Urban Legend

A Hetalia Fanfiction by UltimateFujo

All the characters belong to Hidekazu Himaruya

I own this fic

this time,

Reflection

from Unknown

'Who is that?'

Hetalia's America


Alfred mengeratkan cengkramannya pada selimut.

Ini musim salju di negaranya, sehingga cuaca sangat dingin. Sialnya lagi, sedang terjadi badai salju di rumahnya, sedangkan orangtuanya tengah keluar negeri, Ireland kalau tidak salah. Mustahil untuk mengajak teman-temannya ke sini.

Jadi dia hanya bisa terdiam disini, meratapi betapa malang nasibnya.

Kruyuuk

Alfred tersentak, suara apa itu?

Kruyuuuk

Sedetik kemudian ia menyadari itu adalah suara perutnya. Alfred tertawa kikuk, lalu bangkit dari sofanya yang empuk. Ia berjalan menuju dapurnya.

Sesampainya disana, Alfred kebingungan hendak memasak apa. Bahan makanan sudah habis kemarin, lantas apa yang akan dimasaknya?

Ditengah rasa panik dan bingung yang melanda, matanya menangkap sesuatu berwarna kuning menyembul diantara mixer dan blender. Alfred menarik benda itu, dan jelaslah bahwa sesuatu itu adalah mie instan

Alfred mengangkat bahunya. Ia memutuskan masak mie saja daripada mati kelaparan. Tentu kasihan sekolahnya kehilangan murid yang tampan dan berbakat. Pemikirannya barusan agak berlebihan sebenarnya.

Alfred mulai menyalakan kompor. Sembari menunggu mienya matang, ia mulai membuka satu per satu bumbu yang ada dan menuangkannya ke mangkuk kecil yang ia bawa. Tak lama setelah itu, mienya telah matang. Setelah beberapa saat menyelesaikan urusannya, Alfred membawa mie-nya yang siap disantap ke ruang tengah.

Alfred menyalakan televisinya. Asap hangat mengepul dari mienya disertai aroma yang merebak masuk ke penciumannya. Pemuda itu lalu memakan mie sambil menonton tv. Sesekali meraih hpnya dan mengecek daftar sms.

"Ahh...it's great!" seru Alfred ketika menyelesaikan acara makan malamnya. Ia kemudian melangkahkan kakinya ke dapur, dan menaruh mangkuk di atas oven. Tak berniat mencucinya sama sekali.

Pemuda itu kembali ke ruang tengah dan melompat ke arah sofa. Kembali bergelung dalam selimutnya yang tebal dan hangat. Televisi ia biarkan menyala tanpa niat menyentuhnya. Alfred meraih hpnya dan membuka Line. Melanjutkan chat yang tadi tertunda.

Kuma_Mattie join the group chat

Kuma_Mattie: What's up? :D

Italian_Pasta: Whazzap

Italian_Pasta: Whazzap

Italian_Pasta: Whazzap bruh

Italian_Pasta: My name is piggeh

Italian_Pasta: Let's go

Italian_Pasta: Let's GO!

TomaLoviRoma: Berhenti meracuni fratelloku, burger bastard!

Italian_Pasta: Tapi fratello, Alfred tidak salah apa apa c:

TomaLoviRoma: Diam kau, idiota

HERO-ALFIE: Hey, aku hanya mengajaknya menonton Pewdiepie. Dia keren maaan. Apa salahku?

TomaLoviRoma: JELAS KAU SALAH DASAR KAU OBESITAS!

Sunflower_Daa: ?

Kikukikukikukikukiku join the group chat

Kikukikukikukikukiku: Ada apa ini?

PandAru: Si idiot mulai lagi, aru

Alfred tertawa membaca isi chat yang tidak karuan itu. Padahal niat awal mereka membentuk grup chat untuk membahas sekolah, dan entah bagaimana grup chat itu menjadi ajang yang entah apa maksudnya.

Kikukikukikukikukiku: Oh, arigato nii-san

HERO-ALFIE: Hey, kalian sudah mengerjakan pr?

Sunflower_Daa: Yang mana, da?

Siwon has Reincarnated: Aku bahkan tidak ingat ada pr

OhMyFk_ItsZheAwesoMe: PR? Masih jaman mengerjakan pr?

HERO-ALFIE: PR Sejarah, halaman 30 di buku paket dude

Sunflower_Daa is typing...

Alfred menghela nafas dan memejamkan matanya. Menunggu balasan dari teman-temannya.

1 menit...

5 menit...

Masih belum ada balasan.

Alfred membuka matanya dan menoleh ke arah halaman. Matanya menyipit ketika melihat ada seseorang di depan.

Sekedar informasi, pintu depannya terbuat dari kaca. Tidak ada dinding disana, hanya ada kaca besar yang membuatnya dapat melihat apa yang ada di depan. Alfred seringkali merasa tidak nyaman ketika malam hari, karena itu sangat menakutkan baginya.

Terutama sekarang.

Alfred bergidik ketika sosok itu makin mendekat ke arah pintu. Ia hendak bertanya siapa disana, namun bahkan lidahnya terlalu kelu untuk bersuara. Seolah ia sedang serak dan tidak bisa berbicara.

Iris hitam itu membulat ketika sosok itu mengangkat tangannya. Menunjukkan sebuah kapak besar yang berlumuran darah.

Dalam kengerian, Alfred menelpon polisi. Ia menceritakan masalah yang ia hadapi dengan berbisik, dan untungnya para petugas itu mengerti situasi. Mereka berjanji akan sampai 5 menit lagi.

Alfred masih berada di dalam dekapan selimut tebalnya. Seluruh tubuhnya menggigil dan bergetar hebat karena ketakutan. Bagaimanapun, sifat dasar manusia adalah selalu penasaran akan sesuatu. Jadi pemuda itu memutuskan mengintip dari balik selimutnya.

Dan disuguhkan pemandangan sosok tadi yang sedang mengayun-ayunkan kapaknya, dengan senyum lebar terpatri di wajahnya.

Alfred panik, sangat panik. Takut, khawatir, panik, semuanya bercampur aduk sekarang. Ingin rasanya ia menangis, apalagi sekarang ia sendiri. Uh, Alfred menyesal menolak tawaran ayahnya untuk belajar bela diri.

Dari kejauhan, Alfred mendengar suara sirine polisi. Ia menghela nafas lega, namun tetap tak berani keluar dari gelungan selimut. Memutuskan menunggu disana.

Kemudian dia mendengar suara ketukan di pintu. Mengintip sedikit, Alfred mendapati sosok mengerikan itu sudah tak ada. Hanya ada para polisi.

Alfred memaksakan senyum dan bangkit sebelum membukakan pintu. Dengan tergagap menceritakan kronologi kejadian yang menimpanya.

"Tapi ini aneh..." ucap salah satu dari dua –sebenarnya tiga- petugas yang datang. Ia memiliki alis tebal luar biasa yang mengingatkan Alfred kepada ulat bulu. "..Jika memang benar ada orang di depan rumahmu tadi, maka seharusnya tertinggal barang bukti. Bisa berupa jejak kaki mengingat tumpukan salju tebal di depan rumahmu. Dan kau bilang, tadi dia membawa kapak berlumur darah, bukan? Seharusnya darah itu menetes disana, namun tak ada apa-apa di depan rumahmu" lanjutnya. Alfred sempat melirik nametag emasnya yang tertera nama 'Arthur Kirkland'

"B'n'r s'k'li" tambah satu opsir lagi. Sebenarnya Alfred agak tak mengerti apa yang ia katakan. "L'gip'la k'lau m'm'ng ia b'rni't m'mb'n'hmu, b'k'nkah ia b'sa m'm'c'hk'n k'ca 'tu? Ia m'mb'wa k'pak k'n?" tukasnya. Nametag-nya bertuliskan 'Berwald Oxenstiearna'.

Alfred terdiam di tempat, kebingungan. Bagaimana bisa? Bukankah tadi memang ada sosok mengerikan itu? Mustahil kalau hanya imajinasinya saja.

"Tunggu dulu" satu opsir berjalan ke belakang sofanya. Tubuhnya kekar dan berotot, sementara wajahnya terlihat sangat serius. Kalau tidak salah baca, namanya itu 'Ludwig Beilschmidt' atau apalah.

"Kenapa, Lud?" tanya Arthur sambil menghampiri Ludwig. Matanya membulat ketika melihat apa yang ditunjuk Ludwig. Bahkan Berwald yang terlihat dingin menjatuhkan rahangnya ketika melihatnya.

"I-Ini..." Arthur terdiam, tak mampu melanjutkan kata-katanya. Karena itu-

-genangan darah.

Tanpa diduga, opsir Ludwig bangkit dan berlari ke halaman belakang diikuti rekan-rekannya. Alfred yang tak tahu ada apa hanya mengikuti ketiga lelaki itu, dan berhenti ketika melihat mereka berhenti.

Baik Ludwig, Berwald, Arthur bahkan Alfred terdiam di tempatnya ketika melihat ada apa disana.

Tumpukan salju itu membentuk jejak kaki, dihiasi beberapa tetes darah.

"Nak-" Arthur berjongkok dan menepuk bahu Alfred. "-kau sangat beruntung" saat itu juga Alfred mengerti apa yang tengah terjadi.

Opsir Berwald dan Ludwig tercengang, nafas mereka tercekat. "Apa yang tadi kau lihat hanyalah refleksi dari sosok itu, nak" lanjut Arthur sambil menarik nafas dalam-dalam.

Pintu depan terbuat dari kaca, tetes darah dibelakang kursi, tumpukan salju yang membentuk jejak, jelas sudah semuanya bagi Alfred.

Sosok yang ia lihat ada di depan rumahnya dan mengayunkan kapak, tidak benar-benar berada disana. Itu hanyalah pantulan bayangan.

Sejak tadi sosok itu tepat berada di belakang sofa tempatnya bersembunyi.


MINNA AKU COMEBACK! ;A;)/

OKE GA USAH BANYAK BACOT, KALI INI UPDATE 4 CHAP SEKALIGUS ;A;

Oh, btw kali ini ada kuis kecil-kecilan.

Quiz: Siapa saja pemilik nickname di grup chat line?

1 paling cepat+benar boleh request satu pair untuk the next urban legend, sedangkan satu teracak boleh request 4 karakter untuk tampil di satu UL! Wanna try? ;)

Review or Rest in Peace? *psychomodeon*