Author : Hyomi
Cast : Chenmin, Hunhan, Kaisoo, Kristao (beberapa member nyempil)
Genre : Romance, Drama, GS
Rated : T
Note : This FF is officially mine, if you don't like, don't read. Ok!
GS! Typos! Gak pake yang namanya EYD! Bahasa Ancur! Gak Karuan!
And, Review Jusseyo!~^^~
WARNING!
PANJANG! Sepanjang jalan kenangan!
Dianjurkan cari posisi pewe baru baca!
Jika komplain berlanjut segera review di kotak review!
.
~^ Affectionate ^~
.
Seekor kupu-kupu cantik berwarna hijau beterbangan di sekitar jemari bocah kecil yang tengah duduk dibawah pohon rindang. Senyumnya terkembang dikala mahluk mungil bersayap itu bertengger dihidung bocah laki-laki itu. Tak lama kemudian, gatal ulah serbuk serangga itu membuat sang bocah bersin.
"Joon-ah!" Seruan seseorang membuat namja tampan itu menoleh ke samping kirinya.
Namja tampan bernama Oh Sehun itu mengerutkan dahinya. Ia mengenal yeoja mungil di sampingnya itu, sangat malah. Apakah Luhan yang memanggil anak lelaki itu?
"Kau mengenalnya?" tanya Sehun pada Luhan.
Tak ada jawaban selain sunggingan senyum manis di bibir tipis Luhan. Senyuman itu membuat mata Sehun terpaku pada deer eyes milik Luhan, sebuah binar menghias bola coklat itu. Sempurna... itulah fikir Sehun,
"Eomma~!"
Tatapan penuh pujaan kedua insan disini terputus karena teriakan anak yang dipanggil Joon tadi. Joon mulai berlari menuju tempat kedua orang dewasa yang masih setia berdiri di atas rumputan hijau.
Tingkah anak itu membuat Sehun semakin bingung, kenapa ia berlari kemari? Kenapa ia meneriakan eommanya?
Dan ia tambah tercengang saat tangan Luhan terkembang menyambut bocah itu ke dalam gendongannya. Luhan dan Joon tersenyum bersamaan. Apa maksudnya?
Beberapa detik kemudian, Joon kecil menoleh ke arah Sehun dengan tetap mengembangkan senyumannya dan Sehun baru menyadari bentuk senyuman itu sangat persis dengan milik Luhan. Ia tambah heran saat menyadari garis tegas bentuk wajah dan smile eyes miliknya tercetak jelas di wajah bocah itu, tentunya tampan dan seputih salju.
"Appa!"
Mata sipit milik Sehun membesar seketika.
"Sehunnaaa!"
~^ Affectionate ^~
"Sehunnaaa!"
Dengan lebih keras, seorang manager dengan wajah tampan menggoyang-goyang tubuh Sehun di sampingnya. Orang yang biasa di panggil manager Lee itu kemudian menepuk keras pipi artisnya.
"YA! Ireona!" seruan putus asa manager Lee, berhasil menggerakan kelopak mata Sehun hingga terbuka.
"H..hyung?" lirih Sehun sambil sedikit mengucek matanya. Ia terbelalak seketika saat dihadapannya saat ini ada wajah seorang Lee Donghae yang terlampau dekat. Gerak reflek membawa tangannya mendorong bahu sang manager yang juga berstatus samchun-nya.
Jadi, tadi ia tertidur? Dan bermimpi tentang Luhan dan seorang anak laki-laki yang ajaibnya mirip dengannya serta Luhan? Sebenarnya ingin sekali Sehun kembali tertidur, tapi niatnya diurungkan saat tatapan tajam pamannya itu terbaca olehnya.
"Ya! Bocah kurang ajar!" umpat Donghae saat dirinya terjatuh dari jok mobil. Seakan sadar pamannya terjatuh karena ulahnya, Sehun segera membantu Donghae kembali duduk.
"Mian, lagian Hyung sih!" gerutu Sehun setelah membantu Donghae.
"Cepat bangun, sebentar lagi sampai! Aku tak ingin PD Jang marah lagi karena kelakuhanmu kemarin, bocah!" Donghae mengomel sembari menata tas miliknya.
"ne?" Sehun mengerutkan dahinya, nyawanya masih belum terkumpul. Hingga ia sedikit lupa kenapa dirinya ada di dalam mobil?
"Ah.." Desah Sehun saat mengingat jadwalnya hari ini.
Sceen terakhir yang seharusnya selesai kemarin malam, harus ditunda karena Sehun tiba-tiba kabur kembali ke daerah Gangnam-gu untuk menemui Luhan yang saat itu dikira sedang sakit. Eh ternyata ia menemukan gadis itu menangis karena merasa bersalah padanya.
Dan entah bagaimana usaha pamannya-yang selalu dipanggilnya Hyung-ini bisa beralibi tentang kaburnya Sehun dan meminta agar syuting malam itu diundur. Sehun harus mengingat untuk memberi tiket liburan pada Donghae dan istrinya.
Sebuah suv hitam bergerak pelan memasuki sebuah lokasi syuting di kawasan Gangwon-do. Bebeapa orang dengan tanda pengenal sebagai staff berpencar di spot masing-masing. Suhu rendah memasuki musim dingin tak memperlambat kinerja para staff drama yang tengah mempersiapkan sceen terakhirnya. Akhirnya setelah menemukan tempat parkir, tiga orang laki-laki keluar dan bergegas menuju sebuah tenda putih didekat lokasi.
"Annyeonghaseyo~" Donghae langsung meninggalkan Sehun dengan stylishnya untuk menemui sang PD.
"Annyeonghaseyo, Jisung Sunbaenim! Annyeonghaseyo, Soo Imo!" Sehun membungkuk hormat pada kedua seunbaenim yang tengah berbincang. Menunjukan sopan santun pada senior sudah membudaya bukan?
"Ah! Sehunnie... kau baru datang?" Lelaki paruh baya bernama Im Jisung menyambut jabat tangan Sehun.
"Mianhaeyo Sunbae, karena aku kemarin, syuting harus ditunda!" Sehun kembali membungkuk meminta maaf,
"Haha... tak perlu, aku tahu urusan anak muda... bagaimana perasaanmu?" tanya Jisung sambil menepuk bahu Sehun,
"gwenchanaseyo! Aku hanya sedikit lelah akhir-akhir ini..." jawab Sehun merasa sedikit risih karena Jisung dan Sooyoung menatap aneh padanya. Entah apa makna tatapan tersebut.
"Jisung-ssi!" seru seorang staff berpakaian hitan dari pintu. Aktor senior bermarga Im itu mengikuti staff perempuan keluar setelah mendapat anggukan. Meninggalkan Sehun dan teman akrab eommanya (Sooyoung) berdua dengan beberapa stylish yang sedang makan di ujung.
"Bagaimana berita ini bisa muncul, Sehun-ah?" Choi Sooyoung, wanita cantik berpostur tinggi nan kurus di kursi sebelah Sehun tiba-tiba mendongak dari ponselnya.
"Eh? Maksud Imo?" Sehun menoleh pada ibu tirinya di dalam drama.
"Sudah kuduga, sepertinya kau belum tahu!"
Sooyoung menyodorkan sebuah persegi berlapis kulit merah. Tangan Sehun meraih ponsel Sooyoung dengan tanda tanya nyata di wajahnya. Mata tajam Sehun mulai menelisik sebuah artikel dengan serius. Matanya melebar, seolah ingin melompat keluar saat menemuka sebuah kalimat dengan huruf kapital dan di tulis tebal. Sooyoung segera mengatupkan dagu Sehun yang terbuka lebar dengan tangannya. Ia mengusak surai keponakanya dengan senyum geli.
"Ini fakta atau hanya lelucon gila para wartawan, Sehun-ah?"
Sehun menatap Sooyoung dengan pandangan tak terdefinisi. Antara kaget, aneh, lucu, shock dan sebagainya. Dimana sebuah tanda tanya besar seolah nampak menbayangi arti tatapan Sehun.
"Menurut Imo?" Sehun menantang Sooyoung dalam senyum.
Cukup dengan anggukan, Sooyoung memperjelas arti ulasan bibir Sehun, dimana setelah saling menatap beberapa detik, keduanya tertawa geli.
Scandal apa lagi yang menanti namja berkulit nyaris albino ini?
"Sebaiklnya kau telepon calon keponakan ku itu, mungkin ia juga sedikit shok!" Sehun mengangguk dan melaksanakan saran imo kesayangannya ini.
~^ Affectionate ^~
BRAK!
Lembaran kertas membentur meja terdengar keras.
Debaman itu menunjukan seberapa tinggi emosi yeoja ini di pagi hari. Setiap emosi pasti ada pemicunya, dan kali ini benda mati naas yang dibanting Miseok tadi adalah sumber masalah. Majalah masih terbuka dengan ujung tertekuk, dimana sebuah artikel murahan tengah menyerang nama perusahaannya.
Well walau para artis dibawah menejemenya memang sering menjadi topik berita panas, tapi baru kali ini ia menilai serius. Karena bukti bukti yang dituduhkan terpampang jelas, ia yakin itu bukan hasil rekayasa seperti sebelumnya karena ia sudah meneliti gambar-gambar tersebut.
Kasus yang menyangkut dua artis Grace sekaligus membuat rasa mual itu kembali. Belum lagi denyutan di dalam kepalanya. Minseok bertumpu pada ujung meja kerjanya agar tubuhnya tak jatuh begitu saja.
"Sajangnim!" Yuri segera menyodorkan gelas bening berisi air putih pada atasannya. Setelah beberapa tegukan pelan, Yuri menuntun Minseok untuk duduk.
"Panggil Kyungsoo sekarang, dan minta Key mengatur rapat sore ini!" Minseok kembali memijat kepalanya saat Yuri mengangguk dan pergi dari ruang kerjanya.
Ia kembali melirik majalah tersebut sebelum menutupnya tanpa peduli pada hot topic yang tertulis di sampul depan.
Minseok menggeram pelan saat isi perutnya naik hingga ke tenggorokan. Aishh, kehamilannya kali ini lebih merepotkan. Tiba-tiba saja ia ingin suaminya ada disini, tapi Minseok tahu Jongdae sedang ada sebuah acara di kantornya, dan baru break sore nanti.
Rileks. Otaknya memutar anjuran sang dokter kandungan untuk merilekskan tubuhnya. Wanita memang lebih sensitif saat berbadan dua, apa lagi dalam trimester awal, jadi calon ibu harus pintar-pintar untuk mengatur kerja tubuhnya. Karena resiko terbesar ada di awal kehamilan.
Minseok bersandar di antara tumpukan bantal di sofa, memposisikan tubuhnya senyaman mungkin. Matanya terpejam searah dengan nafasnya yang kembali teratur pelan.
"Aegiya... kuatkan eomma ne..." Senyum tulus terulas di pipi chubby Minseok saat ia mengelus sayang calon aegy dalam perut ratanya. Oh pemandangan yang sungguh membahagiakan, dan entah kenapa rasa mual dan pusing yang baru saja ia rasakan menguap begitu saja digantikan oleh perasaan hangat.
Sekali lagi, Kim Minseok merasa lengkap, seolah putri kecilnya, Kim Daemi sedang memeluknya erat.
~^ Affectionate ^~
Alunan musik klasik menyapa pendengaran Kyungsoo saat ia membuka pintu ruangan Minseok. Ruangan semi futuristic itu terkesan lebih segar dan nyaman dibanding sebelumnya. Entahlah, mungkin karena sekarang dibawah jendela kaca sepanjang dinding kanan terdapat beberapa pot tanaman mini. Dan disitu pula, Kyungsoo menemukan sahabat sekaligus atasannya sedang berdiri.
"Eonnie!" seru Kyungsoo setelah menutup pintu dibelakangnya. Yeoja itu menghampiri Minseok yang berdiri sambil memejamkan mata.
"Oh, Kyung... kemari!" Minseok duduk di kursi kerjanya diikuti Kyungsoo yang langsung duduk didepannya. Minseok menarik nafas dalam, kemudian menghembuskannya pelan.
Kyungsoo menunggu dalam diam. Ia memerhatikan wajah sahabatnya yang sedikit pucat, ada apa dengan wajah serius Minseok kali ini. Ia tak tahu apa yang mengundang Minseok untuk menyuruhnya datang. Dan ia tak punya gambaran apapun tentang itu, jelas saja, baru saja ia keluar dari ruang meeting, sedikit berbincang dengan Baekhyun. Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi,
"Hah... padahal aku ingin hari ini menjadi hari yang menyenangkan. Tapi apa yang dilakukan para pemburu berita itu sungguh menurunkan moodku." Ucap Minseok bersandar pada kursinya. Kyungsoo menatap bingung, masih tanpa suara, seakan Minseok belum selesai dengan ucapannya.
"Kyung, kau ingin dengar yang mana dulu?" tuh kan, benar.
"maksud eonnie?" Kyungsoo melepas kuncir kuda pada rambutnya kemudian menggelung caramel panjangnya menjadi bunny. Dirasanya pembicaraan kali ini buth sedikit perpanjangan waktu.
"mana yang ingin kau dengar lebih dulu? Good or bad news?"
Kyungsoo kembali memutar otaknya. Dibenaknya sudah tercatat puluhan pertanyaan yang melayang ingin di jawab. Apa gerangan yang membuat Minseok bertanya dulu?
"the good first!"
"Beberapa bulan lagi, aku dan Jongdae akan sibuk mengurus satu mahluk kecil dirumah..." jawab Minseok tersenyum. ia menumpu kedua tangannya di meja, kemudian menyangga kedua pipinya menghadap Kyungsoo.
"Hah?" Kyungsoo mengerjapkan mata tak mengerti, Tunggu... satu mahluk kecil? Mungkinkah aegy?
"Jinjja? Aegy? Kau hamil eonni?" tanya Kyungsoo tak percaya.
"Wah... chukhae! Akhirnya Tuhan mengabulkan permohonanmu!" Kyungsoo memekik senang saat Minseok mengangguk, tak bisa menyembunyikan betapa senang perasaannya.
Kyungsoo tak bisa berhenti tersenyum. Tak bisa dipungkiri Kyungsoo juga senang, di lihat beberapa tahun yang lalu, Minseok kehilangan sosok Daemi, dan hari-hari itu sangatlah gelap. Dan sekarang titik terang dimana keajaiban Tuhan datang, permohonan Minseok yang selama ini selalu serta di hatinya, terwujud,
"Oh, ya! Mrs. Do! Tapi kita punya masalah dengan media!" Minseok mulai serius saat meletakkan majalah pemicu rasa mual tadi, ke depan Kyungsoo.
Hamil muda, Aktor Oh Sehun nikahi soloist Lu,
seperti itulah tepatnya judul utama yang tercetak di cover majalah gosip hari ini. Biasanya biang gosip macam ini tak sekalipun dapat perhatian penuh, tapi bukan headline namanya jika tak ada bukti yang real di dalamnya.
Dilengkapi beberapa foto : foto pertama, sosok bertopi yang diduga Sehun nampak keluar dari mobil yang terparkir di depan apartemen milik Lu Han dengan judul 'Pacar Rahasia'.
Foto kedua, nampak Lu Han bersama seorang menejer keluar masuk Rumah sakit dimana sebuah artikel yang menduga Luhan sedang hamil.
Dilanjutkan foto ketiga, Luhan bersama Sungmin yang berdiri di pinggiran Yatch sedang menikmati sore ditemani segelas anggur merah, dan telah publik ketahui Sungmin adalah ibu Oh Sehun.
Yah mungkin foto ketiga yang paling wajar, tapi tidak jika disebelahnya terdapat foto dimana terpampang jelas seorang Sehun yang sedang berciuman dengan seorang gadis. Apalagi jika gadis yang dipangku Sehun adalah Luhan dan gambar itu menampakan latar yang sama dengan foto ketiga.
"Astaga! Karir mereka bisa jatuh karena masalah ini!" Komentar Kyungsoo setelah membaca sebagian artikel di beberapa halaman.
"Artikel itu memang benar! Stt!—Minseok memberi isyarat diam untuk Kyungsoo yang sudah siap menyela—tapi hanya sebatas pernikahan mereka. Dan tentang kehamilan Luhan. Itu hanya bualan media. Dan poin pentingnya, Kita harus menjaga saham perusahaan tetap stabil, aku akan berusaha menahan para investor agar tak menarik diri. Untuk itu aku ingin kau meng-handle klarifikasi gosip mereka dengan halus, dan perlahan setelah gosip ini memudar. Apa akhir bulan cukup?" Lenguhan kecil mengakhiri kalimat Minseok.
"Baiklah, kapan kita mengadakan meeting?" tanya Kyungsoo segera mengutak atik ponsel untuk menghubungi asistennya.
"Sore ini!"
Kyungsoo melihat agenda mingguannya. Besok kosong hingga Selasa dan kamis. Ia butuh dua hari kedepan secara full, jadi ia menandainya. Butuh segala persiapan matang agar semua masalah selesai sesuai keinginan, lalu mulai menghubungi seseorang saat menuju keruangannya sendiri.
"Seohyun-ah... cepat keruanganku sekarang, oh datanglah bersama Sunmi!"
Klik.
Kyungsoo menghempaskan badan di sofa ruangannya. Seolah beban dikepalanya dapat rontok begitu saja saat tubuhnya menabrak untainya empuk busa sofa. Setelah menghembuskan nafas kasar, ia membenahi scarf kotak-kotak di lehernya agar terikat rapi.
Tut...tut..tut..
Ponsel Kyungsoo berbunyi, gambar baterai merah muncul di desktop hingga hilang dan menampilkan wajah sang putra, Namsoo. Anak lelaki tampan yang selalu menghiasi ponselnya itu selalu membuat Kyungsoo bisa tersenyum dalam keadaan apapun. Andai bocah itu bisa selalu Kyungsoo bawa dalam tas... tapi faktanya malah Namsoo sudah hampir setengah dari pahanya,
"Astaga!"
Kyungsoo segera memindah semua tulisan scedule di hari Minggu di agenda ponsel untuk dipindahkan pada hari selasa. Ia lupa jika hari minggu Ia dan Namsoo—bersama Kai juga akan ke Everland. Artinya ia harus menyelesaikan sebagian pekerjaannya hari ini.
"Haah... It's gonna be a Long long Day!"
~^ Affectionate ^~
Zitao tak tahu harus berbuat apa. Didepannya sudah ada bibi Halin(henry). Wanita cantik berbadan mungil itu, tak henti menatap dinding kaca yang menampakan halaman belakang. Walau pandangannya lembut, tapi Zitao tau ada sesuatu rasa yang tersembunyi di mata indah bibi Halin. Seolah mernyiratkan sesuatu. Entahlah. Disebelahnya ada paman Zhou yang sedang menelaah sesuatu tentang bisnis di pad nya bersama Baba. Sedang mamanya masih di dapur memotong buah untuk cemilan. Tadi waktu Zitao ingin membantu, Heechul dengan galaknya menolak dan malah menyuruh putri tunggalnya untuk mengajak Heebum bermain. Kadang Zitao heran, siapa yang menjadi anak dari mamanya? Dia atau Heebum.
Sudah hampir tiga hari ia kembali pada keluarganya. Awalnya Zitao memang ketakutan, hampir semalaman ia berlindung dibelakang Kris sebelum Heechul mengintrogasi Zitao. Dan omelan panjang pun mengalir hingga tengah malam, dimana akhirnya bibi Halin menghentikan sang mama dengan alasan 'sudahlah, Jie! pasti Zitao masih lelah setelah terbang dari Jepang!' Oh, ingatkan baby panda ini agar berterimakasih.
Ayahnya tak terlalu pusing dengan apa yang dilakukan Zitao, karena tuan Huang itu sudah berubah menjadi tipe lelaki yang tak menghawatirkan anak yang sudah dianggap dewasa. Padahal, dulu sebelum insiden perginya Zitao, Hangeng adalah baba yang penyayang melebihi sang mama. Zitao sempat berkeluh kesah pada mama nya yang kini berubah lebih penyayang tentang sikap sang ayah. Kemudian Zitao tak lagi mempermasalahkan itu semenjak ia tahu ternyata dari awal kakinya menginjak tanah Korea babanya sudah mengawasi dari jauh. Heechul yang cerita.
"Dimana Yifan, Halin?"
Zitao terhenyak mendengar Heechul menyebut nama Kris. Hampir saja garpunya jatuh ke lantai, pikirannya melayang mengingat kejadian waktu lalu yang hampir membuatnya gila semalaman. Ia yakin mata pandanya akan tambah menggelap jika saja ia tak meneguk dua pil obat tidur, karena terlampau banyak pikiran yang menghantuinya.
Kris... Yifan... Kris... Yifan
Nama itu seolah selalu muncul seperti suara gaib yang secara perlahan ingin menenggelamkan Zitao.
"Tao-ah?" Sentuhan Heechul di bahunya membuat Tao benar-benar menjatuhkan garpunya.
"Eh.. We..wei mama?" Gelagap Tao lalu memungut benda perak itu dan meletakan kembali di atas meja.
"Panggil Yifan turun." Titah Heechul menatap tajam putrinya
"kenapa harus aku?" tanya Zitao, yah bukan Huang Zitao jika ia takut dengan tatapan intimidasi Heechul. Minggat dari Cina ke Korea saja tak jadi masalah besar untuknya, apalagi hanya tatapan ringan mamanya sendiri.
"Kau itu calon istrinya, Ziezie sayang!" rayu sang mama mengelus rambut Zitao sambil mengirim sinyal bahwa mama cantik bermarga Kim itu tak ingin dibantah.
"Aku bukan!" seru Zitao, keputusannya masih sama seperti dulu. Tidak akan menyetujui acara perjodohan gila keluarganya. Walaupun dahulu sempat dilakukan pertunangan waktu masih di China.
"baiklah, padahal mama ingin membatalkan hukumanmu, rencananya dua hari lagi kau sudah tidak dihukum." Heechul membuang nafas penuh penyesalan, tentu saja dibuat-buat.
Zitao mengangkat alis, tawaran yang menggiurkan hanya untuk membangunkan naga itu.
Tanpa hukuman, berarti Zitao bebas.
"Tapi... karena ternyata kau tak merubah sifat keras kepalamu itu, jadi mama terpaksa..."
"besok!" sahut Zitao cepat-cepat.
"huh?" Kaget Heechul. Ia menatap Zitao menunggu penjelasan lebih.
"Aku mau, asal aku bisa mendapat seluruh barang sitaan mama, serta mulai besok aku bebas..." Ucap Zitao final. Dalah hati ia memanjatkan doa agar mamanya mau mengabulkan permintaanya walau mustahil. Ia yakin mamanya tak akan mau mengambil penawaran Zitao, karena Zitao tak ingin berurusan lagi dengan lelaki itu.
"deal!" sahut heechul setelah berfikir beberapa detik. Zitao tersenyum menang saat tuhan mengabulkan hari bebasnya, ha... WHAT?
...
..
.
"REALLY?"
Seruan Zitao sempat membuat Zhoumi dan Hangeng berjengit kaget, sedang Henry hanya tersenyum miring mendapati Heechul yang mengedip padanya.
Heechul kemudian mengangguk menjawab ketidak percayaan putrinya.
"Eomma Jjang!" Zitao memeluk Heechul erat. Hatinya terlalu senang hingga ia menyebut Heechul dengan bahasa asli ibunya, dan ternyata bocah panda yang mengaku sudah tidak lagi lugu itu melewarkan senyum licik di bibir Heechul.
"Cepatlah, atau mama berubah pikiran! Dan turunlah bersama Kris!" ancaman Heechul berhasil membuat Zitao segera naik ke lantai dua dimana kamar Kris berada di seberang kamarnya.
Halin yang tadinya hanya melihat kelakuhan Heechul dan Zitao kini berdecak lucu sambil menggeleng. Ternyata kakak kelas masa High School nya itu masih menyimpan otak penuh intrik.
"aku tidak yakin, kau akan benar-benar melepasnya..." gumam Halin sambil mencomot mangga.
Heechul hanya tersenyum penuh arti hingga Halin dan Heechul sama-sama tertawa lirih.
Kembali pada gadis panda ini. Kakinya melangkah ringan selama menaiki tangga dan berbelok ke kanan, arah kamar Kris, tapi tiba-tiba saja tanganya berhenti mengambang diudara saat ia hampir saja mengetuk pintu kayu kamar itu.
"Aish!" Zitao menurunkan kembali genggamannya. Ia mengacak poninya.
Demi kebebasan. Zitao terus mengingat dua kata itu. Kebebasan. Free. Bebas hanya untuk membangunkan Kris? Zitao mulai bertanya. Mengirim sinyal bahwa mama cantik bermarga Kim itu tak ingin dibantah.
Zitao mengangguk memantapkan diri, dengan berat hati tanganya perlahan mengetuk pintu.
Klek.
Pintu terbuka sedikit, tak ada suara sama sekali. Zitao menatap aneh kamar Kris, tak ada siapapun didalam. Kakinya yang memakai sandal rumah melangkah masuk. Pintu jendela terbuka setengah, gorden keemasan itu juga belum terbuka seluruhnya. Zitao mendekat ke arah kamar mandi, tapi tak ada suara apapun. Kemudian sayup-sayup terdengar seorang berbicara dengan bahasa korea.
Zitao mendekat ke arah jendela kamar Kris dan memajukan kepalanya melihat ke luar. Dan benar saja, si pirang yang sekarang sudah menjadi dark choco tengah berdiri menyandari besi pembatas dengan ponsel di telinganya. Posisinya membuat ia lebih cocok sebagai seorang model piama atau mungkin seperti pose seorang aktor yang sedang bermain film atau drama. Zitao tak tahu, jika laki-laki menyebalkan itu bisa setampan ini. Mendadak Zitao merona, well Zitao tahu Kris memang tampan, tapi ia selalu menutup mata jika bersangkutan dengan keluarganya atau keluarga Kris.
"... perusahan. Aku sudah siap menariknya. Chanyeol juga, mungkin beberapa koneksi akan mengikuti."
Huh, bisnis. Selalu bisnis, perusahaan, dan uang. Apa setiap manusia bahagia dengan itu. Zitao masih tak mengerti tentang bisis yah meskipun ia tak langsung telah belajar berbisnis dengan Grace. Tapi untuk bidang selain fashion, ia tak bisa memahaminya.
Tunggu. Chanyeol? Kenapa Zitao merasa ingin tahu apa yang Kris bicarakan?
"Pasti, dalam beberapa minggu. Seperti yang sudah tersusun. Kita hanya perlu menunggu kabar kejatuhan wanita itu. Dan tugasmu tinggal menyakinkan Kyungsoo, adik ipar manisku itu agar kembali mempercayai namja bodoh sepertimu!" terdengar kekehan Kris saat ia menjauhkan ponsel dari telinganya sejenak. Zitao yakin jika orang yang ada disambungan itu sedang berteriak.
Wanita? Siapa? Apalagi Kyungsoo? Adik ipar? Setau Zitao Kris tak punya adik, well setelah dengan terkejut Kris memperkenalkan Chanyeol sebagai adik sepupunya kemarin. Mungkin sepupu yang lain, tapi Kyungsoo? Kebetulan sekali Chanyeol yang berhubungan dengan Kris adalah Chanyeol yang mengenal Kyungsoo. Dan ia yakin ia tak salah lagi. Tapi apa hubungan itu dengan orang-orang yang dikenalnya. Apalagi Kyungsoo, sejak kapan Kris dan Kyungsoo saling mengenal?
"Tentu saja. Tapi, Jongin-ah! Maaf, Baba sudah tahu rencana kita.." Kris menjeda sepersekian detik, membuat Zitao tambah penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, lagian apa hubungannya Kris, Chanyeol, Kyungsoo, dan emm siapa tadi.. Jongin? Mungkin.
"Hey slow down!... He triying to help our family to be back again! Kita akan menghancurkannya bersama!" Kris kembali serius, ia mulai berdiri tegak. Dan Zitao belum siap menerima tatapan tajam Kris saat lelaki itu tiba-tiba menoleh.
"What are you doing there? Panda?" tanya Kris dingin. Wajah datar. Mata sipit mengintimidasi. Suara rendah. Kris kembali normal.
"Kita bicarakan lagi nanti. Oh iya jangan lupa besok malam. Sepertinya ada panda lepas... ok bye!"
"Um... hanya ingin memanggilmu keluar." Zitao berkata setenang mungkin meski jantungnya terus berdetak kencang karena tertangkap basah, hampir membuatnya pening. Hell apa itu, seenaknya sendiri Naga jelek itu memanggilnya panda lepas.
"Ok, 10 menit lagi! Aku mau mandi dulu, now go!" usir Kris kembali masuk dan mengunci jendela besarnya. Kris mulai mencopot jam tangan, cincin dan gelangnya, sedang ponselnya diletakan di sofa dekat jendela. Ia hendak mengambil bathrobe ketika Zitao malah duduk bersila diatas ranjangnya.
"A-a... mereka tak mengijinkanku turun sebelum menggandeng lehermu!" Zitao menggelengkan jarinya.
"Tunggu. Aku tahu kau sangat sulit disuruh! Jadi apa imbalannya?" Kris menyilangkan tangannya, sepertinya ia sedikt tertarik berbicara.
Sepertinya mood seorang Huang Zitao sedang baik. Zitao menggeser duduknya, mencari posisi lebih nyaman. "Mama akan mengembalikan semua barangku, dan mulai besok aku akan bebas!" Tao menakupkan kedua telapaknya layaknya orang berdoa di kuil. Wajah imutnya yang terpejam dan tersenyum sempat membuat Kris tersenyum tipis.
"Bukankah itu kabar baik, Ge?" Nah, sekarang Kris tergelak singkat.
"Panda Bodoh! Satu hadiah dari bibi Heechul harus dibayar dua kali lipat! apa kau lupa?" sahut Kris sebelum benar-benar menghilang dibalik pintu kamar mandi.
"Ish... Naga sialan! Apa aku anak tiri? God! #$%^vhj!" teriakan memaki mulai memenuhi kamar Kris, untuk Kris juga untuk mamanya. Astaga ia baru ingat, mamanya itu mempunyai otak yang sangat cerdik jika takingin dibilang licik. Sialan, Zitao kalah lagi. Shit!
Cklek,
Pintu terbuka separo. Keadaan Kris yang tanpa atasan dengan handuk melilit pinggang membuat Zitao terbengong beberapa saat. Kris tersenyum miring melihat panda rese—menurutnya—didepanya membeku mengamati tubuhnya dengan melotot. Zitao terbelalak kaget, sebab walau mengaku pernah lebih tiga kali berpacaran Zitao tak pernah melihat pemandangan sexy seperti tubuh Kris ini secara Live. Yup Zitao masih AMAN! Kau tahu maksud Aman? Ok anggap saja kalian tahu!
"Why? Wanna come in?" tanya Kris dengan suara beratnya, oh jangan lupa smirk yang otomatis ada di wajahnya. Sialan, membuat pipi Zitao semakin berpendar kemerahan.
"Dalam mimpimu, Naga mesum!"
"Masuklah jika kau ingin, Baby... hahaha!" Kris segera menutup pintu sebelum Zitao melempar sebuah bantal dari ranjangnya. Meninggalkan Zitao dengan rasa malu sekaligus dongkol dengan tawa keras yang sungguh menyebalkan di telinga Zitao.
After some minutes,
Zitao mengotak-atik ponselya dengan rasa senang. Heechul menepati janjinya. Tak ada tanda-tanda mamanya meminta hal lain, malahan mamanya sibuk nimbrung dengan baba serta paman Zhou. Bibi Halin, mungkin sedang menyuapi anak bungsunya haha, jika memang benar Kris masih disuapi toh Zitao tidak peduli. Yang penting sekarang Zitao bisa membalas puluhan pesan biasa maupun dari SNS nya. Oh, dia mendapat kabar dari Lay, bahwa gadis itu akhirnya berpacaran dengan Joonmyun, setelah menggoda—emm mengejar lebih tepatnya—si aktor yang sudah lama menjadi incaran Zhang Yixing. Dan tentu saja kabar Luhan yang sebentar lagi akan menikah dengan Oh Sehun. Haha dasar pasangan malu-malu. Sudah bisa dite... WHAT? Menikah? OH MY GODNESS! Zitao harus mengintrogasi rusa itu nanti malam.
"Zizie!" seru Heechul. Wajahnya menunjukan kekesalan, ia tak suka diabaikan. Apa Zitao terlalu fokus pada ponselnya hingga panggilan sang mama dia abaikan.
"Eh, hehe... what's wrong Mama?" Zitao meringis lucu. Ponselnya diletakan lagi, kemudian menerima kotak coklat muda dari mamanya. Zitao menatap curiga pada dress kuning pendek dan sebuah heels silver yang ditemukannya didalam.
"Mama tidak cuma-cuma, be-bas ber-sya-rat!" dikte Heechul mengangkat telunjuk dan jari tengahnya membuat tanda kutip.
Sekilas Zitao mendengar tawa renyah Kris di dapur. Zitao menoleh sebal, 'I told you!' ucap Kris tanpa suara masih bersandar pada counter dapur. Zitao mengangkat jari tengahnya geram. Kekehan kembali terdengar setelah Zitao dengan cepat menatap mamanya yang sudah kembali nimbrung kedua lelaki di sana.
"Selamat menikmati malam minggu yang romantis, anakku!" ucap sang mama jelas menyebalkan ditelinga Zitao.
Perasaanku tak enak–Zitao
Aku tak akan menyerah anak nakal. Instingku tak pernah salah, aku tahu kalian saling menyukai—Heechul
Malam yang menarik!—tebak saja suara hati siapa kali ini.
.
Dan... disinilah Zitao berada, sebuah restoran klasik yang menyediakan makanan khas korea dikhususkan masakan tradisional. Cara pembuatannya pun masih sangat tradisional, ia dengar disini masih menggunakan kayu bakar dengan tungku-tungku besar, bahkan desain interior maupun eksteriornya masih sangat tradisional. Bukannya ill feel atau jijik seperti yang dilakukan gadis seumurannya, justru Zitao terpukau dengan keaslian tradisi dan budaya reesto ini. Restoran hanguk lain yang Zitao tahu tidaklah seasli ini, mereka bahkan mencampur aduk dengan budaya barat. Dan ia senang akhirnya terbebas dari rumah dan bisa mencicipi rasa di tempat ini, walau harus ada seorang Wu Kris didepannya.
Oho, lihatlah kelakuan manusia itu. Ponsel didepannya tak berhenti bergetar, menandakan ia sedang berkirim pesan seolah menganggap Zitao tak ada disana. Tapi bukankah itu hal bagus bagi Zitao. Tak mendapat ejekan, lelucon, atau gangguan dari si pirang—ups Zitao lupa sudah mengubahnya—yang masih saja sibuk.
Kita harus tetap bersyukur bukan, yang penting mulai sekarang gadis itu bebas well bebas bersyarat. Dan ngomongo-omong tentang bagaimana bisa Zitao ada disini, itu karena paksaan mamanya, yang mengancam membatalkan kesepakatan jika Zitao membantah. Jadilah Zitao mau menggunakan gaun barunya yang dilapisi mantel tentunya—udara dingin awal desember—untuk pergi kencan istilah Heechul dan Halin. tapi bagi Zitao ia seperti pergi dengan sebuah manequin tampan dari butik Grace. Bahkan lebih menyenangkan makan malam dengan patung peraga itu dari pada soulless man? Disebrangnya.
Tiba-tiba ponsel Kris berdering. Kris langsung saja mengangkat ponselnya setelah menggeser layar ke depan wajahnya.
"Samchun!~"
Dahi Zitao mengerut. Suara anak kecil terdengar lucu dari speaker Kris, untung meja ini didesain untuk satu bilik jadi tak masalah tentang suara berisik, toh tak ada orang lain.
"Annyeong, little Kim! Bagaimana kabar keponakan tampanku?" sapa Kris tersenyum lebut sambil melambaikan tangan membuat Zitao baru sadar Kris sedang bervideo call dengan entahlah seseorang pastinya.
"Im fine thank youuu~ hahaha..." Suara imut itu terawa setelah menjawab, mau tak mau Zitao tersenyum walaupun ia tak tahu tampang bocah itu. Tapi sepertinya Zitao mengenal suara ini, atau hanya memang suara anak kecil pada umumnya sama?
Kris terkekeh, "Siapa yang mengajarimu, Soo-ya?" Zitao mulai bergerak maju, ia merasa ia harus mendengarkan percakapan mereka. Katakanlah Zitao penasaran.
"Appa!" suara bocah itu kembali terdengar "Aaa~ appa! Namsoo masih mau Klis samchon!" Apa Namsoo? Kim? Kim Namsoo? Well mirip sekali dengan anak Kyungsoo? Zitao malah jadi tambah penasaran. Jangan-jangan memang anak CEOnya. Bukankah tadi siang Kris juga berbicara tentang Kyungsoo?
"Nanti lagi ya, Namsoo tak mau bertemu calon imo baru Namsoo?" Kini suaranya berubah menjadi suara orang dewasa. Mungkin appa dari Namsoo? Jikaini memang Namsoo milik Kyungsoo, berarti appa nya adalah lelaki yang mengantarnya pulang beberapa hari lalu?
Kris memberi isyarat agar Zitao duduk disampingnya. Zitao menurut saja, memang ia sedang penasaran kali ini.
"Adik dan keponakanku, mau menyapa mereka?" Zitao meraih ponsel itu, dan matanya menatap kaget wajah kedua orang yang sedang memenuhi Iphone Kris.
"Wah... ada Panda Nuna!"
~^ Affectionate ^~
Seolah tak kenal waktu, Kyungsoo terus saja mengutak-atik layar komputer sentuhnya. Biasanya sih dengan sepenuh hati ia menggoreskan pennya untuk mendesain sesuatu, tapi kali ini komputer itu bekerja menjelajah internet mengirimkan beberapa email penting serta pembaharuan data perusahaan. Decakan sebal menghiasi tiap menitnya, hampir seharian penuh ia gunakan untuk fokus pada skandal kedua artisnya yang sedang dimabuk cinta.
Jam terus berputar, sehingga entah sudah beberapa putaran terlewatkan. Tak menyadari langit luar yang sudah mengelap, Kyungsoo terlalu serius mengenai tanggung jawabnya dikantor.
Setelah yakin semua data perusahaan aman, ia keluar dari sistem keamanan jaringan komputer. Kyungsoo duduk dengan nyaman di kursinya setelah menyusun kembali isi map yang akan dibawanya pada Minseok.
Kyungsoo tampak melirik jam digital di ujung meja. Angka 20.55 pm. dengan warna merah menyala menjelaskan betapa gelap langit di luar yang sempat diintipnya disela tirai putih jendela. Yah, saatnya pulang!
Puk!
Kyungsoo menakup kedua pipinya, merasa bodoh atas dirinya sendiri. Kyungsoo lupa bahwa pagi tadi, lelaki yang masih sah menjadi suaminya itu memaksa agar bisa mengantarnya ke kantor. sial, tak ada mobil untuk pulang. Taxi, Kyungsoo benci untuk naik jasa angkut satu itu sejak dulu, jangan tanya alasanya? Kyungsoo tak ingin mengingatnya. Bus? Well itu juga alternatif, tapi Kyungsoo harus berjalan setidaknya sepuluh menit ke halte, kemudian setengah jam menembus kepadatan Seoul, dan berjalan hampir setengah kilo meter untuk sampai ke rumah dari gerbang perumahan yang sudah hampir seminggu ini ditinggalinya, lagi.
Seolah merasakan sesuatu, Kyungsoo menatap pintu ruangannya. Dan benar saja beberapa detik kemudian, Namsoo berlari masuk ke dalam.
"Eomma!"
Sebuah coat biru tebal membungkus hangat tubuh kecilnya. Sebagai dalaman, Namsoo memakai sweter kuning dengan gambar hiu. Dikepala mungil itu terdapat sebuah topi merah kuning bercorak abstrak. Dengan bibir menarik senyum, Kyungsoo menyambut anaknya yang tiba-tiba saja muncul di kantornya. Meski sekarang masih bertanya-tanya siapa yang membawa anaknya kemari. Dan terjawablah siapa yang sudah repot-repot membawa Namsoo,
"Hai, sayang!" Sapa seorang.
Kim Jongin. Namja itu bersandar di pintu dengan tangan bertautan. Kyungsoo memilih tidak menjawab panggilan Kai, mencoba mengalihkan fokus. Tapi malah hal lain terfikir olehnya,
Apa diluar sedang hujan?
Pikir Kyungsoo sambil melirik kaca besar yang masih tertutup tirai tebal lalu kembali melirik Kai yang masih saja berada ditempatnya. Entah bagaimana bisa Kyungsoo terus memandangi Kai dengan ekspresi terpesona. Rambut Kai yang kini hitam legam, sedikit basah di ujung. Kesan sexy manly tercetak jelas di wajah Kai yang sedang tersenyum.
Tampan.
Dia memanglah lelaki tampan yang banyak digilai banyak wanita. Kyungsoo pun kadang masih bertanya-tanya apa gerangan yang membuat seorang Kim Jongin, melabuhkan hatinya pada seorang mahasiswi design berperawakan mungil seperti Kyungsoo. Jika dulu Kyungsoo menanyakan itu, senyuman Jongin dan kata 'nyaman' lah jawabannya.
Mata Kyungsoo tak bisa lepas dari sosok Jongin yang tersenyum didepannya, meski otaknya telah berteriak agar ia mengalihkan padang. Tapi sepertinya kali ini ia mengalami konslet, dimana tubuh dan pikirannya tak sinkron sama sekali.
Namsoo menarik-narik rok putih Kyungsoo, meminta perhatian sang eomma yang masih saja bertatapan dengan appanya. Namja cilik itu sedikit kesal, karena sang eomma tak juga meliriknya. Akhirnya dengan sedikit keras ia berseru.
"Eomma! Ayo pulang!"
Kyungsoo mengerjap lucu dengan pipi merona.
"Eh.. ne, ayo pulang! Tapi setelah eomma memberikan ini pada Xiu-Imo ne!" Kyungsoo menciumi pipi Namsoo gemas.
"Xiu-Imo? Aku saja eomma, Namsoo kangen Xiu-imo!" Rengek Namsoo mulai menarik-narik map putih di tangan Kyungsoo yang langsung menyeringai imut saat mendapatkannya. Sudah lama ia tak bertemu imo satu itu.
Namsoo segera melesat ke ruangan Minseok yang sudah dihafalnya. Dua kali ia mengetuk pintu, lalu masuk kedalam, persis seperti eommanya jika ingin masuk kedalam sana.
"Immooo!" Seru Namsoo semangat. Ia berhambur memeluk Minseok yang ternyata sedang tiduran di sofa berbantal pangkuan Chen.
Awalnya minseok memang kaget, tapi setelah melihat malaikat kecil menempel ditubuhnya ia tersenyum sembari mengelus punggung Namsoo.
"Ya! Ya! Kenapa yang dipeluk hanya Imo?" Rengek Chen meniru gaya anak kecil. Namsoo tertawa ringan melihat raut sedih Chen, yang tentu dibuat-buat.
"Juciiii!" Namsoo naik ke atas sofa dan langsung memeluk leher Chen sayang setelah Minseok beranjak duduk di samping suaminya.
"Imo sakit ya?" Tanya Namsoo yang sudah terduduk dipangkuan Chen. Ia penasaran dengan Xiumin yang tadi terlihat sedang sakit. Minseok menggeleng.
"Imo hanya capek, adek bayinya sedikit rewel" jawab Minseok menyentil hidung mbangir Namsoo.
Adek bayi? Aegi lucu seperti dongsaeng temannya? Mahluk kecil menggemaskan itu? Pikiran Namsoo melayang pada dongsaeng Jun teman sekelasnya. Mahluk kecil yang cantik dan imut, yang bergerak-gerak menggemaskan di dalam gendongan eomma nya Jun?
"Aegi? Dimana?" Namsoo celingukan mencari-cari aegi di sekitar Minseok. Sekarang matanya sungguh mirip dengan Kyungsoo,
"Aeginya belum keluar, aegi masih tidur didalam sini, Namsoo ya!" Minseok mengusap perut ratanya, memberi penjelasan lembut pada Namsoo yang semangat mencari hal baru. Namsoo menatap perut Minseok dengan tatapan lucu dan menganguk-angguk. Dari sini, Chen bisa melihat dari mana sifat tenang milik Namsoo, dia persis seperti Kai. Tingkah bocah itu mengundang rasa gemas seorang Kim Jongae hingga membuatnya tak tahan kembali menggoda Namsoo.
"Oh ya, dengan siapa kau kemari, Sooie?" Tanya Minseok menyela Chen yang masih gemas menciumi wangi minyak bayi di tubuh Namsoo.
"Appa!" Jawab Namsoo diantara tawa gelinya.
"Jongin?" Tanya Chen pada Minseok. Minseok mengulum senyuman, sebelum berkata,
"Nanti akan aku ceritakan dirumah!"
Diwaktu yang bersamaan, masih digedung yang sama pula, tapi diruangan yang berbeda, suasana hening mulai terpecah.
"Ehem.." Kai berdehem ketika ia dan Kyungsoo tinggal berdua.
"Bagaimana pekerjaanmu?" Tanya Kai sekedar basa basi.
Sudah seminggu ini ia berada di Korea, dan seminggu ini pula ia selalu bersama Kyungsoo dan Namsoo,tapi belum pernah ia dan Kyungsoo berbicara panjang semenjak kepergiannya. Terakhir kalinya adalah percakapan dua tahun lalu yang menibulkan salah paham berkepanjangan hingga saat ini. Well, sebenarnya ia tak bisa menyalahkan panggilan Kyungsoo yang langsung diputus saat ia berkata akan menikah lagi, tapi bahkan belum sempat menjelaskan ponsel nya malah dibanting oleh ibu tirinya. Hanya seseorang yang patut disalahkan atas semuanya,. Wanita itu, wanita penghancur keluarganya. stella Choi. Yang menurut hukum ia adalah Ibu tirinya. Tapi Kim Jongin tak pernah mengakuinya.
"Seperti yang oppa lihat. Baik-baik saja!" jawab Kyungsoo singkat, ia mencoba lebih santai dari degupan didadanya.
"Oh.. Apa kau sudah tahu? Bibi HaLin, paman Zhou, dan Kris ge ada di Seoul?" tanya Kai. Dan dari raut wajah istrinya, Kai sudah bisa menebak jawabannya tidak. Jadi dia memilih melanjutkan sebelum Kyungsoo bertanya.
"Ehem, kita diundang untuk makan malam! Jadi setelah bermain di Everland, bibi menyuruh kita berkunjung!" jelas Kai.
Kai menatap wajah Kyungsoo yang sulit dibaca kali ini, seolah sedang berperang argumen di fikirannya. Ia mengangkat alisnya saat Kyungsoo enggan menatapnya langsung. Bukankah tadi Kyungsoo menatapnya dengan pandangan memuja, kalau dirinya boleh sombong. Well, tadi itu menggemaskan memang, bahkan dulu sering sekali Kai menggoda Kyungsoo karena kedapatan dipandangi oleh mantan pacarnya itu.
"Baiklah!" jawab Kyungsoo singkat. Kyungsoo berbalik ke arah meja kerja dengan cepat.
"Kyungsoo, tentang Kristal..." Kai mencoba membicarakan problem yang belum juga terpecah karena Kyungsoo selalu menghindar dari pembicaraan ini. Dan benar saja, sepertinya kali ini pun juga, Kai mengamati pergerakan Kyungsoo yang tiba-tiba saja berhenti.
"Ayo pulang!" Ujar Kyungsoo dingin. Ia beranjak mengambil tas putihnya, hampir berlalu melewati Kai jika saja ia tidak ditarik.
Hup!
Dalam detik berikutnya, Kyungsoo telah berada dalam pelukan Kai, yang merengkuhnya dari belakang. Ia tak meronta seperti biasanya, bahkan bergerak sekecil apapun tidak.
"Kyungsoo, dengarkan aku..."
Tak tahukah kau kalau yeoja yang sering berlaga kuat sedang menahan dilema berat. Suasana canggung antara dua insan ini membuatnya tak tahan untuk tidak kabur. Nafasnya sudah hampir tersengal jika saja ia tak menggigit bibir.
"Soo-ya! Mianhae."
Kai mengeratkan lenganya. Wajahnya sudah tenggelam di puncak kepala Kyungsoo, menyesapi aroma bayi yang menguar dari rambut panjang Kyungsoo.
"Sekali saja! Kumohon dengarkan aku..."
Tak ada reaksi apapun dari Kyungsoo.
"mianhae! Jangan menyiksaku dengan semua ini, aku tak sanggup! Apa yang harus kulakukan agar kau mau mendengarkanku, Kyung-ah! Apa yang harus kulakukan?"
Suara parau Kai seolah menjadi pemicu baku hantam di dada Kyungsoo. Lelaki ini adalah kelemahan dalam hidupnya. Ingin sekali Kyungsoo kembali membuka pintu hatinya, tapi kenyataan tak memberi izin untuk itu. Perasaan takutnya selalu mendahului akal sehatnya, entah kenapa setiap Jongin membahas Krystal Kyungsoo selalu takut. Takut bahwa kebenaran yang terungkap akan membuatnya terperangkap pada kegelapan yang lebih dalam,
"Do Kyungsoo..." Akhirnya Kai membalik tubuh kaku Kyungsoo agar tepat didepannya. Mata tajam itu menatap langsung pada manik mata Kyungsoo yang masih enggan mentap balik.
"Tatap aku!" Titah Kai lembut.
Kyungsoo melirik kakinya, ia tak yakin, hatinya merasa takut menatap mata serius Kai. Ia takut benteng yang sudah dibangun selama ini akan hancur begitu saja.
Ditariknya dagu Kyungsoo untuk menatapnya, mata bulat berkaca-kaca ini dulunya selalu melihatnnya penuh kasih sayang dengan binar bahagia. tapi, kini tinggalah sebuah ketakutan dalam, meski ia tahu terbesit rasa rindu yang sama dalamnya dari tatapan Kyungsoo.
"Saranghae!"
Terucap pernyataan dengan arti mendalam. Cinta, kasih, sayang, rindu, marah, emosi, kecewa, dan lemah beradu satu. Sekali lagi Kyungsoo dapat menilai kejujuran dimata suaminya. Hati itu berdesir kembali, memacu semua perasaan untuk meluap ke permukaan. Ingin ia melampiaskan seluruh rasa yang hendak meledak dari dalam tubuhnya, tapi ia menahan pergerakan rasa itu. Air mata jatuh membasahi pipi Kyungsoo dalam diam, satu-satunya pelampiasan yang tak bisa ditahan lagi.
"Saranghae, geudae-ya!"
Pertanyaan tempo lalu, terjawab sudah. Kai masih mencintainya. Dan hatinya luluh tanpa sederet penjelasan gamblang, tapi seperti ilmu hipnoterapi, dengan hanya menatap, kedua hati mereka telah berbicara dan mencapai kesepakatan. Aneh memang tapi itulah yang terjadi.
Lemah... Kyungsoo benci ia terlihat lemah. Ia benci dirinya yang tak bisa move on dari lelaki sialan yang sudah membawa sebagian besar hatinya. Ia benci dirinya yang tak bisa bersembunyi tenang di balik perisai ketegaran. Ia benci pria didepannya, ia benci Kim Jongin, ia benci semua yang berhubungan dengan namja ini, bahkan ia membenci hidupnya. Ia benci karena kebenciannya tak bisa menang melawan rasa cintanya.
Kyungsoo benci menyatakan bahwa dirinya menyerah...
Menyerah untuk tidak jatuh pada hati yang sama..
Ia akan mengambil keluarganya kembali...
dan tak ada yang bisa menhentikannya kali ini
Bruk
"Kyung..." Kai membeku di tempatnya berdiri.
Hangat Kai rasakan. Pelukan ini. Yeoja ini. Kyungsoo merengkuh tubuhnya dalam pelukan erat. Terlalu erat malahan. Kai bisa merasakan luapan rindu posesive dalam kungkungan yeoja yang tak lebih tinggi dari dagunya ini. Sejenak ia tersenyum, kemudia tanpa menunggu waktu lama ia membalas pelukan sang istri.
Kai membiarkan Kyungsoo menangis terisak. Ia tahu bagaimana perasaan Kyungsoo saat ini, rasa dihianati, dibohongi, dicampakan, dan masih banyak lainnya. Karena korban atas cerita ini bukan dirinya, bukan ibu bukan juga ayahnya. Tapi Yeoja cantik yang masih menangis inilah yang paling tersakiti.
Kai mengeratkan rengkuhannya. Ia sangat bahagia. Bahkan tak ada satu kata atau kalimat panjang yang dapat menceritakan bagaimana perasaannya kali ini. Hal pertama yang paling ia rindukan, Kyungsoo berada disisinya. Ya meskipun beberapa hari ini mereka selalu bersama. Tapi inilah, makna sebenarnya, bukan hanya raga tanpa jiwa, tapi sepenuh jiwa raga Kyungsoo telah ia dapatkan kembali.
Kyungsoo mendongak setelah tangisnya reda. Rasanya sungguh melegakan. Ia tersenyum, betapa pendeknya tubuhnya dibanding Kai. Ia terkikik ringan dengan mata masih basah. Membuat Kai ikut tersenyum gemas. Dari tatapan matanya, Kai tahu Kyungsoo, BabyKyungie nya telah kembali.
"Miwoyo!" Jawab Kyungsoo jujur dengan ada kesal beraksen manja. 'aku membencimu'
Senyum Kai semakin lebar.
"Arrayo!" Jawab Kai berlaga cool. 'aku tahu'
"Napeunnomiya!" Kyungsoo memajukan bibirnya lucu. (kayanya artinya, jahat gitu)
"Hhmm, dulu kau sering menyebutnya!" Kai mengangguk-angguk pura-pura berfikir.
"Rubah menyebalkan!" bisa kita lihat sisi lain yeoja dewasa ini kembali childish dan manja. Kurasa Kyungsoo telah kembali ke pribadi lamanya.
"Wow, kau masih ingat nama tengahku!" Kai membuat ekspresi terkejut. Kemudian terkekeh melihat wajah Kyungsoo yang sekarang mirip dengan kucing, karena mata bulat bening itu membengkak habis menangis.
"Sialnya kau tampan!" Maki Kyungsoo, kembali menenggelamkan muka merahnya di dada Kai. Sedang sudah dipastikan namja itu tertawa keras. Ia mengayun tubuh Kyungsoo pelan, menikmati setiap detiknya dengan rasa menyenangkan, bahkan Kyungsoo hampir saja tertidur karena perlakuan lembut Kai membuatnya mengantuk.
"Gomawo." Ucap Kai mengecup puncak kepala Kyungsoo.
"Tapi... Krystal..." Kyungsoo kembali mendongak, kemarahan dan rasa khawatir jelas ada di wajahnya. Kai tersenyum menenangkan walau sempat merasa kaget dengan ucapan Kyungsoo.
"Masih ada hari esok, Soobaby..." Kyungsoo mendengus, bukankah selama ini Kai yang selalu ingin menuntaskan penjelasannya?
"Jangan tinggalkan aku lagi~" lirih Kyungsoo. Pelukannya mengerat, begitu juga pelukan Kai.
"Never!" Tegas Kai. Kyungsoo tersenyum lega, ia kembali nyaman di pelukan suaminya. Ah Kyungsoo sungguh merindukan Jonginie-nya!
"sebaiknya kita pulang!" Kai melirik pintu di belakang Kyungsoo, membuat yeoja dipelukan Kai ikut menoleh ke belakang.
"Lama tak bertemu, Jongdae-hyung! Hai, Xiu noona?"
Perlahan semburat merah merambati kedua pipi chuby Kyungsoo. Pintu sudah terbuka, disana Jongdae atau Chen berdiri menggendong Namsoo, tampaknya bocah itu tertidur seperti bayi koala. Disampingnya Minseok menatap penuh arti dalam senyum keibuan.
~^ Affectionate ^~
Kosong, Luhan menatap kosong jendela kamar di depannya. Kacanya blur akan hembusan angin dingin yang menjalin embun ditengah rintik hujan. Posisinya tak berubah semenjak ia menerima telepon dari papanya langsung dari Beijing setelah Minseok mengintrogasi lewat telepon. Satu tokoh lagi perkenalkan manager sekaligus guru dance masa SMA nya dulu, Lee Hyukjae atau biasa dipanggil Eunhyuk, yang berkata akan berkunjung. Ia bingung dengan isi fikiranya. otaknya tiba-tiba menggumpal. Bahkan untuk mencerna semua kejadian pagi tadi, memerlukan beberapa menit agar terproses.
"What the hell was that?" Ucap Luhan yang sudah duduk bersila dengan kaki didalam selimut.
"Hamil? Haha... hebat sekali! SIALANNN!" Luhan setengah berteriak setengah menggeram setelah terkekeh menyeramkan. Creepy memang. Belum tahu yeoja PMS seperti apa? eh?
Sudah hampir dua hari ini ia terkena flu sialan yang entah dari mana datangnya. Luhan tidur larut karena rasa kekanakannya terhadap Oh Sehun. Walau semalam pemuda albino itu menemaninya tidur hingga fajar karena kembali ke lokasi syuting, itu bonus untuknya. Tapi siapa yang tidak kesal jika sepagian dering ponsel mengganggu tidur cantik si Yeoja rusa minta dijawab walau ini sudah siang. Sialan.
Oh, jangan lupakan bagian penting dari kekesalan Luhan. Sudah badan tidak fit, kondisi mengantuk, dibangunkan oleh dering ponsel yang berisik, diceramahi serta diinterogasi oleh Ayah serta atasanmu! Oho.. belum lagi gosip murahan yang menuduhnya akan menikah dengan Oh Sehun karena hamil?
For a God sake Luhan masih dalam masa menstruasi sekarang, maaf jika fulgar, tapi ini kenyataan.
Kebetulan pintu kamar mandi nya masih terbuka setengah. Luhan menatap rak kaca di dinding kamar mandi dalam kamarnya. Hanya untuk kembali meyakinkan mata rusanya bahwa kotak pembalut miliknya masih eksis disana. Apa pemburu berita itu tak pernah tahu pelajaran biologi? Mereka itu bodoh atau apa? Sekali lagi Sialann!
Oh... Sepertinya kata sialan telah menjadi kata faforit nona Lu hari ini.
"Hell! Apa orang yang sedang datang bulan bisa hamil? Apa perlu kutunjukan tempat sampah dikamar mandi? OH Tuhan...!"
Well, Lulu, bukankah mereka tak tahu periodemu?
"Tentu, eh... benar juga!"Luhan bermonolog sambil mengerjapkan mata lucu.
'Di yi chang xue xia qi de wu hou
xiang he ni fen xiang gan dong
que zhi chen mo dui zhe hua tong'
-The First Snow –
Awalnya Luhan enggan menjawab poselnya, tapi lain untuk nama khusus si penelepon kali ini. Objek yang sedang bermasalah dengannya,
"Bagaimana perasaanmu?"
"Entahlah, yang pasti aku sangat kesal!"
"Tumpahkan saja segalanya, Nanti malam setelah dari Grace, aku langsung ke rumah!"
"Kau dimana? Jangan mengemudi sambil bertelepon!"
"Perjalanan, tenang saja, Hae-hyung yang mengemudi."
"pertama ak..." belum sempat kata kedua terucap, Sehun segera memotong sesi curhat Luhan.
"Ya! Ya! Kau belum mengaktifkan kodenya, Nona Lu!"
Luhan mengatupkan kembali mulutnya yang sepat berhenti, Luhan memasang muka bodoh, "Kode apa?"
"Sandi agar aku bebas mendengarkanmu!" Bisa dirasa Luhan, pacar tampan namun jahilnya itu pasti sedang tersenyum miring. Sialan.
"Aish! Bisakah kata sandi itu diganti?" kesal Luhan.
"Ani... ayolah Lu, kau jarang sekali memanggilku oppa!" rengek Sehun.
Hey sebenarnya siapa yang lebih tua siapa yang lebih muda disini sih? Batin Luhan.
"Sehunnie oppa~" nada manja Luhan membuat Sehun memekik pelan kemudian tergelak ketika dengan galak kekasihnya bertanya. "Puas?"
"Ne... uri gongjunim!"
Ternyata lelaki itu, Oh Sehun. Luhan memulai sesi curhatnya, dari keluhan tentang flu mendadak. Hari libur yang menyebalkan, jadwal padat seminggu lagi. Dan terakhir tentang skandal mereka yang sangat mengada-ada, walau memang benar keduanya akan menikah, tapi Luhan tidak, sekali lagi TIDAK hamil ataupun mengandung apapun.
Sesekali Sehun terkekeh, bahkan ia tertawa keras dengan ide Luhan memposting foto bungkus pembalutnya yang sudah terpakai sebagian ke Instagram dengan caption #PMS #Virgin dan sebagainya. Atau ketika Luhan berteriak frustasi memaki awak media yang menyebar gosip tentang mereka.
"Haha... idemu boleh juga... sudahlah jangan terlalu difikirkan, toh tahun depan pernikahan akan tetap dilaksanakan. Aku yakin sajangnim tak mempermasalahkan pribadi artisnya." Sehun terus menenangkan Luhan.
"Oppa..." lirih Luhan.
"wae?" Diunjung Sehun mengerutkan dahi. Tak biasanya Luhan memanggilnya oppa seperti ini? Moodnya mudah sekali berubah?
"Ani... tidak jadi!" Kerutan di kening Luhan bertambah seiring dengan otaknya yang berputar.
Bagaimana mengatakannya tanpa mendapat tawa dari evil Oh?
"ah.. Wae~" Luhan tergelak tanpa suara mendengar rengekan Sehun.
"wae?" tanya Luhan balik.
"Aish... ayolah babyLu! Aigoo! Jangan jangan kau memang sedang hamil? Eotteohke?" suara Sehun sedikit panik. Dan Luhan tahu, Sehun hanya bertanya untuk menggodanya!
"YAA!" Luhan berteriak. Toh di apartemenya tak ada siapa-siapa.
Terdengar sayup-sayup tawa Sehun. Luhan kembali cemberut. "Auu... ternyata si rusa kecil bisa membuat telinga Oppa sakit!"
Tak ada jawaban dari Luhan. Dan Sehun tahu yeojachingu nya sedang merajuk. Sehun yakin pasti sekarang Luhan sedang mempoutkan bibirnya imut. Ah, Sehun jadi ingin segera bertemu dengan rusa kecilnya.
"Baby Lu?"
"Molla..."
"Saranghae! khekhe"
"Ish... pergi saja!"
"Neomuna Saranghae!"
"Shirro!"
"Aigo... Kyeopta~.. Saranghamnida XiaoLu~"
"Ish shikeuro!.. nado! Nado!"
"Hahaha" "Hahaha"
Mereka berdua tertawa setelah Sehun dengan sengaja menyanyi ala Trot.
Ini lah yang selalu bisa membuat Luhan luluh, Sehun bisa mengembalikan moodnya seperti sedia kala dengan tingkah absurd yang hanya orang terdekatnya ketahui. Dibalik wajah cool nan cuek Oh Sehun, tersimpanlah bocah umur 10 tahun yang sangat manja. Ya.. Luhan kau kan juga begitu, hanya bedanya wajahmu terlampau imut! Ckck...
Well tentang Luhan yang ingin mengatakan sesuatu tadi, sebenarnya ia ingin berkata 'saranghae' tapi si Tuan Oh sedah mendahuluinya, jadi Luhan tak perlu mendegar tawa mengejek dari Sehun. Walau tetap saja, godaan demi godaan terus Sehun lontarkan kepadanya. Sayang sekali kenapa Luhan menyukai saat Sehun menggodanya. Bahkan Luhan tak bisa menghentikan rona wajahnya.
Ugh.. Luhan benci Oh Sehun. Tapi ... Luhan juga mencintainya...
Dan percakapan mereka terus mengalir hingga Luhan selesai mandi dan berganti pakaian, Sehun melarang Luhan menutup telepon. Jangan salahkan Luhan jika otak Sehun itu sedikit, yah.. sedikit—well menurut sehun sedikit—pervert. Panggilan itu baru terputus satu jam kemudian, saat manager Luhan datang membawa dua staff perusahaan untuk berdiskusi. Karena kerumunan wartawan didepan grace tak memungkinkan seorang Luhan, si artis berskandal untuk datang. Well, inilah hidup keartisan Luhan. Tak jauh dari berita.
Tapi bukankah sebagai artis mereka tak terlalu memperdulikan paparazi?
~^ Affectionate ^~
"Eommaaa! Appa tak mau bangun!" rengek Namja kecil kesayangan Kyungsoo. Namsoo memeluk kaki Kyungsoo, yang seperti biasa sudah berada di dapur di pagi hari.
Iya dapur rumah, yang sebenarnya lebih cocok di sebut mansion. Karena setelah semalam, Kai menyuruhnya pindah total dari appartemen kembali ke rumah pertama mereka. Meski pindah total tak mungkin dilakukan saat tengah malam, jadi Kyungsoo hanya membawa beberapa potong bajunya dan Namsoo, sedang sisanya bisa mereka pasrahkan pada purusahaan jasa.
Kyungsoo tersenyum setelah menutup panci sup yang baru saja matang. Lalu diangkatnya tubuh Namsoo yang terbungkus selimut dan mencium kedua pipinya yang masih menggembung lucu. Kyungsoo jadi gemas sendiri, anaknya ini sangat mirip foto Kai waktu kecil.
"Ya sudah ayo bangunkan Appa!" Ajak Kyungsoo kemudian berjalan ke kamarnya.
Ruangan itu masih tetap sama sejak kepindahan keluarga barunya dulu. Tak ada yang berubah kecuali kain penutup ranjang dan tanaman gantung di balkon. Walaupun sudah hampir dua tahun lalu Kyungsoo tinggalkan, tapi maid yang rutin datang membersihkan tetap Kyungsoo pekerjakan untuk merawat rumah ini.
"Lihat eomma! Dia masih tidur!" adu Namsoo menunjuk seorang namja yang masih telungkup di atas ranjang. Well Namsoo itu appa mu.
"Appa, Soo-ie!" tegas Kyungsoo cara berbicara yang baik.
"Ne.. alaseo!" Aksen cadel Namsoo akan kembali disaat tertentu, seperti saat merajuk, manja, bahkan saat marah. Entah dari siapa ia menuruni sifat itu.
Namsoo menunduk minta diturunkan. Setelah berdiri seimbang di ranjang, Namsoo segera mendorong tubuh besar sang appa agar berbalik terlentang meski harus terjatuh dukuk dua kali dan mendapat bantuan Kyungsoo. Bocah itu dengan kesal menduduki tubuh Kai.
Kyungsoo tahu Kai sudah bangung saat ia membantu anaknya membalik tubuhya, karena Kai adalah tipe namja yang langsung terjaga. Bahkan Kyungsoo bangun karena mendengar Kai bertelepon, membuat Kyungsoo sempat menaruh curiga jika Kai menghubungi Krystal. Padahal namja itu sedang menerima telepon bisnis dari sekertarisnya di Jerman. Berakhir dengan Kai yang memakan Kyungsoo karena tak tahan melihat istrinya merengut cemburu. Ah, Kyungsoo merona lagi,
"Appa~" Namsoo mulai menggelitiki Kai. Sia-sia saja, Kai bisa tahan terhadap rasa geli. Kyungsoo sudah membuktikannya, sangat beda dengan dirinya yang sangat sensitif dengan gelitikan.
"Hnn" gumam Kai.
"Appa~ ayo... jalan-jalan"
"Eomma~" Rengek Namsoo, ia tak berhasil membangunkan Kai. Malah tubuhnya yang ditarik untuk dipeluk Kai sebagai guling. Belum lagi kecupan ringan yang diberi Kai di wajah Namsoo secara bertubi-tubi. Namsoo semakin cemberut karena eommanya malah tertawa kecil sambil memfoto mereka. Dan itu tak membantu appanya untuk bangun pagi. Padahal bocah kecil itu sangat semangat saat bagun tadi pagi karena teringat janji appanya. Jalan-jalan ke taman bermain. Huh...
Kyungsoo jadi ingat dengan SNS nya yang sudah jarang sekali update, paling-paling isinya tentang fashion. Tak ada salahnyabukan Kyungsoo mengupload foto Kai dan Namsoo di akun Instagramnya dengan beberapa caption.
dyso.O — Healing time #dad #son #sweet #morning #home ... Send!
Yang langsung mendapat like dari followers, jangan lupakan dulunya Kyungsoo adalah Ulzzang sama seperti Minseok dan Chanyeol. Tak butuh waktu lama memperoleh hati untuk fotonya, apalgi akhir-akhir ini ia tak menyentuh akunya karena sibuk.
zyx_unicorn : jinjja? Eonnie kita perlu bicara .\_/.
luxiaolu : Ohhh, Namsoo appa! Neomu #sexy #appa
Ups! Sepertinya Kyungsoo lupa, Kai tak memakai atasan. Ah, tapi siapa peduli.
dyso.O : zyx_unicorn apanya? =_=" luxiaolu : Ya! He's taken Lu!
nohjinho : noona, mana selca terbarumu? #miss #miss
xiukim : teruslah bahagia soo-ya~ #spining
dyso.O : xiukim Everyday, Xiu-nim! YAA! jangan berputar, ingat #aegi eomma!
gee11owl so, cute! #miss #Kyung
hztzitao : Unnie kau masih hutang padaku! Anyway apa dia Kai oppa? | xiukim Happy new mom, Min Seongsaengnim!
luxiaolu : dyso.O khekhe... berarti Namsoo miliku... | xiukim Congratulation, Seongsaengnim!
dyso.O : hztzitao Ya! dimana saja kau? Im not tellin' you anything, Panda! | luxiaolu andwae!jangan pedo Lu!
Hup
Tiba-tiba Kyungsoo sudah menjerit-jeri geli di atas tempat tidurnya. Salahkan saja kedua namja yang telah bersekongkol menariknya kemudian menggelitik tubuhnya. Hingga mereka berhenti karena ancaman Kyungsoo. Pagi yang bahagia bukan? Padahal jaman sekarang jarang ada keluarga harmonis penuh kasih sayang, membuat iri.
~^ Affectionate ^~
Kyungsoo membenarkan letak jaket bocah aktif yang sedang mengemut lolipop santa disebelahnya, dia dan Namsoo sedang menunggu sang appa membeli tiket. Namsoo nampak gembira sekali, kakinya yang menggunakan ankle boot mengayun pelan, ia mengemut permen dengan senyum. Kadang Kyungsoo sampai gemas jika pipinya mulai belepotan. Siapapun pasti gemas melihat bocah tampan itu, tubuhnya tenggelam dalam rajutan wol tebal putih abu-abu bergambar 'kartun Totoro', sarung tangan hitam bertali, topi biru-putih yang diputar ke belakang—nah stylenya mirip Kai. Kyungsoo jadi bingung, sebenarnya siapa yang melahirkan bocah ini, Kai atau dirinya?
"Eomma, itu Soo Imo!" seru seseorang yang langsung menarik perhatian Kyungsoo dan Namsoo.
Ternyata dua bocah, yeoja dan namja kini berlari sambil bergandengan tangan ke bangku tempat Kyungsoo duduk. wajah yang sama, meski berlain jenis, mereka juga memakai kaus, jaket dan sepatu yang kembar pesis, keduanya juga memakai topi dengan model terbalik hanya rambut caramel Hyohyun yang dikepang dua yang membedakan diantara keduanya. Bocah kembar yang absurd sebenanrnya, well tak jauh dengan orangtuanya. Kyungsoo tersenyum melihat anak kembar Chanyeol berlari diikuti Baekhyun yang berjalan santai dengan Chanyeol yang merangkulnya. Chanyeol terlihat cool dengan coat maron dan backpack putih, sedang Baekhyun, dia mengganti warna rambut pendeknya ke warna coklat muda, mengganti highlight putih di kanan dengan warna pirang. Totaly make up artist cantik dengan kaos rajut warna pink longgar dipadu scarf biru muda yang lembut, bawahannya jeans biru panjang dengan high boots senada.
"Annyeong, Hyohyun-ah, Annyeong Caehyun-ah..." Sapa Kyungsoo saat si kembar mengatur nafas didepan Kyungsoo.
"Hyung~ Noona~" Seru Namsoo langsung turun dari bangku kayu lalu memeluk Hyohyun dan Caehyun erat. Ketiganya berpelukan lucu bagai teletubies, cuman kurang satu jumlahnya.
"Annyeong Immo!" bareng Hyohyun dan Caehyun. Ketiganya asik dengan pembicaraan mereka, Kyungsoo kembali tersenyum melihat tiga bersaudara tampak akur.
"Tak kusangka kalian benar-benar datang... kenapa tak mengajak Yifan gege juga?" Tanya Kyungsoo pada Baekhyun dan Chanyeol yang sudah didepannya.
Chanyeol tertawa sebelum menjawab, "Haha, Aku akan mengundangnya jika kau ingin melihatnya mayun seharian."
"Karena masih single?" tanya Kyungsoo setelah ingat Yifan belum berkeluarga. Ia sedikit terkekeh.
"Tepat sekali!" Kini Baekhyun juga ikut menertawakan sepupu Chanyeol dan Kai. "Hey, tapi kan, Kris-ge sudah punya calon istri..." sambung Baekhyun.
"Jinjja? Kenapa aku tak tahu?" tanya Kyungsoo penasaran,
"Aku saja baru tahu minggu lalu, saat Kris dan Zitao datang malam-malam ke salon!" sahut Baekhyun. Oh, namanya Zitao? Heh?
"Zitao? Huang Zitao?" tanya Kyungsoo kaget. Chanyeol yang sedang menali sepatu Hyohyun hingga mendongak.
"Terkejut kan. Mereka sudah tunangan dari dulu, dijodohkan!" Jelas Chanyeol kembali ke sepatu anaknya. Appa yang baik. Kyungsoo mengangguk mengerti, sepertinya akhir-akhir ini banyak berita mengejutkan, tentang Minseok yang hamil, Hunhan yang segera menikah, Jongin dan dirinya yang rujuk kembali, dan sekarang akan ada pasangan baru Kris dan Zitao.
"Emm.. Kyung..dimana Jongin?" tanya Baekhyun. Yeoja cantik itu menolah-noleh mencari sesuatu.
"Mengambil ponselnya di parkiran!" Kyungsoo juga heran sudah hampir sepuluh menitan Jongin pergi. Mungkin Kai mempunyai keadaan gawat dengan kamar mandi.
"Jangan-jangan anak itu tertidur di mobil!"
"Hyung!" Chanyeol menoleh merasa ada tepukan dibahunya. Pemuda bersurai hitam tersenyum ramah dan melambai pada Baekhyun disebelahnya.
"Mian, tadi aku mengangkat telepon dari Kris hyung." Jelas Kai. "Kajja!"
Chanyeol dan Baekhyun berjalan mulai memasuki kawasan taman bermain Everland, menggiring Hyohyun dan Caehyun yang menggandeng Namsoo. Diikuti Kyungsoo yang berjalan disebelah Kai sebelum suaminya menarik tangannya.
"Waeyo?" tanya Kyungsoo menatap Kai.
"Just small gift!"
Kyungsoo merasakan lehernya menghangat. Sebuah shwal rajut melingkar indah menutupi leher Kyungsoo, warna blue royal cantik itu melengkapi pakaian Kyungsoo pagi ini. Warnanya sangat match dengan kaos putih dan jaket hitam Kyungsoo, jika dilihat lagi pakaian sangat cocok dengan turtle neck tebal ditubuh Kai yang berwarna biru gelap setengah hitam di bagian tengah kebawah.
Kai menggosok kedua telapaknya, lalu menakupkan di pipi Kyungsoo setelah dirasanya cukup, Kai mulai merangkul Kyungsoo mengajaknya berjalam mengikuti Chanbaek serta anak-anak. Ditengah jalan, Kyungsoo menoleh pada Kai yang lebih tinggi. Tiba-tiba saja Kyungsoo tersenyum lalu mengecup singkat pipi Kai. Sungguh, Kyungsoo malu saat ia merasakan tatapan Kai padanya hingga ia berjalan sedikit menunduk mengabaikan. Tak menyadari jika Kai setengah terkekeh mendapat perlakuan manis dan imut dari Kyungsoo.
Sambil tetap berjalan Kai ikut menunduk melihat ekspresi Kyungsoo, pipi Kyungsoo tambah memerah. Tanpa aba-aba, Kai malah mencium Kyungsoo tepat di bibirnya berkali-kali sambil terkikik, masih tetap berjalan dibelakang Chanbaek. Keduanya seperti pasangan baru saja, namja tampan, yeoja cantik, romantis, dan cocok. Kaisoo membuat iri...
"Oppa!" Seru Kyungsoo sambil memukul Kai,
"Arasseo, arasseo!" Kai dan Kyungsoo kembali berjalan, kali ini layaknya pengunjung normal.
Cup
"YA!" Seru Kyungsoo lagi. Dan Kai pun tertawa puas.
Sudah kita tinggalkan pasangan ini, membuat diabetes saja.
~^ Affectionate ^~
Kris dan Zitao sedang berdiridi beranda belakang, menikmati dinginnya udara. Dari kejauhan kedua manusia berbeda gender itu memang sudah terlihat cocok, apalagi jika kalian lihat dari depan seperti partner atau couple yang sering muncul di majalah. Kris dan Zitao kedua insan yang dianugrahi fisik sempurna ditunjang oleh materi keluarga yang lebih dari kebanyakan orang. Tapi taukah? Kedua insan sempurna bak dewa dewi yunani kuno itu menyimpan beban dalam diri masing-masing.
Dengan cepat Zitao memutar tubuhnya hendak kembali masuk sebelum Kris mencetuskan sebuah kalimat yang sepertinya akan salah dikeadaan seperti ini.
"Kontrak, batal, atau cerai mungkin!" Bahu Kris terangkat sedetik, sifat kakunya menguar disaat serius.
"Gege pasti bercanda! Aku tak mau jadi janda muda!" sanggah Zitao yang sedari tadi ingin meledak.
"Lalu? Bahkan kau tak punya saran yang menarik! Take it easy! It's not forever! You can do better, Ziezie!" Kris berdiri dengan cueknya. Ingin sekali Zitao merobek kepala Yifan agar fikirannya sedikit waras.
"Kita hanya perlu mengucap kata setuju. See, anggap saja ini seperti kerja. Mereka senang, kita tidak terganggu lagi. Just then..."
Zitao menatap tak percaya pada Kris. Ia mendengus kasar,
"Dunia tidak semudah fantasi otak jeniusmu, Kris! Pernikahan bukan untuk main-main, itu adalah upacara sakral dihadapan tuhan yang seharusnya hanya sekali seumur hidup. Aku tetap tak mau!"
"Terserahmu, asal mereka tak mengganggu kehidupan pribadiku it's ok! Mudah saja menurutinya!" kesal Kris. Sulit sekali bernegosiasi dengan panda ini. Sumpah Kris hanya ingin merasa bebas dari tekanan orangtuanya. Hidup sendiri, meskipun harus bersama Zitao itu tak masalah asalkan tak ada yang ikut campur urusan pribadinya. Kenapa Zitao tak bisa berfikiran simple? Gampang bukan?
"menurutinya? Memangnya aku bodoh? Aku ingin memiliki hidupku sendiri! Aku tak ingin siapapun mengatur hidupku, aku sudah besar ge! Aku sudah mati-matian menolak perjodohan ini. Tapi kau malah menerimanya dengan rentangan tangan. Ini semua salahmu! Jika kau tak menerimannya mungkin mereka akan membatalkannya seperti saat eomma dulu. Tapi Kau... " Teriakan Tao terputus dengan nada tajam yang Kris lontarkan.
"Maksudmu? Kau kabur dari rumah, aku harus mencari mu! aku harus menikah denganmu! Aku selalu sabar menghadapimu, Kau selalu saja memarahiku! kau hanya berfikir untuk dirimu sendiri! Aku juga tertekan, Aku juga marah! Aku juga ingin keluar dari hidup ini! Kau pikir aku bukan manusia?"
Yah... persisi, seperti ini lah emosi kedua insan yang baru saja meledak dihalaman belakang mansion keluarga Wu. Sebelumnya sih Zitao dan Kris masih berkelakuan seperti anjing dan kucing yang saling meledek. Tapi setelah keduanya membicarakan rencana lawas kedua keluarga mereka, pembicaraan berubah serius. Kedua insan yang mempertahankan kedua ego masing-masing dimana salah satu harus naik menjadi pemenang. Dimana nama dari amarah dijunjung tinggi dalam perdebatan yang melibatkan objek perjodohan kedua keluarga.
Kris yang sudah sebal mendapat ceramah dari ayah maupun ibunya setiap hari, berusaha memberi Zitao pengertian. Walaupun dirinya sendiri ogah—tapi siapa yang tahu pribadi seseorang—ia mencoba memberi Tao beberapa alternatif. Tapi pertikaian berjalan alot dan Zitao terlalu menggunakan perasaannya, mungkin ini adalah hari tersensitif Zitao.
Seorang Huang Zitao yang tidak terima dinikahkan dengan pemuda bermarga Wu, yang sudah jelas tak mengindahkan rasa cinta dimatanya. Tengah berdebat, lebih tepatnya sih bertengkar dengan seorang pebisnis muda handal bernama Wu Kris. Kris Wu, seorang pemuda es yang hanya meleleh dengan orang tertentu.
Dan mengapa tak ada yang melerai meskipun mereka berada satu rumah dengan orang tua mereka? Jawabanya adalah keempat tetua—sebutan Kris—yang baru datang dari Qingdao itu sedang mengunjungi rumah sang bibi termuda Kris. Wu Lilian, yang tengah menetap tak jauh dari rumah ini. Sekitar beberapa rumah dari sini.
Kita kembali pada Kris dan Zitao,
"Kau masih berkata hidupmu lebih sulit dariku? Aku harus melaksanakan apa yang mereka minta walau sebenarnya tak ingin kulakukan. Tapi kau tak membantu sama sekali dengan menghilang seperti ini. Apa kau pikir setelah kau menghilang situasi akan berubah? Begitu?" Emosi Kris sudah menguasai nya hingga keubun-ubun akibatnya ia pun meninggikan suaranya pada Tao dengan nada membentak. Dadanya naik turun selaras dengan nafasnya yang cepat.
Tao terkesiap tak bersuara, ia melirik Kris tak percaya. Karena selama ini, Kris tak pernah membentaknya, tidak sekeras tadi. Bahkan jika Tao mengomel sepanjang apapun, pasti Kris hanya akan balas mengomel. Tapi barusan, Kris meninggikan suaranya dengan mata tajam yang terbakar emosi. Itu membuat Tao takut.
Perlahan kata-kata tajam Kris pun terproses diotaknya, entah kenapa hati Tao menjadi sesak, mengingat semua yang Kris keluarkan adalah benar adanya. Ia mempersulit masalah keluarganya, Ia menyulitkan gegenya, Kris. Ia menyulitkan dirinya sendiri.
Dan ia memang kekanak-kanakan, Tao membenci ini, Tao benci dirinya sendiri.
Lama terdiam, Tao menolehkan wajahnya kearah kolam ikan koi di bawah pohon mapel. Ia merutuki kebodohan yang dibuatnya selama ini. Kebodohan yang selama ini ia salahkan pada, keluarganya, pada takdir, pada Kris, dan pada dirinya sendiri. Ia memang bodoh, sungguh bodoh. Tao merasa sungguh bersalah, dan tak berguna sekarang. Tao mengumpulkan sisa kepercayaan dirinya yang sudah pecah,
"maaf," lirih Tao sedikit bergetar.
Kris mendesah pelan, ia mulai melangkah mendekati tempat Zitao yang berdiri menyamping. Kris mengatur deru nafasnya, kemudian ia menoleh ke arah dimana Tao masih melihat ke arah kolam Koi di halaman belakang.
"maaf! Aku tak bermaksud membentakmu! Aku hanya..." Kris meraih pipi Zitao agar dapat menatap yeoja itu. Kebiasaan lamanya saat membujuk Tao yang sedang marah.
Kris terkejut melihat air mata sudah mengaliri pipi Zitao, lunturan eyeliner bahkan menambah kesan mata panda Tao, wajahnya memerah menahan amarah.
"Kau menangis!" tuduh Kris tiba-tiba saja menjadi panik. Ia mengulurkan tangannya ke pipi Zitao. Tapi gadis itu lebih dulu menepis dan mengusak kasar air mata dengan punggung tangannya sendiri.
"Kenapa kau menangis? Maaf, gege tak bermaksud Zitao..." Bodoh, Kris mengulang kata itu. Ia memaki dirinya sendiri, bagaimana ia bisa membuat seorang yeoja menangis. Apa kata-katanya terlalu menyinggung? Pasti! Bodooh!
"Zizie..." Kris sengaja memanggil nama kecil Zitao, ia hanya menggunakannya disaat tertentu. Dan ya, ada reaksi dari wajah Zitao, dia mengerjap cepat saat kaget.
"Maafkan gege! Gege terlalu kasar..." Suara Kris melembut, ia bingung mau apa lagi. Ia tak pernah berhadapan dengan Zitao yang habis menangis seperti ini karena selama ia mengenal yeoja panda ini tak pernah sekali ia membuatnya menangis, tapi jika membuatnya geram, memang sering!
"meiyou, gege benar, aku memang gadis bodoh, dan masih kekanakan... maaf!" Zitao menghapus buliran bening dari pipinya. Pemuda tampan disampingnya masih terdiam kikuk di disamping Zitao. Bingung.
"Ziezie, maaf...—Kris berdesis saat Tao ingin membuka mulutnya kembali— jangan potong ucapanku!... maaf! Karena aku terlalu kasar, dan maaf jika aku egois dengan menyetujui ini secara sepihak, maafkan gege jika karena secara tak langsung telah menjauhkanmu dari keluargamu, maaf karena aku terlalu naif dan selalu menganggap segala sesuatu dengan mudan dan rendah, dan maaf karena gege tak bisa melakukan apapun untuk membatalkan ini, Ziezie..." Kris menggeleng pelan. Ia membuang wajah putus asanya ke arah dimana Zitao tak mengetahuinya.
Akhirnya setelah tak ada kata-kata yang terucap dari bibir gadis disebelahnya, dengan lembut ia memutar tubuh Zitao. Kris merengkuhnya dalam hangatnya pelukan, seolah menujukan rasa maafnya.
"Karena, aku takut aku tak bisa menjangkaumu~" lirihnya pelan seperti bisikan sebelum mencium puncak kepala Zitao. Yang baru kali ini dilakukannya selama ia mengenal gadis bermarga Huang ini.
Satu detik
Dua detik
Tiga
...
"Wo de ai ni!"
Sepasang mata indah milik Zitao melebar sempurna.
Kris menarik nafas kemudian membuangnya, tercipta uap tipis di udara dingin. Ia menarik lengannya dari tubuh Zitao, melepas pelukannya lalu dengan lembut menyelimuti tubuh gadis itu dengan selimut yang sejak awal menjadi tujuannya saat melihat Zitao merenung di beranda belakang. Ia tersenyum sekilas, kemudian berbalik dengan rahang terkatup kencang. Ekspresi dinginnya kembali seperti sosok lelaki berdarah dingin. Tanpa menoleh dengan langkah panjang ia menghilang di lantai dua. Menjadi seorang bungsu keluarga Wu tanpa senyum.
Tes.. Tes...
Untuk pertama kalinya, Zitao menangis karena lelaki. Tak pernah sekalipun Zitao menangis sepenuh hati, airmatanya diawal, bahkan airmata sebelumnya yang pernah ia tumpahkan didepan mamanya malam sebelum ia pergi. Tubuhnya serasa dihempas dengan lembut ke ujung kegelapan, lembut sekali. Tapi karena kelembutan itu, rasa sakitnya mengganda berkali-kali. Seolah setiap orang mencemooh dirinya tanpa ada sedikitpun niat menolong. Membiarkan Zitao untuk mati perlahan diantara ribuan jarum dalam hatinya.
Tubuhnya memang menghangat, tapi Zitao baru sadar bahwa pelukan seorang lelaki es seperti Kris lebih hangat dari apapun. Dan senyuman itu, memang menawan dan terkesan lembut, bagi orang yang tak melihat dari kaca mata Zitao. Tapi bagi gadis ini, itu adalah senyum manis yang menghantarkan berjuta rasa puas sekaligus kekecewaan dan sakit. Menampar Zitao sekeras mungkin dengan perlakuan lembut Kris.
Zitao ingin sekali mengejar Kris tapi seluruh tubuhnya terlanjur beku. Beku bukan dalam artian dingin, tapi beku karena tak sanggup lagi berhadapan dengan seorang Wu Kris. Zitao terduduk sesenggukan di lantai kayu. Tanganya mencengkeram erat selimut dibahunya, memeluk dirinya sendiri seakan takut pecah berantakan. Zitao bingung dengan hatinya sendiri.
Sebenarnya tak ada rasa benci setitikpun untuk Kris. Gadis ini terlalu naif untuk mengakui dirinya sudah bersembunyi dibalik rasa benci yang palsu. Zitao takut mengakui perasaan nyaman yang dulu sering diberikan Kris untuknya. Zitao seolah menutup mata dari perasaannya setelah tahu masa mudanya akan terenggut dengan mudahnya jika ia menikah dengan bungsu keluarga Wu. Padahal dibalik itu semua entah ia sadari atau tidak, sebuah rasa nyaman selalu ingin meledak jika ia berada di dekat lelaki itu. Jantungnya selalu berdetak hebat ketika pandangan mereka bertemu, tapi rasa itu selalu Zitao anggap rasa emosi.
Cinta? Apa satu kata itu cukup?
Jawabanya tidak bagi gadis ini... cinta tak berarti jika disandingkan dengan Kris.
Dan Zitao benci mengakui kekalahnya. Ia kalah dengan waktu. Ia kalah dengan takdir.
Dan pelajaran berharga untuk gadis keras kepala ini. Arti sebenarnya dari pepatah 'penyesalan selalu datang terlambat' adalah kau tak bisa memutar kembali waktu yang tanpa kau sadari sangat berharga untuk menebus penyesalan diakhir cerita.
~^ Affectionate ^~
"Haruskah kita batalkan, ge?" Lirih Halin dari ruang tamu.
"Aku tidak tau, Lin-ah" Zhoumi mengelus bahu Halin, sedikit menenangkan istrinya yang berkaca-kaca.
"Padahal... aku tahu persis jika anak kita mencintai anak Heechul Jijie! Haruskah aku...?" Halin menatap Zhoumi sedih.
"Jangan... biarkan mereka sendiri, setiap manusia perlu waktu agar berfikir jernih. Nanti malam kita biacara dengan Heechul dan Hangeng!"
Zhoumi membawa Halin masuk ke kamar mereka setelah melihat Zitao kembali kekamarnya. Gadis itu sungguh terlihat berantakan.
Ya... Halin dan Zhoumi mendengar pertengkaran mereka.
TBC
.
YoYo! Ketemu lagi ama emaknya si Tao...
Hehe... MIANHAEYOOOOO!
Hyo baru update! Maaf banget, padahal kemaren Hyo bilang buat usahain update september, eh malah molor sampe desember.
Feel itu gak semudah omongan Kris ke Zitao loh... pasti yang pernah nulis cerita juga sama, dan mungkin juga skill nulis Hyo gak sebaik author kebanyakan. Yang bisa cepet update perbulan bahkan perminggu. Pengennya sih gitu, tapi kenyataan apa mau dikata...
Disamping itu juga, ini uda Desember, mau tahun baru dimana juga ada pergantian semester baru di sekolah. Tahun depan bakalan jadi tahun tersibuk buat anak kelas tiga, mulai makan kertas Tryout, minumnya Jus rumus Matematika, Fisika, Kimia, de-el-el yang entah pas kerja dipake ato enggak, desertnya UAN, ujung-ujungnya diusir ke Perguruan Tinggi. Hyo gak mau kasih janji lagi kapan update next, tapi Hyo bakal usahain. Hyo tau kalian merasa di PHP kan, padahal Hyo bukan cowo kalian. (heh ngomong apaan sih?)
Juga buat si MEIRA, yang tiap hari neror gue buat cepetan ngeluarin notebook buat lanjut nulis meskipun itu satu kata doang. Ini uda update meskipun loe udah tau sebagian ceritanya, karena gue juga gak bisa gak bocorin kisah Eomma dan Appa kita. (You know lah... ^^) Gomawo juga udah bantu bikin stress.
Buat si Titituit Resti... gue bingung ama dia, sebenernya ngikutin cerita ini ato gak sih? Tapi makasih buat saran serta kritikannya yang suka lupa kalo author yang diomongin lagi ngomong juga sama dia pas bahas ff.
Buat kalian yang masih setia nunggu, baca, review and ngomporin Hyo buat cepetan update. Terima kasih banyak. Semoga gak bosen ama sinetron jejadian versi EXO ya.
EXO SARANGHAJA!
Gue cinta OT 12!
