.
.
Characters Disclaimer : Tite Kubo
Pair : GrimmIchi (Grimmjow x Ichigo)
.
Story's credit B-Rabbit Ai
....
Warns : Typos bertebaran, Alur kecepatan, terkadang OOC, EYD hancur.
_Don't Like, Don't read_
Please Enjoy
AKU, KAU DAN MEREKA
.
.
.
Mobil Grimmjow terus melaju diatas aspal yang kasar. Terus melaju ke daerah yang tak pernah dilihat sebelumnya oleh Ichigo. Terus melaju menembus angin sore yang mulai dingin. Terus melaju tanpa kenal hari esok.
Kecepatan mobil yang terbilang diatas rata-rata membuat Ichigo mengeratkan pegangannya pada sabuk pengaman yang sudah terpasang melingkari tubuh depannya. Sedikit menyipitkan mata saat cahaya senja mencuri-curi masuk lewat kaca depan dan membuat keberadaan dua makhluk dari balik kaca tersebut silau. Tapi hanya satu makhluk yang merasa sedikit terganggu dengan cahaya itu. Sedangkan yang satunya lagi tampak mengabaikan gangguan dari cahaya tersebut dengan tampang tak peduli.
Grimmjow tetap fokus mengendarai mobilnya, Tak pernah mengalihkan pandangannya dari jalan yang sedang dilaluinya. Sedangkan Ichigo masih diam dan bertanya-tanya dalam hati.
Kemana kita akan pergi?
.
.
Chapter 6 (Past)
Waktu yang dibutuhkan keduanya untuk sampai pada bangunan didepan ini adalah dua jam lewat dua puluh tujuh menit. Terbilang lama memang. Yah, mau bagaimana lagi, salahkan saja Grimmjow yang sempat tersesat saat mengingat jalan masuk kawasan perdesaan ini. Perdesaan yang asri dan damai untuk ditinggali, –menurut Ichigo.
Setelah memarkirkan mobilnya, Grimmjow membuka pintu mobil lalu keluar dari mobilnya dan berjalan menjauh. Ichigo juga buru-buru keluar dari mobil dan berlari menyusul Grimmjow. Sedangkan mobilnya, Dia biarkan terparkir dipinggir jalan desa begitu saja. Persetan dengan pencuri. Grimmjow punya banyak stok mobil di apartemen pribadinya. Maklum, orang kaya.
Grimmjow melangkah dengan cepat ke suatu tempat didesa itu dengan Ichigo yang setia mengikuti dibelakangnya. Grimmjow terus berjalan kepedalaman desa. Terus berjalan melewati pasar tradisional desa, melewati persawahan, melewati penangkaran ikan, bahkan Grimmjow melewati nenek-nenek yang menyapanya dengan ramah begitu saja. Grimmjow terus fokus berjalan kesuatu tempat yang membuat Ichigo sungguh amat sangat penasaran.
Kasrak kusruk susah payah mereka berjalan di antara semak-semak yang tumbuh liar. Grimmjow tetap fokus berjalan kedepan dengan diikuti Ichigo yang bersusah payah mengejar dibelakangnya. Semak-semak belukar yang tumbuh melewati lutut orang dewasa sedikit banyak menghalangi Ichigo untuk bergerak lebih cepat. Ichigo harus ekstra berhati-hati dalam melangkah. Jalan yang sedikit terjal dan tanah yang tidak rata membuat Ichigo kehilangan kendali atas pijakannya.
Suara berdebam keras terdengar dari belakang Grimmjow. Grimmjow tersentak dan menghentikan langkahnya. Dia berbalik kebelakang dan melihat Ichigo yang sedang berupaya duduk dari posisi jatuhnya tadi. Grimmjow melangkah mendekati Ichigo.
"Ada ap-"
Grimmjow tak jadi bertanya lebih lanjut saat dia melihat keadaan Ichigo. Lebih tepatnya keadaan kaki Ichigo. Kulit di pergelangan kakinya sedikit terkoyak, darah keluar dengan deras, dan ... air mata. Demi dewa yang bersemayam di desa ini! Grimmjow berani bersumpah kalau dia melihat Ichigo mengeluarkan setetes air mata dan sedikit meringis. "Imut" Pikir Grimmjow tidak waras
Oke, Tampar Grimmjow sekarang karena berani berpikiran laknat disaat si orange sedang kesusahan.
"Kau tak apa?"
"Apa menurutmu aku kelihatan tidak apa-apa?"
Telak. Kata-kata Ichigo telak membungkam Grimmjow yang kini kelihatan seperti kriminal berdosa besar dihadapan Tuhan. Merasa bersalah, Grimmjow berjongkok dihadapan Ichigo lalu mengeluarkan sapu tangan dari sakunya. Grimmjow tampak tak peduli dengan darah yang menodai tangan dan ujung lengan kaos yang dikenakannya. Grimmjow tak peduli dengan semua itu, yang terpenting sekarang adalah menghentikan darah yang terus keluar dari epidermis yang terkoyak itu dengan kain yang sekarang dipegangnya. Grimmjow membebat luka Ichigo dengan sapu tangannya, lalu mengikat kuat diatas koyakan epidermis, mencegah keluarnya cairan merah kental dari koyakan tersebut. Ichigo diam memperhatikan apa yang Grimmjow lakukan pada kakinya. Yah, sedikit banyak memang salahnya juga karena kurang berhati-hati dalam melangkah. Tapi itu 'kan terjadi karena dia mengejar langkah Grimmjow yang kelewat cepat. Jadi, Grimmjow juga harus ikut bertanggung jawab atas luka yang dideritanya. Egois memang.
Grimmjow selesai dengan pekerjaan membebat luka Ichigo. dia berdiri, membersihakn sedikit tanah yang menempel pada celananya lalu memandang Ichigo yang masih terduduk pasrah diatas tanah.
"Mau ku gendong?"
Ichigo tersentak, kaget. Lalu mendengus kesal saat dilihatnya tangan Grimmjow terentang turun seakan menyuruhnya untuk datang kedekapan Grimmjow.
"Aku bisa jalan sendiri."
Satu alis Grimmjow naik. Ekspresi tidak yakin yang cenderung meremehkan tercetak di wajah tampan Grimmjow saat melihat Ichigo yang kesusahan untuk berdiri, bahkan sempat oleng karena kehilangan keseimbangan. Untung reflek Grimmjow cepat, dan segera menangkap pinggang Ichigo agar tidak langsung jatuh mencumbu tanah. Modus? Bisa jadi.
Ichigo yang sadar pinggangnya di peluk, tak kuasa menahan gejolak aneh yang bersarang di hati dan wajahnya. –Blush – warna merah kentara terlampir cantik di wajah Ichigo. sadar akan perubahan suhu yang diakibatkan oleh debaran aneh di dada, Ichigo cepat-cepat menyeimbangkan tubuhnya kembali diatas tanah. Walau rasa sakit kakinya masih belum hilang, Ichigo tetap berdiri menyeimbangkan tubuhnya dari pelukan sepihak Grimmjow.
Pelukan sepihak 'pun terlepas. Grimmjow berjalan kedepan Ichigo lalu membelakanginya, kemudian dia berjongkok. "Naiklah..."
Ichigo bingung. Bingung antara mau menolak atau menerima bantuan Grimmjow. Jujur, rasa sakit di kakinya masih sangat teramat sakit, Tapi dia menolak untuk digendong. Digendong Grimmjow seperti sedikit merusak harga dirinya sebagai seorang pria. Awalnya Ichigo berpikiran begitu, tapi jauh didalam hatinya dia merasa senang mendapat perlakuan khusus dari Grimmjow yang seperti ini. katakanlah kalau dia aneh atau apa, tapi itu yang dirasakan Ichigo.
Ichigo terpaksa menerima bantuan Grimmjow. Dia mulai mengalungkan lengannya di leher Grimmjow, lalu menempelkan tubuh depannya ke punggung tegap Grimmjow. Kemudian Grimmjow berdiri secara berlahan sambil memegang kaki Ichigo. ichigo sukses digendong Grimmjow di punggungnya. Mereka 'pun mulai kembali melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda.
Selama digendong Grimmjow, Ichigo tak banyak bersuara. Bukan berarti dia mendadak trauma dan menjadi bisu. Tapi, sesuatu di dadanya berdegup lebih kencang daripada biasanya. Hal ini yang membuat Ichigo bungkam. Bungkam karena bingung harus bereaksi bagaimana saat tak sengaja hidungnya mencium wangi yang menyeruak dari leher Grimmjow, tanpa sadar Ichigo malah nambah mendekati hidungnya dengan sumber aroma tersebut.
'Baunya familier dan... menenagkan.' Pikir Ichigo.
Sadar akan pemikirannya yang terkesan aneh, Ichigo menjauhi penciumannya dari leher Grimmjow. Dan... Blushing akut lalu terdiam.
Diamnya Ichigo menarik perhatian Grimmjow.
"Hey... Kau tidak apa-apa Ichigo?" Grimmjow bertanya seraya memutar kepalanya kekanan untuk melihat keadaan Ichigo. Tapi gagal. Karena Grimmjow itu manusia, jadi dia tidak bisa memutar leluasa kepalanya kebelakang layaknya burung hantu. Tapi satu yang bisa dipastikan Grimmjow. Dia menangkap wajah Ichigo yang memerah.
"Ichigo, Kau kenapa?" Grimmjow mulai khawatir dengan keadaan Ichigo di punggungnya.
''Apakah dia sakit? Apakah lukanya terinfeksi bakteri sehingga dia demam dan mukanya menjadi memerah? Tunggu, tapi suhu badannya tidak meningkat drastis seperti orang yang terserang demam. Tapi kenapa dia diam saja?''
Tidak mendapatkan respon, Grimmjow 'pun menghentikan langkahnya dan sedikit menggoncang gendongan dipunggungnya.
"Ichi—"
"Aku baik-baik saja Grim. Kau tidak perlu khawatir." Ichigo menjawab sambil menyandarkan keningnya di bahu kanan Grimmjow.
"Aku hanya sedikit lelah." Ichigo berujar parau. Grimmjow yang menangkap perubahan suara Ichigo menatap kedepan dengan kesal. Kesal karena ketidakmampuannya menjaga sosok yang sedang digendongnya ini. Possesif memang, tapi ini demi dirinya dan juga masa lalunya.
Grimmjow kembali berjalan menyusuri jalan setapak yang agak terjal tersebut dalam diam. Tak ada yang membuka suara, mereka memilih bungkam untuk sementara. Grimmjow terus melangkah masuk lebih dalam kesebuah hutan. Hutan yang terlihat sedikit menyeramkan, Tapi juga menenangkan. Grimmjow terus melangkahkan kakinya kedalam hutan tersebut, membawa mereka semakin jauh tertelan gelapnya bayangan hutan. Sampai suatu ketika Ichigo merasa bulu tengkuknya meremang, merasakan firasat buruk akan terjadi, dan tanpa sadar ia meremas bahu Grimmjow.
"Ada Apa?" Grimmjow membuka suara.
"Aku tak suka disini Grim. Firasatku tidak baik." Ichigo semakin mengeratkan pegangannya pada bahu Grimmjow.
"Tak apa, Aku disini."
.
DEG!
.
Perkataan Grimmjow membuat kepala Ichigo berdesing kuat. Sesuatu mulai masuk kedalam kepalanya. Salah satu tangan Ichigo meremas bahu kiri Grimmjow, sedangkan yang satu lagi digunakan untuk memegang kepalanya yang terasa sakit seperti dihantam ratusan palu.
Grimmjow sadar ada yang aneh dengan kondisi Ichigo di gendongannya, tapi dia tak bisa berhenti sekarang. Mereka harus sampai di tempat 'itu' sebelum matahari tenggelam. Jika tidak, bisa berbahaya bagi Ichigo. Grimmjow terus berjalan kedepan dan mencoba mengabaikan remasan tidak suka yang berada di bahu kirinya. Langkah Grimmjow dipercepat ketika matanya menangkap bangunan besar yang sedikit reyot dimakan usia didepan sana. Tanpa perlu menunda lagi, Grimmjow berlari kecil memasuki kawasan bangunan tersebut. setelah ditelisik dengan baik, bangunan tersebut mirip seperti sebuah kuil megah kuno.
Grimmjow berjalan kedalam gerbang utama, menaiki anak tangga, lalu sampailah mereka di hadapan teras depan Kuil tersebut.
"Kita sudah sampai." Grimmjow menurunkan Ichigo diatas teras kuil.
"Ini tempat apa?" Ichigo mulai penasaran dengan tempat yang mereka singgahi. Auranya berbeda dari yang dirasakannya tadi. Auranya tenang dan seperti melindungi.
"Ini Kuil kuno desa sini." Grimmjow menjawab seperlunya. Dia duduk dihadapan Ichigo dan kembali mengecek luka Ichigo.
"Apa masih sakit?" Grimmjow bertanya lirih sambil menatap mata Ichigo sendu. Ichigo menjawabnya dengan sebuah gelengan ringan.
"Tidak sesakit sebelumnya." Tambah Ichigo kemudian.
Grimmjow tersenyum sendu. Batinnya merasa lega. Kalau Grimmjow boleh bilang, dia sebenarnya sangat mengkhawatirkan si orange. Jauh didalam hatinya dia resah. Resah saat pikiran negatifnya menyerangnya kala dia melihat luka dan darah Ichigo. Grimmjow trauma melihat Ichigo seperti itu. Karena Grimmjow tidak ingin apapun menyakiti Ichigo lagi.
Larut dalam pemikirannya, Grimmjow tanpa sadar mengeraskan rahangnya dan menggenggam kuat fabrik celana di bagian lututnya. Ichigo merasa aneh dengan kondisi Grimmjow, melayangkan tangannya di hadapan wajah Grimmjow.
"Grim to the earth... are you there?" Ichigo menaik turunkan lambaian tangannya di depan muka Grimmjow. Dan usahanya berhasil. Grimmjow tersadar dari lamunannya dan bersikap salah tingkah. –Manis, dimata Ichigo. Ichigo tersenyum melihat kelakuannya.
"Ichigo, apakah kau pernah bermimpi tentang seorang jendral angkuh yang brengsek dan bodoh?" Grimmjow membuka percakapan sambil memunggungi Ichigo, tak berani menatap iris cinnamon berkilau Ichigo.
"Tidak." Grimmjow sedikit tersentak mendengar jawaban Ichigo.
"Tapi aku pernah memimpikan seseorang yang mirip dengan kau Grimmjow." Ichigo menatap keatas pohon yang berdiri kokoh menjulang ke langit.
"Seseorang yang begitu egois dan selalu membantah apa yang diperintahkan kepadanya. Dia juga keras kepala. Ah, dia juga membunuh seseorang didalam mimpiku." Ichigo melanjutkan.
"Apa kau benci pada sosok tersebut yang ada dalam mimpimu itu?" Grimmjow memejamkan mata. Bersiap untuk mendengar pengakuan Ichigo yang mungkin membuatnya patah hati.
"Tidak." Oke, Grimmjow membuka matanya kaget dan berbalik menghadap Ichigo sepersekian detik itu juga.
"Kenapa?" Grimmjow menyeruarakan rasa penasarannya.
"Entahlah. Bagiku dia tidak jahat. Tidak ada alasan bagiku untuk membencinya." Jawab Ichigo enteng.
"Tapi dia membunuh. Kau melihatnya 'kan?" Grimmjow masih diliputi rasa penasaran.
"Aku memang melihatnya. Dan bahkan aku bisa merasakan bagaimana rasa sakit tancapan pedang tersebut. tapi, aku tetap tak bisa membenci sosok tersebut. katakanlah aku gila, tapi ini kenyatannya, Grimmy." Ichigo tersenyum semanis yang dia bisa pada Grimmjow.
Grimmjow beku, terhenyak, dadanya sesak, matanya mulai berkaca-kaca, nafasnya tercekat. Grimmjow diam seribu bahasa. Dan itu membuat Ichigo tidak enak hati.
"Grim, apa yang kukatakan tadi apa ada hubungannya dengan kehidupan masa lalu kita? Karena semenjak bertemu denganmu, kejadian aneh menimpaku. Mulai dari mimpi-mimpi aneh yang menghampiri saat aku tidur, hingga beberapa potongan memori memaksa masuk kedalam kepalaku."
Grimmjow masih bungkam. Dan malah menundukkan kepalanya, merasa bersalah.
"Grim, bolehkah aku meminta sesuatu padamu?" Grimmjow mengangkat kepalanya dan memandang Ichigo. Ichigo juga langsung memandang lurus ke manik saphire Grimmjow sebagai penegasan kalau dia tidak menerima penolakan.
"Tolong beritahu aku, Siapa aku kehidupan masa lalumu."
Grimmjow bangkit dari duduk bersimpuh dihadapan Ichigo menjadi duduk disamping Ichigo. Grimmjow mendekatkan kepala Ichigo ke pundak kanannya, menyandarkannya di bahu bidangnya yang kokoh.
"Ini akan menjadi cerita yang panjang..."
"Aku akan mencoba untuk tidak tertidur..." Kekeh Ichigo disela momen serius mereka.
"Dulu aku hanya seorang rakyat biasa yang dianugrahi kekuatan fisik yang lebih dari kebanyakan manusia lainnya. Dan itu membuatku dipandang sebagai monster oleh rakyat sekitar. sampai suatu ketika kau datang menghampiriku dan mengajakku bergabung untuk menjadi pasukan Istana." Grimmjow memulai ceritanya.
"Istana? Berarti aku seorang pangeran dong?" celetuk Ichigo penasaran.
"Seharusnya begitu. Tapi kau sedikit berbeda dari pangeran kebanyakan. Kau laki-laki, tapi mampu mengandung." Jelas Grimmjow lugas.
"APA?!" Grimmjow menjauhkan telinganya dari volume suara Ichigo.
"Laki-laki yang mampu mengandung adalah hal yang tak pernah terjadi sebelumnya. Kata permaisuri, dulu kau lahir didepan sebuah kuil saat perang saudara antar klan mencoba menjatuhkan ayahmu yang sedang bertahta. Karena permaisuri terdesak, ia pun terpaksa melahirkanmu di sebuah kuil." Grimmjow melirik pintu kuil yang ada dibelakangnya. Ichigo memahami gelagat maksud dari tindakan Grimmjow tadi, dan mengagguk paham.
"Kau lahir dengan sehat didalam rumah dewa Thanatos, dewa kematian. Thanatos menyayangi bayi yang lahir didalam kuilnya itu, memberikan sedikit kekuatannya. Dia berkata pada permaisuri untuk selalu melindungimu. Karena kau dianggap sebagai cucunya. Dan Thanatos juga memperingati permaisuri akan bahaya takdir yang akan kau jalani kelak. Permaisuri menyanggupi permintaan dewa tersebut. dan berterima kasih karena diizinkan untuk melahirkan putra pertamanya disana." Grimmjow berhenti untuk mengambil nafas.
"Setelah beberapa hari kau lahir, perang 'pun berakhir secara ajaib. Dan ayahmu masih memiliki tahtanya. Permaisuri 'pun kembali ke istana dengan membawa dirimu. Raja merasa senang dengan kehadiranmu, putra pertamanya. Dan kebahagiaan raja berlangsung hinggak kau menginjak usia 13 tahun. Dihari ulang tahunmu ke 13, kau mengutuk orang yang menghina saudara tirimu menjadi seekor anjing. Dan keesokan harinya orang tersebut benar menjadi seekor anjing. Masalah kutukan ini sampai pada ketelinga raja. Raja tidak senang dengan berita tersebut dan menyuruh pengawal untuk mengisolasimu dari publik." Grimmjow kembali berhenti bercerita saat melihat gemuruh napas Ichigo yang tidak beraturan.
"Kau yakin ingin dilanjutkan?" Tanya Grimmjow memastikan.
"Lanjutkanlah.." Ichigo memberi izin disela-sela ia mengatur nafasnya. Grimmjow kembali membuka suara.
"Kau di isolasi dalam sebuah ruangan diujung koridor tergelap istana. Terkunci, sepi dan menyakitkan. Tapi kau masih diberi waktu setahun sekali untuk bebas menghirup udara segar diluar istana. Tepat di tahun ke 18 umurmu, kau keluar istana untuk menikmati hari bebasmu. Dan saat itu aku bertemu denganmu dan menjadi jendral pribadimu atas saran dari menteri istana Aizen pada raja. Dan kau menerima ku tanpa banyak protes. Kau selalu berada dalam ruangan itu, terisolasi dari luar. Sedangkan aku hanya mampu mengobrol denganmu dari balik pintu besi yang dingin itu tanpa bisa berbuat apa-apa untuk kebebasanmu. Hingga suatu hari istana dilanda kekacauan akibat kospirasi dari para menteri Istana. Raja digulingkan dengan usaha yang terbilang sangat kotor, –menusuknya dari belakang." Ichigo tersentak kaget. Dipegangnya dada kirinya yang sesak saat mendengar penuturan Grimmjow. Grimmjow melirik sekilas kearah Ichigo lalu kembali menatap ke arah depan.
"Mereka membakar Istana, dan bermaksud memperistri mu. Aizen mengetahui rencana kotor mereka dan segera mengirim prajurit untuk memberitahuku. Tapi prajurit itu tidak datang padaku, dia malah datang kepadamu dan membuka pintu besi ruanganmu di isolasi. Sedangkan aku mendapat kabar ini dari mulut Aizen sendiri. aku mulai membunuh para kospirasi brengsek itu satu persatu. Hingga tersisa yang terakhir. Sosok yang terakhir ini kuat, dia mampu menahan serangan yang ku lancarkan bertubi-tubi. Tapi itu tidak lama, saat staminanya mulai terkuras, dia terpojokkan oleh seranganku, dan saat itu dia bermain licik. Dia membakar istana dengan peledak yang dibawanya. Kobaran api menjadi besar dan tak terkendali, sosok tersebut bermaksud ingin melarikan diri disaat semua orang panik. Tapi tidak kubiarkan dia kabur. Aku kembali menyudutkannya dengan serangan yang berasal dari pedangku. Sampai suatu ketika tiba-tiba kau—" Grimmjow lagi-lagi berhenti untuk mengambil nafas.
"kau datang diantara kobaran api itu dan hidupmu berakhir ditanganku." Mata Grimmjow memandang sendu arah depannya, tanpa mampu melirik ke arah sosok yang sedang bersandar nyaman di bahu kanannya.
"Lalu aku mengutukmu atas dosa yang kau perbuat?" Ichigo melanjutkan.
"Ya... Kau mengutukku dan menyelamatkanku." Kini Grimmjow tak mampu menahan gejolak emosi yang ada didalam dadanya. Sesak dan menyakitkan.
"Bolehkah aku tahu apa kutukan yang aku berikan padamu dulu?" Grimmjow menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan Ichigo.
"Kena—"
"Aku akan memberitahu mu suatu saat nanti. Tapi bukan sekarang." Grimmjow tersenyum lembut pada Ichigo yang memandangnya kecewa.
"Baiklah." Ichigo mengiyakan pernyataan Grimmjow tersebut.
"Grim.. apakah kuil yang kita singgahi sekarang adalah kuil yang kau maksud sebagai tempat kelahiranku didalam ceritamu itu?" Ichigo menoleh kebelakang seraya melihat kondisi kuil tua tersebut.
"Benar, Ini adalah tempatmu lahir di kehidupan masa lalumu." Grimmjow berbalik dalam posisi masih duduk untuk menghadap ke belakangnya.
Ichigo dan Grimmjow memandang kuil kosong tak berpenghuni tersebut dalam diam. Menelisik tiap goretan kayu bangunan yang sudah tak kokoh lagi. memandangi tiap sudut ruangan yang sudah menjadi rumah bagi laba-laba kecil.
"Jii-san." Ichigo tersenyum pada ruang kosong didepannya. Seolah ia sedang menyapa seseorang disana. Grimmjow yang memerhatikan Ichigo, tanpa sadar memeluknya dengan erat.
"Grim?"
Grimmjow hanya diam dan tetap memeluk erat Ichigo. Ichigo yang paham akan kegundahan hati sosok didepannya ini, membiarkannya untuk tetap dipeluk Grimmjow sampai dia tenang. Ichigo mengelus surai biru Grimmjow dengan lembut untuk menyalurkan ketenangan batin bagi Grimmjow. Dan usahanya berhasil. Grimmjow mengendurkan pelukannya, tapi masih tetap memeluknya walau tak se erat sebelumnya.
"Grim, kau tidak apa-apa?" pertanyaan Ichigo hanya dijawab anggukan dari Grimmjow.
"Kau tidak harus memikul semuanya sendiri Grim. sedikit banyak aku mengetahui maksud dari 'aku' yang dulu memberikan sebuah kutukan padamu." Grimmjow melepas pelukannya dan menatap Ichigo intens.
"Mungkin karena kau terlalu berharga untuk 'ku'.. Jadi 'aku' tidak rela melepasmu walau kematian menjemput mu." Grimmjow bungkam. Tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Dan ku rasa, aku yang dulu juga sudah siap dengan segala resiko yang ada. Termasuk resiko dibenci olehmu." Ichigo menangkupkan kedua tangannya di wajah Grimmjow. Memandangnya intens lalu tersenyum sendu.
"Dia menyayangimu tulus dari hatinya, Grimmy."
Satu tetes airmata lolos dari pelupuk mata Grimmjow. Ichigo yang melihat itu hanya bisa kembali merengkuh lembut sosok didepannya, dan kembali menenangkannya dengan usapan-usapan kecil di punggung dan di surai Grimmjow.
Ichigo sadar ia cemburu pada dirinya di kehidupan masa lalu. Cemburu karena mampu mengambil hati Grimmjow dan merantainya untuk terus mengingatnya walau kematian berkali-kali memisahkan mereka. Tapi Ichigo ingin sekali melakukan sesuatu pada rantai tak terlihat itu. Menghancurkannya dan merebut Grimmjow dari bayang-bayang dosa masa lalunya. Possesif? Sudah pasti. Karena Grimmjow sudah mencuri hati Ichigo disaat dia terbangun di ruang kesehatan sekolah beberapa hari yang lalu.
++Di mansion keluarga Jaegerjaques++
...
"Anakmu membawa anakku kemana?"
"Jangan berpura-pura bodoh Isshin. Kau sudah tahu kemana mereka akan pergi."
"Kau tidak seru! Cih. Tapi ini sesuai dengan rencana kita sih."
"Permainan dimulai."
Dua om-om tampan nan badass itu tersenyum menyeramkan layaknya psikopat yang menemukan mangsa untuk di jadikan santapan makan siang. Mereka beranjak dari bangku taman, dan memasuki kembali mansion megah milik keluarga Jaegerjaques untuk melanjutkan permainan takdir yang tertunda 700 tahun silam. Permainan yang menitik beratkan pada kekuatan takdir yang di pikul oleh Ichigo dan Grimmjow.
.
.
.
To be continued.
.
.
Cuap-cuap Author:
Hai semua, rabbit disini.
Mohon maaf atas keterlambatan update fict ini. rabbit kehilangan sense menulis untuk beberapa alasan. Jadinya harus benar-benar ngurung diri dan sempat bermeditasi juga (tapi gagal) untuk mengembalikan sense menulisnya rabbit.
Thanks untuk yang sudah nyempatin review. Rabbit cinta kalian, muaah.
untuk #Guest Jun-Yo, ini udah lanjut. Maaf ya super duper ngaret. Dan untuk yang lainnya, rabbit PM aja ya ;)
Salam cinta dari Rabbit
Mind to Review?
.
.
