayahnya, kenapa ia tak memperbolehkan orang tuanya, maupun orang tua Kyungsoo memberi tahu keadaan Kai pada Kyungsoo, kenapa ia pergi dari kehidupan Kyungsoo dan Namsoo selama 2 tahun ini. Ia ingin menjelaskannya sekarang juga, tapi respon Kyungsoo saat ini tak mendukung apa yang hendak ia lakukan.

"Sebenci itukah kau padaku, Soo?"

Kai terduduk lesu, masih ditempatnya. Padahal ia sungguh membutuhkan Kyungsoo, dan demi janji pernikahannya empat tahun lalu, ia masih sangat mencintai yeoja bermata bulat itu.

Hampir saja ia ingin berteriak mengutuk Tuhan yang telah tega menempatkannya di posisi sulit ini, jika saja Kyungsoo tak melongokan kepalanya dari salah satu pintu abu-abu yang ada dikamarnya ini.

Cklek

Mata Kai membelalak lebar saat melihat Kyungsoo hanya melilitkan handuk putih sebatas dada dan paha atasnya.

Tatapannya perlahan turun dari ujung kepala hingga ke ujung kaki lentik yeoja yang sibuk sendiri mencari entah apa. Kai masih saja terpesona dengan tubuh langsing istrinya ini, bahkan setelah melahirkan Namsoo pun tetaplah sama. Tetaplah seputih dan semulus saat pertama kali ia menyentuhnya dengan cinta hingga Kyungsoo tak mampu menahan suara merdunya keluar. Hanya karena rangsang yang diberikan Kai.

Bahkan jauh lebih dala... Shit!

Apa yang ia pikirkan! Kalau begini ia bisa main solo seperti yang dilakukannya selama ini ketika ia ada di Jepang.

Oh No! Stop it!

Kai sedang tidak mood melakukannya sendiri...

Kai kembali memperhatikan Kyungsoo yang mondar-mandir dari lemari di dinding ke keranjang baju kotor dari keranjang ke meja dipojok, lalu kembali mengaduk isi keranjang yang hanya setengah penuh. Dan seketika dengan Cardigan merah ditangannya Kyungsoo berbalik ke arah Kai yang masih terpana ditempatnya. Kyungsoo terdiam sejenak, entah apa yang ada dipikirannya, tapi warna merah perlahan merambat di pipinya. Kai menaikan sebelah alisnya.

~^ Affectionate ^~

"Ada apa dengan wajah kusut mu?"

Yeoja paruh baya itu menegagkkan badan dari balik manequin cantik yang berdiri di tengah ruangan. Tangannya masih tetap terfokus pada broklat hitam berimple yang masih abstrak tersebut saat seseorang mengetukan stileto di lantai kerjanya. Kyungsoo masuk dengan wajah ditekuk sebal membuat Minseok mau tak mau mengalihkan pekerjaan asiknya kepada sang vice president Grace.

"Yuri-ah, pasang sifon itu di bagian ini, jahitlah dengan setiap maniknya, jangan terlalu renggang! Ya seperti itu.. Good Job" Minseok nenuntun kuku bercat silvernya mengikuti lekuk gaun backless itu.

"Ne, Mrs. Kim!" Jawab salah satu asisten Minseok.

Kyungsoo mendudukan pantatnya di antara empuknya busa sofa putih di studio ini. Studio seni yang ia dan Minseok gunakan untuk menciptakan karya baru dengan rentetan macam jenis dan warna Kain dihampir setiap dinding.

"Kenapa lagi eo?" Minseok bertanya lagi, sekarang perhatiannya sudah terarah pada Kyungsoo yang kini sibuk mengaduk tasnya.

"Anniya..." Kyungsoo menggeleng. Otaknya kini masih kacau, tetang masalahnya. Ugh...

Minseok hanya mangangguk, dan mulai mengutak-atik tablet samsungnya, "Apa berkas kemarin sudah kau selesaikan? Rapat akan mulai setengah jam lagi, dan Kau yang akan presentasi pagi ini Kyung! Akan ada Investor dari China, dan oh, sepertinya seorang dari High Cut akan mensurvei proyek ini juga Kyung!"

"Gwaenchana?" Kyungsoo mengangguk mantab, lalu tersenyum pada pandangan ragu Sajangnimnya itu.

"Tapi bisakah aku pinjam salah satu baju di sana, Sajangnim?" Tanya Kyungsoo diikuti rona pipi yang berangsur kembali mucul.

Minseok mengerutkan dahinya, ia meneliti penampilan Kyungsoo yang terlihat fine-fine saja, kecuali lipstick merah yang sedikit miss di bibir kanannya.

"Wae, penampilanmu biasa saja, kecuali bibirmu yang sehabis di lumat seorang rubah ganas di luar sana. Lipstickmu sedikit berantakan, well, sebenarnya memang berantaakan. Khe-khe-khe.." Kekeh Minseok merasa pernyataannya sedikit lucu.

Kyungsoo membulatkan matanya kaget, dan dengan segera ia membenahi polesan merah di bibirnya. Kyungsoo merutuki orang yang seenak jidatnya menciumnya di lobi, dengan alasan tagihan ucapan 'terima kasih' karena telah mengantarkan map berisi dokumen meeting Kyungsoo yang tertinggal di Maserati Quattroport milik Jongin.

"Maaf jika aku salah, tapi apakah itu pakaian yang sama dengan yang kau pakai kemarin Kyungsoo-ssi?" Tanya Yuri yang masih sibuk di samping Minseok.

Kyungsoo hanya tersenyum kaku dan mengangguk malu,

"Jijja? Jangan-jangan tadi malam kau tidak pulang?" Minseok meninggikan suaranya sedikit kaget. Kyungsoo mengangguk pelan.

"Omo, Jangan bilang kau tidur di rumah seorang lelaki?" Kyungsoo kembali mengangguk sambil menggaruk tengkuk –tidak- gatalnya.

"Ya tuhan... jangan bilang kau tadi malam mabuk, lalu menginap dirumah seorang lelaki atau bahkan om om yang tak kau ketahui namanya, omo Kyungsoo apa yang kau lakukan? Apa kau tidur dengannya?..." Sebelum Minseok benar-benar mengucapkan semua pikiran yang nyaris benar itu kecuali tentang 'mabuk', Kyungsoo mendahului Minseok.

"Ya... ya... aku bukan yeoja seperti itu!" Kesal Kyungsoo.

"Lalu."Jawab Minseok dengan wajah polos.

Kyungsoo menghela nafas sebelum penjelasannya,

"pertama, aku memang tak pulang tadi malam! Kedua, aku dan Namsoo memang tidur di rumah seorang lelaki, yang ketiga aku mengenalnya, dan dia bukan om om seperti itu—tampan malahan—yang keempat, ya aku memang tidur dengannya, tapi hanya tidur tanpa apa-apa! Kelima dia yang mengantarku kemari! Dan Keenam jika kau tahu siapa yang memberantakan lipstick-ku barusan, Kau harus menyalahkan suamiku, Unnie! Dan Kai juga...Ups!" Kyungsoo membekap mulutnya sediri.

Minseok tertegun ditempatnya, mencoba mencerna kalimat terpanjang yang ketiga kalinya Kyungsoo ucapkan padanya. Bahkan Yuri yang tadinya sibuk ikut cengo mendengar seorang Kyungsoo yang jarang mengungkap kehidupan pribadinya kecuali saat bersama Minseok tentunya, malah curhat sepanjang itu.

"Eehh? Kai? Kau... APA?"

Pekik Minseok melengking—suaranya memang nomor satu jika berteriak, bahkan jika perlu, nadanya akan menyamai nada tertinggi suaminya sendiri—membuat Kyungsoo maupun Yuri mengerenyit tak nyaman.

Tok tok tok

"Permisi, Sajangnim, Rapat dimulai sepuluh menit lagi..." Kim Kibum, seorang lelaki modis dari divisi 2 membungkuk sopan.

"Baiklah, Key. Oh, ya selamat atas pertunanganmu dengan Amber! Kuharap kalian bahagia, maaf aku tak bisa hadir minggu lalu!" Key tersenyum sambil mengangguk.

"Gwaenchanayo, sajangnim! Saya tahu anda harus terbang ke Milan hari itu... tiket liburan itu sudah lebih dari cukup untuk saya... terimakasih!" Key membungkuk sopan lagi lalu keluar ruangan setelah anggukan Minseok.

"Bolehkan?" Kyungsoo kembali meminta izin Minseok.

"Eoh? Eh.. ne ambil saja, asal jangan yang ada di lemari kaca, itu pesanan!" Kyungsoo memutar bola matanya, membuat Yuri yang baru saja pertama melihatnya terkekeh gemas.

"tentu saja, aku tau itu unnie! Gomawo!" Kyungsoo hanya mengangguk pasrah saat Minseok memberi tatapan tajam 'Belum-selesai!-Kau-harus-menjelaskannya!'

Kyungsoo melenggang pasrah menuju wardrobe besar di samping studio ini.

Rapatpun selesai setelah hampir tiga jam Kyungsoo mempresentasikan garapannya itu di LCD ruang Meeting dan menyusun segalannya selama 2 jam penuh. Rapat ini masih biasa dibanding dengan rapat untuk pengerjaan mega proyek fashion show akhir tahun yang biasanya bisa menghabiskan 3-4 hari pertemuan. Kali ini semua design memang milik Kyungso, karena ia yang bertanggung jawab di proyek Spring Season juga dengan High Cut kali ini. Untung investor serta tamu Grace kali ini tidak terlalu rewel dengan kerjanya, hingga bisa berjalan dengan mulus kali ini, apalagi Baekhyun, iparnya adalah perwakilan High Cut yang datang mensurvei, lebih menmudahkan Kyungsoo.

Minseok yang baru keluar dari ruangan sakralnya(read : wardrobe) menempelkan sebuah pocari botol dingin dipipi Kyungsoo yang sudah tiduran di karpet hitam di tengah-tengah studionya. Kyungsoo langsung menegak air ber-ion itu lalu berterimakasih tanpa suara dan bangkit meraih kotak di meja untuk mengusir rasa jenuhnya. Minseok meraih map tebal di sebelah yeoja itu dan melihat goresan-goresan seni di setiap lebarnya. Kemudian ia melihat sebuah sketchbook abu-abu dan membuka thick covernya. Dihalaman pertama tertulis rapi beberapa huruf dengan variasi di garis-garisnya membentuk 'Belongs to... DIO' disertai sebuah kata 'The Answer is Love...' K.K. Kebanyakan adalah gambar seorang namja dan seorang anak lelaki yang Minseok ketahui sebagai, Jongin dan Namsoo yang dibubuhi tanggal di setiap gambarnya. Tak jarang juga beberapa kartun seperti pororo dan Doraemon memenuhi lembar buku tebal itu.

"Sekarang ceritakan, ada apa denganmu?" Minseok mendapati alis Kyungsoo terangkat masih tak mau mmbalas pandangannya.

Kyungsoo hanya diam tak menanggapi ucapan sahabatnya barusan. Tapi Minseok tahu Kyungsoo pasti mendengarkannya...

"Ayolah, aku tahu bahwa kau sedang 'apa-apa' hari ini Kyung... "

"Benar Min Unnie, aku tak apa-apa... lihat aku masih utuh kan?" Jawab Kyungsoo seadanya, ia sedikit sebal dengan Minseok yang tipe yeoja pendiam, tapi akan berubah secerewet Baekhyun yang merupakan kakak iparnya sendiri.

"Kau bertemu Nyonya Han menyebalkan itu lagi? Atau Song Seunghun baru saja melamarmu didepan lobi tadi?" Timpal Minseok ngawur.

"Oh, ayolah, Min. Nenek itu masih di Maldives, untung saja dia pelanggan tetap kita, kalau tidak sudah kucoret dari daftar member... dan aku tak akan duduk disini melainkan aku sudah bergaun putih di altar jika saja aktor tampan itu melamarku!" Kyungsoo mulai menyulamkan wol besar itu lagi ke sekeliling sebuah kain berwarna soft pink.

"Kau juga sih! Memang aku tak berhak mencampuri urusanmu, tapi kurasa masalahmu kali ini sedikit mengganggu! Kau tidak fokus, dan jika kuperhatikan sedari tadi kau memang hanya melamun. Bahkan sudah ke lima kalinya kau menusuk tanganmu sendiri dengan jarum itu Kyung! Sebagai atasanmu aku berhak tau apa yang mengganggu pekerjaan rekanku, Nona Do!"

Awalnya Kyungsoo masih keukeuh pada prinsipnya untuk diam. Ia memainkan stocking hitam di lututnya yang kontras dengan rok baby blue serta bolero putihmilik Minseok. Kyungsoo masih berfikir, apa dia ceritakan saja ke Minseok lalu meminta pendapatnya, toh Minseok kan tahu semua masalahnya. Tapi tidak dengan masalah Jongin kali ini. Apakah ini saatnya, Kyungsoo jujur pada sahabatnya? Tentang rumah tangganya?

"Min unnie..." Ucap Kyungsoo pelan.

"Hmm?" Singkat Minseok saat matanya memicing sebelah lubang jarum di jarinya.

"Ehemm... tentang itu.. em, baiklah aku akan cerita.." Matan Minseok yang tadi merem sebelah kini seperti sebuah permen blink-blink yang terkenat sinar.

"Jijja?"'

"Ne... "

"Unnie... kau tak akan percaya!" Kyungsoo menatap Minseok yang mulai sibuk dengan gaun Choi Sulli, si aktris muda yang baru melejit karena film layar lebar perdananya tayang beberapa hari lalu. Minseok membulatkan matanya dan tersenyum ramah,

aku tahu kali ini kau akan cerita padaku, Kyung!

.

TBC

Nyehehe... lempar ff ke ffn lagi...

Gue tahu kalian pada ngambek ke gue, gara-gara gue gak update-update (udah gak usah 'ewoh' gue tau readers males baca kalo ff nya lama update kaya ff punya gue)

Gue itu emang lelet kalo beginian! Apa lagi bulan-bulan ini banyak banget ulangannya! Minngu ini aja gue ada UTS yang gak tau kenapa baru UTS...

Mian.. hehehe... udah ah, gue gak mau banyak ngebayol, ntar malah kesannya tambah annoying...

Makasih ya yang udah kasih review... mangap ne cerita ane gak ada yang deket dengan kata - fix/Beres –

Maklum orangnya aja kagak beres... Ok pai..pai...

.

BALESAN REVIEW:

zoldyk : Gomawo udah jadi reviewers setia ff Hyo... Kamu emang paham kalo Hyo butuh.. hehe... Gomawo Reviewnya ^^

setyoningt : ya udah cup-cup cup... mian buat kamu nangis ne... jangan aduin ke Mak aye ne.. (Dio) Gomawo Reviewnya ^^

Huang Lee : Mereka abis di palakin ama deptkolektor gegara Tao gak jadi jualan Kris-eh?, makanya ruwet gitu ceritanye.. Gomawo Reviewnya ^^

Kirei Thelittlethieves : Iya iya udah dilanjut... Kristao itu suami ama anak gue(dicincang Sehun) Kaisoo pisah gegara dikejar Deptkolektor senasib kaya KT, Daemi ntu anaknya mami Chen ama bang Xiumin, yang udah ninggal... (nanya apa jawab juga apa...) Gomawo Reviewnya ^^

raetaoris : aduh sapa tuh emaknya? Bang pedonya pasti kris kan? Iya kan...?^^ kedip-kedip alal Luhan^^ Gomawo Reviewnya ^^

kt : Haha... gak usah ngejek bang Kris kali... gue tau dia anjjir banget... sampe kamar gue isinya die semua... hehe ini dah termasuk kilat lom? Berati Hyo gak boleh makan minum tidur deelel ya... waduh... parah tuh...Gomawo Reviewnya ^^

Difauzi fudanshi : ada apa ya? Cerita nggak ya? Stay tune aja.. ntar juga dicurhatin bang Tao... diakan Hello Kitty! Kalo udah kena masalah ati... Walau tampang kaya Sailor Moo/?/ Gomawo Reviewnya ^^

onkey shipper04 : Gomawooo... iya Chenminnya juga bikin mata gue kaya Tao...(gue gak boong) Bikin anak lagi? Udah tiap malem tau..(ngapain?).. Rahasianya, mereka mau boker bareng(kenapa gue jadi jijik-jijikan gini?) Gomawo Reviewnya ^^

mirarose86 : Review kamu kerasa kaya iklan PopMi-titttt- (apa coba?) orang jawa ya,,, jarang loh ada yang pake bahasa brebes mili... iya ini udah lanjut koq...Gomawo Reviewnya ^^

hibiki kurenai : (heee) kenapa? Ketularan Sehun? Sulaynya lagi Cuti hamil... mereka lagi ngurusin anak di panti(haha#ketawnistabarengsehun) Taorisnya emang dibuat aneh.. jadi yah itulah Taoris...Gomawo Reviewnya ^^

NaughtyTAO : iya dear udah ada nih lanjutannya, bisa ditebak sendirikan apa hubungannya? Gomawo Reviewnya ^^

Xyln : Xiumin aja kemaren baru keilangan panci dapur eh malah nagis kejer... ini malah kehilangan Daemi, bayangin aja nangisnya udah kaya unta atraksi Mungkin! (emang lu tau unta nangis sambil atraksi kaya gimana?) iya ntar yang main center Taoris koq...Yo!(rap bareng Baek kaya di EST... Gomawo Reviewnya ^^

movyssi : haha... ini baru update... Movyssi, bingung panggilnya, Mov? Vy? Ato Ssi? Haha... Gomawo Reviewnya ^^

BearLin : Kerjaannya Zitao itu kalo malem jum'at nungguin Kris sambil jaga lilin(Kris: ngepet dong gue? | Hyo: Iya bawel..) enggak ding, kan udah dijelasin diatas... hehe.. iya tunggu aja yang lain.. okok Gomawo Reviewnya ^^

Guest : ini udah lanjut dibaca ya... Gomawo Reviewnya ^^

Nasumichan Uharu : hehe... iya tauh... kalo bukan mantan pacar berarti suaminya si zitao(aaaa Fangirl-ing) tunangannya hohohoo... gak resmi sih tapi.. itulah... Gomawo Reviewnya ^^

Guest : Selow aja, ntar juga moment nya banyak, ditunggu aja lovey doveynya di tengah ma ending...hoho Gomawo Reviewnya ^^

Gomawo Reviewnya Yeoreobun ^^