Thanks To Septa yang sudah mensuport author ^^
.
.
.
.
.
Characters Disclaimer : Tite Kubo
Pair : GrimmIchi (Grimmjow x Ichigo)
.
Story's Credit : B-Rabbit Ai
.
.
Warning! : Typo bertebaran, Alur kecepatan, OOC epliwel
_Don't Like, Don't read_
Please Enjoy
AKU, KAU DAN MEREKA
.
.
.
Chapter 2. (Kutukan)
.
.
Ichigo yang berjalan gontai di pinggir jalan mengundang berbagai pasang mata yang penasaran dan bingung akan keadaan si surai Jingga. Dari yang mulai menatapnya dengan tatapan kasihan sampai dengan tatapan lapar.. Oke si Jingga memang terlihat sedikit lebih –ehem-menggoda-ehem-.. Dengan mata yang sedikit terlihat sembab, dua kancing teratas kemeja nya dibiarkan terbuka, dan jangan lupakan kulit tan eksotisnya yg terekspos dengan diperindah oleh lelehan keringatnya. Semakin menambah kadar ke Sexy-an seorang Ichigo di mata para pemuda yang belok! Oke stop, author mulai salah fokus.
kembali ke Ichigo.
keadaan ichigo saat ini, yang bisa dikatakan tidak baik-baik saja, tanpa sadar melangkahkan kakinya ke kediaman tempat orang tua angkatnya tinggal. Yaitu Kurosaki's Manor House.
Gerbang Kurosaki's Manor House beroperasi secara otomatis. Ichigo pun melangkah masuk tanpa penghalang apapun. Bahkan petugas keamanan pun tak mencegahnya masuk. Karna mereka sudah tau dengan hanya melihat ekspresi –Sengol? Bacok!- nya Ichigo.
Ichigo pun sampai di depan Pintu utama. Sialnya, pintu tersebut terbuka begitu saja, dan menambah daftar list benda yang "tak menghalangi" jalan tuan Ichigo kita.
.
.
ketika Ichigo baru saja berjalan 4 langkah melewati pintu utama, dia di kagetkan dengan kehadiran sosok yang sangat ingin dia hindari belakangan ini. Kurosaki Isshin, adalah sosok tersebut.
"a-ayah... a-aku.. Pu..."
Plak!
"Kurang ajar! Kemana saja kau 2 bulan ini!" Ichigo terbelalak tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Otak pintarnya tak berfungsi sama sekali. Ia hanya menundukkan kepalanya dalam diam.
"Brengsek! Jawab aku kalau aku lagi Bicara!" Isshin ingin melancarkan serangan brutalnya pada Ichigo.
"Permisi tuan besar, anda mendapatkan telepon dari kantor cabang Shibuya, mereka mengatakan kalau ini soal penting yang harus segera di bahas" potong sang kepala pelayan yang sukses menyelamatkan Ichigo dari aksi sang ayah angkat.
Isshin melangkahkan kakinya menuju telepon di lantai dua dan meninggalkan Ichigo yang masih menunuduk diam.
"Tuan muda, mari saya antar ke kamar anda." Sang pelayan dengan hati-hati menuntun tubuh Ichigo untuk bergerak ke kamarnya yang ada di pojok lorong lantai satu.
Ichigo masuk ke kamarnya dengan sang kepala pelayan yang masih setia menuntunnya dengan lembut dan penuh kehati-hatian. Sang kepala pelayan menduduk kan Ichigo di atas kasur King Size nya dengan hati-hati, seolah-olah Ichigo adalah benda rapuh yang akan pecah apabila terbentur dengan benda yang sedikit keras sekalipun.
.
.
"Tuan muda mau mandi dulu tau makan dulu?" sang kepala pelayang berujar lembut pada sang tuan bersurai jingga nya. Tapi, hanya di balas oleh kebisuan sang pemilik surai.
"Jika tuan membutuhkan saya, saya ada di dapur. Permisi tuan.." Sang kepala pelayan undur diri dari hadapan sang tuan muda.
Ketika pintu ditutup oleh kepala pelayan tersebut, Ichigo berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Ia duduk memeluk lututnya dengan air shower dingin meluncur bebas membasahi tubuh serta pakaiannya. Ichigo hanya butuh waktu untuk menyendiri. Terlalu banyak hal yang mengejutkan terjadi hari ini.
.
.
.
.
++Espada's Apartement++
(11.30 PM)
Grimmjow yang gelisah tidak dapat berbaring dengan tenang di dalam kamar apartementnya, memutuskan untuk duduk bersandar pada Dashboard tempat tidur King Size-nya.
Kenapa Grimmjow tinggal di apartemen? Oh.. itu karena Pemeran utama kita yang satu ini tidak terlalu suka tinggal di Kediaman utama milik Daddy nya yang dihuni oleh saudara-saudara berisiknya. Grimmjow lebih menyukai ketenangan.
Tapi, setenang apapun keadaan di sekitarnya sekarang, tidak berpengaruh pada kegelisahan hati nya. Ya. Grimmjow gelisah. Lebih tepatnya khawatir akan keadaan si Jingga yang tak sengaja dua kali di temui nya saat di Karakura University tadi sore. Raut wajah kecewa dan tersakiti nya mengingatkan Grimmjow pada sosok Hime nya yang telah lama di carinya.
"Hime..." Grimmjow berucap lirih. Ia merindukan sosok Hime nya. Grimmjow ingin melepaskan kutukannya. Kutukan yang telah membelenggu nya selama ratusan tahun. Kutukan atas ingatan pada kehidupan lampau nya yang pahit. Dan yang bisa melepaskan kutukan ini hanya Hime nya seorang.
Grimmjow turun dari tempat tidurnya dan berjalan mendekati jendela. Ia menyibak tirainya dan membuka lebar-lebar jendela tersebut. Membiarkan angin malam yang dingin membelai tubuh indah atletisnya.
Grimmjow menatap langit yang berhiaskan ribuan bintang dan purnama sebagai mahkota nya. Lama ia memandangi purnama. sampai memorinya memutar kejadian kutukan ini bermula.
++700 Years Ago++
.
"Grimmy! Grimmy!... dimana kau?!... jawab aku Grimmy!." Seorang pemuda berperawakan cantik yang mengenakan kimono bernoda darah, berlari menyusuri lorong istana yang sedang dilahap oleh sang jago merah.
"Grimmy! Kumohon jawab aku!... Grim..." Sang pemuda berhenti tepat di depan dua orang yang sedang menautkan pedang satu sama lain di ujung koridor utama istana.
"Hime! Kenapa kau masih disin?!.. cepatlah pergi ke tempat yang lebih aman! Dalam hitungan menit istana ini akan binasa!" teriakan seseorang yang disebut Grimmy mengagetkan sang pemuda cantik.
"Jangan seenaknya memerintah ku jendral bodoh!. Kalau kau mau aku keluar dari sini secepatnya, maka kau juga harus ikut dengan ku. Grimmjow Jaegerjaques!" sang pemuda cantik menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Ciri khas orang yang sedang ngambek.
Ichigo yang sedang sibuk menahan pedang musuh dengan pedangnya mulai jengah dengan sikap sang Hime. "Jangan egois Ichi! Sekarang cepat kau pergi dari istana ini! Aku sedang sibuk!" ya.. Ichi adalah nama sang Hime yang baru saja dibentak grimmjow.
Saat Grimmjow berhasil membebaskan tautan pedangnya dengan pedang si musuh, ia sedikit berbalik ke belakang untuk kembali mengomeli Hime nya, akan tetapi...
"Berakhir sudah! Grimmjow!" teriakan dari si musuh mengagetkan Grimmjow. Tanpa sadar Grimmjow berbalik mengikuti suara teriakan musuh. Dan...
WUUUSH!
"Grimmjow!" Teriakan sang Ichi-Hime bergema di lorong tempat mereka berada.
Serangan bercahaya kemerahan mengenai telak di tubuh Grimmjow. Ia jatuh bersimpuh di depan musuh. Ichi berlari mendekatinya dengan kesetanan.
JLEB!
"Eh?.. Grimm.. jo?.." cairan bewarna merah segar berhasil keluar melewati jaringan kulit yang sobek akibat tusukan benda tajam dan panjang tersebut. Pedang Grimmjow menancap indah pada perut sang Hime. Dan..Grimmjow lah pelaku penusukan itu.
"Dia sudah dalam kendali ku~... Jendral Bodoh mu ini menjadi milik ku! Ichi-Hime~... sekarang urusanku sudah selesai.. sampai jumpa lagi Ichi-Hime~" musuh telah menghilang dari penglihatan. Ichi terbelalak kaget. Ia menatap mata Grimmjow yang sudah tak memiliki cahaya kehidupan disana.
"Grimmy..." lirih sang Hime dengan mata yang menyendu.
Ichi meraih pipi kiri Grimmjow dengan tangan kanan nya. Ia mengusapa pipi itu lembut. "Grimmy.. kau membuatku kecewa... Kau juga membuat ku merasakan perasaan ini lagi... Bukankah kau telah berjanji untuk melindungi ku dari perasaan ini?.. Kau harus bertanggung jawab Grim." Ichi jatuh terduduk bersamaan dengan Grimmjow yang masih menancapkan pedangnya di perut Ichi.
"Grim...Grim.. uhuk!...haah..haah..." Ichi batuk darah. Napasnya tersenggal-senggal. Penglihatannya semakin memburam. Tapi, tangan lentiknya tetap memegangi pipi sang Jendral terkasih.
"Grim... aku akan membebaskanmu dari kendali orang itu dengan menggunakan kutukan ku. Kuharap kau mau memaafkan ku." Ichi tersenyum sendu. Tangan lentiknya berpindah dari pipi sang jendral ke dada kiri –tempat jantung sang jendral berada. Ichi merapalkan mantra kutukan tersebut. Dan sekejap saja, angin bertiup kencang mengelilingi tubuh mereka berdua. Ichigo menoleh ke manik biru sang jendral yang sudah memiliki cahaya kehidupannya. Dengan kekuatan yang tersisa, Ichi mendekatkan bibirnya ke telinga sang jendral. "Kutukan ini akan mengikat ingatanmu. Berapa kali pun kau ber-renkarnasi, ingatan ini akan selalu membayangi mu. Mengingatkanmu akan dosa yang telah kau lakukan. Dan yang bisa mematahkan kutukan ini hanya aku seorang." Grimmjow terbelalak kaget. Ia tersadar dan menarik pedangnya menjauh dari perut Hime-nya.
"Hime!" Grimmjow memeluk sang Hime sangat erat dan tak mau melepaskannya barang sedtik pun. Seolah sang Hime akan pergi jauh meninggalkannya apabila ia melepas atau melonggarkan pelukannya.
"Grim.. haaah...haaahh...kau kembali.." Ichi membalas pelukan sang jendral dan tersenyum lemah.
"Ichi! Maafkan aku.. a-aku..aku..." Grimmjow tak dapat melanjutkan kata-katanya. Ia terisak pelan di pundak sang Hime.
"Aku akan memaafkanmu Grimmjow... tapi tidak sekarang." Ichi membelai lembut surai sang jendral. Ia terus membelai dan membelainya agar sang jendral merasa tenang.
"Aku akan memaafkan mu, saat kau berhasil membuatku jatuh.. ukh!.. haaah.. jatuh cintah lagi.. padamu... Grimmy." Ichi mencium pipi sang jendral singkat. Dan mendekatkan bibirnya ke telinga sang jendral. Membisikan kata-kata yang mampu membuat seorang Grimmjow membeku di tempat.
"Aku mencintaimu... Wahai jendral ku yang bodoh.."
Itu adalah kata-kata terakhir Ichi sebelum tubuh nya jatuh tak bertenaga di pangkuan sang Jendral.
Grimmjow berteriak kesetanan, ia meminta tolong pada seluruh sisi penjuru istana. Ia frustasi. Ia mengerang marah, dan kembali meneriaki nama sang Hime tercintanya.
Ia menyerah... Grimmjow meneyerah.. jika kutukan yang diberikan sang Hime untuk mengikat mereka di kehidupan selanjutnya, maka Grimmjow akan senang hati menyerah pada kehidupannya yang sekarang.
Grimmjow semakin merangkul tubuh sang Hime dengan erat. Biar lah mereka berakhir disini. Berakhir di tengah kemarahan sang jago merah yang menyala. Ia tidak peduli, selama Ia bisa bersatu dengan Hime nya, berakhir dengan cara memalukan sekalipun ia tak keberatan. Karena Grimmjow juga sangat mencintai Hime-nya. Ia menatap wajah sang Hime yang mulai pucat. Dan mencium keningnya lalu tersenyum sendu.
"Aku juga mencintaimu... Wahai Hime ku yang egois.."
kata manis tersebut berakhir ketika tubuh keduanya terbalut indah oleh sang merah menyala, dan memberikan peristirahatan terakhir pada mereka.
Mengingat semua kejadian itu membuat kepala Grimmjow berdenyut sakit. Ia mencoba menghilangkan denyutan itu dengan duduk bersandar tepat dibawah bingkaian jendela kamarnya. Ia memijit pangkal hidungnya untuk mengurangi rasa sakit di kepalanya. Setelah beberapa menit ia mimijat, akhirnya rasa sakit itu pun menghilang. Dan Grimmjow kembali teringat pada sosok pemuda manis bersurai Jingga di universitas itu.
Grimmjow terus memikirkannya sambil memejamkan matanya, membayangkan sosok pemuda tersebut dan membandingkannya dengan Hime nya. Sama-sama berparas manis untuk seorang pemuda, dan sama-sama memiliki iris cinnamon serta sama-sama bersurai jingga matahari tenggelam. Karena terus membayangkan mereka, Grimmjow tanpa sadar terlelap dengan posisi masih terduduk di bawah jendela kamarnya.
.
.
.
Pagi yang cerah mengawali aktifitas setiap manusia dikala itu. Tapi tidak dengan Ichigo dan Grimmjow. Mereka mengawali pagi yang cerah itu dengan Umpatan. Tidak Tidak..yang mengawali pagi itu dengan umpatan hanya Grimmjow seorang. Sedangkan Ichigo mengawali pagi yang cerah itu dengan muka ditekuk dan mood yang dikatagorikan Horor.
++Kurosaki's Manor House++
Karena Isshin,Tuan besar pemilik kediaman ini pergi ke Shibuya untuk urusan mendadak, Ichigo bisa sedikit bernapas lega.
Ichigo melangkah keluar dari kamarnya menuju dapur untuk sekedar mengambil roti dan menjadikannya sarapan saat menuju ke kampus nanti.
Ketika Ichigo memasuki dapur, ia bertemu pada kedua adik kembar angkatnya. Yuzu dan Karin.
Yuzu menyapanya ramah, sedangkan Karin memilih diam menikmati sarapannya. Ichigo berjalan mendekati meja makan. Mengambil dua potong roti yang sudah diolesi selai strawberry. Ia kembali berjalan menjauhi meja makan, sambil berkata "Aku pergi.." pada kedua adik kembar angkatnya.
Ichigo berjalan di lorong biasa ia lewati saat menuju kampus Karakura. Tapi tidak seperti biasanya. Kali ini Ichigo melewati lorong tersebut dengan berpegangan pada tembok untuk mempertahankan keseimbangan tubuhnya.
"Sial!" Ichigo menumpat lirih. Suhu badannya meningkat. Kepalanya berdenyut sakit.
"Sepertinya ketiduran di bawah air Shower dingin, tidak bagus untuk kesehatan." Ya.. Ichigo ketiduran dibawah shower yang mencurahkan air dingin tepat di atasnya saking keenakan menyendiri di kamar mandi semalaman. (Hell nak... sadar tempat kalau tidur! -_-)
Oke.. kini tokoh utama kita mulai kelihatan limbung alias gontai saat berjalan.
Ichigo tetap memaksakan diri nya untuk terus berjalan sampai ke kampus Karakura. Saat pintu gerbang kampus Karakura mulai terlihat, Ichigo berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal. Ia mencoba berdiri tegap dan berjalan pelan menuju gerbang tersebut.
Ia melihat sang satpam kampus yang sedang berbicara dengan teman satpamnya yang lain.
Ichigo melempar senyum saat menyapa sang satpam yang di balas dengan senyuman juga. Ichigo berhasil melewati gerbang dengan keadaan –yang dipaksakan- seperti biasa-biasa saja. Ichigo pun kembali berjalan –dengan dipsakan- ke kelasnya. Ia hanya berharap hari ini lebih baik dari kemarin. Semoga saja...
.
.
.
.
++Jaegerjaques Corporation++
BRAK!
Gebrakan pintu mengagetkan semua orang yang berada di ruangan itu.
"Ulquiora! Jadikan aku Dosen penggantimu di Karakura University!" Grimmjow berteriak lantang di depan kakak bertampang datar- sedatar dada sepupunya, Rukia. (Author di tendang)
"-ehem..Apa maksud mu, Grimjow?" Ulquiora terlihat tidak senang dengan kedatangan adik bersurai biru nya yang menggangu rapat yang akan segera berlangsung.
"Kau mengajar di mata kuliah Anatomi Fisiologi Manusia di Universitas Karakuraa, bukan? Untuk 1 minggu saja, biarkan aku menggantikan pekerjaanmu itu"
"Untuk apa aku harus menuruti permintaan aneh mu itu?" tanya sang Kakak dingin.
"Karena Dia akan segera ke Italy mengurus semua urusan perusahaan disana selama 2 minggu dan kau harus mendampinginya?" jawab sang Adik santai (?)
"Haah... Baiklah. Ku izinkan kau menggantikanku mengajar di Universitas itu. Tapi dengan satu syarat. Kau.." Tunjuk sang kakak tepat di kening sang adik "Dilarang membuat onar atau hal yang bisa membuat reputasi ku jatuh di Universitas itu" Jelas sang kakak tajam di setiap kata nya.
Grimmjow hanya menanggapinya dengan seringai khasnya dan berlalu pergi dari ruangan itu begitu saja.
"Hehe... kita akan segera bertemu lagi, Hime" Grimmjow berbisik pada dirinya sendiri sambil memasuki Lift menuju lantai dasar. Ia berjalan menuju tempat mobil Sport nya dan bergegas menuju Karakura University untuk segera bertugas. Grimmjow tidak sabar untuk segera menemui pemuda itu.
.
.
.
++Karakura's University++
Riuh-riuh suara berisik para mahasiswa dan mahasiswi di kelas itu menambah parah denyutan kepala si surai Jingga. Ia kembali memijit pangkal hidungnya untuk mengurangi kadar denyutannya. Tapi tetap saja tidak berhasil. Ia sadar kalau tubuhnya sekarang sudah mencapai batasnya. Suhu tubuhnya terus meningkat. bulir-bulir keringat yang banyak, menjelaskan bahwa dia memang harus segera ke UKS. Tapi di tepisnya pemikiran itu saat Dosen Anatomi Fisiologi Manusia memasuki kelasnya.
Ichigo menegakkan kembali cara duduknya sambil menunduk. Ia tak ingin disuruh keluar hanya karna tidak sehat. Dia ingin mengikuti setiap pelajaran.
Ichigo yang masih sibuk dengan pemikirannya sendiri kembali memasang telinga saat namanya disebut. Ia mengagkat tangannya sebagai tanda kehadiran.
=Grimmjow's Pov=
Aku menyusuri lorong fakultas kedokteran untuk mencari kelas yang akan segera ku masuki. Dan aku menemukannya!. Aku memasuki kelas tersebut dengan tampang datar ku seperti biasa.
Sungguh.. niat awal ku kesini hanya ingin segera mencari tahu identitas si pemuda jingga dengan kedok sebagai Dosen pengganti. Tapi sepertinya kegiatan itu harus ditunda dulu. Karena sekarang aku harus berperan sebagi Dosen pengganti sungguhan.
Ketika aku memasuki kelas itu, jantungku terus berdetak tak beraturan. Aku menemukannya! Aku menemukan pemuda itu! Dia duduk di barisan paling belakang! Tapi tunggu dulu... aku tidak tau nama pemuda itu siapa! Oh tenang Grimmjow... Absen!... kau hanya perlu mengabsen semua mahasiswa dan kau akan mengetahui siapa nama pemuda itu. Fufufu.. kau jenius Grimmjow!
Tanpa basa basi lagi aku memulai mengabsen satu persatu mahasiswa di kelas tersebut. Sampai jatuh pada tulisan yang berbunyi Kurosaki Ichigo. dada ku mengenyrit sesak. Nama belakangnya mirip nama Hime ku, Ichi.
Pemuda itu mengagkat tangannya saat aku menyebutkan Kalimat itu sambil tertunduk. Eh? .. tertunduk? Ada apa dengan Dia? Kenapa dia menunduk?
Aku merasa sedikit khawatir dengan keadaanya. Aku pun melangkahkan kaki menuju meja nya.
=Grimmjow's Pov End=
Grimmjow mendekati meja Ichigo yang berada di barisan paling belakang sebelah kiri.
"Apa kau sakit, Kurosaki-san?" Ichigo tersentak kaget saat mendengar suara barintone dari sebelah kiri meja nya. Ia tetap menundukkan kepalnya sambil sedikit melirik ke seblah kiri mejanya. Dan benar saja. Ada seseorang berdiri disana. Ichigo yakin orang tersebut adalah dosennya.
Ichigo perlahan mendongak kan kepalanya untuk mengetahui wajah dosennya. Dan Ichigo semakin di buat terbelalak oleh sang Dosen pengganti –yang diyakini Ichigo karena dosen anatomi fisiologi manusia nya bukanlah orang yang sama dengan orang yang sedang ditatapnya kini-.
Tanpa Ichigo sadari, Wajah Grimmjow yang ditatap oleh Ichigo saat itu sedikit bersemu merah. Ingat.. hanya sedikit loh.
Grimmjow tersadar dari adegan tatap menatap itu, kembali menanyakan kalimat monoton itu.
"Apa kau sakit, Kurosaki-san?" kini tatapan Grimmjow benar-benar khawatir ketika ia melihat kondisi sang pemuda yang jauh dari katagori baik-baik saja dengan keringat yang membanjiri keningnya.
Kurosaki yang tak mengerti maksud dari tatapan itu, hanya menggeleng lemah. "Aku baik-baik saja sensei. Maaf membuat anda khawatir" Ichigo tersenyum lemah.
DEG!
'Hime...' batin Grimmjow sesak saat melihat senyuman yang di sunggingkan oleh Ichigo.
"Baiklah.. kalau begitu kita mulai saja mata kuliah hari ini.." Grimmjow kembali ke depan kelas untuk memulai acara ajar-mengajar nya.
.
.
.
1 jam lebih Grimmjow menjelaskan materi untuk pertemuan kali ini. dan selama itu pula ia tak bisa melepaskan pandangannya dari Ichigo. Wajah ichigo terlihat semakin pucat. keringat yang bertengger di dahi nya juga semakin banyak. Grimmjow berani bersumpah kalau Ichigo sekarang terlihat mirip seperti mayat hidup. Grimmjow ingin menariknya keluar menuju UKS sekarang juga. Tapi dia tak bisa. Mata kuliahnya berlangsung 3 jam. Dengan kata lain, dia tak bisa meninggalkan kelas yang baru 1 jam dia masuki ini se-enaknya. Ia melanjutkan lagi sesi menjelaskan contoh-contoh peng aplikasian dar materi pertemuan hari ini. sampai ia mendengar pekik kan dari salah seorang siswi di balik punggungnya.
"Kurosaki-kun!"
Grimmjow membalikkan badannya. seketika itu juga ia berlari ke tempat Ichigo pingsan. Ya.. Ichigo pingsan saat berdiri berniat untuk izin ke toilet. Grimmjow segera mengendong Ichigo ala Bridal Style.
"Kelas di tunda. Kerjakan soal latihan halaman 189 dari modul yang saya bagikan. Lalu kumpulkan pada Komting dan bawa ke ruangan Dosen."
Grimmjow berujar cepat dan kembali berjalan terburu-buru menuju UKS. Kalau hanya pingsan biasa mungkin Grimmjow tidak akan sepanik ini. tapi lain halnya jika pingsan yang di barengi dengan mimisan!
Grimmjow menendang pintu geser ruang UKS dan langsung membaringkan Ichigo di salah satu kasur yang kosong. Grimmjow mengumpat keras saat dilihatnya tak ada petugas kesehatan sekalipun diruangan itu. Ia berinisiatif sendiri untuk merawat Ichigo.
10 menit adalah waktu yang dibutuhkan Grimmjow untuk mengelapi darah dari hidung Ichigo, mengelapi keringat yang bercucuran di kening dan leher Ichigo. Dan yang terakhir mengompres Kening Ichigo dengan handuk basah dingin.
Grimmjow terlihat puas akan hasil kerjanya. Ia kembali membereskan sisa-sisa peralatan tempurnya dan meletakkan nya di tempat awal dia mengambilnya. Grimmjow kembali ke samping Ichigo dengan membawa sebaskom air dingin bersih yang segar untuk mengompres kening Ichigo. Grimmjow mengambil kain yang bertengger di kening Ichigo, merendamnya ke air segar yang di bawa nya sejenak. Ia meletakkan telapa tangannya ke kening Ichigo untuk menegcek suhu tubuhnya.
"Akhirnya..." Grimmjow tersenyum lega saat dirasa suhu tubuh Ichigo menurun. Ia kembali meletakkan kain yang telah basah oleh air. Lalu memerasnya kemudian di sampirkan ke kening Ichigo.
Grimmjow yakin. Bahwa Ichigo adalah Hime nya. Hime yang telah ditunggu nya selama 700 ratus tahun.. Hime yang dicintai nya.. dan Hime egois yang membelenggu nya..
Grimmjow tersenyum sendu. Ia mlihat wajah Ichigo yang tertidur damai. Grimmjow meraih tangan kanan Ichigo lalu menggenggamnya kuat.
"Hime.. Izinkan aku menebus dosaku padamu." Grimmjow mencium punggung tangan Ichigo dengan lembut. Aksinya tersebut membuat kedua mata Ichigo terbuka. Ia menatap Grimmjow dengan tatapan aneh.
"Grimmy..."
DEG!
Grimmjow tersentak kaget saat mendengar suara Ichigo. Bukan..yang membuatnya kaget adalah panggilan nama yang di lontarkan Ichigo.
Wajah Ichigo yang terlihat tersenyum sendu membuat dada Grimmjow sesak. Grimmjow menatap iris Cinnamon Ichigo yang terlihat berkabut dan aneh. Sampai tiba-tiba iris tersebut kembali menutup dan Ichigo kembali terlelap tidur.
Grimmjow diam tak bersuara dan tetap menggengam tangan Ichigo.
"Ichi-Hime..." Gumaman Grimmjow membuatnya semakin yakin. Kalau Ichigo adalah Hime nya.
.
.
.
.
.
Apa yang akan terjadi selanjutnya pada mereka?
Akankah mereka bisa memulai semuanya yang telah tertunda selama 700 tahun?
...To Be Continued...
...
...
...
=RnR Please=
. . .
.
.
.
