-0-0-0-0-0-0-0-0-
Author : Hyomi
Cast : Huang Zi Tao, Lu Han, Do Kyungsoo, Wu Yifan, Kim Jongin, Oh Sehun
Genre : Romance, Drama, GS
Rated : T
Note : This FF is officially mine, if you don't like, don't read. Ok!
GS! Typos! Gak pake yang namanya EYD! Bahasa Ancur! Gak Karuan!
And, Review Jusseyo!~^^~
.
Thanks for readers, Reviewers, Followers or yang udah Fav...
And
Sepecial Thanks to :
Nasumichan Uharu :
kaget ya? Hyo kira pada biasa loh, Yixing jadi mantan nya Kris... Tapi Hyo tetep fokus di Taoris walau sekarang keadaan nya sedang 'begini'.. Taoris Forever! Masalah Kris suka ma Tao, ditunggu aja,, hoho mian kalo terkesan slow atau kelambatan alurnya ya..! gue gak bisa bikin alur cepet... Gomawo reviewnya!
dorekyungsoo93:
Panggil Hyo aja, Kaisoo nya baru proses nih momennya, ditunggu ne... namanya Namsoo, aku boring kalo namanya Jongsoo, Insoo, ato Kyungin mulu, ya udah karena aku ng fans sama yang meranin Namsoon di School 2013 jadinya aku pake nama Namsoo yang bisa juga Nam dari namja, soo dari namanya Kyungsoo, kalo nama Kai kan marganya udah Kim. Hehe.. Gomawo reviewnya!
Initial D 0326 :
Iya udah lanjut kok walau ngaret banget... Chenminnya baru dimulai.. hoho(entahlah kadang moodnya ilang nulis Chenmin, tapi gue bakal berusaha kok...)
Pengennya juga gitu, tapi si Jonginnya gitu.. gimana dong? Gomawo banget, padahal cerita gue abal loh... Gomawo Reviewnya!
Zoldyk :
Mian gak bisa update soon, update nya late banget... ini baru update... dibaca ya.. Gomawo Reviewnya!
Dandeliona96 :
Haha sebenernya aku juga kasian ama mereka, tapi demi kebahagiaan bersama(maksud loe?) Kaisoonya dibuat melas deh..*.*
Gimana ya? Ntar ditunggu ch depan aja deh... ntar gimana.. hoho.. gak papa kok yang penting udah nongol Hyo udah seneng! Gomawo Reviewnya!
Kirei Thelittlethieves :
Iya nih, rumit bin ajaib... Kai nya.. em ada di bawah hehe.. dibaca ne,,, pegangan Kris aja biar gak jatuh... Gomawo Reviewnya!
Xyln :
Haha.. itu rumah mereka berdua sih sebenernya tapi waktu Kai pergi, Kyung ikutan pergi juga! Untung ntu rumah masih ada yang ngurus,,,
Taorisnya ribet ya? Masa sih? Hyo kira gak bisa buat ribet2 hehe Gomawo reviewnya!
Tanifangirl :
Makanya ditunggu ceritanya, ini udah update loh... gomawo reviewnya!
BearLin :
Kyung curhat sama Minseoknya di privat loh, kalo mau tanya passwordnya, tanggal lahirnya Kris aja masukin(ketawan bias banget ama bang Yifan)
NC? OOOO gue gak bisa bikin NC-an... belum nulis NC gue udah ketawa setan dulu... *Ntar deh dipikir dulu...(beguru ama author laen dulu)
Yixingcom :
Ini Hyo yang salah nulis... ooooo emang belom sih, dan di CH ini beneran Hyo nulis masalah Kaisoo... hehe engak lah mana tega mami Kyung nduain Abang Jong, gue gak tega juag.. hehe gue boring nih ama Jongsoo, Kyungin, ato Insoo... hehe Gomawo reviewnya ne!
SMKA :
Haha gomawo... padahal susunan kata gue awur-awur aja, dan gue rsa tulisan gue gak sebagus itu, mungkin Cuma pas loe baca aja itu pas otak gue lagi kumat.. hehe gomawo ^^ Gomawo reviewnya!
Guest :
udah next kok... Gomawo reviewnya!
DJ 100 :
Kamu review ff aku juga? Ih aku suka Dynamic Lova kamu... Kaisoonya sweet... (loh kok)
Kyungsoonya pasti sama Jongin koq, gak bakal sama Aku, soalnya aku kan adeknya bang Kai, masa makan sodara sendiri? Haha iya ini udah next! Gomawo reviewnya!
Guest :
Iya udah lanjut kok, penasaran, sama saya juga(ngutip acara TV tiittt_) ayo dibaca aja... hoho Gomawo reviewnya!
KaiSooLovers :
Haha padahal gue maunya fokus Taoris, tapi kenapa pada minat Kaisoo ya? Ada apa dengan Kaisoo, apa chemistri mereka sudah menyarang di fikiran Kaisoo HS?
Iya udah update walau gak cepet... Gomawo reviewnya!
Khasabat04 :
Udah lanjut kok.. dibaca aja ne...! gomawo Reviewnya!
Guest :
Iya iya, Hyo lanjutin, gak bakal gak lanjut, gomawo reviewnya!
Brigitta Bukan Brigittiw :
Haha iya kaisoonya surem banget ya kayanya... chenminnya emang bikin sedih kalo keinget anaknya, padahal Hyo lagi males buat Hunhan, eh taunya waktu nulif malah feelnya lagi ada... masalalu biarlah masalalu(nyanyi~ gak tau judulnya) haha iya deh.. bayangin aja rambut Kris jadi gundul tapi masih sisa beberapa helai.. hehe Gomawo revienya!
.
.
CH : 4
.
~^ Affectionate ^~
.
"Ku kira Tuang Oh ingin mengikatku di ranjang semalaman..." Celetuk seorang yeoja setelah sedotan buble tea nya terlepas dari bibirnya.
"Ku kira Nona Lu tak ingin Tuan Oh mesum malam ini..." tampang datar namja itu tak berubah.
"Oh, jadi Tuan Oh sudah mulai tunduk pada Nona Lu sekarang?" Yeoja ini tak terlalu mempermasalahkan rupa lawan bicaranya. Dibalik kacamata hitam itu ia sudah sering melihat berbagai ekspresi yang bisa membuatnya deg-degan hingga ingin mutah. Mungkin datar adalah option terbaik saat ini.
"Mungkin Tuan Oh hanya memberi Nona Lu waktu refreshing menyiapkan dirinya untuk beberapa ronde menantang selanjutnya..." Bela si wajah datar yang kini sudah tersenyum bengis—re : mesum.
Tepukan pelan menghiasi dahi yeoja itu, "Ternyata otak prevert Tuan Oh tak pernah berubah. Tapi bagaimana jika Nona Lu yang cantik ini tidak mengizinkan Tuan Oh menyentuhnya selama 2 bulan?" Tantang si yeoja kembali lalu menyedot beberapa bulatan tepung itu untuk berpindah ke mulutnya.
"Tidak mungkin! Karena Nona Lu sangat mencintai Tuan Oh, maka Nona Lu tak akan tega pada Tuan Oh tampan ini!"
"Cih, Percaya dirimu terlalu tinggi Tuan Oh! Dan sepertinya kalimatt 'Nona Lu sangat mencintai Tuan Oh' sudah tak berlaku lagi..."
"Thanks, Baby Lu,but Imma born with it! Gampang saja, jika Nona Lu sudah tak mencintai Tuan Oh, maka Tuan Oh akan menjatuhkan Nona Lu di ranjang dan membuatnya terpesona lagi dengan jerat Tuan Oh..."
"Nona Lu tak akan segampang itu Tuan Oh yang tampan..."
"Memang, tapi Tuan Oh masih punya banyak akal, Nona Lu! Dan Tuan Oh tampan ini akan membuktikannya sebentar lagi..."
"Fine, 2 minggu buble tea gratis untuku jika Tuan Oh menang!"
"Belum-belum sudah menyerah... ah tak seru..." rajuk Sehun membuang gelas kosong ditangannya ke tempat sampah terdekat seperti gerakan three point
"Ayolah Oh Sehun! aku sudah kedinginan duduk disini. Atau dua bulan mengerikanmu akan benar-benar terjadi!" Luhan merapatkan sweater pink nya saat angin malam berhembus menggoda kulit putihnya.
"A..A..." Sehun mengayunkan telunjuknya seperti dentingan jam... "Aku tak akan membiarkan itu terjadi..." Jawab Sehun enteng membenarkan letak kacamata gelapnya.
"Katakan kemana kau akan mebawaku?"
"Itu tetap rahasia.."
"Ishhh... aku janji kau akan sengsara jika kau tak bisa membuatku senang malam ini Tuan Oh..."
"Lihat saja, Nona Lu-ku yang tercinta..."
Senyum licik Sehun ciptakan ketika Luhan mulai meninggalkan kedai buble tea dekat kantor Grace menuju mobil Sehun yang terparkir di pinggir jalan.
~^ Affectionate ^~
"Oh... jadi ini kencan versi Tuan Oh? Shopping?" Luhan mendongak menatap sebuah tulisan raksasa 'Lotte' yang terpajang angkuh di sebuah gedung paling tinggi.
"Eumm... bisa dibilang seperti itu... kajja!" Sehun menawarkan lenganya pada Luhan. Senyumnya mengembang saat mata dibalik kaca transparan Luhan menatapnya ragu.
"Kau yakin?" Sehun mengangguk pasti, lalu memindahkan topi dark grey miliknya ke rambut yeojachingunya, "Ini milikmu jika masih paranoid..."
Decakan kecil Luhan mengundang kekehan Oh Sehun. Setelah yakin dengan penyamaran ala Tuan Oh, pasangan manis itu berjalan memasuki departemen store terbesar di Seoul ini dengan bergandeng tangan. Kedua bintang itu melebur jadi satu dengan hiruk piruk orang awam malam ini.
"Sepertinya kami tak yakin, Oppa..."
Cekrik, Cekrik, Cekrik...
"Benarkah itu Luhan-eonni dan Sehun-oppa, Sooyoung-ah? Huee oppa... kau buatku patah hati..."
"Aku yakin 100%! Hyomi-ah, Youngchan-ah, kita ikuti mereka... aww mereka sangat manis... aku tahu Hunhan itu REAL!"
"Bukankah kau akan membelikanku jaket baru? kenapa kau malah mengikuti mereka Sooyoung-ah? Ya! Yeoja itu... Hyomi-ah apakah aku harus jadi artis dulu?"
"Ok, mulai kali ini aku relakan Oppa tersayangku untukmu Luhan-eonnie...! Ya Sooyoung-ah! Tunggu aku...!"
"Ishh... kenapa aku ditinggal, tak tahu kah mereka aku juga patah hati? ok, Youngchan kamu kuat, karena kau adalah namja! Huee Lu-noona... aishh kemana mereka berdua.."
Dua yeoja dan seorang namja remaja itu akhirnya menghilang lagi di sekumpulan orang, sepertinya mereka akan berburu foto Hunhan...
~^ Affectionate ^~
Dia keluar, "Otte?" Luhan mengeluarkan senyum termanisnya pada Sehun yang sibuk dengan smartphone nya.
"Tidak cocok!" Jawab Sehun singkat.
Senyum di bibir Luhan detik itu juga luntur entah kemana. Ia pun kembali ke dalam bilik ganti dengan wajah kusut.
Ini sudah ke sekian kalinya Sehun berkata 'tidak cocok!' Untuk coat manis ini,
'Coba yang lain saja!' untuk sebuah cardigan baby blue,
'itu terlalu childish!' untuk sebuah kaos tebal dengan corak rusa imut,
'itu terlalu sexy' untuk sebuah mantel abu-abu berbahan jeans yang menurut Luhan itu Keren!
'aku tak suka warnanya, Lu!' untuk sebuah kaos merah dengan sebuah sweater pendek,hingga
'seleramu sepertinya sedikit menurun' itu untuk jaket kulit yang Luhan bersumpah itu persis punya namja itu dan Luhan percaya masih ada di lemari Sehun!
Dan kau tahu itu sangat, aku tekankan lagi SANGAT membuat rusa kecil ini menjadi Bad Mood! Jadi apa maksud Tuan Oh itu mengajak Luhan ke sebuah departemen store terbesar di Seoul jika ia hanya mengatakan Big No terhadap pilihan Luhan dan hanya membelikan sebuah sarung tangan hangat serta syal couple. Oh ya ingat mereka belum ada di sini selama 60 menit dan Tuan Oh Sehun telah resmi sukses membuat Nona Lu Han kesal padanya!
Sebuah coat tebal berwarna putih melekat manis di tubuh proposional milik yeoja cantik yang kini masih melihat bias dirinya di depan kaca. Berputar untuk melihat tampilan belakang calon penghuni baru lemarinya, atau hanya mengumbar senyum terbaiknya dengan coat indah itu. Dengan berat hati, kembali dilihatnya tampilan yeoja di kaca. Ia melepas coat taksirannya itu dengan desahan kecewa lalu keluar bilik dengan wajah dipaksakan.
"Tak cocok kan? Apa aku bilang..." Luhan menggeleng pelan. "lalu?"
"Aku sudah tidak mood belanja...! aku mau pulang!" ketus Luhan meninggalkan Sehun yang masih duduk didepannya keluar toko. Sedang Sehun hanya tersenyum tampan saat yeojachingunya itu terlihat kesal.
Bukan kesal Oh Sehun! Tapi dia memang KESAL! Khekhe... kau berhasi Oh Sehun!
"Baby Lu! Tunggu!" Sehun pun menyusul langkah cepat Luhan yang sudah hampir sampai di depan eskalator.
"..."
"Baby Lu, jangan acuhkan nampyeon mu!" Seru Sehun saat menangkap tangan Luhan yang sudah mendaratkan sneakersnya ke tangga berjalan hingga dia pun ikut perjalanan besi berjalan itu.
"Jangan panggil sebutan konyol itu Tuan Oh! Aku sedang marah! Dan aku mau pulang! Titik!" Tak ada nada mainan dalam kalimat Luhan.
Sehun berfikir sejenak kemudian mulai menggeret Luhan ke lantai satu saat mereka tiba di lantai 2. "Fine! We go home!" Suara dingin Sehun menaikan emosi Luhan hingga membakar seluruh sel otaknya ke tingkat medium. Kedua insan itu pun jalan beriringan dengan wajah dingin, pas sudah mimik Ice Princess dan Ice Prince.
Luhan dan Sehun menunggu audi hitam milik Sehun terparkir didepan mereka. Tanpa babibu Luhan masuk ke Jok belakang untuk menghindari Sehun, dan sepertinya Sehun tak repot-repot untuk protes, malah sebuah tarikan—sangat—tipis tercipta dari bibir Sehun, entah itu senyum atau seringai. Dan mobil itu melaju tanpa ada seorangpun yang berniat memecah kesunyian di dalamnya.
Apa sih masalahnya? Aku tak habis pikir, cih kencan macam apa ini? Aku tak sudi memaafkanmu, Tuan Oh! – Luhan
Let see, setelah ini apa kau akan terus seperti itu Nona Lu? – Sehun
~^ Affectionate ^~
"kau serius? Anak itu bisa berbuat seperti itu?" tanya Minseok setelah mencoba meredakan isakan Kyungsoo. Perih melihat sahabat yang disayanginya terpuruk seperti ini.
Kyungsoo mengangguk dengan wajah basahnya. Minseok hanya bisa mendengus, pertama ia memang kaget, bukan hanya sekilas ia mengenal Kim Jongin, tapi sudah hampir tujuh tahun lamanya ia mengenal suami Kyungsoo, walau tidak akrab. Dan kedua ia sedikit kecewa saat mengetahui Kyungsoo benar-benar berbohong tentang masalah besar ini,
"Jadi dia meninggalkanmu begitu saja... dan kau berbohong padaku tentang Jongin yang pergi karena urusan kerja?" Minseok menatap Kyungsoo yang tengah menunduk.
"Mianhae, Minseok-ah, aku hanya tak ingin membicarakannya saat itu... mianhae..." Kyungsoo menatap mata Minseok yang seolah tengah menghakiminya.
Minseok menatap Kyungsoo lama, lalu lenguhan lelah terlepas dari bibirnya, "Apa boleh buat, itu sudah terjadi. Dan yang penting sekarang adalah, apa yang hendak kau lakukan Kyungsoo-ah?"
Kyungsoo hanya menatap samar sudut ruangan, tak mengangguk maupun tak menggeleng. Ia hanya diam, berfikir. Minseok kembali mendesah, ternyata ada orang yang mempunyai masalah lebih besar darinya, bahkan dia adalah sahabatnya sendiri. Yah walaupun masalah Minseok mungkin sudah terselesaikan dengan merelakan putri satu-satunya itu tenang dialamnya, tapi keinginannya akan momongan memang tak bisa dipungkirinya.
"Apa dia dan Krystal masih berhubungan?" kini Minseok menata kata-katanya dengan hati-hati.
"Aku tidak tahu..." jawab Kyungsoo kemudian tanpa menoleh sedikitpun.
Minseok mengangkat alisnya, "Kenapa kau belum bertanya? Bukankah tadi malam kalian bersama?"
"Entahlah, sepertinya tadi malam aku pingsan, dan saat Jongin membicarakannya, aku... aku takut... aku belum siap.. Min... aku.. aku masih... mencintainya..."
Terdengar suara Kyungsoo kembali bergetar. Kyungsoo kembali menangis dan itu membuat Minseok memeluk yeoja yang terlihat rapuh disampingnya ini. Yeoja yang tengah memendam luka dalam hatinya dalam tubuh itu sendiri. Entah bagaimana Kyungsoo bisa menutupi itu semua selama ini. Walau Minseok sempat curiga saat hampir seminggu Kyungsoo menghilang pertengahan dua tahun lalu, dan tiba-tiba saja ia kembali bekerja setelahnya dengan keadaan normal. Hanya kadang mendapati Kyungsoo dengan cepat menyeka pipinya saat termenung sendirian.
Saat itu Kyungsoo hanya berkata bahwa ia merindukan Jongin yang tak bisa kembali dalam waktu dekat karena perjalanan bisnis ke luar negeri. Saat itu Minseok yang tak tahu menahu tentang masalah keluarga Kyungsoo hanya percaya saja tanpa ingin mengambil pusing. Toh ia juga disibukan dengan berbagai kegiatan perusahaannya sendiri. Lagin Kyungsoo memang bukan tipe yeoja yang sering curhat dan membebani orang lain dengan masalah pribadinya.
"Tapi aku tahu sifat Jongin, Kyung! Apa dia benar-benar meninggalkanmu dan malah menikah dengan Krystal? Apalagi ia menghilang, katamu tepat setelah ayahnya yang tak pernah muncul tiba-tiba datang dimalam itu?" Minseok mengutarakan pertanyaan yang mengganjal setelah Kyungsoo kembali tenang. Tapi Kyungsoo kembali diam dan menggeleng.
Minseok kembali bingung.
Di fikirannya masalah Kyungsoo sudah seperti maze yang tak bisa ia temukan dimana jalan keluarnya. Jujur sih ia tak terlalu faham akan masalah Kyungsoo, karena yeoja itu hanya menceritakan bahwa, dua tahun lalu tiba-tiba ayah Jongin datang dengan wajah murung. Padahal Ayah jongin sudah tak terlihat semenjak pria itu menginjakan kakinya di bangku High School. Lalu setelah dua hari semenjak kedatangan ayahnya, Jongin terlihat sangat depresi, lelaki itu secara tiba-tiba menghilang tanpa ada alasan.
Menghilang begitu saja tanpa jejak sedikitpun. Keluarganya pun tak tahu dimana keberadaan suami Kyungsoo tersebut. Dan beberapa hari kemudian, ponselnya berdering dengan kode negara lain. Jongin meneleponnya dan memberitahukan bahwa ia harus menikah dengan Krystal... yeoja yang pernah dekat dengan sepupu Jongin sendiri. Dan sekali lagi, tanpa alasan yang jelas. Tapi entah kenapa Minseok merasa cerita Kyungsoo belum terselesaikan, atau mungkin kurang detail, yang karena Kyungsoo bercerita diselai dengan isakan kecil... dan Minseok tak tega membuat Kyungsoo mengulangi kisah sedihnya untuk kedua kalinya...
"Aku akan mengajukan surat cerai ke pengadilan, Min..."
Minseok terbelalak kaget saat dengan tiba-tiba Kyungsoo bergumam lirih memutuskan pemikiran panjangnya.
"kau yakin?" tanya pimpinan Grace itu pada wakilnya,
Lama Kyungsoo tak menjawab, lalu dengan lirih bibirnya terbuka
"Mungkin..."
"Pikirkan dulu, Kyung! Aku tetap mendukungmu apapun yang terjadi..."
Kyungsoo menatap Minseok dengan senyum, begitupun Minseok dengan pandangan meyakinkan. Ia sudah menganggap Kyungsoo sebagai adik kecilnya sendiri.
~^ Affectionate ^~
Tok... Tok... Tok...
"Masuk," Sahut Minseok sedikit lebih keras. Ia kembali mengerjakan rimpel-rimpel dibagian pinggang hasta karyanya.
Seorang yeoja dengan sopan membungkuk, "Maaf mengganggu, sajangnim... tapi seorang bernama em.. Kim Jongin sedang menunggu Kyungsoo-ssi di lobi..."
Minseok mengangguk singkat,
"Baiklah, saya permisi..." Yuri, asisten kepercayaan minseok membungkuk hormat sebelum menutup kembali ruangan pimpinannya.
Minseok menatap Kyungsoo sejenak, yeoja itu tetap tak bergeming setelah mencurahkan semua masalahnya satu jam lalu. Ia melirik jam dinding yang menunjukan hampir pukul sepuluh malam. Tak heran jika Jongin yang sedari dulu protektif itu mencari mantan sahabatnya itu.
"Jika kau tak ingin bertemu dengannya, kau bisa menolak..." saran Minseok. Ia tahu perasaan Kyungsoo masih dalam batas labil, apalagi setelah Minseok tanpa langsung mengorek sedikit masalahnya tadi.
Minseok sudah hampir meraih gagang telepon dimejanya jika suara Kyungsoo menghentikannya,
"Anni... aku harus pulang," Jawab Kyungsoo yang sedang meringkas seluruh barangnya ke dalam tas, lalu ia mengambil sebuah paper bag di dekat ruang wardrobe yang berisi bajunya tadi pagi. Kyungsoo berjalan ke arah Minseok lalu memeluk sekilah yeoja itu sebelum berlalu,
"Gomawo, unnie..." Senyum Kyungsoo terangkat walau tidak secerah biasanya. Ia melambai sebelum benar-benar meninggalkan ruangan.
Minseok mengendikan bahunya sambil mendengus.
Lebih baik ia lupakan dulu masalah Kyungsoo sejenak, dan fokus pada manequin yang hampir selesai ini. Ia juga ingin segera pulang bertemu dengan suami tercintanya, Kim Jongdae. Dimana ia akan bersantai sambil sedikit curhat, lalu menghabiskan malam yang tenang didalam pelukan namja itu.
Tentang kerumitan dunia, Minseok kembali teringat dengan putri kecilnya. Kini ia sadar mungkin melepas seorang Kim Daemi dengan tenang adalah keputusan yang sangat tepat. Minseok bahagia putrinya yang memang rentan itu tak akan kuat jika berlama-lama hidup di dunia. Takdir memang selalu mengerti walaupun kadang belum bisa difahami.
Ah, sesange...! dunia menang tak cocok untukmu... cepatlah kirimkan adik pada ummamu ini! Daemi-ah.. khekhe -Minseok
~^ Affectionate ^~
"... kau tahu sediri kan?" Seorang namja dengan ponsel menempel ditelinganya berdiri mengawasi seorang anak lelaki yang masih asik bermain di pinggir kolam. Ia tersenyum ketika tawa renyah anak lelakinya menggema di lantai dasar kantor menejemen ini.
"Pasti, tapi setelah aku menyelesaikan urusan dengan panda satu ini... awwhh..." pemuda bernama Kai itu terkekeh kecil mendengar seruan kesakitan di ujung, disambung omelan lucu seorang yeoja, yang ia tebak adalah tunangan sepupunya. "Jangan panggil aku panda... aku punya nama!"
"siapa peduli?... Kai? kau masih disana? Maaf dia belum jinak!" sahut sepupunya di sana. Kai memutar bola matanya, "Memang aku kemana? Urusanku denganmu belum selesai, Kris!"
"Ok! Bagaimana jika besok? Lebih cepat lebih baik bukan?" Tawar Kris yang langsung diangguki Kai, "Baiklah, sounds good!"
"Ok, see you tomorrow then!"
"Ok!"
Pip
"Appa!"
Seorang namja kecil berjalan sambil menguap ke arah Kai yang tak jauh di belakangnya. Kai pun merentangkan tangannya lalu menggendong Namsoo yang langsung memeluk erat leher appanya.
"Tidur saja, Namsoo-ie, ini sudah malam!" lembut Kai pada putranya.
"Aaa... shilleo! Soo-ie mau Eomma!" rengek namja kecil itu manja di gendongan Kai.
"Ishh.. kenapa kau itu keras kepala seperti eomma mu sih? Nanti juga eomma datang..." Gerutu Kai melawan rengekan anaknya. Beberapa orang yang masih berlalu lalang di sekitarnya hanya tersenyum melihat kelakuan appa dan anak itu.
"Shilleo, appa...!" rengek Namsoo dengan mata berair setelah menguap entah untuk yang keberapa. Kai terkekeh lalu menghapus air dari pelupuk mata Namsoo dengan lembut.
"Chilleo appaaa~~" ulang Kai menirukan suara Namsoo, sengaja dibuat kecil dan cadel. Tapi sedikit berlebihan, dan koreksi... itu tidak imut sama sekali...
"Aaa~ appa..."
Namsoo mengehentak-hentakan kakinya yang menggantung diudara. Namsoo kembali merengek-rengek pada Kai, sedang Kai terus saja menggoda namja kecilnya, hingga Namsoo hampir saja menangis...
"Ok ok... appa tidak akan nakal lagi, maafkan appa ne?" Kai menenangkan Namsoo kecil dengan membandul kecil tubuh yang melekat rapat dengannya.
"Appa akan ku maafkan kalau besok pelgi ke taman belmain!" Ohh... rupanya Namsoo sedang ngambek.
Kai mencium pipi gembul Namsoo gemas.
"Arraseo! Besok kita jalan-jalan!" Yakin Kai lalu kembali menghujami ciuman ke kedua pipi Namsoo. Dan rengekan anak kecil tadi kini telah berubah menjadi tawa lucu yang menyenangkan.
"Eommaaa~" teriak Namsoo semangat, padahal tadi saja matanya terlihat seperti lampu 5 watt.
Kai pun membalik posisi tubuhnya yang tadi menatap taman di tengah lobi, ke arah lift di belakangnya. Kyungsoo berjalan sambil tersenyum. Ia menenteng dua tas, yang satu sebuah handbag hitam dengan lambang LV di tengah, satunya lagi sebuah paper bag putih. Kyungsoo memang tampak normal-normal saja bagi orang awam, tapi tidak bagi orang yang sudah mengenalnya bertahun-tahun. Ia tampak berantakan untuk ukuran Kyungsoo yang tergolong perfectionist. Apalagi garis dibawah matanya yang bengkak dengan warna merah pudar. Apa Kyungsoo habis menangis? Kai memperhatikan wajah Kyungsoo dengan dahi berkerut, hingga tak sadar yeoja yang masih sah menjadi istrinya itu merentangkan tangan ke arah anak mereka.
Tapi Namsoo tidak bergeming dari gendongan Kai walau sang ayah telah melonggarkan pelukannya agar ia bebas untuk pindah ke tangan eommanya.
"wae?" tanya Kyungsoo penasaran, tidak biasanya Namsoo begini.
"Namsoo-ie sudah besal, jadi Soo-ie sama appa saja, Eomma pasti lelah..." Namsoo mengulurkan tangan kanannya untuk menepuk lengan Kyungsoo yang masih mengambang di udara.
Jawaban polos Namsoo mengukir senyuman manis di wajah Kyungsoo, bahkan Kai pun mengusak rambut hitam putra kecilnya.
"Aigoo... putra Eomma/Appa!" Bareng Kyungsoo dan Kai secara tak sengaja. Kyungsoo sedikit salah tingkah, tak tahu kenapa ia menjadi malu seperti ia masih gadis dulu saat bersama Kai. Sedang Kai sendiri malah tersenyum penuh arti menatap Kyungsoo yang masih menjaga matanya-menghindar sebenarnya. Kai tahu jika Kyungsoo pasti malu. Ia sudah sangat hafal,
Grep
Chup
"Eomma sayang Namsoo..." Ucap Kyungsoo setelah berhasil meraih pipi Namsoo dengan bibirnya.
"Nado, eomma.."
Tapi senyum Kyungsoo tak bertahan lama setelah ia sadar bahwa kedua tangannya telah menggenggam lengan Kai saat ia berjinjit berusaha meraih pipi Namsoo. Walau ia memakai highheels tapi tetap saja, Kai itu namja tinggi, pastinya jika menggendong Namsoo juga tetap tinggi bukan. Telapak tangannya seperti terkena setruman ion-ion yang entah apa namanya, tapi itu sungguh menyenangkan, masih terasa sama saat kedua kulit itu bertemu saling sapa. Bukannya melepas seperti yang diperintahkan otak Kyungsoo, tapi tangannya malah berlama-lama dilengan bawah Kai yang tak tertutup apapun karena namja itu menggulung lengan kemeja abu-abunya hingga siku.
"Mian..." Akhirnya Kyungsoo sanggup melepasnya pegangannya meski ada sedikit rasa tidak rela. Kai hanya tersenyum lalu meraih kembali tangan Kyungsoo yang tak menjinjing paper bag untuk disela kan dalam genggamannya.
"ini lebih nyaman, yeobo!" tegas Kai dengan lembut.
Semburat pink mulai memadati pipi Kyungsoo. Membuatnya lupa, lupakan bahwa Ia pernah membenci namja ini, melupakan kemarahannya pada Kai, dan melupakan kemungkinan rencana yang tadi ia uraikan pada Minseok. Kyungsoo lupa semua itu, ia hanya tahu betapa hangat dan lembutnya genggaman tangan Kai. Dan betapa rindunya Kyungsoo akan perasaan hangat yang perlahan mengetuk lagi pintu hatinya. Meruntuhkan segala amarah yang perlahan terkikis. Ia rindu genggaman tangan nampyeonnya.
"Hoam... apa kita akan pulang?" tanya Namsoo yang sudah benar-benar menutup matanya di bahu sang appa.
Kai membuka mulutnya untuk membalas rengekan putranya, karena sepertinya Kyungsoo belum ingin mengalihkan pandangannya,
"Ne, kita akan pulang, Namsoo... Kajja... Yeobo..!"
Kyungsoo terhentak dengan kalimat yang Kai lontarkan untuk membawanya kembali kedunia.
Apalagi kata terakhir, dimana seperti ikatan yang mutlak yang terikat dengan lambang infiniti di sebuah cawan surga yang terlukis disebuah kartu tarot. Dia hanya sanggup tersenyum dibawah pesona tatapan tanjam Kai yang entah mengapa membawa efek besar untuk Kyungsoo hingga sudut bibirnya terangkat secerah midnight sun.
Jangan jatuh lagi Kyung... jangan... jangan tatapan itu... Kyung kau harus tahan... Oh, aku tidak bisa! Aku tidak kuat...-Kyungsoo
Tunggulah saatnya, perlahan kau akan kembali padaku... yeobo! -Kai
~^ Affectionate ^~
Lampu masih bersinar terang disebuah ruangan yang penuh akan pernak-pernik perwatan tubuh di salah satu kawasan elit Myeongdong. Tampak tiga orang masih berkutat dengan pekerjaan masing-masing. Seorang yeoja dengan rambut hitam sebahu dengan beberapa highlight silver di sisi kanan, tengah sibuk dengan guntingnya, yeoja satunya sibuk mengecat kuku dengan rambut basah oleh cat berwarna light honey setelah membuat poni miring sisa insiden beberapa jam lalu. Sedang satu-satunya lelaki yang ada disana, sibuk mengawasi gunting yang sedang merajai kepalanya dengan tatapan miris.
Helaian tebal berwarna pirang yang mendiami kulit si wajah tampan mulai gugur satu persatu dibawah gesekan besi gunting. Besi itu memangkas pendek mahkota sang pemuda cina dengan profesional. Ditipisinya sisi kanan dan kiri menimbulkan efek lebih maskulin. Wajah memberengut yang sejak tadi mendominasi wajah campuran itu, berangsur reda setelah mengamati penampilan barunya di kaca. Dimana wajah tampannya kembali fresh berkat insiden 'sembarang potong rambut ala Yifan' yang dilancarkannya pada Zitao.
"Bisakah kau memotong bagian ini lebih pendek! Kurasa itu akan lebih cocok, Baek unnie...!"
Pemuda bernama Yifan itu menatap tajam yeoja bewajah bak panda dengan aura magis yang mematikan. Namun seperti tak mendengar apapun ia melanjutkan obrolan, mari-membuat-Kris-menjadi-sebuah-barbie.
"Disini? Ah, mungkin kau benar..."
sahut yeoja yang dipanggil Baek Unnie tadi. Yeoja yang sudah tega memotong surai pirang seorang Kris Wu dibawah kendali seorang yeoja rese bernama Huang Zitao—Setidaknya itulah yang ada di pikiran Kris saat ini...
"Ya! Aku memang menurutimu, tapi bukan berarti menghilangi seluruh asetku termasuk didalamnya, panda!" Geram Kris pada tunangan-belum-resminya kemudian beralih menatap Baekhyun,
"Apa kau tega padaku, Noona?" Baekhyun hanya bisa tersenyum jahil pada sepupu Chanyeol satu ini.
"Diam lah Fan-Ge! Atau mimpi burukmu tentang tak berambut akan terjadi saat ini juga..." Balas Zitao tak bersahabat.
"Beri warna pink electric untuknya...!" Sang hairstlist bermarga Byun itupun hanya tertatwa geli mendengar ancaman kekanakan model Grace disampingnya. Tingkah Zitao memang kadang absrud, dan Baekhyun baru mengetahui jika Zitao yang selama ini dikenalnya adalah nona Huang tunangan sepupu suaminya,
Kris kembali menatap ngeri anak panda bermarga Huang itu. Bola api yang hendak dilontarkannya pun dengan kasar ditelannya lagi setelah dengan tiba-tiba Zitao mengambangkan i-phone silver milik Kris di atas vas bunga. Zitao tahu jika sesorang Kris tak pernah mempermasalahkan harga selangit yang di tawarkan perusahaan apple itu, tapi bagaimana jika masalahnya adalah beberapa file serta kontak-kontak kolega pebisnis lainnya yang tersimpan di dalam benda kotak itu?
Zitao kembali tersenyum senang melihat wajah tersiksa calon suami yang tak dianggapnya mulai pasrah menyerahkan aset berharganya di rombak.
Kris memang mengakui potongan baru yang Tao inginkan memang tidak buruk malah membuat jiwa maskulin nan freshnya tambah menguar. Tapi apa kata semua orang jika seorang Wu Yifan seorang pewaris Grup Wu mengecat rambutnya dengan warna permpuan yang sungguh kontras dengan tubuhnya? Kris segera mengerahkan seluruh sel jenius di otaknya agar memproduksi akal yang bisa digunakannya sekarang.
Tapi sepertinya otaknya kalah cepat dengan cat yang kini telah mendarat dikepalanya. Baekhyun dengan santainya mengolesi seluruh surai pirang Kris dengan cairan kental berwarna gelap setelah dinetralkan. Kris terus menatap horor tangan Baekhyun disaat Baekhyun masih setia mengoles cat di surai Kris, hingga...
Drrtt...drrttt...drrttt...
...ponsel yang masih berada di depan Tao bergetar. Ponsel yang terancam mati ditangan Zitao tadi bergetar mengedipkan layarnya. Kris yang masih sibuk menyesali warna laknat di kepalanya, tak terlalu memusingkan i-phone nya. Kemudian tanpa peduli siapa yang mengedipkan layar ponsel Kris, Zitao menempelakan benda itu ditelinga.
"Hallo..." Suara Zitao menarik perhatian Kris untuk melirik ke kaca didepannya.
"Maaf, Tuan Wu masih sibuk dengan rambut baru warna merah mudanya... ada yang bisa saya bantu?" Lancar Zitao dengan bahasa mandarin. Dia meniupi kuku bercat biru gelapnya supaya cepat mengering.
Kris menatap horor kaca didepannya, berharap bibir kucing itu tertutup rapat oleh lem super. Zitao menjulurkan lidahya keluar seperti mengejek anak kecil.
"Ziezie?" Suara ragu menyambut telinga Zitao.
"Dwe?…" Baekhyun menjatuhkan kuasnya ke lantai ketika Zitao menjerit dengan suara mlengking tinggi, untung pekerjaannya sudah selesai. Sedang Kris tampak berusaha mengembalikan suhu telinganya dengan menyalurkan udara dengan kepalan tangannya.
"Ya!" Sentak Baekhyun mengelus dadanya kaget.
Tanpa peduli teriakan Baekhyun, Zitao menatap Kris dengan pandangan memelas hampir menangis setelah dengan kasar memutus panggilan internasioal yang baru masuk dalam ponsel Kris. Kris menatap bingung pada Zitao.
"What?" Tanya Kris datar. Walau tak faham dengan arti pandangan Zitao, tapi Kris tau yeoja itu sedikit ketakutan. Dan pastinya akan berakhir dengan rengekan. Kris hafal sifat menyebalkan milik Zitao yang satu ini.
"Baba..." lirih Zitao diikuti raut ketakutan.
"Ck... lalu?" Singkat Kris seoah tak peduli. Ia kembali berbalik sambil merapikan serpihar rambut di bajunya. Karena setelah secara sengaja menggunting rambut depan Zitao, rambutnya pun ikut menjadi korban saat gunting laknat itu berpindah tangan. Artinya Zitao ikut menggunting poni pirang milik Kris.
Drrtt...drrttt...drrttt...
"Gege … please..." rengek Zitao mulai menghentak pelan heels silvernya saat ponsel Kris kembali bergetar. Mengedipkan nomor dan nama yang sama, nomor milik...
Wu Zhoumi
"Suruh saja Baek-nuna.." Sahut Kris tanpa peduli dengan Zitao yang masih berengek. Setelah melempar tatapan sinisnya pada Kris, Zitao mengalihkan panda eyesnya pada Baekhyun yang sudah sibuk dengan ponselnya.
"Siapa bilang aku mau... ah, Hyohyun-ah, wae?..." sahut Baekhyun kemudian menjauh meninggalkan Kris dan Zitao untuk menerima telfon yang baru saja berbunyi.
Zitao berjalan mendekati pemuda itu dengan hentakan kecil yang lucu. Kris sedikit tersenyum miring saat menyadari itu, tapi ia langsung mendelete ekspresi wajahnya begitu si panda berjalan ini sudah mencapai kursi di sebelahnya,
"Gege~ Please! Aku... akan melakukan apapun... Fan-ge~..." Zitao menautkan kedua tangannya. Kris terlihat berfikir sejenak, kedua alisnya bertautan dengan serius.
Drrttt... Drrttt... drrrttt...
Ponsel Kris kembali bergetar dengan nomor yang sama membuat Zitao kembali panik. Setelah beberapa detik, akhirnya kris membuka matanya,
"satu, kau harus menuruti semua permintaanku, kedua kau tak boleh protes.. e'em-Kris menggerakan telunjuknya, isyarat diam untuk Zitao yang ingin menyela- intinya kali ini kau harus mematuhiku!" Kris membacakan daftar singkatnya, diakhiri dengan jentikan jari seolah ketukan palu di pengadilan.
"Ini terpaksa! Dan syaratmu hanya berlaku hari ini!" Zitao menahan benda yang terus bergetar itu saat Kris menariknya.
Kris tersenyum cool, ia melihat arlojinya. Tiga setengah jam sepertinya lumayan juga! Bukan masalah.
"Ok! Deal!"
"Kau berengsek, Wu Yi Fan!" maki Zitao sambil menyerahkan ponsel Kris pada pemiliknya.
Kris terkekeh, "Aku sering mendengar itu!" Kris kembali membuat tanda dengan jemarinya saat Zitao kembali membuka bibirnya,
"The rules number two! It's just begin, Ziezie!" Singkat Kris disertai smirk, lalu menggeser panel hijau di ponselnya.
"KENAPA BARU KAU ANGKAT, WU YIFAN? APA PANGGILAN AYAHMU TAK PENTING? HAH? DIMANA KAU SEKARANG? JEMPUT AKU DAN MAMAMU DI BANDARA SEKARANG JUGA!"
Suara melengking seorang Wu Zhoumi terdengar melengking tinggi di speaker ponsel yang sudah di loudspeaker itu! Membuat Kris dan Zitao saling menatap bingung,
"DAN BAWA ZIEZIE IKUT DENGANMU! AKU TAHU KAU BERSAMANYA! JANGAN MEMBANTAH ATAU KALIAN MENIKAH BESOK PAGI!"
Pip
"WHAT THE HELL!"
Kompak Zitao dan Kris setelah dengan tiba-tiba Zhoumi memutus sepihak panggilan itu, bahkan sebelum terdengar sebuah kata dari Kris maupun Zitao.
"Nah, begitu kan kompak! Kenapa tidak dari tadi!"
Kris dan Zitao kembali kompak menoleh dengan tatapan membunuh pada seorang disamping Baekhyun. Chanyeol, namja tinggi yang baru saja mengeluarkan suara bass nya.
"Wow.. wow... maksudku bukan kompak yang ini, kalian membuatku takut..."
"Diam kau, Park!/Diam Kau, Oppa!"
~^ Affectionate ^~
Di dalam dapur sebuah rumah, seorang yeoja paruh baya tengah memotong sayuran dengan gembira. Senandung-senandung kecil keluar dari bibir tipis seorang Kim Minseok mengikuti alunan musik dari speaker kecil di dekat telepon. Kadang lirik abstrak tercipta mengikuti alunan piano milik Yiruma. Minseok melanjutkan acara memasaknya hingga beberapa masakannya tersaji di atas meja. Ia mencopot apron hijau dari kemeja besar yang dipakainya. Dia melirik jam digital di pintu kulkas, pukul enam lebih dua puluh tujuh pagi. Minseok kembali menata rapi pekerjaannya sebelum melesat masuk ke kamarnya untuk memanggil namja yang sudah beberapa tahun hidup dengannya.
"Jongdae-ah!" panggil Minseok sambil menutup pintu.
Sebuah ruangan luas yang dipisahkan oleh undakan kecil di tengahnya menyapa pandangan Minseok. Ia mendapati ruang di bawah hanya dipenuhi sebuah karpet tebal dengan banyak bantal yang menghadap sebuah LCD TV serta meja kecil di dekat jendela besar. Tanpa Jongdae yang biasanya jam segini sudah rapi dengan kaos atau kemeja tengah menonton acara TV.
Karena tak menemui Jongdae di ruang bawah, Minseok menaiki lima tangga kecil menuju ruangan bertirai di depannya. Ruangan yang ternyata berisi tempat tidur, beberapa lemari serta beberapa meja tersebut juga Kosong. Bahkan tirai yang membingkai jendela di timur belum terbuka sama sekali.
"Jongdae-ah eodiya?" Seru Minseok sambil berjalan untuk membuka tirai gelap dikamarnya. Ia tersenyum saat mendengar gemericik air dari sebuah pintu yang tak jauh dari jendela.
Tok...Tok...Tok
"Yeobo! Cepatlah, nanti kita terlambat! Eomma dan Appa sudah menunggu kehadiran kita!" Seru Minseok lagi setelah mengetuk pintu kayu menuju kamar mandi. Tanpa menunggu jawaban, Minseok mulai merapikan kamarnya yang terlihat 'sedikit' berantakan. Dari menggulung sprei beserta slimutnya jadi satu untuk di cuci dan menggantinya dengan yang baru, menata ulang bantal-bantalya, serta memunguti beberapa pakaian yang terserak di bawah. Kalian tahukan, apa aktivitas semalaman yang menghabiskan tenaga.—dan ini gue skip..(mian gue gak bisa bikinnya hehe)
Tibalah Minseok didepan kaca besar disudut ruangan. Ia memperhatikan badannya yang masih berada di dalam kemeja longgar berbahan jean. Minseok menarik stick perunggu yang mengikat rambut sepunggungnya. Ia mengamati tubuhnya, tak ada perubahan yang berarti sebenarnya, tapi kenapa ia merasa beberapa bagian tubuhnya seperti bertambah lebar seperti pipinya yang kembali tembam, dadanya yang sedikit betambah volume, pinggang dan pahanya yang sedikit mengembang menurutnya. Yah walau meskipun ia tetap terlihat kurus, tapi ia hafal bentuk tubuhnya sendiri bukan? Apa karena akhir-akhir ini ia sering mengkonsumsi susu strawbery serta beberapa kue manis? Mungkin anjuran Kyungsoo ada benarnya, ia harus olahraga setelah makan manisan!
"Aigoo!" Desah Minseok pelan saat ia menegakan tubuhnya selepas membereskan seluruh kamarnya. Pinggangnya sedikit sakit, dan kakinya lumayan pegal, padahal hanya beberapa potong pakaian. Apa aku setua itu? Bukankah umur 30-an bahkan belum tua? Ah, aku harus ke dokter! Mungkin sedikit vitamin akan membantu!—pikir Minseok.
Klek
"Kenapa kau membereskannya sendiri, chagiya?" Tanya Jongdae sambil mendekati Minseok yang kini duduk di pinggir ranjang. Kakinya yang dibalut dengan kain jeans berwarna putih melangkah hingga tiba didepan Minseok.
"Karena kau mandi, tak ada salahnya bukan?" Jawab Minseok mengendikan bahunya, ia berdiri lalu meraih handuk dari tangan Jongdae. Minseok mengeringkan rambut Jongdae yang sudah kembali di cat light brown dengan telaten. Jongdae terkekeh lalu mulai menciumi kedua pipi Minseok hingga Minseok kegelian dan memukul pelan bahu suaminya.
"Kau berusaha menggodaku lagi? Eum?" tanya Jongdae pada Minseok, membuat yeoja itu sedikit meremang merasakan angin bergesekan dengan tengkuknya. Apa lagi kulitnya yang bersentuhan dengan tubuh Jongdae yang hanya tertutup celana, aroma sejuk maskulinnya membuat Minseok sedikit pening.
"Aish.. cepatlah ganti, aku sudah memasak, siapa yang kemarin meminta Huoguo-bisa dibilang hot pot masakan khas Cina—dengan jagung manis?" tanya Minseok sambil berusaha melepaskan tubuhnya dari Jongdae yang masih setia mencuri kecupan darinya.
"Ay-ay mama... Kajja, kita makaann..." Sahut Jongdae tiba-tiba menyambar Minseok dalam gendongannya.
"Ya! Jongdaeaaaahhhh~" Minseok terus meronta minta diturunkan. Tangan lentiknya tak berhenti memukul apa saja bagian tubuh Jongdae hingga mereka meninggalkan kamar utama tanpa penghuni. Meski umur mereka sudah kepala tiga, tapi apa boleh buat jika penyakit bernama cinta yang tak ada obatnya selalu bersarang di hati keduanya?
~^ Affectionate ^~
"Cha~ " Jongdae mendudukan tubuh Minseok di salah satu kursi yang mengelilingi sebuah anyaman rotan berlapis kaca bening di ruang makan.
Jongdae mengabaikan tatapan tajam Minseok, sepertinya sedikit jahil dipagi hari akan lebih baik, "heol! Sepertinya kau bertambah berat, Noona!" oceh Jongdae santai.
"Jika beratku memang bertambah kenapa? Kau tidak suka? Cari saja wanita yang lebih langsing, atau cari remaja saja sana!" Rajuk Minseok menyilangkan lengannya diatas kemejanya. Wajahnya memberengut seperti anak kecil, sungguh menyembunyikan berapa sebenarnya yeoja itu berkelana di dunia fana. Apalagi bando spike warna pink yang menancap indah di sela kepalanya. Mungkin bisa dibilang, semakin bertambah umur seorang Kim Minseok semakin berwajah Baby face.
"Tapi sepertinya aku takut, kau tak akan melepasku, noona!" celetuk Jongdae penuh percaya diri setelah duduk disamping istrinya yang masih memberengut lucu.
"Oh? Bukannya yang tak bisa melepasku walau hanya seharian adalah dirimu sendiri?" serang Minseok yang mulai tahu arah Jongdae.
"Benarkah? Sepertinya... memang benar! Haha," Tawa merdu Chen bergema di ruangan ini membuat Minseok mengikuti langkah pemusik satu ini.
CHUP
"Tapi aku serius, Noona. Kau tambah seksi..." Jongdae mengerling nakal sebelum menghindar cubitan ringan dari Minseok yang tetap mengenai pahanya.
"Ya!" Protes Minseok mengakhiri vitamin pagi mereka untuk tertawa, kelarga kecil itu kembali makan dengan tenang. Menikmati beberapa resep Tionghoa yang pernah nenek Jongdae ajarkan pada Minseok. Dan sekarang terciptalah Huoguo, Mapodoufu, serta Gongbao jiding sebagai menu utamanya.
"Cobalah, aku tak yakin seenak dulu, aku sudah lama tak membuat Huoguo, Dae-ie!" Minseok menuang campuran sayuran, potongan daging, dan kaldu itu dalam mangkuk didepan Jongdae. Jongdae menaikan bahunya tak peduli, membuat Minseok kembali tersenyum lembut.
Setelah mencicipi satu-satu masakan negara sang ibu buatan yeoja asli korea ini, Jongdae mulai membeo menyuarakan pikirannya, "Aku tak pernah meragukan keahlianmu, noona... persis seperti masakan nenek!..."
Beberapa menit hanya dentingan logam dengan kramiklah yang terdengar, hingga sendok di pegangan Minseok kembali diletakkan di meja. "waeyo?" Tanya Jongdae saat menyadari Minseok tak lagi menyentuh makanannya. Ia meletakan sendok dan sumpitnya kembali.
Minseok termenung dengan dahi berkerut menahan sesuatu. Ia memejamkan matanya, bukan hanya kali ini tubuhnya tak bisa berkopromi, bahkan kemarin dan kemarinnya lagi saat ia makan di kantor, lambungnya hampir selalu mengembalikan apa yang sudah dimakannya keluar beserta asam.
Hoek
Minseok menutup bibirnya rapat agar tak muntah di meja makan, ia segera berlari ke kamar mandi. Ia tak memperdulikan Jongdae yang mengikutinya sambil memanggil namannya.
Sesampainya di dalam, Ia mulai memutahkan isi perutnya hingga matanya berair dengan muka yang sudah memerah. Ia merasakan pijatan lembut ditengkuknya, membantu menetraisir rasa mual yang akhir-akhir ini sering melandanya. Sepertinya Minseok harus benar-benar menemui appa mertuanya kali ini. Setelah merasa sedikit reda, Minseok mulai memersihkan wajahnya.
"Gwaenchana?" pertanyaan bodoh yang dilontarkan Jongdae kali ini sudah bisa ditebak. Walau Minseok mengangguk, tapi tak mungkin jika tubuhnya baik-baik saja Minseok sampai sepucat dinding kamarmandi?
"Sudah berapa kali kau muntah pagi ini?" tanya Jongdae masih setia mengurut tengkuk Minseok yang sekarang telah disandarkan pada tubuhnya. Jongdae membawa Minseok kembali duduk di ruang makan, menyodorkan sebuah gelas bening dengan air putih didalamnya. Minseok mengangkat kedua jemarinya, menjawab pertanyaan Jongdae.
Plak
Produser muda itu menepuk jidatnya seolah melupakan sesuatu yang sangat penting. Hal yang sangat umum, jika seorang yeoja merasa mual di pagi hari bahkan sebelum makan. Hal yang biasa di ciri-cirikan seorang wanita, dan bodohnya Jongdae baru menyadarinya, mungkinkah itu.. morning sickness.
"Bagaimana bisa aku lupa? Mungkinkah..." Minseok menatap penasaran Jongdae yang menggantung kata-katanya.
"...Kau hamil, Noona?" sambung Jongdae.
Mata minseok yang bulat sebakin bulat hampir keluar, sebelum memekik keras...
"MWO?!"
~^ Affectionate ^~
TBC –
.
.
Holla... Mian ya, gue baru nongol hoho...
Tau lah ini akhir tahun pelajaran, dan gue selaku siswa yang baik masih harus UAS/UKK buat dapet rapor..
And kedua, karena internet gue yang aslinya sehat berada di tempatnya, jadi ngadet gegara papa bongkar-bongkar kabel, dan berimbaslah pada internet tercinta... gue gak bisa update dah...
Do'ain hari ini UAS aku berjalan lancar ya reader-deull... buat loe semua yang udah nungguin review dan kritik plus saran plus semangatin Hyo buat Update makasih banyak... You are the best! Hyo kalo gak ada kalian juga gak ada apa-apanya. Meski Hyo tau tulisan Hyo gak seberapa dibanding author lain di FFN tapi Hyo hobi buat cerpen, meski ngaret sampe sebulan lebih... Teteplah Gomawo!~~
No matter what! I'll Always Love Kris-WuYiFan
!Always SHIP KRISTAO AND KAISOO!
EXO SARANGHAJA!
-Hyomilulu-
