.

.

Characters Disclaimer : Tite Kubo

Pair : GrimmIchi (Grimmjow x Ichigo)

.

Story's credit to B-Rabbit Ai

...

Warning(s) : Typos bertebaran, Alur kecepatan, terkadang OOC, EYD hancur.

_Don't Like, Don't read_

Please Enjoy

AKU, KAU DAN MEREKA

.

.

.

Chapter 5 (Meeting)

Pagi itu, Grimmjow ingin memulai rencana sumpah serapah yang dirancangnya kemarin sore saat mendengar deru sebuah mobil memakirkan diri didepan rumah utama Jaegerjaques di waktu sepagi ini. Sungguh, Grimmjow sedang dalam keadaan worst mood sekarang. lihat saja kamarnya yang bisa dikatakan mirip medan perang, beberapa perabotan rusak, pecahan vas bunga, bantal-bantal yang koyak, cermin dinding retak, selimut dan seprai yang tidak pada tempatnya, ah.. sungguh mendiskripsikannya saja sudah melelahkan.

Grimmjow cuek melihat keadaan kamarnya. Toh, nanti pelayan yang akan membereskannya. Grimmjow berjalan mendekati sebuah jendela besar yang terdapat dikamarnya, membuka sedikit gordennya, lalu mengintip dari sudut sisi kanan jendela. Mengintip siapa yang datang pagi-pagi begini ke kediaman utama Jaegerjaques. karena setahu Grimmjow, saudara-saudaranya sudah berada semua di dalam kediaman ini sejak kemarin sore. Lalu, siapa orang-orang yang disana? Apa tamu ayahnya kah? Mungkin saja. sebab wajah orang yang pertama kali keluar dari mobil tersebut sangat asing dimata Grimmjow. Seorang lelaki paruh baya bersurai hitam dan tampak begitu berwibawa keluar pertama kali dari mobil tersebut. Lalu disusul dengan seorang anak remaja perempuan bersurai coklat muda dengan menggendong sebuah boneka kelinci ditangannya, kemudian seorang remaja perempuan lainnya yang bersurai hitam juga ikut turun dari mobil. Mereka yang turun dari mobil tampak sedang berargumen sesuatu, dan itu membuat Grimmjow sedikit penasaran. Grimmjow kembali melempar pandangannya pada sebuah pintu mobil yang terbuka di sisi lainnya, menampakkan seseorang akan turun dari sana. Grimmjow penasaran pada orang yang akan turun selanjutnya dari mobil itu, tapi rasa penasaran Grimmjow teralihkan pada suara pintu kamar yang diketuk. Dengan rasa ogah-ogahan, Grimmjow melangkahkan kakinya ke arah pintu yang diketuk –sambil menghindari pecahan beling disana sini—, Grimmjow meraih kenop pintu dan membukanya.

"Tuan besar memanggil anda untuk segera turun ke meja makan 5 menit lagi, karena tamu sudah sampai. Tuan besar juga berpesan, kalau tuan besar tidak mau menerima penolakan." Jelas si pelayan wanita dengan menunduk kalem.

"Hm.." hanya itu jawaban yang Grimmjow berikan sebelum pintu kamarnya kembali ditutup.

Memang tidak sopan.

.

Grimmjow kembali melangkah mendekati jendela, ingin melihat siapa orang yang akan turun dari mobil yang tadi. Tapi sayang, orang tersebut mungkin sudah turun dan masuk kedalam rumah ini. Sebab Grimmjow hanya melihat sebuah mobil yang pintunya sudah tertutup dan tak berpenghuni. Grimmjow hanya mengedik bahu singkat lalu masuk ke kamar mandi untuk bersiap-siap.

Waktu yang digunakan Grimmjow untuk bersiap-siap tidaklah lama, Ia mandi dan berpakaian menggunakan waktu super kilat. (Hebat bukan?) Grimmjow keluar dari kamarnya dan berjalan menuju tangga yang terhubung ke lantai satu. Grimmjow menuruni anak tangga tersebut dengan elegan, bak bangsawan romawi yang sedang tebar pesona.

Tap

Tap

Tap

Grimmjow sampai pada anak tangga terakhir, yang artinya dia sampai di lantai satu. Dia mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru area sekitar, melihat para pelayan pada sibuk berlarian. Grimmjow bisa menebak apa yang mereka sibukkan, sudah pasti tamu ayahnya yang sampai tadi pagi. Grimmjow kembali berjalan menuju ruang makan dengan cuek dan tampang datar tak peduli. Melewati beberapa pelayan yang menyapanya dengan ucapan selamat pagi dan berakhir menelan kekesalan karena sapaannya tidak digubris sama sekali.

(Udah tahu Grimmjow cuek, kenapa disapa segala? Mbak pelayannya pengen di notis Bang Grim? Sadar diri mbak, Bang Grim udah punya Ichi. *author ditabok*)

Grimmjow terus berjalan sampai pada tujuannya. Lebih tepatnya 20 meter dari tujuannya, Karena tiba-tiba saja Grimmjow diam ditempat saat menyadari warna surai-surai yang asing dimatanya sedang duduk manis di meja makan –yang menurutnya berukuran kelewat panjang—itu. Grimmjow masih diam ditempat, tapi sedetik kemudian dia disadarkan oleh suara berat otou-san—nya.

"Kenapa kau hanya berdiri disana? Mendekatlah, Tou-san akan memperkenalkan mereka padamu." Ajak –perintah—nya.

Grimmjow melangakah bagai robot usang yang yang kekurangan oli pelicin,—Kaku. Grimmjow terus berjalan walau cara jalannya sedikit aneh. Dia berjalan mendekati bangku yang masih kosong, menariknya dan duduk diatasnya. Hening melanda, dan suasana menjadi awkawrd. Grimmjow hanya memandang piring kosong didepannya dengan datar. Dia gugup saat ini. Gugup karena dipandangi seseorang yang berparas familiar sedang duduk diseberangnya, menuntut penjelasan.

Gulp

Grimmjow menelan ludahnya paksa, tenggorokannya tiba-tiba serasa kering kerontang. Dia melirik ke kanan pada saudaranya yang berparas Emo untuk memintanya membuka pembicaraan. Yang dilirik malah memalingkan muka.

'Fuck you Ulquiorra!'

Batin Grimmjow nelangsa. Diliriknya saudara-saudara lainnya, tapi semuanya melakukan hal yang ulquiorra lakukan—memalingkan muka.

TWITCH— Urat kekesalan muncul diwajah Grimmjow.

Kini Grimmjow melayangkan lirikannya pada Tou-san—nya, berharap penuh kalau Tou-san—nya akan menolongnya keluar dari situasi mencekam ini. Tapi yang diharap malah menutup mulutnya sambil menoleh kesamping menahan tawa. Demi rambut pink sepupunya yang sedikit ngondek, Grimmjow merasa kesal. Sangat teramat kesal. Dan bersumpah akan membunuh saudara-saudaranya suatu hari nanti –Termasuk Tou-san—nya.

Saat Grimmjow ingin membuka suara, tiba-tiba suara Tou-san—nya menginterupsi.

"Bagaimana perjalanan kalian? Pasti melelahkan ya?" Suara khas pria paruh baya menggema di ruangan itu.

"Tidak juga, tapi yah, memang melelahkan. Tapi tidak se-melelahkan yang dipikirkan kok! Hahaha..." suara seorang pria paruh baya lainnya menyahut.

"Hm, begitu... lalu, siapa malaikat-malaikat yang datang bersamamu ini?" si Pria paruh baya satunya kembali bertanya.

Sedikit berdeham, "Mereka Putri dan Putraku yang kuceritakan padamu kemarin." lalu pria paruh baya lainnya menjawab dengan senyum bangga.

"My my, you have such cute kids." Pria paruh baya yang satunya mengomentari, dan dijawab dengan seringai bangga dari lawan bicaranya.

Sedangkan penonton yang lain pada melongo hebat menatap dua pria paruh baya tersebut tengah mengobrol asik dan melupakan mereka.

Ahem

Grimmjow berdeham keras mengintrupsi.

" Ara,.. aku lupa mengenalkan malaikat-malaikatku."

Grimmjow bergidik horror mendengar kata 'malaikat' yang keluar dari mulut Tou-san—nya.

"Perkenalkan ini anak-anakku. Anak tertua Nelliel, lalu Ulquiorra, dan yang paling bungsu Grimmjow." Menunjukkan objek yang dikenali satu persatu.

"Hahaha.. anak-anakmu menarik Aizen!" yang dipanggil Aizen hanya menyunggingkan senyum bangga pada pria paruh baya disana. Sedangkan pria paruh baya yang dimaksud hanya cengar cengir sebagai tanggapan.

"Sekarang giliranku heh? Oke, aku mulai dengan anak tertuaku, Ichigo, lalu si kembar Yuzu dan Karin" si Pria paruh baya satu ini juga tak mau kalah, dan menunjuk satu-persatu anak-anaknya. Dan anak-anaknya menunduk hormat sebagai salam pada sosok yang dipanggil Aizen beserta para anggota keluarga yang duduk di meja makan tersebut. Semuanya membalas salam yang diberikan sang tamu dengan kalem. Setelah membalas salam, para pelayan datang dengan berbagai macam makanan. Menata makanan tersebut dengan rapi, lalu mengundur diri untuk kembali ke dapur. Sang tuan rumah –Aizen, mempersilahkan para tamu dan keluarganya untuk makan. Dan acara makan-memakan 'pun dimulai.

.

.

Dentingan suara sendok dan piring terdengar merdu menghiasi suasana sarapan pagi mereka. Semua yang berada di meja makan menikmati hidangan yang tersaji dengan khidmat. memakan, mengunyahnya tanpa suara, dan menelannya perlahan. Semua dilakukan dengan tata krama yang bagus. Aktifitas sarapan pagi mereka berlangsung kurang lebih satu jam. Karena hari ini hari libur, dan kedatangan tamu spesial, sang tuan rumah memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak dengan keluarga dan para tamunya. Sekedar bersantai di taman belakang mungkin bukan ide yang buruk.

Selesai dari sarapan, Aizen menuntun tamu dan keluarganya untuk bersantai di taman belakang Manor House Jaegerjaques. Mereka berjalan beriringan dengan dua kepala keluarga didepan sebagai pemimpin rombongan, lalu diikuti oleh para anggotanya dibelakang. Di barisan paling belakanglah terasa aura yang sedikit mencekam. Tidak se-mencekam aura-aura pembunuh bayaran yang siap membunuh mangsanya, tapi cukup mencekam untuk membuat nyali seorang Grimmjow ciut.

"Jadi, bisakah anda menjelaskan semua ini, GRIM-SENSEI?." Tanya salah seorang yang berada di barisan paling belakang kepada orang disampingnya—yang berada di barisan paling belakang juga—dengan aura yang sulit di jelaskan.

"Jangan tanyakan padaku Ichigo, aku juga tidak mengerti dengan situasi ini." Jawab Grimmjow pada partner jalan disampingnya.

"Bukan itu maksudku! Maksudku, kenapa kau dan Ulquiorra-sensei bersaudara?!" Ichigo sedikit meninggikan suaranya. Dan membuat Grimmjow sedikit mengangkat sebelah alisnya.

"Memang ada yang salah kalau aku bersaudara dengan dia?" Tunjuk Grimmjow pada orang yang berada tepat dibelakang Tou-san—nya.

"Ti-tidak sih... aku –hanya terkejut saat melihat kau ternyata adik kandung dari Ulquiorra-sensei." Terang Ichigo dengan sedikit menundukkan kepalanya. Grimmjow yang melihat itu menaikan lagi sebelah alisnya.

'Apa salah menjadi saudara dari si Emo itu?'

Batin Grimmjow bertanya-tanya, dan tidak mengalihkan sedikitpun pandangannya dari Ichigo. Hening tercipta, dan keduanya tak berniat untuk bersuara. Perjalanan menuju kebun belakang Manor House Jaegerjaques ini pun akhirnya harus berakhir. Dan disinilah mereka. Di kebun belakang Manor House Jaegerjaques.

Ichigo memandang pemandangan yang tersaji didepannya dengan kagum. Kebun belakang Manor House-ini sangat luas, Tapi juga elegan. Berbagai bunga tulip dan mawar menghiasi sisi kanan dan kiri kebun, terdapat beberapa pohon besar yang rindang sebagai tempat berteduh dari menyengatnya matahari, ada beberapa bangku taman, beberapa pondok kecil, air mancur sebagi central objek, sebuah kolam yang tidak begitu besar dan terdapat jembatan kecil diatasnya. Juga ada ayunan gantung di salah satu pohon besar yang rindang disana. Para kepala keluarga melangkahkan kaki mereka kesalah satu pondok yang lumayan besar. Mereka duduk berhadapan disalah satu bangku disana, dan mulai mengobrol satu sama lain. Karin dan Yuzu sedang bermain dengan Neliel sambil memetik bunga, ditemani Ulquiorra juga. Sisanya –Ichigo dan Grimmjow, berjalan kearah jembatan yang terdapat kolam ikan dibawahnya. Mereka berhenti tepat ditengah jembatan.

"Ne, Grim-sensei. Apakah kau percaya dengan kehidupan masa lalu?" Ichigo tiba-tiba bertanya.

"Entahlah. Kalau kau?" Grimmjow melirik orang disampingnya.

"Aku percaya— " Ichigo menjawab santai sambil mengadahkan kepalanya menatap langit.

"—Aku percaya bahwa kehidupan yang sekarang ada, karena kehidupan masa lalu." Ichigo melanjutkan kata-katanya. Dia tersenyum lembut pada birunya sang langit.

"Kenapa—" Grimmjow ingin menanyakan alasan mengapa Ichigo mempercayai kehidupan masa lalu itu. Tapi sebuah ringisan tertahan dari Ichigo membuat Grimmjow membatalkannnya.

"Kau tidak apa-apa?" Grimmjow menahan pundak Ichigo agar tidak oleng ke sisi lain.

"Hey Ichigo!" Grimmjow sedikit panik mendapati Ichigo tak menggubris pertanyaannya, dan sedikit menggoncangkan tubuh Ichigo.

"Aku tidak apa-apa Grim-sensei. Maaf membuat anda khawatir." Ichigo menyunggingkan sebuah senyuman manis pada Grimmjow, menandakan Ia baik-baik saja.

"Kau Yakin?" Tanya Grimmjow memastikan. Dan dijawab dengan sebuah anggukan mantap dari Ichigo. Melihat Ichigo yang sedikit pucat, membuat Grimmjow meraih tangan Ichigo dan berjalan membimbingnya untuk duduk disalah satu bangku taman yang tertutupi rindangnya pohon besar. Grimmjow menundukkan Ichigo di bangku taman tersebut, dan dirinya sendiri juga ikut duduk disebelah Ichigo. Tangan Grimmjow membawa kepala Ichigo untuk menempel pada bahu kanannya yang tegap.

"Istirahatlah. Kau membutuhkannya." Ujar Grimmjow disaat Ichigo ingin menarik kepalanya dari bahu kanan Grimmjow. Tapi tak jadi dilakukan Ichigo berkat perkataan yang Grimmjow lontarkan.

"Grim-sensei—" Grimmjow memalingkan wajahknya ke arah Ichigo.

"—Arigatou." Lanjut Ichigo dengan mata terpejam dan senyum menghiasi wajah manisnya. Grimmjow yang melihat itu juga ikut tersenyum dan merangkul bahu mungil Ichigo dari samping dengan lembut. Grimmjow mengadahkan wajahnya ke langit. 'Apakah aku bisa menebus semua dosaku padamu. –Hime?'

.

.

.

Di sisi lain, nampak dua pasang mata sedang memperhatikan kegiatan yang dilakukan Ichigo dan Grimmjow dengan ekspresi yang sulit di artikan.

"Aizen, menurutmu bagaimana? Apa harus aku sembunyikan Ichigo diluar negeri?" Tanya salah seorang bersurai Hitam pada lawan bicaranya.

"Itu tindakan sia-sia Isshin. Kau tahu 'kan, bahwa mereka juga mulai bergerak. Itu artinya menyembunyikan Ichigo di ujung dunia sekalipun akan menjadi sia-sia." Jawab Aizen menjelaskan.

"Aku tahu. Tapi tetap saja, aku tak ingin kejadian itu terulang lagi. aku tak ingin kehilangan Ichigo untuk kesekian kali. Dia putraku." Isshin menyahut dengan lirih.

Aizen yang mendengar itu pun merasa sedikit tak tega. Ia menaikan kacamatanya yang sedikit melorot, lalu memandang Isshin serius.

"Disini bukan hanya aku, kau dan mereka yang memiliki ingatan itu. Tapi Grimmjow juga. Berterima kasihlah pada kekuatan Ichigo dimasa lalu. Dia mengikat Grimmjow untuk terus selalu mengingat kejadian itu sampai Ichigo sendirilah yang akan memutus kekuatan itu kelak." Ujar Aizen lugas.

"Sejujurnya aku tidak terlalu terkejut dengan berita ini. Melihat jendral kepercayaanmu berenkarnasi menjadi anak kandungmu di masa ini, itu bukan hal mustahil. Tapi yang membuatku terkejut, kenapa Ulquiorra dan Neliel juga menjadi anakmu?! Mereka petarung handal dimasa lalu, sama dengan Grimmjow. Apa kau berniat membuat pasukan baru dimasa ini untuk membalaskan dendam masa lalu mu, heh?" Ujar Isshin sarkastik meremehkan.

"Seharusnya kau berterima kasih karena mereka terlahir sebagai anak-anakku di masa ini. Jika tidak, kau akan kesulitan melindungin putra cantikmu itu." Balas Aizen tak kalah sarkastik.

"—prrfftt ... hahaha... Maaf maaf, aku hanya bercanda. Jangan dibawa serius Aizen—" Isshin nyengir tanpa dosa pada lawan bicaranya.

"Aku percaya padamu Aizen. Kuharap kau tidak membuat semua terulang seperti waktu itu." Isshin menatap Aizen sebentar lalu menatap birunya langit.

"Kau tahu, Kehilangan itu menyakitkan.." Isshin melanjutkan kata-katanya.

"Aku tahu." Jawab Aizen lirih.

.

.

.

Grimmy...

Grimmy...

Grimmy! Jawab aku! Dimana kau!

Hime—

Grim... Kau tidak apa-apa?

JLEB

Grim?

.

.

Ichigo terbangun dari tidurnya. Keringat dingin keluar dari tubuhnya. Ichigo tak tahu apa itu yang barusan. Mimipikah? Tapi itu terlihat sangat nyata. Ichigo mencoba mengatur nafasnya yang sedikit memburu, dan menenangkan jantungnya yang sedang berdegup kencang, menarik nafas lalu membuangnya. Menarik lagi, lalu dibuang lagi. Ichigo melakukannya sampai beberapa menit hingga diapun sedikit kembali tenang. Ichigo melirik kearah kirinya, dan terlihat Grimmjow yang sedang tertidur nyenyak dengan sebelah tangannya memangku wajahnya. Ichigo terkekeh, dan tanpa sadar menyentuh ujung hidung mancung Grimmjow dengan ujung jari telunjuknya.

Merasa sesuatu menyentuh hidungnya, Grimmjow membuka matanya dengan setengah hati—masih ngantuk, dan terlihat sebuah jari bertengger diatas ujung hidungnya. Tak lama dia melihat jari tersebut, sebuah sentilan dilayangkan oleh jari itu. Dan disusul dengan kekehan lembut dari seseorang disampingnya.

"Apa salah hidungku?!" Grimmjow menyeruarakan sedikit kekesalannya.

"Tidak ada..." masih terkekeh. Ichigo menjawabnya dengan masih terkekeh.

Grimmjow yang sedikit kesal dengan kekehan Ichigo, membalas sentilan yang diberikan Ichigo ke hidungnya sendiri. Ichigo meringgis dan memegang ujung hidungnya. Kemudian mendelik pada Grimmjow dengan wajah yang masam.

"Jangan menatap masam kearahku. Itu ulahmu sendiri." rutuk Grimmjow santai sambil menyilangkan lengannya didepan dada.

"Tch..." Ichigo sedikit mendecih gemas. Lalu kembali mengelus ujung hidung yang terkena sentilan maut Grimmjow.

Suana hening melanda.

Namun, tiba-tiba Grimmjow menarik lengan Ichigo dan berjalan kearah dua kepala keluarga yang sedang bercengkrama tak jauh dari tempat mereka beristirahat tadi.

"Tou-san. Aku pergi keluar sebentar dengan anak ini." Izin Grimmjow pada Tou-san-nya.

Namun sebelum Aizen –Tou-san—nya menjawab, Grimmjow sudah melenggang pergi sambil menarik (baca : menyeret paksa) Ichigo bersamanya. Aizen dan Isshin hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum melihat kelakuan mereka.

.

.

"Kita mau kemana Grim-sensei?"

"Berhentilah memanggilku dengan sufix sensei. Panggil aku Grimmjow." sergah Grimmjow pada perkataan Ichigo disaat ia akan menjalankan mobil.

"Oke Grimmjow. Kita mau kemana?!" Ichigo bertanya sedikit tidak sopan dan membuat Grimmjow mengenyrit tak suka.

"Nanti kau akan tahu." Grimmjow menutup percakapan mereka dan menjalankan mobilnya diatas kasarnya aspal.

Mobil melaju dengan kecepatan diatas rata-rata. Walau tidak terlalu kencang untuk sampai membuatnya dikejar-kejar polisi lalu lintas, tapi cukup kencang untuk membuat jantung Ichigo hampir copot dari tempatnya. Grimmjow melirik sekilas ekspresi panik Ichigo, lalu tersenyum puas. Grimmjow terus melajukan mobilnya ke arah tujuan yang dimana hanya dia seorang yang tahu. Tapi mungkin bukan dia seorang yang tahu. Karena benang merah takdir kehidupan mereka kembali mengetat dan mulai menampakkan warnanya.

.

.

.

DISCONTINUED

.

.

Hola~, chapter 5 up! Ah, masih adakah yang ingat rabbit?

Ah well, makasih buat yang masih membaca karyanya rabbit. Dan selalu nyuport rabbit. Rabbit cinta kalian!

Oke, jangan lupa ripiu ya~