Hai hai minna! *tebar scone* *ditabok*
Untuk chap kemarin, ada kesalahan teknis yaitu nama 'Salma'. Well, sebenernya itu fic cast awal temen FuMate, si Salma tadi. FuMate ganti nama dan, hal itu terjadi ._.
Oh, dan chap ini bukan buata FuMate. FuMate nemu di Mengaku Backpacker dan ganti nama doang ._. Gomen ne, sebenernya fic asli ada di laptop FuMate. Berhubung lagi rusak dan males nulis ulang, jadi ya begini ._.
Semoga yang ini memuaskan TvT)/
Review's Reply:
Brownchoco: itu... *tutup muka pake kresek*Ini udah dilanjut, review lagi yaaa
ChocoDy: Pendek? Saya gak bakat bikin yang panjang-panjang :v Feli keluar nih :v Annabele? Setahu saya dia udah nikah sama chucky *plak* Ini udah dilanjut, review lagi ya~
memenesia-gak-login: Itu karena Arabella manis *eh* Salma itu orang/?. Urban dari spain? Belum nemu ;-; Nanti kalo udah nemu saya bikin hehehe *senyum evil*
Urban Legend
A Hetalia fanfiction by UltimateFujo
All the chara belongs to Hidekaz Himaruya
I own this fic
This time,
Pizza
from America
'They are... it's impossible!'
Hetalia's Italy
Saat berlibur di Amerika, Feliciano mengalami kecelakaan mobil. Kakinya patah dan ia harus beristirahat beberapa hari di dalam rumah hingga kondisinya pulih. Lelaki Italia itu tinggal di apartemen bersama temannya, Alfred. Sayangnya Alfred harus bekerja sehingga tak bisa merawat Feliciano. Beberapa hari pertama, lelaki dengan ahoge tadi merasa senang karena bisa tinggal di rumah seharian. Namun lama-kelamaan ia merasa bosan.
Suatu hari saat menyalakan televisi, ia mendengar suara anak-anak berlari di lantai atasnya. Feliciano berpikir ini aneh, sebab jam segini harusnya anak-anak belum pulang dari sekolah. Esoknya, ia juga mendengar suara anak bermain dari lantai atas.
Feliciano merasa lapar dan memesan dua kotak pizza melalui layanan pesan antar. Ia merasa sudah kenyang setelah memakan sekotak pizza dan merasa tak sanggup menghabiskan satu kotak pizza lagi. Jika ia menunggu Alfred pulang, mungkin pizza itu rasanya sudah tak enak lagi.
Akhirnya ia memutuskan untuk berbuat baik dengan memberikan pizza itu pada keluarga yang tinggal di atasnya.
Bukannya ada anak-anak tinggal disana? Mereka pasti senang dengan pizza gratis.
Dengan kepayahan iapun keluar dari kamar dan naik dengan lift.
"Ouch...ouch..." sesekali Feli mengerang karena kakinya belum sembuh benar ketika berjalan menuju kamar di lantai atasnya itu.
"Ting tong" ia menekan bel, namun tidak terdengar jawaban.
Feliciano kembali menekan bel dan terdengar suara dari dalam pintu.
"Siapa?" terdengar suara wanita dari balik pintu.
"Vee~ Saya tetangga yang tinggal satu lantai di bawah anda"
Pintu dibuka, namun hanya sedikit. Dari sela pintu, terlihat wajah seorang wanita separuh baya. Namun kamar itu sangat gelap sehingga yang bisa Feliciano lihat hanya kepala wanita itu.
"Ada apa?"
"Vee~ Anda mau pizza? Saya tadi memesannya namun tidak habis. Mungkin anda mau?"
"Tidak, terima kasih." Jawab wanita itu tanpa ekspresi.
"Ehm, mungkin anak-anak anda mau?"
Tiba-tiba terlihat kepala seorang anak laki-laki dan anak perempuan di bawahnya. Mereka pasti anak-anak yang kerap ia dengar suaranya saat bermain.
Ketiga wajah itu menatapnya, berbaris membentuk satu lajur dari atas ke bawah.
"Baiklah, kami mau." Wanita itu menerima pizza itu dan pintu itupun dibanting, tertutup.
Feliciano berbalik, namun entah kenapa ia merasa ada yang aneh.
Seluruh bulu kuduknya terasa menggigil.
Wajah ketiga orang itu terpatri dalam ingatannya.
Feliciano mengambil langkah cepat, tanpa peduli rasa sakit di kakinya, untuk segera menuju lift.
Ketiga wajah mereka membentuk garis, pikirnya.
Ia menekan tombol lift dan menunggunya untuk datang.
Membentuk garis vertikal, dari atas ke bawah. Satu wajah di atas wajah yang lain.
Ia menekan tombol lift kembali, namun lift itu tak kunjung datang.
Ada yang aneh dengan wajah mereka.
Lift itu terlalu lama. Feliciano memutuskan menggunakan tangga.
Wajah tampak berbaris, satu di atas yang lain ... itu mustahil!
Ia melupakan rasa sakit di kakinya ketika ia menapaki tangga dengan langkah panik.
Pria itu mulai menyadari apa yang salah dengan keluarga itu.
Hanya ada kepala, tanpa badan ...
Sesampainya di kamar, ia langsung menelepon polisi.
Polisi datang beberapa saat kemudian, walaupun laporan pria itu tampak gila. Mereka memeriksa kamar di bawah kamar pria itu dan menemukan sesuatu yang mengerikan.
Tubuh wanita dan kedua anaknya itu ditemukan di bak kamar mandi.
Kepala mereka terpenggal.
Mereka juga menemukan suami wanita itu bersembunyi di dalam lemari pakaian. Ia mengatakan bahwa ia sudah memenggal kepala istri dan anak-anaknya dengan gergaji. Namun ia bersumpah istri dan kedua anak-anaknya masih hidup.
Polisi berkesimpulan pria itu menjadi gila dan membunuh keluarganya.
Namun polisi menemukan ada sesuatu yang aneh di kamar itu.
Di meja dapur tergeletak sebuah kotak pizza.
Ketika dibuka, isinya sudah tidak utuh lagi.
Ada bekas gigitan-gigitan kecil di pizza itu, seolah-olah ada anak-anak kecil yang memakannya.
Who's next?
You decide it.
