Author : Hyomi

Genre : Romance, Drama, GS

Note : This FF is officially mine, if you don't like, just don't read. OK!

GS! Typos! Boring! Slow Update! EXO!

.

~^ Affectionate ^~

Chapter 7

.

Incheon.

Hangat, terasa pertama kali sejak Delapan? Sepuluh? Entahlah sudah bertahun-tahun kakinya tak menginjak tanah ibunya. Walau dua tahun lalu sempat ia berkunjung, tapi itu hanya tubuh tak sepenuhnya dengan hati. Sekarang raut bahagia terpancar dari tubuhnya, meskipun dibalik kaca mata hitam itu tersimpan wajah tanpa ekspresi.

Dengan jantung berdebar ditapak satu persatu ubin marmer di bandara. Dari lorong berkaca hingga bercampur hiruk piruk ragam manusia. Desember menjelang tahun baru menguarkan rasa suka cita di sekitar, juga suasana natal yang dengan cerianya menggambarkan kehangatan di tengah musim dingin. Setelah melewati petugas imigrasi dan menggandeng sebuah kopor namja paruh baya itu berjalan ke pintu international arival. Kemudian duduk disalah satu bangku bersama tasnya.

"Lama sekali rasanya..."

Setelah mengubah mode flight menjadi off, jemarinya langsung mendial sebuah nomor degan nama piyin "Lian"

"Ni hao?" Suaranya tegas namun tak luput dari getar rindu.

"..."

"Ya"

"..."

"Lian-ah...Wo ai ni!"

Kim Jonghyuk-nama namja itu-menatap layar desktop ponselnya. Sebuah keluarga kecil dengan sepasang putra-putri dengan latar halaman sekolah yang ditutupi salju baru. Terlihat dirinya tersenyum di sebelah namja berseragam smp, putra bungsunya yang memegang bucket bunga dengan sebuah dua medali emas terkalung dilehernya. Ia masih sangat ingat di kelulusan itu, putranya berhasil menyabet dua kejuaraan ditahun yang sama, Sains dan Basket. Sedang disamping putranya, berdiri seorang gadis yang memiliki rupa kembar hanya saja lebih tinggi. Sama seperti sang adik, memegang bucket bunga berwarna biru, hanya saja tak ada medali emas terkalug dilehernya, melainkan sebuah box kayu yang berisi plat emas dengan namanya yang terukir didalamnya, sebagai penghargaan terhadap prestasi juara kelas paralel selama tiga tahun berturut di jenjang high school. Tak lupa sebuah tropi yang dipegang sang ibu disebelahnya.

Lama ia memandang sosok terakhir yang berdiri tersenyum merangkul putrinya. Wajah oriental asli tiongkok yang dibingkai rambut hitam legam, mata sipit tanpa double eyelid, bibir tebal yang dipoles merah, serta senyum bahagia yang terpatri dalam gambar Iphone nya. Ia adalah alasan kenapa ia pergi, dan alasan ia kembali, Wu Lilian adalah alasan ia memilih jalan ekstrim yang ia tahu akan berdampak buruk terhadap orang berharga di sekitarnya. Dan Lian adalah alasan Jonghyuk untuk segera bisa mengembalikan masa lalu mereka.

"Aku akan mengembalikan kebahagiaan kita seperti semula Lian-ah!" Jonghyuk bergumam tanpa mengalihkan pandangan. menatap senyum keluarga kecilnya yang sagat ia rindukan hampir setiap malam. #author Mengingat seseorang?

"Ge...Gege!" Sebuah suara lembut berbicara tepat disampingnya. Hatinya bergetar mengenali suara itu, Lilian.

Tepat satu detik setelah kepalanya menoleh, yeoja itu tidak berubah sama sekali bahkan senyuman nya masih sama seperti pertama kali mereka bertemu di tengah perjodohan aneh keluarganya. Awal yang aneh untuk merasa jatuh cinta untuk pertama kali, meski hanya ia yang jatuh cinta, karena butuh hampir dua tahun untuk mendengar pengakuan cinta dari seorang Wu Lilian.

Tapi Jonghyuk sadar bahwa pancaran mata istrinya tak lagi secerah dulu, ia merasa bersalah, sangat bersalah setelah paham ia lah penyebab binar itu hilang. Tapi bukan saatnya untuk menyalahkan diri, karena tujuan ia kembali bukanlah menyalahkan diri, tapi mengembalikan apa yang seharusnya berada di tempatnya.

"Lian!" Seperti tak ada esok hari, Lilian sudah berada di pelukan Jonghyuk yang meneteskan air mata kerinduan, ia tak peduli jika ia namja cengeng, tak ada yang dirasa malu jika dirinya memang pantas menangisi hal itu. Rasa rindu yang amat, rasa cinta yang dalam, rasa takut, rasa kesal dan amarah mendominasi perasaannya yang campur aduk. Ia tahu Lilian tak membalas pelukannya, tapi melihat istrinya tak menolak dipeluk ia sudah bersyukur.

"Dubuxi, dubuxi" kata itu yang meluncur berkali-kali saat ini.

Tak mendapat sahutan, air matanya semakin bebas terjun.

"Uljimayo!"

Satu kata singkat Lilian menghantarkan efek besar bagi Jonghyuk. Lilian pun mengelus punggung Jonghyuk. Jonghyuk mengeratkan lengannya, membalaskan semua rasa yang menguasai hatinya saat ini, hanya Lilian yang bisa. Hanya yeoja ini yang bisa membuatnya lebih tenang. Dimana selalu saja ia yang menunggu balasan dari Lian, satu-satunya wanita yang terikat janji suci dibawah tirai altar.

"Gomawo, Mianhae, Saranghae, Lian-ah!"

Tepat dibelakang kedua pasangan yang berpelukan, Kris berdiri tersenyum dengan posel yang menempel ditelinga. Setelah sekian lama akhirnya ia bisa melihat keluarganya utuh kembali.

"Jongin-ah... kau sudah melihatnya?"

"..."

"Baguslah, semoga keadaan segera membaik!"

~^ Affectionate ^~

Denting piring keramik memenuhi salah satu meja, segera setelah makanan datang. Dua ibu muda disana lebih sibuk mengurus ketiga bocah yang duduk berjejer ketimbang menyentuh makananya sendiri. Maklum setelah seharian bermain, naik itu, naik ini dan besenang-senang. Panggilan alam akan asupan energi selalu dibutuhkan bukan, apalagi menuruti tiga bocah aktif yang penasaran akan segala hal. Bisa kau bayangkan bagaimana para dewasa yang mengasuh mereka? Tapi apa jadinya jika semua itu bisa dibayar oleh tawa bahagia karena dilakukan besama orang terkasih. Apalagi kegemasan dan tingkah lucu bocah-bocah dibawah sepuluh seperti mereka,

"...hu mereka itu terlalu bodoh, padahal mereka cocok sekali. Kau pasti setuju denganku, saat kau melihat Zitao..." Chanyeol menyomot odeng hingga tersisa setengah.

"Hemm, aku sudah pernah bertemu dua kali." Kai menyetujui Chanyeol, "Dia berbeda sekali, aku hampir tidak mengenalinya, saat pertama dandananya sangat dewasa dan sexy, tapi saat aku dan Kris-hyung melakukan video call, yeoja itu sangat unik dan manis. Selera Bibi HaLin memang unik!"

"Kau memang belum tahu watak asli, panda galak itu. Dia segalak, Baekhyun! bedanya aku tak tahu cara mengendalikan Zitao!" Chanyeol melirihkan suaranya saat menyebut nama Baekhyun.

"Ya! Park Chanyeol! jangan mengolokku saat aku sedang memberi makan anak-anakmu!" Baekhyun berseru sambil menodongkan sendok. Chanyeol hanya nyengir disertai kekehan Kai dan Kyungsoo.

"Sudahlah, kalian sangat berisik seperti ahjuma, jangan membicarakan Yifan oppa terus!" Kyungsoo menyomot kentang goreng milik Kai, lalu menyuap paksa kedua namja tiang di sampingnya.

"Appa... " ucap si bungsu yang dijawab gumaman oleh sang ayah karena masih mengunyah.

"Namsoo mau itu!" telunjuknya mengarah pada minuman kaleng di tangan Kai. Soda berwarna pekat dengan gelembung yang mengepulkan uap dingin yang baru saja di tuang ke gelas kecil.

"Jangan, itu dingin! Minum ini saja." Kyungsoo menyodorkan gelas susu pada anaknya hingga berakirlah Namsoo merengek-rengek.

"Biarkan saja dia mencoba, ini kan hanya cola" Kai menyodorkan gelasnya yang masih setengah.

Kyungsoo mendesah pasrah saat anaknya menyeruput minuman bergelembung itu.

"hhhsss... "bocah paling cilik itu bergidik mejulurkan lidah.

"minumannya meledak!" cletukan lucu Namsoo membuat semuanya tertawa, sedang dua kembar disampingnya tertarik ikut mencicipi, seperti prediksi reaksi Hyoyun itu sama persis seperti Namsoo, sedang Caehyun malah meneguk habis gelasnya tanpa ada reaksi, karena dia meminta Kai menuang di gelas susunya.

"Samchoon, aku mau lagi!" Caehyun nyengir ke arah Kai sambil menodongkan gelas yang lebih dulu dituangi susu.

"Pahit" Hyohyun menggembungkan pipinya, Kyungsoo pun tak tahan untuk menoel-noel Hyohyun gemas. Kyungsoo jadi ingin punya anak perempuan. eh?

Dering ponsel dari Maroon5 terdengar. Kai merogoh kantung celananya, mengeluarkan ponsel sebelum dahinya mengerut tidak santai. Ia menyenggol Chanyeol yang duduk di sampingnya. Awalnya Chanyeol bereskpresi sama, kemudian ia mengangguk singkat sambil tersenyum. Sebenarnya Kyungsoo menyadari gerak-gerik Kai dan Chanyeol, tapi ia sedang direpotkan Namsoo yang menyendoki piringnya sampai berantakan. Mungkin ia akan menanyakannya nanti.

"Waeyo?" Ia tak tahu apa yang membuat suaranya begitu, tapi sikap waspadanya membuat suaranya sedikit mendesis.

"..." Kai melirik Chanyeol yang masih setia menatapnya. lalu ia melirik Kyungsoo yang sedang mengomeli Namsoo karena memainkan makananya. Kai mengeraskan rahangnya tiba-tiba,

"Ok! I'll be there!" Kai menjawab ketus sebelum meng-end teleponya

Pip,

"Apa dia..." Chanyeol berkata tanpa suara, mungkin karena Hyohyun sekarang sedang duduk di pangkuannya.

"That bitch!" Lirih Kai mengepal ponselnya ia tahu Chanyeol menangkap maksudnya, Kai merasakan seseorang menyentuhnya.

Kyungsoo tersenyum menenangkan, tangannya mengusap bahu Kai lembut. Kai tahu Kyungsoo tidak menuntut pertanyaan tapi binar keingin tahuan bisa Kai lihat di mata Kyungsoo.

"Mian," Kai menghela nafas lalu tersenyum.

Kyungsoo hanya balas tersenyum, ia tak tahu apa yang membuat Kai seperti tadi. Ditilik dari pembicaraan singkatnya, berarti yang ada di telpon tadi seorang yeoja. Kira-kira siapa? Krystal? atau jangan jangan ibu tiri Kai? Ia masih bertanya-tanya apa saja yang belum Kai ceritakan padanya. Kyungsoo juga belum mengetahui kisah pemuda yang telah menghilang beberapa tahun terakhir. Kai belum sempat bercerita tentang itu, juga tentang Krystal yang baru ia ketahu dalam perjalanan ke Seoul bersama Lee Minhyuk, seorang sunbae di SMA dulu. Well Minhyuk juga suami Krystal, tadi Kai memberitahunya saat berada di rumah kaca karena Kyungsoo sempat membandingkan dirinya dengan Krystal yang jauh lebih feminin. Dari situ Kyungsoo ingat, Kai akan geram jika Kyungsoo membandingkan dirinya sendiri dengan orang lain.

Entah mengapa Kyungsoo merasa percaya pada hatinya kali ini. Bahwa tanpa mejelaskan apapun, ia mencoba percaya sepenuhnya pada Kai. Dari tatapan itu, Kyungsoo tahu Kai tak akan meninggalkan mereka lagi. Tatapannya mantap, tak ada keraguan sedikitpun, hanya tekad, dan emosi. Entahlah Kyungsoo memang tak pintar membaca mata seseorang tapi kadang perasaannya lebih peka dari matanya.

"Kyungsoo.." Kai membelai pipi Kyungsoo, sebelum menciumnya. Kai tersenyum lagi melihat Kyungsoo yang sedikit kehilangan fokus, yeojanya tersipu. Kai paling suka dengan reaksi Kyungsoo saat ini, itu artinya Kyungsoo memang tak berubah meski beberapa hari yang lalu ia harus bertemu sisi menyeramkan istrinya.

"Dimana yang lain?"

Kai menunjuk ke pojok ruangan dimana Baekhyun dan Chanyeol terlihat seperti mempunyai anak kembar tiga, keduaya membantu Namsoo, Hyohyun, dan Caehyun mencuci tangan. Kyungsoo memandang mereka beberapa saat, karena ia masih aneh ditinggal berdua dengan Kai.

"Kyungsoo.." Ia tahu Kai sedang menatapnya. Entahlah walau ia selalu mengharapkan melihat Kai setiap waktu, tapi harapan dan perbuatan sulit sekali selaras. Kyungsoo ragu menatap Kai.

"Hmm?"

"Kyungie!"

"Wae?"

"Sayang!"

Kai membawa wajah Kyungsoo menatapnya, tapi Kyungsoo tetap menunduk. "Kyungsoo, aku janji akan membawa kehidupan lama kita kembali..." Kai kembali mengelus pipinya, ya ampun mereka terlihat seperti pasangan anak sekolah yang masih malu-malu. Kyungsoo tambah menunduk menyadari itu, dimana Kyungsoo yang tadi berani mencium Kai duluan? dimana Kyungsoo yang tadi tersenyum menenangkan? dimana Kyungsoo yang cerewet?

apa Kyungsoo sekarang meleleh hanya karena Kai menjanjikannya sesuatu?

"Kyungsoo... Aku berjanji padamu dan anak kita!" Kyungsoo akhirnya menatap suaminya. Tanpa melihatnya Kyungsoo tahu ia sudah percaya. Tapi tak ada salahnya ia mencari keyakinan itu, dan ia tak kecewa kali ini, kesungguhan telah terancang di dalam diri Kim Kai. Kyungsoo mengangguk-angguk sambil tersenyum bersemu merah, seperti tadi, Kyungsoo memberanikan diri melengkapi kalimat Kai.

"Aku tahu!"

Chu

Jantungnya bertalu-talu seolah ingin mengoyak rongga di sekitarnya, Kyungsoo memejamkan mata saat bibirnya menyentuh bibir tebal Kai. Tangannya terkepal dalam hangatnya genggaman Kai, Oh My God Sepertinya Kyungsoo akan gila.. Tuhan bisakah Kyungsoo selamanya seperti ini?

Tapi ia tahu jawabannya tidak! tentu saja! hahaha..haha..ha...

Tentu tidak.

"Eomma!" Suara Namsoo yang berlari kearah mereka, Kyungsoo melepas dirinya dari Kai yang sekarang menyeringai sangat menyebalkan.

"Kau tahu aku belum puas denganmu, Soo Baby!" Kai berbisik dan mencuri kecupan di tepat bawah telinga Kyungsoo.

Kyungsoo? Jangan tanya, seperti yang sudah kalian kehendaki, Kyungsoo membeku kaget tentu saja. Tapi hanya beberapa saat sebelum tangannya naik hendak memukul Kai, tapi gagal karena Namsoo beringsut memanjat pangkuan Kai.

"Jadi kau kembali menjadi, Kim Kai? Annyeong oraenmaniya, Kai-ssi!" Kyungsoo tertawa sinis. Lihat lah tadi siapa yang sedang ber-so sweet - so sweet-an lalu cium-ciuman? tapi apa sekarang? mungkin sebuah rumor yang megatakan Kyungsoo punya bipolar memang fakta, tapi tak menutup kemungkinan tercipta tri-tertra-polar(?)

"Long time no see, Baby Kyungie-ku yang galak!" Kai tertawa bersama Kyungsoo mengingat kejadian masa sekolah dulu. Sedang Namsoo yang berhasil naik dengan batuan tangan appa-nya langsung menarik syal rajut Kyungsoo yang tersampir di kursi. Namsoo menyembunyikan tangannya dibalik woll biru donker orang tuanya.

"Appa! ail-nya dingin!" Namsoo men-cadel lagi, ia mengadu pada Kai karena tadi air di wastafel sangat dingin. Tubuhnya ikut bergetar hingga matanya menyipit.

Sibuk gemas dengan Namsoo, Kyungsoo dan Kai tak menyadari Chanyeol dan Baekhyun sudah memakai jaket mereka lengkap dengan si kembar yang nampak sibuk dengan zipper jaket Hyohyun.

"Kajja, kita pulang!" Baekhyun menggendong Caehyun seperti bayi koala. "Eh? bukannya kita bermalam di rumah Bibi HaLin?" sahut Kyungsoo menyebut ibu sepupu tertua Jongin dan Chanyeol.

"Oh iya, aku hampir lupa!" Baekhyun memilih menepuk meja dari pada dahi sendiri. "Ayo!"

"satu lagi.." Kai beranjak setelah membungkus Namsoo dalam shal Kyungsoo.

"Kalian akan mendapat tamu kejutan!"

"Siapa?"

~^ Affectionate ^~

Sesekali Luhan melirik ponselnya, mengetik beberapa huruf untuk di kirim pada seseorang. Ia berjalan santai walau terlihat was-was meninggalkan gedung apartemen dan turun ke jalan. Sesekali ia melirik paranoid ke jalanan yang ramai, entahlah ia seperti berada di dalam sebuah film detektif. Luhan hanya sedikit khawatir dengan pakaiannya, jaket tebal berwarna coklat, jeans putih yang robek di bagian lutut, sneakers merah maroon, rambut hitam legam yang dicepol, sebuah masker hitam menutupi separuh wajah, jangan lupakan sebuah syal merah dengan gambar rusa yang ada di tangannya. Well memang tidak aneh atau mencolok, karena cuaca hari ini lumayan dingin stelah salju mengguyur Seoul semalaman.

Tanpa perlu banyak berjalan, ia sudah duduk di sebuah halte menunggu bus datang. Ia meletakkan ransel coklatnya di samping kanan, ransel yang lumayan berat. Entah apa yang ada di pikiran Oh Sehun memintanya membawa dua potong pakaian dan sebuah selimut tebal. Tiba-tiba ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk.

From : Shixun

Dandan yang cantik!

Sweet chu!

Luhan terkekeh sejenak, sebelum jemarinya mengetik balasan singkat.

To : Shixun

Jangan salahkan aku jika nanti kau kecewa!

Nado!

Setelah berbalas pesan, Luhan malah memandangi homescreen ponselnya. Gambar yang diambil dua bulan lalu ketika mereka berlibur di Bali, selcanya bersama Sehun duduk di atas pasir. Luhan tampak manis dengan kaos kuning cerah serta rok brokat putih, sedang Sehun memakai kemeja biru serta celana putih pendek. Mereka duduk diatas pasir putih membelakangi birunya lautan paling tenggara pulau dewata. Luhan akui, Nusa Dua benar-benar Almost paradise.

"Woah eonnie juga Hunhan shipper!" seru seseorang disamping Luhan. Gadis itu langsung meminta maaf setelah membuat Luhan hampir melempar ponselnya.

"Ne, tak apa!" Jawab Luhan singkat. Dari penampilan gadis ini masih memakai seragam sekolah menengah atas, rambutnya dikepang dua lalu ditekuk dan dijepit lucu. Dan apa? Hunhan shipper? Sepertinya gadis ini tidak mengenalinya, syukurlah. Luhan hendak memasukan ponselnya, tapi tiba-tiba saja gadis disebelahnya menghentikan tangannya.

"Eonnie, itu foto Hunhan kan?" Luhan mengangguk kaku, hatinya berdebar melihat ekspresi sebal gadis itu. Sebenarnya tak masalah sih, tapi ia juga ingin tahu pendapat orang lain mengenai hubungannya dengan Sehun. Meski ia sudah tau lewat media sosial, sebagian mendukung dan yah sebagian lagi tidak seperti biasa.

Luhan mengangguk mengiyakan dengan khawatir dibalik maskernya.

"Mereka pasangan serasi, Luhan eonnie sangat cantik sedang Sehun oppa tampan. Ternyata harapanku terkabul, ternyata selama ini mereka berpacaran. Aaahhh senangnya, dulu memang aku tak menyukai Luhan, kukira dia seperti artis lain yang hanya memanfaatkan kecantikan. Ternyata aku salah, ia sangat berbakat! Bahkan aku sekarang menjadi fansnya."

Luhan tersenyum, well memang sudah biasa ia dipuju, bahkan di maki fans secara langsung. Tapi gadis ini tak tahu jika disampingnya adalah Luhan, ia merasa seperti berada disamping Zitao dan Lay. Yang kadang kala membicarakan idola mereka diwaktu senggang.

"Hah... sayang waktu fansign kemarin aku tak sempat memberikan ini pada Luhan eonnie..." Gadis itu menggoyangkan sebuah paper bag pink dengan pita merah.

"Kenapa tidak langsung mengantar ke apartemen atau kantor agensinya?" Luhan mencoba menanggapi. Gadis itu tersenyum,

"Apartemennya mempunyai penjagaan sangat ketat, eonnie! Grace juga... entah hadiah ini bisa sampai atau tidak! Aku tak yakin! Dulu saja aku harus menitipkan syal pada seorang trainer. Tapi sepertinya Luhan eonnie tak pernah memakainya. Ya.. mungkin aku tak seberuntung fansite. Eh... apa aku terlalu banyak bicara? Mianhaeyo, eonni!"

"Haha aniyo!" Kemudian ia berfikir sejenak. Ia tersenyum lagi sebelum bertanya. terlintas sebuah ide gila dari otak warasnya.

"Apa seperti ini?" Luhan mengangkat syal miliknya.

"Majayo! Eothokhae arrayo? Bagaimana bisa? Padahal aku membuatnya sendiri untuk ujian praktek?" Luhan tetap bungkam saat gadis itu meneliti syal ditangannya. Oh, siswi seni...

"Mungkinkah..."

Luhan kembali tersenyum. Sepertinya gadis ini mulai curiga,

Atau tidak?

"Jangan-jangan eonnie... trainer itu, dan malah tak memberikannya pada Lulu eonnie?"

Dan sekarang tawa Luhan pecah, gadis itu menatap Luhan. Merasa aneh.

"Tersampaikan kok. Bahkan dia menyukainya."

"Jinjja?"

"Jangan kaget, ya! Annyeong! Lu Han imnida!" Luhan menganggukkan kepala singkat.

Tiba-tiba gadis itu tertawa, "Annyeonghaseyo, eomma! Ziyu imnida!"

"Eonnie bercanda! Ne.. matamu mirip sekali dengan Luhan, tapi rambutmu tidak eonnie!"

Luhan tercengang, jadi gadis ini mengira dia bercanda? Aigoo, Luhan lupa, ia kan baru tadi pagi kembali mengecat rambutnya jadi hitam, dan sekarang ia memakai masker.

Luhan menoleh kanan-kiri dan tak ada yang memperhatikan mereka, sekelilingnya juga tak peduli. Perlahan ia membuka sedikit penyamarannya. Ia tak suka dikira membohongi orang, apalagi dengan fans nya sendiri.

"Eomma-ya!" Gadis itu memekik lumayan keras, membuat Luhan kembali memasang maskernya cepat. Beberapa orang sempat melirik mereka, tapi kembali sibuk sendiri saat dikejauhan sebuah bus datang.

"Oh, sepertinya aku harus duluan. Haksaeng-ah kau harus semangat belajar agar menjadi designer hebat! Arra?" Luhan hampir berdiri mengikuti orang-orang yang menunggu bus, ketika gadis tadi menarik tangannya.

"Eonnie, kumohon satu foto!" Luhan berfikir sejenak dan mengangguk saat bus berhenti. Tidak perlu banyak waktu, mereka berselca.

"Xiexie, Eonnie! Kuharap kau menyukainya! Aku membuatnya sendiri semuanya! Lu eonnie Hwaiting! Jangan khawatirkan rumor apapun! Kami percaya padamu!"

"Neee... gomawo!" Luhan menerima paperbag tadi sebelum pergi. Tentu setelah berterima kasih. Well entah bertemu dengan penggemar memang menyenangkan.

~^ Affectionate ^~

Bubble tea memang minuman terbaik baginya. Apalagi rasa coklat yang bercampur bulatan tepung kenyal. Minuman manis memang selalu manjur dimusim dingin, walau kenyataan disebelahnya ada sebuah cangkir kopi hitam less sugar. Ia juga bingung kenapa menyukai rasa pahit kopi, padahal ia menyukai minuman manis.

"Chogiyo! Apa anda yang memesan rusa cantik?"

Sebuah suara mengalihkan fokus si pemuda dari ponselnya. Seorang perempuan duduk dihadapannya melantunkan permisi dengan cara unik.

Oh Sehun kembali sibuk dengan ponselnya setelah beberapa detik menampakan ekspresi kaget.

"Aniyo, saya memesan calon istri!" Sahutnya sok tak peduli, ia memang sering menggoda Luhan dengan sebutan itu. Tapi setelah Luhan benar-benar resmi jadi calon istri Sehun, rasanya lebih menyenangkan.

"Ok! Apa tujuanmu menyuruku membawa ini semua?" Tanya Luhan tak ingin basa basi.

"Ya! Setidaknya sapa lah aku! Panggil aku oppa!" Seru Sehun.

"Shireo!"

"Ayolah, Lu! Aku suamimu!"

"Calon!" Singkat Luhan menyerobot sebuah bubble tea didepannya.

"Ya!"

Luhan memutar matanya, "Ok, baiklah annyeonghaseyo Sehunnie oppa!" Luhan berucap lengkap dengan nada imut.

Sehun tersenyum senang, ia mengacak poni Luhan sayang.

"Oh! Kau merubah rambutmu? Nado!" Sehun membuka topinya, rambutnya juga berwarna hitam. Sedikit berantakan tapi masih oke.

"Harusnya aku tidak mengecat ulang!" Ucap Luhan sok menyesal. Kemudian ia terkekeh saat Sehun berdecak sebal. Alisnya menyatu lucu, bibirnya sedikit maju membuat rahangnya terlihat sangat runcing.

"Aigoo, oppa tampan kita sedang merajuk!" Luhan menyentuh ujung dagu Sehun, kebiasaan anehnya untuk menampakan senyum seorang Oh Sehun.

"Kaja!" Sehun berdiri menyambar tasnya dengan tangan kiri dan menggandeng Luhan dikanan.

"Ya! Eodiga?"

"It's secret, mrs. Oh!" Akhirnya Luhan pasrah berjalan digandeng Sehun turun menuju stasiun bawah tanah. Well berarti perjalanan jauh.

"Oh, aku suka kejutan! Kajja!"

Ok Luhan suka tantangan baru.

"Oh, aku lupa menanyakan sesuatu…" Ucap sehun tiba-tiba dengan nada serius.

"Hemm?" Luhan bertanya tanpa menoleh, tapi mendengar tak ada jawaban dari manusia disebelahnya Luhan pun bertanya lagi, kali ini sambil mendongak dan mengayun lengan Sehun yang masih ada digandengannya.

"waeyo, uri oppa?" Sahut Luhan manis.

"Apa…" Sehun menjeda sejenak, tapi tetap berjalan menuruni tangga. Karena sekarang mereka telah sampai di tangga menuju stasiun.

"Apa benar tak ada sesuatu diperutmu?" Senyuman Sehun menjelaskan nada jahil yang dipakai kali ini.

"Eum!"

Luhan mengangguk imut, seperti menjawab pertanyaan anak kecil. Tapi tak bertahan lama, karena Sehun telah tertawa lepas saat Luhan menyentak tangannya keras. "YAAA!"

"Ya! Lulu-ya! Aku Cuma bercanda… hahaha, miahae!" Ucap Sehun ketika berhasil mengejar Luhan yang memacu cepat jalannya.

"Oh, tapi aku sempat memimpikan seorang anak lelaki," Luhan tak peduli dengan Sehun yang mulai mengoceh.

"…dan kau menggendongnya!" OK, Luhan mulai tertarik dengan ini. Sehun tersenyum, ia tahu Luhan tak lagi mengabaikannya, walau ia mulai sibuk dengan chatt di ponselnya.

"Tepat sebelum Sooyoung imo memperlihatkan gosip itu padaku. Dan kau tahu, ia memanggilmu eomma!" Sehun membuat suaranya terdengar seperti dongeng,

"Jinjja?" Luhan pun menatap Sehun penasaran. Sehun pun tersenyum.

"ceritakan semuanya, Sehunnie!"

Aha! You got her attention Mr. Oh!

~^ Affectionate ^~

Tok Tok Tok

Ketukan pintu terdengar, mungkin sedikit kasar. Zitao bangun dari per-istirahatan-nya setelah mengarungi mimpi selama empat jam. Itu juga setelah ia bosan dan capek menangis. Dengan cuek, tak peduli penampilannya kini, Zitao berjalan membuka benda yang sedari tadi digedor. Ia hanya memutar kunci pintu kemudian dengan cepat berbalik untuk kembali berbaring layaknya kukang malas di atas ranjang. Zitao tak peduli pada mamanya yang akan merecokinya dengan segala amukan, rambut ini lah, baju itu lah, sikap ini lah itu lah, Zitao tak peduli. Mungkin saat ini mamanya sedang shok melihat keadaannya, karena Zitao tak mendengar suara Heechul.

Well, Zitao sungguh tak peduli!

Sesaat Zitao hampir kembali kedalam dunia mimpinya, tiba-tiba sebuah kain menghantam wajahnya. Dan itu adalah handuk lembab, yang mana membuat Zitao secara paksa harus terbangun.

"Ish.. Eomma!" OO, masihkan Zitao menganggap malaikat pembangun itu sebagai ibunya?

"Bangun!" Tunggu ini aneh. Suara itu bukan milik ibunya, ibunya tak mungkin seorang namja kan? Dan setelahnya Zitao benar-benar langsung terjaga sambil melotot memandangi objek tinggi didepannya.

"Ge.. Gege!"

Nafas Zitao tercekat melihat seorang yang sedang memperhatikannya. Orang yang menjadi objek tagisannya semalam. Seorang Wu Yifan bersandar di depan almari dengan tangan bersedekap.

Ditilik dari bajunya, kelihatannya Kris cukup rapi, sebuah kaos putih di balut jaket hitam sedang bawahannya celana abu-abu gelap berbahan jeans. Mungkin ia akan pergi-atau baru saja kembali.

"Cepat mandi!" titah Kris. Wajahnya datar setara dengan suara yang baru saja di lempar pada Zitao. Ah, nampaknya pertengkaran mereka sangat mempengaruhi interaksi keduanya.

"Mama dan Baba sudah menunggumu!"

Tak ada lagi senyum menyebalkan yang terpasang, tak ada smirk nakal yang senang membuat omelan Zitao keluar. Asing. Untuk pertama kalinya, wajah dingin berkarisma itu terasa asing bagi Zitao.

"Mereka punya orang baru yang akan dikenalkan." YifanKris berucap cepat sambil melirik arloji.

"Gege, aku in..."

Ceklek

Zitao tersenyum kecut memandang daun pintu yang baru saja meloloskan sosok Kris. Belum genap semua kata yang teruntai, YifanKris sudah lebih dulu menutup pintu. Mungkin ia juga harus bersyukur, setidaknya YifanKris tidak membantingnya.

"Aku ingin... minta maaf..."

Dilain tempat, YifanKris bersandar tepat pada pintu kayu yang membatasi area kamar Zitao. Raut serius diwajahnya mencerminkan perasaan yang sedang berperang dalam dirinya. Tercipta kerutan di dahinya, seperti pikirannya yang kini bekerja keras.

Ia tahu Zitao menghabiskan malamnya untuk menangis. Karena ia hampir saja bergerak memeluk Zitao semalam jika saja ego dan pikiran bodohnya tidak bekerja lebih giat semalam. Dimana penolakan Zitao kemarin terus berulang dikepalanya. Sehingga mendorong sifat keras kepalanya kembali muncul. Menghindar adalah hal yang benar saat ini.

Bahkan Chanyeol dan Jongin mengatai dirinya bodoh. YifanKris tak peduli, meski ada bagian hatinya mengiyakan pemikiran sepupunya.

"Kau sangat sulit kupahami Zi, maafkan aku..."

YifanKris berjalan memasuki kamar setelah ia tersadar akan bunyi lumayan keras datang dari kamar Zitao. Disusul erangan lirih yang YifanKris yakini suara Zitao yang sedang mengutuk sesuatu. Senyum getir YifanKris tarik dari bibirnya, setelah pintu kamar tertutup rapat.

"Dasar ceroboh!"

~^ Affectionate ^~

Zitao memang sudah selesai berpakaian, bahkan wajahnya sudah terpoles cantik natural. Zitao hanya menambah sedikit lipgloss dan perona pipi untuk membuatnya menawan. Bukan karena ingin memukau orang, Zitao menyukai make up untuk kesenangan pribadi.

Dentingan jam dari ruang tengah menandakan sudah hampir setengah jam setelah YifanKris muncul dikamarnya. Zitao tak kan pernah bisa melupakan rupa dingin yang mengerak di wajah tampan YifanKris. Bahkan Zitao dibuat bingung oleh YifanKris, dan terutama dirinya sendiri.

Ia tak pernah benar-benar telilit oleh drama percintaan seperti saat ini. Ia dan Kris terjebak dalam perjodohan kuno keluarga, dan ternyata Kris mencintainya. Tapi apa benar lelaki itu mencintai dirinya? Sikapnya menjengkelkan, pemaksa, keras kepala, seenaknya, dan Zitao baru tahu jika lelaki seperti Kris mempunyai sisi lembut yang terlihat rapuh dimatanya. Tapi sebagian keras kepala Zitao masih meragukan pernyataan Kris tempo lalu. Dan Zitao tak tahu apa yang membuatnya ragu.

Sekarang bagaimana dirinya? Bagaimana kabar hatinya saat ini? Apa ia mencintai Kris juga? Lantas apa yang harus Zitao lakukan sekarang?

Zitao memutuskan segera turun. Bahkan dalam langkahnya ia tak peduli siapa tamunya. Ia hanya bermaksud menemui sebentar lalu kembali tenggelam di halaman belakang. Berharap tak ada yang mengganggunya, atau dia bisa pergi ke apartemen Kyungsoo, atau ke rumah Baekhyun.

"Aahh... Lian, Jonghyuk oppa, perkenalkan ini Zitao, anak Heechul eonnie. Dan Zitao mereka adalah bibi Lian, dan paman Jonghyuk! Cepat beri salam." Halin membimbing Zitao duduk disampingnya.

"Selamat sore!" Tak butuh waktu lama bagi Lian untuk memuji barbie macam Zitao.

Dari wajah Zitao sudah bisa menebak bahwa Lian adalah adik dari Zhoumi. Keduanya sungguh mirip, keduanya tinggi dan mempunyai kulit putih agak pucat, mungkin karena mereka dari bagian selatan. Zitao beralih memandang Jonghyuk, wajah tegas bersahaja, pipi belesung ganda, kulitnya hampir sama dengan Zitao, mungkin Jonghyuk juga suka berjemur sepertinya.

Zitao pamit setelah lima menit duduk disamping ayahnya, dengan alasan ingin membantu bibi Halin di dapur.

"Ah.. Kau mengagetkanku saja, Ziezie!" Zitao menampakan gigi rapinya seperti bocah.

"Biar ku bantu, bibi!" Halin menyerahkan limun pada Zitao untuk di peras.

"Mama, Zizie! Jangan kena mata!" Pesannya.

"Iya, Mama!" Halin terkikik mendengarnya, ia maklum dengan Zitao yang suka labil saat memanggilnya. Kadang bisa mama kadang bisa bibi, padahal sedari Zitao masih kecil Halin sudah meminta Zitao memanggilnya mama.

"Kenapa mama membuat banyak sekali?" Tanya Zitao setelah menyelesaikan dua teko atas instruksi Halin. Sementara orang yang berperan sebagai chef hari ini sedang menarik garlic bread dari oven.

"Karena akan lebih banyak orang yang datang!" Halin meniup uap panas yang mengepul didepannya kemudian tersenyun saat mendapati warna cantik dari hasil panggangannya. Memindahkan ke atas piring dan menata sedemikian rupa hingga siap memikat pejalan seperti etalase toko roti.

"Siapa saja? Memang ada acara apa?" Tanya Zitao yang kini menuangkan es di mangkuk.

"Reuni keluarga... yah.. bisa dibilang seperti itu! Karena semua akan berkumpul malam ini." Zitao membalas dengan gumaman sambil mengamati kemampuan ibu dua anak dalam hal dapur.

"Mama, jika aku boleh bertanya, apa paman tadi suami dari bibi Li.. Lian?" Tanya Zitao sambil mengingat kembali nama mereka.

"Iya... namanya Kim Jonghyuk, eh... Zie tolong ambil ayam dalam panggangan.. baunya sudah harum!"

Saat Halin dan Zitao hampir selesai, sebuah suara menyapa nyaring. Keduanya menoleh dan mendapati wanita mungil bernama Byun Baekhyun muncul.

"Bibiii..." Baekhyun langsung memeluk Halin, "Kenapa bibi tambah cantik? Heumm?" Puji Baekhyun manja. Halin mencium pipi Baekhyun gemas, "Kau ini... selalu bisa membuat bibi tersenyum!"

"Hehehe..." Baekhyun tertawa ringan, kemudian berbalik dan menemui Zitao yang masih terkejut memegang gelas.

"Hai panda! Kau tidak merindukanku?" Baekhyun merentangkan tangan menunggu Zitao, "Ya! Apa kau akan membiarkan ku melakukan ini selamanya?" Omel Baekhyun menggerakan kedua tangan dengan wajah sebal. Zitao segera memeluk Baekhyun sambil tersenyum, Halin terkekeh melihat keduanya.

"Apa Kyungsoo dan Kai datang?" Tanya Halin saat mencuci tangan. Baekhyun mengangguk sambil beraegyo "neeeng~"

"Baiklah bibi akan kedepan dulu!" Setelah Halin berpamitan, Zitao kembali memeluk Baekhyun.

"Eonnie... apa benar Kyungsoo juga ada di sini?" tanya Zitao.

"Iya... Kyungsoo kan juga keluarga, Bayi panda!" Jawab Baekhyun sambil menyisir poni Zitao. "Apalagi ayah ibu Kai kan juga ada disini... mereka jarang sekali berkumpul, mumpung mereka berkumpul kami sekalian diundang menginap oleh bibi Wu!"

"Ah... apa kalian membawa anak-anak?" Tanya Zitao tertarik,

"Haha... kau suka sekali bertemu teman sepermainanmu, iya Caehyun, Hyohyun, Namsoo dan adiknya, hahaha." Jawab Baekhyun menarik kuncir kepalanya.

Zitao membulatkan matanya, "Hah? Benarkah? Apa Kyungsoo punya dua anak? Seingatku hanya satu... Jangan-jangan... apa Kyungsoo hamil? Omo!"

"Wow...wow... slow down panda... bukan aku hanya bercanda, tapi jika Kyungsoo hamil bukankah itu lebih bagus? Sekarang Kai ada disampingnya. Ah, mereka sungguh pasangan manis, bahkan lebih manis dari sebelumnya. Aku baru tahu Kyungsoo tipe wanita yang mencium suaminya saat di taman bermain tadi... haha"

Baek sepertinya kau cocok menjadi wartawan gosip. Pikir Zitao melihat wajah mendamba Baekhyun

"Well aku masih bingung... misteri apa yang tersembunyi dalam keluarga kalian, kenapa aku baru tahu jika kalian bersaudara akhir-akhir ini?" Gerutu Zitao membuat wajah lucu.

"Hemmm... kau akan mengetahuinya segera... baby Ziezie!"

"OH! Iya, bagaimana hukumanmu? Indah bukan?" Goda Baekhyun.

"YA! Apa maksudmu dengan indah? Ini seperti neraka... bayangkan aku tak boleh memakai ponsel ku, bahkan tas ku disita. Apa itu namanya indah, kau tak tahu betapa kejamnya ratu kegelapan Kim Heechul!" Gerutu Zitao panjang Lebar.

"Tapi kan kau selalu ada hiburan geratis!" Kikik Baekhyun saat Zitao melepas pelukannya. "Ada seorang raksasa yang selalu bermain denganmu..." Baekhyun tak terlalu sadar dengan wajah Zitao yang sedikit meredup.

"Kau bisa bermain perang dengannya, atau main yang lebih ekstrim misalnya di ranjang..haha."

Baekhyun berheti saat Zitao melepaskan tangannya. Dahinya mengerut melihat ekspresi suram dari wajah Zitao.

"Hey.. hey... bayi panda... apa apa?" Baekhyun bertanya.

Butuh waktu beberapa detik untuk Zitao meredam emosinya, Zitao memandangi acak pola serbet di tanganya. "Sepertinya aku.. aku mencintainya..."

Baekhyun tersenyum, "Benarkah? Wah... akhirnya... tapi apa yang salah dengan itu, sayang?" setetes air yang jatuh membuat Baekhyun membawa Zitao duduk berhadapan dengannya.

"Aku menyadari bahwa aku... mencintainya setelah.. aku membuatnya membenciku..."

Baekhyun terdiam, "maksudmu? Apa yanh terjadi?"

"Kami berargumen kemarin sore, dimana..." Kisah Zitao pun dimulai. Baekhyun hanya bisa memeluk Zitao ketika panda itu menceritakan sudut pandanganya tentang Kris dengan terisak dan menangis.

"Kenapa aku egois?...Kenapa aku merasa aku.. aku yang paling benar? Kenapa aku harus seperti itu? Kenapa Baekie eonnie? Kenapa... Kenapa aku harus menyadari saat dia sudah membenciku?..." Rancau Zitao terus menangis,

Baekhyun terus menepuk bahu Zitao yang menyandar padanya, ia memadang sekitar mencari tissue, tapi matanya malah menemukan objek lain di pintu. Matanya terkunci menatap kedua mata dengan sorot tak terbaca.

Kris ada di sana. Berdiri terdiam dengan sebuah botol kosong di tangannya, sebuah handuk tersampir di bahunya, kaos dan celana training putih menjelaskan bahwa Kris baru saja berolah raga.

"Mian..."

~^ Affectionate ^~

.

Annyeonghaseyooooo...

Wkwk... mianhae...yooooo...

(Berlapang dada untuk ditimpuk karena gak kelihatan iuntuk beberapa bulan)

Hyo kembali dengan Affectionate ep.7 dimana Kaisoo udah mulai menunjukan KDRT mereka, (Kemanisan Dalam Rumah Tangga). Hayo hunhan mau kemana? Kristaonya? Mereka lagi dilema, seperti aku yang dilema berat gegara antara pengen pertahanin mereka atau nggak. Labil ya... emang.

Hyo lagi berduka, Laptop kesayangan Hyo yang awalanya cuma pecah LCD nya pas kecelakaan bareng adek kemaren sekarang mati gak jelas... padahal masih bisa di charge... Lah ponsel kesayangan ikutan jatoh, LCD nya nge blank pula... Hyo kudu otokehhhh? Padahal file file buat nge-kpop ada di Laptop semua... MV, album, ff, lagu, data, foto, game, dll.

ff ini aja dibuat ulang dengan mengandalkan ingetan lama yang entah masih nyambung ato nggak... kenapa setiap mau update ada aja... TT

Maap kalo ada salah kata salah tulis ato lumayan gak nyambung, dan Hyo yang banyak ngeles... pokonya mian banget readers nim...

Oh iya Hyo mau hiatus lagi untuk jangka yang belum diketahui, bisa cepet bisa lama... soalnya september nanti Hyo uda masuk Kuliah awal... tinggal nunggu dilamar abang Jongin(uhuq) kkk

Ya sekiranya itu yang bisa Hyo sampaikan... gomawo gomawo gomawo buat temen temen Hyo yang udah dukung Hyo buat bikin lagi buat ch 7 ini... Dan buat Meira... yang kalo ketemu nanyain mulu nih ff... nih gue udah update, si appa sama eomma udah so sweet noh... dan buat satu lagi kakak mawar putih (KDS) yang unyu-unyu... yang gue ragu entah baca ato nggak, pokonya gue makasih banyak atas saran juga suportnya waktu curhat tentang tentang ff ini... thankisss (ciuma dr umi) iya, ff aku uda update... kapan love3 update lagi?

dan banyak Gomawo lagi buat pada readers juga buat yang udah review ff aneh punya Hyo, Hyo seneng liat review kalian.. kadang Hyo merasa bersalah kalo baca review kalian yang semangatin Hyo buat update tapi Hyo gak bisa update cepet kaya yang lain... mianhae.. gomawo... saranghae yeorobun...!

REVIEW JUSSEYOOO~

(LOVE)

.

19.08.15