-0-0-0-0-0-0-0-0-
Author : Hyomi
Cast : Chenmin, Hunhan, Kaisoo, Kristao (beberapa member nyempil)
Genre : Romance, Drama, GS
Rated : T
Note : This FF is officially mine, if you don't like, don't read. Ok!
GS! Typos! Gak pake yang namanya EYD! Bahasa Ancur! Gak Karuan!
And, Review Jusseyo!~^^~
.
Thanks for readers, Reviewers, Followers or yang udah Fav...
And
Sepecial Thanks to :
MVPsADINDA :
iya tuh Kaisoonya udah mulai maen hati... Makasih ya reviewnya~
HyuieYunnie :
iya noh dibawah, buanyak pake banget Makasih ya reviewnya~
Fey :
Yeah.. i know~ yup A+ for u, Kyung taken by Kai..
kkk iya emang maunya susah di prediksi.. Makasih ya reviewnya~
HunHanCherry1220 :
Udah tau kan apa yang dilakukan tuan Oh? Kekeke
Kaisoonya dibuat ribet, soalnya kurang afdol kalo Kaisoo gak menderita dulu(di lindes traktor ma Kai)
Kok tahu kalo ibunya Kris Henry, hanyo kamu nyontek notebook aku ya~ padahal di ff aku tulis Halin loh(chinese name buat Henry yang terkesan ke baratan and gak girly)
Sip yok nikahin mereka besok pagi di latar(bukan altar) kepresidenan, kan masih tuh sisa buat upacara 17-an khekhe Makasih ya reviewnya~
Haru3173 :
Khekhekhe Kristaonya dikit-dikit ntar juga banyak, soalnya berbagi ma yang lainnya...(garuk ketek Kris)
Sebenernya kemaren aku masih kelas XI jadi belom UAN, tapi gak papa berhubung sekarang udah kelas XII jadi thanks, ya. Amin moga UAN Hyo lancar 7 bulan lagi... hehe..
Sepupu Kris nongol di CH ini loh, gak tanggung-tanggung loh, 2 orang sekaligus Hyo beri tahu!
Iya bener dia Cuma kerja sampingan, virtual agency nya Cuma buat dukung cerita jadi gak pengaruh disini, hehe Hyo Cuma iseng! Makasih ya reviewnya~
Kyunginie :
okok ini udah lanjut, greget-an mana sama momennya Kaisoo di SMTOWN seoul kemaren?... Makasih ya reviewnya~
BearLin :
Gomawoooo~ aku juga cinta banget ama om Kkamjong walau temen aku bilang kalo aku benci ama Kai(karena Kai selalu gue nistain kalo cerita ma mereka)
Kristaonya udah banyak momen loh, pa lagi ntar Tao ketemu eomma nya~ khekheke iya ni udah ch 5.. mian telat Makasih ya reviewnya~
lee chan hyun :
gomawo~ Kaisoonya disidang dulu aja tapi jangan di pengadilan agama, di rumah Hyo aja...
Aku juga iri ma Chenmin, pengen deh di gendong ma Chen ato Umin... pasti rasanya kaya abis makan ganja... Makasih ya reviewnya~
DJ 100 :
Ini author juga kan? Aku nge fans ama cerita eonni...~ gak nyangka di review cerita abal gue... khekhe...
Iya Kaisoonya tragis dulu, ntar di baikin... Makasih ya reviewnya~
Guest :
Penasaran ya, makanya baca ch ini... iya nih uda lanjut... Makasih ya reviewnya~
Brigitta Bukan Brigittiw :
Chenmin berbahagia. Moga aja tambah so sweet... Kaisoonya bikin pengen masuk ruang ICU(masuk doang loh gak dirawatnya)
Itulah hubungan gelap mama papa Hyo.. maklum ya... Makasih ya reviewnya~
Kt :
Khekhe Taorisnya uda lanjut nih.. Makasih ya reviewnya~
EarthTeleport :
Kyaaaaa... iya gak papa penting udah ada di list reviewers... khekhe aku juga pernah jadi siders kok, kadang! Tapi udah tobat hehe...
Yaya... pada seneng ma Chenmin.. dan kaisan ama Kaisoo, itu juga buat aku kasian ama Kaisoo.. tenang aja, eomma ma appa bakalan comeback dengan kebahagiaan kok!
Namsoo baru bobo jadi belum bisa melakukan sesuatu... Makasih ya reviewnya~
luhan8045 :
Chenxiu nya tuh uda di bawah nunggu di baca.. Makasih ya reviewnya~
Zoldyk :
mian aku telat update(telat banget) Makasih ya reviewnya~
xyln :
Hi juga, xyln.. iya Kris ketularan Chen jadi pinky boy!sip-sip ini uda lanjut Makasih ya reviewnya~
Ruixi :
iya dong gak ada exo gak rame(korban iklan) udah dilanjut kok...Makasih ya reviewnya~
Yixingcom:
Udah nih kaisoonya muncul, tapi entah lah banyak engganya ...tergantung yang baca...
Kapan bersatunya ya? Saat negara api mulai menyerang(ikut aang bawa apa!) Makasih ya reviewnya~
Dandeliona96 :
Iya nih Taorisnya malu-malu(padahal malu-malu in) iya gomawo ne,,, UKK gue sukses.. khekhekhe Makasih ya reviewnya~
Khasabat04 :
Xiumin : iya dong Umin gitu! Pede bawa barner(Chenmin)
Hehe.. iya Taorisnya emang suka banget gitu, Hyo aja bingung bayangin rambut pink buat Kris...
.
~^ Affectionate ^~
Minseok memencet tombol intercome. "Nuguseyo?" sahut seorang wanita dengan suara halus.
"Eomma..."
"Eoo... Minseok-ah~"
Tak lama kemudian, gerbang bercat putih itu terbuka otomatis hingga mobil sedan milik Chen terparkir rapi di dalam. Tepat saat sang suami keluar dari mobil, pintu rumah itu terbuka dan munculah seorang yeoja Im Daehee.
"Minseok-ah..." Panggil Daehee sambil memeluk Minseok erat. "Yeobo~ cepat kemari!"
Minseok terkekeh pelan dipelukan Daehee, mertuanya ini selalu heboh saat dirinya dan Chen datang ke mari. "Eomma... bogoshipeoyo~"
"Nado.. nado.. Min-ah..." balas sang eomma sambil melepas pelukannya.
"Jadi yang dipeluk hanya noona? Aku tidak?" rajuk Chen yang sudah berdiri dibelakang Minseok dengan dua keranjang anyam.
Im Daehee tersenyum akan tingkah sang anak, "Sini-sini... kau itu sudah kepala 3 malah seperti bocah 5 tahun!"
Terjadi lah peluk kangen antar Minseok, Jongdae, dan Daehee didepan pintu hingga seorang namja dengan rambut yang sudah memutih, muncul. Kim Sungwoo, seorang dokter ahli jantung berwajah teduh, yang merupakan ayah seorang Kim Jongdae datang dengan kaos dan celana training. Sepertinya sang appa baru saja mandi, lihat saja rambut putihnya yang masih meneteskan air.
"Appa~" Minseok langsung menerjang sang appa mertua.
"Aigo! Uri xiu-xiu...!" sambut Sungwoo memeluk menatunya erat, Chen dan Daehee hanya tersenyum bahagia, mengingat dimana dahulu sang appa sangat tak suka dengan kehadiran Minseok. Tapi itu semua berubah bagitu saja, saat Minseok mengandung Daemi.
~^ Affectionate ^~
Di sore yang terasa sejuk ini, keempat anggota Kim sedang bersantai di bawah rindangnya pohon halaman belakang. Menikmati suara gemericik aliran sungai yang minim polusi, ditemani beberapa potong sandwich dan pie strawberry. Canda tawa yang jarang mereka lakukan di kala hari sibuk, menguar begitu saja layaknya kupu yang terbang bebas.
"Andai, Mimi masih bersama kita, mungkin ia sudah sebesar ini, ne?" celetuk Minseok tiba-tiba sambil memandang sekumpulan capung di tepi sungai. Ia mengangkat tangannya kira-kira satu meter diatas tanah.
Ketiganya hampir saja tersedak. Daehee meletakan mangkuk tomat ceri yang sedari tadi dipangkunya ke tengah slimut piknik, lalu beringsut mendekati Minseok. Diusapnya bahu sang menantu pelan, tatapannya berubah sendu. Sungwoo hanya bisa menatap iba pada Minseok, ia tahu seberapa dalam putrinya itu merindukan gadis cilik yang dulunya lincah itu. Sedang Jongdae hanya menunduk sambil mengadu garpunya dengan semangka kuning di piringnya.
"Minseok-ah... percayalah pada Tuhan. Dia akan memberi keajaiban tepat pada waktunya!" lrih yeoja yang dulunya berprofesi sebagai guru musik di sebuah High School. Minseok mengalihkan matanya pada wajah ayu sang eomma yang masih terlihat muda.
"Aku percaya, eomma... " Yakin Minseok pada Daehee, ia tersenyum lembut. Dan beberapa detik kemudian, ia beralih menatap Jongdae,
"Yeobo! Dimana tasku tadi?" Tanya Minseok menimbulkan persimpangan di dahi Chen, tapi Chen toh tetap menyerahkan tas Minseok pada yang punya.
Minseok menerima tas caramelitu, dan mulai mencari sesuatu.Setelah menemukan dan memegang benda yang dicarinya, Minseok menatap appa dan eomma Chen bergantian.
"Aku punya sesuatu... yang sangat... berhak dirayakan," Ujar Minseok semangat, ia menatap Chen dengan penuh art hingga sang suami terkekeh pelan mendapat semua jawaban yang sedari tadi ada dikepalanya.
"Apa yang berhak kita rayakan, sayang?" tanya Sungwoo dengan raut penasaran yang semakin terukir jelas di wajahnya. Minseok tersenyum kembali lalu menjawab,
"sesuatu yang sangat... sangat berharga!"
"kau membuat eomma sungguh penasaran, Minie-ah," sahut Daehee. Ia menatap yeoja chuby itu dengan mata berbinar, tanda bahwa ia sangat tertarik dengan apa yang akan dikatakannya.
Minseok menatap Chen sekali lagi, ia tersenyum setelah dapat anggukan namja itu. "Pertama, mimpiku sebagai pencipta seni akan terwujud, karena... aku dapat tender untuk Show akhir tahun di Milan!"
"Jijja? Chukhae~ Minnie-ah..."
Seruan Minseok tersebut berhasil membuat orang-orang didepannya berseru mengucapkan selamat padanya. Bahkan Daehee sudah merengkuh Minseok dalam pelukannya,
"Tunggu, jika ada pertama, bukankah ada yang lainnya?" tanya Sungwoo. Minseok kembali menampakan gigi rapinya, bahagia karena ada yang peka juga. Ini lah perayaan sesungguhnya yang ia tunggu-tunggu.
Minseok mengeluarkan tangannya yang sedari tadi bertengger didalam hand bag nya, ia memindahkan sebuah amplop putih ditangannya ke tangan sang mertua.
"Karena, appa berhasil mengetahui apa yang kumaksud, jadi appa kuberi kehormatan untuk membuka kejutan kedua ku!" sahut Minseok.
Sungwoo kembali berkerut penasaran, ia membolak balik amplop tersebut sebelum menggerakan tangannya pada perekat di ujung. Amplop itu berwarna putih dengan ujungnya yang terekat dengan ujung satunya, sengaja disegel agar isinya tak terlihat langsung. Rasa penasaran yang sedari tadi mendekam di relungnya mendorong tangannya untuk cekatan membuka amplop itu sesegera mungkin.
"Yeobo, cepatlah sedikit!" ujar Daehee tak sabaran. Hingga akhirnya Sungwoo berhasil membuka dan mengeluarkan isi didalamnya.
Sungwoo terpaku pada beberapa foto hitam putih dan secarik kertas ber kop rumah sakit yang kini ada ditangannya. Ia mulai menatap Minseok kemudian pada foto ditangannya, lalu pada Minseok lagi, kemudian menatap Chen yang sedang terkekeh pelan sambil mengangguk, baru setelahnya matanya berbinar menatap istrinya.
"Jangan katakan itu tiket liburan, karena tak ada tiket pesawat se-besar itu! Jadi?" tanya Daehee yang semakin penasaran, karena hanya ia yang tak tahu kejutan terakhir Minseok. Sedang Chen sudah beralih memeluk Minseok dari samping sambil melihat reaksi lucu yang diberikan kedua orang tuanya.
"Yeobo..." panggil Sungwoo, "Ne?" jawab Daehee semangat,
"Uri Minseokie..." sahut Sungwoo pelan, "Ah, Wae?~" Daehee sudah mulai frustasi dengan reaksi Sungwoo yang mulai aneh,
"Dia.. hamil!" jawab Sungwoo lalu memeluk Daehee yang masih memikirkan ucapan Sungwoo yang terkesan cepat dengan nada tinggi.
"Aigoo, cucuku~" seru Sungwoo terlalu semangat, membuat Daehee ikut memekik dan membalas pelukan suaminya.
Minseok dan Jongdae melepas tawa bahagia, mengingat reaksi orang tua mereka saat melihat foto hasil USG yang baru dijalani Minseok pagi ini sebelum berangkat ke Siheung, dimana rumah orang tua Chen berada. Padahal dalam foto itu, janinnya belum berlihat jelas, karena ia masih berusia sekitar tiga minggu-an.
"Omo.. omo! Chukhae Minseok-ah~ Jongdae ah~, kau harus menjaga cucuku~ ah... apa dia tahu aku Halmeoni nya? Apa dia yeoja? Namja? Aigoo~ aku tak sabar melihat dia lahir Yeobo ya~~" Daehee memeluk Sungwoo erat, melampiaskan kebahagiaannya.
"Ne,aku juga... aku harap dia akan sepertiku, kuat. Jika namja, harus setampan diriku! Jika Yeoja, tentu harus seperti eomma nya! Ah, Harabeoji tak sabar menunggumu, aegiya~!"
Kira-kira itu lah rancauan Daehee dan Sungwoo pada putra putrinya. Tawa dibawah langit senja ini lah yang akan mengukir memori permanen di keluarga Kim yang telah lama mengharapkan kehadiran malaikat kecil, yang kelak akan menggantikan gadis cilik yang telah bebas di dunianya.
Seiring turunnya matahari yang lebih awal saat memasuki awal musim dingin, keluarga bahagia itu mulai masuk ke dalam rumah. Bukankah ini keajaiban yang dibawa tuhan? Hanya memerlukan beberapa waktu, dan disaat yang benar-benar tepat anugrah Tuhan yang sering disebut miracle itu akan muncul dihadapanmu. Jika kau yakin akan hal itu, maka dalam kurun waktu cepat atau lambat, keajaiban itu akan menemuimu.
"Gomawo, yeobo~"
Chen berhenti sejenak di beranda belakang. Ia merengkuh tubuh anae-nya lalu mendaratkan sebuah ciuman ringan yang sarat akan perasaan. Dan dengan senang hati, Minseok membalasnya.
"Jongdae-ah, bawa Minseok ke dalam. Udara dingin tak baik untuk keadaan ibu dan cucuku!"
Daehee dan Sungwoo berseru bebarengan dari dalam.
Chen dan Minseok terkekeh pelan setelah melepas tautan bibir mereka, karena sang appa dan eomma mungkin akan sangat protektif pada calon cucu mereka.
~^ Affectionate ^~
Incheon International Airport, 16.18 KST
Seorang yeoja melangkah di atas flat shoes kuning-orange. Membiarkan kaki jenjang panjangnya terekspos publik sebatas paha dibawah rok span merah serta kaos tipis berwarna hitam di dalam rajutan wol warna krem. Sebuah tas spike warna senada menggantung indah di punggungnya, sense gadis itu nyaris tanpa asesoris kecuali beberapa anting rantai chromehearts yang menusuk beberapa lubang di telinga kirinya. Sedang rambut light honey itu di putar menjadi gelungan acak sehingga terkesan cool.
Gadis unik itu berjalan menuju track barang untuk mengambil tas jinjingnya, kemudian sembari mencopot kaca mata biru berlabel gucci ia mulai mengutak-atik ponsel tanpa mengetahui seorang namja tengah menghampirinya dalam diam.
"kau membuatku menunggu lebih dari setengah jam, Panda!" ucap sang namja setelah yeoja bak model itu menoleh kaget ke arahnya.
Zitao melirik sinis sosok disampingnya, "Siapa yang bisa menebak badai yang tiba-tiba saja melanda Osaka?"
"Lagian, siapa yang menyuruh gege mengambil pekerjaan Yixing jie..." sambungnya kemudian, "Jika kau ingin tahu, hubungi saja 'tetua di rumah'" balas Yifan lalu meninggalkan Zitao setelah menyambar tas di tangan yeoja panda itu.
Walau kesal, tetap saja Kris selalu dididik dengan maner elit turun temurun agar selalu menghormati perempuan. Salah satunya barang berat adalah pekerjaan Pria sejati, walau tas itu tak seberapa. Panda imut itu mengekor dibelakang Kris setelah mendengus kesal hingga keduanya sampai pada sebuah Maserati hitam di parkiran. Tak heran jika seorang Wu berganti mobil, tapi sedikit banyak juga menarik perhatian Tao. Dimana Kris mendapatkan mobil ini padahal kemarin ia menumpangi Audi Cabrio yang jelas sekali perbedaannya?
~^ Affeectionate ^~
"mantan pacar?" Suara Tao memecah suasana dingin yang tercipta semenjak Tao dan Kris duduk di dalam mobil.
"nugu?" Sahut Kris bingung karena tak ada yang berbicara semenjak mereka meninggalkan airport,
"Lay Jie.." Jawab Tao singkat dan padat. "Waeyo? Cemburu?" Kris mengerling tapi Tao menatapnya sinis.
"Iya bila yang kau maksud adalah Yixing! Why?" lanjut Kris lalu mengerem laju mobilnya tepat saat lampu merah menyala. "Huh! Kenapa bukan dia?" Lipatan kulit di kening namja dengan tinggi berlebih itu bertambah mendengar nada sinis dari bibir Tao.
"Apanya?" Tao pun kembali mendengus, "Kenapa bukan Lay jie saja yang menikah denganmu!" Tao membuat pertanyaannya seperti sebuah perintah.
"Bagaimana bisa? Kau itu ada-ada saja..." Kris menggeleng "Hey, panda! Jangan buat gege mu ini pusing!" Ia menatap putri salah satu relasi ayahnya ini dengan raut muka heran, apakah yeoja satu ini sedang PMS? Kenapa semenjak mereka bertemu yeoja panda ini selalu dalam keadaan marah-marah! Apa salah nya?
Ok mungkin memotong beberapa helai kesayangan Zitao hingga mengancam keberadaan warna hina—pink—di kepalanya kemarin memang salahnya dan untung saja, Zitao berbaik hati mengganti—hanya membohongi Kris tentang warna nista-soret pink—menjadi dark choco. Tapi jika itu tentang ayah ibunya yang tiba-tiba datang dua hari lalu dengan membawa kejutan berupa orang tua Zitao, itu sama sekali bukan salahnya.
Bahkan dirinya sendiri pun sangat terkejut dengan kemunculan keempat tetua tersebut yang sekarang berada di villa orang tua Kris, karena Kris sama sekali tak pernah mengatakan ia bertemu Zitao di Korea. Bahkan apa yang dikatakan tentang kedatangan ayahnya pada Zitao saat pertama kali bertemu, itu hanyalah akal-akalan Kris semata untuk sedikit mengerjai si gadis panda. Tapi tetap saja itu hanya alasan aneh bagi Kris.
"Siapa yang membuat gege pusing? Kau yang membuatku pusing! Bukankan akan lebih simple jika gege menikah dengan pacar sendiri?" Tao menyilangkan tangannya tanda ia sangat kesal berhadapan dengan tunangan'paksaan'nya ini.
Kris memutar bola matanya sambil mendesah berat, ia melirik lampu merah yang sepertinya akan menahanmya lebih lama. "Bagaimana bisa? Justru kau yang membuatku pusing dengan pertanyaanmu!"
"hah... Kenapa dulu gege tak menikah dengan Lay jiejie saja? Bukankah dia pacarmu? Dan kenapa kau harus menyetujui perjanjian bodoh mereka? Wae!" Iya, Tao marah.
Ia marah saat ia tau Kris sendirilah yang menyetujui titah kakeknya dan dengan itu pula, ia tak bisa menolaknya. Tao menyalahkan namja bodoh itu, kenapa ia dengan mudahnya menerima ini semua. Ia hampir saja menitikan air matanya, kalau ia bisa melupakan sedikit harga dirinya didepan Kris.
"Hidup tak akan sulit jika kau menurutinya." Desis Kris menggenggam erat roda kemudinya. Matanya menyipit seiring pancaran mentari sore mulai turun di Barat.
TIN..Tin...
Klalkson mobil lain terdengar karena lampu sudah kembali hijau. Kris kembali melajukan mobilnya menuju sebuah kawasan berbukit di pinggir kota Seoul, kini ia melesat lebih kencang karena mulai memasuki jalan bebas hambatan.
Kurang dari satu jam, Maserati milik Kris telah memasuki tikungan kedua pada perempatan pertama di jajaran residence mewah. Senja yang menaburkan ujung sinar mentari telah berganti dengan pekatnya malam tanpa bintang. Jalan perumahan berpagar tinggi di kanan dan kiri terlihat sepi, entah karena si pemilik masih 'bersenang-senang' di dalam kantor mereka, atau bahkan sudah terlelap selepas membanting tulang.
"Kau siap?"
Tanya Kris yang sebenarnya tak perlu dijawab. Sebab semua sudah terpampang jelas dari semua pergerakan itu menggigit satu telunjuknya sambil memperhatikan jemari kakinya, cemas. Dan bahkan mungkin terlalu sibuk berfikir, hingga ia tak menanggapi pemuda Wu itu.
"Zie?" Tanya Kris sekali lagi, kai ini sambil menepuk bahu kiri yeoja di sampingnya. Ia sudah menepikan mobilnya didepan gerbang besi setinggi 3 meteran sebuah rumah nomor Lux-036.
Zitao menegakan kepalanya, kaget saat dirasa adanya tepukan ringan di bahunya. "Eh.. wei"
"Sampai!" Singkat pemuda Wu sambil menekan kemudi untuk menyuarakan klakson dan segera memarkir mobilnya didekat mobil putih milik ayahnya.
Kris sudah keluar dan sekilas dilihatnya seseorang didepan pintu, ia membungkuk sedikit lalu meneruskan jalannya untuk membukakan pintu Zitao. Kris membuka pintu dan sepertinya gadis itu tak melihatnya, meliriknya saja tidak. Ia malah melebarkan matanya ke arah depan, tiba-tiba lengannya di pegang erat, walau lebih persis dicengkram oleh Zitao.
"Gege..."
"ZITAO!"
~^ Affectionate ^~
Zitao Slight Pov
Sepatu tipis di kakiku serasa lebih menarik dari apapun sekarang, meski aku tahu bahwa jajaran villa elit di kiri kanan jalan jauh lebih mewah dan bagus. Entahlah, mungkin ini detik terakhir seorang keturunan Huang termuda bisa menikmati kebebasannya, sebelum terpaksa disandingkan dengan namja menyebalkan ini. Yah walau sebenarnya tidak benar-benar menyebalkan, tapi tetap saja orang angkuh, sombong, tak pengertian, dan datar seperti itu akan menjadi suamiku? Oh ayo lah, aku bahkan belum genap 24 tahun?
Apakah baba dan mama takut jika aku menjamur sebagai perawan tua? Ya tuhan, bahkan banyak pria yang mengantri di belakangku!
Ini bukan zaman kaisar Guo, ini abad 21! Bagaimana bisa perjodohan dilakukan bahkan sebelum si korban lahir di dunia? Bukankah ini keterlaluan?
Kejam, ini kejam. Aku bahkan tak bisa membalas kan semua penderitaan yang ku alami selama ini pada orang telah membuat perjanjian aneh nan kuno itu. Bukan karena orang itu adalah kakeku sendiri, aku akan tetap membalasnya meskipun itu kakek tersayangku sediri.
Oh ya, tentang kakek yang ku benci tapi sangat ku sayangi. Syukurlah kondisi kakek telah berangsur membaik setelah aku meneleponnya dua hari lalu dari Osaka. Aku harus berterima kasih pada Siwon-ge dan Kibum-jie, yang telah menyempatkan untuk merawat Kakek di Prancis.
Singkatnya. Aku belum sempat memberontak, bahkan menyuarakan ketidak setujuanku pada, Huang Liexui. Karena setelah Mama memberitahu perihal perjodohanku dengan Kris-ge. Ternyata kakek tengah menerima gangguan Jantungnya sendiri sebelum aku membuatnya jantungan.
Bahkan aku pernah berfikir unttuk mencekik orang tua itu hingga mati, tapi langsung saja ku tepis pikiran horor itu dari otakku. Aku benci orang tua itu, yah... sedikit. Tapi tetap saja Aku membencinya...
Sudah hampir dua tahun lamanya aku berhasil sembunyi, bahkan aku sudah lupa jika aku telah di serahkan pada keluarga Kris-ge! Dan sekarang? tepat diawal musim ini, dengan mudahnya aku ditemukan? Dan parahnya, ku kira jika aku pergi, perjanjian konyol itu berakhir, tapi apa ini? Pernikahanku di percepat?
Sekarang aku sadar mereka tidak hanya sinting,
Tapi mereka GILA!
Ah, bagaimana aku tahan tinggal dan mengurusi semua kebutuhan namja ini jika mengurus diri sendiri saja begitu berat?
...
"Zie!"
Tiba-tiba terasa tepukan halus di pundakku. Kris menatapku dengan beberapa kerutan menghiasi dahinya, "eh, wei?" tanyaku kaget.
"sampai!" singkatnya lalu terdengar suara klakson dan gemuruh benda di geser didepan.
Aku mengalihkan pandanganku ke kaca depan, seorang telah membuka gerbang tinggi dan nampaklah sebuah rumah dengan desain barat semi tradisional yang malah terlihat seperti rumah hantu bagiku. Mataku terbuka lebar mengamati satu titik, dimana terdapat sebuah pintu utama yang jika terbuka akan membawamu masuk ke dalam. Tapi bukan itu yang bisa membuatku terbelalak, melainkan...
Seorang yeoja paruh baya yang tingginya kira-kira hampir menyamaiku, berwajah cantik, rambut panjangnya di gelung rapi dengan sebuah kait kain cantik bermotif bunga tengah berdiri memegang pintu sambil menoleh ke arahku.
Aniya, ANIYA! Mama... tolong katakan jangan Mama...!
Aku menoleh ke arah Kris yang sudah membukakanku pintu. Entah dari mana aku berinisiatif menggenggam lengannya agar ia tak bergerak. Ia menatapku persis seperti sebelumnya,
"Gege..."
"ZITAO!" suara pekikan seorang Kim Heechul yang baru sadar dari rasa ketidak percayaannya.
Wanita itu berjalan setengah berlari menuruni tangga dari teras menuju Kris dan Zitao berada. Dan cengkraman Zitao di lengan Kris makin erat,
"Aku takut!" cicit Zitao pada Kris hampir meneteskan air di matanya.
Zitao Slight Pov END
~^ Affectionate ^~
"...menikahimu... Baby Lu!"
"Mianhae, nan dangshineun jeongmal saranghae!"
Kata-kata itu selalu berputar di kepala Luhan seolah ia adalah madu yang dikelilingi lebah. Dan sialnya berhasil membuatnya selalu tersipu malu sekaligus jengkel. Malu karena ia bahagia, bahagia mimpinya bersama Oh Sehun akan terwujud. Hidup bersama, berdampingan, disaat kapanpun, bagaimanapun, dan keadaan apapun, hingga maut memisahkan. Ah... Luhan terlalu senang memikirkannya, bahkan ia bertanya-tanya apa ini normal? Atau dibatas normal?
Entahlah, yang jelas saat ini hatinya seakan terbawa arus kebahagiaan. Mungkin akan ia biarkan selamanya hanyut, jika itu mungkin.
Pemikiran konyol apa ini. Intinya Luhan sedang berbahagia saat ini. Lihatlah cincin yang baru beberapa hari lalu resmi tersemat dijari manisnya. Tapi mengingat orang memberinya cincin tersebut, Luhan penasaran apa yang dilakukan namja tersebut selain membanjiri ponsel luhan dengan pesan singkat dan misscall nya?
Luhan berjalan menuju kamarnya dimana benda persegi putih miliknya tergeletak di ranjang. Benda yang sengaja di biarkan mati selama beberapa hari tanpa menerima panggilan dari manusia albino yang bersetatus sebagai kekasihnya itu,
eh bukankan dia sudah menjadi tunangannya?
Molla, ini sudah hampir dua hari semenjak malam itu, sejak Luhan mendiamkan Sehun karena telah membuat jengkel rusa kecil dari Beijing yang terkenal galak itu. Dan rencananya, Luhan akan terus melakukannya hingga tiga hari dengan tak menjawab semua pesan, telepon, bahkan menghindarinya jika perlu. Karena ia ingin menguji kesungguhan ucapan Sehun.
Dan ini akan lebih mudah karena Sehun sedang tidak ada di Seoul, melainkan sedang ada Syuting di daeran Gwangju.
"Heol! Ada apa dengan tuan muda satu ini?"
86 Text message, dan 210 missed call, serta beberapa pemberitahuan dari SNS. Dalam kurun waktu sehari lebih 18 jam? Hebat!
Dan semua itu dari namja bernama, Oh Sehun?
Wow! Daebak! Luhan menggeleng dengan mata takjub. Bahkan di tengan kesibukan namja itu, masih sempat-sempatnya berbuat seperti ini.
"Apa aku terlalu keterlaluan?" tanya Luhan pada dirinya sendiri. Ia menimbang-nimbang antara menelepon atau tidak?
Jika ia menelepon, ini sore hari, berarti Sehun masih bekerja. Tapi ia masih jengkel, tapi iia juga rindu namja menyebalkan barang Oh Sehun itu. Perang batin antara ego dengan perasaan Luhan pun terjadi. Gadis Cina itu pun dibuat frustasi karena memikirkan Sehun.
'Di yi chang xue xia qi de wu hou
xiang he ni fen xiang gan dong
que zhi chen mo dui zhe hua tong'
-The Firs Snow –
Ponsel putih yang telah dilepas dari karet bentuk kartun Stitch itu mulai berbunyi.
Sehunie
Ok, Luhan menghilangkan ego nya kali ini setelah ponselnya berdering cukup lama.
"Lu?... Hannie? Syukurlah kau mengangkatnya, apa yang terjadi? Kau baik-baik saja kan? Bogoshipeoyo~" sahut Sehun tepat setelah Luhan menggeser tombol hijau.
Nado, Hunnie – tapi hanya hati Luhan yang menjawab,
sedang bibirnya bahkan tak bergerak sedikipun
"..."
Luhan memilih tak berkata apapun dulu. Jujur sih, ia rindu suara namja ini. Kalau boleh kembali seperti anak TK, Luhan mungkin sudah menangis sejak kemarin, tapi apa daya ia termakan jengkel karena Sehun. Jadi sedikit pelajaran untuk tuan Oh tak masalah.
"Syukurlah kau mengangkatnya, apa yang terjadi? Kau baik-baik saja kan?" sambung Sehun.
"..."
"Lu? Lulu? Hannie? Ada apa? Apa terjadi sesuatu? Hannie-ah? Kenapa dari kemarin kau tak menjawab teleponku?" Luhan tersenyum saat suara panik Sehun mendera telinganya.
"..."
Sehun berkata lagi karena Luhan masih diam. "Lu? Apa tenggorokanmu sakit lagi? Cepatlah minum obat, istirahat, jangan makan es krim, jangan beli Buble tea dulu, banyaklah minum air putih, ne!"
Bukan marah karena omelan tunangannya, Luhan malah tereyuh mendengar perhatian namja yang bakal tak ia pedulikan hampir dua hari ini.
Luhan merasa bersalah pada Sehun. Sehun nya masih perhatian, Sehunnya masih sering mengomel, Sehunnya masih gampang panik, dan Sehunnya masih seperti Sehun yang dulu. Tiba-tiba Luhan ingin Sehun berada disini.
"Aku senang kau mengangkat panggilanku walau kau tak berbicara, aku merindukanmu, Luhan-ah... hah.. baiklah aku harus pergi dulu, tunggu aku, ne!"
Luhan membekap bibirnya agar tangis yang entah kapan telah dikeluarkannya tak terdengar oleh namja itu. Ia sungguh ingin menjawab tapi, ia tak ingin terdengar cengeng.
"Jaljayo, Hannie-ah, annye-" tutup Sehun, tapi Luhan lebih dulu memotongnya,
"Tunggu... hiks... Hunnie-ah~"
baru saja ia membekap mulutnya, Well, akhirnya Luhan bersuara,
"Wae? Kau menangis Lu? Gwenchana? Kau sakit?—Hyung~ sedikit cepat, plis~" Sehun kembali didera kepanikan saat suara tangis Luhan terdengar dari ponselnya.
"Mianhae... hiks.. mianhae... Sehun-ah, Bogoshipo~ hiks, aku-aku.. mianhae~" Rancau Luhan seketika. Entah kenapa saat berbicara tangisnya malah kembali meledak.
Sehun mencoba menenangkan Luhan setelahnya, hingga yeoja itu tenang kembali. Sehun terus mengajak Luhan berbicara meski Luhan hanya menjawab singkat,
Tiba-tiba,
Cklek
Luhan membelalakan matanya yang sudah bengkak habis menangis tadi. Di depan pintu kamarnya, ada seorang namja yang tak disangkanya akan datang, Sehun. Namja tinggi seputih gumpalan salju dengan wajah terlampau tampan itu berdiri dengan nafas terengah mencoba memenuhi kebutuhan oksigen di paru-parunya. Setelah beberapa detik, ia berjalan kearah Luhan kemudian langsung memeluknya erat. Dan.. tangis Luhan kembali pecah membuat Sehun tambah bingung.
"Wae? Uljima, Lu! Uljima!"
"Mianhae~ Sehunie, aku egois~ hiks.."
Malam itu, Luhan menceritakan persoalan kenapa ia tak membalas satupun kontak dari Sehun. Kenapa ia menangis, dan mengutarakan kekesalannya yang kemudian dibalas kekehan lucu dari Sehun.
Setelah mendapat beberapa pukulan ringan Sehun pun juga mengatakan bagaimana manusia itu bisa sampai di tempat Luhan saat ini padahal Gwangju dengan Seoul sangat Jauh. Berakhir dengan keduanya yang tertidur berpelukan. Oh betapa indahnya, melihat pasangan ini bersama.
~^ Affectionate ^~
Apa kalian tahu, apa tepatnya yang terjadi malam itu? Hingga Luhan memutuskan mengetes Sehun? Bagaimana jika ku ceritakan juga?
Jangan kaget ya~
Ok, just take the story with some cup of Hunhan pic...
Dua hari yang lalu, masih di frestifal musim gugur,
"Haha..." Tawa hambar Luhan tercipta, saat Sehun memarkir mobilnya di pinggir tebing tempat frestival dilaksanakan "Jangan bilang kita akan bermain di Frestifal Bunga Musim Gugur setelah kau merusak moodku di Lotte departemen store, Tuan Oh menyebalkan?"
Luhan merelakan suaranya menjadi pemecah rekor perang dingin antar dirinya dengan Sehun. Luhan yang masih dengan ekspresi dinginnya tanda ia masih tetap emosi.
"Sepertinya begitu, aku tak ingin membuang tiket mahal itu hanya karena masalahmu!" Jawab Sehun tak kalah ketus.
"Ya! Masalah siapa? Masalahku? Kau pikir siapa yang membuatku bad mood? Siapa yang menyebalkan disini?" Sindir Luhan.
"Tentu... itu masalahmu! Dan sebaiknya kau menurut saja, ambil sarung tangan serta syal tadi. Di luar lebih dingin!" Jawab Sehun enteng tanpa ekspresi setelah memarkir audinya.
Dengan tatapan tak percaya Luhan yang sudah mengupgrade emosinya ke lever hard, membuka kasar pintu mobil dan keluar lalu membanting benda malang itu dengan katakkanlah tidak bisa dibilang—pelan.
Luhan bersumpah akan membakar habis muka menyebalkan itu hingga hanya tersisa sehelai rambut pirang milik Sehun di tangannya. Apa yang salah dengan hubungan mereka kali ini? Mereka saja masih bisa bercanda tentang Kyumin yang akan merayakan ke tiga puluh tahun pernikahan mereka. Bahkan Sehun masih sempat menjemputnya di acara amal tadi sore, dan mengajaknya ke kedai buble tea kesayangan mereka berdua sebelum Sehun merubah sikapnya menjadi menyebalkan. Tunggu mungkin_SANGAT MENYEBALKAN_ketika Luhan mulai memilih pakaian. Dan setelah membuat mood Luhan rusak total, Sehun dengan entengnya menyuruhnya seenak jidat?
"Lihat saja, jika aku sudah tidak tahan... aku benar-benar akan minta putus darimu Tuan Oh yang sok menyebalkan!" gerutu Luhan sambil berjalan ke bagasi mobil.
"Tapi aku tak janji itu terjadi nona Lu!" Luhan terkejut akan suara Sehun, dilihatnya namja itu masih berkaca di kaca pintu pengemudi.
"Aha? Jangan yakin dulu Tuan Oh! Aku benar-benar muak!" tantang Luhan berharap dapat mengembalikan Sehunnya, Hunnie-nya.
"Cepatlah sedikit rusa lambat!" Nada suara Sehun terdengar biasa saja.
Deg
Luhan menunduk, "Baiklah kita putus! Dan jangan berharap aku akan kembali padamu lagi, Tuan Oh! It's Over!" Luhan yang tak kuasa pun berteriak ke arah Sehun.
Wajah merah marah Luhan sudah tidak bisa dibendung walau tertutup dengan kaca mata transparan jumbonya. Dadanya naik turun menahan tangis yang sudah semenjak tadi dibendungnya, ditambah lagi Sehun yang masih dengan senyum manisnya—tanpa penyesalan sedikitpun!SEDIKITPUN—sedang menatapnya seolah sedang tak terjadi sesuatu.
"Benarkah? Bagus sekali karena... itulah keinginanku dari dulu..."
air mata Luhan menetes di pipinya, dengan pandangan blur Luhan menatap Sehun tak percaya. Betapa bodohnya Luhan seenaknya berkata putus.
Ini bukan yang diinginkan yeoja itu, yang diinginkannya adalah Sehun yang menolaknya dengan rengekan lucu miliknya, bukan jawaban 'bagus sekali' apalagi itu adalah keinginan Sehun dari dulu? Apa Selama ini Sehun tidak serius mencintainya? Ini membuat Luhan merasa ingin mati saat itu juga.
Ia tak benar-benar mengatakannya dengan serius.
Deg
Deg
Deg
Apakah hanya ini? Selama ini hanya berakhir seperti ini? Kencan terakhir untuk Luhan? Tepat di akhir musim gugur dimana pertama kali mereka bertemu? Di musim gugur pula mereka berpisah?
Melihat rusanya menangis diam dengan wajah memerah, ekspresi Sehun sedikit goyah, tak tega mungkin.
Tapi bagaimana lagi jika memang takdir sudah berkata lain?—takdir yang ditulis Sehun malam ini.
Masih dengan hati yang hancur Luhan melaksanakan permintaan—yang lebih bisa disebut perintah—Sehun. Permintaan terakhir yang mungkin diminta Sehun darinya. Dengan jemari gemetar, Luhan membuka bagasi mobil Sehun, ia mengusak matanya yang blur tertutup air matanya sendiri.
Dan belum sempat ia menurunkan tangannya,
Deg
Deg
Beberapa balon warna-warni menyembul keluar dari bagasi hingga menimbulkan sebuah kerutan di dahi Luhan. Dan efek lampu frestival ini membuat lapisan karet tipis elastis itu seperti menyala bagai lampion cina yang diterbangkan kala, tahun baru cina.
Dan sejak kapan mereka mempunyai paper bag sebanyak ini? Padahal apa yang Luhan minta, Sehun tak meresponnya dengan baik? Bahkan apa yang Luhan inginkan ditolak pasti oleh Sehun. Jadi sejak kapan barang-barang—yang tadi dikatai Sehun tidak cocok Luhan pakai—terbungkus rapi di dalam sini?
Untuk sesaat ia terperangah dengan pemandangan didepannya, hingga matanya jatuh untuk menatap sebuah balon berwarna navy blue yang masih terikat dengan sebuah paper bag kecil berwarna silver
Luhan menatap Sehun dengan bingung dan dengan banyak pertanyaan tak tersuarakan. Sehun melirik paper bag kecil itu setelah membalas tatapan Luhan, seolah menintanya agar membuka benda itu. Dengan perasaan yang bercampur, yeoja imut itu menuruti sang namja.
Suatu benda yang bersembunyi di dalamnya membuatnya terkesiap kaget, hingga mata rusa yang belum mengering itu kembali basah,
"keinginanku dari dulu adalah cepat menikahimu... Baby Lu!"
Isak tangis Luhan pun tak dapat dibendung lagi. Luhan mundur beberapa langkah, hingga punggungnya menabrak pagar besi yang ada di pinggir tebing. Bibirnya terbuka hendak mengatakan sesuatu tapi tak satupun kata yang keluar.
Sehun mulai mendekati rusa kecilnya yang menangis bagai bayi lalu memeluknya. Berusaha menenangkan Luhan yang emosinya sedang bercampur aduk. Luhan membalas pelukan Sehun sambil memukul-mukul punggung namja pucat tersebut.
"YA! neo neomu janinhago, Hunnie-ah—kamu terlalu kejam Hunnie-ah..."
"Mianhae, nan dangshineun jeongmal saranghae! Mianhae... Hannie-ah.."
"Saranghae!"
"molla~.. hiks..."
Sehun meraih cincin silver itu, "Haha, mianhae.. so, will you marry me?" kemudian dibawah sinar bulan di awal November, Oh Sehun berlutuh di salah satu kakinya, meminang seorang gadis yang selama ini telah menguatkan seluruh jiwa raganya untuk segera terikat dengannya. Terikat dengan janji sakral yang kelak menyatukan kedua hati dengan pita kasih sayang.
"pabbo! Aku tak mau!" sahut Luhan masih berkaca-kaca, dipukulnya pundak sehun pelan.
"Bodoh! Jawabanmu salah, nona Lu!"
Luhan tersenyum cantik, "Tentu saja! Tuan Oh! Aku yakin kau tahu jawabannya! Kenapa bertanya lagi?" dan malam itu, sebuah janji baru telah terukir dengan manisnya di atas nama Sehun dan Luhan.
Ckrik ckrik ckrik
Tanpa ada yang menyadari, sebuah sosok tengah berdiri dibelakang pohon berdaun jari yang tersembunyi, Seorang lelaki berjaket tebal dengan topi memutar kebelakang menurunkan kamera dari sang bidikan. Ia tersenyum dan mulai merogoh benda di sakunya untuk menghubungis seseorang.
~^ Affeectionate ^~
Pagi ini Seoul dilanda cuaca yang kurang bersahabat, rintik rintik gerimis yang dibawa awan dari selatan mengguyur wilayah Gangnam. Keadaan mendung dan dingin itu seolah mendukung para pemalas di pagi hari untuk menyibak seimut dan beraktifitas.
Tapi tidak untuk Do Kyungsoo yang sudah siap dengan blus maroon tanpa lengan lengkap dengan celana warna khaki yang membalut apik tubuhnya. Tak lupa tali beige yang disimpul manis bertengger di pinggangnya dan beberapa asesoris simple di tangan serta telinganya.
Hari ini ia bisa melakukan mix match untuk penampilannya, karena ini adalah apartemen pribadinya, bukan rumah yang beberapa hari lalu ia tinggali. Yah, walau butuh perjuangan hingga Kai mengizinkan ia kembali ke sini. Ia masih tidak percaya pada apa yang dilakukannyatadi malam, sungguh memalukan. Kai memaksanya untuk melalukan aegyo berhitung Gwiyomi . Dan demi kembali ke mari, Kyungsoo rela melakukannya dengan ogah-ogahan hingga membuat Kai tergelak dengan tawanya. Ingin sekali ia menceburkan namja itu ke dalam kubangan lumpur.
Di dapur, Kyungsoo sedang menyiapkan sarapan sederhana. Beberapa menit kemudian sebuah piring besar berisi spagethi kimchi telah tersedia di atas meja makan. Setelah menata piring serta gelas, ia berjalan menuju sofa besar di depan tv yang tadi fajar baru ditiduri Jongin.
Kyungsoo hendak menjulurkan tangan membangunkan Kai, tapi Kai lebih dulu berbalik posisi dimana awalnya membelakangi Kyungsoo menjadi menghadap Kyungsoo.
Kyungsoo merona, padahal namja itu masih damai di alam bawah sadarnya.
Ketampanan polos yang sekarang terlihat lebih mirip Namsoo itu tercetak diwajah Kai. Membuat jemari Kyungsoo gatal untuk menyentuh wajahnya,
Oppa, Bogoshipeoyo! Apa kau juga rindu padaku? Mata Kyungsoo perlahan menjadi sendu. Ia memberanikan diri menyentuk pipi Kai dengan lembut.
Rasanya aneh bisa menyentuhmu lagi, walau ego ku mengatakan untuk menjauhimu! Bahkan meninggalkanmu! Tangannya berjalan menyusuri dahi milik Kai, hingga ke ujung hidung runcingnya. Kungsoo menghentikan telunjuknya di bibir tebal Kai yang dulu sering sekali mencuri kecupan dan ciuman miliknya.
Oppa, apa rasanya masih tetap sama? Apa bibir ini masih miliku? Atau sudah milik yeoja itu? Tanpa disadari sebutir air mata kembali keluar karena Kai. Kyungsoo langsung menyeka pipinya setelah sadar.
Hah, aku menangis lagi karenamu. Haha, cinta... apa kau masih mencintaiku? Dan bagaimana jika aku masih mencintaimu Jongin-oppa? Senyuman miris tercetak di bibir Kyungsoo. Ia mengalihkan pandangan ke arah jam dinding di atas TV, pukul 6.30 membuat Kyungsoo beranjak dari karpet lalu sedikit membungkuk untuk membangunkan Kai.
"Ekhem... Jongin ah, Ireona!" Kyungsoo mengguncang lembut bahu Kai hingga mata tajam itu menatap Kyungsoo. membuat Kyungsoo kembali merona dan sedikit gelagapan.
"A..a...aku sudah menyiapkan makanan, a.. aku akan membangunkan Namsoo," Kyungsoo beranjak kemudian melangkah pergi.
SRET
"Nae Sarang..." ucap Jongin saat mendapat pergelangan tangan Kyungsoo. Langsung ditariknya gadis itu menindih tubuhnya. Ia sedikit menarik seringainya saat dirasanya dentuman keras yang merambat didadanya, detak cepat milik Kyungsoo.
cintaku?
Oh, rasanya jantung Kyungsoo ingin berhenti sekarang juga. Tidak. Mata itu, tatapan Kai lah yang sudah menghentikan peredaran darahnya. Hingga yeoja itu tak bergerak walau ia sadar bahwa tubuh Jongin ada dibawahnya.
"Jangan tinggalkan aku. Tetaplah, mencintaiku, Kyungsoo ya! Karena aku hanya milikmu...dan Namsoo, bukan yang lain!"
Kyungsoo membulatkan matanya saat mendengar kalimat yang baru saja diungkapkan Kai. Apa Kai baru saja menjawab batin Kyungsoo tadi? Bagai mana bisa?
Kyungsoo ingin menghindar, tapi mata tajam menusuk milik Kai tak sedikitpun mengijinkanya. Bukan, tapi tatapan itu tak bisa Kyungsoo tolak. Menyiratkan seolah hati namja bermarga Kim itu sedang berbicara dengan hati kecil Kyungsoo.
"A... apa yang kau bicarakan?"
Kyungsoo mencoba bangkit dari kungkungan Kai. Dengan cepat ia berbalik dan berjalan menuju satu-satunya kamar yang ada di apartemennya.
"Kau selalu tahu apa maksudku, Kyungsoo-ah!"
Tiga detik cukup membekukan langkah Kyungsoo di depan pintu. Syarafnya serasa lumpuh total, desiran aneh yang entah sejak kapan Kyungsoo sangkal kini semakin menekannya, memabukaan. Tapi Kyungsoo masih ingat bahwa kakinya masih setia berada di bumi, walau rasanya seperti melayang di dunia yang penuh dengan kumpulan maze.
BLAM
Kai membuang nafas kasar setelah Kyungsoo dengan cepat hilang di belakang pintu kayu kamar. Kai mengacak surainya frustasi, sambil terus memandangi benda yang melenyapkan Kyungsoo dari matanya.
"Aku ingin mendapatkannya kembali, Kyungsoo-ya?"
"Kepercayaanmu,... cintamu... keluargaku,"
"Saranghae, Love!"
~^ Affeectionate ^~
Setelah beberapa menit terdiam ditempatnya mengatur emosi, Kai bangkit untuk mengambil ponselnya di sofa sebrangnya. Dengan teliti ia mencari sebuah nama di dalam kontaknya.
Kai men-dial nomor tersebut, setelah beberapa detik bunyi tuts, suara seorang yeoja menyapanya,
"allo?" suara kecil nan imut membuat senyuman Jongin tertarik keatas,
"annyeong, Minjung-ah? Ini appa Jongin, eooma eodiseo?" tanya Kai kembali ke tempatnya semula.
"eomma cedang di dapul, appa!" jawab suara cadel ditelepon Kai. "Minjung-ah, siapa yang bertelepon denganmu?" sebuah suara yeoja lainnya terdengar, tapi lebih melengking.
"Kai appa!" Kai tertaw ringan saat yeoja yang sedar tadi ingin di teleponnya mengambil alih ponsel.
"waeyo, oppa?"
"Kapan kau berangkat?" tanya Kai serius.
"tenang saja,kami berangkat nanti malam, setelah semua rapat Minho oppa selesai." Jawab gadis diseberang santai.
"Minjung?"
"Sepertinya Minjung juga ingin bertemu halmeoninya."
"baiklah, telepon aku jika kau sampai! Kuharap Kyungsoo bisa mengerti segera, Krys!" lirih Jongin yang masih duduk sembari memegang bingkai foto keluarganya jaman dulu waktu Namsoo masih bayi.
"Dia pasti mengerti, Oppa! Aku yakin, Kyungsoo bukan wanita yang berfikiran pendek! Dia akan memaafkanmu, mungkin menerimaku dan Minjung!"
"Aku tahu, dia pasti akan menerima kalian, Thanks, Krys!"
"ok!, Not a problem!"
pip
Kai kembali merebahkan badanya beberapa detik sebelum ia bangkit dan berjalan ke kamar mandi.
~^ Affeectionate ^~
Ponsel putih yang masih terhubung dengan charger di sebuah meja berbunyi cukup nyaring, membuat seorang namja jangkung gatal meraihnya. Setelah mengenali sebuah nama yang berkedip dilayar, ia menggeser panel hijau. Terdengar suara berat diseberang setelah kata 'hallo' terlontar dari bibirnya setelah menyuap dua sendok sup buahnya.
"Dimana kau?"
Chanyeol, namja yang mengangkat ponsel itu mengerenyit bingung, "Hah? Tentu dirumah, wae?" ada apa dengan sepupu pintarnya satu ini? Bukankah ini hari libur nasional? Tentu semua orang akan dirumah bukan? Kecuali, beberapa orang sibuk dengan event di akhir tahun, seperti Baekhyun contohnya yang harus menghadiri meeting besar bersama Kyungsoo di Grace.
"Kai? Kenapa suaramu mirip dengan Chanyeol? Flu?" tanya Kris, sepupu Chanyeol yang lahir dari pernikahan kakak lelaki sang ibu.
Hah? Kenapa Kai? Siapa yang mirip suaraku? Apa otak briliant Kris sedikit bergeser? Yang benar saja? Pasti Zitao habis memukul kepala bule sok cool itu! – terdengar gerutuan pertanyaan dari batin Chanyeol.
Dengan krenyitan berlipit di dahinya, Chanyeol menjauhkan benda persegi itu agar lebih leluasa memandang benda di tangan besarnya.
Ponsel itu baik-baik saja, dan masih ada nama Kris yang tersimpan di layar menyala itu, tapi dimana sticker lucu milik Caehyun yang biasanya menempel di badan benda itu? Lagian kenapa juga ponsel itu berwarna polos? Kemana perginya casing Onepiece kesayangannya?
Plak
Chanyeol menepuk dahinya pelan, sudah jelas ini bukan ponselnya,
"Ini aku Chanyeol, Kai sedang bermain dengan ketiga ponakanmu!" Jelas Chanyeol di speaker ponsel yang ternyata milik Kai.
Terdengar dengusan pelan sebelum Kris menyahut, "Ah, pantas! Ku kira Kai sedang terserang flu babi atau semacamnya!"
"Ya! Ya! Jadi maksudmu, suaraku persis seperti orang yang terkena flu babi begitu? Cih silahkan berkaca, Kris!" Suara Chanyeol meninggi mendengar jawaban sepupu absrudnya itu, hey ingat Yeol, kau lebih absrud! Ia kesal karena secara tak langsung Kris telah menghina suara berkarisma miliknya! Apa Kris tak ingat suaranya bahkan lebih berat dan tak jelas dari Chanyeol?
"Itu kau tah sendiri..." jawab Kris dengan nada tak peduli, membuat Chanyeol bersumpah, jika saja lelaki tiang itu ada didepannya, sudah ia pastikan tubuh tampan itu akan remuk di tangannya.
"Ya, Jugule?" Seru Chanyeol, hampir saja menendang meja didepannya, jika saja ia tak lupa dengan vas bunga kristal kesayangan Baekhyun di atasnya.
"Wow, tenang, Park! Aku hanya berpendapat!" jawab Kris acuh, "Sialan kau Wu! Ada apa kau mencari, Jongin?" tanya Chanyeol sedikit mengalah. Walau sebenarnya ia sedang memikirkan balasan terselubung yang pantas untuk mulut se tipis Kris nanti,
"Haha! Apa dia ada disana?" singkat Kris setelah tertawa, membuat Chanyeol ikut tertawa, "Nope! Apa perlu ku panggilkan?"
"Tak perlu! Aku harus mengecek beberapa kiriman proposal dari Nanjing dan Shanghai! katakan saja aku tak bisa bertemu hari ini, si 'Tua' itu menyaderaku agar tetap dirumah, hingga yeoja merepotkan itu memberitahu keputusannya!" Chanyeol terkekeh saat Kris menyertai kalimatnya dengan beberapa makian diakhir, kebiasaan!
"Baiklah, ada lagi?" tanya Chanyeol kembali melirik arloji buatan prancis yang melingkari tanganya, melirik kapan ia bisa menjemput sang Istri yang
"No more! Oh iya, sampaikan pada ketiga jagoanku jika samchun tertampannya akan berkunjung akhir pekan nanti! Ok, Bye,"
"Hn," tutup Chanyeol kembali meletakkan ponsel milik Kai yang sedari tadi digunakannya.
By the way alias BTW, dimana adik sepupu keduanya itu pergi? Padahal tadi ia baru saja melihatnya memandikan ketiga bocah(Hyohyun, Caehyun, Namsoo) itu di kamar mandi setelah cukup lama bermain di belakang rumahnya.
Chanyeol mengecek ruang tengah, disana Caehyun dan Namsoo sedang asik memperhatikan cartoon jepang yang memenuhi layar LED sambil mengunyah snack, sedang putri satu-satunya, Hyohyun kini anteng memainkan game di depan sebuah komputer di dekat perapian. Dan lagi-lagi tanpa Kai yang tadi menemani mereka sebelum Chanyeol izin mandi.
"Hyung!" seru Kai muncul dari pintu geser yang memisahkan ruang tengah dengan beranda di belakang rumah Chanyeol dan Baekhyun.
Chanyeol berjengit sedikit terkejut dengan kedatangan adik sepupunya yang paling kecil, "Eoh? Wae?"
"aku pinjam baju, mereka menyerangku seperti alien!"
Kai berjalan mendekati Chanyeol dengan kemeja basah di beberapa tempat, di lengan kanannya hingga bahu, dan beberapa bercak di bagian depan kemeja merah hitam itu.
"Hahaha! Kau seperti anak anjing yang kehujanan, Jongin-ah! Ambil saja di lemari, asal jangan baju milik Baekhyun, tapi tak apa sih, jika kau ingin berubah gender!" Oceh Chanyeol asal sambil tertawa, wajar seorang Park Chanyeol akan dianggap normal jika celotehan tak penting keluar dari mulutnya.
Kai melempar bola matanya ke atas, sudah terbiasa dengan lanturan aneh kakak sepupunya selain Kris ini.
"Bodoh!" gumam Kai, lalu berjalan ke kamar Chanyeol.
Tiba-tiba ia teringat pesan Kris,
"Jongin-ah!"
Kai berhenti sambil menaikan satu alisnya memandang Chanyeol. "Waeyo?"
"Kris titip pesan bahwa dia disandera Zhou samchun(paman) dan Halin gumo(bibi), dia baru akan bebas besok lusa." Seru Chanyeol.
"ah, ne!" Jawab Kai singkat, walau ia ingin sekali bertanya kenapa, bagaimana, dan apa lebih lanjut pada Chanyeol. Tapi dingin yang menyerang tubuhnya membuat Kai mengesampingkan pertanyaannya dan segera masuk ke kamar Chanbaek untuk segera berganti.
Chanyeol meraih sebuah mangkuk berisi potongan buah di dalam cairan manis bernama susu yang pagi tadi di buat sang istri. Ia makan sambil berjalan ke arah kumpulan bocah yang ditinggal sang eomma sedari pagi.
"Appa!" seru seorang bocah sekitar 6 tahunan memanggil Chanyeol.
"Wae, Chaehyunie?" Chanyeol menghampiri Caehyun, Namsoo, dan Hyohyun yang ternyata sudah bergabung dengan kedua saudara lelakinya.
Caehyun menatap dongsaeng perempuannya sebelum bertanya pada Chanyeol,
"kata uri Soo-ie, besok dia akan pergi ke taman bermain, appa! Benarkan, Soo-ie?" Tanya Caehyun menerima anggukan dari Namsoo yang sedang menyedot, Choco milk dari botol minumnya.
Chanyeol mengerutkan dahinya menerka-nerka maksud putranya, "lalu?"
"aku, dan Chae oppa, ingin ikut, appaaaa! Boleh yaaaaa! Yaaa yaaa! Appaaa... jebaaalll~"
Sambung Hyohyun cepat, gadis itu memohon pada Chanyeol dengan semangat. Gadis cilik dengan rambut ikal sepunggung itu menakupkan kedua tangan mungilnya di bawah dagu, mendongak menatap sang appa yang menjulang didepan. Wajah cantiknya membuat aegyo yang sangat imut, dengan puppy eyes persis seperti milik eommanya. Tak lama setelah itu Caehyun mengikti gaya aegyo adik kembarnya, persis seperti dua puppy yang memohon untuk di pungut.
"Huh..." Chanyeol memegang dagunya seolah sedang berfikir keras lalu menghembuskan nafasnya dalam-dalam, membuat ekpresi kedua anak kembar itu tambah memelas.
"Apaaaa! Jebaaaaalll!" ini suara imut Chaehyun yang diangguki Hyohyun.
"Aigooo... apa bisa appa menolak kalian?" Senyuman Chanyeol, mengundang sorak dan tawa duo kembar itu yang langsung berhambur memeluk Chanyeol.
"Apa yang samchun lewatkan?" tanya Kai yang baru bergabung. Di ambilnya tubuh mungil putranya dari karpet lalu ia memangku Namsoo di kedua pahanya. Namsoo terkikik geli setelah mendapat hujan ciuman dari Kai.
Hyohyun berjalan lalu duduk disamping Kai sambil menggeret Chaehyun yang juga diikuti Chanyeol yang langsung tiduran di karpet dekat Kai.
"Kami boleh appa ikut dengan Namsoo-ie, besok!" Jawab Hyohyun dan Chaehyun semangat.
~^ Affeectionate ^~
.
TBC
.
Gak ada kata selain mian yang bisa aku ucapin lebih dulu...(nyanyi Apologize – Justin Timberlake)
Setelah menghilang beberapa bulan, akhirnya dengan kekuatan bulan dari kak Saillor Moon dan baling-baling bambu KW punya kak Dora dan Emon, Hyo kembali untuk menjajahbumi pertiwi, eh? Menganiaya readers dengan ff... hoho #apa sih ketawa loe jelek
Hanya sekedar info, sekarang Hyo udah kelas 12 jadi mungkin bakalan sering telat update. Jadi sebelum ane telat update (lagi) Hyo minta maap ne...(sembahin Kai jadi babi guling)
Tolong Kritik dan sarannya ne, gimana cara penulisan Hyo, mana yang bisa diperbaiki(selain Typo's) terus adegan apa yang berlebihan ato kurang, ato apa saja lah... selain buat bilang lanjut next CH yaa~
karena Hyo nulis gak ada gunanya kalo kalian gak menikmati, Hyo nulis buat apa kalo gak dinikmati readers. So Review juga dibutuhkan walau itu Cuma kritik atau request, Hyo gak butuh jumlah review, tapi Hyo butuh, saran, kritik, dan semangat dari kalian. Karena Readers itu berharga buat seorang author, termasuk kalian buat Hyo.
Ada yang mau kenalan ama Hyo? Bisa invite nih di 7d14d24e..
Hyo kind girl kok, gak gigit~
BTW
HAPPY MERDEKA! INDONESIA!
- 17-08-2014
