.
.
Characters Disclaimer : Tite Kubo
Pair : GrimmIchi (Grimmjow x Ichigo)
.
Story's Credit To : B-Rabbit Ai
...
Warning(s) : Typos bertebaran, Alur kecepatan, terkadang OOC.
_Don't Like, Don't read_
Please Enjoy
AKU, KAU DAN MEREKA
.
.
.
Chapter 4. (Promise)
Satu harian bermain penuh dengan sensei penggantinya sedikit banyak membuat Ichigo lelah. Mencoba wahana – wahana yang tergolong cukup ekstrim memanglah butuh mental dan fisik yang kuat, seperti mental dan fisik seorang Grimmjow Jaegerjaques. Walaupun sudah sore begini, Grimmjow tak tampak begitu lelah, bahkan Ichigo berani bersumpah kalau dia sempat melihat Grimmjow menyeringai menantang begitu melihat wahana Tornado melayang bebas naik dan turun melawan gravitasi. Oh tuhan, sebegini lupakah sensei penggantinya pada umurnya yang tak tergolong muda itu? Atau memang seorang Grimmjow Jaegerjaques mempunyai stok energi yang berlebihan? Ah, Ichigo malas memikirkannya lebih lanjut. Ia yang kini duduk di sebuah bangku taman hanya bisa menghela napas lelah.
"Hanya segini saja semangatmu? Heh, payah.." Grimmjow melayangkan seringai meremehkan pada Ichigo yang kini sedang duduk lemas di bangku taman.
"Oh ayolah, Grim-sensei, kau tau sudah berapa banyak wahana yang kita naiki. Dan kebanyakan dari wahana yang kita naiki bukanlah wahana yang tergolong normal. Kau bahkan menyeretku menaiki roller coaster sebanyak tiga kali." Ichigo menyeruarakan isi hatinya sekaligus kekesalannya pada sang sensei biru-nya. Sedangkan objek yang dimaksud hanya memutar bola matanya bosan. Ichigo lagi-lagi menghela napas lelah.
"Grim-sensei, lihatlah langit... Sudah hampir gelap, kita harus kembali. besok kau dan aku harus ke kampus, bukan?"
Grimmjow memandangi langit lalu medesah lelah. "Kau benar. Kita harus kembali.."
Ichigo bangun dari bangku yang Ia duduki tadi, lalu berjalan mengikuti Grimmjow keluar gerbang utama taman hiburan Vorlend's. Ichigo berhenti sejenak ketika sampai didepan gerbang tersebut. Ia membalikan tubuhnya dan menatap indah wahana-wahana yang Ia dan Sensei-nya naiki tadi kini sudah berhiaskan lampu menyala disana-sini. Ichigo tersenyum, senyum yang sangat lembut. Betapa bahagianya Ia hari ini, menghabiskan waktu bersenang-senang bersama Sensei birunya. Ichigo memejamkan mata sejenak, dan berucap dalam hati sebagai permohonannya pada dirinya sendiri.
'...Semoga ini bukanlah yang terakhir...'
Ichigo membuka matanya secara perlahan. Ia kembali tersenyum dan memutuskan untuk kembali berjalan cepat keluar gerbang utama Vorlend's sebelum Grimmjow meneriakinya karena lelet dalam berjalan. Ichigo yang tak bisa menyembunyikan kegembirannya membuat dirinya secara terus menerus menyunggingkan sebuah senyuman dan sedikit tidak fokus pada apa yang didepannya.
BUGH
Ichigo sedikit tertolak kebelakang karena efek tubrukan dengan sesuatu yang keras didepannya. Tunggu, itu punggung seseorang yang dia tubruk.
"Kenapa kau tiba-tiba berhenti?" Grimmjow bergeming dengan mata fokus kedepan.
Ichigo berjalan kesamping Grimmjow untuk melihat apa yang membuat Grimmjow mendadak berhenti tanpa lampu pemberitahuan begini. (nak, anda kira Grimmjow itu mobil derek apa!)
Ichigo berjalan kesamping Grimmjow dan terbelalak melihat apa yang terjadi didepannya. Beberapa pria tinggi berbaju hitam dan putih sedang menghadang jalan mereka. Sebelah tangan Grimmjow refleks melindungi Ichigo dari keberadaan pria-pria didepannya.
"Grimmjow-sama, Tuan besar memanggil anda dan–... " Pria itu melirik ke arah Ichigo yang sedikit tertutupi lengan kokoh Grimmjow didepan tubuhnya.
"—Dan beliau meminta anda sekalian membawa tuan yang berada dibelakang anda untuk ikut serta."
Grimmjow mengenyrit tak suka, Ia membawa Ichigo melewati pria-pria berjas itu tanpa berkata apapun dan bergegas masuk kedalam mobil Grimmjow. Grimmjow menghidupkan mesin mobil dan melaju kenjang meninggalkan pria-pria tersebut.
"Beritahu aku dimana kau tinggal. Aku akan mengantarmu sekarang."
Ichigo mau tak mau mengatakan alamat kediaman Kurosaki pada Grimmjow. Ichigo sudah siap bila ia bakal kena amukan sang pemilik rumah Kurosaki tersebut karena sudah kembali tidak pulang dan memberi kabar.
.
.
Kini mobil Grimmjow sampai pada depan gerbang kediaman Kurosaki. Gerbang otomatis itu terbuka sempurna dan mempersilahkan mobil tersebut untuk masuk. Baru saja mengelewati gerbang, mobil Grimmjow diberhentikan secara paksa oleh pemuda berseragam –yang menurut Grimmjow mirip dengan seragam pilot itu. Ichigo yang tahu maksud dari pria yang berseragam disana yang mengapa memberhentikan mobil Grimmjow. Ichigo menurunkan kaca disampingnya dan mengeluarkan kepalanya agar dikenali sama pria didepan sana. Ya, benar. Pria itu mengenali Ichigo dan menunduk meminta maaf dan mempersilahkan mobil bewarna biru metalik itu kembali melaju menuju gerbang utama rumah Kurosaki.
"Berhenti.." Ichigo berucap tiba-tiba.
Grimmjow menurut, dan memberhentikan mobilnya sebelum sampai di gerbang utama rumah megah didepan sana. Ichigo tanpa aba-aba apapun, membuka pintu dan keluar dari mobil mewah Grimmjow.
"Terima kasih untuk kemarin dan hari ini, sampai nanti.. –Grim sensei" Ichigo sedikit tersenyum lelah pada Grimmjow, lalu berlari masuk ke dalam rumah megah Kediaman Kurosaki, meninggalkan Grimmjow yang memandang nanar pada punggung rapuh Ichigo.
'Hime... apa aku bisa menebus semua dosa ku padamu..?'
Grimmjow menggeleng cepat, dan segera memutar kembali mobilnya dan bergerak menjauhi kediaman megah yang ada didepannya tadi.
Grimmjow memacu mobilnya cepat untuk kembali kerumahnya. Bukan ke apartemennya, melainkan kerumah utama Jaegerjaquez. Grimmjow ingin memastikan satu hal pada orang yang dipanggilnya 'Tou-san'.
.
.
Sesampai Grimmjow di kediaman utama Jaegerjaquez, Grimmjow turun dari mobil yang diparkirkannya secara asal, dan masuk ke kediaman tersebut dengan langkah panjang.
"Dimana Tou-san?" Grimmjow bertanya pada pelayan yang menyambutnya di pintu utama.
"Tuan besar ada di ruangan kerjanya, –Tuan muda." Pelayan itu menunduk hormat saat Grimmjow melewatinya dalam diam.
Grimmjow berjalan dan menyusuri anak tangga satu persatu dengan gusar dan sedikit di hentak-hentak. Grimmjow terus naik dan sampai pada lantai teratas. Ia berjalan di koridor di lantai itu lalu berbelok ke kiri yang mana disitu hanya terdapat satu ruangan dengan pintu berhiaskan ornamen naga emas di sekeliling atas daun pintu tersebut. Grimmjow tanpa izin apapun masuk dengan membuka ruangan itu dengan sangat kasar sampai terdengar suara 'KREEEK' pada engsel pintu.
"Apa maksudmu ingin membawanya ikut serta kesini,.. –Tou san?"
Hanya terdengar suara kekehan dari mulut yang Grimmjow panggil Tou-san itu. Grimmjow hanya bisa menunggu sampai Tou-san nya berhenti terkekeh dan menjawab pertanyannya. Walau dalam hati Grimmjow sudah menyumpah serapahi kekehan laknat Tou-san nya.
"Tou-san hanya ingin mengenalnya lebih dekat. Karena Tou-san penasaran, seberapa hebat orang itu sehingga mampu membuat kau yang notaben anak Tou-san yang paling 'nakal' akrab dan bahkan bersenang-senang bersama di taman hiburan."
Orang yang dipanggil 'Tou-san' oleh Grimmjow itu, berbalik memandanginya dengan sorot mata yang tak Grimmjow ketahui maknanya.
"Tou-san harap, kau mau mengenalkannya ke semua saudaramu dan Tou-san."
Orang itu berjalan keluar ruangan dan meninggalkan Grimmjow yang berekspresi seolah-olah tak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.
'Dia...—Apa maksudnya? ' Batin Grimmjow nelangsa.
"Oh ya, besok kita akan kedatangan Tamu. –"
"—Teman lama Tou-san akan berkunjung kesini bersama keluarganya besok. Jadi kau tidak boleh kemanapun."
'SHIT!' Grimmjow berbatin ngenes. Grimmjow tak pernah mau berlama-lama di kediaman utama Jaegerjaques. Berada disini hari ini saja sudah menjadi rekor terbaik yang dicapainya. dan Tou-san nya dengan tanpa dosa megatakan –memerintah Grimmjow untuk tidak kemanapun sampe besok? Grimmjow akan menyumpah serapahi siapapun tamu yang berkunjung besok.
Oke kita tinggalkan Grimmjow dengan rencana sumpah serapahnya, kini kita beralih pada kediaman si manis Jingga.
===========================GrimmIchi=============================
Dikediaman Kurosaki saat ini bisa dikatakan aman dan terkendali. Pasalnya, tuan besar pemilik kediaman megah tersebut sedang tidak ada di tempat. Ichigo bisa bernapas lega karena hal ini, tapi tidak dengan situasi saat ini. Situasi saat ini bisa dikatakan sedang berada di ambang perpecahan perang dunia ke III. Adik-adik manis Ichigo sekarang lagi adu diam. Ya, adu diam. Bukan adu mulut atau adu bacot –kasarnya. Kedua adik Ichigo yang manis ini sedang diam, ngambek. Ichigo tak harus capek capek mencari tahu apa pokok yang mereka permasalahkan sehingga samapai berdiam-diaman begini. –Anime, adalah permasalahannya.
"Ada apa dengan atmosfir kuburan ini? Kalian bertengkar lagi?.." Ichigo mencoba mengambil perhatian dari mereka, namun naas, mereka tetap cuek.
"Oh, ayolah... ada apa dengan kalian, kalian tak mau menceritakannya padaku?.." Ichigo kembali berusaha untuk mendapatkan perhatian.
"Karin mengataiku nijikon!" Yuzu angkat bicara dengan nada tinggi.
" Tapi memang kenyataaanya kau begitu!" kini Karin yang menyahut dengan nada tak kalah tinggi.
"Tapi kau tak harus mengataiku dengan semena-mena! Aku benci karin!" Yuzu menyudahi adu mulut mereka dengan berlari ke kamarnya di lantai dua. Meninggalkan Karin dan Ichigo yang masih shock di ruang keluarga –Lantai satu.
"Yuzu! Tu-Tunggu!.." Karin yang tersadar pertama kali, langsung melesat mengejar adik kembarnya. Ichigo yang kemudian sadar karena Karin yang berlari melewatinya hanya bisa menghela napas lelah. Ia 'pun menduduki sofa dibelakangnya. Ichigo mengadahkan kepalanya ke atas, memperhatikan lampu-lampu hias yang bergelantungan cantik disana. Lalu ia kembali menjatuhkan pandangannya pada figura besar yang tergantung indah di dinding sisi kanannya. Ichigo beranjak dari sofa dan mendekati figura tersebut.
" Ibu.. Aku rindu.." Ichigo tersenyum sendu dihadapan figura yang befoto –kan seorang wanita cantik bersurai Oranye, –sama dengannya. Ichigo terus menatap foto wanita itu sampai ia mendengar seseorang berdeham dibelakangnya.
"Maaf mengganggu anda, tapi anda mendapatkan telepon dari.. –Tuan besar.."
Ichigo diam, tapi detik berikutnya ia berjalan kearah telepon yang di tunjuk pelayan tadi.
"Ha-Hallo... " Ichigo berucap gugup.
"Ichigo..."
Gulp.
Ichigo menelan ludah paksa begitu mendengar suara berat sang penelepon.
"I-Iya.. A-Ayah..." Ichigo menyahut gugup, tanpa sadar ia menggenggam pegangan telepon dengan erat.
"Bisakah kau menungguku malam ini? Aku ingin berbicara sesuatu denganmu.."
"um.." Ichigo mengangguk mengerti. "Akan ku tunggu di ruang keluarga sampai ayah pulang nanti..." Ichigo melanjutkan kalimatnya tanpa rasa gugup.
"Baiklah.. Terima kasih.." sambungan diseberang sana diputus. Dan meninggalkan si penerima bengong. Ichigo bengon –lebih tepatnya kaget karena ucapan 'Terima kasih' yang ayahnya yang menurut Ichigo ini kali pertama ayahnya mengucapkan kalimat itu pada dirinya setelah Ibu angkatnya meninggal. Jelas saja Ichigo terserang shock.
...
Sementara itu, ditempat Kurosaki Isshin...
Isshin menutup telepon dan memejamkan matanya sejenak. Jujur, ia sangat lelah saat ini. Lelah memikirkan semua yang terjadi padanya, dan pada keluarganya. Tapi yang membuatnya lebih terasa lelah lagi adalah memikirkan nasib Putra angkatnya, tidak, Ichigo memang putra angkatnya di masa sekarang, Tapi tidak dimasa lalu. Walaupun begitu, Isshin tetap menganggap Ichigo yang sekarang tetap Putra kandungnya.
Kalian tentu bertanya-tanya apa maksud Isshin mengatakan Ichigo adalah putranya di masa lalu, bukan? Yah, bisa dikatakan kalau Isshin mengingat kehidupan lampaunya. Ingatan kehidupan masa lalu yang begitu kelam. Begitu menyakitkan dan penuh dosa. Isshin mengingat itu semua sejak almarhum istrinya mengadopsi Ichigo kecil.
Isshin membuka kembali matanya yang terpejam sejenak. Isshin memandang figura kecil yang tersampir rapi diatas meja kerjanya. Ia memandang sendu figura yang berfotokan keluarga kecilnya dulu, lengkap bersama Ichigo kecil. –begitu bahagia.
"Aku melukai –nya, Misaki. aku bukan ayah yang baik. aku menghancurkan janjiku sendiri.." Isshin mengungkapkan segala penyesalannya pada sosok wanita bersurai jingga didalam figura tersebut. Setetes air mata lolos dari pelupuk matanya. Isshin hanya bisa tersenyum miris pada keadaannya yang sekarang. Keadaan dimana seorang ayah yang telah berjanji melindungi anaknya, malah berakhir melukainya. Isshin berdiri dari tempat duduknya, membereskan berkas-berkas yang ada diatas meja dan memasukkannya kedalam tas kantornya, kemudian Ia berjalan meninggalkan kantornya untuk kembali pulang ke kediamannya.
Sesampai Isshin dikediamannya, ia langsung menuju ruang keluarga. Isshin hanya ingin bertemu Putranya dan memeluknya. Menyeruakan rasa bersalah dan penyesalan karena melukai Putranya, baik secara mental maupun fisik. Isshin terus berjalan ke ruang keluarga tanpa menyahut sapaan-sapaan para pelayannya.
"Ichigo..." Isshin langsung memanggil putranya begitu Ia menginjakkan kakinya di ruang keluarga.
"A-ayah..." Ichigo menjawab sapaan ayahnya dengan sedikit gugup, tanpa sadar ia pun berdiri dari tempat ia duduk.
Isshin melangkahkan kakinya mendekati Ichigo, Isshin mengambil tempat disamping Ichigo berdiri, lalu duduk tepat disofa yang berada di belakangnya. Isshin menarik tangan Ichigo lembut untuk duduk disampingnya. Ichigo 'pun mengikuti isyarat ayahnya.
"A-ayah... ingin berbicara a-apa?.." Ichigo bertanya ragu pada Isshin.
Isshin melakukan pergerakan yang membuat Ichigo membelalakan matanya, –Isshin memeluknya. Memeluknya erat, seakan-akan Ichigo akan pergi jauh bila Isshin melonggarkan pelukannya sedikit saja.
"Ayah...?" Ichigo kembali bertanya pada sosok yang sedang memeluknya.
"Hukum Ayah, Ichigo... Hukum Ayah.." Isshin terus memeluk Ichigo tanpa kenal hari esok
Ichigo membalas perkataan ayahnya dengan senyuman. Ichigo mengerti maksud dari kata Hukum yang ayahnya lontarkan, maka dari itu Ichigo membalas perkataan ayahnya dengan sebuah pelukan juga.
"Tidak ada yang harus di hukum, Ayah.. Tidak ada."
Isshin menangis dalam dekapan putranya. Menangisi apa yang telah diperbuatnya selama ini. Tujuh tahun Isshin mengabaikan Ichigo, tapi Ichigo tak pernah sekalipun menaruh amarah pada dirinya. Dia yang membuat Ichigo kecil kesepian, Dia yang membuat Ichigo kecil terkurung dan terabaikan, Dia yang membuat Ichigo kecil terluka. Dia pantas di hukum. Tapi Ichigo tak melakukannya. Ichigo tetap memaafkannya. Isshin hanya bisa sesungukan menangisi apa yang telah diperbuatnya selama ini, dan memeluk erat Putra tersayangnya.
"Ayah... Sebaiknya Ayah istirahat dikamar, ini sudah larut. Ayah butuh istirahat."
Lihat, bahkan Ichigo begitu perhatian padanya. Isshin yang mendengar perkataan Ichigo, hanya bisa menghela napas dan melepas pelukannya. Ia menghapus kasar air mata yang ada di wajahnya dengan punggung tangannya. Lalu Isshin menakupkan kedua tangannya ke wajah Ichigo.
"Kau juga harus istirahat, Ichigo. Ayah tak menerima penolakan." Setelah berkata begitu, Isshin mengusap lembut surai Jingga Ichigo. Sedangkan Ichigo hanya mengangguk dan tersenyum sumingrah dengan rona merah muda tipis yang tercetak di wajah manisnya. Membuat sang empunya terlihat berkali kali lipat lebih manis
Ichigo permisi pada sang Ayah dan berjalan ke kamarnya di lantai di hentikan oleh perkataan ayahnya.
"Besok ikutlah dengan Ayah ke kediaman teman lama Ayah." Ichigo hanya mengangguk mengerti dan kembali berjalan ke arah kamarnya yang dilantai dua. Dan Isshin berjalan ke lantai tiga. Sebelum Ichigo memasuki kamarnya, Ia mendekati kamar adiknya yang berada di lantai yang sama dengannya. Ichigo mendekati telinganya ke daun pintu kamar adiknya untuk mendengar sesuatu disana. Dan benar saja, terdengar suara seseorang seperti sedang meminta maaf dan juga merayu –mungkin. Ichigo hanya tersenyum maklum. Ia tahu kalau salah satu adiknya sedang berusaha meminta maaf pada yang satunya. Ichigo pun menjauhi telinganya dari daun pintu itu dan kembali berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat. Setelah masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuh lelahnya diatas ranjang King Size nya, Ichigo sedikit memutar memori akan kejadian- kejadian yang menimpanya hari ini. Mulai dari masak di apartemen senseinya, bermain di taman hiburan, dan berakhir dengan ayahnya yang kembali membuka hati dan menyayanginya, Ichigo hanya bisa menebar senyum di wajah manisnya. Senyum bahagia tentunya. Ichigo mengatur tubuhnya untuk segera tidur setelah mengenang apa yang terjadi padanya hari ini, dan ia memejamkan mata untuk segera tertidur. Tak lupa pula berdoa pada Tuhan agar besok dan seterusnya, hidupnya akan lebih membaik.
Tak lama Ichigo selesai berdoa, ia pun terlelap damai didalam tidurnya. Melupakan kelelahan pada tubuh dan pikirannya. Ichigo tidak tahu, bahwa sang takdir akan mulai kembali mempermainkannya.
.
.
To Be Continued,...
==================================================Grimmichi====================================================
Pojok Author ;
Maaf banget rabbit ngaret updatenya. sekali lagi maaf. buat yang udah setia nungguin ceritanya rabbit, rabbit berterima kasih sekali.
dan bagi yang baru bergabung baca di ceritanya rabbit, rabbit juga berterima kasih karena sudah sempat meluangkan waktu membaca karyanya rabbit.
sekali lagi terima kasih, dan mohon untuk kedepannya selalu dukung rabbit.
Mind to Review about this Story?
