.

.

Characters Disclaimer : Tite Kubo

Pair : GrimmIchi (Grimmjow x Ichigo)

.

Story's Credit To : B-Rabbit Ai

.

.

Warning! : Typo bertebaran, Alur kecepatan, OOC everywhere.

_Don't Like, Don't read_

Please Enjoy

AKU, KAU DAN MEREKA

.

.

.

Chapter 3. (That Feeling)

"Kau tak pantas berada disini! Dasar Monster!"

"Pergi! Pergi kau monster!"

"Anak Terkutuk! Jangan Memandangku dengan Mata terkutukmu!"

"Dia bukan manusia.. Dia titisan Iblis!"

"Mati saja kau!"

Tidak! Aku bukan monster! Aku bukan iblis! Aku manusia! Lihatlah, rupa ku sama seperti kalian bukan? Aku manusia. Sama seperti kalian. Lalu kenapa kalian mengataiku iblis? Apa karna warna rambut dan mataku yang mencolok dan berbeda dari manusia kebanyakan? Aku manusia. Kumohon percayalah

"Jangan mendekat! Dasar monster! Iblis!"

Kumohon. Seseorang, tolong katakan kalau aku manusia. Aku manusia kan?

"Hime..."

Siapa? Kau siapa?

"Hime... Tetap disini. Aku akan segera kembali. Jangan membukakan pintu pada siapapun!"

Tunggu! Apa maksudmu? Jangan pergi!

.

.

"Jangan Pergi..."

Ichigo yang mengingau membangunkan Grimmjow yang tertidur disampingnya. dengan posisi setengah duduk. Grimmjow melihat raut wajah kesakitan sang surai jingga kesayangannya. Yah, Surai jingga Ichigo sekarang telah resmi menjadi warna favorit Grimmjow.

Grimmjow mencoba membangunkan Ichigo dengan lembut. Ia tak mau membuat Ichigo yang notaben dalam keadaan kurang sehat menjadi lebih tak sehat lagi. Grimmjow menepuk lembut pipi Ichigo. Dan usahanya berhasil. Ichigo membuka kedua matanya secara perlahan.

"Hei.. Kau baik-baik saja?"

Pertanyaan Grimmjow sukses masuk dengan sempurna kedalam pendengaran si Jingga. yang kemudian dijawab dengan anggukan lemah dari sang Jingga itu sendiri. Oke, anggukan lemah adalah kondisi yang jauh dari kata baik-baik saja dalam kamus besar Grimmjow.

"Se-sensei... bisa to-tolong ambilkan- .."

Grimmjow memberikan segelas air yang telah tersedia di atas meja dekat tempat ia duduk. Ichigo menyambut gelas tersebut dengan tangan yang sedikit gemetaran. Dengan hati-hati, Ichigo meminum cairan bening yang ada pada gelas tersebut secara perlahan-lahan.

"Terima kasih sensei"

Grimmjow mengambil kembali gelas tersebut dan meletakkannya kembali ke tempat semula. Grimmjow kembali menatap siswa 'cantik' nya dengan teliti bagai predator yang siap meng-rape mangsanya. (Thor, Fokus!)

Disaat Ichigo sedang memikirkan apa arti dari mimpi yang menghampirinya tadi, Grimmjow kembali bersuara

"Dimana rumahmu?"

Oke, Salahkan Grimmjow yang bersuara coret-bertanya-coret dengan absurdnya pada orang yang baru sadar dari tidur cantiknya coret-pingsan-coret.

"Ano, maksud sensei?"

Ichigo yang gagal paham kembali membalas pertanyaan sang sensei pengganti yang ehem-macho-ehem dengan pertanyaan juga.

"Kau tahu apa yang ku maksud Kurosaki-san."

DEG.

kini Ichigo paham apa yang dimaksudkan sang sensei yang bersurai ehem-seksi-ehem itu. Ichigo tak tahu mau menjawab apa. Bukan karena ia tidak punya tempat tinggal atau tempat bernaung yang disebut 'Rumah'. Ia hanya tak ingin kalau sensei penggantinya kemudian mengantarkannya ke tempat yang disebut 'Rumah' itu. Ia hanya sedang tak mau bertemu dengan tuan pemilik tempat yang disebut 'Rumah' itu. Ia sedang dalam situasi tak baik-baik saja ingat? Lantas, apa yang bakal tuan pemilik 'Rumah' tersebut katakan kalau dia melihat keadaan Ichigo yang sekarang? Sudah pasti sesuatu yang tidak mengenakan pastinya. Itu yang dipikirkan Ichigo.

Ichigo yang terlalu larut dalam pemikirannya tak menyadari ekspresi sang sensei pengganti yang tiba-tiba berubah menjadi sedikit khawatir, Mungkin.

"Mau ke apartemeku?"

Pernyataan sang sensei membuat Ichigo tersadar dan kembali menatap sang sensei dengan penasaran. Atas dasar apa sang sensei yang hanya merangkap sebagai sensei pengganti menawari siswanya berkunjung ke apartemennya? Terlebih lagi di waktu yang sudah terbilang menjelang malam ini? Modus kah? Mungkin bagi sebagian orang berpikiran seperti itu, Tapi tidak dengan Ichigo. Ia yakin sensei di depannya ini bukanlah orang yang seperti itu. Kenapa ia begitu yakin? Ichigo juga tidak tahu. Ia hanya merasa percaya pada sensei nya. Aneh bukan?

Ichigo hanya mengangguk pelan sebagai balasan dari pertanyaan sang sensei.

Kini Grimmjow dan Ichigo bergegas membereskan barang-barang mereka dan berjalan keluar universitas karakura dan menuju ke parkiran Dosen.

.

.

Grimmjow melaju mulus diatas aspal menuju apartemennya. Sesampainya di parkiran basement Espada's Apartement. Mereka menaiki Lift yang bergerak menuju lantai dimana sang sensei tinggal. Suasana mencekam menyelimuti mereka. Ichigo risih dengan suasana seperti ini. Ia mencoba berbicara pada sang sensei tapi tiba-tiba saja pintu lift terbuka dan beberapa orang masuk tanpa permisi dan menabrak bahu Ichigo sehingga membuat Ichigo oleng ke kiri, ketempat sang sensei berdiri.

"Maaf"

Cicit sang pelaku penabrakan yang langsung dihadiahi tatapan 'Berani senggol uke gue sekali lagi, otong lu lepas!.' oleh Grimmjow. Sedangkan Ichigo hanya membalasnya dengan senyum seadanya.

Lift berhenti pada lantai 10. Ichigo ditarik keluar dari lift oleh Grimmjow. Dan berjalan menuju kamar bernomor 6. Sebagai seme yang baik, Grimmjow mempersilahkan Ichigo –calon uke- nya masuk duluan. Grimmjow menyuruh Ichigo untuk duduk dan menunggu di sofa, sedangkan Grimmjow mau membeli makan malam sebentar. Ichigo yang sedikit terpesona dengan desain interior dan warna dinding yang dipakai sang sensei. Dengan dinding yang bewarna Biru langit dan perpaduan dengan sedikit warna hazel di setiap sudutnya membuatnya terlihat elegan. Nyaman, adalah kesan yang didapat Ichigo dari perpaduan warna tersebut. Ichigo kembali menelusuri dinding-dinding dalam rumah tersebut. Dan anehnya, Ichigo tak menemukan satupun poto atau pigura keluarga senseinya. Ia tak mau ambil pusing soal itu, dan kembali duduk dan sedikit merebahkan tubuhnya kesandaran sofa sambil menatap langit-langit ruangan itu.

"Kenapa sensei begitu kupercayai?"

Pertanyaan itu terlintas sejenak di pikiran Ichigo. Ichigo menutup mata dan mencoba mencari-cari jawaban apa yang logis tentang pertanyaan yang ada dibenaknya itu. Tak ada jawaban yang logis yang didapatnya. Ichigo menyerah untuk memikirkannya lebih jauh lagi dan terlelap kembali ke alam mimpinya. Yah, mimpi yang membelenggu takdirnya pada sosok Jendral yang selalu hadir dalam mimpi tersebut.

.

.

Grimmjow kembali dengan plastik yang penuh dengan makanan untuk mereka berdua. Mulai dari makanan pembuka, makanan utama dan makanan penutup. Tak lupa pula minuman penyegar serta isotonik dan minuman penambah darah untuk Ichigo yang sedang dalam keadaan kurang sehat. Seme yang pengertian memang.

Ketika Grimmjow masuk ke apartemenya, Ia sedikit terkejut melihat Ichigo yang tertidur dengan raut wajah yang sedikit mengkhawatirkan. Grimmjow meletakkan barang bawaannya dan berjalan ketempat Ichigo berada. Berlutut, dan mengecek suhu badan Ichigo.

'Tidak Panas.. tapi mengapa dia kelihatan begitu tersiksa? '

Grimmjow mencoba sedikit mengguncang tubuh Ichigo berniat membangunkannya. Ichigo terbangun dan melihat tatapan aneh sang sensei. Tatapanya seperti seseorang yang khawatir. Padahal Ichigo yakin kalau dia tidak kenapa-kenapa.

"Maaf sensei, saya tanpa sengaja tertidur"

Ichigo membenarkan posisi duduknya agar terlihat lebih sopan. Ingat, Orang didepannya ini masih menyandang status sebagai senseinya bukan? Walau hanya pengganti.

Grimmjow berdiri dan berjalan ke dapur.

"Kau tak harus minta maaf, tertidur bukanlah suatu kriminalitas."

Ichigo tersentak. Kaget, memang. Tapi bukan dengan dalam artian yang biasa. Kata-kata Grimmjow yang berhasil membuat Ichigo kaget dengan cara yang hampir tak biasa ini.

"Kau tak harus minta maaf hanya karena tertidur bodoh. Tertidur juga bukan suatu kriminalitas."

Sejenak ada suara yang menilisik didalam pikirannya. Ichigo memegang kepalanya yang sedikit berdesing ngilu.

Grimmjow kembali ke ruang tamu sambil membawa nampan yang berisi penuh dengan makanan yang dibelinya. Ichigo sediikit tesentak kaget dengan kehadiran sang sensei birunya. Grimmjow yang menangkap gelagat aneh Ichigo kembali menatapnya Intens. Lebih tepatnya khawatir.

"Sensei, biar ku bantu"

Ichigo mengerti arti tatapan yang diberikan sensei birunya itu. Maka dari itu ia mencoba mengalihkan perhatian sang sensei.

"Kau ambilkan nasi yang ada diatas meja dapur, dan dua gelas yang terletak disampingnya."

"Baik, sensei"

Ichigo melakukan apa yang persis diperintahkan senseinya, dan kembali dengan barang-barang yang sensei perintahkan untuk dibawa.

Grimmjow dengan lihai menata makanan yang tersedia diatas meja ruang tamunya. Dan memberikan satu porsi makanan sehat ala Grimmjow ke tangan Ichigo.

"Makanlah."

Ichigo hanya mengangguk patuh dan mulai memakannya dengan perlahan-lahan. Sambil memakan makanan yang telah disajikan Grimmjow, Ichigo sedikit mencuri-curi pandang ke sang senseinya.

"Apa ada sesuatu yang aneh di wajahku?"

Dan aksinya ketahuan oleh sang empunya.

"Tidak! Tidak ada yang aneh dengan wajah anda, sen..."

"Grimmjow... Grimmjow Jaegerjaques."

"Eh? Hah?"

"Itu namaku. kita sedang tidak berada di kelas, Jadi jangan terlalu formal denganku."

"Oh, be-begitu. Baiklah, Jaegerjaques sensei."

Oke, itu sedikit diluar dugaan Grimmjow. Dipanggil Jaegerjaques sedikit terasa aneh ditelinganya. Ibarat kata, kini Ichigo sedang memanggil nama orang 'itu'. Grimmjow kembali melanjutkan acara makannya yang tertunda sambil menenangkan gemuruh hatinya yang sedikit lebih berisik dari biasanya.

.

.

.

Makan malam? Sudah. Minum? Sudah. Ngobrol santai? Sudah. dan sekarang waktunya tidur.

Seharusnya sih gitu, tapi karena ada sedikit permasalahan dengan mereka 'siapa yang bakal tidur diranjang dan tidur di sofa' membuat mereka belum juga tidur. Salahkan Ichigo yang ngotot tidur di sofa walau kondisinya masih dikatakan kurang sehat. Masalah ini yang membuat seme tampan kita hampir frustasi dan tak berhenti berargumen pada sang jingga yang keras kepala.

"Anda tuan rumah, jadi anda berhak tidur dikamar anda sendiri, Jaegerjaques sensei."

"Justru karena aku tuan rumah, aku berhak menentukan siapa yang berhak tidur diranjang kamarku atau di sofaku. Kurosaki-san."

"Anda tidak perlu memperhatikan aturan itu, aku tak apa tidur di sofa. Lagian, sofa anda juga lumayan nyaman. Jaegerjaques sensei."

Oke, ini membuat urat Grimmjow semakin berkedut kesal. Mau melawan sampai pagi pun Grimmjow sadar dia tidak akan pernah menang. Dari dulu juga begitu.

"Baiklah. Kita tidur berdua dikamar. Aku tak bisa membiarkanmu tidur di sofa. Kau tidur diatas ranjang dan aku akan tidur dilantai dengan Fuuton."

"Anda mempunyai Fuuton? Kalau begitu, Fuuton-nya kupakai."

"Kau tidur diranjang. Kurosaki-san. Aku tak menerima bantahan"

Merasa kalah, Ichigo hanya diam menunduk. Ichigo merasa tak enak hati dengan kondisi dan situasi ini. Grimmjow adalah tuan rumahnya, tidak seharusnya dia tidur dilantai yang hanya beralaskan fuuton semata. Ichigo masih sadar diri kok.

"Sensei, aku tak keberatan bila kita seranjang."

Nak! Jangan buat cerita ini ganti rate. Baru juga chapter 3.

"Ma-maksudku ranjang ini besar, jadi muat untuk 2 orang dewasa bukan?"

Duh Ichi sayang, Polos jangan kelewat polos nak. Kasihan tuh seme tampan kita hampir gagal paham karena perkataan ambigaymu.

"Baiklah, Jika kau tak apa-apa dengan itu."

Ahem.

Grimmjow menerima tawaran Ichigo dengan lapang dada. Kini mereka beranjak ke atas kasur untuk segera mengistirahatkan tubuh dan pikiran mereka. Terlalu banyak yang terjadi di hari ini. Khususnya untuk Ichigo. Tubuh dan pikirannya memang butuh istirahat total dari kejadian yang menimpanya dihari ini. Oh, semoga besok lebih baik dari hari ini. Semoga saja.

Ichigo langsung terlelap dalam beberapa menit saja. Sedangkan Grimmjow masih terjaga di samping Ichigo. Melihat wajah Ichigo yang terlelap damai membuat hati Grimmjow sedikit lega. Grimmjow sadar, kini ia tertarik pada siswa manis yang sedang terlelap di sampingnya. Katakan ini takdir atau apalah, yang jelas Grimmjow tahu kalau pertemuan mereka bukanlah sekedar kebetulan semata.

Grimmjow terus menatap wajah cantik Ichigo yang terlelap. Ia menyibak sedikit poni yang turun diatas kening Ichigo dan Cup Grimmjow mendaratkan ciuman selamat malam untuk siswa manisnya.

"Oyasumi, Hime.."

Grimmjow berbisik lembut di telinga Ichigo yang dengan sialnya masih tertidur. Hah, Rugi sekali kamu nak.

Grimmjow pun menyusul Ichigo ke alam mimpi. Yang tentunya mimpi mereka bukanlah mimpi yang sama.

.

.

.

Pagi hari datang tanpa diundang. Dan mengganggu acara istirahat dua makhluk sejenis yang masih terlelap indah.

Yang pertama membuka mata adalah Grimmjow. Grimmjow melihat jam yang terletak diatas meja kecil didekat ranjang mereka tidur dan dengan santainya meletakkanya kembali tanpa minat.

'Untunglah hari ini minggu. Tidak ada kelas untuk dihadiri.'

Batin Grimmjow bercicit tanpa semangat. Tapi tidak lagi, karena ketika Grimmjow memiringkan badannya ke kiri ia bisa melihat siswa cantiknya masih setia terlelap dan enggan untuk bangun. Dan seringai Grimmjow tercetak jelas di wajah baru bangunnya.

Creak

Ranjang sedikit berdecit ketika Grimmjow mendekati sang Jingga manisnya. Grimmjow membelai lembut pipi Ichigo yang dingin. Tunggu, Dingin?

"Hei..!"

Grimmjow mengguncang tubuh Ichigo dengan sedikit panik. Ya, Grimmjow takut kalau terjadi apa-apa pada siswa manisnya ini saat ia masih terlelap.

Grimmjow terus mengguncang tubuh Ichigo. Dan usahanya membuahkan hasil.

"Ah, selamat pagi sensei.. ada apa dengan wajahmu yang ditekuk?"

Demi biola kecil kebanggaannya tuan krab! Grimmjow serasa mau melemparkan diri dari jendela apartemennya saat itu juga. Salah siapa wajah tampan Grimmjow ditekuk pagi-pagi begini? Ya. salahkan Ichigo, uke manis Jingga yang baru bangun dengan inosennya di dekapan tangan kekar Grimmjow.

"Wajahku di tekuk karena kau! Kenapa suhu tubuhmu menurun dipagi-pagi begini?!"

Grimmjow sedikit berteriak pada Ichigo. Jujur, itu hanya reflek kekhawatiran Grimmjow yang tak terbendung. Grimmjow yang dalam kamus besarnya tak mengenal kata 'Takut', kini merasakan sendiri apa itu 'Takut'. Dipagi-pagi hari begini pula. Siapa yang tidak sebel coba.

"Maaf.. ini memang sering terjadi sebelumnya. Maaf jika merepotkan dan membuat sensei khawatir"

Oh no. Pernyataan barusan telak mengenai 'heart' seorang Grimmjow Jaegerjaques. Bagaimana tidak? Pernyataan maaf dibarengi muka baru bangun tidurnya Ichigo itu bagaikan cobaan terbesar bagi Grimmjow bung! Plus dengan mata cinnamonnya yang berkaca-kaca. Duh, membuat Grimmjow kecil sedikit bangun.

Oke. Sebelum cerita ini beneran berganti rate, mari kita doakan bersama supaya Grimmjow kecil kembali tidur dengan semestinya. Amin.

Back to pasangan yang baru bangun ini. Grimmjow merasa sedikit bersalah karena meneriaki Ichigo yang baru bangun meminta maaf dengan sedikit bergumam.

Ichigo sebenarnya tidak marah dengan cara Grimmjow meneriakinya. Ia hanya kaget. Dan berujung dengan sedikit kesal. Ya, sedikit. Sadar akan matahari yang perlahan mulai meninggi, Grimmjow berinisiatif bangun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar.

"Kau mandilah dulu, Handuk ada dilemari dekat pintu masuk kamar mandi. Pakailah sabun ataupun shampo yang tertera di dalam kamar mandi. Aku mau menyiapkan sarapan dulu."

Titah Grimmjow bak ibu-ibu beranak dua. (maaf Grim! *sungkem*) Ichigo mengangguk tanda mengerti pada Grimmjow dan mulai berjalan ke dalam kamar mandi untuk mandi sebagai aktivitas awalnya dipagi ini.

Sementara Ichigo mandi, Grimmjow memasak apa yang bisa dimasak dari dalam kulkasnya sebagi sarapan pagi. Roti, telur, beberapa sayuran hijau, tomat dan ikan sardine kalengan. Grimmjow mengolah seluruh bahan yang menurutnya cukup untuk dijadikan sarapan mereka dipagi ini.

Disaat Ichigo selesai mandi, ia berjalan kearah dapur yang sudah dipenuhi dengan aroma yang susah dideskripsikan. Antara harum dan juga hangus. Ichigo berjalan terus hingga mencapai dapur. Bencana adalah kata yang dapat dideskripsikan saat itu.

Makanan yang hampir setengah gosong –ada juga yang sudah gosong- tertata rapi diatas meja. Ichigo melirik Grimmjow yang masih setia dengan acara masak –coret ekspresimennya dengan sedikit horror dan kasihan.

"Sensei.. anda mandilah, biar kubuatkan beberapa omelet untuk sarapan."

Ichigo mengambil alih pekerjaan Grimmjow yang masih sempat belum menjadi sebuah 'makanan'. Ichigo memulai dengan merajang bawang merah dan mencincang halus daging sapi. Lalu menumisnya dengan beberapa bumbu dapur. Grimmjow yang melihat postur Ichigo dalam memasak mengingatkannya pada sosok sang Hime. Grimmjow hanya tersenyum lembut dan berlalu ke kamar mandi. Sedikit air dingin untuk menenangkan pikiran dan perasaan akan Hime-nya tersebut mungkin tidaklah buruk.

(SKIP TIME)

Saat Grimmjow selesai mandi, ia mendapati aroma yang mampu membuat perut sixpack kebanggannya bercicit minta di isi. Grimmjow pun melangkahkan kakinya ke dapur untuk melihat apa yang sudah tersaji diatas meja makannya. Dan sedikit kaget dengan hasil yang dibuat oleh siswa jingganya. Dua piring nasi omelet dengan toping saus diatasnya dan acar timun sebagai pemanisnya. Dua kata yang terus terngiang di benak Grimmjow. Istri ah, bukan. 'Uke Idaman' adalah kata yang pas untuk Ichigo.

Grimmjow menarik kursi dan duduk dengan kalem sambil menatap maha karya yang dibuat siswa jingganya.

"Makanlah, mungkin tidak seenak yang direstoran, tapi lumayan untuk mengisi perut di pagi hari kok."

Ichigo datang dari dapur dengan dua gelas susu hangat. Ichigo meletakkan satu susu tersebut didepan Grimmjow dan satunya lagi untuk dirinya, lalu ia menarik kursi disamping Grimmjow dan mulai duduk dengan santainya.

"Apakah anda tidak lapar, Jaegerjaques sensei? Daritadi anda hanya menatap piring ini saja."

"Aku bukannya tidak lapar. Tapi aku memang lapar. Dan lagi, panggil namaku dengan Grimmjow."

Ichigo hanya mengangguk sebagai tanda meng-iyakan. Merekapun mulai makan dengan nikmat dan tenang. Selesai sarapan, Grimmjow melirik jam dinding yang berada dekat dengan meja makan mereka.

"Setelah ini kau mau kemana?"

Pertanyaan Grimmjow membuat Ichigo sadar. Ia tak bisa berlama-lama ditempat ini. Karena ini apartement senseinya. Tapi Ichigo yang tak tahu mau kemana tanpa sadar menggeleng dan membuat tuan surai biru kita yang gagah menyeringai untuk kedua kalinya di pagi ini.

"Aku dapat 2 tiket ke taman hiburan. Bagaimana kalau kita kesana?"

Modus tanpa batas ON! Ichigo yang binggung malah diam sambil menatap sang sensei dengan tatapan 'kau serius mengajakku kesana?' . yang dibalas dengan anggukan santai ala bangsawan ningrat versi Grimmjow.

.

.

Dan disinilah mereka, Di taman hiburan Vorlend's.

Ichigo dan Grimmjow yang memakai setelan modern ala anak remaja zaman sekarang. Untuk Ichigo sih boleh ber style ala anak remaja zaman sekarang. Tapi kalau Grimmjow? mengingat umurnya yang sudah.. ah lupakan. Di cerita ini semua dihalalkan oleh author. Asal mendukung untuk kemakmuran cerita ini.

Jadi disinilah meraka dengan keren dan stylish nya masuk ke taman hiburan mewah ini. Banyak wahana-wahana yang disajikan disana. Mulai dari yang biasa saja sampai yang luar biasa. Grimmjow menawari beberapa wahana sebagai pembuka. Dan Ichigo menyetujuinya. Wahana pertama yang mereka naiki adalah Water Spin Cup. Wahana gelas kopi berputar diatas air. Yang kedua adalah Roller Coaster. Oke, wahana ini agak mainstream untuk menjadi wahana kedua untuk dinaiki. Tapi tidak bagi kedua makhluk gagah bersurai mencolok ini. Awalnya Ichigo sedikit khawatir dengan wahana kedua ini. Kenapa? Karena dia melihat beberapa orang muntah dipojokan sana setelah naik wahana ular meliuk-liuk itu. Tapi setelah melihat senyuman –coret seringai Grimmjow, Ichigo jadi keki dan merasa tak boleh kalah dari orang berambut biru ini. Apa kata dunia coba, kalau laki-laki takut roller coaster.

Grimmjow menarik tangan Ichigo untuk berjalan dan berbaris untuk mengantri. Saat mengantripun Grimmjow tak melepaskan genggaman tangan mereka. Dan itu membuat jantung Ichigo sangat berisik didalam sana.

'Perasaan apa ini?'

Ichigo meremas baju dibagian dada kiri tempat jantungnya sedang berdentum keras. Ichigo terus menanyakan hal yang sama. 'Perasaan apa ini'. Perasaan yang tak begitu asing. Ichigo merasa kalau kondisi seperti ini pernah dialaminya sebelumnya. Ichigo terus memikirkan perasaan aneh yang menyelinap di benaknya. Ia yakin kalau dia melupakan sesuatu. Sesuatu yang sangat berharga yang membuatnya menjadi misteri dan tak bisa di ingat oleh Ichigo sendiri.

Terlarut dalam pemikirannya, kini giliran Grimmjow dan Ichigo untuk menaiki wahana ular meliuk-liuk itu. Grimmjow masih menggenggam tangan ramping Ichigo sampai kedepan wahana tersebut. Ichigo tersadar dari lamunannya dan mengikuti Grimmjow menaiki wahana tersebut. Mereka dapat tempat nomor 3 paling depan.

Saat mesin dinyalakan dan wahana tersebut mulai bergerak. Ichigo kembali memikirkan perasaan aneh yang sampai sekarang masih ada disana. Ichigo yang sibuk dengan pemikirannya tak menyadari kalau badan roller coaster telah mencapai titik puncaknya. Dan segera akan melesat turun. Sesaat sebelum wahana tersebut melesat turun, Ichigo menangkap suara Grimmjow yang mengatakan 'Tak apa, Aku disini.' Sontak Ichigo terbelalak dan beberapa adegan dimana seseorang berambut biru panjang berpakaian armor perang terlintas didepan mata Ichigo. Saat wahana tersebut meluncur dengan kecepatan yang luar biasa cepat disaat itu pula lah adegan tersebut berlangsung dan berakhir dengan seseorang berambut biru dan panjang tersebut memunggunginya sambil berkata 'Tak apa, aku disini.'

Grimmjow yang tak sedikit menikmati ke extreme-an wahana tersebut tak menyadari perubahan ekspresi wajah Ichigo. Ya, Ichigo kini berwajah bingung, bersalah, kecewa, dan lega. Saat wahana tersebut berhenti, Ichigo buru-buru melepas sabuk pengamandan beranjak pergi. Ichigo berlari ke toilet terdekat. Grimmjow yang melihat itu, mengikuti Ichigo santai dibelakangnya dan menunggu Ichigo keluar dari toilet. Didalam toilet, Ichigo membasuh mukanya yang kelihatan kusut. Wajah Ichigo kusut bukan karena wahananya yang ekstrim, tapi karena sesuatu yang melintas di ingatannya saat wahana tersebut meliuk-liuk ekstrim.

Setelah dirasa cukup dengan membasuh-basuh wajah. Ichigo keluar dengan memantapkan hati kalau ingatan tersebut hanya khayalan terpendamnya.

.

.

.

Disisi lain..

"Tuan, kenapa tidak anda temui pemuda itu sekarang?"

Tanya seorang pemuda berjas putih dan bersurai putih pada sosok berwibawa didepannya.

"Belum saatnya. Ini masih terlalu cepat untukku menemuinya. Kita lihat saja perkembangannya dulu."

Sahut sosok berwibawa tersebut sambil melihat dua pemuda bersurai berbeda yang sedang berbincang di dekat toilet pria.

Dua orang misterius tersebut berjalan menjauhi pemuda-pemuda yang menjadi perbincangan tadi. Dan salah satunya bergumam.

'Belum saatnya kau kembali padaku, nak.'

.

.

.

To Becontinued...

Ah! Adakah yang masih ingat dengan cerita ini? Oh ya, mungkin saja tidak. Mengingat rabbit yang hiatus super lama sekali -_-

For readers info's : Maafkan rabbit yang ngaret pake banget. Rabbit diburu tugas, ujian final, berakhir sakit dan pas mau publish cerita, laptop rabbit heng dan seluruh datanya ludes tanpa berbekas sama sekali. Jadi rabbit kepaksa ngulang dari awal lagi ngetik chapter ini. Tapi sekarang rabbit sudah dalam masa liburan, jadi kemungkinan Rabbit nggak ngaret lagi, mwehehehe... Jangan lupa Repiu ^w^)/

.

.

Review Please

.

.